Anda di halaman 1dari 21

PENGERTIAN DASAR TENTANG IMAN, KUFUR, NIFAQ, SYIRIK DAN

HUBUNGAN ANTARA IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah


TEOSOFI
Dosen Pengampu
Muhammad Amiruddin, Lc., M.Pd.

Disusun oleh :
1. Arien Alvi Fathoniyah (17930075)
2. Ivana Ifadayanti (17930078)

FARMASI C
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................2


A. Latar Belakang ..............................................................................................2
B. Rumusan Masalah .........................................................................................2
C. Tujuan ...........................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................4
A. Pengertian Dasar tentang:..........................................................................4
1. Iman ...........................................................................................................4
2. Islam ..........................................................................................................5
3. Ihsan ..........................................................................................................8
4. Kufur .......................................................................................................10
5. Nifaq ........................................................................................................11
6. Syirik .......................................................................................................11
B. Macam-macam dari:.................................................................................12
1. Kufur .......................................................................................................12
2. Nifaq ........................................................................................................13
3. Syirik .......................................................................................................15
C. Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan .............................................15
BAB III PENUTUP ..............................................................................................17
A. Kesimpulan .................................................................................................17
B. Saran ............................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................19

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Islam merupakan agama rahmatan lil alamin yang berarti agama yang
membawa rahmat bagi seluruh umat, didalam agama Islam juga dipelajari
tauhid yaitu tentang mengesakan Allah SWT, Allah SWT mengutus nabi
Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul yang terakhir adalah untuk
memperbaiki aqidah dan akhlak karena pada saat itu umat manusia berada pada
zaman jahiliyah serta sering bertindak secara semena-mena.

Sebagai umat muslim sebaiknya memiliki iman yang kuat karena iman
merupakan suatu pondasi atau dasar dari suatu agama, apabila suatu umat
memiliki iman yang kuat maka hamper tidak mungkin jika umat tersebut akan
terjerumus ke suatu perbuatan dosa, karena pondasi mereka di dalam suatu
agama sudah cukup kuat. Iman, Islam dan Ihsan merupakan tiga kata yang
maknanya saling berkaitan.

Diutusnya nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT salah satunya adalah
untuk memperbaiki akhlaq manusia agar kembali kepada jalan kebenaran serta
jalan yang diridha’i oleh Allah SWT. Keimanan kepada Allah SWT harus
terus menerus ditingkatkan agar semakin kokoh dan kuat, karena ketika
keimanan terkikis akan menyeret kita kepada kufur. Kekufuran apabila
tertanam dalam jiwa manusia akan menjerumuskan kepada perbuatan yang
menyimpang yaitu syirik dan nifaq. Karena itu, dalam makalah ini kami
mencoba membahasnya agar kita bias menjaga iman dan menjauh dari
kekufuran.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dasar tentang iman, islam, ihsan, kufur, nifaq, dan syirik?
2. Apa saja macam-macam kufur, nifaq, dan syirik?
3. Apa hubungan antara iman, sslam, dan shsan?

2
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari iman, islam, ihsan, kufur, nifaq, dan
syirik.
2. Untuk mengetahui macam-macam kufur, nifaq, dan syirik.
3. Untuk mengetahui hubngan antara iman, islam, dan ihsan

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Dasar Iman, Islam, Ihsan, Kufur, Nifaq, dan Syirik


1. Iman
Pengertian iman secara bahasa yaitu amana, yu’minu, imanan dan
iman yang berarti percaya atau membenarkan. Sedagkan pengertian iman
secara istilah adalah kepercayaan (diyakini) di dalam hati,diikrarkan
(diucapkan) dengan lidah, dan dilaksanakan dengan anggota badan
(perbuatan) (Salam, 2013).
Dalam konsep imanterbagi menjadi tiga golongan, yaitu (Salam,
2013) :
a. Iman adalah tasdiq dalam hati atas wujud Allah dan keberadaan Nabi
atau Rasul Allah
Menurut konsep ini iman adalah urusanhati, sertatidak Nampak dari
luar. Jika seseprang membenarkan atau meyakini adanya Allah SWT
maka ia dapat disebut telah berimankepada Allah meskipun
perbuatannya tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Konsep iman ini
banyak dianut oleh madzhab mujriah yang sebagian besar penganutnya
adalah Jahamiyah dan sebagian kecil Asy’ariyah. Menurut paham
diatas bahwa keimanan seseorang tidak ada sangkut pautnya dengan
perbuatan, dikarenakan hati adalah sesuatu yang tersembunyi sehingga
tidak dapatdisangkut pautkan dengan keadaan yang zhahir.
b. Iman adalah tasdiq didalam hati dan diikrarkan dengan lidah.
Dengan demikian seseorang dapat digolonglan beriman apabila
mempercayai dalam hati keberadaan Allah SWT dan mengikrarkan
(mengucapkan) dengan lidah. Disini antara keimanandan perbuatan
mansia tidak ada hubungannya. Yang terpenting dalam iman adalah
tasdiq dalam hati dan diikrarkan dengan lisan konsep ini dianut oleh
sebagian pengikut Mahmudiyah.
c. Iman adalah tasdiq dalam hati dan diikrarkan dengan lisan serta
dibuktikan dengan perbuatan

