Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH KELOMPOK

METODE PENELITIAN

PENELITIAN KUANTITATIF

Oleh:

FEBY RENDANI (18205011)


HANIFAH HUMAIRAH (18205013)
LIZA WULANDARI (18205019)
NURUL JANNAH (18205030)
REFIKA SARI (18205037)

Dosen Pembimbing:
Dr. Armiati, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI PADANG
1439 H/ 2018 M
KATA PENGANTAR

Segala puji milik Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah kelompok yang berjudul
Penelitian Kuantitatif. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan
alam yakni Rasulullah SAW yang telah menyelamatkan umatnya dari zaman
kegelapan hingga zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang kita
rasakan saat ini.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Armiati, M.Pd selaku
dosen mata kuliah Metode Penelitian dan rekan-rekan yang turut serta dalam
penyelesaian tugas makalah ini. Penulis juga menyadari jika makalah ini masih
memiliki banyak kekurangan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritikan
yang membangun dari dosen dan teman-teman agar bisa memperbaiki kesalahan-
kesalahan sekarang dimasa yang akan datang.
Demikianlah yang penulis sampaikan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca dalam rangka menambah wawasan dan menjadi amal ibadah bagi
penulis.
Padang, 5 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan .............................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 4
A. Pengertian Kurikulum ....................................................................... 4
B. Matematika Sekolah ......................................................................... 4
C. Perubahan Kurikulum Matematika Sekola dari Masa ke Masa........ 7
1. Kurikulum Tradisional................................................................ 7
2. Kurikulum Modern ..................................................................... 8
D. Kurikulum Matematika Tradisional dan Modern ............................. 10
1. Kurikulum Maematika Tradisional............................................. 10
2. Kurikulum Matematika Modern ................................................. 14
BAB III PENUTUP ......................................................................................... 22
A. Simpulan .......................................................................................... 22
B. Saran ................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 23

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Majunya suatu bangsa ditentukan dari bagaimana perkembangan pendidikan bagi
anak bangsa itu. Untuk memperoleh pendidikan yang maju, tinggi dan berkembang perlu
suatu perencanaan yang berhubungan dengan tujuan nasional pendidikan bagi bangsa itu.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional itu diperlukan seperangkat kurikulum
yang menunjang untuk diberikan kepada peserta didik pada tingkat satuan pendidikan
masing-masing seperti satuan pendidikan sekolah dasar, satuan pendidikan sekolah
menengah pertama dan sekolah menengah atas. Kurikulum sebagai rancangan
pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan
pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam
perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa
dilakukan tanpa memahami konsep dasar dari kurikulum.
Pada dasarnya kurikulum merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa
komponen. Komponen-komponen kurikulum suatu lembaga pendidikan dapat
diidentifikasi dengan cara mengkaji suatu kurikulum lembaga pendidikan itu. Dari buku
tersebut kita dapat mengetahui pengertian dan dimensi kurikulum serta fungsi dan
peranan suatu komponen kurikulum terhadap komponen kurikulum yang lain. Kurikulum
berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah bagi
pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti pihak
guru, kepala sekolah, pengawas, orangtua, masyarakat dan pihak siswa itu sendiri. Selain
sebagai pedoman, bagi siswa kurikulum memiliki enam fungsi, yaitu: fungsi
penyesuaian, fungsi pengintegrasian, fungsi diferensiasi, fungsi persiapan, fungsi
pemilihan, dan fungsi diagnostik.
Kurikulum sebagai jembatan untuk menuju tujuan pada tiap satuan pendidikan
diuraikan atas beberapa mata pelajaran bagi sekolah atau beberapa mata kuliah bagi

3
tingkat perguruan tinggi. Satu diantara mata pelajaran/mata kuliah tersebut adalah
matematika. Matematika adalah ilmu universal yang mendasari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi modern, memajukan daya pikir serta analisa manusia.
Matematika memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan. Mata pelajaran
matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar, untuk
membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis,
inovatif dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar
peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan
informasi untuk hidup lebih baik pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan
sangat kompetitif. Dalam melaksanakan pembelajaran matematika, diharapkan bahwa
peserta didik harus dapat merasakan kegunaan belajar matematika.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disampaikan diatas, maka
permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum?
2. Apa yang dimaksud kurikulum matematika sekolah ?
3. Bagaimana perubahan kurikulum matematika sekolah dari masa ke masa?
4. Bagaimana implementasi kurikulum matematika sekolah ?

C. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan perumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dari penulisan
ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kurikulum.
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kurikulum matematika sekolah.
3. Untuk mengetahui bagaimana perubahan kurikulum matematika sekolah dari
masa ke masa.
4. Untuk mengetahui bagaimana implementasi kurikulum matematika sekolah.
5. Untuk mengetahui apa saja hambatan guru terhadap perubahan kurikulum.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Penelitian Kuantitatif


Pemahaman konsep dasar penelitian kuantitatif tidak bisa dipahami dari satu
aspek tertentu, melainkan ditinjau dari beberapa aspek. Bambang Prasetya dan Lina
Miftakhuljannah (2005), mengidentifikasi konsep dasar penelitian kuantitatif
digunakan beberapa konsep, yaitu pendekatan, metode, data, dan analisis. Keempat
konsep diatas mengandung maksud secara konsisten dan saling melengkapi dalam
memahami konsep dasar penelitian kuantitatif. Oleh karena itu, konsep dasar
penelitian kuantitatif dapat dipahami dari beberapa aspek.
1. Pendekatan
Pendekatan dimaksudkan suatu strategi memecahkan permasalahan yang
melibatkan berbagai komponen yang rumit. Dalam keilmuan termasuk penelitian
sering digunakan istilah paradigma (paradigme). Arti paradigma berbeda dengan
definisi keilmuan. Menurut Puton yang dikutip oleh Y. Slamet (2006) bahwa
paradigma adalah pandangan terhadap dunia dalam perspektif umum dengan cara
menjabarkan komplesitas relita dunia. Paradigma berkaitan dengan cara pandang
yang mana dianggap penting, sah, dan masuk akal yang dicerminkan pada pola
pikir. Paradigma yang digunakan dalam penelitian kuantitatif adalah pola berpikir
positivistis, merupakan kerangka berpikir secara rasional-hipotesis-empiris.
Pencarian bukti empiris melalui pengamatan dijadikan andalan pemecahan
masalah, karena merupakan hasil penelitian merupakan kunci kebenaran
pengetahuan.
2. Metode Kuantitatif
Metode yang dimaksud menunjuk pada prosedur yang lebih bersifat teknis
untuk penelitian kuantitatif. Bagaimana cara menjabarkan karakteristik variabel
dan menemukan keterkaitan antar variabel penelitian. Noeng Muhadjir (1989:15)
mengemukakan beberapa prosedur yang bisa ditempuh metode kuantitatif sbb:
a. Kategorisasi variabel
Kategori variabel meliputi variabel independen dan variabel dependen,
variabel dikotomik (deskrit) dengan variabel konstruk (kontinu). Dalam realita
terdapat variabel intervensi, yang harus dikontrol oleh peneliti, karena tidak
diteliti.

5
b. Korelasi
Korelasi menunjuk pada hubungan antar variabel independen dengan variabel
dependen yang kedua variabel itu berdiri sendiri serta terdapat keterkaitan
dalam bentuk hubungan. Contoh: korelasi antara kecerdasan dengan prestasi
belajar.
c. Kausalitas
Kausalitas menunjuk pada keterkaitan antar variabel independen yang
mempengaruhi variabel dependen. Contoh: pengaruh kebiasaan mendengarkan
berita berbahasa inggris dengan nilai tes listening.
d. Kontinuasi
Kontinuasi menunjuk pada dampak adanya variabel independen terhadap
variabel dependen. Kontinuasi dimaksdukan ketika variabel independen sudah
tidak berlangsung, tetapi dampaknya tetap terjadi pada variabel dependen.
Contoh: dampak nilai kelulusan pendidikan agama pada ketaatan ibadah bagi
lulusan siswa SMA.
e. Komparasi
Komparasi menunjuk pada perbandingan dua atau lebih variabel dikotomik
yang terjadi secara serentak. Contoh: perbedaan sikap laki-laki dan perempuan
terhadap porno aksi.

3. Data Kuantitatif
Hasil pengamatan fakta empiri dinyatakan dalam ukuran kuantitatif berupa
bilangan, dengan digunakan prinsip dasarmatematik menambah, mengurangi,
mengkalikan, membagi dsb. Kemudian dilanjutkan dengan teknik statistik untuk
memperoleh satuan-satuan statistik yang diperlukan.

4. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif merupakan pengolahan data dengan digunakan metode
statistika. Statistika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aplikasi
matematika untuk memecahkan masalah empiri, dengan cara yang disebut teknik
statistik. Oleh karena itu, analisis kuantitatif dilaksanakan dengan teknik statistik
tertentu sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

6
B. Menganalisis dan Merumuskan Masalah
Masalah adalah suatu yang paling penting dalam melakukan proses penelitian.
Proses penelitian yang dilakukan haruslah berangkat dari masalah. Seperti yang
dinyatakan oleh Sugiyono (2005), apapun bentuk penelitian, baik penelitian murni
maupun terapan, semuanya berangkat dari masalah untuk menemukan solusi yang
dapat digunakan sebagai keputusan.
Masalah merupakan kesenjangan (gap) antara apa yang seharusnya ada
dengan apa yang terjadi; atau antara apa yang diharapkan akan terjadi dengan apa
yang menjadi kenyataan. Pada hakekatnya masalah penelitian merupakan suatu
pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk hambatan, kesulitan atau
rintangan yang muncul dalam suatu bidang yang diteliti yang perlu disingkirkan untuk
dicari solusi atau jawabannya.
1. Konsep masalah
Penelitian muncul selalu berawal dari adanya suatu masalah yang timbul di
lapangan maupun suatu yang masih menjadi pertanyaan bagi peneliti dan
masyarakat. Masalah merupakan tempat awal berpijak untuk melakukan penelitian,
untuk selanjutnya dipecahkan melalui langkah-langkah yang sistematis seperti
yang ada dalam sebuah penelitian ilmiah. Masalah yang akan diteliti hendaklah
jelas, konkrit yang memerlukan solusi penyelesaian sehingga mendapat keputusan
atau hasil penelitian.
Banyak peneliti pemula yang menganggap bahwa penelitian berawal dari
penetapan judul. Anggapan ini tidak benar karena penelitian berawal dari aktivitas
menemukan masalah. Apabila masalah telah ditemukan maka upaya penyusunan
judul adalah sebuah hal yang gampang dilakukan.
Pemilihan masalah dan perumusan masalah dalam penelitian merupakan salah
satu aspek yang paling penting dalam memulai penelitian di bidang apa saja.
Penelitian tidak dapat dilakukan apabila suatu masalah belum dapat diidentifikasi,
atau dirumuskan dengan baik. Oleh karena itu menemukan masalah dalam
penelitian merupakan pekerjaan yang tidak mudah, tetapi setelah masalah dapat
ditemukan, maka pekerjaan penelitian akan segera dapat dilakukan.

2. Cara Menemukan Masalah dan Solusinya


Pertanyaan yang mendasar yang diajukan oleh kebanyakan yang ingin
meneliti adalah “Bagaimana saya menemukan suatu persoalan penelitian?”.

7
Meskipun tidak ada teknik yang khusus, yang pasti untuk menemukan suatu
persoalan, ada beberapa sumber yang boleh digunakan untuk memulai mengenal
masalah. Sumber-sumber tersebut adalah pengalaman, berfikir deduksi dari teori-
teori serta literatur yang relevan dengan penelitian. Apabila dalam penelitian
bidang sains, sosial dan pendidikan, seorang peneliti telah menemukan masalah
yang tepat, maka proses penelitian telah berjalan 50% (Sugiyono, 2004).
Tujuan dari penelitian adalah untuk menemukan solusi, jawaban terhadap
suatu masalah. Maka ketepatan dalam memilih masalah dan cara pemecahannya
sangat diperlukan dalam melakukan penelitian, Untuk menentukan permasalahan
yang baik, hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Peneliti memiliki keahlian dalam bidang yang diteliti.
b. Tingkat kemampuan peneliti memang sesuai dengan tingkat kemampuan yang
diperlukan untuk mencari solusi penyelesaian masalah yang diteliti
c. Peneliti memiliki sumber daya yang diperlukan dalam penelitian yang
dijalankan
d. Peneliti telah mempertimbangkan kendala waktu, dana, dan berbagai kendala
lain dalam pelaksanaan penelitian yang dilakukan.

