Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PENGELOLAAN LIMBAH AGRO INDUSTRI TEPUNG TAPIOKA

Disusun:

1. Eka Rahayu 1714051002


2. Sherliana Christabella 1714051004
3. Puput Lestari 1714051005
4. Raihan Muharam 1714051006

KELOMPOK 2

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019

1
DAFTAR ISI

Cover ...................................................................................………………..1
Daftar Isi...............................................................................………………..2
BAB 1 PENDAHULUAN...................................................………………..3
1.1Latar Belakang.....................................................………………..3
1.2Tujuan .................................................................………………..4

BAB II ISI ..........................................................................………………...5


2.1 Gambaran umum................................................……………….. 5
2.2 Tahapan Proses Pengolahan Ubi kayu menjadi Tapioka………...6
2.3 Potensi Limbah...................................................………………..8
2.4 Pengelolaan Limbah...........................................………………..10
2.5 Solusi Pengelolaan Limbah Tapioka..................………………..13

BAB III KESIMPULAN....................................................……………….14


DAFTAR PUSTAKA

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Industri merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang cukup strategis untuk
meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat secara cepat yang ditandai
dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi dan meningkatnya
devisa negara. Akan tetapi, selain memberikan dampak yang positif ternyata
perkembangan di sektor industri juga memberikan dampak yang negatif berupa
limbah industri yang bila tidak dikelola dengan baik dan benar akan mengganggu
keseimbangan lingkungan, sehingga pembangunan yang berwawasan lingkungan
tidak dapat tercapai (Hamrad, 2007).

Contoh industri pada bidang pertanian yang menghasilkan air limbah adalah pabrik
tepung tapioka yang jenis limbahnya adalah limbah organik. Limbah tapioka jika
tidak dikelola dengan baik sebelum dibuang ke badan air akan mengakibatkan
gangguan kesehatan seperti timbulnya penyakit gatal-gatal, badan air menjadi keruh
dan berbau, serta dapat mencemari lingkungan dan dapat menimbulkan keresahan
bagi masyarakat. Pabrik tepung tapioka merupakan industri pengolah bahan pangan
yang menghasilkan limbah terutama limbah cair. Pembuangan air limbah tepung
tapioka ke badan air dengan kandungan beban BOD melebihi kadar maksimum yaitu
200 mg/L dan TSS melebihi 150 mg/l menyebabkan turunnya jumlah oksigen dalam
air. Kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan biota air terutama biota yang hidupnya
tergantung pada oksigen terlarut di air (Hamrad, 2007).

3
Guna menurunkan angka BOD dan TSS pada limbah cair yang dihasilkan
pabrik tepung tapioka sebelum dibuang ke badan sungai, maka diperlukan proses
pengolahan limbah agar parameter-parameter yang terdapat dalam air limbah tersebut
sesuai dengan baku mutu yang diizinkan. Penanganan limbah cair industri dapat
dilakukan dengan berbagai metode mulai dari metode yang sederhana sampai dengan
metode dengan bantuan teknologi canggih. Selain limbah cair, pabrik tepung tapioka
juga menghasilkan limbah padat. Limbah padat berupa kulit singkong, ampas basah
dan ampas kering. Selama ini limbah kulit singkong belum dimanfaatkan secara
maksimal di masyarakat. Sebenarnya limbah kulit singkong ini bisa dimanfaatkan
menjadi produk karbon aktif. Proses pembuatan karbon aktif dari kulit singkong ini
sangat sederhana yakni proses aktivasi dan karbonisasi. Karbon aktif memiliki
manfaat yang sangat banyak, misalkan sebagai pembersih air, pemurnian gas, industri
gula, pengolahan limbah cair, dan lain sebagainya ( Nursita, 2005)

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis bertujuan untuk menganalisis karakteristik


limbah yang dihasilkan dari industri tapioka. Mengetahui karakteristi dari limbah
industry tersebut dapat mempermudah penulis dan pembaca untuk mengetahui cara
yang tepat untuk melakukanpengelolaan limbah industry tersebut secara tepat.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :


1.2.1 Mengetahui jenis limbah yang dihasilkan Industri tepung tapioka
1.2.2 Mengetahui cara pengelolaan limbah Industri tepung tapioka
1.2.3 Memberikan solusi dalam penanganan limbah industri tepung tapioka

4
BAB II
ISI

2.1 Gambaran Umum

Industri Tapioka merupakan salah satu jenis industri agro (Agro-based-industri) yang
cukup banyak tersebar di Indonesia baik skala kecil, menengah, maupun berskala
besar. Bahan baku industri tapioka adalah ubi kayu/singkong yang banyak tersebar di
berbagai daerah. Tepung tapioka ini merupakan pati yang di ekstrak dengan air dari
ubi kayu. Setelah disaring, bagian cairan dipisahkan dengan ampasnya. Cairan hasil
saringan kemudian diendapkan. Bagian yang mengendap tersebut selanjutnya
dikeringkan dan digiling sehingga didapatkan butir-butir pati halus berwarna putih.
Produktivitas dan produksi ubi kayu sendiri selama periode 2008-2012 cenderung
meningkat.

Agroindustri selain memberikan manfaat positif juga potensial berdampak negatif


akibat limbah yang dihasilkan dari proses produksinya. Industri tapioka menghasilkan
limbah berupa limbah padat dalam bentuk onggok dan air limbah. Limbah padat
yang dihasilkan dari proses produksi tapioka relatif bernilai ekonomi karena dapat
digunakan sebagai bahan baku pakan ternak dan industri lainnya seperti: asam sitrat,
pakan ternak, bioethanol, dan industri pangan. Lain halnya dengan air limbah yang
belum bernilai ekonomi karena harus ditangani menggunakan unit pengolahan limbah
untuk memenuhi standar baku mutu lingkungan. Hal ini menjadi beban bagi industri
tapioka karena penanganan air limbah memerlukan biaya investasi dalam bentuk
instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Selain itu, agroindustri umumnya

5
menggunakan air untuk proses produksi dalam jumlah yang besar sehingga sebagai
konsekuensinya akan dihasilkan pula air limbah dalam jumlah yang besar.

2.2 Tahapan Proses Pengolahan Ubi kayu menjadi Tapioka

Secara umum tahapan proses produksi pada industri tapioka tradisional adalah:
a. Pembersihan; ubi kayu dikupas kulitnya lalu dimasukkan ke dalam bak cuci.
Pengupasan ubi kayu dapat dilaksanakan di pabrik atau pabrik membeli ubi kayu
yang telah dikupas.
b. Pencucian; ubi kayu yang telah dikupas lalu dicuci dalam bak pencuci, yang
banyak dilakukan dengan tenaga manusia.
c. Parutan; ubi kayu yang sudah dikupas, lalu dicuci dan dimasukan ke dalam
parutan mekanik sambil diberi air.
d. Ayakan; parutan aci basah dimasukkan ke dalam ayakan dari kawat dibingkai
berukuran kira-kira 1 x 3 meter, yang bergerak/bergoyang dengan as eksentrik.
Air aci dialirkan ke dalam bak sedangkan onggok tertampung untuk dijemur.
e. Endapan; air aci yang serupa susu masuk ke dalam bak pengendapan. Panjang
bak ini ada yang mencapai 100 m. Ketebalan endapan dari ujung Ø 50 cm,
lalu menurun hingga habis ketebalannya. Tapioka dalam bak ini sudah dapat
ditentukan kelas mutunya, antara lain terbaik terletak pada meter kedua hingga
meter kelima dan sebagainya.
f. Pengeringan; tapioka basah diambil dengan sekop dijemur mempergunakan
tambil (nampan bambu Ø 100 cm).
g. Penghalusan; tapioka kering yang setelah dijemur masih berbutir kemudian
dimasukkan ke dalam mesin penghalus, dan akhirnya lewat saringan terkumpul
dalam bak.
h. Pengepakan; tapioka kering dan halus dalam bak dimasukkan ke dalam karung,
tetapi hal ini tidak dapat dilakukan bersama-sama saat mesin penghalus sedang
berjalan sebab bak pengumpul tersebut tertutup rapat agar tapioka tidak
berterbangan.

