Anda di halaman 1dari 96

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

TUGAS AKHIR
PROTOTIPE SISTEM KEAMANAN PABRIK DARI
KEBAKARAN DENGAN PENAMPIL HMI BERBASIS
PLC OMRON CPM2A
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
Memperoleh gelar sarjana Teknik pada
Program Studi Teknik Elektro
Jurusan Teknik Elektro
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma

Disusun oleh :
WIRAHADI SAPUTRA
NIM : 145114062

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2018
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

FINAL PROJECT
PROTOTYPE OF FACTORY SECURITY SISTEM FROM
FIRE USING HMI BASED ON OMRON CPM2A PLC

In a partial fulfillment of the requirements


For the degree of Sarjana Teknik
Department of Electrical Engineering
Faculty of Science and Technology, Sanata Dharma University

Arranged by :
WIRAHADI SAPUTRA
NIM : 145114062

DEPARTMENT OF ELECTRICAL ENGINEERING


FACULTY OF SCIENCE AND TECHNOLOGY
SANATA DHARMA UNIVERSITY
YOGYAKARTA
2018

ii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PROTOTIPE SISTEM KEAMANAN PABRIK DARI


KEBAKARAN DENGAN PENAMPIL HMI BERBASIS
PLC OMRON CPM2A

Oleh :

WIRAHADI SAPUTRA
NIM : 145114062

Telah disetujui oleh :

Pembimbing I :

Ir. Theresia Prima Ari Setiyani, M.T. Tanggal :________________

iii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS AKHIR

PROTOTIPE SISTEM KEAMANAN PABRIK DARI


KEBAKARAN DENGAN PENAMPIL HMI BERBASIS
PLC OMRON CPM2A

Disusun oleh :
WIRAHADI SAPUTRA
NIM : 145114062

Telah dipertahankan di depan tim penguji


Pada tanggal : ………………2018
Dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Tim Penguji :


Nama Lengkap Tanda Tangan
Ketua : Ir. Theresia Prima Ari Setiyani, M.T. ________________
Anggota 1 : Martanto, S.T., M.T. ________________
Anggota 2 : B. Djoko Untoro Suwarno, S.Si., M.T. ________________

Yogyakarta, ………………2018
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Sanata Dharma
Dekan,

Sudi Mungkasi, S.Si., M.Math.Sc., Ph.D

iv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir ini tidak memuat karya atau
bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka
sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 11 Juni 2018

Wirahadi Saputra

v
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

HALAMAN PERSEMBAHAN DAN MOTTO HIDUP

MOTTO :

Betapa bodohnya manusia, Dia menghancurkan


masa kini sambil mengkhawatirkan masa depan,
tapi menangis di masa depan dengan mengingat
masa lalunya.

Skripsi ini kubersembahkan untuk……


Para Buddha, Dharma, dan Sangha
Kedua Orang tua dan Saudaraku
Sahabat dan teman seperjuangan

vi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA


ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :
Nama : Wirahadi Saputra
Nomor Mahasiswa : 145114062
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaaan Universitas
Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

PROTOTIPE SISTEM KEAMANAN PABRIK DARI


KEBAKARAN DENGAN PENAMPIL HMI BERBASIS
PLC OMRON CPM2A
Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada
perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk
media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan
mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta
ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya
sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 11 Juni 2018

(Wirahadi Saputra)

vii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

INTISARI

Kebakaran adalah suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung secara cepat dari
suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya suatu percikan api / nyala api. Risiko kebakaran
yang terjadi sangat merugikan dan pada umumnya sulit untuk dikendalikan. Sistem deteksi
kebakaran pada pabrik merupakan salah satu aspek penting dalam keamanan dipabrik. Dalam
penelitian ini, sistem keamanan kebakaran dibuat untuk mencegah terjadinya kebakaran, kenaikan
suhu, dan kebocoran gas.
Sistem ini menggunakan PLC sebagai pusat pengelolah data dan MAD sebagai modul yang
mengubah data analog menjadi data digital yang akan dikirimkan kembali ke PLC untuk diolah.
Sistem deteksi kebakaran mempunyai 2 buah sensor sebagai masukan yaitu sensor suhu dan sensor
gas. Sensor suhu dan gas ini digunakan untuk mendeteksi terjadinya kebakaran. Ketika kedua
sensor ini menedeteksi kebakaran maka kedua sensor ini akan memicu pompa air untuk
menyemprotkan air dan buzzer untuk memberikan alarm peringatan kebakaran. Penelitian ini
menggunakan HMI (Human Machine Interface) yang berfungsi untuk membantu operator
memonitoring tingkat gas dan suhu di dalam ruangan.
Prototipe sistem keamanan pabrik dari kebakaran dengan penampil HMI telah berhasil
diimplementasikan dan diuji. Di mana sistem dapat berkerja dalam menentukan kondisi
berdasarkan tingkat gas dan suhu di dalam ruangan.

Kata Kunci: Kebakaran, PLC, MAD, Sensor Suhu, Sensor Gas, HMI, Prototipe

viii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACT
Fire is a very rapid oxidation reaction action of combustion materials with the emergence
of sparks / flame. The risk of fire is very harmful and generally difficult to control. The fire
detection sistem in the factory is one of the important aspects in factory. In this study, the sistem
was created to prevent fires, temperature rise, and gas leakage.
This system uses PLC as a data center and MAD as a module that converts analog data into
digital data that will be sent back to the PLC for processing. Fire detection system has 2 pieces as
the input sensor ie temperature sensor and gas sensor. This temperature and gas sensor is used to
detect the occurrence of fire. When both of these sensors detect the fire then these two sensors will
trigger the water pump to spray water and buzzer to provide fire warning alarm. This study uses
HMI (Human Machine Interface) which serves to help operators to monitor gas levels and
temperature in the room.
The prototype of factory security system from fire with HMI viewer has been successfully
implemented and tested. Where the system can work in determining the conditions based on the
level of gas and temperature in the room.

Keywords: Fire, PLC, MAD, Temperature Sensor, Gas Sensor, HMI, Prototype

ix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terimakasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan berkat-Nya, penulis dapat membuat tugas akhir yang berjudul “Prototipe Sistem
Keamanan Pabrik Dari Kebakaran Dengan Penampil HMI Berbasis PLC Omron CPM2A” yang
dapat terselesaikan dengan baik adanya. Selama pembuatan tugas akhir ini, penulis menyadari
adanya begitu banyak pihak yang memberikan bantuan dan dukungan, hingga tugas akhir ini
selesai. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Petrus Setyo Prabowo, S.T., M.T., Selaku Ketua Program Studi Teknik Elektro
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Ir. Theresia Prima Ari Setiyani, M.T. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar
memberikan bimbingan, meluangkan waktu, ide, saran, serta kritik yang membangun penulis
dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
3. Bapak Martanto, M.T., Bapak Djoko Untoro,S.Si., M.T., yang telah memberikan waktu, saran
dan kritik dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
4. Seluruh dosen dan laboran Teknik Elektro yang memberikan ide, saran, dan wawasan kepada
penulis selama perkuliahan.
5. Kedua orangtuaku “Zainal Arifin Susanto dan Sulsan Mareta” serta kakak dan adekku “Fitri
Aprilly dan Dwinardy Saputra” yang selalu senantiasa memberikan bantuan baik secara
tenaga, materi maupun moril.
6. Titis Pahargyan, Yohanes Arsadiak Hutagalung, M.Y Christy yang membantu menghilangkan
rasa jenuh serta mendukung penulis selama perkuliahan.
7. Seluruh teman - teman Teknik Elektro yang membantu dan mendukung penulis selama
perkuliahan.
8. Seluruh teman – teman “JONES” yang membaantu dan mendukung penulis selama
perkuliahan.
9. Riko Amaru, Euis Purbasri, Ise Audina, Mutiara Harmaida, yang selalu memberikan dukungan
kepada penulis.
10. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu atas bantuan, bimbingan, kritik dan
saran.

x
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa penulisan tugas akhir ini masih jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
sangat diharapkan demi perbaikan dan pengembangan tugas akhir ini. Semoga tugas akhir ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak, terima kasih.

Yogyakarta, 11 Juni 2018

Wirahadi Saputra

xi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Daftar Isi

Halaman Sampul (Bahasa Indonesia) .............................................................................................. i


Halaman Sampul (Bahasa Inggris) ................................................................................................. ii
Lembar Persetujuan ....................................................................................................................... iii
Lembar Pengesahan ....................................................................................................................... iv
Pernyataan Keaslian Karya ............................................................................................................. v
Halaman Persembahan Dan Motto Hidup ..................................................................................... vi
Lembar Pernyataan Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah Untuk Kepentingan Akademis ............ vii
Intisari .......................................................................................................................................... viii
Abstract .......................................................................................................................................... ix
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... x
Daftar Isi ....................................................................................................................................... xii
Daftar Gambar .............................................................................................................................. xv
Daftar Tabel ............................................................................................................................... xviii
Daftar Lampiran ........................................................................................................................... xix
BAB I .............................................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan dan manfaat penelitian ......................................................................................... 2
1.3 Pembatasan Masalah ........................................................................................................ 2
1.4 Metodologi Penelitian ...................................................................................................... 3
BAB II ............................................................................................................................................. 4
2.1 Kebakaran......................................................................................................................... 4
2.2 Programmable Logic Controller (PLC) [5] ..................................................................... 6
2.2.1 Bagian–Bagian Programmable Logic Controller ..................................................... 7
2.2.2 Diagram Ladder ...................................................................................................... 10
2.2.3 Instruksi Dasar PLC ................................................................................................ 10
2.3 Human Machine Interface (HMI) .................................................................................. 16
2.4 RS 232 [7] ...................................................................................................................... 17
2.5 Modul Analog Digital: MAD11 ..................................................................................... 18
2.5.1 Pengaturan MAD 11 ............................................................................................... 19

xii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.5.2 Penyambungan MAD (modul analog to digital) ..................................................... 21


2.6 Power Amplifier ............................................................................................................. 22
2.7 Motor DC ....................................................................................................................... 23
2.8 Pengkondisi Sinyal ......................................................................................................... 24
2.8.1 Rangkaian Penguat NON Inverting [8]................................................................... 24
2.9 Sensor Suhu [9] .............................................................................................................. 25
2.10 Sensor MQ7[10] ............................................................................................................. 26
2.11 Pompa air mini DC 12V ................................................................................................. 30
2.12 Buzzer ............................................................................................................................. 30
2.13 Relay[11] ........................................................................................................................ 31
BAB III ......................................................................................................................................... 33
3.1 Diagram Blok ................................................................................................................. 33
3.1.1 Diagram blok proses kerja sistem keamanan pada kebakaran. ............................... 33
3.2 Perancangan Perangkat keras ......................................................................................... 34
3.2.1 Pembuatan ruang miniatur ...................................................................................... 34
3.2.2 Perancangan Wiring pada PLC ............................................................................... 36
3.2.3 Pengkondisi Sinyal pada sensor suhu ..................................................................... 39
3.2.4 Sensor Gas Mq7 ...................................................................................................... 40
3.2.5 Power Amplifier...................................................................................................... 41
3.2.6 Metode Koneksi HMI dan PLC Omron CPM2A ................................................... 42
3.2.7 Metode Pengaturan Format MAD .......................................................................... 42
3.3 Perancangan Perangkat Lunak ....................................................................................... 43
3.3.1 Diagram Alir ........................................................................................................... 43
3.3.2 Perancangan Layout HMI ....................................................................................... 47
BAB IV ......................................................................................................................................... 50
4.1 Perubahan Rancangan .................................................................................................... 50
4.1.1 Rancangan Maket.................................................................................................... 50
4.1.2 Power Amplifier Untuk Penggerak Motor DC ....................................................... 51
4.1.3 Layout HMI ............................................................................................................. 51
4.2 Hasil Prototipe Sistem Keamanan Dari Kebakaran ....................................................... 54
4.3 Hasil Pengamatan Sistem ............................................................................................... 55
4.4 Hasil Pengamatan Data Sub Sistem ............................................................................... 59

xiii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4.4.1 Hasil Pengamatan Sensor Suhu dan Pengkondisi Sinyal ........................................ 59


4.4.2 Hasil Pengamatan Konversi Tegangan Output Sensor ........................................... 63
4.4.3 Hasil Pengamatan Sensor MQ7 .............................................................................. 64
4.4.4 Hasil Pengamatan MAD ......................................................................................... 65
BAB V .......................................................................................................................................... 67
5.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 67
5.2 Saran ............................................................................................................................... 67
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 68

xiv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Daftar Gambar

Gambar 2.1. PLC Omron CPM2 .......................................................................................... 5


Gambar 2.2. Simbol ladder diagram untuk LOAD (LD) ...............................................10
Gambar 2.3. Simbol ladder diagram untuk LOAD NOT ...............................................11
Gambar 2.4. Simbol ladder diagram untuk AND ..........................................................11
Gambar 2.5. Simbol ladder diagram untuk AND NOT .................................................... 11
Gambar 2.6. Simbol ladder diagram untuk OR .............................................................12
Gambar 2.7. Simbol ladder diagram untuk OR NOT ....................................................12
Gambar 2.8. Simbol ladder diagram untuk OUT ...........................................................12
Gambar 2.9. Simbol ladder diagram untuk OUT NOT .................................................... 13
Gambar 2.10. Simbol ladder diagram untuk AND LOAD ...........................................13
Gambar 2.11. Simbol ladder diagram untuk OR LOAD ...............................................13
Gambar 2.12. Simbol ladder diagram untuk DIFU dan DIFD.......................................14
Gambar 2.13. Simbol ladder diagram untuk Timer........................................................... 15
Gambar 2.14. Simbol ladder diagram untuk Counter ....................................................15
Gambar 2.15. Simbol ladder diagram untuk MOVE .....................................................15
Gambar 2.16. HMI NB7W-TW00B tampak depan ........................................................17
Gambar 2.17. HMI NB7W-TW00B tampak belakang ...................................................... 17
Gambar 2.18. RS 232 ......................................................................................................18
Gambar 2.19. Ilustrasi masukan / keluaran pada MAD 11 .............................................19
Gambar 2.20. Format data untuk inisialisasi MAD11 ....................................................21
Gambar 2.21. Bagian MAD11 ............................................................................................. 21
Gambar 2.22. Koneksi antara PLC dan MAD11 ............................................................22
Gambar 2.23. Power Amplifier.......................................................................................23
Gambar 2.24. menunjukkan prinsip kerja dari motor DC ..............................................23
Gambar 2.25. Diagram blok rangkaian pengkondisi sinyal .............................................. 24
Gambar 2.26. Rangkaian penguat non inverting ............................................................24
Gambar 2.27. Konfigurasi pin LM 35 ............................................................................25

xv
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 2.28. Sensor Gas MQ7 ......................................................................................26