3. Menemukan Sumber-sumber Masalah Penelitian


Penemuan masalah dan sumber-sumber masalah dapat dilihat melalui
beberapa hal, yaitu sebagai berikut:
a. Temuan dan Rekomendasi Penelitian
Masalah dapat ditelusuri dari hasil penelitian orang lain. Sebuah
penelitian memiliki bagian kesimpulan dan saran, dari bagian inilah seorang
peneliti menemukan masalah dengan menganalisis adanya kemungkinan untuk
melanjutkan penelitian tersebut sebagai upaya untuk mengkaji hal-hal yang
belum terungkap, dan hal-hal lain yang mungkin ditemukan dari analisis hasil
penelitian orang lain.
b. Pengalaman dan Literatur
Pengalaman, merupakan sumber pengenalan masalah yang paling
berguna bagi peneliti pemula dalam memulai penelitian, yakni pengalaman
mereka sendiri sebagai praktisi pendidikan. Banyak keputusan yang harus
diambil setiap waktu. Pengalaman seseorang merupakan sumber yang baik
sebagai masalah penelitian.

8
Misalnya pengalaman dalam bidang pekerjaan, pengalaman dalam
kehidupan umum, pengalaman berorganisasi, dan lain-lain. Pengamatan juga
cara yang baik untuk menemukan masalah, contoh mengamati kedisiplinan
guru, dll.
Literatur, sebagai cara penemuan masalah terbagi dua, yakni literatur
yang dipublikasikan dan literatur yang tidak dipublikasikan. Literatur yang
dipublikasikan misalnya buku teks, jurnal, text database. Sedangkan literatur
yang tidak dipublikasikan antara lain skripsi, tesis, disertasi, paper, makalah-
makalah seminar, laporan.
c. Paper, Personal, Place
1) Paper: mempelajari dokumen, buku, majalah, laporan penelitian atau
penemuan sebelumnya.
2) Personal: melakukan wawancara atau diskusi dengan para ahli atau orang-
orang yang ada pada lokasi penelitian.
3) Place: mengamati daerah/lokasi penelitian yang akan diteliti.
(Arikunto,2002).
Keragaman sumber masalah tersebut memperlihatkan bahwa masalah tidak
hanya terfokus pada fakta-fakta terjadi di lapangan penelitian, tetapi masalah dapat
juga digali dari sumber-sumber lain yang memang memungkinkan untuk dijadikan
sebagai masalah penelitian.

4. Identifikasi Masalah
Secara umum identifikasi masalah adalah menginventarisir masalah-masalah
yang dapat dijadikan sebagai kajian penelitian. Beberapa pendapat berikut ini dapat
menjadi rujukan makna identifikasi masalah, yaitu :
a. Menurut Sugiyono mengemukakan bahwa identifikasi masalah merupakan
suatu kegiatan berupa mencari masalah yang sekiranya dapat dicarikan
jawabannya melalui penelitian.
b. Menurut Suriasumantri dalam Harun Sitompul mengemukakan bahwa
identifikasi masalah adalah tahap permulaan penguasaan masalah dimana suatu
obyek dalam suatu jalinan situasi tertentu dapat dikenali sebagai suatu masalah.

Berdasarkan pendapat ahli yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa


identifikasi masalah adalah menggali permasalahan yang hendak diteliti dan

9
menghubungkan dengan masalah- masalah relevan lainnya. Karena sifatnya
mengidentifikasikan maka masalah yang ditemukan tidak mungkin hanya satu,
apabila ditemukan sebuah permasalahan utama maka permasalahan utama tersebut
tentu memiliki hubungan dengan berbagai permasalaham lain. Penemuan masalah
awal (identifikasi masalah) dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik
pengumpulan data seperti wawancara, observasi dan kuesioner.

5. Batasan Masalah
Batasan masalah adalah ruang lingkup masalah atau upaya membatasi ruang
lingkup masalah yang terlalu luas kepada aspek- aspek yang jauh dari relevansi
sehingga penelitian itu lebih fokus untuk dilakukan. Berdasarkan sekian banyak
masalah dipilihlah satu atau dua masalah dari beberapa masalah yang sudah
teridentifikasi.
Batasan Masalah sangat diperlukan dalam penelitian kuantitatif karena dengan
keterbatasan yang ada pada peneliti kadangkala masalah- masalah yang telah
diidentifikasikan tidak dapat diteliti secara keseluruhan, melainkan sebagian saja,
karena keterbatasan dan, waktu dan lain-lain. Oleh sebab itu, peneliti harus
menuangkan berupa batasan masalah sama seperti pada penulisan identifikasi
masalah.