6
Sedangkan industri tapioka skala besar tahapan proses produksi adalah pembersihan
bahan, pencucian, pemarutan, ekstraksi, pemisahan/separasi, sentrifuge, pengeringan,
dan proses pengepakan. Secara jelas skema proses produksi tapioka skala besar
seperti pada diagram berikut Proses pengolahan ubi kayu menjadi tapioka diawali
dengan pemisahan kotoran dalam rotary screen. Ubi kayu dilewatkan dalam rotary
screen sehingga kotoran akan jatuh melalui lubang saringan sedangkan ubi kayu akan
menuju unit pencucian.

Gambar 1 diagram alir pengolahan ubi kayu menjadi tapioka

7
Gambar 2. Neraca Massa Proses Pengolahan Ubikayu menjadi Tapioka
pada Industri

2.3 Potensi Limbah

Ubi kayu yang diolah menjadi tapioka menghasilkan beberapa hasil samping antara
lain :
1. Air limbah berasal dari pencucian ubi kayu, air buangan, pencucian alat dan
seperator.
2. Limbah padat yang berasal dari kulit yang berasal dari pengupasan ubi
kayu/singkong, sisa-sisa potongan ubi kayu/singkong yang tidak terpaut
berasal dari proses pemarutan dan ampas (onggok) yang merupakan sisa dari
proses ekstraksi pati dengan air, terdiri dari sisa-sisa dan serat-serat.
3. Limbah gas yang berasal dari pembakaran kulit singkong, pengelolaan IPAL
menggunakan sistem kolam, dan timbunan onggok.

Berdasarkan neraca massa proses produksi tapioka terlihat bahwa air limbah yang
dihasilkan dalam jumlah yang relatif besar yaitu mendekati 20 m3/ton tapioka atau 5

8
m3/ton ubi kayu yang terdiri dari air proses dan air yang terkandung dalam bahan
baku (ubi kayu). Berdasarkan karakteristik air limbah mempunyai konsentrasi COD
sekitar18.000-25.000 mg/l, maka diketahui bahwa pengolahan 1 ton ubi kayu
menjadi tapioka akan menghasilkan air limbah dengan jumlah COD sekitar 72-125
kg. Jumlah yang sangat besar dan berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan
bila tidak dilakukan pengelolaan air limbah secara tepat.

Gambar 3 Jenis Air Limbah Tapioka

Gambar 3. Jenis Limbah Padat Industri Tapioka


2.4 Pengelolaan Limbah

9
Pengeloaan limbah dari industri tepung tapioka khususnya untuk limbah cair selalu
disediakan IPAL atau kolam penjernihan limbah yang kedalamannya berbeda- beda.
Berikut salah satu bentuk dari IPAL pada pengelolaan limbah cair hasil industri
tapioka.

Gambar 4 IPAL Industri Pengolahan Tapioka

Hasil samping proses pengolahan tapioka dapat bernilai ekonomis antara lainmelalui
penerapan konsep 3 R (reuse, recycle, reduce). Upaya-upaya pada konsep 3 R
dilakukan melalui

1. Minimisasi limbah,
2. Modifikasi unit proses,
3. Analisis input-output, dan
4. Minimisasi limbah melalui modifikasi proses produksi.

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh industri tapioka melalui Program 3R antara
lain adalah:

1. Melakukan upaya efisiensi penggunaan air per satuan produk melalui upaya
pengurangan penggunaan air baku, recycle, dan reuse air buangan untuk
kegiatan proses produksi dan/atau non proses produksi.
2. Memanfaatkan limbah padat onggok, dan campuran kulit dengan potongan
ubi kayu sebagai bahan pakan ternak, campuran kulit ubikayu dan tanah
sebagai pupuk kompos.

10
3. Analisis input-output telah dilakukan melalui keempat upaya yang telah
dilakukan karena semua upaya telah melalui analisis input-output
menggunakan neraca massa dan energi.

