Anda di halaman 1dari 24

SIFAT-SIFAT AIR LAUT

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah oceanografi

Dosen Pengampu
Era Iswara Pangastuti, S.Pd., M.Sc.

Oleh:
Ahmad Farhan Alfani NIM 180210303045
Mohammad Fikri Umam NIM 180210303005
M. Junaedy Saud NIM 180210303010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW
yang telah membawa umat-Nya menuju jalan yang terang benerang sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah Oceanografi yang berjudul “Sifat-Sifat Air
Laut”. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas Oceanografi pada Program
Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Jember.
Penyusunan tugas ini tidak lepas dari bantuan dan keterlibatan dari berbagai
pihak yang telah mendukung dan memberikan bantuan pemikiran. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis
dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi referensi
dalam penyusunan makalah Oceanografi, penulis mengharapkan kritik, masukan,
dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 3 September 2019

Penulis

ii
iii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 2
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................... 2
1.4 Manfaat ........................................................................................................ 2
BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................
2.1 Suhu Air Laut ................................................................................................ 3
2.2 Tekanan Air Laut .......................................................................................... 6
2.3 Salinitas Air Laut .......................................................................................... 7
2.4 Densitas Air Laut .......................................................................................... 8
2.5 Ph Air Laut .................................................................................................... 9
2.6 Warna Air Laut ............................................................................................. 11
2.7 Arus Air Laut ................................................................................................ 13
2.8 Gelombang Air Laut ..................................................................................... 14
2.9 Pasang Surut Air Laut ................................................................................... 15
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 19
3.2 Saran ............................................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 21

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bumi kita dikelilingi oleh dua lautan yang sangat luas yaitu lautan udara dan
lautan air. Keduanya berada dalam keadaan bergerak (dynamic condition),
dibangkitkan oleh energi dari matahari dan gaya gravitasi bumi. Gerakan- gerakan
mereka saling berhubungan: angin memberikan energinya ke permukaan laut
sehingga menghasilkan arus laut, dan arus laut membawa energi panas dari satu
lokasi ke lokasi lainnya, mengubah pola temperatur permukaan bumi dan juga
mengubah sifat-sifat fisis udara di atasnya. Interaksi laut dan udara ini disebut
ocean-atmosphere coupled system (Furqon, 2006)
Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3wilayahnya
adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42
Km( Septiana dan Asnani, 2012). Laut merupakan tempat bermuaranya sungai, baik
sungai besar maupun sungai kecil. Dengan demikian, laut akan menjadi tempat
berkumpulnya zat-zat pencemar yang terbawa oleh aliran sungai.
Hampir seluruh unsur kimia yang ada pada tabel periodik juga ada (terlarut)
di dalam air laut, dengan konsentrasi yang bervariasi mulai dari yang paling banyak,
yaitu pada tingkatan persen (%) seperti unsur Natrium, karena mudah larut dan
ionnya stabil di dalam air laut, permil (0/00), ppm, ppb sampai dengan ppt (yang
jumlahnya paling sedikit, seperti unsur-unsur radioaktif)

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana suhu dari air laut ?
2) Bagaimana tinggi rendahnya tekanan air laut ?
3) Bagaimana kadar salinitas air laut ?
4) Bagaimana kadar densitas air laut ?
5) Bagaimana kadar Ph air laut ?
6) Bagaimana membedakan sifat air laut berdasarkan warna ?
7) Bagaimana pergerakan arus air laut ?
8) Bagaimana gelombang air laut terbentuk ?
2

9) Bagaimana mekanisme pasang surut air laut ?


1.3 Tujuan
1) Untuk menjelaskan tentang suhu air laut;
2) Untuk menjelaskan tentang tekanan air laut;
3) Untuk menjelaskan tentang salinitas air laut;
4) Untuk menjelaskan tentang densitas air laut;
5) Untuk menjelaskan Ph air laut;
6) Untuk menjelaskan perbedaan sifat air laut berdasarkan warna;
7) Untuk menjelaskan bagaimana pergerakan arus air laut;
8) Untuk menjelaskan tentang gelombang air laut;
9) Untuk menjelaskan mekanisme pasang surut air laut.