Gambar 2.29.Karateristik Sensor ......................................................................................... 28
Gambar 2.30. Grafik PPM CO ........................................................................................29
Gambar 2.31. Pompa Mini DC 12V ...............................................................................30
Gambar 2.32. Buzzer ......................................................................................................31
Gambar 2.33. Relay ........................................................................................................32
Gambar 3.1. Diagram blok proses sistem keamanan terhadap kebakaran ......................33
Gambar 3.2. Desain Luar Ruang miniatur pabrik yang dibuat menggunakan akrilik ...35
Gambar 3.3. Desain kipas exhaust untuk mengontrol suhu yang ada di ruangan ..........36
Gambar 3.4. Desain kipas exhaust untuk mengontrol gas yang ada di ruangan .............36
Gambar 3.5. Desain letak sensor, buzzer , dan sprinkle .................................................36
Gambar 3.6. Konfigurasi Piranti Input dan Ouput .........................................................38
Gambar 3.7. Pengkondisi Sinyal .....................................................................................39
Gambar 3.8. Sensor gas MQ7 dengan modul MAD .......................................................40
Gambar 3.9. Rangkaian Power Amplifier menggunakan op-amp ..................................42
Gambar 3.10. Metode Koneksi RS-232 ..........................................................................42
Gambar 3.11. Diagram alir proses pengambilan keputusan ...........................................44
Gambar 3.12. Diagram alir proses sistem keamanan terhadap kebakaran .....................45
Gambar 3.13. Diagram alir proses sistem keamanan pada saat kedua sensor aktif ........46
Gambar 3.14. Tampilan Awal .........................................................................................48
Gambar 3.15. Tampilan home pada HMI .......................................................................49
Gambar 3.16. Monitoring ...............................................................................................49
Gambar 4.1. Saluran Pembuangan Air ................................................................................ 50
Gambar 4.2. Tampilan Awal HMI ..................................................................................52
Gambar 4.3. Masukan Input HMI ...................................................................................52
Gambar 4.4. Tampilan Petunjuk Kondisi Penggunaan ...................................................53
Gambar 4.5. Tampilan Monitoring Sistem keamanan Pabrik........................................... 53
Gambar 4.6. Bagian Maket Keseluruhan ........................................................................54
Gambar 4.7. Bagian Maket Dari Atas .............................................................................55
Gambar 4.8. Bagian Maket dari Depan ..........................................................................55

xvi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Gambar 4.9. Grafik Suhu Terhadap Tegangan ...............................................................60


Gambar 4.10. Rangkaian pengkondisi sinyal .................................................................61
Gambar 4.11. Sensor suhu dan pengkondisi sinyal ........................................................61
Gambar 4.12. Garfik Input dan Output Tegangan Pengkondisi Sinyal ........................... 63
Gambar 4.13. Program Pengoperasian ADC ..................................................................67-68

xvii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Daftar Tabel

Tabel 2.1. Refrensi kategori indeks standar pencemaran udara ....................................... 5


Tabel 2.2. Spesifikasi masukan MAD 11 .......................................................................19
Tabel 2.3. Spesifikasi keluaran MAD11 .........................................................................19
Tabel 2.4. Alokasi IR pada MAD11 ...............................................................................20
Tabel 2.5. Alokasi channel MAD 11 ................................................................................... 20
Tabel 2.6. Setting range MAD11 ....................................................................................21
Tabel 2.7. Tabel Refrensi percobaan sensor MQ 7 .........................................................28
Tabel 3.1. Piranti Input ...................................................................................................37
Tabel 3.2. Piranti Output....................................................................................................... 37
Tabel 3.3. Alamat piranti Input .......................................................................................38
Tabel 3.4. Alamat piranti Output ....................................................................................38
Tabel 3.5. Tabel Hasil Pengujian Sensor (ADC) ............................................................41
Tabel 3.6. Banyak Kipas yang Aktif ................................................................................... 46
Tabel 3.7. Kriteria Kebakaran.........................................................................................47
Tabel 3.8. Bagian HMI ...................................................................................................47
Tabel 4.1. Pengalamatan Pada HMI ...............................................................................51
Tabel 4.2. Bagian Prototipe ............................................................................................54
Tabel 4.3. Data Pengambilan Keputusan ........................................................................56-58
Tabel 4.4. Hasil Data Keluaran Dari Pengkondisi Sinyal ...............................................59-60
Tabel 4.5. Hasil Data Input Dan Output Pengkondisi Sinyal ........................................... 61-62
Tabel 4.6. Hasil Data Konversi Tegangan Output Sensor ..............................................63-64
Tabel 4.7. Pengujian Sensor Gas ....................................................................................65
Tabel 4.8. Data Hasil Pengujian Sistem Sensor ................................................................. 65
Tabel 4.9. Konversi Input 10 Volt tegangan kedalam hex .............................................66
Tabel 4.10. Konversi Input 5 Volt tegangan kedalam hex ................................................ 66-67

xviii
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Daftar Lampiran

L1. Data Hasil Pengujian Sistem ......................................................................................... L1


L2. Program Sensor Suhu ..................................................................................................... L1
L3. Program Sensor Gas .................................................................................................L2
L4. Program Pengambil Keputusan ................................................................................L3
L5. Program Pindah Frame .............................................................................................L4
L6. Data Sheet Sensor Suhu ................................................................................................. L5
L7. Data Sheet Sensor Gas..............................................................................................L6
L8. Data Sheet MAD 11 .................................................................................................L7

xix
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak hal yang dipertimbangkan dalam keamanan di pabrik, salah satunya adalah
kebakaran. Tentunya risiko kebakaran yang terjadi sangat merugikan dan pada umumnya sulit
untuk dikendalikan. Tingkat kebakaran pabrik di Indonesia, setiap tahunnya terus meningkat.
Faktor penyebab kebakaran ini sendiri sangat banyak yaitu: arus pendek, kelalaian manusia,
overheat pada mesin, dan faktor cuaca [1]. Untuk itu diperlukan penanganan khusus baik dari
segi sumber daya manusianya dan penyediaan sistem proteksi untuk mendeteksi kebakaran,
sehingga kasus kebakaran pabrik di Indonesia dapat ditekan.
Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuat sistem pendeteksi atau alarm
kebakaran seperti yang ditulis di Jurnal Elektro Telekomunikasi terapan oleh Alfalah, dkk, 2009,
dengan judul Alat Pencegah Kebakaran Berbasis Mikrokontroler AT8981 Pada Box Panel
Kontrol Listrik [2]. Penelitian tersebut menggunakan dua macam sensor yaitu sensor suhu dan
sensor LDR (Light Dependent Resistor) dengan keluaran berupa kipas sebagai pemadam api.
Pada penelitian ini masih terdapat kelemahan dalam mendeteksi kebakaran. Saat terjadi
kebakaran, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan parameter. Tidak hanya intensitas cahaya
dan suhu saja, namun juga peningkatan asap gas yang terjadi di dalam ruangan. Ketika
intensitas cahaya meningkat dan suhu terdeteksi, belum tentu terdapat kebakaran, karena hal-
hal tersebut dapat timbul oleh beberapa faktor yang tidak termasuk dalam faktor kebakaran.
Oleh karena itu diperlukan perubahan jenis sensor dimana sensor LDR ini akan digantikan oleh
sensor gas. Hal tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kesalahan pembacaan pada kebakaran,
serta mengubah sistem pemadaman api dengan menggunakan pompa air yang berfungsi sebagai
pendorong air dan kipas yang pada penelitian sebelumnya digunakan untuk memadamkan api
akan digantikan fungsinya sebagai pengontrol suhu di dalam ruangan.
Prototipe yang akan dibuat menggunakan 2 macam sensor yaitu sensor suhu dan gas.
Sensor suhu dan gas ini digunakan untuk mendeteksi terjadinya kebakaran. Ketika kedua sensor
ini menedeteksi kebakaran maka kedua sensor ini akan memicu pompa air untuk
menyemprotkan air dan buzzer untuk memberikan alarm peringatan kebakaran. Prototipe ini

1
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

menggunakan HMI (Human Machine Interface) yang berfungsi untuk memudahkan


operator memantau tingkat gas dan suhu di dalam ruangan serta membantu petugas pemadam
kebakaran melihat ruangan yang terbakar.

1.2 Tujuan dan manfaat penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah menciptakan sebuah prototipe sistem keamanan pabrik
yang dapat mencegah dan mengatasi masalah kebakaran yang dikendalikan oleh sebuah PLC
(Programmable Logic Controller).
Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sistem ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran dan sebagai acuan dalam
penelitian selanjutnya mengenai pengembangan sistem keamanan kebakaran dalam pabrik
menggunakan PLC.
2. Memberikan kemudahan kepada operator untuk mengontrol dan memonitor situasi di
dalam pabrik dengan adanya sistem HMI.

1.3 Pembatasan Masalah


Agar tugas akhir ini bisa mengarah pada tujuan dan untuk menghindari kompleksnya
permasalahan yang muncul, maka diperlukan adanya batasan-batasan masalah yang sesuai
dengan judul tugas akhir ini. Adapun batasan masalah adalah :
1. Menggunakan 1 ruangan maket pabrik yang terbuat dari akrilik.
2. Menggunakan PLC omron CPM2A sebagai pusat pengolah data masukan dari sensor dan
mengirimkannya kepada HMI.
3. Menggunakan HMI untuk monitoring posisi letak kebakaran, monitoring tingkat suhu dan
kebocoran gas di dalam ruangan.
4. Komunikasi PLC ke HMI menggunakan kabel RS232.
5. Menggunakan motor DC yang berfungsi sebagai exhaust yang mengontrol suhu di dalam
ruangan.
6. Menggunakan PC fan yang berfungsi sebagai exhaust yang mengontrol tingkat gas di dalam
ruangan.
7. Menggunakan modul MAD 11 yang mempunyai 2 fungsi yaitu mengubah sinyal analog
menjadi sinyal digital dan mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

8. Menggunakan sensor suhu LM35 yang digunakan untuk mendeteksi suhu yang ada di
dalam ruangan.
9. Menggunakan sensor gas MQ7 untuk mengukur kadar gas CO.
10. Menggunakan buzzer yang berfungsi sebagai alaram peringatan kebakaran.
11. Menggunakan pompa air mini DC 12V sebagai pemompa air yang akan aktif untuk
memadamkan api pada saat sensor membaca kebakaran.

1.4 Metodologi Penelitian


Berdasar pada tujuan yang akan dipacu metode – metode yang digunakan dalam
penyusunan tugas akhir ini adalah:
1. Studi literature, yaitu dengan cara mempelajari dan membaca tentang sensor, motor, PLC,
dan HMI yang akan digunakan dalam pembuatan prototipe ini.
2. Eksperimen, yaitu dengan menguji karakteristik sensor suhu dan sensor gas di lab Teknik
Elektro Universitas Santa Dharma.
3. Merancang bentuk prototipe sistem keamanan pabrik dari kebakaran dengan menggunakan
Google Sketch.
4. Perancangan isi HMI. Tahap ini adalah tahap pembuatan isi dari HMI dengan menggunakan
software HMI. Pembuatan isi HMI ini akan megacu pada batasan-batasan masalah tentang
isi dari HMI.
5. Pembuatan hardware, meliputi pembuatan dan perencanaan tata letak sensor dan motor.
6. Pembuatan software, pembuatan ini bertujuan untuk membuat agar sistem dapat berkerja.
Pembuatan software menggunakan Cx-Programmer.
7. Proses pengambilan data. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengamati sistem
apakah sudah sesuai dengan proses yang diinginkan dan mengambil data kecepatan
perputaran kipas exhaust berdasarkan suhu yang ada di dalam ruangan. Serta mengambil
data berapa banyak jumlah kipas yang akan aktif ketika sensor membaca tingkat senyawa
gas yang ada di dalam ruangan.
8. Analisis dan penyimpulan hasil percobaan. Analisis data dilakukan untuk menentukan
apakah berhasil atau tidaknya penelitian, serta menganalisis keluaran dari sensor gas dan
sensor suhu. Lalu menyimpulkan data yang didapat saat percobaan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB II
DASAR TEORI
Bab ini menjelaskan tentang dasar teori dan penjelasan detail tentang kebakaran serta
peralatan yang akan digunakan untuk membuat prototipe sistem yang dapat mencegah
terjadinya kebakaran di pabrik.

2.1 Kebakaran
Kebakaran adalah suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung secara cepat dari
suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya suatu percikan api / nyala api. Biasanya pada
perumahan terdapat dua faktor yang menyebabkan timbulnya titik api (kebakaran) seperti [3]:
1. Faktor manusia yang meliputi human error, kurang disiplin, dan kurangnya pengawasan
terhadap pabrik.
2. Faktor teknis seperti adanya peningkatan suhu yang menyebabkan panas dan timbulnya api
pada bahan-bahan yang mudah terbakar, penyalahgunan atau penyimpangan penggunaan
bahan- bahan kimia pada saat di dalam pabrik, serta adanya hubungan arus pendek atau
sering disebut konsleting pada instalasi listrik pabrik.

Peristiwa kebakaran biasanya menimbulkan beberapa efek seperti:

1. Asap, yaitu kumpulan partikel zat karbon yang berukuran kecil sebagai hasil dari
pembakaran tak sempurna dan bahan yang mengandung zat karbon.
2. Panas, yaitu suatu bentuk energi dimana pada saat suhu berkisar 300F dapat dikatakan
sebagai temperatur tertinggi dimana manusia dapat bertahan / bernafas hanya dalam waktu
yang singkat yang diakibatkan oleh tubuh kehilangan cairan dan tenaga, luka bakar /
terbakar pada kulit dan pernafasan, mematikan jantung.
3. Nyala api / flame biasa timbul pada proses pembakaran sempurna dan membentuk suatu
cahaya berkilauan.
4. Gas beracun, terdapat beberapa gas beracun yang timbul disebabkan oleh proses
pembakaran antara lain adalah:
1. Karbon Monoksida, gas ini memiliki karakteristik yaitu tidak berbau dan tidak
berasa NAB (Nilai Ambang Batas) 50ppm (Part Per Milion)

4
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2. Sulfur Dioksida (SO2) yaitu gas yang sangat beracun, dan dapat menyebabkan gejala
lambat diri, serta kerusakan pada sistem pernafasan seperti bronchitis.
3. Hidrogen Sulfida (H2S) NAB (Nilai Ambang Batas) 10ppm.
4. Ammonia (MH3) NAB (Nilai Ambang Batas) 25ppm.
5. Hydrogen Sianida (HCN) NAB (Nilai Ambang Batas) 10ppm.
6. Acrolein (C3H4O) NAB (Nilai Ambang Batas) 0,1ppm.
7. Gas hasil pembakaran zat sellulosa seperti kertas, kayu, dan kain mengandung
Karbon Monoksida, formaldehida, asam formiat, asam karboksitat, metilalkohol,
asam asetat, dll.
8. Gas hasil pembakaran karet mengandung Karbon Monoksida, sulfur dioksida, dan
asap tebal.
9. Gas hasil pembakaran scilena mengandung hydrogen sianida, gas ammonia.
10. Gas hasil pembakaran wool mengandung Karbon Monoksida, hydrogen sulfide,
sulfur dioksida, dan hydrogen sianida.
11. Gas hasil pembakaran hasil minyak bumi mengandung Karbon Monoksida, Karbon
dioksida, axcoli dan asap tebal.

Sesuai dengan ISPU (Indeks Standar Pencemaran Udara) Nomor KEP-


107/KABAPEDAL/11/1997 pasal 9 menyatakan bahwa angka dan kategori indeks standar
pencemaran udara untuk gas Karbon Monoksida adalah sebagai berikut seperti tabel 2.1

Tabel 2.1. Refrensi kategori indeks standar pencemaran udara [4]


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.2 Programmable Logic Controller (PLC) [5]


Programmable Logic Controller (PLC) adalah sebuah sistem pengendali yang berisi
fungsi-fungsi logika yang ditulis dalam bentuk diagram ladder. Dalam pelaksanaanya PLC
secara terus menerus memonitor keadaan sistem melalui sinyal arus balik dari peralatan Input.
Logika program merupakan dasar untuk menentukan jalannya kegiatan untuk dibawa ke dalam
peralatan Output. PLC dapat digunakan untuk mengontrol tugas yang sederhana dan berulang,
atau beberapa PLC dapat dihubungkan bersama-sama dengan pengatur yang lain atau komputer
host melalui sejenis jaringan komunikasi dengan tujuan untuk menggabungkan kontrol proses
yang kompleks. PLC banyak digunakan pada aplikasi-aplikasi industri, misalnya pada proses
pengepakan, penanganan bahan, perakitan otomatis dan lain sebagainya. Dengan kata lain,
hampir semua aplikasi yang memerlukan kontrol listrik atau elektronik membutuhkan PLC.
Sistem otomatisasi di dalam PLC digunakan untuk membaca sinyal dari berbagai tipe pendeteksi
otomatis dari peralatan Input maupun Output. Peralatan Input contohnya adalah pushbutton,
keypad, toggle switch, proximity switch, limit switch, level sensor, flow switch dan saklar-saklar
lainnya, sedangkan peralatan Output contohnya adalah motor, selenoid valve, heater, kontaktor,
lampu, buzzer dan lain sebagainya.