4
Disini diterangkan bahwa antara imandan perbuatan terdapat
keterkaitan karena keiman seseorang ditentukan pula leh amal
perbuatannya konsep iman ini dianut olehMu’tazilah dan Khawarij.

2. Islam
Agama Islam dalam istilah Arab disebut Dinul Islam. Kata Dinul
Islam tersusun dari dua kata yakni Din dan Islam Arti kata din baik secara
etimologis maupun terminologis sudah dijelaskan di depan. Sedangkan
kata ‘Islam’ secara etimologis berasal dari akar kata kerja ‘salima’ yang
berarti selamat, damai, dan sejahtera, lalu muncul kata ‘salam’ dan
‘salamah’. Dari ‘salima’ muncul kata ‘aslama’ yang artinya
menyelamatkan, mendamaikan, dan mensejahterakan. Kata ‘aslama’ juga
berarti menyerah, tunduk, atau patuh. Dari kata ‘salima’ juga muncul
beberapa kata turunan yang lain, di antaranya adalah kata ‘salam’ dan
‘salamah’ artinya keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, dan
penghormatan, ‘taslim’ artinya penyerahan, penerimaan, dan pengakuan,
‘silm’ artinya yang berdamai, damai, ‘salam’ artinya kedamaian,
ketenteraman, dan hormat, ‘sullam’ artinya tangga, ‘istislam’ artinya
ketundukan, penyerahan diri, serta ‘muslim’ dan ‘muslimah’ artinya orang
yang beragama Islam laki-laki atau perempuan (Al-fauzan, 2010).
Harun Nasution mengatakan bahwa Islam menurut istilah adalah
agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat
manusia melalui Nabi Muhammad saw. sebagai rasul. Islam pada
hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi
tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia. Sumber dari ajaran-
ajaran yang mengandung berbagai aspek itu adalah al-Qur’an dan Hadis
(Nasution, 1979).
Untuk mengetahui dasar-dasar Islam secara singkat dapat
dikemukakan beberapa ayat al-Quran yang dapat memberikan gambaran
makna dan pemahaman tentang Islam. Jika kita mengkaji al-Quran, dapat
ditemukan bahwa kata Islam disebut sebanyak 8 kali dalam al-Quran. Dari

5
8 ayat ini sebenarnya ada empat dasar yang dapat menjelaskan pemahaman
kita tentang Islam, yaitu : (Ibn Kathir, M. A. 2011).
1. Islam adalah agama yang benar di sisi Allah. Maksudnya adalah
bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang diakui
kebenarannya oleh Allah. Allah hanya menurunkan satu agama
kepada umat manusia sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga Nabi
Muhammad saw., karena itulah maka Allah hanya mengakui Islam
sebagai agama yang benar. Semua agama yang diajarkan oleh nabi-
nabi sebelum Muhammad juga disebut Islam. Ketika Allah
menurunkan Islam kepada Nabi Muhammad saw, agama-agama Islam
sebelumnya sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada, ajarannya sudah
mulai berubah dari prinsip utamanya, tauhid. Karena itulah, sejak
diutusnya Nabi Muhammad saw. Allah hanya mengakui satu agama
Islam, yakni Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad
saw. Hal ini ditegaskan dalam alQuran sebagai berikut: “Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-
orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85).
2. Islam adalah agama yang sempurna Maksudnya adalah bahwa Islam
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah agama yang paling
sempurna, karena ajarannya meliputi semua ajaran yang pernah
diturunkan oleh Allah kepada para nabi sebelum Muhammad. Ajaran
agama Islam juga meliputi berbagai aspek kehidupan manusia, mulai
aspek ibadah dan muamalah hingga aspek-aspek lainnya.
Kesempurnaan Islam ini ditegaskan dalam al-Quranyang artinya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridoi Islam itu jadi
agama bagimu.” (QS. al-Maidah [5]: 3)
3. Islam adalah agama hidayah Allah Maksudanya adalah bahwa orang
yang memeluk atau menganur agama Islam bukan semata-mata atas
kehendaknya sendiri, melainkan atas petunjuk atau hidayah dari Allah
Swt. Sebaliknya, orang yang tidak dapat memeluk Islam juga bukan