6. Perumusan Masalah Penelitian


Rumusan masalah penelitian merupakan petunjuk yang mengarahkan peneliti
untuk memformulasikan secara ringkas, jelas dan tajam tentang permasalahan
utama. Rumusan masalah juga merupakan pertanyaan yang lengkap dan rinci
mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti didasarkan atas identifikasi
masalah dan pembatasan masalah. Pertanyaan- pertanyaan ini nantinya akan
terjawab setelah ada hasil penelitian yang diperoleh dari pembahasan/analisa.
Suatu perumusan masalah yang baik berarti telah menjawab setengah pertanyaan
atau dari masalah. Masalah yang telah dirumuskan dengan baik, tidak hanya
membantu memusatkan pikiran, sekaligus juga mengarahkan cara berpikir kita.
Tujuan dilakukannya perumusan masalah pada dasarnya merumuskan persolan
bertujuan untuk memperjelas ruang lingkup penelitian, serta agar peneliti maupun
pengguna hasil penelitian mempunyai persepsi yang sama dengan penelitian yang

10
dihasilkan. Sebelum merumuskan masalah, ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan, yaitu:
a) Kata- kata yang digunakan untuk mendefenisikan masalah harus memiliki satu
arti dan tidak ambigu.
b) Pernyataan masalah harus singkat tetapi komprehensif agar mudah dipahami.
c) Asumsi harus diakui dalam studi.
d) Masalah harus memiliki kepentingan praktis.
e) Defenisi atau pernyataan masalah harus memiliki alasan atau latar belakang
tertentu.

Ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan dalam merumuskan suatu


masalah, yaitu:
a) Peneliti sebaiknya mengembangkan suatu kerangka kerja konseptual dari
masalah.
b) Kerangka konseptual harus sedemikian rupa sehingga dapat dinyatakan dalam
bentuk verbal.
c) Unsur- unsur masalah harus dibatasi.
d) Mengklasifikasikan unsur-unsur dalam kelompok yang homogen.
e) Menentukan kunci atau point-point dalam kerangka kerja konseptual.
f) Menguji teori untuk mengevaluasi masalah.
g) Bentuk akhir dari pernyatan tersebut dapat diberikan dalam bentuk verbal
untuk sebuah kerangka kerja konseptual suatu masalah.
h) Memutuskan kesulitan praktis dalam melakukan penelitian.

7. Bentuk- bentuk Rumusan Masalah Penelitian


Menurut Sugiyono bentuk- bentuk rumusan masalah penelitian dikelompokkan
menjadi 3 yaitu:
a. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah bentuk pertanyaan peneliti yang
berkenaan dengan keadaan suatu variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih.
Dalam rumusan masalah ini peneliti biasanya hanya menanyakan satu variabel
tiap satu pertanyaan peneliti dalam rumusan masalah.
Contoh :
1) Seberapa baik pelayanan dan disiplin kerja aparat desa?

11
( 2 variabel: pelayanan dan disiplin kerja )
2) Bagaimana sikap masyarakat terhadap UU ASN?
( 1 variabel : sikap )
3) Seberapa tinggi efektifitas pemberian dosis tambahan pada obat diabetes?
( 1 variabel : efektifitas )
b. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan Masalah Komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang
mempertanyakan perbandingan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua
atau lebih sampel yang berbeda atau pada waktu yang berbeda.
Contoh :
1) Adakah perbedaan kinerja antara pegawai swasta dan PNS?
( 1 variabel: kinerja, dua sampel : swasta dan PNS )
2) Adakah perbedaan kemampuan menjawab soal CPNS 2014 antara CPNS
kementrian, lembaga pemerintah, dan lembaga non-pemerintah?
( 1 variabel: kemampuan, tiga sampel: kementrian, lambaga pemerintah,
dan lembaga non-pemerintah )
3) Adakah perbedaan, kemampuan dan disiplin kerja antara pekerja kantor dan
pekerja lapangan di perusahaan X?
( 2 variabel: kemampuan dan disiplin kerja, dua sampel: pekerja kantor
dan pekerja lapangan )

c. Rumusan Masalah Assosiatif


Rumusan Masalah Assosiatif adalah rumusan masalah yang bersifat
menayakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat 3 bentuk dari
rumusan masalah assosiatif, yaitu;
1) Hubungan Simetris, yaitu hubungan dua variabel atau lebih, apabila
variabel yang satu tidak disebakan atau dipengaruhi oleh yang lain.
Hubungan ini muncul secara bersamaan.
Contoh :
 Adakah hubungan antara pemilihan lokasi lembaga pendidikan dengan
tingginya prestasi siswa ?
 Adakah hubungan antara intensitas angin dengan hasil panen padi di
desa X?

