Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

SEL ELEKTONIKA, SEL ELEKTOLISI, DAN SEL AKI

DI SUSUN OLEH :

ARDI FAKHRIANSYAH 3201802008

M. HENDRA KURNIAWAN 3201802005

HANDIKA PRATAMA PUTRA 3201802012

DERRY SUBAKTI 3201802013

IKHSAL ALFADHILAH 3201802015

RAHMAT 3201802023

JEKY SETIAWAN 3201802030


SEL ELEKTROKIMIA

A. PENGGOLONGAN SEL ELEKTROKIMIA

Elektrokimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari hubungan antara perubahan zat dan arus
listrik yang berlangsung dalam sel elektrokimia. Sedangkan sel elektrokimia adalah suatu sel yang disusun untuk
mengubah energi kimia menjadi energi listrik atau sebaliknya. Sel elektrokimia terbagi menjadi dua:
1. Sel elektrolisis, yaitu sel yang mengubah energi listrik menjadi energi kimia. Arus listrik digunakan untuk
melangsungkan reaksi redoks tak spontan.
2. Sel Volta/Galvani, yaitu sel yang mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Reaksi redoks spontan digunakan
untuk menghasilkan listrik.

Sel elektrokimia merupakan suatu sistem yang terdiri atas dua elektroda, dan larutan/leburan
elektrolit sebagai penghantar elektron. Pada sel volta maupun sel elektrolisis, reaksi redoks
berlangsung dalam suatu elektroda.
Elektroda dibedakan menjadi 2, yaitu anoda dan katoda
•) Katoda adalah elektroda tempat berlangsungnya reaksi reduksi (Ka-red)
•) Anoda adalah elektroda tempat berlangsungnya reaksi oksidasi (Anoks)
Adapun perbedaan sel volta dan elektrolisis dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 2. Perbedaan sel volta dan elektrolisis
Sel Volta Elektrolisis
Menghasilkan listrik dari reaksi redoks Menghasilkan reaksi redoks dari listrik
Mengubah energy kimia menjadi listrik Mengubah energy listrik menjadi limia
Rangkaian dalamnya disebut jembatan Rangkaiannya dalamnya disebut
garam membrane
Anoda = kutub (-) Anoda = kutub (+)
Katoda = kutub (+) Katoda = kutub (-)
Berlangsung spotan Berlangsung tidak spontan

1. SEL VOLTA
Energi yang dibebaskan dalam reaksi redoks spontan dapat digunakan untuk melakukan
kerja listrik. Tugas ini dicapai dengan sell volta atau galvani, suatu alat dimana perpindahan
elektron terjadi melalui lintasan luar. Misalnya bila dua buah elektroda yang berbeda jenisnya
(misal elektroda Zn dan elektroda Cu) dihubungkan dengan kawat yang dilengkapi voltmeter,
2+
juga dihubungkan dengan jembatan garam, maka logam Zn akan teroksidasi menjadi Zn

Elektron yang dihasilkan oleh Zn mengalir melalui voltmeter menuju ke arah elektroda Cu.
Selanjutnya elektron tersebut ditangkap oleh ion Cu2+ dalam larutan Cu(NO3)2.
Cu yang dihasilkan mengendap pada batang logam Cu, sehingga batang logam Cu makin tebal
(massanya bertambah).

Gambar 2. Sel volta yang menggunakan jembatan garam

Logam Zn megalami oksdasi, maka elektroda ini disebut anoda, dan menjadi kutub negatif (karena
menghasilan elektron). Ion Cu2+ mengalami reduksi menjadi Cu dan menempel pada katoda
sebagai kutub positif

Perpindahan elektron dari anoda ke katoda menyebabkan larutan di anoda kelebihan muatan
positif karena bertambahnya ion Zn2+. Larutan di katoda kelebihan muatan negatif karena
berkurangnya ion Cu2+. Untuk menetralisis muatan listrik, dipasang jembatan garam. Jembatan
garam: terdiri dari tabung bentuk U yang mengandung larutan elektrolit seperti NaNO3 (aq),

biasanya dicampurkan dalam gel agar-agar, fungsinya tempat migrasi ion-ion untuk mempertahan
kenetralan listrik. Adanya jembatan garam menyebabkan terjadinya aliran elektron.
a. Diagram Sel Volta
Diagram sel volta adalah notasi singkat yang menggambarkan terjadinya reaksi pada sel Volta.
Pada notasi sel, bagian kanan menyatakan katoda, dan bagian kiri menyatakan anoda. Pemisahan
oleh jembatan garam dinyatakan dengan || sedangkan reaksi yang terjadi pada elektroda dinyatakan
dengan |. Pada diagram sel volta, koefisien reaksi sel tidak berpengaruh.
Contoh : untuk reaksi sel Cu2+ + Zn → Cu + Zn2+
notasi selnya: Zn | Zn2+ || Cu2+ | Cu

b. Deret Volta
Deret Volta adalah deret elektrokimia/ kereaktifan logam yang menunjukkan nilai potensial elektroda
standar logam (Eo).