1.4 Manfaat
Menambah khazanah ilmu tentang sifat-sifat air laut dalam kajian ilmu
oceanografi bagi penulis dan pembaca. Memberikan pemahaman tentang sifat air
laut sehingga pembaca paham dan mengerti bagaimana karakteristik dari air laut
kedepannya dalam pemanfaatan air laut diharapkan dapat sesuai kaidah lingkungan
supaya tidak merusak ekosistem laut.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Suhu
Suhu pada air laut merupakan faktor yang sangat penting bagi
berlangsungnya kehidupan organisme di lautan, karena memepengaruhi aktifitas
metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme yang ada
dilautan. Bumi kita dikelilingi oleh dua lautan yang sangat luas yaitu lautan udara
dan lautan air yang keduanya di panasi oleh sinar matahari yang dinamakan proses
insolation. Namun di setiap daerah memiliki perbedaan intensitas sinar matahari,
misal daerah ekuator akan menerima lebih banyak sinar matahari yang
menyebabkan meningkatnya suhu air laut di bandingkan suhu air laut di daerah
yang berada di lintang tinggi. Suhu air laut dipengaruhi oleh pemanasan matahari,
pengaruh pemanasan berbeda-beda untuk daerah yang terletak pada lintang yang
berbeda. Daerah tropis lebih banyak menerima panas daripada daerah lintang tinggi
dan kutub. Perbedaan jumlah panas yang diterima permukaan bumi di tempat yang
terletak pada lintang yang berbeda, merupakan akibat dari bentuk bumi yang bulat.
Suhu merupakan parameter fisik perairan yang penting. Suhu permukaan laut di
seluruh dunia sangat bervariasi. Suhu di bawah permukaan bervariasi tergantung
kedalaman, sirkulasi udara, turbulensi, lokasi geografi, dan jarak dari sumber panas
(sebagai contoh gunung berapi) (Bhatt, 1978).
Cahaya mata hari yang jatuh di atas daerah tropik terlebih dahulu akan
melalui atmosfer dengan menempuh jarak yang lebih pendek daripada yang
ditempuh di daerah kutub. Cahaya matahari ini juga memanasi daerah ekuator pada
area yang lebih sempit jika dibandingkan dengan daerah kutub. Terdapat 3 faktor
yang menyebabkan perbedaan suhu yaitu:
1) Sinar matahari yang merambat melalui atmosfer akan banyak kehilangan panas
sebelum sampai pada daerah kutub bila di bandingkan dengan daerah yang ada
di ekuator;
2) Karena besarnya perbedaan sudut datang sinar matahari ketika mancapai
permukaan bumi, pada daerah kutub sinar matahari yang sampai di permukaan
bumi akan tersebar pada daerah yang lebih luas dari pada di daerah ekuator;
4

3) Daerah kutub lebih banyak panas yang diterima oleh permukaan bumi yang
dipantulkan kembali ke atmosfer. Hal ini sekali lagi disebabkan oleh sudut
relatif ketika sinar matahari mencapai permukaan bumi.
Keadaan ini yang membuat insolation di daerah subtropik lebih besar
daripada di daerah tropik. Alasan yang menyebabkan mengapa keanehan ini bias
terjadi kelihatannya disebabkan oleh karena adanya faktor yang keempat yaitu
awan yang menutupi. Awan ini mengakibatkan insolation berkurang karena mereka
menyerap dan menyebarkan sinar-sinar yang datang. Daerah tropis adalah daerah
yang mempu nyai nilai kelembaban udara (humidity) yang tinggi yang
mengakibatkan daerah ini mempunyai lapisan awan yang lebih tebal daripada
daerah subtropis (ditandai dengan langit yang selalu tampak bersih). Insolation
yang bersama-sama curah hujan yang rendah menghasilkan suatu bentuk daerah
padang pasir yang luas di daerah subtropik.
Meskipun pengaruh pemanasan pada lintang yang berbeda tidak seimbang,
kenyataannya kisaran suhu yang tersebar di seluruh lautan dunia jauh lebih kecil
jika dibandingkan dengan di daratan. Hal ini disebabkan karena air mempunyai
daya muat panas yang tertinggi dari seluruh cairan selain daripada gas amonia. Air
mempunyai daya muat panas yang jauh lebih tinggi daripada daratan. Akibatnya
untuk menaikkan suhu sebesar 1°C air akan membutuhkan panas yang lebih besar
daripada yang dibutuhkan oleh daratan dalam jumlah massa yang sama. Dengan
kata lain dalam jumlah pemanasan yang sama, daratan akan lebih cepat menjadi
panas daripada lautan. Demikian juga sebaliknya, bahwa lautan lebih efektif untuk
menyimpan panas yang diterima daripada daratan, sehingga pada waktu tidak ada
pemanasan (malam hari) lautan akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk
menjadi dingin daripada daratan. Sejak sinar matahari kebanyakan diserap oleh
lapisan permukaan laut, maka lapisan ini cenderung untuk relatif panas sampai pada
kedalaman 200 meter. Pada lapisan kedalaman antara 200 dan 1000 meter, suhu
turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam
yang dikenal sebagai thermokline. Air pada daerah yang terdalam biasanya
mempunyai suhu kurang lebih 20C (Hutabarat dan Evans, 1986).
5

