Anda di halaman 1dari 19

I.

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Menurut Kemenkes RI (2015) Penyakit kanker merupakan salah satu
penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2012, sekitar 8,2 juta
kematian disebabkan oleh kanker. Penyembuhan kanker telah dilakukan melalui
berbagai cara seperti pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi. Penyembuhan
tersebut memiliki kelemahan sehingga pengobatan kanker hingga saat ini belumlah
mempunyai hasil yang memuaskan (Padmi, 2008), sehingga perlu adanya senyawa
anti kanker yang dapat mencegah terjadinya kanker. Pencegahan penyakit kanker
dapat berawal dari mengkonsumsi bahan pangan yang mengandung senyawa
antioksidan sebagai senyawa yang dapat mencegah penyakit kanker (Suryanto,
2012).
Antioksidan berperan penting dalam pencegahan penyakit kanker dan
penyakit degenerasi. Secara alami antioksidan dapat diperoleh dari daun sayuran dan
biji – bijian, seperti asam askrobat, vitamin E, dan senyawa fenolik. Antioksidan
memiliki kemampuan mengurangi efek buruk oksidatif yang berkaitan dengan
berbagai penyakit, seperti kanker, penyakit kardiovascular, katarak, atherosclerosis,
diabetes, arthritis, penyakit defisiensi imun, dan penuaan (Amielia, 2014).
Zat antioksidan yang berasal dari tumbuhan banyak dikembangkan dan
diteliti. Secara alami, tumbuhan yang mengandung antioksidan tersebar pada
berbagai bagian tumbuhan seperti akar, batang, kulit, ranting, daun, buah, bunga dan
biji (Hutapea, 2005).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Simbala (2006) tanaman pinang
Yaki memiliki senyawa metabolit sekunder yaitu flavonoid, triterpenoid, tanin,
hidrokuinon dan saponin. Oleh karena banyaknya kandungan antioksidan yang
terkandung dalam tanaman Pinang Yaki dan sudah ada penelitian mengenai buah,
biji, bahkan kulit biji dari tanaman ini maka kali ini peneliti ingin meneliti batang
buah dari tanaman Pinang Yaki. Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi fitokimia
untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam batang buah
Pinang Yaki serta uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-
picrylhydrazyl) untuk mengetahui kemampuan ekstrak dalam menghambat radikal
bebas DPPH dan Uji toksisitas.
Untuk mengidentifikasi senyawa antioksidan dapat menggunakan senyawa
1.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) atau lebih dikenal dengan nama metode
DPPH. Senyawa radikal kromogen seperti DPPH dapat secara langsung bereaksi
dengan antioksidan. DPPH digunakan untuk mengevaluasi kemampuan antioksidan
dari komponen dengan mengukur perubahan absorbansi, absorbansi DPPH akan
menurun apabila elektron ganjil dari atom hydrogen dalam DPPH direduksi dengan
penerimaan sebuah atom hidrogen dari antioksidan. Pengukuran aktivitas
antioksidan dapat diketahui berdasarkan nilai Inhibisi Concetration (IC) 50, di mana
menunjukkan kemampuan senyawa menghambat proses oksidasi sebesar 50%
(Molyneux, 2004).
Uji toksisitas merupakan uji pendahuluan yang dilakukan untuk mengetahui
efek toksik dan ambang batas penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat. Uji
toksisitas dapat dilakukan dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test
terhadap larva Artemia salina Leach (Meyer et al. 1982). BSLT merupakan metode
untuk mengetahui tingkat toksisitas suatu senyawa aktif terhadap larva udang
Artemia salina. Senyawa aktif yang memiliki daya toksisitas tinggi diketahui
berdasarkan nilai Lethal Concetration 50% (LC50), yaitu suatu nilai yang
menunjukkan konsentrasi zat toksik yang menyebabkan kematian hewan uji sebesar
50%. Hasil uji toksisitas dapat dijadikan tolak ukur penggunaan konsentrasi senyawa
aktif yang aman untuk digunakan (Meyer et al,. 1982).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa kandungan senyawa aktif dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria)
?
2. Apakah batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria) memiliki aktivitas
antioksidan ?
3. Bagaimana hasil uji toksisitas dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria)
?
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada pengamatan terhadap identifikasi kandungan
fitokimia dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria), uji aktivitas antioksidan
dengan menggunakan metode DPPH dan uji toksisitas menggunakan metode BSLT
dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria).
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini untuk
1. Mengidentifikasi kandungan fitokimia dari batang buah Pinang Yaki (Areca
vestiaria).
2. Mengetahui aktivitas antioksidan dari batang buah Pinang Yaki (Areca
vestiaria).
3. Mengetahui toksisitas dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria).

