Anda di halaman 1dari 14

TUGAS AKHIR MATA KULIAH POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

Dosen Pengampu : Yohanes Sulaiman, Ph.D

Nama : Riyadhi Stiana

NIM : 6211161165

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Jendral Achmad Yani

Cimahi 2019
Pengaruh Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia Terhadap Australia Pasca

Pengakuan Yerusalem Barat Sebagai Ibukota Israel Oleh Australia.

Riyadhi Stiana1

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia terhadap

Australia pasca Australia mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel. Metode yang

digunakan untuk membuat tulisan ini yaitu dengan konsep konstruktivisme sosial yang disusun

dari pengetahuan bersama dimana negara saling mempercayai untuk menyelesaikan perselisihan

tanpa perang2. Meskipun Indonesia dikenal bersahabat dengan Australia tetapi Indonesia yang

sedaridulu memperjuangkan Palestina tidak setuju dengan pernyataan Australia yang mengakui

yerusalem barat sebagai ibukota Israel.

Kata Kunci: Grand Strategy, Konstruktivisme, Indonesia, Australia, Amerika, Yerusalem,

Palestina, Israel.

Abstract

This paper aims to analyze Indonesian Foreign Policy towards Australia after Australia

recognized West Jerusalem as the capital of Israel. The method used to make this paper is the

social constructivistsm concept which is composed of shared knowledge where the state trusts

each other to resolve disputes without war. Although Indonesia is known to be friendly with

Australia, Indonesia which has previously fought for Palestine disagrees with a statement from

Australia that recognizes West Jerusalem as the capital of Israel. Keywords : Grand Strategy,

Konstruktivism, Indonesia, Australia, America, Jerussalem, Palestine, Israel.

1
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UNJANI. Email : stianariyadhi@gmail.com
2
Wendt (1992: 73), konsep kontruktivis Wendt tentang struktur sosial, Pengantar Studi Hubungan Internasional
Teori dan Pendekatan Edisi Kelima.
Latar Belakang

Amerika Serikat yang pertama kali mengakui Yerusalem sebagai Ibukota Israel pada

Kamis 7 Desember 20173 dan disusul dengan Pengakuan Australia tentang Yerusalem Barat

sebagai Ibukota Israel pada tanggal 15 Desember 20184 yang menimbulkan kecaman dan protes

dari berbagai negara pendukung Palestina dan negara mayoritas Islam dunia termasuk Indonesia,

hal ini yang membuat pandangan strategy terhadap Amerika Serikat khusunya dengan Australia

sebagai negara tetangga Indonesia menjadi memanas kembali.

Sebelumnya hubungan diplomatic antara Indonesia dan Australia pernah mempunyai

catatan merah yang sempat melukai hubungan diplomatic kedua negara ini, salah satunya yaitu

seperti peristiwa penyadapan yang di lakukan Australia terhadap mantan Preseiden RI ke 6

Susilo Bambang Yudhoyono, lalu pelaksanaan eksekusi mati terhadap gombong narkoba asal

warga negara Australia yang tertangkap di bali (Bali Nine), hingga kabar bahwa Australia bayar

kapal untuk bawa imigran ke indnonesia5. Namun untuk kasus ini Australia mempunyai

pandangan tersendiri tentang yerusalem, yaitu Australia tetap mendukung palestina sebagai

negara merdeka dengan yerusalem bagian timur sebagai ibukotanya dan yerusalem barat sebagai

ibokota israel6. Untuk hal ini baik Amerika Serikat dan Australia sama-sama mendapatkan

kecaman dan protes dari masyarakat Indonesia, seperti pernyataan yang di muat dalam berita

online BBC Indonesia pada (7/12) Mentri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menegaskan “Saya

