Anda di halaman 1dari 8

TUGAS AGAMA ISLAM

NEGARA DAN MASYARAKAT MADANI

NAMA KELOMPOK :
ERIDHO M N
FIKRI ALIF
KHAELDIMAS AR S
PENGERTIAN NEGARA DAN MASYARAKAT MADANI

Negara ialah suatu wilayah teritorial kekuasaan darat dan laut yang berkedaulatan,
mempunyai sistem pemerintahan, sistem hukum dan nama wilayah secara dejure diakui dunia.
Sedangkan masyarakat merupakan komunitas manusia yang menetap di dalam negara dan yang
menjadi sasaran tujuan pemerintahan negara yaitu menciptakan kebaikan, ketertiban dan
kesejahteraan bersamaan dan penjajahan dunia.

Secara islam, negara dikenal dalam Alquran dengan sebutan “balad”. Dan suatu nama
negara digunakan oleh Allah SWT dalam penamaan salah satu surat Alquran tanpa menyebut
“balad” yaitu “saba” sebagaimana dijelakan dalam Mukadimah QS Saba sebagai berikut :
“Dinamakan saba’ karena didalamnya terdapat kisah kaum saba’ saba’ adalah nama suatu
kabilah-kabilah Arab yang tinggal di daerah Yaman sekarang ini. Mereka mendirikan kerajaan
yang terkenal dengan nama kerajaan Sabaiyyah, ibukotanya Ma’rib; telah dapat membangun
suatu bendungan raksasa, yang bernama Bendungan Ma’rib, sehingga negeri mereka subur dan
makmur. Kemewahan dan kemakmuran ini menyebabkan kaum saba’ lupa dan ingkar kepada
Allah yang telah melimpahkan nikmatnya kepada mereka, serta mereka mengingkari pula seruan
para rasul. Karena keingkaran mereka ini, Allah menimpakan kepada mereka azab berupa sailul
‘arim (banjir yang besar) yang ditimbulkan oleh bobolnya bendungan Ma’rib. Setelah
bendungan Ma’rib bobol negeri Saba’ menjadi kering dan kerajaan mereka hancur.”

Atas dasar penamaan surat dalam Alquran dengan nama negeri ‘Saba’, maka tinjauan
islam islam mengenai negara ialah tetap mengacu pada definisi di atas, terkecuali islam
menekankan kepada perilaku penduduk suatu negeri itu harus menyadari segala keinkmatan yang
ada di negara itu merupakan pemberian Allah SWT yang harus disyukuri.
Azab Allah yang ditimpakan kepada negeri Saba merupakan pelajaran terbaik bahwa Allah SWT
membenci penduduk suatu negeri yang melupakan ibadah dan berbuat kemungkaran sebagai
kufur nikmat kepada-Nya.

Mengapa menggunakan istilah ‘masyarakat madani’?


Identik dengan kondisi masyarakat yang menempati wilayah Madinah. Di sana
masyarakatnya telah memiliki modal keimanan untuk memfasilitasi kepasrahan (taslamun)
kepada hukum Tuhan yang mencetak ketertiban dan ketentraman bersama. Adapun bila kata
“madani” dihubungkan dengan kebahasaan Arab, maka berarti ‘kota’, jadi masyarakat madani
ialah masyarakat kota. Kekhasan kondisi wilayah kota ialah “musta’marakum fil-ardhi”
(meramakan permukaan bumi) dengan aktivitas tolong-menolong dalam kebaikan,
karena terdapat banyak interaksi pertukaran barang dan jasa untuk saling memenuhi kecukupan
nafkah, bersama-sama mencari rezeki dan distribusi konsumsi. Begitu pula yang dimaksud
masyarakat islam, ialah meramaikan permukaan bumi dengan prinsip-prinsip kekhalifahan dan
menjadi hamba Allah SWT yang betul-betul disadari mewujud dalam perilaku yang saling
menguntungkan, bukan saling menzalimi. Sehingga terurah rahmat dan karunia Allah SWT yang
senantiasa disyukuri, dan tidak terjadi kufur yang mengakibatkan azab Allah SWT turun
sebagaimana ditimpakan ke negeri Saba.