Gambar 2.1. PLC Omron CPM2[5]


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.2.1 Bagian–Bagian Programmable Logic Controller


2.2.1.1 Central Processing Unit (CPU)
Central processing unit adalah suatu mikroprosesor yang mengkoordinasi aktivitas-
aktivitas sistem PLC. CPU menjalankan program, memproses sinyal I/O dan
mengkomunikasikannya dengan peralatan eksternal. CPU terdiri dari dua bagian yaitu
prosesor dan memori. Prosesor berfungsi mengoperasikan dan mengkomunikasikan modul-
modul PLC melalui bus-bus serial atau paralel yang ada.

2.2.1.2 Memory
Sistem memori bertujuan untuk menyimpan data-data urutan instruksi ataupun
program yang dapat dieksekusi oleh prosesor sesuai dengan perintah yang telah diberikan
dalam program. Program ladder, nilai timer dan counter disimpan di memori pengguna
tergantung kebutuhan penggunaaanya. Beberapa tipe memori adalah sebagai berikut:
a. Read Only Memory (ROM)
ROM adalah memori tetap yang dapat diprogram sekali. Memori ini paling tidak populer
jika dibandingkan dengan tipe memori yang lain.
b. Random Acces Memory (RAM)
RAM adalah tipe memori yang umum digunakan untuk menyimpan program pengguna
dan data. Data pada RAM akan hilang jika sumber tenaga dipindahkan. Sebagai solusinya,
sumber tenaga dapat digantikan dengan menggunakan baterai.
c. Erasable Programmable Read Only Memory (EPROM)
EPROM, menyimpan data secara permanent seperti ROM. Memori ini tidak
membutuhkan baterai pendukung. Data di dalam EPROM akan terhapus bila terkena sinar
ultraviolet. PROM writer dibutuhkan untuk memprogram ulang memori.
d. Electrically Erasable Programmable Read Only Memory (EEPROM)
EEPROM mengkombinasikan kefleksibilitasan akses dari RAM dan EPROM yang tidak
berubah menjadi satu. Isinya dapat dihapus maupun diprogram secara elektrik, tetapi
mempunyai batas waktu.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2.2.1.3 Struktur Memori pada PLC CPM2A


Terdapat bermacam-macam struktur memori pada PLC CPM2A. Beberapa struktur
memori yang terdapat di dalam PLC CPM2A adalah sebagai berikut:
a. Internal Relay (IR)
Internal relay mempunyai pembagian fungsi seperti IR Input, IR Output, dan IR
work area. Pengolahan data pada program IR Input dan IR Output adalah IR yang
berhubungan dengan terminal Input dan Output pada PLC. IR work area tidak
dihubungkan ke terminal PLC, tetapi terletak pada internal memori PLC dan berfungsi
untuk pengolahan logika program (manipulasi program).
b. Timer / Counter (TC)
Timer digunakan untuk mendefinisikan waktu sistem tunda (time delay) sedangkan
counter digunakan sebagai penghitung. Timer dalam PLC mempunyai orde 100 ms dan
ada juga yang mempunyai orde 10 ms seperti TIMH. TIM 000 s/d TIM 015 dapat
dioperasikan secara interrupt untuk mendapatkan waktu yang lebih presisi.
c. Specific Relay (SR)
Specific Relay adalah Relay yang mempunyai fungsi khusus seperti untuk flags dan
control bits. SR area menyimpan data analog control yaitu pada alamat SR250 dan
SR251.
d. Holding Relay (HR)

Holding Relay berfungsi untuk menyimpan data (bit-bit penting). Data (bit-bit
penting) tidak akan hilang walaupun sumber tegangan PLC telah terputus (OFF).

e. Auxilary Relay (AR)

Auxilary Relay Terdiri dari flags dan bit dengan tujuan khusus. Auxilary Relay dapat
kegagalan sumber tegangan, kondisi special I/O, kondisi I/O unit, kondisi CPU PLC,
kondisi memori PLC dan lain-lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

f. Link Relay (LR)


Link Relay digunakan untuk data link pada PLC link sistem. Link Relay berfungsi
untuk tukar menukar informasi antara dua PLC atau lebih dalam suatu sistem control yang
saling berhubungan.
g. Temporary Relay (TR)
Temporary Relay berfungsi untuk menyimpan sementara kondisi logika program.
Logika program yang dimaksud adalah logika program yang terdapat pada ladder
diagram yang mempunyai titik percabangan khusus.
h. Data Memory (DM)
Data memory berfungsi untuk menyimpan data-data program. Data-data program di
dalam DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC telah OFF. Ada
beberapa macam DM, antara lain :
1. DM read/write: DM ini dapat dihapus dan ditulis oleh program yang dibuat, jadi
sangat berguna untuk manipulasi data program.
2. DM special I/O unit: DM ini berfungsi untuk menyimpan dan mengolah hasil dari
special I/O unit, mengatur dan mendefinisikan sistem kerja special I/O unit.
3. DM history Log: DM ini dapat menyimpan informasi-informasi penting pada saat
PLC terjadi kegagalan sistem operasionalnya.
4. DM Link Test Area: DM ini berfungsi untuk menyimpan informasi-informasi yang
menunjukkan status dari sistem link PLC
5. DM setup: berfungsi untuk setup kondisi default (kondisi kerja saat 5 PLC aktif).
2.2.1.4 Waktu Scan
Scan adalah proses membaca Input, mengeksekusi program dan memperbaharui
Output. Waktu scan adalah proses membaca status Input, mengevaluasi logical control dan
memperbaharui Output secara terus menerus dan berurutan. Spesifikasi waktu scan
menunjukkan seberapa cepat alat kontrol bereaksi terhadap Input dan memecahkan logika
kontrol secara benar. Waktu yang dibutuhkan untuk satu waktu scan bervariasi dari 0.1 ms
sampai 10 ms tergantung kecepatan proses CPU dan panjang program. Memonitor program
kontrol juga menambah waktu overhead dari scan karena CPU pengontrol harus
mengirimkan status kontak ke peralatan monitor lain.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

2.2.2 Diagram Ladder


Pemrograman PLC dengan perangkat lunak CX-programmer menggunakan bentuk
pemrograman diagram ladder. Dalam diagram ladder PLC digunakan simbol dasar berupa
kontaktor. Ada dua simbol dasar untuk kontaktor, yaitu:

a. Normally Open (NO)


Jika logika benar, maka kontak menutup, jika logika salah maka kontak membuka

b. Normally Closed (NC)


Jika logika benar, maka kontak membuka, jika logika salah maka kontak menutup

2.2.3 Instruksi Dasar PLC


Semua instuksi (perintah program) yang ada dibawah merupakan instruksi paling dasar
pada PLC Omron sysmac C-seris. Menurut aturan pemerograman, setiap akhir program harus
ada instruksi dasar END yang oleh PLC dianggap sebagai batas akhir dari program. Instruksi
ini tidak ditampilkan pada tombol operasional programming console, akan tetapi berupa sebuah
fungsi yaitu FUN. Jadi jika kita menegetik FUN (01) pada programming console, maka pada
layar programming console akan tampil END.

1. LOAD
Mempunyai simbol bahas pemrograman LD. Instruksi ini dibutuhkan jika urutan
kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan satu kondisi logic saja
dan sudah dituntut untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti kontak NO relay.
Simbol ladder diagram ditunjukkan pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Simbol ladder diagram untuk LOAD (LD).[5]

2. LOAD NOT
Mempunyai simbol bahasa pemrograman LD NOT. Instruksi ini dibutuhkan jika
urutan kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan satu kondisi logic
saja dan sudah dituntut untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti kontak NC
relay. Simbol Ladder diagram ditunjukkan pada gambar 2.3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

11

Gambar 2.3. Simbol ladder diagram untuk LOAD NOT.[5]

3. AND
Mempunyai simbol bahasa pemrograman AND. Instruksi ini dibutuhkan jika urutan
kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol membutuhkan lebih dari satu kondisi logic
yang harus terpenuhi semuanya untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti
hubungan seri. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Simbol ladder diagram untuk AND.

4. AND NOT
Mempunyai simbol bahasa pemrograman AND NOT. Instruksi ini dibutuhkan jika
urutan kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol membutuhkan lebih dari satu kondisi
logic yang harus terpenuhi semuanya untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti
hubungan paralel. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5. Simbol ladder diagram untuk AND NOT.[5]

5. OR
Mempunyai simbol bahasa pemrograman OR. Instruksi ini dibutuhkan jika urutan
kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan salah satu saja dari
beberapa kondisi logika untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti contact NO
relay. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.6.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

12

Gambar 2.6. Simbol ladder diagram untuk OR.

6. OR NOT
Mempunyai simbol bahasa pemrograman OR NOT. Instruksi ini dibutuhkan jika
urutan kerja (sequence) pada suatu sistem kontrol hanya membutuhkan salah satu saja
dari beberapa kondisi logika untuk mengeluarkan satu Output. Logikanya seperti
hubungan paralel. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7. Simbol ladder diagram untuk OR NOT.[5]

7. OUT
Mempunyai simbol bahasa pemrograman OUT. Instruksi ini berfungsi untuk
mengeluarkan Output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi.
Logikanya seperti hubunga seri. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.8.

Gambar 2.8. Simbol ladder diagram untuk OUT.[5]

8. OUT NOT
Mempunyai simbol bahasa pemrograman OUT. Instruksi ini berfungsi untuk
mengeluarkan Output jika semua kondisi logika ladder diagram sudah terpenuhi.
Logikanya seperti contact NC relay. Simbol ladder diagram ditunjukan pada Gambar 2.9.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

13

Gambar 2.9. Simbol ladder diagram untuk OUT NOT.[5]

9. SET dan RESET


Insturksi SET adalah seperti instruksi OUT, akan tetapi instruksi SET, bit yang
menjadi operandnya akan bersifat latching (memeprtahankan kondisinya). Artinya bitnya
akan tetap dalam kondisi ON walupun kondisi Inputnya sudah kondisi off. Untuk
mengembalikannya ke kondisi off harus digunakan instruksi reset. Instruksi ini hanya
berlaku untuk sytemac C series tipe baru seperti CQM1, C200H, C200HS,
C200HX/HE/HG/CV- series
10. AND LOAD
Mempunyai simbol bahas pemrograman AND LD. Untuk kondisi logika ladder
diagram yang khusus seperti pada gambar 2.10. dibawah ini.

Gambar 2.10. Simbol ladder diagram untuk AND LOAD.[5]

11. OR LOAD
Mempunyai simbol bahas pemrograman OR LD. Untuk kondisi logika ladder
diagram yang khusus seperti pada gambar 2.11. dibawah ini.

Gambar 2.11. Simbol ladder diagram untuk OR LOAD.[5]


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

14

12. Differentiate Up dan Differentiate Down


Mempunyai simbol bahasa pemrograman DIFU untuk instruksi Differentiate Up
dan DIFD untuk Instruksi Differentiate Down. Differentiate Up dan Differentiate Down
berfungsi untuk mendeteksi perubahan Input dari off menjadi ON. 1 scan time adalah
jumlah waktu yang dibutuhkan oleh PLC unuk menjalankan program dimulai dari
alamat 00000 sampai instruksi END. DIFU sifatnya mendeteksi transisi naik dari Input
dan DIFD mendeteksi transisi turun dari Input. Simbol ladder diagram ditunjukan pada
gambar 2.12.

Gambar 2.12. Simbol ladder diagram untuk DIFU dan DIFD

13. Timer dan Counter


Mempunyai simbol bahasa pemrograman TIM untuk instruksi Timer dan CNT
untuk instruksi Counter. Timer atau Counter pada plc berjumlah 512 buah yang
bernomor TC 000 sampai dengan TC 511 tergantung tipe PLC nya jika suatu nomer
sudah dipakai sebagai timer atau counter, maka nomer tersebut tidak boleh dipakai lagi
sebagai timer ataupun sebagai counter. Jadi dalam satu program tidak boleh ada nomor
timer atau counter yang sama. Nilai Timer atau Counter pada PLC bersifat count down
menghitung mundur dari nilai awal yang ditetapkam oleh program. Setelah hitungan
mundur tersebut mencapai angka nol maka contact NO Timer atau Counter akan ON.
Timer mempunyai batas antara 0000 sampai dengan 9999 dalam bentuk BCD dan dalam
orde 100ms. Sedangkan Counter mempunyai orde angka BCD dan mempunyai batas
antara 0000 sampai dengan 9999. Simbol ladder diagram untuk timer ditunjukkan pada
2.13. sedangkan counter dituunjukan pada gambar 2.14.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

15

Gambar 2.13. Simbol ladder diagram untuk Timer.

Gambar 2.14. Simbol ladder diagram untuk Counter.

14. MOVE
Mempunyai simbol bahasa pemrograman MOV. Instruksi MOV berfungsi untuk
memindahkan data channel (16 bit data) dari alamat memori asal ke alamat memori
tujuan atau untuk mengisi suatu alamat memori yang ditunjuk dengan data bilangan
(hexadecimal atau BCD) simbol Leader diagram ditunjukan pada gambar 2.15.

Gambar 2.15. Simbol ladder diagram untuk MOVE


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

16

15. Data Memory (DM)


Data memory berfungsi untuk menyimpan data-data program. Data-data program
di dalam DM tidak akan hilang (reset) walaupun sumber tegangan PLC telah OFF. Ada
beberapa macam DM, antara lain :
1. DM read/write: DM ini dapat dihapus dan ditulis oleh program yang dibuat, jadi
sangat berguna untuk manipulasi data program.
2. DM special I/O unit: DM ini berfungsi untuk menyimpan dan mengolah hasil dari
special I/O unit, mengatur dan mendefinisikan sistem kerja special I/O unit.
3. DM history Log: DM ini dapat menyimpan informasi-informasi penting pada saat
PLC terjadi kegagalan sistem operasiONalnya.
4. DM Link Test Area: DM ini berfungsi untuk menyimpan informasi-informasi yang
menunjukkan status dari sistem link PLC
5. DM setup: berfungsi untuk setup kondisi default (kondisi kerja saat 5 PLC aktif).

