Anda di halaman 1dari 19

MINI RISET METODOLOGI KUANTITATIF

PENGAMATAN BANJIR DI KOTA MEDAN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
MUTIAH (0105173256)
IKOM 8

DOSEN PENGAMPU : Dr. Khaidir, M.pd

FAKULTAS ILMU SOSIAL


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA

MEDAN

2019 M/ 1441 H
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-
Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Mini Riset yang berjudul “Pengamatan Proses
Pembelajaran Siswa SMA Negeri 11 Medan Kelas X IPA 5” sebagai tugas dari mata
kuliah METODELOGI KUANTITATIF. Penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang
banyak membantu dalam proses penyusunan dan penyelesaian makalah ini dari awal hingga akhir.
Dan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada dosen mata yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini kiranya masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat penulis
harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri tentunya.

Medan, 10 juni 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang

Banjir merupakan fenomena global yang dapat menyebabkan penderitaan yang

meluas, kerusakan ekonomi dan hilangnya nyawa manusia. Banjir adalah suatu

keberadaan air melebihi batas normal di daerah-daerah yang biasanya kering, yang

mana bencana banjir yang secara signifikan akan mengganggu aktivitas manusia dan

masyarakat (Jonkman and Kelman, 2005). Banjir juga merupakan peristiwa

tergenang dan terendamnya daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang

meningkat, banjir sebagai suatu peristiwa meluapnya air dari sungai atau saluran

drainase karena tidak mampu menampung besarnya debit air. Menurut When dkk.,

(2015) banjir disebabkan oleh kombinasi hujan deras yang menyebabkan sungai/laut

mengalir ke rumah, yang dapat terjadi pada setiap saat sepanjang tahun, bukan hanya

di musim hujan. Banjir umumnya berkembang selama beberapa hari, ketika ada

terlalu banyak air hujan. Namun, banjir dapat terjadi dengan cepat ketika hujan lebat

turun selama periode waktu yang singkat.

Banjir akan muncul bila jumlah air yang masuk tidak sama dengan air yang

terserap oleh tanah. Banjir merupakan fenomena hidrologi yang terjadi karena

kapasitas sistem tidak mencukupi, dan menyebabkan : (a) Kuantitatif genangan :

luapan banjir dari saluran yang ada (permukaan air maksimum) serta luas,

kedalaman, frekuensi dan durasi genangan air, (b) Kualitatif genangan : adanya

akibat dari air permukaan seperti dampak sosial, ekonomi dan budaya (Odum,

1992).
Lebih lanjut, menurut Tingsanchali (2012) dampak banjir merupakan salah

satu bencana yang paling signifikan di dunia. Lebih dari setengah kerusakan banjir

global terjadi di Asia, khususnya di Indonesia. Banjir disebabkan oleh faktor alam

seperti hujan deras, dan pasang yang tinggi, yang disebabkan faktor manusia seperti

pemblokiran saluran atau buruknya saluran drainase, penggunaan lahan yang tidak

tepat, serta penebangan hutan di daerah hulu. Sementara itu, kawasan rawan bencana

banjir adalah kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana banjir.

Faktor penyebab terjadinya banjir antara lain : (1) kondisi geomorfologis,

misalnya daerah yang rawan banjir, kondisi cekungan daerah dan daerah dataran

rendah., (2) kondisi iklim yang tidak bisa diprediksi, dan (3) aktivitas dan tindakan

manusia seperti pertambahan jumlah penduduk, moral hazard manusia seperti

membuang sampah di sungai, merubah berbagai tipe lahan untuk berbagai

kepentingan (BP DAS Wampu Sei Ular, 2013).

Faktor lain penyebab banjir karena faktor hujan, hancurnya retensi Daerah Aliran

Sungai (DAS), faktor kesalahan perencanaan pembangunan alur sungai, faktor

pendangkalan sungai dan faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan

prasarana (Maryono, 2005). Banjir perkotaan (yang biasanya disebabkan oleh sistem

drainase dan curah hujan yang luar biasa)merupakan suatu permasalahan serius.

