Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KIMIA ANORGANIK

“KESTABILAN SENYAWA KOORDINASI


DITINJAU DARI EFEK ENTROPI”

Disusun oleh :
Edlyn Ainayyah / 160302340
Perintis Gita S. / 170302340
Fianti Damayanti / 17030234019
Irene Cornelia / 17030234033
Rizka Dwi Safitri / 170302340

KIMIA A 2017
PRODI KIMIA NON PENDIDIKAN
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan


Rahmat, Taufik serta Hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
makalah dengan judul: “Kestabilan Senyawa Koordinasi Ditinjau dari Efek
Entropi”.
Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW yang telah membimbing kita ke jalan yang lurus dan terang
benderang yaitu addinul islam.
Terwujudnya makalah ini merupakan tujuan penulis untuk memenuhi
kebutuhan akan ilmu pengetahuan. Melalui makalah ini, diharap akan
mempermudah pembaca atas pengetahuan yang lebih jauh mengenai kestabilan
senyawa koordinasi ditinjau dari efek entropi.
Dalam penyusunannya, kami telah mendapat banyak bantuan sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, kami tak lupa
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ayahanda dan Ibunda kami tercinta yang selalu mendo’akan kami
2. selaku dosen mata kuliah Kimia Anorganik II: Kimia Koordinasi.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumber pengetahuan
bagi pembaca. Apabila dalam penyusunannya terdapat kekurangan kiranya
pembaca dapat memaklumi. Akhir kata dengan kerendahan hati, kritik dan saran
sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Sekian dan terimakasih.

Surabaya, 29 Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 2

1.3 Tujuan ............................................................................................................ 2

1.4 Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB II ISI ............................................................................................................... 3

BAB III PENUTUP ..................................................................................................

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................

3.2 Saran ................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Salah satu keistimewaan dari logam transisi adalah dapat membentuk


senyawa kompleks. Hal ini dikarenakan unsur transisi mempunyai ukuran
yang kecil, ionnya bermuatan tinggi, mempunyai orbital yang kosong dan
diperkirakan memiliki energi yang cukup untuk dapat membentuk senyawa
kompleks.
Dalam ilmu kimia senyawa kompleks atau senyawa koordinasi
merupakan suatu senyawa dengan satu atau lebih gugus koordinasi atau ligan
(negatif, netral, atau positif) yang diikat oleh unsur logam pusat (atom atau
ion) dengan menggunakan ikatan kovalen koordinasi.
Pada senyawa kompleks, ikatan kovalen koordinasi yang terjadi
merupakan ikatan di mana pasangan elektron yang digunakan bersama
berasal dari salah satu atom. Ikatan koordinasi bisa terdapat pada kation atau
anion senyawa tersebut. Ion atau atom pusat merupakan ion atau atom bagian
dari senyawa koordinasi yang berada di pusat (bagian tengah) sebagai
penerima pasangan elektron sehingga dapat di sebut sebagai asam ewis,
umumnya berupa logam (terutama logam-logam transisi). Sedangkan ligan
atau gugus pelindung merupakan atom/ion bagian dari senyawa koordinasi
yang berada di bagian luar sebagai pemberi pasangan elektron sehingga dapat
disebut sebagai basa Lewis.
Berkaitan dengan senyawa kompleks tesebut, terdapat kestabilan
kompleks. Untuk senyawa kompleks, digolongkan menjadi kompleks stabil
dan kompleks tidak stabil. Kompleks yang stabil memiliki kemampuan yang
besar untuk tetap mempertahankan keberadaan atau identitasnya dalam suatu
larutan, sementara kompleks yang tidak stabil akan terurai dengan mudah
dalam larutan. Ada 2 hal yang mempengaruhi kestabilan senyawa kompleks
yakni kestabilan termodinamik dan kestabilan kinetik.

1
Ada beberapa faktor yang mempegaruhi kestabilan misalnya sifat
ion logam, sifat ligan, sifat pelarut, efek khelat, efek template, efek sterik dan
juga efek entropi. Untuk itu pada makalah ini akan dijelaskan secara khusus
mengenai pengaruh entropi dalam kestabilan kompleks.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan di atas,


maka masalah dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari kestabilan kompleks dan entropi?
2. Bagaimana pengaruh entropi pada kestabilan kompleks?

1.3 Tujuan

Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam makalah


ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi dari kestabilan kompleks dan entropi.
2. Untuk mengetahui pengaruh entropi pada kestabilan kompleks.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dalam makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Penulis
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang kestabilan senyawa
koordinasi ditinjau dari efek entropi serta dapat menginformasikan hal
tersebut kepada khalayak umum.
2. Pembaca
Sebagai informasi tentang kestabilan senyawa koordinasi ditinjau
dari efek entropi sehingga dapat digunakan sebagai referensi.