1.5 Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi penelitian
lebih lanjut mengenai potensi dari batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria) sebagai
salah satu sumber antioksidan alami. Dan diharapkan dapat menambah kekayaan ilmu
pengetahuan di bidang ilmu farmasi terutama dalam pengembangan dan penelitian
obat-obat baru.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pinang Yaki (Areca vestiaria)
2.1.1 Klasifikasi Ilmiah
Klasifikasi menurut Bischoff et al (2003), klasifikasi ilmiah tanaman Pinang yaki
ialah :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Arecales

Famili : Arecaceae

Genus : Areca

Spesies : Areca vestiaria

Gambar 1. Pinang Yaki (Areca vestiaria);(sumber: Simbala,2003)


2.1.2 Morfologi Pinang Yaki (Areca vestiaria)
Areca vestiaria dikenal dengan nama pinang yaki, tumbuh dikawasan hutan
yang agak terbuka, tersebar pada ketinggian 100 – 1200 m dpl (diatas permukaan
laut). Karakteristik morfologi pinang yaki memiliki batang tunggal atau berumpun,
tinggi 5 – 10 m dengan tajuk pelepah berwarna kuning sampai merah jingga. Daun
bertangkai dan tulang daun berwarna kuning. Pembungaan tumbuh pada batang di
bawah pelepah. Buah bulat, diameter buah 2 cm, berwarna hijau muda dan setelah
masak berwarna jingga sampai merah, daging buah berserat dan berbiji satu.
(Simbala, 2004).
Di daerah asalnya Sulawesi Utara, pinang merah ini juga disebut pinang yaki
(monyet) karena memang monyet khas Sulawesi yakni Macaca nigra senang
berdiam di batang pinang ini untuk memakan buahnya. Warna pelepah dahannya
bervariasi, mulai dari merah, jingga menyala hingga kecoklatan. Spesies ini
memiliki habitat di wilayah gunung berapi di Sulawesi Utara, terutama Gunung
Ambang, G. Soputan, G. Mahawu dan di kawasan hutan Taman Nasional Bogani
Nani Wartabone. Setiap pohon dapat ditumbuhi 25 sampai 30 buah yang muncul
secara bergerombolan.

2.1.3 Kandungan Tanaman


Menurut Simbala (2006), Pinang Yaki (Areca vestiara) yang merupakan
sejenis palem liar, merupakan tanaman yang multi fungsi. Biji Pinang Yaki (Areca
vestiara) mengandung tanin, flavonoid, hidrokuinon, triterpenoid dan saponin.
Kandungan kimia dari biji pinang yaki adalah gula 50-60%, lipid 15%, tanin
15% dan 0.2-0.5 % alkaloid (arekolin, arekaidin, guvasin (tetrahidrinocotinic acid)
dan guvakolin (Bruneton, 1995; Eisenbrand dan Tang (1992), juga golongan tanin,
sitosterol, karbohidrat, saponon dan karotenoid (Eisenbrand dan Tang 1992). Oleh
Wang dan Lee (1996), disebutkan ekstrak buah pinang selain mengandung tanin,
juga senyawa flavan, fenolik, asam galat, getah, lignin minyak menguap dan tidak
menguap dan garam.
Hasil penelitian Simbala 2007, dalam buah Areca vestiaria terkandung
berbagai senyawa, diantaranya flavonoid, triterpen, dan tannin. Di antara
senyawasenyawa tersebut,flavonoid mempunyai bermacam-macam efek, yaitu
antitumor, anti HIV, imuno stimulant, antioksidan, analgetik, antiradang (anti
inflamasi), antivirus, antibakteri, antifungal, antidiare, antihepatotoksik,
antihiperglikermik, dan sebagai vasodilator (de Padua et al., 1999).
2.1.4 Manfaat
Masyarakat Sulawesi Utara secara empiris menggunakan tanaman ini untuk
menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti diabetes dan diare (Simbala,2006).
Suku Bolaang Mongondow yang tinggal dikawasan Taman Nasional Bogani Nani
Wartabone Tanaman pinang yaki ini digunakan sebagai obat untuk penyakit diabetes.
Selain itu juga dipakai sebagai obat kontrasepsi dan anti tumor/anti kanker.