Sifat deret Volta :


1. Makin ke kiri, logam makin mudah teroksidasi (nilai Eo lebih negatif).
Semakin ke kiri kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka logam semakin reaktif (semakin mudah
melepas elektron).
2. Sebaliknya, semakin ke kanan kedudukan suatu logam dalam deret tersebut, maka logam semakin kurang reaktif
(semakin sulit melepas elektron). Makin ke kanan, logam makin mudah tereduksi (nilai Eo lebih positif.
3. Pada deret volta tsb ada lima buah unsur logam yang dikatakan sebagai unsur logam mulia (Inert
metal), yaitu Cu, Hg, Ag, Pt dan Au. Logam seperti ini sulit sekali mengalami perkaratan sehingga
dimanfaatkan sebagai perhiasan yang harganya mahal.
4. logam-logam yang terletak di sebelah kiri H memiliki potensial elektroda standar negatif.
Sedangkan yang terletak di sebelah kana H memiliki potensial elektroda standar positif.
5. Jika Deret Volta kita anggap sebagai deretan orang yang sedang antri sesuatu, maka ternyata unsur-
unsur yang ada di belakang dapat “meng-usili” unsur di depannya. Selanjutnya menggantikan
posisi unsur di depannya (merebut pasangan ion dari unsur di depannya). Sementara unsur yang
ada di depan tidak bisa mengganggu unsur di belakangnya atau dengan kata lain tidak mampu
merebut pasangan ion dari unsur di belakangnya (tidak bereaksi).

c. Potensial Elektroda
Besarnya energi listrik yang dihasilkan pada sel volta, dapat kita lihat pada angka yang
ditunjukkan oleh jarum voltmeter. Timbulnya energi listrik disebabkan karena kedua elektrolit
mempunyai harga “Potensial Elektroda” yang berbeda. Pada sel volta dengan elektroda Zn dan
elektroda Cu, ion Cu2+ menangkap elektron sehingga berubah menjadi logamnya.
2+
Cu + 2e → C u
Penangkapan elektron oleh ion Cu2+ ini disertai dengan timbulnya sejumlah energi yang
disebut potensial reduksi atau potensial elektroda (diberi lambang E). Jadi potensial elektroda
adalah potensial listrik yang ditimbulkan bila suatu ion logam menangkap elektron (mengalami
reduksi)
Besarnya harga E tidak dapat diukur secara terpisah (hanya reaksi reduksi saja), melainkan
harus selalu berpasangan dengan reaksi oksidasi. Menurut perjanjian elektroda yang digunakan
o
sebagai standar (untuk mengukur E ) adalah elektroda hidrogen. Elektroda standar ini sebagai
+
elektrolitnya digunakan larutan yang mengandung konsentrasi ion H 1M, yang pengukurannya
dilakukan suhu 25 oC, tekanan 1 atmosfer. Ditetapkan pula besarnya E untuk elektroda standar
ini = 0 (nol).

Dalam pengukuran harga E dilakukan dengan cara membandingkan dengan elektroda standar,
o
maka untuk selanjutnya E ini disebut sebagai E (potensial elektroda standar). Makin besar harga Eo
suatu zat, makin mudah zat tersebut mengalami reaksi reduksi.

d. Potensial Sel Standar (Eo sel)


Potensial sel standar (Eo sel) adalah beda potensial listrik yang dihasilkan dari dua buah
elektroda (anoda dan katoda) pada sel Volta, diukur dalam keadaan standar. Potensial sel standar
dapat dihitung:
Eo = Eo reduksi - Eo oksidasi
Contoh:
Tentukan nilai potensial sel Zn | Zn2+ || Ag+ | Ag jika diketahui Eo Zn = -0,76 V, dan Eo Ag =
+0,80 V
Jawab :
Zn mengalami oksidasi, sehingga nilai Eo harus diubah tandanya.