2.3 Human Machine Interface (HMI)


Human Machine Interface (HMI) adalah unit kontrol terpusat untuk fasilitas manufaktur
yang dilengkapi dengan penerima data, event logging, video feed, dan pemicu. HMI dapat
digunakan untuk mengakses sistem setiap saat untuk berbagai tujuan, misalnya untuk
menampilkan kesalahan mesin, menampilkan status proses, menampilkan jumlah produk, suhu
ruangan dan tempat dimana operator melakukan pengendalian mesin. Penggunaan HMI
memiliki beberapa keuntungan, misalnya penggunaan kode warna sehingga memudahkan
identifikasi, penggunaan ikon atau gambar sehingga mudah dikenali, dan layar yang dapat
dirubah – rubah sehingga memungkinkan untuk pembuatan level akses masuk ke sistem. Pada
sistem manufaktur HMI harus bekerja secara terintegrasi dengan Programmable Logic
Controller (PLC). PLC akan mengambil informasi dari sensor, dan mengubahnya ke aljabar
Boolean [6].
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

17

Gambar 2.16. HMI NB7W-TW00B tampak depan [6]

Gambar 2.17. HMI NB7W-TW00B tampak belakang [6]

2.4 RS 232 [7]

RS-232 adalah standar komunikasi serial yang didefinisikan


sebagai antarmuka antara perangkat terminal data (data terminal equipment atau DTE)
dan perangkat komunikasi data (data communications equipment atau DCE) menggunakan
pertukaran data biner secara serial. Di dalam definisi tersebut, DTE adalah
perangkat komputer dan DCE sebagai modem walaupun pada kenyataannya tidak semua
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

18

produk antarmuka adalah DCE yang sesungguhnya. Komunikasi RS-232 diperkenalkan


pada 1962 dan pada tahun 1997, Electronic Industries Association mempublikasikan tiga
modifikasi pada standar RS-232 dan menamainya menjadi EIA-232.

Standar RS-232 mendefinisikan kecepatan 256 kbps atau lebih rendah dengan jarak
kurang dari 15 meter, namun belakangan ini sering ditemukan jalur kecepatan tinggi
pada komputer pribadi dan dengan kabel berkualitas tinggi, jarak maksimum juga ditingkatkan
secara signifikan. Dengan susunan pin khusus yang disebut null modem cable, standar RS-232
dapat juga digunakan untuk komunikasi data antara dua komputer secara langsung.

Gambar 2.18. RS 232

2.5 Modul Analog Digital: MAD11


Modul analog digital mempunyai dua fungsi, yaitu mengubah sinyal analog menjadi
sinyal digital dan mengubah sinyal digital menjadi sinyal analog. Dalam MAD11 terdapat 4
masukan analog, masing-masing dua masukan arus dan dua masukan tegangan, kemudian juga
terdapat dua keluaran analog, yaitu tegangan dan arus. Data masukan 16 bit yang dihubungkan
dengan PLC dapat diatur sebagai masukan atau keluaran, tergantung apakah MAD11
difungsikan sebagai pengubah analog ke digital atau sebaliknya. Gambar 2.19. memperlihatkan
ilustrasi masukan / keluaran pada MAD 11
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

19

Ke PLC
Vin1

Iin1
Data
Vin2 masukan/kelua

Iin2

Vout Iout

Gambar 2.19. Ilustrasi masukan / keluaran pada MAD 11

2.5.1 Pengaturan MAD 11


Tabel 2.2. Spesifikasi masukan MAD 11

Tabel 2.3. Spesifikasi keluaran MAD11


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

Setelah diketahui spesifikasi masukan atau keluaran juga hal-hal yang berkaitan dengan
instalasi, perlu juga mengetahui alokasi bit Internal Relay (IR). Tabel 2.4. memperlihatkan
alokasi Internal Relay (IR) pada MAD11.

Tabel 2.4. Alokasi IR pada MAD11


15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0
s/b x x X x x x x d d d d d d d d

Bit 0 s/d 7 : bit data

Bit 8 s/d 14 : bit tidak digunakan

Bit 15 s : sign bit jika 0 tegangan keluaran positif, kalau 1 keluaran negatif.

B : broken wire bit jika 0 tidak ada kerusakan, kalau 1 ada kerusakan.

Untuk dapat membaca tegangan masukan, maka pada MAD11 perlu diketahui alokasi
channel yang akan digunakan. Set Analog Destination atau Alokasi channel MAD01 yang
diberikan tergantung dengan jumlah I/O pada PLC yang digunakan, seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Alokasi channel MAD 11


CPU PLC Channel Out
Channel In0 pd MAD11 Channel In1 pd MAD11
(jml I/O) MAD 11

10CDx 11 1 2
20CDx 11 1 2
30CDx 12 2 3
40CDx 12 2 3

Langkah selanjutnya menempatkan MAD 11 tersebut pada range yang dikehendaki.


Setting range diberikan saat inisialisasi MAD 11. Setting range MAD 11 ditunjukkan pada
Tabel 2.6.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

Tabel 2.6. Setting range MAD11 .

Gambar 2.20. Format data untuk inisialisasi MAD11

2.5.2 Penyambungan MAD (modul analog to digital)


Data masukan atau keluaran MAD11 adalah 16 bit yang dihubungkan dengan PLC
dan dapat diatur sebagai masukan atau keluaran, tergantung apakah MAD11 difungsikan
sebagai pengubah analog ke digital atau sebaliknya. Gambar 2.21. memperlihatkan bagian-
bagian MAD11.

Gambar 2.21. Bagian MAD11

Pada modul MAD 11 seperti gambar 2.21. terdapat expansion I/O connecting cabel yang akan
disambungkan ke expansion conector yang ada pada PLC. Seperti gambar 2.22. Expansion I/O
conecting cabel berfungsi sebagai sarana untuk mengirim data dari modul MAD ke PLC
CPM2A untuk diolah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

Gambar 2.22. Koneksi antara PLC dan MAD11

2.6 Power Amplifier


Power Amplifier atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan Penguat Daya adalah
sebuah rangkaian elektronika yang berfungsi untuk memperkuat atau memperbesar sinyal
masukan. Di dalam bidang Audio, Power Amplifier akan menguatkan sinyal suara yang
berbentuk analog dari sumber suara (Input) menjadi sinyal suara yang lebih besar (Output).
Sumber sinyal suara yang dimaksud tersebut dapat berasal dari alat-alat Tranduser seperti
Mikrofon yang dapat mengkonversikan energi suara menjadi sinyal listrik ataupun Optical
Pickup CD yang mengkonversikan getaran mekanik menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik yang
berbentuk sinyal AC tersebut kemudian diperkuat arus (I) dan tegangannya (V) sehingga
menjadi Output yang lebih besar. Besaran penguatannya ini sering disebut dengan istilah gain.
Sinyal listrik yang dihasilkan oleh tranduser Input umumnya sangat kecil yaitu sekitar beberapa
milivolt atau bahkan hanya beberapa microvolt. Oleh karena itu, sinyal listrik tersebut harus
diperkuat agar dapat menggerakan atau mengoperasikan perangkat tranduser Output seperti
Speaker (atau perangkat-perangkat Output lainnya). Pada penguat sinyal kecil (Small Signal
Amplifier), faktor utama adalah penguatan linearitas dan memperbesar gain. Karena Tegangan
sinyal dan Arus yang kecil, jumlah kapasitas penanganan daya efisiensi daya menjadi penting
untuk diperhatikan.Sedangkan Penguat Daya (Power Amplifier) atau Penguat Sinyal Besar
adalah jenis penguat yang memberikan daya yang cukup untuk dapat menggerakan Speaker atau
perangkat listrik lainnya. Umumnya, daya yang dihasilkan adalah beberapa watt hingga puluhan
watt dan bahkan hingga ratusan watt. Selain faktor penguatan yang disebut dengan Gain ini,
Suatu istilah yang sering kita temukan pada Power amplifier adalah tingkat fidelitas (Fidelity).
Sebuah Amplifier atau Penguat Daya dikatakan memiliki fidelitas tinggi (High Fidelity) apabila
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

23

menghasilkan sinyal keluaran (Output) yang bentuknya persis sama dengan sinyal masukan
(Input). Perbedaannya hanya pada tingkat penguatan pada amplitudo atau tegangannya saja.

Gambar 2.23. Power Amplifier

2.7 Motor DC
Motor DC atau motor arus searah adalah suatu alat yang berfungsi mengubah tenaga
listrik arus searah menjadi tenaga gerak atau tenaga mekanik. Prinsip kerja dari motor DC
hampir sama dengan generator AC. Prinsip dasarnya adalah apabila suatu kawat berarus
diletakkan diantara kutub-kutub magnet (U-S), maka pada kawat itu akan bekerja suatu gaya
yang menggerakkan kawat . Gambar 2.24. menunjukkan prinsip kerja dari motor DC.

Gambar 2.24. menunjukkan prinsip kerja dari motor DC.


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

24

2.8 Pengkondisi Sinyal


Rangkaian pengkondisi sinyal digunakan untuk memperoleh tegangan refrensi yang
disesuaikan dengan karakteristik ADC (CPM2A-MAD11). Rangkaian pengkondisi sinyal
merupakan suatu rangkaian penguat non inverting. Diagram blok dari rangkaian pengkondisi
sinyal dapat dilihat pada gambar 2.25.

Gambar 2.25. Diagram blok rangkaian pengkondisi sinyal


Input rangkaian penguat non inverting berasal dari Output sensor LM 35. Output yang
dihasilkan dari rangkaian penguat non inverting akan diumpamakan kebagian ADC (CPM2A-
MAD11). Bagian ADC (CPM2A-MAD11) berfungsi untuk mengubah data analog menjadi data
digital.

2.8.1 Rangkaian Penguat NON Inverting [8]


Rangkaian penguat non inverting berupa rangkaian Op-Amp. Skematik dari rangkaian
Op-Amp ditunjukan pada gambar 2.26.

Gambar 2.26. Rangkaian penguat non inverting[8]


Besarnya penguatan (Av) dari rangkaian penguat non inverting ditentukan oleh
perbandingan tegangan Output (V0) dengan tegangan Input (Vi). Persamaan penguatan (Av)
dari rangkaian penguat Non inverting adalah sebagai berikut :
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

25

(2.1)

2.9 Sensor Suhu [9]


Sensor suhu (LM35) adalah jenis sensor suhu yang presisi terhadap temperatur dengan
tegangan Output adalah linier poporsional terhadap derajat Celcius. Fitur-fitur yang terdapat
dalam sensor suhu LM 35 adalah sebagai berikut :

1. Beroperasi pada derajat Celsius


2. Skala kenaikan linier +10.0 mV/°C
3. Ketepatan 0.5 °C (pada +25°C)
4. Bekerja pada −55 °C sampai +150 °C
5. Bekerja mulai tegangan 4 sampai 30 volts
6. Penggunaan arus yang kurang dari 60 μA
7. Pemanasan diri yang rendah pada udara bebas yaitu 0.08 °C
8. Keluaran impedansi yang rendah 0.1 W untuk beban 1 mA

Gambar 2.27. Konfigurasi pin LM 35[9]


Konfigurasi sensor suhu LM 35 dapat dilihat pada gambar 2.27. sensor LM 35 berbentuk
seperti transistor hitam kecil berkaki tiga. Masing – masing kaki memiliki fungsi sebagai berikut
[9]:

1. Kaki paling kiri adalah kaki untuk memberi masukan atau VCC. Tegangan VCC
mempunyai jangkauan antara 4V s/d 30V.
2. Kaki bagian tengah adalah kaki Output yaitu berupa keluaran tegangan antara 0V s/d
1.5V. Keluaran tegangan ini berbanding lurus atau linier dengan perubahan suhu
dengan range +2 ºC s/d 150 ºC.
3. Kaki paling kanan adalah kaki untuk ground.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

26

2.10 Sensor MQ7[10]


Sensor MQ-7 merupakan sensor gas Karbon Monoksida (CO) yang berfungsi untuk
mengetahui konsentrasi gas Karbon Monoksida (CO). Dimana sensor ini salah satunya dipakai
dalam memantau gas Karbon Monoksida (CO).Sensor ini memiliki sensitivitas tinggi dan waktu
respon yang cepat. Keluaran yang dihasilkan oleh sensor ini berupa sinyal analog. Sensor ini
juga membutuhkan tegangan direct current (DC) sebesar 5V. Pada sensor ini terdapat nilai
resistansi sensor (Rs) yang dapat berubah bila terkena gas dan juga sebuah pemanas yang
digunakan sebagai pembersihan ruangan sensor dari kontaminasi udara luar. Sensor ini
memerlukan rangkaian sederhana serta memerlukan tegangan pemanas (power heater) sebesar
5V, resistansi beban (load resistance), dan Output sensor dihubungkan ke analog to digital
cONverter (ADC), sehingga keluaran dapat ditampilkan dalam bentuk sinyal digital.

Gambar 2.28. Sensor Gas MQ7[10]


Karakteristik Sensitivitas :
1. Rs/ Tahanan Permukaan Terhadap Tubuh = 2-20k pada 100ppm Carbon
Monoxide(CO)
2. a(300/100ppm)/ Tingkat Konsentrasi Kemiringan = Kurang dari 0.5 Rs
(300ppm)/Rs(100ppm)
3. Standar Kondisi Bekerja = Temperature -20℃±2℃ Kelembapan 65%±5% ,
RL:10KΩ±5%, Vc:5V±0.1V VH:5V±0.1V, VH:1.4V±0.1V
4. Waktu Panaskan Tidak kurang dari 48 jam
5. Jangkauan Deteksi: 20ppm-2000ppm carbon monoxide

Kondisi standart sensor bekerja:


1. VC/(Tegangan Rangkaian) = 5V±0.1
2. VH (H)/ Tegangan Pemanas (Tinggi) = 5V±0.1
3. VH (L)/ Tegangan Pemanas (Rendah) = 1.4V±0.1
4. RL/Resistansi Beban Dapat disesuaikan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

27

5. RH Resistansi Pemanas = 33Ω±5%


6. TH (H) Waktu Pemanasan (Tinggi) = 60±1 secONds
7. TH (L) Waktu Pemanasan (Rendah) = 90±1 secONds
8. PH KONsumsi Pemanasan = Sekitar 350mW

Kalibrasis Sensor MQ7 :

Salah satu sensor yang sering digunakan dalam proyek-proyek elektronika adalah sensor gas
MQ7. Mengkalibrasi sensor gas MQ7 berguna agar dapat melakukan pengukuran konsentrasi
gas dalam satuan ppm (part per milion). Jika kita melakukan analisa terhadap gambar 2.29,
maka terlihat bahwa rasio resistansi sensor gas MQ-7 (Rs/Ro) akan bernilai ≈ 1 pada saat
konsentrasi gas CO ≈ 100 ppm. Artinya adalah pada saat konsentrasi gas CO ≈ 100 ppm maka
nilai Rs = Ro. Hal ini dapat dibuktikan dengan persamaan berikut:

100 ppm CO = Rs/Ro=1 (2.2)

Rs 100 ppm CO = Ro (2.3)

Informasi inilah yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan nilai Ro, karena nilai Ro secara
definitif tidak dijelaskan pada lembar data sensor [12].