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses melarutkan komponen-komponen kimia yang
terdapat dalam suatu sampel dengan menggunakan pelarut yang sesuai dengan
komponen yang diinginkan. Ekstraksi ini didasarkan pada perpindahan masa
komponen zat padat kedalam dan perpindahan mulai terjadi pada lapisan antarmuka,
kemudian terdifusi masuk ke dalam pelarut (Dirjen POM, 2000).
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang
terdapat pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa
komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar
muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut (Harbone, 1987).
Metode ekstraksi yang digunakan untuk bahan alam dikenal dengan salah
satu metode yaitu maserasi. Maserasi merupakan cara yang sederhana, yang
dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam pelarut. Pelarut akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat-zat
aktif sehingga zat aktif akan larut. Karena adanya perbedaan konsentrasi antara
larutan zat aktif didalam sel, maka larutan yang pekat didesak keluar. Pelarut yang
digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol, dan pelarut lain.

2.3 Fitokimia
Fitokimia merupakan ilmu pengetahuan yang menguraikan aspek kimia suatu
tanaman. Kajian fitokimia meliputi uraian yang mencangkup aneka ragam senyawa
organic yang dibentuk dan disimpan oleh organism, yaitu struktur kimianya,
biosintesisnya, perubahan serta metabolismenya, penyebarannya secara alamiah dan
fungsi biologisnya, isolasi dan perbandingan kompisisi senyawa kimia dari
bermacam-macam jenis tanaman (Harborne, 1987; Sirait, 2007).
2.3.1 Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon,
terdiri dari dua cincin benzene yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang
terdiri dari tiga atom karbon. Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa 1,3 diaril
propane, senyawa isoflavonoid adalah senyawa 1,2 diaril propane, sedangkan
senyawa-senyawa neoflavonoid adalah 1,1 diaril propane. Flavonoid yang
merupakan senyawa fenolik alam memiliki sifat antioksidan dan berpotensi dalam
menghambat pertumbuhan sel kanker melalui mekanisme penghambatan siklus sel,
pemacuan apoptosis, penghambatan angiogenesis, antiproliferatif atau kombinasi
dari beberapa mekanisme tersebut. Jenis flavonoid, misalnya genestein dan
kuersetin, mampu menghambat aktivitas protein kinase pada daerah pengikatan
ATP. Peran dari protein kinase sendiri, yaitu sebagai sinyal pertumbuhan pada sel-
sel kanker dan pada jalur antiapoptosis (Meiyanto et al. 2007).
2.3.2 Tanin
Tanin merupakan senyawa aktif yang diketahui mempunyai beberapa khasiat
yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan antioksidan. Tanin merupakan
komponen zat organic yang sangat kompleks, terdiri dari senyawa fenolik yang sukar
dipisahkan dan sukar mengkristal, mengendapkan protein dari larutannya dan
bersenyawa dengan protein tersebut. Tanin dibagi menjadi dua kelompok yaitu tanin
terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin memiliki peranan biologis yang
kompleks mulai dari pengendap protein hingga pengkhelat logam. Tanin juga dapat
berfungsi sebagai antioksidan biologis (Hagerman, 2002).
2.3.3 Tripenoid
Terpen adalah senyawa yang tersusun atas isoprene CH2=C(CH3)-CH=CH2
dan kerangka karbonnya dibangun oleh penyambungan dua atau lebih satuan C5 ini.
Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa seperti monoterpen dan
seskuiterpen yang mudah menguap, diterpen yang sukar menguap, dan triterpen dan
sterol yang tidak menguap. Secara umum senyawa ini larut dalam lemak dan
terdapat dalam sitoplasma sel tumbuhan. Biasanya senyawa ini diekstraksi dengan
menggunakan petroleum eter, eter, atau kloroform.Steroid merupakan senyawa
triterpen yang terdapat dalam bentuk glikosida (Harbone, 1987)
2.3.4 Saponin
Saponin merupakan suatu glikosida yakni campuran karbohidrat sederhana
dengan glikon yang terdapat pada bermacam-macam tanaman (Kirk dan Othmer,
1967). Saponin memiliki karakteristik berupa buih, sehingga ketika direaksikan
dengan air dan dikocok maka akan terbentuk buih yang dapat bertahan lama. Saponin
mudah larut dalam air dan tidak mudah larut dalam eter, memiliki rasa pahit
menusuk.Saponin merupakan racun yang dapat menghancurkan butir darah atau
hemolisis (Prihatna, 2001).