TELAAH ASAL MULA TERBENTUKNYA NEGARA

Manusia adalah mahluk sosial yang diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan lemah.
Oleh karena itu manusia mebutuhkan orang lain dan tanpa bantuan orang lain manusia tidak dapat
memenuhi kebutuhannya. Atas dasar penciptaan ini manusia akhirnya membentuk sebuah
komunitas dan berevolusi karna saling berinteraksi mendirikan sebuah negara.

Menurut Al-Mawardi “Lembaga Negara dan Pemerintahan adalah sebagai pengganti


fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia” . Dengan demikian, dari sini
negara dapat dipahami sebagai manifestasi keberserikatan hidup di dalam wilayah suatu
masyarakat bangsa untuk mewujudkan ketertiban umum dan kesejahteraan bersama dengan
berdasarkan sistem hukum.

Allah SWT telah menjelaskan sebagaimana maksud awal penciptaan manusia di surah
QS Al-Baqarah (2) ayat 30. Yang berkata :

‫ض َخ لِ ي ف َة ً ۖ ق َ ا ل ُوا‬ ِ ‫ك لِ لْ َم ََل ئ ِ كَ ِة إ ِ ن ِ ي َج ا ِع ٌل ف ِ ي ْاْل َ ْر‬ َ ُّ ‫َو إ ِ ذْ ق َا َل َر ب‬


َ ‫ك الدِ َم ا َء َو ن َ ْح ُن ن ُسَ ب ِ ُح ب ِ َح ْم ِد‬
‫ك‬ ْ َ ‫أ َت َ ْج ع َ ُل ف ِ ي َه ا َم ْن ي ُفْ ِس د ُ ف ِ ي َه ا َو ي‬
ُ ِ‫س ف‬
ْ َ ‫ك ۖ ق َ ا َل إ ِ ن ِ ي أ‬
‫ع ل َ مُ َم ا ََل ت َعْ ل َ ُم و َن‬ َ َ‫س ل‬ ُ ِ‫َو ن ُق َ د‬

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui".
VISI, MISI DAN TUJUAN NEGARA DAN MASYARAKAT MADANI

Visi Negara dan Masyarakat Madani

Visi negara masyarakat madani ialah menjadi negara dengan sejumlah penduduk yang
mendiaminya secara efektif menjalankan kekhalifahan. QS Al-Baqarah (2) ayat 30 atau
memakmurkan (i”marah fil ardh) dengan interaksi kebaikan, QS Al-Maidah (5) ayat 2 dan Hud
(11) ayat 61, disamping mewujudkan kehambaan Tuhan (Allah SWT) yang terbit dari kesadaran
keimanan yang penuh, QS Adz-Dzariat (51) ayat 56.

Misi Negara dan Masyarakat Madani

Berdasarkan visi tersebut, maka misi yang harus dijalankan dari waktu ke waktu oleh
negara dan masyarakat dapat memetik pelajaran (i’tibar) dari kisah-kisah Al-Quran dan sejarah
Rasulullah SAW sebagaimana beliau mengubah kejahiliahan menjadi kesalehan diantara dua
kelompok masyarakat Makkah dan Madinah. Beliau menerapkan kecerdasannya dan
kecendekiaannya yang diperkuat bimbingan “wahyu” serta dukungan keluarga besar yang
mempunyai kharisma ditengah-tengah masyarakat. Misi dari Rasulullah ditekankan kepada
peletakan dasar-dasar Masyarakat Islam di Madinah setelah kafir Qurais Makkah berbondong
datang untuk masuk islam yang diberitahu Ptof. Dr. Ahmad Syalabi sebagai berikut :

1. Mendirikan Masjid
2. Mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin.
3. Perjanjian bantu membantu antar sesama kaum Muslimin dan bukan kaum Muslimin.
4. Meletakkan dasar-dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat baru.