2
BAB II
ISI

2.1 Entropi
Perubahan spontan adalah suatu perubahan yang terjadi tanpa perlu
bantuan dari luar sistem. Perubahan spontan akan berlangsung sampai trejadi
keadaan setimbang dan setelah keadaan ini tercapai perubahan akan terhenti.
Pada mulanya para ilmuwan menggunakan entalpi (ΔH) sebagai kriteria
untuk menentukan spontan tidaknya suatu reaksi. Bila ΔH positif reaksi akan
non spontan. Tetapi dalam kenyataannya banyak reaksi kimia yang tidka
memenuhi krteria diatas. Jadi, dengan demikian ΔH tidak bisa dijadikan
sebagai kriteria untuk menentukan spontan tidaknya suatu reaksi, berarti
kriteria lain perlu dicari.
Satu hal yang berubah dalam sistem adalah derajat ketidakteraturan. Dapat
dikatakan bahwa keadaan awal mempunyai tingkat keteraturan yang lebih
tinggi daripada keadaan akhir. Wujud zat ada tiga macam, yaitu padat, cair,
dan gas. Susunan partikel dalam zat padat begitu teratur. Pada zat cair
partikel-partikelnya kurang teratur, sedangkan dalam gas makin tidak
teratur. Pada reaksi kimia terjadi perubahan dari keadaan teratur menjadi
kurang teratur dan sebaliknya. Ukuran ketidak teraturan suatu sistem
dinyatakan dengan entropi yang diberi lambang S. Kita hanya dapat
mengukur nilai perubahan ketidakteraturannya saja yang biasa
dilambangkan dengan ΔS.
Entropi adalah fungsi keadaan, dan merupakan kriteria yang
menentukan apakah suatu keadaan dapat dicapai dengan spontan dari
keadaan lain. Hukum ke-2 termodinamika menyatakan bahwa entropi,
S, sistem yang terisolasi dalam proses spontan meningkat. Dinyatakan
secara matematis dengan
ΔS > 0
Bila pada suatu reaksi kimia terjadi perubahan dari keadaan teratur menjadi
kurang teratur, maka perubahan entropi (ΔS) positif dan menunjukkan bahwa

3
reaksi berlangsung spontan. Namun, bila pada suatu reaksi kimia terjadi
perubahan dari keadaan kurang teratur menjadi teratur, maka perubahan
entropi (ΔS) negatif. Proses-proses yang dapat menyebabkan peningkatan
entropi adalah:
1. Padatan menjadi cairan atau larutan.
2. Cairan menjadi gas.
3. Jumlah molekul gas dalam suatu reaksi kimia meningkat.
4. Suhu zat bertambah.

2.2 Kestabilan Kompleks


Kestabilan suatu kompleks merupakan faktor penting yang harus
diperhatikan dalam pembentukan senyawa kompleks, karena banyak variabel
yang berkaitan dengan atom logam pusat dan ligan disamping variabel yang
muncul dari pelarut yang berbeda. Dalam mempelajari suatu sistem reaksi
dan senyawa kimia, ada dua pendekatan yang bisa digunakan, yaitu
pendekatan secara termodinamika, dan pendekatan kinetika.
Pada pendekatan termodinamika, maka kita membicarakan mengenai
keadaan awal dan akhir dari sistem tersebut. Pada tinjauan termodinamika ini,
suatu senyawa kimia dapat dikatakan stabil atau tidak stabil. Selain stabilitas
senyawa, beberapa besaran yang dibahas dalam pendekatan termodinamika
adalah konstanta kesetimbangan, energi ikatan, potensial reduksi, dan besaran
lain yang mempengaruhi harga konstanta kesetimbangan. Untuk senyawa
kompleks, Senyawa kompleks digolongkan menjadi kompleks stabil dan
kompleks tidak stabil. Kompleks yang stabil memiliki kemampuan yang
besar untuk tetap mempertahankan keberadaan atau identitasnya dalam suatu
larutan, sementara kompleks yang tidak stabil akan terurai dengan mudah
dalam larutan.
Pendekatan kinetika lebih menitikberatkan pada mekanisme yang terjadi
dalam reaksi dan kecepatan berlangsungnya reaksi. Selain itu, pendekatan
kinetika juga membahas energi aktivasi dalam reaksi, pembentukan kompleks
intermediate, konstanta laju reaksi dan besaran-besaran yang
mempengaruhinya. Dalam pandangan secara kinetika, maka suatu senyawa