Melihat fakta dan perkiraan itu jelas bahwa terjadi suatu kebutuhan untuk

mengembangkan metode yang lebih baik untuk mengidentifikasi intervensi biaya

yang paling efektif sebagai strategi yang terbaik mengurangi kerusakan dari

peristiwa banjir (Sayers et al., 2014).


Banjir perkotaan merupakan tantangan serius untuk pembangunan dan

kehidupan manusia, terutama bagi para penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan

negara-negara berkembang. Contohnya adalah pada Kota Medan. Kota

Medan dilalui oleh tiga DAS, yakni DAS Deli, DAS Percut dan DAS Belawan.

Kondisi fisik DAS secara garis besar terbagi ke dalam morfologi, kemiringan lereng,

jenis tanah, formasi batuan/geologi, penutupan lahan, sistem lahan, kawasan hutan,

erosivitas, iklim dan lahan kritis (BP DAS Wampu Sei Ular, 2013). Kondisi lahan

kritis di DAS Deli ditentukan oleh 6 parameter yaitu Erosi, Kemiringan lereng,

Liputan Lahan, Kondisi Batuan, Produktivitas dan Manajemen.

Kondisi lahan kritis mencakup 1,395.88 Ha. DAS Deli terdiri atas Sub DAS Sei

Sikambing, Babura, Bekala, Deli, Paluh Besar, Petani dan Simai-mai, dengan luas

47,298.01 Ha. Secara adminitrasi DAS Deli berada pada 3 (tiga) Kabupaten yaitu

Kabupaten Karo seluas 1,417.65 Ha (3 %), Kabupaten Deli Serdang seluas

29,115.20 Ha (61.56 %) dan Kota Medan seluas 16,765.16 ha (35.45 %).

Sedangkan DAS Belawan yang terdiri atas Sub DAS Sei Tengah, Belawan Hulu,

Belawan Hilir, Belawan Tengah, Krio, Tuntungan, dengan total luas 40,789.98 Ha.

Secara administrasi DAS Belawan berada pada 2 (dua) Kabupaten/Kota yaitu

Kabupaten Deli Serdang seluas 38,029.30 Ha (93.23 %) dan Kota Medan Seluas

2,760.69 Ha (6.77 %). Kemudian DAS Percut. Secara administrasi DAS Percut

berada pada 3 (tiga) Kabupaten/ Kota yaitu Kabupaten Deli Serdang seluas

29,059.33 Ha (70.44 %), Kabupaten Karo seluas 2,898.94 Ha (7.03 %) dan Kota

Medan seluas 9,293.93 Ha (22.53 %) (BP DAS Wampu Sei Ular, 2013).
Permasalahan dampak banjir menjadi lebih kritis karena banjir lebih parah

dan adanya kemungkinan disebabkan oleh perubahan iklim, kerusakan

sosialekonomi, penduduk yang terkena dampak, kemarahan publik dan penanganan

banjir yang tidak optimal. Haldar, dkk (2015) menyatakan bahwa banjir juga bisa

menjadi masalah serius untuk pemukiman dan lingkungannya.Pencegahan dan

mitigasi akibat kerugian banjir termasuk tindakan mitigasi banjir struktural serta

langkah pengendaliannya seperti pembangunan bendungan atau tanggul sungai dan

tindakan non-struktural yang dapat dilakukan seperti prakiraan banjir dan

peringatan, bahaya banjir, manajemen risiko, partisipasi publik dan penataan

kelembagaan (Tingsanchali, 2012).