6
karena semata-mata pengaruh orang lain, tetapi karena Allah memang
sengaja menyesatkan orang tersebut. Allah Swt. Berfirman yang
artinya: “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk
(memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah
kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan
siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. al-An’am [6]:
125). Di samping empat ayat di atas, kata Islam juga disebutkan dalam
empat ayat al-Quran lainnya, yakni QS. al-Taubah (9): 74, QS. al-
Zumar (39): 22, QS. al-Hujurat(49): 17, dan QS. al-Shaf (61): 7. Dari
empat ayat ini dapat diketahui bahwa hidayah Islam itu merupakan
karunia dan nikmat dari Allah Swt. kepada siapa yang dikehendaki-
Nya.
Sebagai agama terakhir, Islam (din al-Islam) memiliki kedudukan
yang istimewa dari agama samawi sebelumnya, yaitu: (Al-Qurtubi. 1964).
1. Penyempurna dari agama samawiyah sebelum Nabi Muhammad saw.
yang terbatas oleh ruang dan waktu serta pengikut tertentu. Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw. bersifat universal tanpa terbatas
oleh ruang dan waktu, untuk siapa saja, kapan saja dan di manapun
manusia berada. Dalam al-Quran ditegaskan: Artinya: “Muhammad itu
bukan sekali-kali bapak dari seorang lelaki di antara kamu, tetapi dia
adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. alAhzab (33): 40).
2. Islam mengontrol ajaran-ajaran pokok dari agama samawi yang ada
sekarang ini. Agama samawi yang masih ada hingga sekarang (Yahudi
dan Nasrani) sudah mengalami perubahan yang cukup berarti, terutama
menyangkut konsep ketuhanannya. Hal ini ditegaskan dalam QS. at-
Taubah (9): 30:
3. Islam mengakui semua para nabi/rasul terdahulu sebelum Nabi
Muhammad tanpa membedakan satu sama lain karena ajarannya sama,
yaitu tauhid. Yang membedakan di antara mereka adalah dalam hal
pelaksanaan hukum (syariah). Terkait dengan ini Allah Swt.

7
Menegaskan: “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun
(dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya dengan menyatakan: Kami
dengar dan taat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 285).
Ibadah yang terangkum di dalam rukun Islam juga menjadi dasar
yang menjadi medium perhubungan antara mahkluk dan Khaliknya. Secara
sistematiknya, seorang muslim diperintahkan untuk sentiasa berhubung
dengan Allah SWT pada setiap saat dan ketika, tempat dan ruang yang dapat
memenuhi setiap detik kehidupannya. Ini kerana kelima-lima ibadah ini
telah tersusun bermula dengan syahadah, solat lima waktu yang wajib
dikerjakan sehari semalam lima kali, zakat setiap tahun, puasa di bulan
Ramadhan selama sebulan dan menunaikan haji sekurang-kurangnya
seumur hidup sekali tertakluk kepada kemampuan sesorang (Masroom
Mohd Nasir,dkk. 2013).

3. Ihsan
Ihsan berasal dari bahasa yang artinya berbuat baik/ kebaikan.
Sedangkan menurut istilah yaitu perbuatan baik yang dilakukan oleh
seseorang dengan niat hati beribadah kepada Allah SWT. Para ulama
menggolongkan Ihsan menjadi 4 bagian yaitu :
a. Ihsan kepada Allah
b. Ihsan kepada diri sendiri
c. Ihsan kepada sesama manusia
d. Ihsan bagi sesama makhluk

Menurut pengertian ihsan seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah


SAW menerusi hadis Abu Hurairah ini, iaitu seseorang menyembah Allah
SWT seolah-olah dia melihatNya. Jika dia tidak berupaya untuk melihat
Allah SWT, maka sesungguhnya Allah SWT melihat segala amal
perbuatannya. Menyembah Allah SWT bererti mengabdikan diri
kepadanya dengan ibadah menurut kaedah dan cara yang sebaik-baiknya
sama ada pada zahir (perbuatan lahiriah) atau batin iaitu ikhlas pada niat.