Nilai potensial sel menunjukkan :


1) Tegangan yang dihasilkan sel.
2) Jika nilai Eosel > 0, maka reaksi sel spontan (berlangsung).

3) Jika nilai Eosel ≤ 0, maka reaksi sel tidak spontan (tidak berlangsung).

e. Sel Volta dalam kehidupan


Sel volta banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain baterai dan aki. Ada
baterai yang dapat diisi ulang dan ada yang tidak. Sel volta yang tidak dapat diisi ulang disebut sel
primer, sedangkan yang dapat diisi ulang disebut sel sekunder.
1) Sel Primer
a) Baterai kering (Sel Leclanche)
Baterai kering sering disebut sel Leclanche karena ditemukan oleh Leclanche pada tahun
1866. Sel ini menggunakan batang karbon sebagai katoda dan pelat seng sebagai anoda.
Elektrolitnya digunakan pasta, yang merupakan campuran batu kawi (MnO2), amonium klorida
(NH4Cl), karbon (C), dan sedikit air.

Gambar 3. Baterai
b) Baterai Alkali
Akhir-akhir ini baterai alkali banyak digunakan orang. Karena baterai alkali mempunyai
kekuatan arus listrik yang lebih besar bila dibanding baterai biasa (sel Leclanche). Elektroda batu
baterai alkali sama seperti pada batu baterai biasa, tetapi elektrolit yang digunakan adalah larutan
KOH.

Baterai ini juga menghasilkan potensial 1,5 volt dan dapat bertahan
secara konstan selama pemakaian. Biasanya baterai ini digunakan untuk mainan dan tape recorder.

c) Baterai perak oksida


Baterai perak oksida terdiri dari anoda Zn dan katoda Ag2O dengan elektrolit KOH. Reaksi yang
terjadi sebagai berikut.
Beda potesial dari bateri ini adalah 1,5 volt dan selama pemakaian dapat bertahan secara konstan.
Baterai ini digunakan untuk mainan, jam tangan, kalkulator, dan lain-lain

2) Sel Sekunder
a) Aki (Accumulator)
Aki adalah jenis baterai yang banyak digunakan untuk kendaraan bermotor. Aki menjadi
pilihan yang praktis karena dapat menghasilkan listrik yang cukup besar dan dapat diisi
kembali. Sel aki terdiri atas anode Pb (timbel = timah hitam) dan katode PbO2 (timbel (IV)
oksida). Keduanya merupakan zat padat, yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat. Kedua
elektrode tersebut, juga hasil reaksinya, tidak larut dalam larutan asam sulfat sehingga tidak
diperlukan jembatan garam. Aki tidak memerlukan jembatan garam karena hasil reaksinya tidak
larut dalam larutan elektrolit (asam sulfat). Kedua elektroda disekat dengan bahan fiberglass, agar
tidak saling bersentuhan.

Gambar 4. Aki

Tiap sel aki mempunyai beda potensial 2 volt. Aki 12 volt terdiri atas 6 sel yang dihubungkan
seri. Aki dapat diisi kembali karena hasil-hasil reaksi pengosongan aki tetap melekat pada kedua
elektrode. Pengisian aki dilakukan dengan membalik arah aliran elektron pada kedua elektrode.
Pada pengosongan aki, anode (Pb) mengirim elektron pada katode. Sebaliknya pada pengisian aki,
elektrode Pb dihubungkan dengan kutub negatif sumber arus sehingga PbSO4 yang terdapat pada
elektrode Pb itu direduksi. Sementara itu, PbSO4 yang terdapat pada elektrode PbO2 mengalami
oksidasi membentuk PbO2
Reaksi pengosongan aki:

Reaksi pengisian aki:

b) Baterai Ni-Cd
Sel terdiri dari anoda Cd dan katoda NiO2 dengan elektrolit KOH. Reaksi yang terjadi adalah:
Beda potensial sel ini adalah 1,4 V dan selama pemakaian dapat bertahan secara konstan. Selama
reaksi tidak terjadi perubahan konsentrasi ion karena pereaksi dan zat hasil berupa zat padat.
Penggunaan baterai Ni–Cd untuk kalkulator, kamera digital, laptop, dan lain-lain.