Pengendalian banjir memiliki 2 (dua) metode, yaitu metode struktur dan metode non

struktur, seperti yang dijelaskan pada Tabel 1.1 :

Tabel 1.1 Metode Pengendalian Banjir di Medan

No Metode Struktur Metode Non Struktur


Perbaikan dan Bangunan Pengendali
pengaturan Sistem Banjir
Sungai
1 Sistem jaringan sungai Bendungan (Dam) Pengelolaan DAS
2 Normalisasi sungai Kolam retensi Pengaturan Tata Guna Jalan
3 Perlindungan Pembentukan check dan Pengendalian erosi
penangkap sedimen
4 Tanggul Bangunan Pengembangan daerah banjir
pengurang
kemiringan sungai
5 Tanggul banjir Groundsill Penanganan kondisi darurat
6 Sudeta (By pass) Retarding basin Peramalan banjir
7 Floodway Pembuatan polder Peringatan bahaya banjir
8 Pumping station Asuransi
9 Law Enforecement
10 Regulasi
11 Lembaga tetap, lengkap, handal dan
kuat
12 Partisipasi masyarakat
13 Konsep Zero Delta Q
Sumber : MMUDP, Hasibuan (2005)
Untuk mengurangi kerugian yang ditimbulkan oleh banjir ini diperlukan tindakan

penanganan banjir (flood damage mitigation), baik yang bersifat phisik

(structural measures) karena bersifat memperbaiki alam dan tindakan yang bersifat
non phisik (non-structural measures) karena bersifat pencegahan terjadinya
bencana/kerugian (Purbawijaya, 2011). Khusus dalam kebijakan penanggulangan
banjir alam, kebijakan saat ini lebih menekankan pada pencegahan/penghindaran
kawasan rentan banjir.

Salah satu bentuk mitigasi banjir non struktural adalah partisipasi

masyarakat. Partisipasi masyarakat merupakan suatu proses teknis untuk

memberikan kesempatan dan wewenang yang lebih luas kepada masyarakat secara

bersama memecahkan berbagai persoalan. Pembagian kewenangan ini dilakukan

berdasarkan tingkat keikutsertaan (level of involvement) masyarakat dalam kegiatan

tersebut. Partisipasi masyarakat bertujuan untuk mencari solusi permasalahan yang

lebih baik dalam suatu komunitas dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi

masyarakat untuk ikut memberikan kontribusi sehingga implementasi kegiatan

berjalan lebih efektif, efesien, dan berkelanjutan. Bentuk partisipasi masyarakat dan

koordinasi dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Tindakan Mitigasi Banjir Oleh Masyarakat

No PROGRAM TINDAKAN
1 1.Membangun sumur resapan di halaman rumah.
Pengisian air pada sumber air
2.Tidak membuang limbah pada sumber air.
2 Pengaturan daerah sempadan 1.Tidak mendirikan bangunan di sempadan sumber air.
sumber air 2.Tidak mengurangi kapasitas tampung badan sungai.
3 Pengendalian bahaya banjir 1.Membangun bangunan pengendali banjir.
dengan cara berwujud fisik 2. Pengaturan dan normalisasi alur sungai.
3.Pembuatan tanggul banjir.
4.Pembangunan banjir kanal.
5.Membangun tampungan banjir sementara.
4 Pengendalian bahaya banjir 1.Sistem peringatan dini banjir.
dengan cara non fisik 2.Memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang
membudidayakan dataran banjir.
3.Pengelolaan sampah
5 Pengendalian kerusakan sumber 1. Berperan dalam mencegah masuknya pencemar pada
air sumber air dan prasarana sumber air.
2. Melaporkan kepada yang berwenang tentang perilaku
pihakpihak yang mencemari sumber air.
Sumber : Mawardi (2011)
Sobirin,dkk,(2009) menyebutkan anggota masyarakat bertanggung jawab

untuk melaksanakan kegiatan dari program pemerintah,anggota masyarakat ikut

menghadiri pertemuan–pertemuan perencanaan, pelaksanaan dan pengkajian ulang

proyek walaupun sebatas sebagai peserta. Anggota masyarakat terlibat secara aktif

