Anda di halaman 1dari 7

NAMA: ANDI NURAL FADHILAH MURTADHA

NIM: 105421100919

CONGENITAL TALIPES EQUINOVARUS


A. DEFINISI
Congenital Talipes Equino Varus (CTEV) atau disebut juga dengan Club
Foot merupakan cacat sejak lahir yang berkarakteristik dengan equinus
(menekuk) pada pergelangan kaki, varus (bengkok ke arah dalam) pada
kaki belakang, adductus (mengarah ke tubuh) pada kaki depan, dan
athrophy (terhentinya pertumbuhan) pada otot betis.
B. ETIOLOGI
Meskipun telah banyak penelitian tentang Congenital Talipes Equino
Varus, namun sampai saat ini etiologi Congenital Talipes Equino Varus
sendiri tidak diketahui apa. Studi tambahan menduga faktor yang paling
memungkinkan dari penyakit ini adalah genetic dan lingkungan. Sebanyak
48 artikel tentang etiologi Congenital Talipes Equino Varus masih
menjadi kontroversi. Beberapa hipotesis telah diteliti, namun tidak satupun
dari penelitian tersebut yang mutlak menemukan etiologi Congenital
Talipes Equino Varus. Penelitian lainnya menduga beberapa faktor terkait
penyakit ini ialah kegagalan pengembangan anggota tubuh, apoptotic dan
kontraksi otot protein (troponin dan tropomyosin). Meskipun beberapa
studi fokus pada genetic, ada pula yang menduga bahwa merokok
merupakan etiologi kuat dari Congenital Talipes Equino Varus.
C. EPIDEMIOLOGI
Insiden Congenital Talipes Equino Varus kurang lebih terjadi pada 1 dari
1000 kelahiran per tahun. 8% dari bayi yang terlahir dengan Congenital
Talipes Equino Varus hidup di negara berkembang dimana pengetahuan
medis dan sumber daya masih terbatas sehingga menghalangi penderita
menerima perawatan yang memadai. Dari seluruh kasus Congenital
Talipes Equino Varus, terdapat 65% penderita pria dan 35% penderita
wanita. Sedangkan pada beberapa kasus terdapat 42% kasus Congenital
Talipes Equino Varus bilateral dan 58% kasus Congenital Talipes Equino
Varus unilateral. Dari 30 penderita Congenital Talipes Equino Varus
unilateral, 43% menderita Congenital Talipes Equino Varus pada kaki
bagian kiri dan 57% lagi menderita Congenital Talipes Equino Varus pada
kaki bagian kanan. Dari kasus di atas dilaporkan terdapat 6% memiliki
latar belakang keluarga penderita Congenital Talipes Equino Varus.
D. PATOFISIOLOGI

Beberapa teori yang mendukung patogenesis terjadinya CTEV, antara lain:

a. terhambatnya perkembangan fetus pada fase fibular


b.kurangnya jaringan kartilagenosa talus
c. faktor neurogenic telah ditemukan adanya abnormalitas histokimia pada
kelompok otot peroneus pada pasien CTEV. Hal ini diperkirakan karena
adanya perubahan inervasi intrauterine karena penyakit neurologis, seperti
stroke. Teori ini didukung dengan adanya insiden CTEV pada 35% bayi
dengan spina bifida.
d.Retraksi fibrosis sekunder karena peningkatan jaringan fibrosa di otot dan
ligamen. Pada penelitian postmortem, Ponsetti menemukan adanya
jaringan kolagen yang sangat longgar dan dapat teregang pada semua
ligamen dan struktur tendon (kecuali Achilees). Sebaliknya, tendon
achilles terbuat dari jaringan kolagen yang sangat padat dan tidak dapat
teregang. Zimny dkk, menemukan adanya mioblast pada fasia medialis
menggunakan mikroskop elektron. Mereka menegemukakan hipotesa
bahwa hal inilah yang menyebaban kontraktur medial.
e. Anomali pada insersi tendon Inclan mengajukan hipotesa bahwa CTEV
dikarenakan adanya anomali pada insersi tendon. Tetapi hal ini tidak
didukung oleh penelitian lain. Hal ini dikarenakan adanya distorsi pada
posisi anatomis CTEV yang membuat tampak terlihat adanya kelainan
pada insersi tendon.
f. Variasi iklim
Robertson mencatat adanya hubungan antara perubahan iklim dengan
insiden epidemiologi kejadian CTEV. Hal ini sejalan dengan adanya
variasi yang serupa pada insiden kasus poliomielitis di komunitas. CTEV
dikatakan merupakan keadaan sequele dari prenatal poliolike condition.
Teori ini didukung oleh adanya perubahan motor neuron pada spinal cord
anterior bayi-bayi tersebut.
E. GEJALA KLINIS
Deformitas yang serupa dapat ditemui pada myelomeningocele dan
arthrogryposis. Pergelangan kaki berada dalam posisi equinus dan kaki
berada dalam posisi supinasi (varus) serta adduksi. Tulang navicular dan
kuboid bergeser ke arah lebih medial. Terjadi kontraktur pada jaringan
lunak plantar pedis bagian medial. Tulang kalkaneus tidak hanya berada
dalam posisi equinus, tetapi bagian anteriornya mengalami rotasi ke arah
medial disertai rotasi ke arah lateral pada bagian posteriornya. Tumit
tampak kecil dan kosong. Pada perabaan tumit akan terasa lembut (seperti
pipi). Sejalan dengan terapi yang diberikan, maka tumit akan terisi
kembali dan pada perabaan akan terasa lebih keras (seperti meraba hidung
atau dagu). Karena bagian lateralnya tidak tertutup, maka leher talus dapat
dengan mudah teraba pada sinus tarsalis. Normalnya leher talus tertutup
oleh navikular dan badan talus. Maleolus medial menjadi susah diraba dan
pada umumnya menempel pada navikular. Jarak yang normal terdapat
antara navikular dan maleolus menghilang. Tulang tibia sering mengalami
rotasi internal.