Tujuan Negara dan Masyarakat Islam

Tujuan bermasyarakat dan bernegara ialah untuk mewujudkan kebaikan dan melindungi
kepentingan bersama untuk kesejahteraan yang mereka harapkan. Menurut Al-Farabi “dalam
kehidupan bernegara tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pokok dan kelengkapan
kehidupan, tetapi yang lebih penting adalah terciptanya kebahagiaan lahir dan batin, material dan
spiritual”.

Negara dalam usahanya mencapai tujuan dan cita-citanya memerlukan landasan moral
untuk membentuk masyarakat yang sejahtera.
TINJAUAN TENTANG PURALISME DALAM MASYARAKAT
MADANI

Di dalam suatu negara yang pasrah kepada norma-norma llahiah dengan landasan
keimanan yang kuat, terdapat sebuah misi “perilaku sistem” yang mengatur cara perlakuan
kepada pluralitas warga masyarakat. Sistem Rasulullah SAW ialah mengayomi dan memberi hak
kepada anggota masyarakat untuk menaati kitab suci dan agama yang dianut mereka sendiri,
meskipun dakwah islam tetap harus dijalankan tetapi kalimat “la ikraha fid-Din” (tidak ada
paksaan dalam menganut agama) konsekuen diaplikasikan. Segala bentuk sikap toleransi
terhadap pemeluk agama dan menunaikan ajaran agama bagi masyarakat madani dibawah
kepemimpinan Rasulullah SAW nampaknya mengaplikasikan Alquran, surat : Al-Maidah (5)
ayat 45-50, Al-Baqarah (2) ayat 256.

Nabi tidak menghendaki terjadi ketakutan warga nonmuslim dipaksa mengikuti ajaran
islam (islamphobio). Hal ini tergambar pada peringatan/himbauan beliaukepada warga
masyarakat: “Barang siapa menggangu seorang dzimmi (nonmuslim yang menjadi warga negara
Daulah islamiyah), sungguh (berarti) ia telah menggangguku. Dan barang siapa yang
menggangguku, sungguh ia telah mengganggu Allah.” (HR.Thabrani)

TINJAUAN TENTANG SISTEM POLTIK DALAM MEWUJUDKAN


MASYARAKAT MADANI

Sistem Pengangkatan Pemimpin


Dalam sistem pemerintahan apa pun exsistensi pemimpin dan proses pemilihannya adalah bagian
yang sangat penting dan menarik untuk disoroti. Dalam sistem demokrasi misalnya, untuk memilih
seorang pemimpin yang akan menakhodai bangsa ini selama periode lima tahun ke depan diperlukan
persiapan yang sangat lama dan biaya hingga puluhan triliun rupiah. Setali tiga uang dengan sistem
pemerintahan islam. Keberadaan seorang pemimpin menjadi sangat urgen dan wajb adanya. Bahkan
dalam hadits Rasulullah yang dirwayatkan oleh Abu Daud dan Abu Hurairah dinyatakan bahwa, jika ada
tiga orang bepergian, hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka merjadi pemimpin. Dari
hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa jika dalam perkara bepergian (safar) sajá telah diwajibkan
memilih pemimpin, apatah lagi dalam perkara memilih pemimpin dalam tatanan kenegaraan, tentu hal ini
merjadi lebih wajib lagi. Begitulah mafhum muwafaqah yang bisa ditarik.
Namun bukan berarti manusia berhak menentukan sendiri metode pengangkatan pemimpin.
Allah melalui Rasul-Nya telar memberikan tuntunan untuk memilih seorang pertingnya pemimpin,
ummat Islam tidak boleh sembarangan memilih pemimpin yang menjadi uili amri bagi mereka.