3
Akhmad Mauwal Hasan, Trump Nekat Mengakui Yerusalem Sebagai Ibukota Israel. (Diakses dari : Tirto.id Tanggal
31 Desember 2018)
4
BBC News Indonesia, Australia mengakui Yerusalem barat sebagai ibukota Israel, Indonesia meminta agar negara
Palestina segera diakui, https://www.bbc.com/indonesia/dunia-46567119 (Diakses pada tanggal 31 Desember
2018)
5
Liputan6.com,3insidenyang“panaskan”hubunganIndonesia-Australia,
https://www.liputan6.com/global/read/2819673/3-insiden-yang-panaskan-hubungan-indonesia-australia (Diakses
pada tanggal 31 Desember 2018)
6
Anton Suhartono, Perjalanan Australia Akui Yerusalem Barat Sebagai Ibukota Israel,
https://www.inews.id/news/internasional/perjalanan-australia-akui-yerusalem-barat-sebagai-ibu-kota-
israel/398601 diakses pada tanggal 1 Januari 2019
berdiri di sini, Mengenakan selendang Palestina untuk menunjukan komitmen kuat pemerintah

Indonesia, rakyat Indonesia, untuk selalu bersama rakyat Palestina, untuk hak-hak mereka7.”

Kebijikan Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas aktif membuat Indonesia dalam

posisi yang rumit pada kasus ini dan kemungkinan dengan kondisi diplomatic yang saat ini

kembali memanas menjadi status waspada antar kedua negara yaitu Australia-Amerika dan

Indonesia kemungkinan akan ada beberapa sikap atau strategy politik yang berubah terhadap

sudut pandang strategy image.

Metode Penelitian

Metode Penilitian yang digunakan pada tulisan ini adalah dengan metode penelitian

sosial deskriptif kualitatif dengan melihat dan menganalisis presentase yang ada dari sumber-

sumber yang berasal dari berbagai tingkatan studi ilmiah seperti Artikel, Jurnal, Media, Internet,

dan berbagai buku yang bersangkutan, kemudian di pahami sebagai penstudi Hubungan

Internasional.

Dalam studi Hubungan Internasional para studi dibiasakan untuk mengkritisi sesuatu

yang di rasa perlu untuk dikritisi, seperti halnya saat membuat tulisan ini selain dari sumber

berbagai tingkat studi juga menggunakan opini untuk mengkritisi dan memahami dalam ruang

lingkup Hubungan Internasional.

Grand Strategy Indonesia dan Australia Sebagai Negara Tetangga

Masing-masing negara pasti memiliki Grand Strategy nya sendiri, seperti halnya

Indonesia dan Australia, Grand Strategy ini digunakan untuk menghadapi suatu ancaman atau

7
BBC News Indonesia, Yerusalem ‘Ibu kota Israel’: Presiden Jokowi dan Para pemimpin dunia kutuk keputusan
Trump https://www.bbc.com/indonesia/dunia-42261446 di akses pada tanggal 1 Januari 2019
kondisi yang sifatnya mengancam8 sehingga nantinya akan menghasilkan tindakan untuk

meminalisir atau menekan ancaman tersebut yang kemudian tindakan tersebut lahir sebagai

Grand Strategy suatu negara. Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia yaitu Politik Bebas Aktif

itu juga merupakan Grand Strategy milik indonesia yang bertujuan untuk bersikap netral kepada

semua negara dan sebisa mungkin membuka peluang kerjasama dengan berbagai negara seperti

Australia, Indonesia telah melakukan banyak kerjasama dengan Australia di berbagai bidang

seperti ekonomi, politik, sosial, dan lainnya. Hal ini juga tidak terlepas dari kondisi letak

geografis Indonesia dan Australia yang sangat berdekatan sehingga di manfaatkan oleh Indonesia

dan Australia untuk membuka hubungan kerjasama bilateral yang baik. Kebijakan Politik Luar

Negeri Indonesia bebas aktif ini yang bersifat netral membuat Indonesia tidak memiliki aliansi

militer dengan negara manapun dan juga Indonesia tidak mempunyai pangkalan udara militer

dari negara manapun yang berada di Indonesia.