F. KRITERIA DIAGNOSIS
1. Anatomi tulang pada
2. Talus mengarah kebawah, bagian leher berdiviasi ke tengah dan bagian
badan berotasi sedikit keluar dalam relasinya dengan tulang calcaneus.
3. Tulang Naviculare dan seluruh kaki depan(forefoot) bergeser ketengah
dan berotasi menjadi supinasi(varus)
4. Kulit dan jaringan dari betis dan sisi medial kaki akan menjadi pendek
dan tidak berkembang sepenuhnya.
5. Tibia: terjadi pemendekan
6. Fibula: terjadi pemendekan
7. Calcaneus: rotasi medial
8. Cuboid: bersubluksasi medial diatas kepala calcaneus
9. Naviculare: bersubluksasi medial diatas kepala talus
10. ForefootL mengalami adukksi dan suppinasi
11. Otot: atropi pada otot kaki
12. Tendon: dapat menjadi lebih tebal terkhusus pada tibialis posterior
13. Kapsul persendian: kontraktur
14. Ligamen ankle: kontraktur
15. Fasia plantar: kontraktur.

G. PENATALAKSANAAN

Metode Ponseti

Metode ini dikembangkan oleh dr. Ignacio Ponseti dari Universitas Iowa.
Metode ini dikembangkan dari penelitian kadaver dan observasi klinik
yang dilakukan oleh dr. Ponseti. langkah-langkah yang harus diambil
adalah sebagai berikut :

1. Deformitas utama yang terjadi pada kasus CTEV adalah adanya rotasi
tulang kalkaneus ke arah intenal (adduksi) dan fleksi plantar pedis. Kaki
berada dalam posisi adduksi dan plantar pedis mengalami fleksi pada sendi
subtalar. Tujuan pertama adalah membuat kaki dalam posisi abduksi dan
dorsofleksi. Untuk mendapatkan koreksi kaki yang optimal pada kasus
CTEV, maka tulang kalkaneus harus bisa dengan bebas dirotasikan
kebawah talus. Koreksi dilakukan melalui lengkung normal dari
persendian subtalus. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meletakkan jari
telunjuk operator di maleolus medialis untuk menstabilkan kaki dan
kemudian mengangkat ibu jari dan diletakkan di bagian lateral dari kepala
talus, sementara kita melakukan gerakan abduksi pada forefoot dengan
arah supinasi.

2. Cavus kaki akan meningkat bila forefoot berada dalam posisi pronasi.
Apabila ditemukan adany cavus, maka langkah pertama dalam koreksi
kaki adalah dengan cara mengangkat metatarsal pertama dengan lembut,
untuk mengoreksi cavusnya. Setelah cavus terkoreksi, maka forefoot dapat
diposisikan abduksi seperti yang tertulis dalam langkah pertama.

3. Saat kaki diletakkan dalam posisi pronasi, hal tersebut dapat


menyebabkan tulang kalkaneus berada di bawah talus. Apabila hal ini
terjadi, maka tulang kalkaneus tidak dapat berotasi dan menetap pada
posisi varus. Seperti tertulis pada langkah kedua, cavus akan meningkat.
Hal ini dapat menyebabkan tejadinya bean-shaped foot. Pada akhir
langkah pertama, maka kaki akan berada pada posisi abduksi maksimal
tetapi tidak pernah pronasi.