2.4 Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa yang dapat menghambat oksigen reaktif dan
radikal bebas dalam tubuh dengan cara memberikan satu atau lebih elektron kepada
radikal bebas sehingga menjadi molekul yang normal kembali dan menghentikan
kerusakan yang ditimbulkan (Sasikumar, et al., 2009). Antioksidan merupakan
senyawa-senyawa yang mampu menghilangkan, membersihkan, menahan
pembentukan ataupun memadukan efek spesies oksigen reaktif. Penggunaan
senyawa antioksidan juga anti radikal saat ini semakin meluas seiring dengan
semakin besarnya pemahaman masyarakat tentang peranannya dalam menghambat
penyakit degenerative seperti penyakit jantung, arteriosclerosis, kanker, serta gejala
penuaan. Tubuh manusia menghasilkan senyawa antioksidan, tetapi jumlahnya
sering kali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh
(Lenny, 2006; Hernani dan Raharjo, 2005).
Senyawa antioksidan alami tumbuhan selain berupa vitamin adalah senyawa
fenolik atau polifenolik yang dapat berupa golongan flavonoid, turunan asam
sinamat, kuomarin, tokoferol, dan asam-asam organic polifungsional. Golongan
flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan meliputi flavon, flavonol, isoflavon,
katekin, dan kalkon. Sementara turunan asam sinamat meliputi asam kafeat, asam
ferulat, asam klorogenat, asam galat dan lain-lain (Kumalaningsih, 2006).

2.4.1 Uji Aktivitas Antioksidan Metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl )


Metode uji DPPH merupakan salah satu metode yang paling banyak
digunakan untuk memperkirakan efektivitas kinerja dari substansi yang berperan
sebagai antioksidan. Metode pengujian ini berdasarkan pada kemampuan substansi
antioksidan tersebut dalam menetralisir radikal bebas. Radikal bebas yang digunakan
adalah 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH). Mekanisme penangkapan radikal
DPPH, yaitu melalui donor atom H dari senyawa antioksidan yang menyebabkan
peredaman warna radikal pikrilhidrazil yang berwarna ungu menjadi pikrilhidrazil
berwarna kuning yang nonradikal (Molyneux, 2004).
Menurut Molyneux (2004) Larutan DPPH yang berisi ekstrak sampel diukur
serapan cahayanya pada panjang gelombang 517nm dan dihitung aktivitas
antioksidannya dengan persen inhibisi. Persen inhibisi pada peredaman radikal bebas
merupakan kemampuan suatu bahan dalam menghambat radikal bebas yang
berhubungan dengan konsentrasi bahan yang diuji, sedangkan inhibitor
concentration 50% (IC 50 ) merupakan parameter yang sering digunakan dalam
menyatakan hasil dari pengujian DPPH.
Nilai IC 50 merupakan konsentrasi dimana ekstrak dapat menangkap radikal
bebas sebesar 50% yang diperoleh dengan memakai persamaan regresi linear y = a
+ bx. Grafik dibuat dengan konsentrasi sampel uji (ppm) sebagai absis (sumbu x)
terhadap persen inhibisi sebagai ordinat (sumbu y).

2.5 Uji Toksisitas


Toksisitas menurut ilmu kimia adalah kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu
bentuk aksi kimia yang mempunyai bentuk dan variasi yang luas. Asam-asam kuat
atau alkalis yang mengalami kontak langsung dengan organ mata, kulit dan atau
saluran penceraan, dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan dan bahkan
kematian pada sel-sel (Palar, 1994).
Uji toksisitas merupakan uji pendahuluan yang dilakukan untuk mengetahui
efek toksik dan ambang batas penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat. Uji
toksisitas dapat dilakukan dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test
terhadap larva Artemia salina Leach. (Meyer et al. 1982).

2.5.1 Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)


Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan pengujian senyawa secara
umum yang dapat mendeteksi beberapa bioaktivitas dalam suatu ekstrak.
Bioaktivitas yang dapat dideteksi dari skrining awal dengan metode BSLT
diantaranya adalah antikanker, antitumor, antimalaria, antimikroba,
immunosuppressive, antifeedant dan residu pestisida (Colegate dan Molyneux
, 2007). Uji toksisitas dengan metode BST ini merupakan uji toksisitas akut
dimana efek toksik dari suatu senyawa ditentukan dalam waktu singkat, yaitu
rentang waktu selama 24 jam setelah pemberian dosis uji.
Prosedurnya dengan menentukan nilai LC50 dari aktivitas komponen aktif
tanaman terhadap larva Artemia salina Leach. Suatu ekstrak dikatakan toksik
berdasarkan metode BSLT jika harga LC < 1000 μg/ ml (Carballo, 2002).
Pengujian menggunakan BSLT diterapkan dengan menetukan nilai Lethal
Concentration 50% (LC50) setelah perlakuan 24 jam. Nilai LC50 merupakan angka
yang menunjukkan konsentrasi suatu bahan penyebab kematian sebesar 50% dari
jumlah hewan coba.