Menurut (Ibn Manzur, t.th: 13/114), lawan perkataan ihsan adalah


keburukan. Dalam konteks ini, ihsan hendaklah dilakukan dengan berserta

8
rasa keihklasan iaitu syarat kepada sahnya iman dan Islam. Setiap amal
yang tidak ikhlas, tidak dinamakan ihsan dan keimanan yang tidak
disertakan dengan ikhlas, belum dinamakan beriman (Al-Qurtubi. 1964).

Ibadah yang dilaksanakan menurut hakikat ihsan hanya ditumpukan


dan dikeranakan oleh Allah SWT semata-mata. Tidak disertakan niat
kerana tujuan-tujuan lain atau untuk sesyatu yang lain. Kesan dari sikap
ihsan ini menyebabkan seseorang merasa lebih bertanggungjawab di atas
ibadahnya sehingga dia melakukan sesuatu ibadah dengan penuh kejujuran
sama ada ketika berada di khalayak ramai atau ketika bersendirian. Ini
kerana dia merasa yakin bahawa segala yang dikerjakannya itu dilihat oleh
Allah SWT yang menyebabkannya merasa malu jika ibadah yang
dilakukannya itu sekadar melepaskan tanggungjawab di dunia sahaja
(Mustafa, 2009: 112-113).

Menurut Imam Al-Nawawi, Rasullulah SAW memberikan


penjelasan mengenai ihsan dalam beribadah dengan tujuan agar setiap
muslim melakukan ibadah dengan penuh ikhlas, patuh, penuh ketundukan
dan khusyu’ apabila seolah-oleh melihat Allah SWT di hadapan mereka.
Perasan melihat Allah SWT dapat menghasilkan rasa kehambaan dan
bersungguh-sungguh dalam beribadah serta menunaikan hak-hakNya
dengan tujuan untuk menghampirkan diri kepadaNya (Al-Qardhawi, Y.
1995).

Manakala di dalam Al-Quran, terdapat banyak ayat yang di sebut


oleh Allah SWT mengenai ihsan yaitu pada surah Al-Baqarah ayat 178 dan
229, ayat 100 surah Taubah, ayat 9 surah Al-Nahl dan surah Al-Rahman
pada ayat 55 (dua kali). Bagi perkataan ihsanan , juga terdapat sebanyak
enam tempat iaitu pada ayat 83 surah Al-Baqarah, ayat 36 dan 62 surah Al-
Nisa’, ayat 151 surah Al-An’am, ayat 23 surah Al-Isra’ dan ayat 15 surah
Al-Ahqaf. Merujuk kepada orang yang melakukan kebaikan terdapat
sekurang-kurangnya 28 tempat telah digunakan untuk menyebutkan sifat
atau ciri-ciri orang yang melakukan ihsan (Al-Qardhawi, Y. 1995).

9
Menurut (Al-Qurtubi, 1964: 10/167), ihsan di dalam ayat di atas
membawa pengertian membuat baik kepada diri dan orang lain. Ini kerana
Allah SWT menyukai hamba-hambaNya yang saling melakukan kebaikan
di antara mereka. Allah SWT juga Maha Kaya dalam memberi kebaikan
kepada makkluk-makhlukNya. Namun demikian, ihsan yang dimaksudkan
di dalam hadis Jibril AS adalah kesungguhan di dalam ibadah dan
menunaikannya dengan sempurna.

Jika diperhatikan, ayat-ayat di dalam Al-Quran yang menyebut


tentang ihsan adalah bertemakan kepada berbuat baik dalam konteks yang
sangat luas. Al-Qurtubi menjelaskan bahawa ketika ayat 90 surah Al-Nahl
diturunkan dan dibacakan kepada Ali bin Abi Talib, beliau lantas berkata
bahawa “Demi Allah, sesungguhnya Dia mengutusan Rasulullah SAW
dengan akhlak yang mulia.” Ini mengisyaratkan bahawa ihsan mempunyai
pengertian yang amat luas tetapi termasuk di dalam lingkungan berbuat
baik dan melakukan kebaikan (Al-Qurtubi. 1964).