dalam pengambilan keputusan tentang cara melaksanakan sebuah proyek dan ikut

menyediakan bantuan serta bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proyek. Anggota

masyarakat terlibat secara aktif dalam semua tahapan proses pengambilan keputusan

yang meliputi perencanaan, pelaksanaan pengawasan dan monitoring. Sementara

menurut Raungratanaamporn et al. (2014) koordinasi antara pemerintah dan

masyarakat merupakan faktor penting dalam penanggulangan bencana, yang dapat

diatasi sebagai pendekatan profesional sebagai tanggap darurat. Namun, masalah

seperti adanya keterlambatan dalam bentuk tanggapan, komunikasi, perbedaan saling

pengertian yang masih sering terjadi merupakan salah satu faktor terlambatnya

penanganan banjir.

Bentuk kelembagaan dalam mitigasi banjir oleh pemerintah sudah dibentuk

seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan SAR Nasional

(Basarnas). Bentuk kelembagaan masyarakat yaitu anggota Rencana Usaha Keluarga

(RUK) dan Rencana Kegiatan Kelompok (RKK). Bentuk kelembagaan dalam

mitigasi tersebut selama ini belum terkoordinasi dengan BNPB dan SAR yang telah

dibentuk oleh pemerintah. Kelembagaan peran masyarakat dalam pengendalian daya


rusak air seperti bahaya banjir telah mempunyai dukungan peraturan perundangan

yaitu Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber

Daya Air. Berikut kegiatan partisipasi masyarakat mitigasi banjir pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3 Koordinasi Mitigasi Banjir Oleh Masyarakat

No Masalah Program Kegiatan


1 Bencana banjir Perbaikan tanggul 1.Survai tanggul yang rusak.
sering terjadi banjir Sungai 2. Menentukan jumlah lokasi tanggul yang akan
diperbaiki
3. Penyiapan material yang dibutuhkan untuk
perbaikan tanggul banjir.
4. Pelaksanaan kegiatan
2 Sedimen dan Pembersihan 1. Sosialisasi ke seluruh warga dalam Desa Sooko
sampah sampah dan 2. Bersama masyarakat menentukan pembagian
memenuhi sedimen di kelompok tugas dan lokasi kegiatan.
saluran 3. Penyiapan material dan peralatan
saluran drainase
drainase di pendukung.
jalan utama
4. Pelaksanaan gotong royong
pembersihan saluran drainase
3 Sampah rumah Pembuatan
tangga dibuang tempat kompos 1. Pengenalan dan pelatihan pengomposan sampah
ke bantaran sampah rumah rumah tangga.
sungai. tangga. 2. Pembuatan tempat kompos sampah.

Sumber : Mawardi (2011)


Kegiatan masyarakat mempunyai peran penting sebagai garis depan dalam

pengelolaan banjir. Karena pengelolaan banjir terpadu berusaha untuk secara aspek

praktis mengelola banjir, yang mana partisipasi masyarakat menjadi fundamental dan

esensial untuk setiap tahap manajemen, yaitu kesiapan dalam merespons dan

pemulihan dari bencana banjir (Masahiko et al., 2010). Partisipasi masyarakat yang

bisa dilakukan pada masa sebelum bencana banjir berupa pemberian peringatan dini

kepada komunitas sekitar, penanganan evakuasi korban banjir, pencarian dan

penyelamatan korban bajir, pertolongan pertama pada korban banjir, penyiapan

dapur umum. Pada masa selama banjir partisipasi masyarakat berupa: penyiapan

tenda darurat untuk penanganan korban banjir, kewaspadaan pada area banjir,
pengumpulan, pengelolaan, dan penyaluran berbagai bantuan dan pelaporan kejadian

banjir kepada pihak berwenang.