2.6 Artemia salina L.


2.6.1 Klasifikasi
Artemia salina memiliki klasifikasi sebagai berikut (Bougis,1979) :
Kingdom : Animalia
Devisi : Arthopoda
Subdivisi : Crustacea
Kelas : Branchiopoda
Subkelas : Anostraca
Ordo : Artemiidae
Famili : Artemia L.
Spesies : Artemia salina L.

Gambar 2. Larva Udang (Artemia salina L) (Sriwahyuni dan Hayati, 2010)


2.6.2 Sifat dan Morfologi
Artemia hidup sebagai zooplankton di perairan yang berkadar garam tinggi
(antara 15 - 300 mil). Suhu yang dikehendaki berkisar antara 25 - 30C, oksigen
terlarut sekitar 3 mL/L, dan pH antara 7,3 - 8,4 (Alam, 2002).
Artemia merupakan salah satu jenis pakan alami yang hidup di laut. Telur
artemia yang baru menetas merupakan jenis pakan awal bagi larva patin (sampai
umur 7 hari) yang kandungan proteinnya cukup tinggi yaitau sekitar 55%. Artemia
merupakan golongan zooplankton yang hidup sebagai planktonik yaitu melayang
dalam air. Artemia termasuk jenis udang-udangan yang mempunyai ukuran relatif
kecil dengan sistem osmoregulasi yang efisien sehingga mampu beradaptasi pada
kisaran salinitas yang luas (Kholish, 2010).
I. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan February 2019 – Juni 2019 di


Laboratorium Farmakognosi dan Fitokimia, Laboratorium Farmakologi dan
Biofarmasi, dan Laboratorium Analisa Farmasi Program Studi Farmasi Universitas
Sam Ratulangi.
3.2 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian ekperimental laboratorium.
3.3 Alat dan Bahan
3.3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian yakni Blender, Ayakan 200 mesh,
Kertas saring whatman 42, Tabung reaksi, Rak tabung, Pipet tetes, Baker glass,
Timbangan analitik, Gelas ukur, Erlenmeyer, Incubator, Batang Pengaduk,
Alumunium foil, Rotary evaporator, Spektrofotometer UV-Vis, Spatula, Corong.
3.3.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Batang Buah Pinang Yaki
(Areca vestiaria) diambil dari gunung Mahawu yang berada pada kawasan kota
Tomohon, Sulawesi Utara. Bahan kimia yang digunakan Etanol 95%, Metanol Pro
Analisis, Vitamin C, Air laut, Naupilus Artemia salina, Aquadest, DPPH, HCl pekat,
NaOH, FeCl3, Serbuk Magnesium.
3.4 Prosedur Penelitian
3.4.1 Pengambilan dan Persiapan Sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu batang buah dari Pinang
Yaki (Areca vestiaria) yang diambil dari kota Tomohon, Sulawesi Utara. Sampel
kemudian dicuci untuk menghilangkan sisa kotoran yang dapat mengganggu dan
dikeringkan sampai kering. Selanjutnya sampel ditimbang berat basah kemudian
dihaluskan menggunakan blender hingga sampel menjadi halus lalu diayak dengan
ayakan.
3.4.2 Ekstraksi Sampel
Sampel segar batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria) dibersihkan,
kemudian dihaluskan menggunnakan blender hingga berbentuk serbuk. Selanjutnya
serbuk ditimbang sebanyak 200 gram kemudian sampel dimaserasi menggunakan
pelarut etanol 95% sampai terendam seluruhnya kemudian ditutup menggunakan
aluminium foil dan sesekali diaduk sampai sampel menjadi jenuh. Ekstrak disaring
menggunakan kertas saring no.42. kemudian maserat diuapkan menggunakan rotary
evaporator dan dilanjutkan dalam oven 40°C hingga didapatkan ekstrak kental
batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria). Kemudian digunakan untuk identifikasi
fitokimia, uji aktivitas antioksidan dan Uji toksisitas
3.5 Identifikasi Fitokimia
Identifikasi fitokimia merupakan uji kualitatif untuk mengetahui keberadaan
senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak batang buah Pinang
Yaki. Identifikasi yang dilakukan adalah identifikasi flavonoid, saponin,
steroid/triterpenoid, dan tanin. Metode analisis yang digunakan berdasarkan pada
Harborne (1987).
3.5.1 Identifikasi Flavonoid
Sebanyak 0.5 gram ekstrak ditambahkan 2 mL etanol 95%, kemudian
dipanaskan dalam penangas air sampai mendidih. Dipipet lapisan yang atas
kemudian ditambahkan 2-3 tetes HCL pekat dan 0.1 gram serbuk Mg. Selanjutnya
diamkan selama 3 menit, bila terjadi perubahan warna menjadi merah atau kekuning-
kuningan berarti menunjukkan adanya flavonoid.
3.5.2 Identifikasi Saponin
Sebanyak 0.5 gram ekstrak ditambahkan 5 mL aquades sambil dikocok
kuat selama 1 menit. Pada tabung sampel terdapat buih setinggi 3.5 cm dan bila
busa yang terbentuk tetap stabil ± 7 menit, berarti menunjukan adanya banyak
saponin.
3.5.3 Identifikasi steroid/triterpenoid
Sebanyak 0.5 gram ekstrak ditambahkan CH3COOH glacial sebanyak 10
tetes dan H2SO4 pekat sebanyak 2 tetes. Larutan kemudian dikocok perlahan
dan dibiarkan selama beberapa menit. Steroid memberikan warna biru atau
hijau, sedangkan triterpenoid memberikan warna merah atau ungu.
3.5.4 Identifikasi Tanin
Sebanyak 0.5 gram ekstrak ditambahkan etanol 95%. Kemudian
didiamkan ± 15 menit, lalu disaring. Filtrat yang didapat dipipet dan
ditambahkan 2 tetes NaCL 10% dan 3 tetes FeCL3 1%. Terbentuknya warna
biru/hitam kehijauan menunjukkan adanya tanin. (Harbone, 1987).
3.6 Uji Aktivitas Antioksidan
Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak Batang Buah Pitang Yaki ini
menggunakan radikal bebas 1.1-diphenyl-2- picrylhydrazyl (DPPH) seperti yang
dilakukan oleh Molyneux (2004).
3.6.1 Pembuatan Larutan DPPH 0.1 mM
Serbuk DPPH (BM 394,32) sebanyak 0.04 mg dilarutkan dengan methanol p.a (pro
analisa) dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 ml. volume dicukupkan dengan methanol
p.a hingga tanda batas, kemudian ditempatkan dalam botol gelap.