Maka dapat difahami di sini dua perkara. Pertama, ihsan dalam


ibadah adalah melakukan sesuatu ibadah dengan penuh ikhlas, bersungguh
dan memenuhi rukun, cara, kaedah yang telah ditetapkan oleh syarak.
Kedua, ihsan dalam makna yang lebih luas adalah melakukan kebaikan
kepada diri dan orang lain yang merentasi kesempurnaan dan kemuliaan
akhlak seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.

4. Kufur
Secara bahasa atau etimologi kufur merupakan antonim dari iman.
Kata kufur berasal dari kata kafara-yakfuru, pada dasarnya kata kufur
bermakna taghthiyyah (menutupi). Menurut Ibnu Mandzur,
kata kufur aslinya bermakna taghthiyyatusy syai’ (menutup sesuatu sampai
tidah tampak). Al-Laits berkata, “Orang kafir dinamakan kafir karena
kekafiran telah menutupi hatinya. “Ibnu Sikkit bertutur,” Orang kafir
dinamakan kafir karena ia menyembunyikan (menutupi) nikmat Allah.”
Sedangkan pengertian secara terminology adalah ingkar terhadap
Allah SWT baik dengan cara mendustakan-Nya maupun tidak. Kufur

10
dengan cara mendustakan Allah berarti menolak keberadaan Allah SWT
sedangkan kufur yang tidak mendustakan Allah berarti tidak menolak
keberadaan Allah akan tetapi tidak mengimani Allah SWT (Nina, 2005).

5. Nifaq
Nifaq secara bahasa berasal dari kata naafaqa – yunaafiqu –
nifaaqan wa munaafaqan yang diambil dari kata an-naafiqaa’, yaitu salah
satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari
sarangannya, dimana jika ia dicari dari lubang yang satu, maka ia akan
keluar dari lubang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata an-
nafaqa (nafaq) yaitu lubang tempat bersembunyi (Salam, 2013).
Secara terminologi pengertian nifaq adalah memperlihatkan atau
menunjukkan Islam serta kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan
kejahatan atau bisa disebut bahwa seseorang tersebut memperlihatkan
sesuatu baik berupa ucapan, tingkah laku yang berlainan dengan yang ada
dihatinya. Sehingga orang-orang mempercayai bahwa ia adalah seseorang
yang baik, padahal apayang ditunjukkannya itu bertentangan dengan apa
yang ada di dalam hatinya atau isihatinya. Orang yang berbuat nifaq dapat
disebut juga sebagai orang yang munafik karenamereka memiliki tanda
tanda orang munafik (Nina, 2005).

6. Syirik
Pengertian syirik secara etimologi atau secara bahasa berasal dari
kata “syarika” yang artinya berserikat atau bersekutu. Sedangkan
pengertian syirik menurut istilah atau secara terminologi adalah
mempersekutukan Allah SWT dengan yang lain atau menyamakan Allah
SWT dengan ciptaan-Nya atau makhluk-Nya baik dzat, sifat, maupun
kuasa-Nya. Syirik adalah suatu perbuatan yang amat dibenci Allah SWT,
dan dikategorikan sebagai dosa besar sehingga pelakunya sudah tidak dapat
diampuni olehAllah SWT (Nina, 2005).
Syirik yang diperbuat baik secara sengaja maupun tidak sengaja
tetap merupakandosa besar yang tidak diampuni, syirik secara sengaja

11
merupakan syirik yang sengajadilakukan, mereka memang
menggantungkan diri kepada yang selain Allah SWT sepertikekuatan
ghaib, benda-benda pusaka,dsb. Sedangkan syirik tidak sengaja
merupakansyirik yang diperbuat oleh orang-orang yang mengakui bahwa
mereka beriman kepadaAllah SWT akan tetapi mereka tetap meyakini akan
kekuasaan lain (Subhani, 1996).