Grand Strategy Australia yang lebih berpihak kepada Amerika Serikat di latar

belakangi oleh dominasi kekuatan Amerika Serikat pada saat perang dunia 2 dan juga saat

perang dingin, dimana pada bulan mei 1942 armada gabungan Amerika Serikat dengan Australia

berhasil mengusir kekuatan angkatan laut jepang dalam pertempuran Laut Karang (Coral Sea)9,

disusul dengan kemenang Amerika Serikat di perang dunia 2 dan juga kekuatan Amerika Serikat

yang mendominasi pada saat perang dingin, membuat Australia membuka matanya dan melihat

bahwa Australia mengininginkan Amerika Serikat sebagai pengawal kemanan pertahanan

negaranya. Meskipun demikian Indonesia tetap bersikap adil dengan Australia dan Amerika

8
Yohanes Sulaiman & Brand Nelson, Searching for Indonesia’s Lost ‘Grand Strategy’, July-September 2012/vol 2-
NO 3
9
Wawan Darmawan, Aliansi Australia Dalam ANZUS Treaty (1951), yang diakses melalui
http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/aliansi-australia-dalam-anzus-treaty-1951/ pada tanggal 3 Januari 2019
Serikat hal ini bisa dilihat dengan adanya kerjasama yang terjalain dan hubungan bilateral baik

antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibukota Israel

Kabar tentang pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh Presiden Amerika

Serikat Donald Trump pada tanggal 7 Desember 2017 membuat berbagai negara di belahan

dunia bereaksi keras terhadap pernyataan Trump tersebut termasuk Indonesia, dilansir dari media

BBC Indonesia Jokowi sebagai Presiden Republik Indonesia mengatakan “pengakuan Yerusalem

sebagai ibukota Israel bisa mengguncang stabilitas keamanan dunia”10. Hal ini sangat masuk akal

karena mengingat bahwa Amerika Serikat juga memiliki sekutu di timur tengah yang

mayoritasnya adalah negara Islam yang mendukung sepenuhnya hak kemerdekaan palestina

seutuhnya, dengan pernyataan Trump atas pengkuan Yerusalem sebagai ibukota Israel ini tentu

akan membuat Negara-negara di timur tengah dan negara islam di seluruh dunia akan bereaksi

keras yang sifatnya mengancam atau mengutuk, karena pengakuan Yerusalem sebagai ibukota

Israel ini akan membuat Palesitna semakin tertindas dan akan menciptakan lebih banyak konflik

lagi yang terjadi disana. Terlebih Amerika Serikat sudah memindahkan Kedutaan Besar nya dari

tel aviv ke Yerusalem sejak pengumuman Yerusalem sebagai Ibukota Israel.

Satu tahun setelah pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh Amerika Serikat

pada 7 Desember 2017, Perdana Mentri Australia Scott Morrison secara resmi menyatakan

Yerusalam Barat sebagai ibukota Israel pada tanggal 15 Desember 2018, Australia mempunyai

pandangan tersendiri tentang pengakuan Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel ini, dilansir dari

media berita online i-news.id Australia memberi keterangan mengenai pengakuan Yerusalem

Barat sebagai ibukota Israel melalui perdana mentri Australia Scott Morrison menjelaskan bahwa

10
Jokowi, Yerusalem ‘ibukota Israel’: Presiden Jokowi dan para pemimpin dunia kutuk keputusan Trump, di akses
melalui https://www.bbc.com/indonesia/dunia-42261446 pada tanggal 3 Januari 2019
Australia meliki pembagian wilayah tentang Yerusalem ini, yaitu Australia mengakui Yerusalem

Barat sebagai ibukota Israel sedangkan Yerusalem Timur sebagai ibukota Palestina11. Pembagian

wilayah ini berbeda dengan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem Seutuhnya sebagai

Ibukota Israel, dan pembagian wilayah ini juga justru membuat pihak Palestina akan lebih sulit

untuk mencapai tujuan berdamai antara Israel dan Palestina, Karena kedua pihak saat ini sedang

memperjuangkan wilayah Yerusalem yang seutuhnya atau kesuluruhan dari wilayah tersebut.