Pada dasarnya nilai konsentrasi gas CO dalam satuan ppm dapat diketahui dengan cara
mengambil beberapa data Rs (resistansi sensor MQ-7 pada tingkatan konsentrasi gas yang
berbeda-beda) dan kemudian dicari model matematisnya (persamaan garis) terhadap setiap
perubahan konsentrasi gas CO. Nilai pembacaan Rs yang dibaca oleh mikrokontroler dalam
bentuk ADC kemudian diolah untuk mendapatkan nilai dari Vout, Rs dan Rs/Ro seperti
persamaan 2.4 dan 2.5. Rs / Ro yang telah didapat ini yang akan dikonversikan kedalam PPM
melalui rumus konversi seperti persamaan 2.6

Vout = (RL/Rs +RL) . Vcc (2.4)

Rs = (Vcc.RL/Vout) – RL (2.5)

PPM = (X / (Rs/Ro) )Z (2.6)


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

28

Gambar 2.29. Karateristik Sensor

Gambar 2.29. Menunjukkan karakteristik sensitivitas tipikal dari MQ-7 untuk beberapa gas :

1. Suhu: 20℃, Kelembaban: 65%, O2 konsentrasi 21%


2. RL = 10kΩ
3. Ro: resistansi sensor pada 100ppm udara bersih
4. Rs: resistansi sensor pada berbagai konsentrasi gas

Tabel 2.7 Tabel Refrensi percobaan sensor MQ 7


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

29

Pada Tabel 2.7 dapat dilihat bahwa nilai Rs pada saat konsentrasi gas CO 100 ppm adalah
sebesar 6.89 kΩ. Sesuai dengan persamaan 2.3. maka nilai Ro secara definitif dapat langsung
diketahui, yaitu sebesar 6.89 kΩ. Selanjutnya hubungan antara ppm CO dan Rs/Ro dituangkan
ke dalam bentuk grafik untuk kemudian dicari persamaan atau model matematisnya. Untuk
memudahkan plotting data ke dalam grafik serta mencari persamaan tersebut maka digunakan
perangkat lunak MS.Excel. Seperti gambar 2.30.

Gambar 2.30. Grafik PPM CO

nilai dari Rs / Ro ini yang akan dikonversikan kedalam PPM melalui rumus konversi yang
didapat dari grafik yaitu y = 38.028 x -0.796 berikut penjelasan dari rumus konversi menjadi PPM.

Y = 38.028 X -0.796
Y = 38.028 / X -0.796
X 0.796 = 38.028 / Y
X 0.796 = (38.028 / Y) 1
X 0.796 / 0.796 = (38.028 / Y) 1/ 0.796
X = (38.028 / Y) 1.256 (2.7)
Dari proses konversi diatas didapatlah rumus untuk mengubah nilai tegangan yang telah dirubah
kedalam Rs dan Ro menjadi PPM dengan rumus seperti persaman 2.6.
PPM = (X / (Rs/Ro) )Z
PPM = ((38.028 / (Rs/Ro)) 1.256 (2.8)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

30

2.11 Pompa air mini DC 12V


Pompa air berfungsi sebagai pemompa air dari tempat asal ketempat lain. Kebanyakan
pompa air menggunakan sumber tegangan AC 220V sebagai masukannya. Namun pada
pembuatan prototipe ini menggunakan pompa air mini DC 12V sebagai pemompa air.
Spesifikasi pompa :

1. Sumber tenaga : aki 12 volt atau adaptor DC 12 volt ( arus 2,1 amper )
2. Daya hisap/ sedot : 1,6 liter per menit
3. Tekanan sembur air : 5 bar
4. Ukuran selang : material pembungkus : plastik dan karet

Gambar 2.31. Pompa Mini DC 12V

2.12 Buzzer
Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk mengubah getaran
listrik menjadi getaran suara. Pada dasarnya prinsip kerja buzzer hampir sama dengan loud
speaker, jadi buzzer juga terdiri dari kumparan yang terpasang pada diafragma dan kemudian
kumparan tersebut dialiri arus sehingga menjadi elektromagnet, kumparan tadi akan tertarik ke
dalam atau keluar, tergantung dari arah arus dan polaritas magnetnya, karena kumparan
dipasang pada diafragma maka setiap gerakan kumparan akan menggerakkan diafragma secara
bolak-balik sehingga membuat udara bergetar yang akan menghasilkan suara. Buzzer biasa
digunakan sebagai indikator bahwa proses telah selesai atau terjadi suatu kesalahan pada sebuah
alat (alarm).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

31

Gambar 2.32. Buzzer

2.13 Relay[11]
Relay adalah suatu piranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik untuk
menggerakan sejumlah kontaktor yang tersusun atau sebuah saklar elektronis yang dapat
dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya dengan memanfaatkan tenaga listrik sebagai
sumber energinya. Kontaktor akan tertutup (menyala) atau terbuka (mati) karena efek induksi
magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika dialiri arus listrik. Berbeda dengan saklar,
pergerakan kontaktor (ON atau off) dilakukan manual tanpa perlu arus listrik.

Relay yang paling sederhana ialah relay elektromekanis yang memberikan pergerakan
mekanis saat mendapatkan energi listrik. Secara sederhana relay elektromekanis ini
didefinisikan sebagai berikut:

1. Alat yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk menutup atau membuka kontak
saklar.
2. Saklar yang digerakkan secara mekanis oleh daya atau energi listrik.

Sebagai komponen elektronika, relay mempunyai peran penting dalam sebuah sistem
rangkaian elektronika dan rangkaian listrik untuk menggerakan sebuah perangkat yang
memerlukan arus besar tanpa terhubung langsung dengan perangakat pengendali yang
mempunyai arus kecil. Dengan demikian relay dapat berfungsi sebagai pengaman.

Relay terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:

1. Common, merupakan bagian yang tersambung dengan Normally Closed (dalam


keadaan normal).
2. Koil (kumparan), merupakan komponen utama relay yang digunakan untuk
menciptakan medan magnet.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

32

3. Kontak, yang terdiri dari Normally Closed dan Normally Open.

Gambar 2.33. Relay[11]


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB III
PERANCANGAN
3.1 Diagram Blok
3.1.1 Diagram blok proses kerja sistem keamanan pada kebakaran.
Diagram blok proses kerja sistem keamanan pada kebakaran akan dibahas pada sub-bab
ini. Perancangan proses sistem keamanan pada kebakaran dipabrik berbasis PLC OMRON
CPM2A dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Diagram blok proses sistem keamanan terhadap kebakaran

Bagian Input yang diatur oleh PLC OMRON CPM2A meliputi sensor pendeteksi suhu
dan pendeteksi CO, yaitu sensor LM35, serta sensor MQ7 yang dapat mendeteksi gas CO.
Output dari sesor suhu dan sensor CO diumpankan ke rangkaian pengkondisi sinyal. Rangkaian
pengkondisi sinyal dibutuhkan untuk menguatkan tegangan Output dari sensor agar diperoleh
tegangan refrensi yang sesuai pada bagian modul MAD. Bagian modul MAD merupakan bagian
pengkonversi data analog menjadi data digital (ADC).

33
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

34

Bagian Output yang dikendalikan oleh PLC CPM 2A meliputi pompa air DC 12V, Motor
DC 12 V yang berfungsi sebagai exhaust untuk mengontrol suhu, PC FAN yang berfungsi untuk
mengontrol tingkat gas yang ada di dalam ruangan, serta buzzer yang akan aktif ketika bahaya
kebakaran terjadi. Diagram blok pada gambar 3.1. masih terbagi menjadi dua tahapan
perancangan, yaitu perancangan perangkat keras dan perancangan perangkat lunak.
Perancangan perangkat keras berisi tentang perkiraan bentuk serta ukuran dari alat yang akan
dirancang, pemilihan komponen- komponen yang disesuaikan dengan kebutuhan alat tersebut,
pengkabelan serta penentuan alamat-alamat Input – Output dari alat ke PLC CPM2A.
Perancangan perangkat lunak berisi tentang pengaturan algoritma dari alat yang akan dibuat.
Algoritma dari alat yang akan dibuat disajikan dalam bentuk diagram alir (flowchart). Diagram
alir bertujuan untuk mempermudah pembuatan program ladder karena diagram alir ini berisi
tentang urutan- urutan proses dari alat yang akan dirancang. Bagian akhir perancangan ini
adalah penentuan alamat – alamat penyimpanan komponen Input – Output dari alat ke PLC
CPM2A.

3.2 Perancangan Perangkat keras


Pada perancangan perangkat keras ini terdiri dari beberapa tahapan karena perangkat
keras itu sendiri juga terdiri dari beberapa bagian. Tahap pertama adalah pembuatan miniatur
ruang sebagai objek pengukuran suhu dan tingkat gas di dalam miniatur ruangan pabrik,
perancangan tata letak motor DC dan buzzer, perancangan tata letak HMI, perancangan tata
letak PLC, juga instalasi jaringan listrik dan wiring. Sehingga perlu dibahas satu persatu.
Selain tahap - tahap yang telah disebut diatas hal lain yang perlu diketahui ialah
hambatan atau kendala yang dihadapi saat melakukan perancangan atau pembuatan perangkat
keras ini.

3.2.1 Pembuatan ruang miniatur


Ruang miniatur ini adalah sebagai obyek pengukuran suhu dan tingkat asap di dalam
ruangan yang menyerupai kondisi ruangan sebenarnya, seperti gambar 3.2. Hal- hal yang perlu
diperhatikan dalam pembuatan ruang miniatur ini antara lain:

1. Suhu dalam ruangan miniatur tidak boleh terpengaruh suhu luar ruangan. Dalam hal ini
tidak mungkin ideal terwujud, karena faktor suhu dari luar ruangan akan mempengaruhi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

35

kerja sensor sendiri dalam membaca. Namun untuk mencegah itu maka akan dibuat
dinding yang tersekat udara sehingga terjadi hambatan suhu antara di dalam ruangan dan
luar ruangan miniatur. Pada lantai dan sekat antara sudut dinding akan diberi alumunium
foil sehingga dapat memperkecil pengaruh suhu dari luar ruangan.
2. Ruang dalam miniatur dibuat susunan lampu untuk mengatur suhu di dalam ruangan
3. Sampling suhu ruangan. Hal ini berkaitan dengan tata letak sensor, diusahakan sensor
diletakan pada tempat yang strategis.
4. Dinding miniatur terbuat dari akrilik berwarna bening sehingga ruang miniatur dapat
diamati dari luar.

Gambar 3.2. Desain Luar Ruang miniatur pabrik yang dibuat menggunakan akrilik

Desain pada ruang miniatur ini menyerupai bentuk asli pabrik dengan ukuran 50 CM x
30 CM dan tinggi 40 CM untuk satu ruangan. Ruang miniatur dibuat menggunakan bahan akrilik
bening. Dengan tujuan memudahkan untuk melihat kedalam ruangan, selain itu bahan akrilik
juga tahan terhadap air. Motor dc yang berfungsi sebagai exhaust yang digunakan unutk
mengontrol suhu akan ditempatkan sesuai gambar 3.3. sedangkan kipas komputer yang
digunakan sebagai exhaust untuk mengontrol tingkat gas yang ada di dalam ruangan akan
ditempatkan didinding sebelah kanan dan kiri seperti gambar 3.4.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

36

Gambar 3.3. Desain kipas exhaust untuk mengontrol suhu yang ada di ruangan

Gambar 3.4. Desain kipas exhaust untuk mengontrol gas yang ada di ruangan
Pada bagian dalam pabrik akan diletakan sensor lm 35, sensor Mq 7, dan buzzer pada bagian
dinding seperti gambar 3.5. sedangkan untuk sprinkle akan diletakan di bagian atas atap.

Gambar 3.5. Desain letak sensor, buzzer , dan sprinkle

3.2.2 Perancangan Wiring pada PLC


Sebelum pemrogramaan dilakukan hal terpenting yang dilakukan adalah pengalamatan
dan merancang alamat mana yang akan dipakai PLC. Serta penentuan piranti Input dan Output
yang ditampilkan pada tabel 3.1. dan 3.2.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

37

Tabel 3.1. Piranti Input


Piranti Input
Sensor LM35
Sensor MQ7

Pada tabel 3.1. berisi piranti Input yang terdiri dari sensor suhu dan gas yang berfungsi
sebagai masukan.
Tabel 3.2. Piranti Output
Piranti Output
Motor DC 12V
PC FAN
Pompa Air Mini DC12V
Buzzer
HMI
Pada tabel 3.2. berisi piranti Output yang terdiri dari Motor DC 12V yang berfungsi
sebagai pengatur suhu ruangan, ada juga PC Fan yang berfungsi sebagai pengatur tingkat gas
pada ruangan, sedangkan pompa air dan buzzer berfungsi sebagai pemadam api serta pemberi
peringatan. Untuk HMI berfungsi sebagai penampil.
Untuk alamat yang dipersiapkan meliputi Input PLC dan Output PLC. PLC yang
digunakan adalah CPM2A-30CDR-A dengan 18 Input dan 12 Output. Input yang digunakan
mempunyai alamat 0.00-0.11 dan 1.00-1.07 sedangkan Output yang digunakan adalah 10.00-
10.07 dan 11.00-11.03. Alamat piranti Input dan Output yang digunakan sebagai berikut yang
ditampilkan pada tabel 3.3 dan tabel 3.4 . untuk konfigurasi piranti Input dan Output ditampilkan
pada gambar 3.6.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

38

Tabel 3.3. Alamat piranti Input


INPUT
No. Nama Alamat Keterangan
1 Tombol Start 0.00 IN PLC CPM2A
2 Tombol Stop 0.01
3 Tombol Reset 0.02
4 Sensor LM 35 2 MAD11
5 Sensor MQ7 3 (Tabel 2.5)

Tabel 3.4. Alamat piranti Output


OUTPUT
No. Nama Alamat Keterangan
1 PC FAN 1 10.00
2 PC FAN 2 10.01 OUT PLC
3
4
PC FAN 3
PC FAN 4
10.02
10.03
CPM2A
5 Pompa Air mini 10.04
DC 12V
6 Buzzer 10.05
7 Kipas Suhu 12 Out MAD 11

Gambar 3.6. konfigurasi Piranti Input dan Ouput


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

39

3.2.3 Pengkondisi Sinyal pada sensor suhu


Seperti yang tercantum dibatasan masalah, sensor suhu menggunakan lm 35. lm 35 ini
akan dihubungkan dengan rangkaian pengkondisi sinyal non-inverting yang kemudian Output
dari rangkaian tersebut dihubungkan ke modul MAD sebagai Input dan parameter suhu. LM35
memiliki pengukuran serta Output yang bersifat analog yang dapat membaca rentang suhu dari
-55˚C sampai 150˚C dengan interval 10mV/˚C. untuk pembacaan dihubungkan dengan
rangkaian pengkondisi sinyal agar didapatkan Output yang cukup unuk pembacaan pin analog
pada modul MAD. Proses pengukuran suhu menggunakan LM35 dengan rentang suhu yang
dibutuhkan adalah 25˚C sampai 75˚C dengan interval kenaikan 10mV/˚C. sehingga untuk suhu
25˚C tegangan yang dihasilkan adalah 250mV dan untuk suhu 75˚C tegangan yang dihasilkan
adalah 750mV. Sedangkan Input analog MAD dapat membaca tegangan dari 0V sampai 10V.
oleh karena itu dibutuhkan penguatan tegangan sebesar 10x. diketahui bahwa nilai vout dan vin
linier sehingga dapat digunakan rangkaian amplifier seperti gambar 3.7.

Gambar 3.7. Pengkondisi sinyal

Supaya didapatkan penguatan 10 kali maka dibutuhkan rangkaian non inverting seperti pada
gambar 3.6. Pada rangkaian pengkondisi sinyal ini terdapat dua buah resistor R1 dan R2. R1
ditetapkan 1k sehingga didapatkan R2 = 9k dari persamaan 3.1.

AV = (R2/R1) + 1

10 = (R2/1k) + 1

R2 = 9k (3.1)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

40

3.2.4 Sensor Gas Mq7


Gambar 3.8. memperlihatkan modul sensor gas menggunakan MQ-7 dikarenakan
sensor MQ-7 memiliki sensitifitas yang lebih terhadapt gas CO dan gas- gas lain yang dapat
memicu kebakaran.