12
2) Hubungan Kasual, yaitu hubungan yang bersifat sebab akibat antara
variabel Independen (mempengaruhi) dengan variabel dependent
(dipengaruhi).
Contoh :
 Adakah pengaruh penggunaan media belajar terhadap prestasi siswa?
3) Hubungan Interaktif, yaitu hubungan antar variabel saling mempengaruhi
satu sama lain. Bentuk ini dapat dikenali dengan tidak jelasnya mana
variabel terikat mana variabel bebas.
Contoh :
 Adakah hubungan antara motivasi dan prestasi?
(2 variabel, motivasi dan prestasi. Bisa jadi motivasi yang tinggi
mempengaruhi prestasi dan bisa jadi prestasi yang baik membuat orang
memiliki motivasi yang tinggi).
 Adakah hubungan antara kecerdasan dan kekayaan?
(2 variabel, kecerdasan dan kekayaan. Bisa jadi karena cerdas orang
kaya, bisa jadi karena kaya orang bisa cerdas).

8. Analisis Perumusan Masalah Penelitian


Penelitian yang dilakukan, agar dapat berjalan dengan baik, maka masalah
yang telah dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu dari segi proses ataupun
tujuannya. Analisis itu dapat dilihat dalam perspektif subtansi, teori dan metode,
juga proses penelitian dan manfaatnya. Ada lima hal perlu dianalisis dari
permasalahan penelitian, yaitu:
a. Analisis terhadap substansi dari masalah itu sendiri.
Masalah yang dipilih memiliki relevansi akademik dalam arti termasuk
bidang keilmuan apa; misalnya sosiologi, antropologi, manajemen, pendidikan,
teologi, hukum dan sebagainya. Dengan mengetahui kedudukan masalah dalam
konteks keilmuan yang ada, peneliti dapat menelusuri dan mendalami
permasalahan itu dan menempatkannya dalam pokok bahasan atau sub pokok
bahasan bidang ilmu tersebut.
b. Analisis teori dan metode.
Masalah yang dipilih hendaknya dapat dicari rujukan kepustakaan,
perspektif teoritik, dan metodenya. Dengan pertimbangan ini dapat ditelusuri

13
kajian kepustakaan baik berupa jurnal, maupun hasil penelitian terdahulu
sehingga peneliti akan semakin tajam dan terarah dalam membangun pisau
analisanya terhadap fokus penelitiannya. Sementara perspektif teoritik
bermanfaat bagi peneliti agar memiliki starting point dan point of view yang
jelas sehingga dapat semakin peka dan kritis dalam mencermati setiap
fenomena yang berkaitan dengan penelitiannya.
c. Analisis intitusional.
Jenis, bobot dan tujuan penelitian hendaknya disesuaikan dengan institusi
dimana peneliti mempersembahkan hasil penelitiannya. Penelitian untuk
persyaratan gelar akademik tentu berbeda dengan penelitian pesanan atau
penelitian tindakan (action research).
d. Analisis metodologis.
Masalah yang diangkat hendaklah terjangkau, baik dari aspek metode
pengumpulan data maupun datanya sendiri. Penelitian yang melibatkan kaum
elite atau pejabat biasanya akan lebih sulit jika dibandingkan dengan
masyarakat awam. Itulah sebabnya hasil penelitian tentang elite, baik dalam
bidang politik, ekonomi, pendidikan, agama, hukum dan sebagainya lebih
sedikit jumlahnya.
e. Masalah yang diangkat hendaklah yang aktual disamping berarti dan bermakna.
Peneliti hendaklah menghindari masalah-masalah yang sudah banyak
diteliti. Masalah-masalah yang sepertinya menarik tetapi tidak fungsional, baik
bagi peneliti, institusi, masyarakat maupun pengembangan ilmu, sebaiknya
ditinggalkan.

14