Australia yang mengikuti langkah Amerika Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai

ibukota Israel juga di latarbelakangi oleh Grand Strategy Australia itu sendiri dimana ketika

Australia memutuskan untuk Menjadikan Amerika Serikat sebagai pengawal kemanan bagi

negara Australia membuat munculnya persekutuan antara Amerika dan Australia yang

menghasilkan tiga tingkat hubungan yang dekat antara kedua negara tersebut, seperti yang di

muat dalam jurnal yang berjudul Defence 2000 Our future Defence Force disebutkan bahwa

point ketiga dari tingkatan hubungan antara Amerika Serikat dan Australia yaitu adalah “The US-

Australia alliance will continue to be founded on our mutual undertaking to support each other

in time of need”12 yang dimana persekutuan antara Australia dan Amerika Serikat akan terus

berlanjut dalam wujud usaha bersama untuk saling mendukung kapanpun dibutuhkan, Point

ketiga ini ditetapkan secara nyata dalam perjanjian ANZUS (Austrlia-New Zealand-United

States). Point ketiga tersebut bisa jadi yang membuat Australia mengikuti langkah Amerika

Serikat untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel meskipun terdapat perbedaan

pembagiaan wilayah dan perbedaan kebijakan tentang pemindahan kedubesnya, meskipun

Australia sudah mengakui Yerusalem Barat sebagai ibukota Israel tetapi Australia masih

11
Anton Suhartono, Perjalanan Australia Akui Yerusalem Barat Sebagai Ibukota Israel, di akses melalui
https://www.inews.id/news/internasional/perjalanan-australia-akui-yerusalem-barat-sebagai-ibu-kota-
israel/398601 pada tanggal 4 Januari 2019
12
Common Wealth of Australia 2000, Australia’s Defence Policy Hal:35, yang di akses melalui
http://www.defence.gov.au/publications/wpaper2000.pdf pada tanggal 5 Januari 2019
mempertimbangkan tentang pemindahan kedubesnya itu ke Yerusalem, karena disisi lain

Australia juga mendukung untuk kemerdekaan Negara Palestina sebagara negara merdeka

dengan menempatkan Yerusalem Timur sebagai ibukota palestina dimana di sana terletak masjid

al aqsa berada.

Mengapa Yerusalem?

Dalam catatan sejarah Yerusalem

pernah 2 kali dibumihanguskan, diblokade 23

kali diserang 52 kali diduduki dan direbut

kembali sebanyak 44 kali13. Awalnya

yerusalem bernama Jerushalayim yang berarti

kota perdamaian, sedangkan dalam bahasa

arab Yerusalem di sebut sebagai bait al-

muqoddas atau al-quds yang berarti kota

1https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42261448, Yerusalem: 3 Hal suci14. Seperti pada gambar berikut ini,


yang perlu anda ketahui tentang kota suci

Yerusalem merupakan kawasan yang sangat penting bagi ketiga agama ini (Islam, Kristen, dan

Yahudi) dimana disana terdapat beberapa situs yang dianggap suci oleh 3 agama tersebut yang

masing-masing memiliki sejarahnya tersendiri. Seperti Masjidil Aqsa yang dalam sejarah agama

islam merupakan tempat berlangsungnya peristiwa Isra-Miraj oleh nabi Muhammad SAW,

Gereja Makam Kudus yang di percaya oleh umat agama Kristen sebagai tempat Yesus di salib,

dan Tembok ratapan yang merupakan tempat bagi umat yahudi berdoa yang di yakini olehnya

sebagai tempat batu fondasi pencipta dunia, dan tempat Abraham atau Nabi Ibrahim (dalam