B. Macam-macam Kufur, Nifaq, dan Syirik


1. Kufur
Macam-macam kufur menurut (Karim, 1992) dibagi menjadi 2
macam yaitu:
1. Kufur besar adalah kufur yang menyebabkan seseorang keluar dari
agama Islam. Terkadang kufur besar terjadi dengan ucapan atau
perbuatan yangsangat bertolak belakang dengan iman seperti
mencelaAllah danRasul-Nya atau menginjak Al-Quran dalam keadaan
tahu kalua itu adalah Al-Quran dan tidak terpaksa terpaksa. Kufur besar
dibedakan menjadi 5 macam, yaitu (Nashir, 1992):
a. Kufur dengan cara mendustakan, yaitu dengan tidak mempercayai
Al-Qur’an dan Al-Hadits
b. Kufur karena enggan dan sombong, padahal sebenarnya ia percaya
akantetapi tidak ada ketundukan pada kebenaran meskipun ia
mengakui kebenaran tersebut
c. Kufur dengan cara ragu-ragu terhadap adanya hari Kiamat
d. Kufur karena berpaling terhadap ajaran agama islam
e. Kufur karena nifaq yaitu memperlihatkan kepercayaan terhadap
islamdengan lisan, akan tetapi tidak mengakuinya dalam hati.
2. Kufur kecil adalah kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari
agama Islam (Al-fauzan, 2010). Kufur kecil yaitu setiap perbuatan
maksiat yang oleh syara’ dikategorikan perbuatan kufur, tetapi orang
yang bersangkutan masih disebut sebagai seorang mukmin (Hielmy,
2006).

Dari pengertian kufur besar dan kufur kecil diatas, juga dapat

12
dijelaskan tentang perbedaan antara kufur besar dan kufur kecil, yaitu:

 Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan


menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak
menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak
menghapuskan (pahala)nya sesuai dengan kadar kekufurannya, dan
pelakunya tetap dihadapkan dengan ancaman.

 Kufur besar menjadikan pelakunya kekal dalam neraka, sedangkan


kufur kecil, jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di
dalamnya, dan bisa saja Allah memberikan ampunan kepada
pelakunya, sehingga ia tiada masuk neraka sama sekali.

 Kufur besar menjadikan halal darah dan harta pelakunya, sedangkan


kufur kecil tidak demikian.

 Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yang sesungguhnya,


antara pelakunya dengan orang-orang mukmin. Orang-orang mukmin
tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, meskipun ia adalah
keluarga terdekat. Adapun kufur kecil, maka ia tidak melarang secara
mutlak adanya kesetiaan, tetapi pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan
sesuai dengan kadar keimanannya, dan dibenci serta dimusuhi sesuai
dengan kemaksiatannya.

2. Nifaq
Macam-macam nifaq menurut (Hielmy, 2006) dibagi menjadi 2 macam
yaitu:
a. Nifaq I’tiqadi (keyakinan) merupakan nifaq besar yaitu seseorang yang
menyembunyikan keyakinan kafir lalu menampakkan keislaman,
seolah-olah ia beriman padahal dalamhatinya menyimpan kekafiran.
Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan bila berada
di dalam kerak neraka. Nifaq I’tiqadi ada 4 macam, diantaranya:
1) Mendustakan Rasululah SAW atau mendustakan sebagian dari
apa yang beliau bawa

13
2) Membenci Rasulullah SAW atau membenci sebagian apa yang
beliau bawa
3) Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam
4) Tidak senang dengan kemenagan Islam
b. Nifaq amali (perbuatan) yaitu nifaq yang bersifat amalan, bentuknya
bisa berupa perbuatan yang biasanya dilakukan oleh orang munafik
yang termasuk di dalam tanda-tanda orang munafik yang telah
disebutkan akan tetapi mereka masih beriman, contoh perbuatan dusta,
ingkar janji, serta khianat.

Sedangkan perbedaan dari nifaq besar dan nifaq kecil, yaitu (Wahab,
2004):
1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq
kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
2. Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin
dalam hal keyakinan, sedangkan nifaq kecil adalah berbedanya
yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan bukan dalam
hal keyakinan.
3. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang Mukmin, sedangkan nifaq kecil
bisa terjadi dari seorang Mukmin.
4. Pada umumnya, pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainya pun
bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya
taubatnya di hadapan hakim. Lain halnya dengan nifaq kecil,
pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah, sehingga Allah
menerima taubatnya.
Ciri-ciri utama nifaq atau munafik tercantum dalam hadits nabi
Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa: “Tanda orang orang
munafik itu ada 3 keadaan. Pertama, apabila berkata kata ia berdusta.
Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila di berikan
amanah (kepercayaan) dia menghianatinya.” (HR. Buhari dan
Muslim).