Gambar 3.8. Sensor gas MQ-7 dengan modul MAD

Modul MQ7 ini memiliki 4 pin yaitu VCC, GND, D0, dan A0. Keluaran sensor MQ7 ini
dihubungkan pada pin analog pada MAD. Seperti yang diketahui sensor MQ7 memiliki 4 pin
yaitu VCC MQ7 yang dihubungkan dengan catu daya sebagai supply dan GND yang
dihubungkan dengan COM pada modul MAD sebagai grounding, serta pin A0 pada sensor
MQ7 dihubungkan pada Channel In1. MQ7 memiliki voltase heater (VH), ketika keadaan high
dapat mencapai 5 volt, dan keadaan low bernilai 1,5 vollt. Untuk proses pendeteksian kebakaran
sensor gas ini adalah sensor MQ7 yang jika mendeteksi adanya gas maka ouput sinyal listrik
dari MQ7 akan diubah menjadi skala perhitungan Rs/Ro, dimana Rs adalah resistansi sensor
terhadap suhu dan kelembaban, serta Ro adalah nilai hambatan yang dihasilkan oleh sensor.
Skala Rs/Ro dapat diketahui kadar gas yang terdeteksi. Ketika kadar gas bernilai tinggi maka
akan dilanjutkan proses selanjutnya yaitu membandingkan Output dari sensor lain, jika sensor
lainnya juga mendeteksi adanya sifat kebakaran sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan
maka PLC akan memerintahkan untuk mengaktifkan pompa air. Beberapa percobaan telah
dilakukan sehingga berdasarkan refrensi didapatkan kesimpulan nilai hasil pengujian sensor
seperti Tabel 3.5.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

41

Tabel 3.5. Tabel Hasil pengujian sensor (ADC)


No PPM Rata – Rata Vout
ADC
1 20 21626 1.65
2 30 23723 1.81
3 40 26738 2.04
4 50 29883 2.28
5 60 31718 2.42
6 70 33684 2.57
7 80 36175 2.76
8 90 36961 2.82
9 100 38796 2.96
10 110 39714 3.03
11 120 40893 3.12
12 130 42466 3.24
13 140 43253 3.3
14 150 44301 3.38
15 160 44825 3.42
16 170 46005 3.51
17 180 46791 3.57
18 190 47578 3.63
19 200 48758 3.72

3.2.5 Power Amplifier


Power amplifier adalah sebuah rangkaian elektronika yang berfungsi untuk
memperkuat atau memperbesar sinyal masukan. Sinyal listrik yang berbentuk sinyal AC
tersebut kemudian diperkuat arus (I) dan tegangannya (V) sehingga menjadi Output yang lebih
besar. Besaran penguatannya ini sering disebut dengan istilah gain. Power amplifier berguna
untuk menjalankan motor dc dengan memperkuat arus dan tegangannya sehingga output yang
diteruskan ke motor dc menjadi lebih besar. Rangkaian power amplifier menggunakan op-amp
ditunjukan pada gambar 3.9.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

42

Gambar 3.9. Rangkaian Power Amplifier menggunakan op-amp

3.2.6 Metode Koneksi HMI dan PLC Omron CPM2A


HMI (Human Machine Interface) yang digunakan pada tugas akhir ini adalah Seri
NB7W-TW01B. HMI ini dapat terhubung dengan PLC Omron melalui Ethernet, dan
antarmuka Serial. Untuk mengghubungkan hmi dan plc dapat menggunakan metode koneksi
RS-232, RS-485, RS-422, maupun Ethernet. Pada tugas akhir ini digunakan metode koneksi
RS-232. Metode koneksi RS-232 menggunakan port serial COM1 / COM2. Metode ini adalah
metode yang paling sederhana dan paling layak digunakan. Seperti gambar 3.10.

Gambar 3.10. metode koneksi RS-232

3.2.7 Metode Pengaturan Format MAD


MAD11 akan digunakan untuk mengubah masukan berupa tegangan analog dari sensor
suhu dan gas menjadi data digital.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

43

Langkah pertama harus menghitung Kode range/ Format data yang akan dikirim ke MAD11
menggunakan tabel 6. Tegangan analog out range yang dibutuhkan adalah 0V sampai 10V.

D8 D7 D6 : Analog out range code 001 (Range teg Out : 0V s/d 10V)

D5 D4 D3 : Analog In 0 range code 001 (Range teg. Input 0 : 0 s/d 10V)

D2 D1 D0 : Analog In 1 range code 011 (Range teg. Input 1 : 0 s/d 5V)

Format data yang dikirim ke MAD 11 : D15 D14 D13 ….. D8 D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0


1 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1
= 8 0 5 9

3.3 Perancangan Perangkat Lunak


3.3.1 Diagram Alir
Proses alur kerja sistem dipaparkan pada gambar 3.11. Pada gambar diagram alur bisa
dilihat cara kerja sistem dan apa saja yang bisa dilakukan oleh alat ini dengan pengONtrolan
PLC dan pengembangan pada HMI. Pada gambar 3.11. Saat tombol start ditekan maka plc akan
aktif untuk memantau status nilai Input yang diterima dari sensor suhu dan gas. Lalu plc akan
membaca nilai Input, apabila plc membaca kategori aman maka kipas akan menyala sesuai
dengan suhu yang ada di dalam ruangan dan pompa air tidak aktif. Saat plc membaca kategori
waspada maka buzzer akan berbunyi serta muncul pemberitahuan. Sedangkan ketika plc
membaca kategori kebakaran maka kipas akan off, buzzer menyala dan pompa air akan ON.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

44

Gambar 3.11. Diagram alir proses pengambilan keputusan

Alur kerja dari sistem ini akan dipaparkan pada gambar 3.11. Pada gambar diagram
alur bisa dilihat cara kerja sistem dan apa saja yang bisa dilakukan oleh alat ini dengan
pengontrolan PLC dan pengembangan pada HMI. Pada gambar 3.11. terdapat 2 alur kerja
dengan kondisi yang berbeda-beda. Hal ini memang disamakan dengan memikirkan hal – hal
yang merujuk pada keselamatan pemakaian alat karena merupakan salah satu pertimbangan
dalam pembuatan alat.

Kriteria pada suhu maupun gas pada pabrik ditentukan berdasarkan perkiraan sehingga
didapatkan hasil[3] :

Sensor suhu :

1. Dibawah 35˚C = Rendah


2. 36˚C - 45˚C = Sedang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

45

3. 46˚C - 55˚C = Tinggi


4. Diatas 56˚C = Sangat Tinggi

Sensor Gas:

1. Dibawah 50 PPM = Rendah


2. 51 PPM – 100 PPM = Sedang
3. 101 PPM – 199 PPM = Tinggi
4. Diatas 200 PPM = Sangat Tinggi

START

Sensor Suhu Sensor Gas

IF T > IF CO
25˚C >
MOTOR DC OFF 50ppm
PC FAN OFF

MOTOR DC ON PC FAN ON

Gambar 3.12. Diagram alir proses sistem keamanan terhadap kebakaran.

Pada gambar 3.12. diagram kerja sistem memiliki Output yang berbeda yaitu pada sensor
suhu menggunakan Output motor dc 12V, sedangkan sensor gas menggunakan Output PC FAN.
tetapi memiliki fungsi yang sama sebagai exhaust fan. Ketika tombol start ditekan maka sensor
suhu dan gas akan aktif secara bersamaan. Saat sensor suhu mendeteksi suhu dibawah 25˚C
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

46

maka Output berupa kipas akan off tetapi apabila sensor suhu mendeteksi suhu lebih dari 25˚C
maka kipas akan aktif. Perputaran kipas sendiri berputar sesuai suhu yang ada di dalam ruangan.
Kecepatan putar kipas telah ditentukan dari tegangan yang dikirim oleh modul analog to digital.

Semakin tinggi suhu maka perputaran motor DC akan semakin cepat. Sensor gas akan
bekerja pada saat sensor membaca tingkat senyawa gas CO yang melebihi NAB 50 ppm maka
kipas komputer akan berputar. Semakin banyak kipas yang aktif maka tingkat senyawa yang
dibaca sensor semakin besar. Banyak kipas yang aktif ditentukan berdasarkan tabel 3.6.

Tabel 3.6. Banyak kipas yang aktif

SENYAWA GAS KIPAS


Dibawah 50ppm 1 Kipas ON
51ppm – 100ppm 2 Kipas ON
101ppm – 199ppm 3 Kipas ON
>200 ppm 4 Kipas ON

Sensor Suhu Sensor Gas

POMPA OFF

POMPA ON

Gambar 3.13. Diagram alir proses sistem keamanan pada saat kedua sensor aktif

Pada gambar 3.13. diagram kerja sistem akan mengaktifkan pompa air yang berfungsi
untuk menyemburkan air yang akan disebarkan oleh sprinkel. Ketika sensor suhu dan gas
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

47

membaca keadaan lingkungan yang tidak sesuai dengan angka normal yang telah ditetapkan
seperti Tabel 3.7. maka sistem akan mengaktifkan pompa. Nilai yang ditetapkan diambil dari
ketetapan standart batas suhu dan senyawa gas yang berada pada pabrik [3].

Tabel 3.7 Kriteria kebakaran


KRITERIA KEBAKARAN
SENSOR SUHU SENSOR GAS KONDISI
Rendah Rendah Aman
Rendah Sedang Aman
Sedang Rendah Aman
Sedang Sedang Aman
Tinggi Rendah Waspada
Rendah Tinggi Waspada
Sedang Tinggi Waspada
Tinggi Sedang Waspada
Rendah Sangat Tinggi Waspada
Sangat Tinggi Sedang Waspada
Sedang Sangat Tinggi Waspada
Sangat Tinggi Tinggi Kebakaran
Tinggi Sangat Tinggi Kebakaran
Tinggi Tinggi Kebakaran
Sangat Tinggi Sangat Tinggi Kebakaran

3.3.2 Perancangan Layout HMI


HMI (human Machine Interface) akan mempermudah dalam pengoprasian alat dan
akan membantu untuk memonitoring suhu serta tingkat gas di dalam pabrik. Perangkat lunak
HMI yang digunakan untuk menunjang pemrograman hardware HMI Omron NB7W-TW00B
yang digunakan pada tugas akhir ini adalah software NBDesigner versi 1.35 yang merupakan
software HMI milik Omron yang digunakan untuk membuat layout HMI. Pada tabel 3.8.
merupakan bagian isi hmi dengan screen layout, sedangkan pemrograman pada perangkat keras
PLC Omron CPM2A-NA20DR-A menggunakan software CXProgrammer versi 9.2.

Tabel 3.8. Bagian HMI.


NO. Screen Layout Isi
1. Screen 1 Tampilan Awal
2. Screen 2 Home
3. Screen 3 Monitoring
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

48

Tampilan awal seperti Gambar 3.14. merupakan rancangan tampilan awal sebelum
masuk kemenu utama. Tampilan awal berisi salam pembuka serta ucapan selamat
mengoperasikan.

SELAMAT DATANG

SELAMAT MENGOPERASIKAN
NEXT

Gambar 3.14. Tampilan Awal

Pada home akan terdapat pilihan untuk ke Monitoring. Terdapat juga tombol start yang
berfungsi untuk memulai menjalankan sistem dan tombol stop yang berfungsi untuk
memberhentikan sistem. tombol ini adalah pengganti tombol yang ada pada case. Gambar 3.17.
menunjukan rancangan tampilan untuk home pada HMI. Tombol monitoring berfungsi untuk
melihat proses tingkat suhu dan tingkat gas di dalam ruangan pabrik serta melihat tingkat
indikator bahaya yang ada di dalam pabrik. Apabila tombol monitoring ditekan akan muncul
seperti gambar 3.15.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

49

APLIKASI HMI PADA PENCEGAH


KEBAKARAN

Gambar 3.15. Tampilan home pada HMI

Monitoring berfungsi untuk mengetahui tingkat suhu dan tingkat gas yang ada di dalam
ruangan. Sehingga dapat menjadi acuan sistem dalam mengontrol suhu maupun tingkat gas di
dalam ruangan. Selain itu fungsi dari monitoring juga dapat digunakan sebagai pendeteksi
kerusakan pada sistem dan pada alat. Pada saat PLC mengkategorikan kondisi waspada maka
selain muncul peringatan pada hmi ada juga buzzer yang akan berbunyi 3 kali untuk
memberikan peringatan kepada semua orang yang berada dipabrik. Pada saat PLC
mengkategorikan kondisi kebakaran maka buzzer akan berbunyi panjang.

MONITORING

Gambar 3.16. Monitoring


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Suatu program dapat dikatakan bekerja dengan baik apabila telah disertai dengan
pembuktian terhadap fungsi kerja dari alat tersebut. Bab ini akan membahas tentang hasil
perancangan perangkat keras, perangkat lunak, dan hasil pengujian sistem. Hasil dan
pembahasan sistem deteksi kebakaran meliputi kedua sensor yaitu sensor gas dan sensor suhu
dengan menggunakan rangkaian PLC (Programmable Logic Control), serta membahas program
yang digunakan pada PLC. Hasil pengamatan berupa nilai tengangan keluaran, suhu ruangan
(⁰C), Serta Tingkat gas di dalam ruangan.

4.1 Perubahan Rancangan


4.1.1 Rancangan Maket
Pada Bab III telah dirancang pembuatan maket pabrik menggunakan bahan yang terbuat
dari akrilik bening sehingga memudahkan untuk melihat ke bagian dalam maket. Selain itu
sistem keamanan pabrik dari kebakaran yang digunakan untuk memadamkan api menggunakan
semprotan air, oleh karena itu menggunakan akrilik dirasa akan lebih efektif karena akrilik tahan
terhadap air. Tetapi karena bahan akrilik yang dibutuhkan banyak dan harga akrilik yang cukup
mahal maka diputuskan untuk menggunakan kayu triplek dengan adanya penambahan
rancangan untuk saluran pembuangan air seperti gambar 4.1.

Gambar 4.1. Saluran Pembuangan Air

50
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

51

Penambahan rancangan untuk saluran pembuangan air berfungsi untuk mencegah


tripleks supaya tidak basah dengan cara dibuat jalur pembuangan saluran air dengan
menggunakan toples karena hampir keseluruhan plant menggunakan tripleks.

4.1.2 Power Amplifier Untuk Penggerak Motor DC


Pada rancangan di bab 3 power amplifier berfungsi untuk memperkuat atau
memperbesar sinyal pada motor DC. Tetapi dikarenakan motor DC yang digunakan berukuran
kecil serta tegangan dari modul MAD sudah cukup besar dan motor DC dapat berputar. Maka
power amplifier yang sudah dirancang tidak digunakan.

4.1.3 Layout HMI


Pada proses pembuatan layout hmi di NBDesinger ada perubahan rancangan desian layout
hmi dan pengalamatan sehingga layout yang dapat dilihat pada gambar 3.13, 3.14, dan 3.15 akan
berbeda dengan layout yang telah dibuat sekarang. Layout sebelumnya dirasa kurang efektif
oleh karena itu, layout yang dibuat sekarang lebih simple dan efektif sehingga dapat
memudahkan operator. Pada tabel 4.1. menunjukan pengalamatan pada HMI.

Tabel 4.1. Pengalamatan Pada HMI


NO Nama Alamat
1 INPUT Layer H0
2 Penampil Suhu D5
Lampu Indikator Gas
3 CIO_IR 201.00
(<50 PPM)
Lampu Indikator Gas
4 CIO_IR 201.01
(51-100 PPM)
Lampu Indikator Gas
5 CIO_IR 201.02
(101-199 PPM)
Lampu Indikator Gas
6 CIO_IR 201.03
(>200 PPM)
Lampu Indikator Status
7 CIO_IR 200.02
(Aman)
Lampu Indikator Status
8 CIO_IR 200.05
(Waspada)
Lampu Indikator Status
9 CIO_IR 200.08
(Kebakaran)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

52

Gambar 4.2. Tampilan Awal HMI


Gambar 4.2 menunjukan tampilan awal dari HMI untuk melihat tampilan pengoperasian tombol
-tombol. Pada tampilan awal terdapat input untuk berganti halaman dengan memasukan kode
halaman yang telah tertulis ditampilan hmi. Nomor 10 untuk masuk kepetunjuk penggunaan
status dan nomor 11 untuk menuju ke monitoring.