Bentuk paritisapasi masyrakat pada masa setelah bencana bisa dilakukan dengan:

pencatatan berapa jumlah korban dan kerugian akibat banjir, penguburan korban,

pemberian trauma healing kepada komunitas, perbaikan infrastruktur, pengobatan

korban banjir di area rumah pertolongan, pelaporan penanganan banjir ke pihak

berwenang. Menurut Mawardi (2011) Partisipasi masyarakat dalam menangani

pengurangan resiko bencana banjir dilakukan dengan berbagai tindakan melalui

paparan lokasi bahaya dan identifikasi pola kerentanan fisik. Pengurangan resiko

bencana banjir merupakan seluruh rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir (satu

siklus) yang meliputi: kesiagaan, bencana dan pemulihan. Pola partisipasi

masyarakat dalam menangani pengurangan resiko bencana banjir yang bersifat

intervensi top-down terkadang kurang mendukung aspirasi dan potensi masyarakat

melakukan kegiatan swadaya. Perlu dibentuk satu model koodinasi kelembagaan

yang melibatkan masyarakat dan pemerintah, dimana lembaga ini bisa diperdakan

untuk memperoleh dana operasional dari APBD dengan membuat leading sector

seperti Badan Lingkungan Hidup/Pemerintah Kota Medan atau mendapatkan dana

melalui CSR dari pihak swasta.

Pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung mitigasi banjir juga

diterapkan dalam penelitian Mutaqin (2006) tentang kinerja sistem drainase yang

berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat di Perumahan Josroyo Kabupaten

Karanganyar, dimana tingkat kesadaran Sumber Daya Manusia (SDM) di dalam

institusi pemerintah, serta masyarakat yang masih rendah dan acuh tak acuh terhadap
permasalahan yang dihadapi kota, khususnya kinerja drainasenya. Selain partisipasi

masyarakat juga perlu adanya koordinasi antara pemerintah dengan masyarakat yang

disebut koordininasi kelembagaan. Pada kajian yang dilakukan di Carolina Utara

menunjukkan bahwa pengalaman banjir dan faktor resikonya meningkatkan

kemungkinan adopsi mitigasi bahaya lokal. Pengaruh partisipasi masyarakat

khususnya perusahaan melalui kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dan

mitigasi dapat mengurangi bencana banjir (Craig E. Landry and Jingyuan Li, 2006).

Hasibuan (2008) menyatakan adanya koordinasi kelembagaan pada peran

pemerintah daerah dalam mengendalikan banjir, sedangkan peran serta masyarakat

kurang dioptimalkan. Partisipasi dan peran serta masyarakat sangat penting dalam

mendukung kebijakan pemerintah. Menurut Daniel (2005) bahwa masyarakat harus

terlibat langsung dalam setiap kegiatan.

Partisipasi masyarakat menekankan pada “partisipasi” langsung warga dalam

pengambilan keputusan pada lembaga dan proses kepemerintahan. Kemudian Astuti

(2011) menegaskan bahwa partisipasi masyarakat telah mengalihkan konsep

partisipasi menuju suatu kepedulian dengan berbagai bentuk keikut-sertaan warga

dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan di berbagai bidang yang

mempengaruhi kehidupan warga masyarakat.

Menurut Hasibuan (2008) pengelolaan banjir perkotaan terpadu adalah

terintegrasinya subsistem atau domain yang mempengaruhi tercapainya pengelolaan

banjir perkotaan dalam kerangka DAS, hal ini dipengaruhi oleh koordinasi yang baik

dan saling keterkaitan (pooled interdependency). Tingkat koordinasi dapat dilakukan

dalam penyusunan program, struktur organisasi, alokasi dana dan cost sharing,

implementasi law enforcement tata ruang dan garis sempadan, serta pelibatan peran
serta masyarakat. Hasil penelitian Unesco bekerja sama dengan Pemda DKI Jakarta

(2008) menunjukan adanya partisipasi masyarakat yang masih rendah seperti sampah

yang dibuang ke sungai dan selokan, akan mengurangi kapasitas sungai untuk

menampung air hujan. Sungai atau selokan yang tersumbat oleh sampah dapat

menyebabkan air melimpah keluar.