Kriteria Pemimpin Ideal Menurut Islam


Terdapat banyak sekali ayat Alquran dan Hadits yang menjelaskan bagaimana seharusnya kita
memilih pemimpin untulk kehidupan ini. Setidaknya ada dua ayat Alquran yang menegaskan secara
langsung bagaimana kita memilih searang pemimpin:
Memilih pemimpin yang seaqidah
“Hai orang-orang yang berinan, janganlah kamu mengambil grang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, Barangsiapa di
antara kamu mengambil mereka menjad pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka. Sesungguhnya allah tidak memberi petunjuk kepada orang orang zalim. ( Q.S Al- Maidah:51)

Memilih Pemimpin yang Menyeru Kepada Takwa


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jedikan bapak bapak dan saudara-saudaramu
pemimpin-pernimpinmu, mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu
yang menjadikan mereka pemimpin- pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zal im (QS. At-
Taubah: 23). Dalam Alquran dan Hadits kita dapat menemukan beberapa kriteria yang hendaknya
dimiliki oleh pemimpin yang ideal itu, baik bagi diri sendir, keluarganye, dan terlebih mereka yang
menyatakan diri siap sebagai pemimpi bagi masyarakat, bersikap dan berperilaku dalam kehidupan
mereka sehari-hari, di antaranya adalah:
1. Menyerukan Takwa Kepada Allah SWT Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-
pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka
mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zekat dan hanya kepada Kamilah mereka
selalu menyembah. (QS. Al-Anbiya': 73)
2. Bertindak Adil Kepada Semua Pihak
Hai Daud, sesungguhniye Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka beriah
keputusan (perkara di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu engikuti hawa nafsu, karena ia
akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan allah akan
mendapat azab yang berat, karena mereka kan hari perhitungan, (QS. Shad: 26)
hai orang-orang yang beriman, jadilah kanu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi k
biarpun terhadap dirimu sendiri atau kerabatmu. Jnka ia kaya ataupun miskin, maka Allah iebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganiah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dani
kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saks, maka sesungguhnya
Aliah adaiah Maha Mengetahuisegaía apa yang kamu kejakan (OS. An-Nisa135) arena Allah ibu bapa
dan kaum
3. Pelopor Penegakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)
4. Menjadi Suri Teladan yang Baik bagi Masyarakat Sesungguhnya telah ada pada (dir) Rasulullah itu
suri tela- dan yang balk bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)
5. Mendarong Kerja Sama Dalam Memperjuangkan Kesejahteran tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) ikan dan takwe, dan jangan toiong-menolong cialarm uat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada allah, sesungguhnya allah amat berat siksa nya ( QS. Al-Maidah: 2)
6. Mengukuhkan Tali Persaudaraan dan Kesatuan dan Dan bercegangiah kamu semuanya kepada tali
fegamal Allah, dan janganiah kamu bercerai berai dan ingatlah akan naikmar Allah kepacamu ketika
kamu dahulu (masa Jahuiyah) bemusuhr-musuharn, maka Allh mempersatukan hatimu lalu menjadilah
kamu karena nkmat Allan orang-oreng yang bersaudara, dan kamu telah berada dí tepi jurang neraka, aiu
Allan menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat ayar-Nya kepadamu,
agar kamu 6. 9. mendapat petunjuk (Qs. Ali Imran: 103)
7. Akomodatif, Pemaaf, Merangkul Semua Golongan dan Mengedepankan Musyawarah dalam Setiap
Mengambil Keputusan Penting untuk Masyarakat Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
emah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhari kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkaniah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawaratiah dengan mereka daiam urusan itu. Kemudian apabila kamu teiah membulatkan
tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal
kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)
8. Jujur dan Amanah Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyurun kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesusungguhnya allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepacarmu.
sesungguhnya Allah adalah Maha Mendenger lagi Maha Melihat. (Q5. An-Nisaa': 58).
Dari Abu Hurairah berkata: Telah bersabda Rasululiah SAW: "Triga golongan. Allah tidak akan
berbicara, nensucikan ngguhrya n melihat kepacia mereka, dan bagi merekalah siksa yarg pedih, orang
tua pezina, pemimpin yang suka bohang dan orang miskin yang sombong. (HR. Muslim)
9. Pengetahuan Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
dioen imu pengetanuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahul apa yang kamu kerjakan. (Al-
Mujadilah: 11)
10. Teguh Pendinian, Tegar dan Sabar dalarm Menghadap)l Ujan Maka tetaplah karmu pada jalan yeng
ibenar, sebagainana diperintahkan kepadamu dan jiuga) orang yang telah tau. bat beserta kamu dan
janganlah kamu melamoaui batas. Sesungguhnya Dia Maha elihat apa yang kamu kejakan (QS. Huud:
112) Maka bersabariah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah
bersabar (QS. Al-Ahqaf: 35).