Gambar 4.3. Masukan Input HMI


Untuk berganti halaman pada hmi, operator harus menekan input sehingga akan muncul NUM
Keyboard unutk memasukan input yang ingin dibuaka oleh operator. Seperti gambar 4.3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

53

Gambar 4.4. Tampilan Petunjuk Kondisi Penggunaan


Gambar 4.4 menunjukan tampilan petunjuk kondisi penggunaan yang diperlukan untuk
memudahkan operator untuk mengambil tindakan dan untuk menyelesaikan masalah. Dengan
petunjuk sebagai berikut: ketika kondisi aman maka sistem akan bekerja secara normal, ketika
kondisi menunjukan waspada maka buzzer akan berbunyi sehingga operator harus segera
mengecek kondisi sistem, dan ketika kondisi kebakaran maka operator diharuskan untuk segera
memanggil pemadam kebakaran.

Gambar 4.5. Tampilan Monitoring Sistem keamanan Pabrik


Tampilan pada gambar 4.5 adalah tampilan monitoring pada HMI yang terdiri dari indikator
tingkat suhu, tingkat gas, selain itu monitoring status kondisi.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

54

4.2 Hasil Prototipe Sistem Keamanan Dari Kebakaran


Bentuk fisik dari prototipe sistem keamanan pabrik dari kebakaran secara umum dapat
terlihat pada gambar 4.6, 4.7, dan 4.8 dengan keterangan berada pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Bagian Prototipe


Huruf Keterangan
A PLC
B MAD
C HMI
D Maket
E Sensor Suhu
F Sensor Gas
G Kipas
H Motor DC
I Buzzer
J Sprinkel
K Pembuangan air
L Relay

Gambar 4.6. Bagian Maket Keseluruhan


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

55

Gambar 4.7. Bagian Maket Dari Atas

Gambar 4.8. Bagian Maket Dari Depan

4.3 Hasil Pengamatan Sistem


Pada pengamatan sistem data yang diambil berupa status yang akan mucul di HMI serta
sistem pencegahannya. ketika sistem dinyalakan maka plc akan aktif untuk memantau status
nilai Input yang diterima dari sensor suhu dan gas. Data pengambilan keputusan ditunjukan pada
tabel 4.3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

56

Tabel 4.3. Data pengambilan keputusan


Sensor Sensor
NO Status Hmi Monitoring Keterangan
Suhu Gas

< 50 - Tegangan Kipas


30⁰C
1 PPM Aman = 3.092 Volt,
(Rendah)
(Rendah) Exhaust Fan OFF

- Tegangan Kipas
51PPM-
2 30⁰C Aman = 3.092 Volt,
100PPM
(Rendah) - 1 Exhaust Fan
(Sedang)
- ON

- Tegangan Kipas
< 50 = 3,764 Volt,
3 37⁰C Aman
PPM - Exhaust Fan
(Sedang)
(Rendah) OFF
-

- Tegangan Kipas
51PPM-
4 36⁰C Aman = 3,643 Volt,
100PPM
(Sedang) - 1 Exhaust Fan
(Sedang)
ON

- Tegangan Kipas
< 50 = 4,61 Volt,
5 46⁰C Waspada
PPM - Exhaust Fan
(Tinggi)
(Rendah) OFF
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

57

Tabel 4.3. Data pengambilan keputusan


Sensor Sensor
NO Status Hmi Monitoring Keterangan
Suhu Gas

- Tegangan Kipas
101PPM- = 3,092 Volt,
30⁰C
6 199PPM Waspada - 3 Exhaust Fan
(Rendah)
(Tinggi) ON
- Buzzer ON

- Tegangan Kipas
101PPM- = 3,959 Volt,
39⁰C
7 199PPM Waspada - 3 Exhaust Fan
(Sedang)
(Tinggi) ON
- Buzzer ON

- Tegangan Kipas
51PPM- = 4,71 Volt,
47⁰C
8 100PPM Waspada - 2 Exhaust Fan
(Tinggi)
(Sedang) ON
- Buzzer ON

- Tegangan Kipas
>200PPM = 3.254 Volt,
32⁰C
9 (Sangat Waspada - 4 Exhaust Fan
(Rendah)
Tinggi) ON
- Buzzer ON

- Tegangan Kipas
57⁰C 51PPM- = 5,78 Volt,
10 (Sangat 100PPM Waspada - 2 Exhaust Fan
Tinggi) (Sedang) ON
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

58

Tabel 4.3. Data pengambilan keputusan


Sensor Sensor
NO Status Hmi Monitoring Keterangan
Suhu Gas

- Tegangan Kipas
>200PPM = 3,764 Volt,
37⁰C
11 (Sangat Waspada - 4 Exhaust Fan
(Sedang)
Tinggi) ON
-Buzzer ON

- Kipas Suhu OFF


57⁰C 101PPM- - Exhaust Fan
12 (Sangat 199PPM Kebakaran OFF
Tinggi) (Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON

- Kipas Suhu OFF


>200PPM - Exhaust Fan
47⁰C
13 (Sangat Kebakaran OFF
(Tinggi)
Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON

- Kipas Suhu OFF


101PPM- - Exhaust Fan
47⁰C
14 199PPM Kebakaran OFF
(Tinggi)
(Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON

- Kipas Suhu OFF


58⁰C >200PPM - Exhaust Fan
15 (Sangat (Sangat Kebakaran OFF
Tinggi) Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

59

Pada tabel 4.3. menunjukan sistem pengambilan keputusan yang diingikan seperti tabel
3.7. telah sesuai dengan data pada tabel 4.3. serta sistem pengambilan keputusan yang
ditampilkan di HMI berjalan dengan baik dimana PLC akan membaca nilai Input dari sensor
gas dan sensor suhu. Apabila plc membaca kategori aman maka sistem akan bekerja secara
normal untuk mengatur tingkat suhu dan gas yang ada di dalam ruangan. Saat plc membaca
kategori waspada maka keputusan yang diambil buzzer akan berbunyi serta muncul
pemberitahuan. Sedangkan ketika plc membaca kategori kebakaran maka keputusan yang
diambil kipas akan off, buzzer menyala dan pompa air akan ON.

4.4 Hasil Pengamatan Data Sub Sistem


4.4.1 Hasil Pengamatan Sensor Suhu dan Pengkondisi Sinyal
4.4.1.1 Data Pengamatan Sensor suhu
Sensor suhu yang digunakan adalah sensor LM35. Sensor LM35 memiliki pengukuran
serta Output yang bersifat analog yang dapat membaca rentang suhu dari -55˚C sampai 150˚C
dengan interval 10mV/˚C. Sensor LM35 diberikan tengangan sebesar 12V. Dari data
pengamatan pada sensor suhu dengan rentang 29⁰C - 60⁰C yang diukur dengan menggunakan
multimeter didapatkan hasil seperti tabel 4.4.

Tabel 4.4. Data Pengamatan Sensor suhu


NO SUHU Vout Sensor
1 29⁰C 295.2 mV
2 30⁰C 309.4 mV
3 31⁰C 317.3 mV
4 32⁰C 325.4 mV
5 33⁰C 332.9 mV
6 34⁰C 345.9 mV
7 35⁰C 355.8 mV
8 36⁰C 366.3 mV
9 37⁰C 376.1 mV
10 38⁰C 387.5 mV
11 39⁰C 392.8 mV
12 40⁰C 0.402 V
13 41⁰C 0.413 V
14 42⁰C 0.425 V
15 43⁰C 0.432 V
16 44⁰C 0.445 V
17 45⁰C 0.457 V
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

60

Tabel 4.4. Data Pengamatan Sensor suhu


NO SUHU Vout Sensor
18 46⁰C 0.463 V
19 47⁰C 0.471 V
20 48⁰C 0.480 V
21 49⁰C 0.493 V
22 50⁰C 0.507 V
23 51⁰C 0.512 V
24 52⁰C 0.524 V
25 53⁰C 0.533 V
26 54⁰C 0.542 V
27 55⁰C 0.551 V
28 56⁰C 0.559 V
29 57⁰C 0.568 V
30 58⁰C 0.581 V
31 59⁰C 0.592 V
32 60⁰C 0.599 V

Gambar 4.9. Grafik Suhu terhadap tegangan

Gambar 4.9 menunjukan grafik kenaikan suhu terhadap tegangan semakin tinggi
kenaikan suhu maka semakin tinggi kenaikan nilai tegangan. Pada bab 3 point 3.2.3 dijelaskan
bahwa kenaikan sensor sebesar 10mV/ ˚C Tetapi pada percobaan didapatkan kenaikan suhu
sebesar 10,1mV/ ˚C yang berarti sensor mengalami error sebesar 0.1%, Sehingga didapatkan
kelinieran 0,9987 atau kurang dari 1.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

61

4.4.1.2 Data Pengamatan Pengkondisi Sinyal


Rangkaian pengkondisi sinyal dibutuhkan untuk memperkuat keluaran dari sensor suhu
karena setiap kenaikan 1⁰C, sensor suhu mengirimkan sinyal tegangan sebesar 10mV sedangkan
modul analog to digital dapat membaca rentang tegangan 1-10 volt. Sehingga pengkondisi
sinyal berfungsi untuk menguatkan tegangan dari sensor suhu sebelum masuk ke modul analog
to digital. Pengkondisi sinyal yang ingin dibuat menggunakan penguatan sebesar 10 kali. Pada
gambar 4.10 menujukan rangkaian pengkondisi sinyal.

Gambar 4.10. Rangkaian pengkondisi sinyal

Gambar 4.11. Sensor suhu dan pengkondisi sinyal


Pada gambar 4.11 memperlihatkan rangkaian pengkondisi sinyal dengan mengunakan
ic 741, dengan 3 buah resistor masing – masing: 1k dan 8k sehingga didapatkan penguatan
sebesar 10 kali. Pada pengamatan seperti tabel 4.5 data didapat dengan cara melakukan
pengukuran pada input dan output pengkondisi sinyal dengan menggunakan multimeter sebagai
alat ukurTabel
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

62

4.5. Hasil Data Input dan Output Pengkondisi Sinyal


Tegangan Input Tegangan Output
NO SUHU
Pengkondisi Sinyal Pengkondisi Sinyal
1 29⁰C 295.2 mV 2.947 V
2 30⁰C 309.4 mV 3.092 V
3 31⁰C 317.3 mV 3.177 V
4 32⁰C 325.4 mV 3.254 V
5 33⁰C 332.9 mV 3.338 V
6 34⁰C 345.9 mV 3.445 V
7 35⁰C 355.8 mV 3.579 V
8 36⁰C 366.3 mV 3.643 V
9 37⁰C 376.1 mV 3.764 V
10 38⁰C 387.5 mV 3.872 V
11 39⁰C 392.8 mV 3.959 V
12 40⁰C 0.402 V 4.03 V
13 41⁰C 0.413 V 4.12 V
14 42⁰C 0.425 V 4.23 V
15 43⁰C 0.432 V 4.32 V
16 44⁰C 0.445 V 4.45 V
17 45⁰C 0.457 V 4.52 V
18 46⁰C 0.463 V 4.61 V
19 47⁰C 0.471 V 4.71 V
20 48⁰C 0.480 V 4.82 V
21 49⁰C 0.493 V 4.93 V
22 50⁰C 0.507 V 5.02 V
23 51⁰C 0.512 V 5.16 V
24 52⁰C 0.524 V 5.22 V
25 53⁰C 0.533 V 5.33 V
26 54⁰C 0.542 V 5.45 V
27 55⁰C 0.551 V 5.53 V
28 56⁰C 0.559 V 5.61 V
29 57⁰C 0.568 V 5.78 V
30 58⁰C 0.581 V 5.87 V
31 59⁰C 0.592 V 5.98 V
32 60⁰C 0.599 V 6.04 V
33 61⁰C 0.613 V 6.15 V
34 62⁰C 0.623 V 6.22 V
35 63⁰C 0.633 V 6.34 V
36 64⁰C 0.642 V 6.45 V
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

63

Gambar 4.12. Grafik Input dan Output Tegangan Pengkondisi Sinyal

Dari gambar 4.12 dapat dilihat selisih nilai penguatan sebesar 0.08 kali dari nilai penguatan
yang diinginkan atau mengalami error sebesar 0.8%. Pada penelitian ini nilai selisih yang
didapat, akibat adanya penurunan nilai resistansi yang mempengaruhi penguatan. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pengkondisi sinyal telah dibuat dapat menghasilkan penguatan
sebesar 10,08 kali dengan error sebesar 0.8% dari penguatan yang diinginkan.

4.4.2 Hasil Pengamatan Konversi Tegangan Output Sensor


Prinsip kerja ADC adalah mengkonversi sinyal analog ke dalam bentuk besaran yang
merupakan perbandingan perbandingan sinyal input dan tegangan referensi. Pada tabel 4.6.
menunjukan data konversi tegangan output sensor suhu yang dikonversikan kedalam bentuk
bilangan HEX yang tertampil pada program PLC. Pengamatan data dilakukan dengan cara
melakukan pengujian pada sensor suhu dengan menggunakan 2 buah lampu yang diberi
penutup serta pengambilan data tegangan output diambil dengan menggunakan multimeter
sebagai alat ukurnya.
Tabel 4.6. Hasil Data Konversi Tegangan Output Sensor
Tegangan Output Konversi
No SUHU Pengkondisi Tegangan Output
sinyal (V) Kedalam HEX
1 30⁰C 3.092 V 73F
2 31⁰C 3.177 V 772
3 32⁰C 3.254 V 7A0
4 33⁰C 3.338 V 7D2
5 34⁰C 3.445 V 813
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

64

Tabel 4.6. Hasil Data Konversi Tegangan Output Sensor


Tegangan Output Konversi
No SUHU Pengkondisi Tegangan Output
sinyal (V) Kedalam HEX
6 35⁰C 3.579 V 863
7 36⁰C 3.643 V 889
8 37⁰C 3.764 V 8D2
9 38⁰C 3.872 V 913
10 39⁰C 3.959 V 947
11 40⁰C 4.03 V 972
12 41⁰C 4.12 V 9A8
13 42⁰C 4.23 V 9EA
14 43⁰C 4.32 V A20
15 44⁰C 4.45 V A6E
16 45⁰C 4.52 V A97
17 46⁰C 4.61 V ACE
18 47⁰C 4.71 V B0A
19 48⁰C 4.82 V B4C
20 49⁰C 4.93 V B8E
21 50⁰C 5.02 V BC4
22 51⁰C 5.16 V C18
23 52⁰C 5.22 V C3C

Pada tabel 4.6 dapat dilihat hasil konversi tegangan output pengkondisi sinyal ke dalam
HEX. Sebagai contoh, modul di atas disambung pada sensor suhu dengan tegangan referensi 10
volt, kemudian sensor mendeteksi suhu sehingga mengeluarkan tegangan sinyal 3.092 volt,
maka nilai yang akan diubah menjadi digital adalah 3.092/10 dikali 6000, yaitu 1855.2 atau
dalam bentuk tampilan HEX adalah 73F. Dari data konversi tegangan output sensor dapat
disimpulkan bahwa nilai konversi yang didapat dari perhitungan sama dengan nilai yang
tertampil pada PLC.