13
Penderitaan Yerusalem, diakses melalui https://m.dw.com/id/netanyahu-kami-ingin-memiliki-hubungan-luar-
biasa-dengan-indonesia/a-45889310 pada tanggal 6 Januari 2019
14
Ajat Sudrajat, Jerusalem: Kota dalam Sengketa (Hal:22), yang di akses melalui
staffnew.uny.ac.id/upload/131862252/penilitian/Jerusalem+-+Kota+dalam+Sengketa.pdf pada tanggal 6 januari
2019
Islam) mengorbankan anaknya Ishak atau Nabi Ismail. Sejak dulu Yerusalem memang menjadi

wilayah yang sering diperebutkan jauh sebelum masuk ke zaman modern seakarang ini, dan jika

di tarik dari susunan sejarahnya penyebab dari perebutan kekuasaan wilayah Yerusalem ini

adalah karena klaim kepemilikan wilayah atas dasar keyakinan masing-masing agama (Islam,

Kristen, Yahudi) yang berada di wilayah Yerusalem tersebut15.

Pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel secara sepihak oleh Amerika Serikat

dikhawtirkan akan memperburuk kondisi politik dan keamanan bahkan konflik yang berada di

Yerusalem, Karena dalam pernyataan Presiden Amerika Serikat Trump tidak menyebutkan

pembagian wilayah yerusalem seperti halnya Australia yang memberikan keterangan bahwa

Australia hanya mengakui Yerusalem bagian barat untuk Israel dan Yerusalem bagian timur

untuk Palestina, dengan kata lain Amerika Serikat memberikan Yerusalem kepada Israel secara

keseluruhan termasuk Yerusalem bagian barat dan timur.

Sedangkan Indonesia tetap akan memperjuangkan hak-hak kemerdekaan Palestina yang

dimana hal itu sangat bertolak belakang dengan kebijakan yang di ambil oleh Australia dan

Amerika Serikat tersebut, dalam pembukaan UUD 1945 juga Indonesia sudah menentang segala

bentuk penjajahan dan penjajahan itu seharusnya dihapuskan secara keseluruhan, karena untuk

masalah ini Indonesia lebih berpihak kepada Palestina yang sepertinya sangat menginginkan

bahwa Yerusalem untuk jatuh ke Palestina.

Indonesia Masih Butuh Australia dan Amerika Sebagai Sahabat

Australia dan Indonesia memang menginginkan terciptanya Good-Neighborliness hal ini

terbukti dengan banyaknya kerjasama bilateral yang terlaksana dengan baik oleh kedua negara

tersebut, seperti pada bidang politik, kerjasama ekonomi, perdagangan dan Investasi, Kerjasama
15
Adjat Sudrajat, Jerusalem: Kota Dalam Sengketa, di akses melalui
http://staffnew.uny.ac.id/upload/131862252/penelitian/Jerusalem+-+Kota+dalam+Sengketa.pdf pada tanggal 6
Januari 2019
Sosial budaya dan Pariwisata, dan kerjasama kekonsuleran16. Sedangkan dengan Amerika

Serikat juga Indonesia bersifat terbuka, dalam artiannya adalah sama perlakuan Indonesia

terhadap Australia yaitu sama-sama membuka hubungan diplomatic yang baik, terbukti pada

kunjungan kenegaraan Indonesia ketika masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono

menyambut presiden Amerika Serikat saat itu Barrack Obama pada tanggal 9-10 November dan

pada saat itu juga secara resmi terbentuknya Comprehensive Partnership (CP) RI-AS yang

merupakan sebuah kemitraan setara (equal partnership) dan berpandangan ke depan (forward

looking) dengan mengoptimalkan segala kesempatan (opportunity driven) dalam kerjasama

bilateral17.

Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia yang “bebas aktif” (One Thousand Friends and

Zero Enemy) ini yang membuat Indonesia bisa bebas membuka kerjasama dengan negara mana

saja seperti halnya Australia dan Amerika Serikat, tetapi untuk sengketa masalah Yerusalem ini

Indonesia lebih memihak Palestina karena Indonesia sampai saat ini belum pernah membuka

hubungan diplomatic apapun dengan Israel, pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel oleh

Australia dan Amerika Serikat dikhawatirkan akan mengganggu hubungan bilateral dan

kerjasama yang sebelumnya sudah berjalan dengan baik. Seperti salah satunya adalah rencana

Indonesia yang menunda ratifikasi penandatanganan perjanjian dagang dengan Australia18 juga

bisa menjadi tentangan kembali tegang hubungan antara Indonesia dan Australia yang kembali

memanas, begitu juga dengan Amerika Serikat dimana tindakan kecaman dan protes dari

16
Kemenlu.go.id, kebijakan detail kerjasama bilateral Indonesia-Australia, yang di akses melalui
https://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/detail-kerjasama-bilateral.aspx?id=54 pada tanggal 6 Januari 2019
17
Kemenlu.go.id, Kebijakan detail kerjasama bilateral Indonesia-US, yang di akses melalui
https://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/detail-kerjasama-bilateral.aspx?id=11 pada tanggal 6 Januari 2019
18
M.dw.com, Soal yerusalem: Indonesia Berniat Tunda Ratifikasi Perjanjian Dagang Australia, yang di akses melalui
read:https://m.dw.com/id/soal-yerusalem-indonesia-berniat-tunda-ratifikasi-perjanjian-dagang-australia/a-
46220281 pada tanggal 6 Januari 2019
Indonesia sudah lebih dulu di lakukan kepada Amerika seperti banyaknya Masyarakat yang turun

ke jalan melakukan Demonstrasi ke kedubes Amerika Serikat yang ada di Indonesia.

Kesimpulan

Hubungan Indonesia dengan Australia dan Amerika kemungkinan akan kembali

membaik, mengingat Australia dan Amerika Serikat merupakan Negara yang penting dan

berpengaruh dalam pembangunan Indonesia, namun untuk saat ini Indonesia harus kembali

mengkaji tentang kebijakan Politik Luar Negerinya yang lebih bisa memberikan konstribusi

terhadap Yerusalem, tetapi disisi lain juga pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel dirasa

bukan hal yang tepat untuk memperbaiki keadaan yang ada di sana bahkan bisa

memperburuknya, hal ini terbukti dengan banyaknya protes dan kecaman setelah peristiwa

pengakuan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Meskipun kebijakan politik luar negeri Indonesia

netral atau “bebas aktfi” tetapi ini juga mempengaruhi bagaimana cara bersikap terhadap suatu

negara tersebut, seperti halnya Australia dan Amerika Serikat yang sebelumnya merupakan

negara terdekat dan sudah banyak melakukan kerjasama bilateral dengan Indonesia bisa menjadi

berubah menjadi status waspada atas satu sama lainnya, seperti dalam kasus pengakuan

Yerusalem sebagai ibukota Israel ini.


Daftar Pustaka

Buku

Steans, Jill dan Lloyd Pettiford, Hubungan Internasional: Perspektif dan Tema, Pustaka

Pelajar, Yogyakarta Indonesia, 2009.

Subagyo, Dr. Agus dan Dr. Syarifudin Tippe, Kapita Selekta Hubungan Internasional,

Alfabeta, Bandung Indonesia, 2016

Jackson, Robert dan Georg Serensen, Pengantar Studi Hubungan Internasional: Teori dan

Pendekatan Edisi Kelima, Pustaka Pelajar,Yogyakarta Indonesia, 2014

Artikel/Jurnal

Vira Vania Setiawan, Diplomasi Pemerintah Australia Dalam Upaya Memperoleh Grasi Dari

Pemerintah Indonesia: Studi Diplomasi Kasus Eksekusi Mati Bali Nine 2013-2015,

Surakarta.

Nasrudin Amaliyah, Religius: Jurnal Agama dan Lintas Budaya(185-190): Satu Tuhan Tiga

Agama (Yahudi, Nasrani, Islam Di Yerusalem), Tanggerang Indonesia, 2017.