14
3. Syirik
Macam-macam syirik menurut (Subhani, 1996) dibagi menjadi 2
macam yaitu:
a. Syirik Akbar atau syirik besar yaitu syirik yang tidak akan mendapat
ampunan dari Allah SWT dan bisa mengeluarkan pelakunya dari agama
islam karena memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah.
Syirik akbar dibagi menjadi dua :
- Zahirun Jali (tampak nyata) yakni perbuatankepada tuhan-
tuhanselain Allah atau baik tuhan yang berbentuk berhala,
binatang, bulang, matahari, batu, gunung, pohon besar, sapi, ular,
dan sebagainya. Demikian pula menyebah makhluk-makhluk gaib
seperti setan, jin, dan malaikat.
- Baithinun Khafi (tersembunyi) seperti meminta pertologan kepada
orang yang telah meninggal.
b. Syirik Asghar atau syirik kecil merupakan perbuatan yang termasuk
dosa besar akan tetapi masih berkesempatan mendapat ampunan dari
Allah SWT apabila pelakunya melakukan taubat, contoh dari syirik
kecil ini termasuk membaca mantera, memakai azimat,meramal, dsb.

C. Hubungan antara Iman, Islam, dan Ihsan


Sebuah ayat suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui
mengakui telah beriman tetapi Nabi diperintahkan untuk mengatakan kepada
mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-islām, sebab
iman belum masuk ke dalam hati mereka (Q 49:14). Jadi, iman lebih mendalam
daripada Islam, sebab dalam konteks firman itu, kaum Arab Badui tersebut
barulah tunduk kepada Nabi secara lahiriah, dan itulah makna kebahasaan
perkataan “islām”, yaitu “tunduk” atau “menyerah”. Tentang hadis yang
terkenal yang menggambarkan pengertian masing-masing: islām, īmān, dan
ihsān, Ibn Taimiyah menjelaskan bahwa agama memang terdiri dari tiga unsur:
iman, islam, dan ihsan, yang dalam ketiga unsur itu terselip makna
kejenjangan: orang mulai dengan Islam, berkembang ke arah iman, dan
memuncak dalam ihsan. Ibn Taimiyah menghubungkan pengertian ini dengan

15
firman Allah : “Kemudian Kami (Allah) wariskan Kitab Suci pada kalangan
para hamba Kami yang Kami pilih, maka dari mereka ada yang (masih) berbuat
zalim, dari mereka ada yang tingkat pertengahan (muqtashid), dan dari mereka
ada yang bergegas dengan berbagai kebijakan dengan izin Allah,” (Q 35:32)
(Ibn Kathir, M. A. 2011).
Dalam telaah lebih lanjut oleh para ahli, ternyata pengertian antara ketiga
istilah itu terkait satu dengan yang lain, bahkan tumpang tindih sehingga setiap
satu dari ketiga istilah itu mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dalam
iman terdapat Islam dan ihsan, dalam Islam terdapat iman dan ihsan, dan dalam
ihsan terdapat iman dan Islam. Dari sudut pengertian inilah kita melihat iman,
Islam, dan ihsan sebagai trilogi ajaran Ilahi (Ibn Kathir, M. A. 2011).
Hadits riwayat Abu Hurairah , ia berkata ; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam pada suatu hari muncul bersama para sahabat, lalu datanglah orang
asing yang kemudian bertanya: “Apakah iman itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab: “Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-
malaikat-Nya, percaya akan bertemu dengan-Nya, beriman kepada rasul-rasul-
Nya, dan beriman kepada hari kebangkitan.” Orang asing itu berkata: “Apakah
Islam itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Islam adalah kamu
beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun,
kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di
bulan Ramadhan”. itu berkata: “Apakah ihsan itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab: “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya
dan andaipun kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu”. (Shahih
al-Bukhari no. 48).
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan: Di dalam (penggalan)
hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan Ihsan semuanya diberi
nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama Islam yang
kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan (Ibn Kathir, M. A.
2011).