4.4.3 Hasil Pengamatan Sensor MQ7


Modul sensor MQ7 ini membutuhkan supply tegangan 5volt untuk mengaktifkan sensor,
untuk kesiapan sensor membutuhkan waktu 30 detik saat memanaskan heater pada sensor,
sehingga didapat nilai yang cukup stabil. Ketika nilai hex sudah mencapai nilai stabil maka
pembacaan sensor saat mendeteksi gas carbon akan lebih akurat. Pengujian Sistem sensor gas
menggunakan metode pembakaran dengan mengunakan kertas, lilin, Dupa, dan Korek Gas.
Pada pengujian sensor gas ini dapat hasil yang dapat dilihat pada tabel 4.7.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

65

Tabel 4.7. Pengujian Sensor Gas


Metode Pembakaran Nilai PPM Tegangan Output
(HEX) Sensor
Kertas 004D 129mV
Lilin 00FC 210mV
Dupa 0258 500mV
Asap Motor 0690 1.4V
Korek Gas 0808 1.714V
Korek Gas 087C 1.81V
Korek Gas 093D 1.971V
Korek Gas 09AC 2.064V
Korek Gas 0B03 2.35V
Korek Gas 0B47 2.406V
Korek Gas 0D48 2.834V
Korek Gas 116F 3.72V
Pada pengujian sensor gas dengan beberapa metode pembakaran seperti tabel 4.6. dapat
dilihat nilai tertinggi yang dapat dibaca oleh sensor gas sekitar 0-116F atau jika dikonversikan
setara dengan 0–200 PPM yaitu dengan menggunakan korek gas api, sehingga didapat kan hasil
seperti tabel 4.8.
Tabel 4.8. Data Hasil Pengujian sistem sensor
SENYAWA GAS KIPAS
Dibawah 50ppm 1 Kipas ON
51ppm – 100ppm 2 Kipas ON
101ppm – 199ppm 3 Kipas ON
Diatas 200 4 Kipas ON
Maka dari tabel 4.8. dapat disimpulakan sistem berjalan dengan baik dengan rentang
nilai 0PPM – 200PPM dengan menggunakan gas korek api sebagai penghasil gas.

4.4.4 Hasil Pengamatan MAD


MAD seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya merupakan modul yang merubah
data analog menjadi didata digital atau merubah data digital menjadi data analog. MAD yang
digunakan adalah MAD 11. MAD 11 merupakan komponen yang berupa satu paket dengan
PLC dimana telah sinkron, dan cara pemasangannya tinggal disambung dengan PLC dan cara
pengoperasiannya tergantung pada programnya. Input dari MAD mempunyai beberapa pilihan
dalam hal ini dipilih input pertama menggunakan 0V sampai dengan 10V , sedangkan input
kedua menggunakan 0V sampai dengan 5V dan outputnnya menggunakan 0V sampai dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

66

10V. pada tabel 4.9 menunjukan konversi data input 10V tegangan kedalam hex sedangkan tabel
4.10 menunjukan konversi data input 5V tegangan kedalam hex.
Tabel 4.9. Konversi Input 10 Volt tegangan kedalam hex
Perhitungan Pengujian
No Tegangan (Volt) Error
(HEX) (HEX)
1 0.5 12C 12C 0
2 1 258 258 0
3 1.5 384 384 0
4 2 4B0 4B0 0
5 2.5 5DC 5DC 0
6 3 708 708 0
7 3.5 834 834 0
8 4 960 960 0
9 4.5 A8C A8C 0
10 5 BB8 BB8 0
11 5.5 CE4 CE4 0
12 6 E10 E10 0
13 6.5 F3C F3C 0
14 7 1068 1068 0
15 7.5 1194 1194 0
16 8 12C0 12C0 0
17 8.5 13EC 13EC 0
18 9 1518 1518 0
19 9.5 1644 1644 0
20 10 1770 1770 0

Tabel 4.10. Konversi Input 5 Volt tegangan kedalam hex

Perhitungan Pengujian
No Tegangan (Volt) Error
(HEX) (HEX)
1 0.25 12C 12C 0
2 0.5 258 258 0
3 0.75 384 384 0
4 1 4B0 4B0 0
5 1.25 5DC 5DC 0
6 1.5 708 708 0
7 1.75 834 834 0
8 2 960 960 0
9 2.25 A8C A8C 0
10 2.5 BB8 BB8 0
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

67

Tabel 4.10. Konversi Input 5 Volt tegangan kedalam hex

Perhitungan Pengujian
No Tegangan (Volt) Error
(HEX) (HEX)
11 2.75 CE4 CE4 0
12 3 E10 E10 0
13 3.25 F3C F3C 0
14 3.5 1068 1068 0
15 3.75 1194 1194 0
16 4 12C0 12C0 0
17 4.25 13EC 13EC 0
18 4.5 1518 1518 0
19 4.75 1644 1644 0
20 5 1770 1770 0
21 5.25 189C 189C 0

Tabel diatas adalah hasil percobaan ADC dan output selanjutnya diproses menjadi data
yang diinginkan dan selengkapnya dapat dilihat pada penggalan program berikut :

Gambar 4.13. Program pengoperasian ADC


PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

Gambar 4.13. Program pengoperasian ADC


Program pengoperasian ADC terdiri dari dua bagian, pertama berfungsi untuk inisialisai
ADC dan pertransfe ran ADC dalam hal ini data ditransfer ke DM0. P_ON (Always ON Flag)
digunakan untuk memberikan efek hidup terus menerus. Bagian kedua digunakan untuk
merubah nilai Hex menjadi BCD sehingga Data dari DMO akan dikonversikan menjadi decimal
dan disimpan di DM1.bagian ketiga BIN berfungsi sebagai pengubah angka decimal menjadi
hex kembali dikarenakan fungsi pembagian menggunakan nilai hex. Bagian keempat berfungsi
sebagai pengelolah data ADC yang disesuaikan dengan output yang diinginkan yaitu 0 sampai
dengan 75 sesuai dengan suhunya, dengan cara pembagian dan diubah kedalam data BCD lalu
hasil akhirnya disimpan pada DM3.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

BAB V
Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Penelitian sudah dapat membuat prototipe sistem keamanan pabrik dari kebakaran
dalam bentuk maket.
2. Tingkat keberhasilsan sistem mendeteksi kondisi berdasarkan tingkat suhu dan gas
sebesar 100%.
3. Sensor suhu yang digunakan terdapat error sebesar 0,1%, yang memiliki tingkat
kelinieran sebesar R2 = 0.9987.
4. Pengkondisi sinyal menghasilkan penguatan sebesar 10,08 kali dengan error sebesar
0.8% dari penguatan yang diinginkan.
5. Penelitian sudah dapat mengkonversi tegangan output sensor kedalam bilangan HEX.
6. Tampilan monitoring pada HMI mampu menampilkan indikator tingkat suhu, gas, dan
status kondisi di dalam ruangan.
7. Aktuator dapat berputar menyesuaikan tingkat suhu dan gas di dalam ruangan.

5.2 Saran
Agar dapat menghasilkam penelitian yang lebih baik lagi, maka diberikan saran-saran
sebagai berikut :

1. Untuk sistem akan lebih maksimal jika prototipe dibuat dengan ukuran yang lebih besar
serta tata letak sensor dibuat seminimalis mungkin.
2. Menambah informasi tentang cara menimbulkan asap gas Karbon.

67
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

68

DAFTAR PUSTAKA

[1] http://nurwahyudi29.blogspot.co.id/2017/04/k3-faktor-penyebab-kebakaran-dan.html

[2] https://media.neliti.com/media/publicatiONs/133154-ID-alat-pencegah-kebakaran-
berbasis-mikroko.pdf

[3] Hanselindo,Definisi / Pengertian Kebakaran


https://pemadamapi.wordpress.com/definisi-pengertian-kebakaran/

[4] https://www.cets-uii.org,BML/Udara/ISPU/

[5] BoltON, W., 2006, Programmable Logic Controllers, fourt EditiON, Elsevier
Newnes=

[6] https://www.swarthmore.edu/NatSci/echeevel/Class/e91/Lectures/E91(10)Serial.pdf

[7] https://www.electrONiclab.com/index.php?actiON=html&fid=59

[8] Driscoll, 1990, Penguat operasiONal (OperatiONal Amplifier), Prentice, Inc : New
York.

[9] ------, 2000, Data Sheet LM35, Texas Instruments

[10] http://baskarapunya.blogspot.co.id/2013/05/mq-7-sensor-gas-co.html

[11] https://industri3601.wordpress.com/relay/

[12] https://www.nyebarilmu.com/tutorial-arduino-mengakses-driver-motor-l298n/

[13] https://instrumind.wordpress.com/2015/12/16/kalibrasi-sensor-gas-mq-7
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Data Pengambilan Sistem

Sensor
NO Sensor Suhu Status Keterangan
Gas
1 30⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,092Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
2 31⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,177Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
3 32⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,254Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
4 33⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,338Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
5 34⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,445Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
6 - Tegangan Kipas =
35⁰C < 50 PPM Aman 3,579Volt,
(Rendah) (Rendah)
- 1 Exhaust Fan ON
7 - Tegangan Kipas =
30⁰C 51PPM-100PPM Aman 3.096Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
8 - Tegangan Kipas =
31⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,167Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
9 - Tegangan Kipas =
32⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,224Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
10 - Tegangan Kipas =
33⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,386Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
11 - Tegangan Kipas =
34⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,411Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
12 - Tegangan Kipas =
35⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,521Volt,
(Rendah) (Sedang)
- 2 Exhaust Fan ON
13 - Tegangan Kipas =
101PPM-
30⁰C Waspada 3,087Volt,
199PPM
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
14 101PPM- - Tegangan Kipas =
31⁰C 3,157Volt,
199PPM Waspada
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
15 101PPM- - Tegangan Kipas =
32⁰C 3,226Volt,
199PPM Waspada
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
16 101PPM- - Tegangan Kipas =
33⁰C 3,365Volt,
199PPM Waspada
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
17 101PPM- - Tegangan Kipas =
34⁰C 3,474Volt,
199PPM Waspada
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
18 101PPM- - Tegangan Kipas =
35⁰C 3,555Volt,
199PPM Waspada
(Rendah) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
19 - Tegangan Kipas =
30⁰C >200PPM Waspada 3,056Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
20 - Tegangan Kipas =
31⁰C >200PPM Waspada 3,145Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
21 - Tegangan Kipas =
32⁰C >200PPM Waspada 3,226Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
22 - Tegangan Kipas =
33⁰C >200PPM Waspada 3,308Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
23 - Tegangan Kipas =
34⁰C >200PPM Waspada 3,445Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
24 - Tegangan Kipas =
35⁰C >200PPM Waspada 3,544Volt,
(Rendah) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
25 - Tegangan Kipas =
36⁰C < 50 PPM Aman 3,614Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
26 - Tegangan Kipas =
37⁰C < 50 PPM Aman 3,715Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
27 - Tegangan Kipas =
38⁰C < 50 PPM Aman 3,856Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
28 39⁰C < 50 PPM - Tegangan Kipas =
Aman 3,912Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
29 - Tegangan Kipas =
40⁰C < 50 PPM Aman 4Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
30 - Tegangan Kipas =
41⁰C < 50 PPM Aman 4,12Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
31 - Tegangan Kipas =
42⁰C < 50 PPM Aman 4,25Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
32 - Tegangan Kipas =
43⁰C < 50 PPM Aman 4,36 Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
33 - Tegangan Kipas =
44⁰C < 50 PPM Aman 4,44Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
34 - Tegangan Kipas =
45⁰C < 50 PPM Aman 4,52Volt,
(Sedang) (Rendah)
- 1Exhaust Fan ON
35 - Tegangan Kipas =
35⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,579Volt,
(Rendah) (Sedang) - 2Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
36 - Tegangan Kipas =
36⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,633Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
37 - Tegangan Kipas =
37⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,745Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
38 - Tegangan Kipas =
38⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,844Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
39 - Tegangan Kipas =
39⁰C 51PPM-100PPM Aman 3,912Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
40 - Tegangan Kipas =
40⁰C 51PPM-100PPM Aman 4Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
41 - Tegangan Kipas =
41⁰C 51PPM-100PPM Aman 4,15Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
42 - Tegangan Kipas =
42⁰C 51PPM-100PPM Aman 4,26Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
43 - Tegangan Kipas =
43⁰C 51PPM-100PPM Aman 4,37Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
44 - Tegangan Kipas =
44⁰C 51PPM-100PPM Aman 4,41Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
45 - Tegangan Kipas =
45⁰C 51PPM-100PPM Aman 4,56Volt,
(Sedang) (Sedang)
- 2Exhaust Fan ON
46 - Tegangan Kipas =
101PPM-
36⁰C Waspada 3,645Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
47 - Tegangan Kipas =
101PPM-
37⁰C Waspada 3,721Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
48 - Tegangan Kipas =
101PPM-
38⁰C Waspada 3,811Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
49 - Tegangan Kipas =
101PPM-
39⁰C Waspada 3,915Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
50 - Tegangan Kipas =
101PPM-
40⁰C Waspada 4,02Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
51 - Tegangan Kipas =
101PPM-
41⁰C Waspada 4,13Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
52 - Tegangan Kipas =
101PPM-
42⁰C Waspada 4,24Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
53 - Tegangan Kipas =
101PPM-
43⁰C Waspada 4,36Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
54 - Tegangan Kipas =
101PPM-
44⁰C Waspada 4,44Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
55 - Tegangan Kipas =
101PPM-
45⁰C Waspada 4,52Volt,
199PPM
(Sedang) - 3Exhaust Fan ON
(Tinggi)
- Buzzer ON
56 - Tegangan Kipas =
36⁰C >200PPM Waspada 3,605Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
57 - Tegangan Kipas =
37⁰C >200PPM Waspada 3,726Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
58 - Tegangan Kipas =
38⁰C >200PPM Waspada 3,844Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
59 - Tegangan Kipas =
39⁰C >200PPM Waspada 3,912Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
60 - Tegangan Kipas =
40⁰C >200PPM Waspada 4,05Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
61 - Tegangan Kipas =
41⁰C >200PPM Waspada 4,18Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
62 - Tegangan Kipas =
42⁰C >200PPM Waspada 4,26Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
63 - Tegangan Kipas =
43⁰C >200PPM Waspada 4,34Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
64 - Tegangan Kipas =
44⁰C >200PPM Waspada 4,47Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
65 - Tegangan Kipas =
45⁰C >200PPM Waspada 4,56Volt,
(Sedang) (Sangat Tinggi) - 4Exhaust Fan ON
- Buzzer ON
66 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
46⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
67 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
47⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
68 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
48⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
69 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
49⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

NO Sensor Status
Sensor Suhu Keterangan
Gas
70 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
50⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
71 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
51⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
72 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
52⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
73 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
53⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
74 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
54⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
75 - Kipas Suhu OFF
101PPM-
55⁰C Kebakaran - Exhaust Fan OFF
199PPM
(Tinggi) - Buzzer ON
(Tinggi)
- Pompa ON
76 - Kipas Suhu OFF
57⁰C >200PPM Kebakaran - Exhaust Fan OFF
(Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON
77 - Kipas Suhu OFF
58⁰C >200PPM Kebakaran - Exhaust Fan OFF
(Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON
78 - Kipas Suhu OFF
59⁰C >200PPM Kebakaran - Exhaust Fan OFF
(Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON
79 - Kipas Suhu OFF
60⁰C >200PPM Kebakaran - Exhaust Fan OFF
(Sangat Tinggi) (Sangat Tinggi) - Buzzer ON
- Pompa ON