Salah satu upaya lain yang memiliki potensi memberikan nilai tambah yaitu
pemanfaatan reduksi nilai COD yang terjadi di IPAL. Penguraian senyawa organik
dalam IPAL yang ditunjukkan dengan turunnya nilai COD menghasilkan biogas
antara lain dalam bentuk gas metana. Gas metana termasuk sebagai salah satu gas
rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Dengan dimanfaatkannya
gas metana, industri tapioka mendapatkan manfaat berupa tersedianya energi
alternatif sekaligus berkontribusi terhadap berkurangnya pemanasan global.

Limbah padat tapioka yang dihasilkan dari pengolahan ubi kayu merupakan suatu
media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme karena memiliki keseimbangan
bahan-bahan organik dan anorganik di dalamnya yang merupakan nutrisi bagi
pertumbuhan mikroorganisme.

Upaya pemanfaatan limbah padat tapioka, selain merupakan bentuk pengelolaan


lingkungan yang inheren dengan kualitas hidup manusia, juga berdampak pada
perbaikan kesehatan lingkungan, peningkatan nilai ekonomi, pengurangan konsumsi
pupuk kimia, dan peningkatan daya guna limbah padat tapioka.

Limbah padat industri tapioka ini berasal dari proses pengupasan yaitu berupa kulit
singkong dan proses ekstraksi yang berupa ampas singkong. Limbah padat dari
industri tapioka terbagi menjadi beberapa macam yaitu:

1. Kulit yang berasal dari pengupasan ubi kayu/singkong


2. Sisa-sisa potongan ubi kayu/singkong yang tidak terparut berasal dari proses
pemarutan.
3. Ampas onggok yang merupakan sisa dari proses ekstrasi pati dengan air,
terdiri dari sisa-sisa pati dan serat-serat.

Saat ini pemanfaatan onggok sudah sangat berkembang, mulai dari pakan ternak,
bahan baku asam sitrat, bahan pengisi obat nyamuk bakar, sampai berbagai produk

11
pangan seperti bahan pengisi saus dan sambal serta bioethanol. Biomassa lain yang
dihasilkan adalah kulit dan potongan kecil-kecil ubi kayu atau lebih dikenal sebagai
meniran.

Pupuk organik yang dikomposkan telah melalui proses dekomposisi yang dilakukan
oleh beberapa macam mikroba baik dalam kondisi aerob maupun an-aerob sehingga
mudah diserap oleh tanaman. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah
organik seperti sisa-sisa tanaman (kulit, ampas, batang, dahan), sampah rumah
tangga, kotoran ternak (sapi, kambing, ayam), arang sekam, abu dapur. Secara umum
kandungan nutrisi hara dalam pupuk organik tergolong rendah dan agak lambat
tersedia, sehingga diperlukan dalam jumlah cukup banyak.

Sebenarnya industri tapioka dapat memanfaatkan air limbahnya untuk


menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Air
limbah industri tapioka masih mengandung bahan organik dalam jumlah besar yang
ditandai dengan konsentrasi COD yang sangat tinggi. Penguraian senyawa organik
pada kondisi anaerobik melalui beberapa tahapan dengan 2 tahap diantaranya
merupakan tahap yang penting yaitu tahap pembentukan asam (asidogenesis) oleh
bakteri asidogenik dan tahap pembentukan metana (metanogenesis) oleh bakteri
metanogenik. Kelompok bakteri pertama menghidrolisis polimer organik dalam air
limbah dan mengkonversi hasilnya menjadi asam-asam organik, alkohol, CO2, dan
H2. Produk metabolisme yang berupa asam organik dan alkohol tidak seluruhnya
dapat dikonversi oleh bakteri metanogenik menjadi CH4 dan CO2 . Bakteri ini
umumnya tidak dapat mendegradasi alkohol selain metanol dan asam organik selain
asam asetat dan asam format. Untuk membentuk metanol dan asam asetat dari
alkohol dan asam organik lain diperlukan kelompok bakteri ketiga. Kelompok bakteri
ini dikenal sebagai kelompok bakteri asidogenik penghasil H2.