2. SEL ELEKTROLISIS
Elektrolisis merupakan elektrokimia yang menggunakan energi listrik agar dapat terjadi
reaksi kimia. Pada elektrolisis, katoda bermuatan negatif, sedangkan anoda bermuatan positif.
Elektrolisis terdiri atas zat yang dapat mengalami ionisasi (larutan atau lelehan), elektorde, dan
sumber listrik (baterai). Mula-mula aliran listrik dialirkan dari kutub positif baterai ke katoda yang
bermuatan negatif. Larutan atau lelehan akan terionisasi menjadi kation dan anion. Selanjutnya,
kation di katoda akan mengalami reduksi. Di anode, anion akan mengalami oksidasi.

Gambar 5. Elektrplisis
a. Cara Menuliskan Reaksi Kimia dalam Elektrolisis
Berdasarkan jenis elektrolitnya, reaksi pada elektrolisis dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu
elektrolisis dengan elektrolit larutan dan elektrolisis dengan elektrolit lelehan.
1) Elektrolisis Dengan Elektrolit Larutan
Larutan elektrolit diperoleh dengan cara melarutkan padatan elektrolit di dalam air. Zat yang
dapat mengalami reaksi redoks bukan hanya kation dan anionnya, tetapi juga pelarutnya (H2O).
dengan demikian, terjadi kompetisi antaraion-ion dan molekul H2O. Pemenang kompetisi
bergantung pada harga potensial standar sel (E°), jenis elektrode, dan jenis anion. Semakin besar
nilai E°, semakin mudah reaksi induksi terjadi. Untuk memudahkan penulisan reaksi kimia pada
elektrolisis dengan elektrolit larutan, gunakan diagram alir berikut.
2) Elektrolisis Dengan Elektrolit Lelehan
Lelehan elektrolit diperoleh dengan cara memanaskan padatan elektrolit tanpa melibatkan
air. Kation di katode akan direduksi, sedangkan anion di anode akan dioksidasi. Electrode yang
digunakan merupakan electrode inert (tidak akan bereaksi) seoerti platina atau grafit.
Contoh :
1. elektrolisis larutan AgNO3 dengan elektroda Pt
AgNO3 → Ag+ + NO3- x4
Katoda : Ag+ + e- → Ag x4
Anoda : 2H2O → 4H+ + O2 + 4e- x1

4AgNO3 → 4Ag+ + 4NO3-


Katoda : 4Ag+ + 4e- → 4Ag
Anoda : 2H2O → 4H+ + O2 + 4e- +
Reaksi : 4AgNO3 + 2H2O → 4Ag + 4H+ + 4NO3- + O2
4AgNO3 + 2H2O → 4Ag + 4HNO3 + O2
2. elektrolisi leburan NaCl dengan elektroda Cu ( ingat Cu tidak inert)
NaCl → Na+ + Cl- x2
Katoda : Na+ + e- → Na x2
Anoda : Cu → Cu2+ + 2e- x1
2NaCl → 2Na+ + 2Cl-
Katoda : 2Na+ + 2e- → 2Na
Anoda : Cu → Cu2+ + 2e- +
Reaksi : 2NaCl + Cu → 2Na + Cu2+ + 2Cl-
2NaCl + Cu → 2Na + CuCl2

b. Penggunaan Elektrolisis
Sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari reaksi elektrolisis, baik dalam bidang industri
maupun dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang akan dibahas pada halaman web ini hanya
beberapa saja, di antaranya adalah dalam produksi zat, pemurnian Logam, dan penyepuhan.
a) Produksi zat
Banyak zat kimia yang diproduksi melalui elektrolisis seperti logam-logam alkali, magnesium,
aluminium, fluorin, klorin, natrium, dan lainnya. Contoh: produksi klorin dan NaOH dalam
industri. Secara industri klorin dan NaOH dapat dibuat melalui elektrolisis larutan natrium
klorida.Proses ini disebut proses klor-alkali. Elektrolisis larutan NaCl ini dapat menghasilkan
NaOH dan Cl2. Reaksinya:
NaCl → Na+ + Cl-
Katoda : 2H2O + 2e- → H2 + 2OH-
Anoda : 2Cl- → Cl2 + 2e-
Reaksi : 2H2O + 2Cl- → H2 + 2OH- + Cl2
2H2O + 2 NaCl → 2NaOH + H2 + Cl2
Pada proses elektrolisis keadaan harus dijaga agar Cl2yang terbebtuk tidak bereaksi dengan NaOH.
Oleh karena itu ruang anoda dan katoda dipisahkan dengan berbagai cara, yaitu dengan sel
diafragma atau sel merkuri.