Suhu diukur dengan satuan derajat C, Suhu perairan dapat diukur
menggunakan alat pengukur suhu yang biasa disebut thermometer. Suhu dapat juga
didefinisikan sebagai pengukuran langsung terhadap rata-rata energi kinetik yang
membentuk substansi yang dapat memberikan respons terhadap masukan atau
keluaran panas. Energi kinetik yang dimaksud merupakan energi gerak, sehingga
semakin tinggi suhu, semakin besar kecepatan molekul pada substansi di mana suhu
diukur. Suhu alami air laut berkisar antara suhu di bawah -5 C sampai lebih dari
33 C (Bhatt, 1978).
Beberapa kondisi meteorologi yang mempengaruhi suhu permukaan laut
antara lain curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan angin
dan intensitas radiasi matahari. Perubahan suhu di laut berpengaruh terhadap gejala
fisika di laut dan biota laut. Sebagian besar air samudra dingin karena matahari
hanya mampu menembus perairan laut sampai beberapa meter saja.
Perairan laut di Indonesia umumnya memiliki sebaran suhu secara vertical.
Sebaran suhu secara vertikal terbagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan hangat di
bagian teratas (biasa disebut mixed layer atau lapisan campuran), termoklin di
bagian tengah dan lapisan dingin di bagian bawah. Termoklin di daerah ekuator
terlihat lebih jelas karena tingginya suhu di lapisan permukaan, sedangkan
termoklin di daerah beriklim sedang dan dingin cenderung berubah-ubah karena
adanya perubahan musim dari bagian tahun yang satu ke tahun yang lainnya. Suhu
menjadi faktor fisik yang sangat penting di laut, berguna untuk mengidentifikasi
massa air tertentu bersama salinitas dan bersama tekanan dapat menentukan
densitas air laut. Air berdensitas rendah berada di lapisan atas dan air dengan
densitas tinggi akan berada di lapisan bawahnya.
Sebaran suhu di kolom perairan laut secara vertikal pada daerah iklim
sedang (subtropis) dan kutub relatif tidak sama pada musim berbeda. Pada saat
musim panas (summer) di mana sinar matahari menghangatkan lapisan permukaan
kemudian suhu akan menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman, sehingga
terbentuk dua lapisan air, yaitu lapisan air panas di permukaan dan lapisan air dingin
di kedalaman tinggi. Pada saat musim gugur (fall), permukaan air menjadi dingin
dan terjadi pergolakan oleh angin yang menyebabkan percampuran air dingin dari
6

kedalaman menuju permukaan pada lapisan atas. Pada saat musim dingin (winter),
permukaan air menjadi lebih dingin, sehingga massa air menjadi padat daripada air
yang di dalam dan kemudian akan tenggelam selama winter. Hal ini menyebabkan
air laut tercampur secara vertikal yang menyebabkan sebaran suhu relatif sama dari
permukaan hingga ke kolom air yang dalam (Castro dan Huber, 2000).