2. Paradigma Kedaulatan dalam Telaah Islam


Terdapat tiga corak pemikiran tentang hubungan agama (isłam) dan negara. Pertama, cara
pemikiran konservatif dikemukakan oleh ulama Syi'ah dan kelompok Fundamentalis seperti M. Rasyid
Ridha, Sayid Qutub dan Al-Maududi, memandang sebagai kedaulatan Tuhan (Teokras) Karena agama
dan kekuasean poliik merupakan satu kesatuan, sebagai yang dicantahkan pada dinasti Rasulullah b. Ka
Pol mu Jika der yang berdaulat dengan bimbingan wahyu, Alquran Kedua, menurut pernikiran yang
bercorak akomodatif dari Al-Mawardi memandang bahwa agama dan negara mempunyai hubungan
komplementer, menurutnya dengan negara agama dapat berkembang dan sebaliknya dengan agama,
negara dapat bimbingan etika dan moral. Agama dan negara mempunyai hubungan simbolik kar Int dar
yar dan keduanya merupakan dua dimensi dari misi kenabian. Ketiga, menurut pemikiran sekularis seperti
Ali Abd Raziq dan Ahmad Luthfi Sayyid. keduanya memancang ada pemisahan antara agama dan politik.
Agama (terrmasuk Islam)hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan urusan politik
dan negara terseralh sepenuhnya kepada umat baik pola maupun pengaturannya terserah yang
dikehendaki, apakah mau sistem khalifah atau teokrasi, dan atau bentuk lain nya, sifatnya sesuai konteks
budaya
3. Unsur-unsur yang Menunjang Pembinaan Masyarakat Madani
 Penguasa Formal : Orang yang secara formal atau legal mendapat kedudukan sebagai
penguasa. Karena mereka secara formal memperoleh legitimasi massa untuk kedudukan
tersebut. Mereka mempunyai garis komando untuk mengemban misi membangun dan
membimbing masyarakat Islam sesuai kedudukan masing masing.
 Kaum Intelektual : Didalam buku ZIaudin Sardan “Merombak Pola Pikir Intelektual
Muslim”mengatakan bahwa peradaban muslim sangat membutuhkan kehadiran kaum
intelektual sejati. Karena kaum intelektual dapat bekerja secara efektif dan kaum
intelektual dapat mendididk dan membimbing masyarakat untuk memnentukan pilihan
hidup yang lebih baik. Kaum intelektual dapat berperah dalam perubahan sosial,yaitu :
Pertama,dapat menata kehidupan sosial sesuai dengan ajaran dan norma Islam.
Kedua,dapat membimbing masyarakat untuk mendapatkan pemahaman yang benar.
Ketiga,dapat menjadi keteladanan perilaku yang benar sebagai pendakwah.
Keempat, dapat menjadi pembela utama dan penolong masyarakat dalam melepaskan
beban penderitaan mereka.
Kelima,dapat menyediakan diri sebagai tempat konsultasi.
 Kaum Aghniya yang dermawan : Dalam harta kaum aghniya ada hak sosial untuk
kepentingan kemanusiaan dan keagamaan,itu semua membuahkan hasil dalam
membangun masyarakat Islam.
 Para Mubaligh : Mempunyai misi “ amar ma’ruf nahi munkar”,juga merupakan ujung
tombak sebagai mempengaruhi public untuk mengimplementasikan nilai nilai Islam
dalam kehidupan bermasyarakat.
 Kaum Dhu’afa : Mereka yang berjuang di jalan Allah melalui doa doa yang di perhatikan
Allah SWT.