3.6.2 Persiapan larutan uji


Ditimbang 10 mg ekstrak kemudian dilarutkan dalam 10 ml methanol hingga
homogen (konsentrasi 1000 ppm). Larutan uji dibuat beberapa konsentrasi yaitu 10
ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Untuk membuat masing-masing
konsentrasi tersebut, dipipet 100 µL, 200 µL 300 µL, 400 µL, 500 µL dari larutan
induk ke dalam labu ukur 10 ml.
3.6.3 Pengujian Aktivitas Antioksidan
Untuk masing-masing konsentrasi ditambahkan 1 ml larutan DPPH 0.1 mM
dan ditambahkan dengan methanol pro analisis sampai tanda batas, ditutup
menggunakan aluminium foil, kemudian dihomogenkan menggunakan vortex dan
diinkubasi selama 30 menit pada suhu ruang 37°C. Hal ini dilakukan untuk
mengoptimumkan aktivitas DPPH agar terjadi reaksi antara DPPH dengan sampel
yang diuji (Hatano et al., 1988). Selanjutnya diukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 517 nm.
3.6.4 Analisis Data (Penentuan nilai IC (Inhibitory Concentration)
50

Parameter yang bisa digunakan untuk menginterprestasikan hasil dari uji


aktivitas antioksidan dengan metode DPPH adalah dengan nilai IC50, yaitu
konsentrasi yang menyebabkan hilangnya 50% aktivitas DPPH (Molyneux, 2004).
Untuk menghitung nilai IC50 diperlukan data persen inhibisi dari pengujian yang
dilakukan. Persen inhibisi dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut:
absorbansi blanko−absorbansi sampel
%inhibisi = x 100%
𝑎𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑏𝑙𝑎𝑛𝑘𝑜

Konsentrasi sampel dan persen inhibisi yang diperoleh diplot masing-masing


pada sumbu x dan y pada persamaan regresi linear. Persamaan tersebut digunakan
untuk menentukan IC50 dari masing-masing sampel dinyatakan dengan nilai y
sebesar 50 dan nilai x yang akan diperoleh sebagai IC50 (Nurjanah, Izzati, &
Abdullah, 2011).
Menurut Blois (2005) suatu senyawa memiliki antioksidan yang sangat kuat
bila nilai IC50 < 50 ppm, kuat bila nilai IC50 bernilai 50-100 ppm, sedang bila nilai
IC50 bernilai 100-150 ppm, dan lemah bila nilai IC50 bernilai 151-200 ppm.