Nelson, Brad dan Yohanes Sulaiman, Searching for Indonesia Lost Grand Strategy, Indonesia,

November 2012

Agussalim, Dafri dan Siti Muti’ah Setyawati, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Volume 19, NO

2: Security Complex Indonesia-Australia dan Pengaruhnya terhadap Dinamika

Hubungan Kedua Negara, Yogyakarta Indonesia, 2015.

Commonwealth of Australia, Defence 2000 Out Future Defence Force, Australia, 2000.

Decy Arifinsjah, Kajian Kerjasama Bilateral Indonesia-Amerika Serikat Di Bidang Ekonomi

Dan Keuangan, Jakarta Indonesia, 2012

Sudrajat, Adjat Dr., M.Ag., Jerusalem: Kota Dalam Sengketa, Yogyakarta Indonesia.
Internet

Liputan6.com, 3 Indsiden yang ‘Panaskan’ Hubungan Indonesia-Australia,

https://www.liputan6.com/global/read/2819673/3-insiden-yang-panaskan-hubungan-

indonesia-australia , 06-01-2017, 12.40 WIB, Jakarta.

BBCNewsIndonesia, Aksi ‘Koin Untuk Australia’ Terus Digulirkan,

https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150222_koin_untuk_australia

,22-02-2015, Indonesia.

Kompas.com, Sabrina Asril: Menlu Anggap Pernyataan PM Australia Emosional dan

Mengancam,https://nasional.kompas.com/read/2015/02/20/10212311/Menlu.Anggap.Per

nyataan.PM.Australia.Emosional.dan.Mengancam,20-02-2015, 10:21WIB, Jakarta.

BBC News Indonesia, Yerusalem ‘ibukota Israel’: Presiden Jokowi dan para pemimpin dunia

kutuk keputusan Trump, https://www.bbc.com/indonesia/dunia-42261446 , 07-12-2017,

Indonesia.

BBC News Indonesia, Apa Yang Mendasari Pengakuan Trump atas Yerusalem? Tujuh hal yang

harus Anda Ketahui, https://www.bbc.com/indonesia/trensosial-42276374 , 08-12-2017,

Indonesia

BBC News Indonesia, Yerusalem: Tiga Hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kota Suci,

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-42261448 , 07-12-2017, Indonesia.

BBC News Indonesia, Donald Trump: Yerusalem Adalah Ibukota Israel,

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42251271 , 07-12-2017, Indonesia.

Tirto.id, Akhmad Muawal Hasan: Trump Nekat Mengakui Yerusalem Sebagai Ibukota Israel,

https://tirto.id/trump-nekat-mengakui-yerusalem-sebagai-ibukota-israel-
cBis?gclid=EAIaIQobChMIivHxm_DM3wIVyAorCh2bggLDEAAYASAAEgI-OPD_BwE ,

07-12-2017.

Kemlu.go.id, Landasan, Visi dan Misi Polugri Indonesia-Australia,

https://www.kemlu.go.id/id/kebijakan/detail-kerjasama-bilateral.aspx?id=54

Tribun News, Mewujudkan Indonesia-Australia yang Saling Menguntungkan dan Menghormati,

http://www.tribunnews.com/nasional/2017/02/25/mewujudkan-indonesia-australia-yang-

saling-menguntungkan-dan-menghormati , 25-02-2017, 02-28 WIB

M.dw.com, Soal Yerusalem, Indonesia Berniat Tunda Ratifikasi Perjanjian Dagang Australia,

iNews.id, Susul AS: Australia Pertimbangkan Geser Kedubes di Israel ke Yerusalem,

https://www.inews.id/news/internasional/susul-as-australia-pertimbangkan-geser-

kedubes-di-israel-ke-yerusalem/282225

sejarah.upi.edu, Aliansi Australia Dalam ANZUS Treaty (1951),

http://sejarah.upi.edu/artikel/dosen/aliansi-australia-dalam-anzus-treaty-1951/ , 05-09-

2017.g