4
dapat dikatakan sebagai suatu senyawa yang labil, atau senyawa inert. Terkait
dengan senyawa kompleks, maka klasifikasi senyawa kompleks adalah
kompleks labil dan kompleks inert berdasarkan laju pertukaran ligan
kompleks tersebut. Kompleks yang labil mengalami pertukaran ligan dengan
cepat. Sebaliknya pada kompleks inert, pertukaran ligan berlangsung dengan
sangat lambat atau bahkan tidak berlangsung sama sekali.
Karena tinjauan yang digunakan dalam aspek kinetika dan termodinamika
berbeda, maka bukan tidak mungkin suatu kompleks yang stabil secara
termodinamika jika ditinjau secara kinetika merupakan kompleks yang labil.
Sebaliknya, suatu kompleks yang tidak stabil mungkin saja merupakan
kompleks inert.
Kestabilan termodinamika optimum dari suatu jenis senyawa kompleks
terjadi pada keadaan setimbang:
M + L ↔ ML
Tetapan kesetimbangan:
[𝑀𝐿]
K = [𝑀][𝐿]

2.3 Tetapan Stabilitas Ion Kompleks


Pembentukan kompleks dalam suatu larutan berlangsung melalui sejumlah
tahapan. Untuk setiap tahapan, tetapan stabilitasnya dapat dituliskan dalam
suatu persamaan. Misalkan pembentukan kompleks MLn, terbentuk melalui
sejumlah n tahapan. Tetapan stabilitas untuk setiap tahapan tersebut dapat
dituliskan sebagai berikut :
M+L ML, K1 = [ML]
[M][L]
ML + L ML2, K2 = [ML2]
[ML][L]
MLn-1+ L MLn Kn = [MLn]
[MLn-1][L]
Tetapan stabilitas K1, K2, …., Kn disebut sebagai tetapan stabilitas
berurutan (stepwise stability constants). Umumnya harga K1 > K2 > K3 > ….>
Kn

5
Selain dinyatakan secara berturutan seperti di atas, tahapan
pembentukan kompleks dan tetapan stabilitas juga dapat dinyatakan sebagai
berikut :
M+L ML, β1 = [ML]
[M][L]
M + 2L ML2, β2 = [ML2]
[M][L]2

M + nL MLn βn = [MLn]
[M][L]n
Harga β1, β2, …, βn disebut sebagai tetapan stabilitas total (overall
stability constants) dari kompleks tersebut dengan βn sebagai tetapan
stabilitas total ke-n.
Harga K dan β dari suatu kompleks saling berhubungan satu sama lain.
Misalkan saja pada suatu kompleks MLn, harga β3nya adalah :
β3 = [ML3]
[M][L]3
Sementara harga K1, K2 dan K3 berturut-turut adalah
K1 = [ML] K2 = [ML2] K3 = [ML3]
[M][L] [ML][L] [ML2][L]
Perhatikan bahwa :
β3 = [ML3] = [ML] x [ML2] x [ML3]
[M][L]3 [M][L] [ML][L] [ML2][L]
β3 = K1 x K2 x K3
Berarti:
βn = K1 x K2 x …. x Kn
log βn = log K1 + log K2 + …….. + log Kn

Harga βn merupakan ukuran dari stabilitas suatu senyawa kompleks.


Makin besar harga βn, makin stabil kompleks tersebut. Kadang-kadang
dinyatakan 1/Kn sebagai konstanta instabilitas dari suatu kompleks.
Perubahan energi bebas standar ΔGo adalah

6
ΔGo = -2,303 RT log βn
Sedangkan
ΔGo = ΔHo – TΔS
Dengan ΔHo dan ΔSo adalah perubahan entalpi dan perubahan entropi selama
reaksi berjalan, maka
ΔH
-2,303 R log βn = -ΔSo
𝑇