b) Pemurnian Logam
Salah satu contoh pemurnian logam yang akan dibahas kali ini adalah pemurnian logam tembaga.
Tembaga di murnikan secara elektrolisis. Tembaga kotor dijadikan anoda, sedangkan pada katoda
digunakan tembaga murni. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan CuSO4. Selama
elektrolisis, tembaga dari anoda terus menerus dilarutkan kemudian diendapkan pada katode.
Reaksinya:
CuSO4 → Cu2+ + SO42-
Katoda : Cu2+ + 2e- → Cu
Anoda : Cu → Cu2+ + 2e-
Cu → Cu

c) Penyepuhan
Penyepuhan digunakan untuk melindungi logam terhadap korosi, atau untuk memperbaiki
penampilan. Misalnya gelang tembaga dilapisi dengan emas, untuk mencegah korosi, besi dilapisi
dengan seng atau timah, dan sebagainya.Pada penyepuhan, logam yang akan disepuh dijadikan
katoda, sedangkan logam penyepuh sebagai katoda. Kedua elektroda harus dicelup kedalam
larutan garam dari logam penyepuh.

Gambar 6. Penyepuhan

B. KOROSI
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan
berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara
kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan.
Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa
korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih
mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah
diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja
paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan
korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami
reduksi. Proses berkarat dapat dipercepat dengan adanya asam. Karat logam umumnya adalah
berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O suatu zat padat yang
berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku
sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.

Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai
katode, di mana oksigen tereduksi.

Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi (III) yang
kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi
itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada
berbagai faktor, misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Kehadiran besi di alam sebenarnya telah tercantum dalam al-Quran pada surat Al-Hadid ayat
25 sebagai berikut:

‫اس ِب ْال ِق ْس ِط َوأ َ ْنزَ ْلنَا ْال َحدِيدَ فِي ِه‬


ُ َّ‫وم الن‬ َ ُ‫اب َو ْال ِميزَ انَ ِل َيق‬َ َ ‫ت َوأ َ ْنزَ ْلنَا َم َع ُه ُم ْال ِكت‬ ِ ‫سلَنَا ِب ْال َب ِيِّنَا‬
ُ ‫س ْلنَا ُر‬
َ ‫لَقَ ْد أ َ ْر‬
)٢٥( ‫يز‬ ٌ ‫ع ِز‬ َ ‫ي‬ ٌّ ‫َّللاَ قَ ِو‬
َّ ‫ب ِإ َّن‬ِ ‫سلَهُ ِب ْالغَ ْي‬ ُ ‫َّللاُ َم ْن َي ْن‬
ُ ‫ص ُرهُ َو ُر‬ َّ ‫اس َو ِل َي ْعلَ َم‬ِ َّ‫شدِيدٌ َو َمنَافِ ُع ِللن‬ َ ‫س‬ ٌ ْ ‫َبأ‬
Artinya:
“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami
turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami
menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar
Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun Allah tidak
dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa”
Besi dapat dilindungi dari proses korosi dengan cara:
1. Melapisi logam besi dengan Ni atau Cr
2. Melapisi besi dengan minyak atau oli
3. Pengecatan
4. Menggalvanisir yaitu melapisi besi dengan Zn
Menggalvanisir yaitu cara mencegah korosi dengan cara melindungi permukaan logam dengan
dilapisi logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan adalah logam yang terletak di
sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi lebih negatif dari besi) misalnya Zn.
Lapisan Zn bertindak sebagai anoda, sedang Fe sebagai katoda. Di sini akan terjadi aliran elektron
dari Zn ke Fe, sehingga yang mengalami korosi adalah logam Zn sedangkan Fe tidak terkorosi.
Akibatnya lapisan Zn akan habis dalam waktu tertentu. Selain dengan Zn, besi dapat juga
dilapisi dengan Sn (timah). Pelapisan besi dengan timah banyak digunakan dalam pembuatan
kaleng makanan.
5. Proteksi katodik
Pencegahan korosi pada pipa dalam tanah, dapat dilakukan dengan cara menanam logam yang lebih
reaktif (misalnya Mg), didekat pipa, yang kemudian dihubungkan dengan kawat. Batang
magnesium akan mengalami oksidasi, dan pipanya terlindung dari korosi. Magnesium makin lama
makin terkikis, dan secara periodik harus diganti yang baru.