4. Manipulasi dikerjakan di ruang khusus setelah bayi disusui. Setelah kaki


dimanipulasi, maka langkah selanjutnya adalah memasang long leg cast
untuk mempertahankan koreksi yang telah dilakukan. Gips harus dipasang
dengan bantalan seminimal mungkin, tetapi tetap adekuat. Langkah
selanjutnya adalah menyemprotkan benzoin tingtur ke kaki untuk
melekatkan kaki dengan bantalan gips. Dr. Ponsetti lebih memilih untuk
memasang bantalan tambahan sepanjang batas medial dan lateral kaki,
agar aman saat melepaskan gips menggunakan gunting gips. Gips yang
dipasang tidak boleh sampai menekan ibu jari kaki atau mengobliterasi
arcus transversalis. Posisi lutut berada pada sudut 90° selama
pemasangan gips panjang. Orang tua bayi dapat merendam gips ini selama
30-45 menit sebelum dilepas. Dr. Ponsetti memilih melepaskan gips
dengan cara menggunakan gergaji yang berosilasi (berputar). Gips ini
dibelah menjadi dua dan dilepas, kemudian disatukan kembali. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui perkembangan abduksi forefoot, selanjutnya
hal ini dapat digunakan untuk mengetahui dorsofleksi serta megetahui
koreksi yang telah dicapai oleh kaki ekuinus.
5. Adanya usaha untuk mengoreksi CTEV dengan paksaan melawan tendon
Achilles yang kaku dapat mengakibatkan patahnya midfoot dan berakhir
dengan terbentuknya deformitas berupa rockerbottom foot. Kelengkungan
kaki yang abnormal (cavus) harus diterapi secara terpisah, seperti yang
digambarkan pada langkah kedua, sedangkan posisi ekuinusnya harus
dapat dikoreksi tanpa menyebabkan patahnya midfoot.. Secara umum
dibutuhkan 4-7 kali pemasangan gips untuk mendapatkan abduksi kaki
yang maksimum. Gips tersebut diganti tiap minggu. Koreksi yang
dilakukan (usaha untuk membuat kaki dalam posisi abduksi) dapat
dianggap adekuat bila aksis paha dan kaki sebesar 60°. Setelah dapat
dicapai abduksi kaki maksimal, kebanyakan kasus membutukan
dilakukannya tenotomi perkutaneus pada tendon Achilles. Hal ini
dilakukan dalam keadaan aspetis. Daerah lokal dianestesi dengan
kombinasi antara lignokain topikal dan infiltrasi lokal minimal
menggunakan lidokain. Tenotomi dilakukan dengan cara membuat irisan
menggunakan pisau Beaver (ujung bulat). Luka post operasi kemudian
ditutup dengan jahitan tunggal menggunakan benang yang dapat
diabsorbsi. Pemasangan gips terakhir dilakukan dengan kaki yang berada
pada posisi dorsofleksi maksimum, kemudian gips dipertahankan hingga
2-3 minggu.

6. Langkah selanjutnya setelah pemasangan gips adalah pemakaian sepatu


yang dipasangkan pada lempengan Dennis Brown. Kaki yang bermasalah
diposisikan abduksi (rotasi ekstrim) hingga 70°. Sepatu ini juga memiliki
bantalan di tumit untuk mencegah kaki terselip dari sepatu. Sepatu ini
digunakan 23 jam sehari selama 3 bulan, kemudian dipakai saat tidur siang
dan malam selama 3 tahun.

7. Pada kurang lebih 10-30% kasus, tendon dari titbialis anterior dapat
berpindah ke bagian lateral Kuneiformis saat anak berusia 3 tahun. Hal ini
membuat koreksi kaki dapat bertahan lebih lama, mencegah adduksi
metatarsal dan inversi kaki. Prosedur ini diindikasikan pada anak usia 2-
2.5 tahun, dengan cara supinasi dinamik kaki. Sebelum dilakukan operasi
tersebut, pasangkan long leg cast untuk beberapa minggu.

Sumber: 14September2019
https://www.cochranelibrary.com/cdsr/doi/10.1002/14651858.CD008602.
pub3/abstract
Josr-online.biomedcentral.com/track/pdf/10.1186/513018-018-0193-z
15September2019

Jurnal Descriptive epidemiology of clubfoot in Romania a clinic-based


study 15September2019