Salah satu upaya untuk mengurangi dampak banjir selain partisipasi

masyarakat dan koordinasi kelembagaan adalah dengan pengembangan model

Computable Urban Economic (CUE) yang pertama kali ditemukan oleh Alonso

(1964) yang mengukur nilai ekonomi perkotaan dari permintaan masyarakat akan

pemukiman. Kemudian dikembangkan oleh Akiyoshi Takagi dan Taka Ueda (2006)

dengan judul penelitian Evaluation of flood mitigation countermeasures considering

the independence between flood risk and land use. Hasil penelitian menyebutkan

bahwa penggunaan lahan dan perubahan resiko banjir mampu memitigasi dampak

dari banjir.

Diharapkan dengan adanya partisipasi masyarakat dan koordinasi

kelembagaan dan dukunganpengurangan dampak banjir serta penggunaan lahan

maka mitigasi banjir akan mudah dilakukan. Oleh karena itu perlunya

mengembangkan model Partisipasi masyarakat dan Koordinasi kelembangaan

dengan CUE model dan membuat model baru yang disebut dengan PK-CUE atau

disingkat Model Partisipasi dan Koordinasi Computable Urban Economic.

Model PK-CUE dikembangkan dari model CUE oleh Akiyoshi Takagi

(2006) yang menganalisis tentang Evaluasi Penanggulangan Pencegahan Banjir

Interdependensi Antara Risiko Banjir dan Penggunaan Lahan. Model CUE tersebut

menggunakan risiko banjir dan penggunaan lahan sebagai variabel dalam


mendukung pencegahan banjir. Sedangkan model PK-CUE memasukkan unsur

Partisipasi masyarakat (P) dan Koordinasi kelembagaan (K). Model PK-CUE

diyakini memiliki kelebihan yaitu adanya keterlibatan semua unsur dalam

memitigasi banjir, baik dari pemerintah, masyarakat, swasta dan terbentuknya

koordinasi dari semua elemen tersebut mampu membuat maksimal mitigasi banjir

dapat berhasil dengan baik. Model partisipasi dan koordinasi menggambarkan peran

pemerintah dan masyarakat dalam memitigasi banjir secara langsung sedangkan

secara tidak langsung adanya dukungan pengelolaan resiko banjir dan penataan

penggunaan lahan yang sesuai (Yu and Qingyun, 2011) sehingga diharapkan mampu

memaksimalkan mitigasi banjir yang ada di Kota Medan, guna mengurangi

menurunnya kualitas lingkungan seperti semakin tingginya polusi (Jiang, 2012., Lu

et al., 2013). Kutipan tersebut menunjukkan adanya yang diperlukan dalam membuat

kebijakan guna mendukung terbentuknya kota yang

berkelanjutan, baik, asri, dan terbebas dari banjir.

1.2. Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah partisipasi masyarakat, koordinasi kelembagaan, pengurangan

dampak banjir dan penggunaan lahan berpengaruh terhadap mitigasi banjir

di Kota Medan?

2. Bagaimanakah model kelembagaan partisipasi masyarakat yang efektif

dalam memitigasi banjir di Kota Medan dengan pengembangan model

CUE?
1.3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan :

1. Mengetahui pengaruh partisipasi masyarakat, koordinasi kelembagaan,

pengurangan dampak banjir dan penggunaan lahan terhadap mitigasi banjir

di Kota Medan.

2. Membentuk model kelembagaan partisipasi masyarakat yang efektif dalam

memitigasi banjir di Kota Medan dengan pengembangan model CUE.

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan kepada semua stakeholder

(pemangku amanah), dalam upaya mitigasi banjir di Kota Medan, sehingga program

pemerintah yang disusun dalam upaya mengurangi resiko banjir akan memberikan

dampak yang signifikan.