SEL VOLTA : AKI (ACCU)


JUNI 16, 2017

Gambar Sel Volta dengan Jembatan Garam

Sel volta adalah sel elektrokimia yang menghasilkan arus listrik. Ciri khas dari sel volta

adalah menggunakan jembatan garam. Jembatan garam berupa pipa U yang diisi agar-agar
yang mengandung garam kalium klorida. Sel volta terdiri dari anoda yang bermuatan negatif
dan katoda yang bermuatan positif. Pada anoda terjadi proses oksidasi, oksidasi adalah
pelepasan elektron. Sedangkan pada katodanya terjadi proses reduksi, reduksi adalah
penangkapan elektron. Proses serah terima electron ini teradi karena adanya jembatan garam,
tanpa adanya jembatan garam akan terjadi penumpukan electron. Akibat penumpukan
electron inilah larutan tidak dapat menghantarkan arus listrik.

Potensian Sel E˚ dapat dihitung melalui :

E˚sel = E katoda – E anoda

apabila larutan dalam keadaan standar (konsentrasi [M] semua larutan sama). Namun apabila
larutan tudak dalam keadaan standar maka :

apabila larutan dalam keadaan standar (konsentrasi [M] semua larutan sama). Namun apabila
larutan tudak dalam keadaan standar maka :
Untuk mempermudah siapa yang bertindak sebagai katoda dan siapa yang bertindak
sebagai anoda, maka dapat dilihat dari deret Voltanya. Deret Volta

Li K Ba Ca Na Mg Al Zn Cr Fe Ni Si Pb H Cu Hg Ag Pt Au

Semakin ke kiri maka akan semakin mudah teroksidasi atau bertindak sebagai anoda,
sedangkan semakin ke kanan semakin mudah mengalami reduksi atau sebagai katoda.

Hubungan antara E˚sel dan energy Gibbs (∆G) adalah :

∆G = -nFE˚sel (n = umlah serah terima elektron)

∆G = -nRTInK (n = mol)

F= 96500 c/K.mol

R = 8,314 J/K.mol

Dari persamaan tersebut dapat diketahui bahwa nilai potensial sel berbanding lurus
dengan suhu. Persamaannya adalah

Hubungan Entalpi (∆H) dan Konstanta keseimbangan (K) adalah:


Dari persamaan diatas juga dapat ditentukan nilai Entropinya ∆S.

∆G = ∆H - T∆S

Sel volta banyak sekali digunakan pada kehidupan sehari-hari. Sel volta yang biasa
digunakan pada kehidupan manusia seperti jenis-jenis baterai dan aki (accu). Baterai dan aki
sangatlah berbeda, perbedaan ini dapat dilihat dari setelah pemakaian kedua benda tersebut.
Baterai apabila sudah terpakai tidak dapat digunakan lagi karena sudah tidak ada lagi arus
listrik pada baterai tersebut. Sedangkan, aki apabila arus listriknya sudah habis dapat diisi lagi
dengan mengalirkan arus listrik.

Aki atau accumulator merupakan sel volta yang tersusun atas elektroda Pb dan PbO, dalam larutan
asam sulfat yang berfungsi sebagai elektrolit. Pada aki, sel disusun dalam beberapa pasang dan setiap
pasang menghasilkan 2 Volt. Pada umumnya aki memiliki potensial sebesar 6 Volt (kecil) sebagai sumber
arus sepeda motor dan 12 V (besar) untuk mobil. Aki merupakan sel yang dapat diisi kembali, sehingga
aki dapat dipergunakan secara terus menerus. Sehingga ada dua mekanisme reaksi yang terjadi. Reaksi
penggunaan aki merupakan sel volta, dan reaksi pengisian menggunakan arus listrik dari luar
seperti peristiwa elektrolisis. Sel aki disebut juga sebagai sel penyimpan, karena dapat berfungsi
penyimpan listrik dan pada setiap saat dapat dikeluarkan . Anodenya terbuat dari logam timbal atau
timah hitam (Pb) dan katodenya terbuat dari logam timbal yang dilapisi PbO2, keduanya merupakan
zat padat yang dicelupkan dalam larutan asam sulfat. Kedua elektrode tersebut, juga hasil reaksinya, tidak
larut dalam larutan asam sulfat, sehingga tidak perlu memisahkan anode dan katode. Dengan demikian,
tidak diperlukan jembatan garam, yang perlu dijaga adalah jangan sampai kedua elektrode tersebut saling
bersentuhan. Reaksi yang terjadi dalam aki adalah

Pada aki (accu) terjadi dalam satu sel tanpa adanya jembatan garam sebagai penghubung. Notasi sel tanpa
jembatan garam secara umum dapat ditulis sebagai berikut : anoda│katoda.