Pada larutan dalam air, perubahan entalpi untuk ligan ionik adalah ±20
kJ/mol, untuk ligan monodentat netral adalah 0,20 kJ/mol, dan untuk ligan
polidentat lebih dari -85 kJ/mol. ΔSo biasanya positif, jika (i) efek
peningkatan ligan pada ion logam lebih besar daripada yang diperlukan untuk
melepas molekul pelarut dari koordinasi ion logam, (ii) sebagian atau seluruh
muatan netralisasi pada ion logam menurunkan interaksi ion dipol pelarut.
Perubahan entropi sebesar -10 J/K/mol (untuk molekul netral) sampai 80-260
J/K/mol untuk ligan polidentat, nilainya meningkat sesuai dengan (i) muatan
ligan ionik lebih besar, dan (ii) nomor atom donor lebih besar.
Molekul atau ion yang berfungsi sebagai ligan pada umumnya mempunyai
atom elektronegatif seperti nitrogen, oksigen dan halogen. Ligan yang hanya
mempunyai satu pasang bebas disebut ligan unidentat. Ligan yang
mempunyai dua gugus yang mampu membentuk duaikatan dengan atom
pusat disebut ligan bidentat. Ligan yang membentuk lebih dari dua ikatan
dengan atom pusat disebut ligan multidentat. Ligan multidentat yang
membentuk ikatan koordinasi dengan atom pusatakan menghasilkan
lingkaran heterosiklik yang disebut lingkaran kelat, molekul organiknya
adalah bahan kelat dan kompleksnya disebut kelat atau senyawa kelat. Ligan
multidentat tunggal yang membentuk ikatan koordinasi dengan dua atau lebih
atom pusat disebut kompleks polinuklir.
2.4 Pengaruh Entropi pada Kestabilan Kompleks
Faktor utama yang mempengaruhi kestabilan cincin khelat adalah adanya
perubahan entropi yang dapat dilihat secara statistik atau sebagian faktor
kemungkinan (probabilitas). Definisi entropi sendiri adalah suatu
kecenderungan untuk berada pada keadaan yang secara statistik paling
mungkin, dapat diterangkan sebagai keadaan ‘lebih tidak beraturan’.

7
Mengingat pengaruh dari atom donor menjadi sama dalam ligan
monodentat dan bidentat, hal ini dapat dilihat bahwa disosiasi monodentat
suatu kompleks akan menjadi lebih tinggi dibanding dalam pengkhelatan
bidentat. Pendisosiasian (penguraian) dari ikatan M-L dalam monodentat
akan melepaskan ligan secara lengkap dari bidang koordinasi logam sehingga
pendisosiasian ini dapat dengan mudah dimurnikan oleh pelarut. Tetapi
disosiasi dari satu ikatan M-L untuk ligan bidentat tidak melepaskan ligan
secara lengkap (dimana disosiasi secara simultan diharapkan berakhir pada
keduanya). Oleh karena itu konstanta kestabilan logam khelat harus lebih
tinggi. Sebagaimana persamaan reaksi sebagai berikut:
[Co(NH3)6]3+ + en ↔ [Co(en)6]3+ + 6NH3
Diasumsikan bahwa (i) kekuatan ikatan Co-N dalam kompleks adalah
sama (nilai f dari amonia dan etilendiamin kurang dari 3%) dan (ii) entropi
yang disebabkan pembentukan struktur dan pemutusan struktur dapat
diabaikan karena penggabungan kompleks mempunyai ukuran yang sama, ini
dapat dketahui bahwa ΔSo akan meningkat untuk reaksi dengan jumlah mol
produk yang lebih besar daripada jumlah mol pereaksi. Hal ini akan
membantu reaksi bergeser ke kanan.
Efek relatif dari kedua faktor ini dapat dilihat dengan mengamati nilai-
nilai:
ΔHo = -13,0 kJ/mol dan log K = 8,7
Dari nilai n dihasilkan
ΔGo = RT ln K
= -8,314 x 298 x 8,7/2,303 J/mol
= -70,4 kJ/mol
Jadi
-70,4 = -13,0 + TΔS
Atau
TΔS = -70,4 + 13,0
= 57,4 kJ/mol
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa suatu atom pusat (Co) yang
mengikat ligan bidentat (en) akan mengalami kenaikan harga entropi

8
sebagaimana kenaikan jumlah mol produk dibandingkan jumlah mol pereaksi,
sehingga kestabilan kompleksnya juga lebih tinggi dibandingkan dengan
kestabilan atom pusat (Co) yang mengikat ligan monodentat (NH3) karena
harga entropinya lebih kecil atau dengan kata lain semakin besar harga ΔS
maka senyawa kompleks akan semakin stabil.

9
BAB III
PENUTUP

10
DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Jilid 1 Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.
Bird, Tony. 1987. Kimia Fisika Untuk Universitas. Jakarta: Gramedia.
Day, R. A. dan Underwood, A. L. 2002. Anilisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Laitinen, H. A. dan Harris, W. E. 1960. Chemical Analysis An Advanced Text and
Reference. New York: McGraw-Hill Book Company.
Sugiarto, Bambang dan M, Dina Kartika. 2006. Teori Senyawa Koordinasi.
Surabaya: Unesa University Press.
Sukardjo. 1992. Kimia Koordinasi. Jakarta: Rineka Cipta.

11