3.7 Uji Toksisitas dengan Metode BSLT


3.7.1 Persiapan Larva Artemia salina L.
Sebanyak 50 mg telur A. salina direndam dalam wadah yang berisi air laut di
bawah cahaya lampu 25 watt dan dilengkapi dengan aerator. Telur Artemia akan
menetas dan menjadi larva setelah 48 jam. Larva yang berumur 2 hari yang
digunakan sebagai hewan uji (Mujiman, 1988).
3.7.2 Pembuatan Konsentrasi Sampel Uji
Pembuatan konsentrasi larutan uji untuk BSLT adalah 1000 μg/mL, 100
μg/mL, l0 μg/mL, 1 μg/mL, dan 0 μg/mL (sebagai kontrol negatif) sesuai metode
yang dipakai oleh Surya (2018).
a. Masing-masing ekstrak etanol 95% Batang buah Pinang Yaki (Areca vestiaria)
ditimbang sebanyak 50 mg, kemudian dilarutkan dengan air laut sebanyak 50 mL
untuk memperoleh konsentrasi 1000 μg/mL.
b. Dari larutan dengan konsentrasi 1000 μg/mL diambil 5mL dan dilarutkan dengan
air laut hingga 50 mL untuk mendapatkan konsentrasi 100 μg/mL.
c. Dari larutan dengan konsentrasi 100 μg/mL diambil 5mL dan dilarutkan dengan
air laut hingga 50 mL untuk mendapatkan konsentrasi 10 μg/mL.
d. Dari larutan dengan konsentrasi 10 μg/mL diambil 5mL dan dilarutkan dengan
air laut hingga 50 mL untuk mendapatkan konsentrasi 1 μg/mL.
e. Untuk mendapatkan larutan konsentrasi 0 μg/mL dibuat dengan mengambil 10
mL air laut.
3.7.3 Pelaksanaan Uji Toksisitas
Pada setiap konsentrasi dari ektrak etanol 95% batang pinang yaki dilakukan
Uji Toksisitas dengan 2 replikasi menggunakan 10 ekor larva pada setiap kelompok
uji. Sebanyak 3 wadah digunakan untuk konsentrasi 100 μg/mL, 3 wadah untuk
konsentrasi 10 μg/mL, 3 wadah untuk konsentrasi 1 μg/mL, dan 3 wadah untuk
konsentrasi 0 μg/mL sebagai kontrol negatif. Pengamatan dilakukan selama 24 jam
terhadap kematian larva A. salina. Kriteria standar untuk menilai kematian larva A.
salina yaitu bila larva A. salina tidak menunjukkan pergerakkan selama beberapa
detik observasi (Meyer et al., 1982; Krishnaraju et al., 2005).
3.7.4 Analisis Data
Data hasil penelitian akan diolah dalam bentuk tabel dan grafik. Data dari uji
antioksidan dan toksisitas akan dianalisis dengan analisis regresi linier
menggunakan Microsoft Excel 2013 untuk memastikan nilai IC50 LC50
DAFTAR PUSTAKA