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Iman adalah tasdiq dalam hati seseorang yang diikrarkan dengan lidah
serta dibuktkan dengan perbuatan dan meyakini adanya Allah SWT dan
keberedaan Nabi dan Rasul-Nya. Kufur adalah ingkar terhadap Allah
SWT baik dengan cara mendustakannya maupun tidak dengan cara
melakukan perbuatan yang telah dilarang oleh agama Islam. Nifaq
adalah memperlihatkan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran
sama seperti halnya munafik. Dengan begitu orangakan menganggap
baik tetapi di dalam dirinya menyembnyikan kekufuran yangtidak sesuai
dengan apa yang ia perlihatkan.Syirik adalah mempersekutukan
Allahdengan yang lain atau menyamakan Allah dengan ciptaan Allah
atau makhluknya baik dzat, sifat ataupun kuasa-
Nya. Dan itu termasuk dosa besar sehingga pelakunya tidak dapat
diampuni oleh Allah SWT.
2. a) Macam-macam kufur
- Kufur Akbar atau Kufur Besar
- Kufur Kecil.
b) Macam-macam Nifaq
- Nifaq I’tiqadi
- Nifaq amali
c) Macam-macam Syirik
- Syirik Akbar
- Syirik Asghar.
3. Iman, islam, dan ihsan merupakan suatu aspek yang membentuk suatu
kesatuan yang saling berkaitan satu dengan lainnya, seperti contoh iman
sebagai pondasi rumah, iman sebagai dinding dan ihsan sebagai atap.
Jika salah satu ada yang hilang maka rumah tersebut tidak akan
sempurna begitu jug a dalam diriseseorang, jika salah satu dari ketiga
komponen ada yang hilang maka orangtersebut tidak akan merasakan

17
dalam hatinya, seseorang yang menjaga baik rukun islamnya akan
berhubungan baik dengan Tuhannya begitu juga sebaliknya.

B. Saran
Dalam makalah ini telah kami menjelaskan pengertian iman, islam,
ihsan, kufur, nifaq, dan syirik. Serta menjelaskan hubungan antara iman,
islam dan ihsan. Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih banyak
kekurangan dan perlu perbaikan terutama dari dosen pengampu dalam mata
kuliah Teosofi untuk memberikan arahan dan bimbingan sehingga
permasalahan yang dibahas dalam makalah ini bisa tercapai dan dapat
dipahami, Kepada teman-teman juga kami mohon saran dan kritikannya
sehingga apa yang kurang semoga menjadi bahan evaluasi bagi kami yang
telah menyusun makalah ini.

18
DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari. 1987. Sahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.


Al-fauzan, Shalih bin. 2010. Kitab Tauhid Jilid 3. Jakarta: Darul haq.
Al-Qardhawi, Y. 1995. Al-Ibadah Fi Al-Islam. Kaherah: Maktabah Wahbah.

Al-Qurtubi. 1964. Tafsir Al-Qurtubi. Kaherah: Dar Al-Kutub Al-Misriah.

Hielmy, Irfan. 2006. Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Ciamis: DPD-MUI.

Ibn Kathir, M. A. 2011. Tafsir Ibn Katsir (Abdul Ghoffar & Abu Ihsan, terj).
Jakarta: Pustaka Imam Syafie.
Karim, Nashir Ibn Abdul. 1992. Prinsip-prinsip Aqidah. Jakarta: Gema Insani
Press.
Masroom Mohd Nasir, Siti Norlina Muhammad, & Siti Aisyah Panatik. 2013. Iman,
Islam dan Ihsan: Kaitannya dengan Kesihatan Jiwa. Dlm Semianar
Pendidikan & Penyelidikan Islam Kali Pertama (pp. 582–590). Ðohor Bahru:
Assosiation of Islamic Education Scholars.

Mustafa, A. R. 2009. Hadis Empat Puluh. Shah Alam: Dewan Pustaka Fajar.
Nasution, Harun. 1979. Islam di Tinjau dari Berbagai Aspeknya. Jilid I Cet. V.
Jakarta: UI Press.

Nina M. Armando. 2005. Ensiklopedia Islam Jilid 1. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van
Houve.

Rusdi, Ahmad. 2016. Syukur Dalam Psikologi Islam Dan Konstruksi Alat Ukurnya.
Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris. Vol. 2.,
No. 2.

Salam, Abu Isa Abdullah bin. 2013. Ilmu Tauhid. Yogyakarta: Pustaka Muslim.

Subhani, Ja’far. 1996. Tauhid dan Syirik. Bandung: Mizan.

Syafril, M. 2016. Nifaq Dalam Persfektif Al-Qur’an (Kajian Tafsir Tematik).


Jurnal Syahdah. Volume V, No 1.

Wahab, IMIA. 2004. The book of Tawheed (Tauhid). Yogyakarta: Mitra Pustaka.

19
W. Hussein Azmi, A. K. (1994). Kaunseling dan Psikologi Menurut Islam. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa & Pustaka.

20