1.5. Hipotesis Penelitian

Untuk lebih memfokuskan arah pencapaian tujuan penelitian ini, maka

diberikan hipotesa sebagai berikut :

1. Partisipasi masyarakat, koordinasi kelembagaan, pengurangan dampak banjir

dan penggunaan lahan berpengaruh secara signifikan terhadap mitigasi banjir

di Kota Medan.
2. Model PK-CUE dalam kelembagaan partisipasi masyarakat mendukung

dalam memitigasi banjir di Kota Medan.

1.6. Kerangka Pemikiran

Banjir di Kota Medan selalu memiliki potensi kerawanan yang setiap tahun

terus berdampak pada kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dampak banjir bukan

hanya dirasakan oleh masyarakat Kota Medan namun juga disekitar kawasan yang

juga terkena dampak banjir.

Dalam menghadapi potensi banjir yang terus meningkat tersebut ada dua

komponen yang terkait yaitu adanya partisipasi masyarakat dan koordinasi

kelembagaan. Dukungan kedua komponen tersebut akan lengkap jika ada

penambahan pengurangan resiko banjir dan penggunaan lahan. Kedua komponen

tersebut ikut dilibatkan dalam upaya mitigasi dan meminimalisasi dampak banjir.

Mitigasi banjir terdiri atas mitigasi struktural (pemerintah) dan mitigasi non

struktural (masyarakat). Efektivitas kebijakan pemerintah dan peran serta aktif

masyarakat akan berdampak pada suatu peran partisipatif masyarakat dalam

membentuk kelembagaan dan mitigasi banjir sehingga mampu bertindak dalam

pengendalian banjir di Kota Medan.


Potensi Banjir
Wilayah Kota Medan

Kawasan wilayah
terjadinya banjir

Kerentanan Akibat Banjir di


Kapasitas Masyarakat Dalam
Kota Medan
- Wilayah Menghadapi Banjir
- Perilaku
- Kebijakan
- Sosial ekonomi

Mitigasi Struktural [
Mitigasi Oleh
Oleh Instansi Terkait Mitigasi Banjir Masyarakat

Banjir Masih Tetap Meminimalisasi - Perencanaan


terjadi Dampak - Pelaksanaan
- Pengawasan

Mengurangi
Resiko Banjir
CUE

Penggunaan
Lahan

KOORDINASI DAN
PARTISIPASI MASYARAKAT
Masyarakat dan Koordinasi Kelembagaan di Kota Medan)
1.7. Hasil yang diharapkan / Novelty
Terbentuknya model Partisipasi dan Koordinasi - CUE (PK-CUE) dalam

mitigasi banjir di Kota Medan, yang dapat digunakan untuk membantu implementasi

kebijakan dalam mengurangi dampak banjir melalui koordinasi kelembagaan dan

partisipasi masyarakat dalam mendukung pengendalian banjir di

Kota Medan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah,


Direktorat Pendidiakn Lanjutan Pertama. 2002. Pendekatan Konsektual ( Contextual
Teaching and Learning (CTL))

Dimyati, Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rineka Cipta.

https://cancer55.wordpress.com/2013/09/07/fungsi-dan-peranan-guru-dalam-
proses-belajar-mengajar/ (diakses pada tanggal 12 November 2017)

http://infodanpengertian.blogspot.co.id/2016/02/pengertian-siswa-menurut-para-
ahli.html (diakses pada tanggal 12 November 2017)

http://chandcyberspace.blogspot.com/2017/04/apa-itu-guru-pengertian-guru-
menurut.html (diakses pada tanggal 12 November 2017)

http://www.wikipendidikan.com/2016/02/perbedaan-makna-belajar-mengajar.html
(diakses pada tanggal 12 November 2017)

http://dinaauliamn.blogspot.co.id/2016/10/penerapan-filsafat-pendidikan.html
(diakses pada tanggal 12 November 2017)
http://pedidikanmu.blogspot.co.id/2013/05/penerapan-filsafat-pendidikan-
pancasila_8.html (diakses pada tanggal 12 November 2017)