Alam, G. 2002. Bhrine Shrimp Lethality Test (BSLT) Sebagai Senyowa Bioaktif dari Bahan
Alam. Majalah Farmasi dan Farmakologi. 6(2): 432-435.
Amielia, S. Devi. 2014. Aktivitas Antioksidan Bolu Kuhts Dengan Penambahan Tepung Biji
Kiwi (Artocapus communis) dan Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa) Pada
Konsentrasi Berbeda. [Skripsi]. Fakultas Farmasi UNMUH. Surakarta.
Bruneton. J.. 1995.. Pharmacognosy Phytochemistry Medicinal Plants. New Yotk:
Intercept Ltd. 705-706.
Bougis, P. (1979). Marine Plankton Ecology. American Elsevier Publishing Company. New
York.Carballo, 2002
De Padua, L. S. , Bunyapraphatsara, N. and Lemmens, R. H. M. S, Plant Resource of
South East Asia No 12(1). Medical and Poisonous Plants 1. Printes in Bogor
Indonesia (PROSEA). Leiden, the Netherlands, Backhuys Publishers, 1999: 36-48.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 3-5, 10-11. Eisenbrand dan Tang, 1992,
Chinese Drugs of Plant Origin, Chemistry, Pharmacology,and Use in Traditional and
Modern Medicine, New York, Springer-Verlag, p. 139-143.
Hagerman, A.E. 2002. Condensed Tannin Structural Chemistry. Department of Chemistry
and Biochemistry, Miami University, Oxford, OH 45056.Hatano et al., 1988
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia Edisi ke-2. ITB Press, Bandung.
Hernani dan Raharjo, M. 2005. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Penebar Swadya, Jakarta.
Hutapea, R. 2005. Sehat dan Ceria Diusia Senja. Penerbit : Rineka Cipta. Jakarta
Kemenkes RI. 2015. INFODATIN. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI.
Jakarta. Kholish, 2010
Kirk, R. E., Othmer, D. F. 1967. Encyclopedia of Chemical Engineering Technology. John
Wiley and Sons, New York.
Krishnaraju A. V., Rao., Sundraraju, A. 2005. Assestment of Biooctivity of Indian Medical
Plants tlsing Brine Shrimp (Artemia salina) Lethality Assay.lnternational Journal
Applied Science and Engineering.2: 125-134.
Kumalaningsih, S.2006. Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisana. Lenny, 2006;
Nurjanah, Izzati, Abdullah. 2011. Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif
Kerang Pisau (Solen sp.). Jurnal Ilmu Kelautan Volume 16 (3): 119-124.
Meiyanto, E., Supardjan., Da’I, M. dan Agustina., D. 2007, Pentagamavunon-0 induces
Apoptosis on T47D breast cancer cell line through Caspase-3 activation, Jurnal
Kedokteran Yarsi, 15: 75-79.
Meyer, Ferrigni, B. N., Putnam, J. E., Jacobsen, L. B., Nichols, D. E., Mclaughin, J. L. 1982.
Brine Shrimp: A Cowenient General Bioassay for Active Plant Constituenls. Planta
Medica. 45:31-34.
Molyneux, P. 2004. The Use of The Stable Free Radical diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for
Estimating Antioxidant Activity.Songklanakarin Journal Science Technology.26(2):
211-219.
Mudjiman, A. 1988. Udang Renik Air Asin (Artemia salina). Penerbit Bhratara Karya
Aksara, Jakarta.
Padmi A. 2008. Uji sitotoksik ekstrak etanol 70% buah kemukus (Piper cubeba L.)
terhadap sel Hela. Universitas Muhamadiyah Surakarta. Surakarta. Palar, 1994
Prihatna, K. 2001. Saponin untuk Pembasmi Hama Udang. Penelitian Perkebunan
Gambung, Bandung.
Sasikumar, J.M. 2009. Antioxidant Activity and HPTLC Analysis of Pandanus
odoratissimus L. Root. European Journal of Biological Sciences, 1(2), 17-22.
Simbala H E I, Rondonuwu S j, de Queljoe E, 2004. Keanekaragaman Tanaman Obat Suku
Bogani di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Simbala, H.E.I. 2006. Keanekaragaman Floristik dan Pemanfaatannya sebagai Tumbuhan
Obat di Kawasan Konservasi II Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
(Kabupaten Bolaang Mongondow Sulawesi Utara). Disertasi tidak diterbitkan.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Simbala H E I. 2007. Uji Toksisitas dan Uji Preklinik Areca vestiaria/Pinang yaki sebagai
antifertilitas.
Sirait, M. 2007. Perumtun Fitokimia dalam Farmasi.ITB Press, Bandung.
Sriwahyuni, I., Hayati, E. K. 2010. Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman Anting-Anting
(Acalypha indica L.) dengan Variasi Pelarut dan Uji Toksisitas Menggunakan Brine
Shrimp (Artemia salina L.).[Skripsi].Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Suryanto, E. 2012. Fitokimia Antioksidan. Penerbit Putra Media Nusantara. Surabaya.
Surya, A. 2018.Toksisitas Ekstrak Metanol Kulit Jengkol(Pithecellobium Jiringa) dengan
Metode Brine Shrimp LethalityTest terhadap Larva Udang (Artemia salina).Jurnal
Rekayasa Sistem Industri. 3(2): 149-153.
Wang, C.L., dan Lee, W.H.,1996, Separation Caracteristic, and Biological Activities of
Phenolics in Areca Fruit, J.Agric.Food Chem., 44, 2014-2019