2.5 Solusi Pengelolaan Limbah Tapioka

a. Limbah Cair

12
Limbah cair industri tapioka dihasilkan selama proses pembuatan, mulai dari
pencucian sampai proses pengendapan. Apabila limbah industri tapioka tidak
diolah dengan baik dan benar dapat menimbulkan berbagai masalah,
diantaranya penyakit gatal-gatal, batuk dan sesak nafas; timbul bau yang tidak
sedap; mencemari perairan tambak sehingga ikan mati; perubahan kondisi
sungai (pencemaran). Ide pengolahan limbah cair industri tapioka yaitu
mendaur ulang air limbah melalui suatu proses tententu sehingga dapat
dimanfaatkan menjadi air proses. Selain itu, limbah cair industri tapioka dapat
dimanfaatkan menjadi biogas. Potensi energi yang dapat dibangkitkan dari
konversi gas metana dengan memanfaatkan air limbah agroindustri tapioka
adalah sekitar 88,42 liter setara solar/ton tapioka atau 126,74 kg batu bara/ton
tapioka yang dihasilkan (Adnan. 2006).

b. Limbah Padat
Limbah padat berupa kulit dan ampas. Kulit diperoleh dari proses
pengupasan, sedangkan ampas yang berupa serat dan pati diperoleh dari
proses penyaringan. Ide pengolahan limbah padat industri tapioka yaitu
memanfaatkan limbah padat dari industri tapioka menjadi bahan karbon aktif,
bioetanol, kompos, atau makanan ternak. Onggok yang merupakan limbah
padat industri tapioka selain dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak,
juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya, yaitu
dengan dibuat menjadi tepung onggok. Tepung onggok selanjutnya dapat
diolah menjadi bahan pengisi pada pembuatan saos, bahan baku pembuatan
mie, emping, kue basah dan biskuit. (Adnan, 2006).

13
BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalh ini yaitu sebagai berikut :


1. Limbah yang dihasilkan pada industri tapioka yaitu limbah cair meliputi air
pencucian bahan baku, air bekas pencucian alat dan air yang berasal dari
separator atau proses pengolahan dan limbah padat berupa kulit ubi, ampas
serta sisa- sisa potongan ubi kayu
2. Pengelolaan limbah pada industri tapioka umumnya minimisasi limbah,
modifikasi unit proses, analisis input-output, dan minimisasi limbah melalui
modifikasi proses produksi.
3. Limbah Industri tapioka dapat dimanfaatkan dan akan menambah keuntungan
industri tapioka. Limbah cairnya bisa dimanfaatkan sebagai biogas yang dapat
dikonversi menjadi energi listrik untuk proses pengolahan dalam industry
tapioka. Limbah padatnya juga dapat dimanfaatkan menjadi tepung onggok,
pakan ternak, kompos, dan bioetanol yang dapat meningkatkan nilai
ekonomisnya.

DAFTAR PUSTAKA

14
Adnan, G. M. 2006. Pedoman Pemanfaatan dan Pengolahan Limbah Tapioka.
Kementerian Lingkungan Hidup. IPB. Bogor.
Akanbi, et al. (2007). “The Use of Compost Extract as Foliar Spray Nutrient Source
and Botanical Insecticide in Telfairia occidentalis”. World Journal of Agricultural
Sciences. 3, (5), 642-652.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Lapang PTT
Padi Sawah Irigasi – Kumpulan Informasi Teknologi Pertanian Tepat Guna.
Jakarta.
Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Departemen Perindustrian. 2007.
Panduan Pengelolaan Limbah Industri Tapioka. Jakarta. Badan Penelitian dan
Pengembangan Industri Departemen Perindustrian, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2009. Statistik Indonesia 2008. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Grady, L and Lim, C.H. 1991. Biological Wastewater Treatment: Theory and
Application, 2nd ed. Marcel Dekker. New York.
Metcalf dan Eddy. 1995. Wastewater Engineering: Treatment Disposal Reuse.
McGrawHill Book Co. Singapore

15