2.2 Tekanan Air Laut


Gaya akibat tekanan berasal dari perbedaan tekanan dari satu titik ke titik
lainnya - yaitu "gaya gradien tekanan" karena gradien adalah perubahan jarak. Gaya
berada pada arah dari tekanan tinggi ke rendah, maka kita katakan gaya berorientasi
"turun gradien tekanan".
Di lautan, gaya gravitasi ke bawah sebagian besar diimbangi oleh gaya gradien
tekanan ke atas. Artinya, air tidak berakselerasi ke bawah - melainkan dijaga agar
tidak runtuh oleh gradien tekanan ke atas. Karena itu tekanan meningkat dengan
meningkatnya kedalaman.
Tekanan pada kedalaman tertentu tergantung pada massa air yang berada
di atas kedalaman itu. (Persamaan hidrostatik diberikan dalam kelas.) Jika
perubahan tekanan adalah 100 desibel (100 dbar), gravitasi g = 9,8 m / detik ^ 2,
dan kerapatan 1025 kg / m ^ 3, maka perubahan kedalaman adalah 99,55 meter.
Variasi vertikal total dalam tekanan di lautan demikian dari hampir nol (permukaan)
ke 10.000 dbar (terdalam).
Gradien tekanan horizontal mendorong aliran horisontal di laut (yang jauh
lebih kuat dari aliran vertikal). Variasi horisontal dalam tekanan di lautan
sepenuhnya disebabkan oleh variasi dalam distribusi massa. Jika kolom air di atas
kedalaman tertentu (atau lebih tepatnya permukaan geopotensial, sejajar dengan
geoid) lebih berat karena lebih berat atau lebih tebal atau keduanya, tekanannya
akan lebih besar. Perhatikan bahwa perbedaan tekanan horizontal yang
menggerakkan arus laut berada pada urutan dekibar lebih dari ratusan atau ribuan
kilometer, yaitu, jauh lebih kecil daripada perubahan tekanan dengan kedalaman.
7

2.3 Salinitas
Salinitas merupakan kadar garam yang terkandung di perairan. Salinitas
dapat didefinisikan menjadi jumlah total material solid terlarut dalam 1 kilogram
air saat seluruh karbon dikonversi menjadi oksida, seluruh bromin dan iodin
digantikan oleh klorin dan seluruh organik matter sudah teroksidasi (Thurman,
1993). Garam di laut berasal dari dasar laut karena proses rembesan dari kulit bumi
di dasar laut yang berbentuk gas. Bersama gas ini terlarut juga hasil kikisan kerak
bumi dan air dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di laut. Zat-
zat terlarut tersebut dapat dibagi menjadi empat kelompok (Romimohtarto dan
Juwana, 1999): 1. Konstituen utama : Cl, Na.SO2 dan Mg 2. Gas terlarut : CO2, N2
dan O2 3. Unsur hara : Si, N dan P 4. Unsur runut : I, Fe. Mn, Pb dan Hg Salinitas
di laut umumnya merupakan sejumlah garam terlarut (gram) dalam 1000 gram air
laut. Salinitas di laut bervariasi antara 33‰ - 38‰ dengan rata-rata adalah 35‰.
Salinitas air laut mengalami perbedaan karena pengaruh evaporasi dan
presipitasi, run off dari sungai, pendinginan maupun pencairan es. Di daerah dengan
evaporasi yang tinggi (sebagai contoh Laut merah), salinitas dapat mencapai 40‰,
tetapi yang dekat dengan muara sungai akan rendah yaitu sekitar 20‰. Pada
umumnya salinitas tinggi terjadi di ekuator (Bhatt, 1978). Salinitas di perairan
bervariasi tergantung kedalaman. Perubahan salinitas yang besar terjadi antara 100
sampai 1000 meter. Pada zona ini variasi salinitas yang cepat disebut dengan
lapisan haloklin. Perubahan salinitas yang cepat berhubungan dengan suhu dan
oksigen terlarut.
Pengukuran salinitas harus dilakukan dengan akurat. Salinitas laut dapat
diukur dengan menggunakan eletrical conductivity atau juga salinometer. Perairan
laut mengalami percampuran dengan baik dan kelimpahan komponen esensial
relatif konstan, kondisi ini membuat pengukuran kimia pada salinitas menjadi
sederhana. Adanya komposisi yang konstan, maka penting untuk mengukur
konsentrasi pada satu pada salinitas pada contoh air.
8

2.4 Densitas Air Laut


Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari
dinamika laut. Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat
perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat
kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang sangat penting dalam
oseanografi. Lambang yang digunakan untuk menyatakan densitas adalah ρ (rho).
(Ii & Pustaka, 2012)
Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan
tekanan(p). Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut
(Equation of State of Sea Water), maka rumusnya :
Densitas dapat berubah, hal-hal yang dapat menyebabkan perubahan
densitas antara lain:
1. Evaporasi di permukaan laut
2. Massa air pada kedalaman < 100 m sangat dipengaruhi oleh angin dan
gelombang, sehingga besarnya densitas relatif homogen
3. Di bawah lapisan ini terjadi perubahan temperatur yang cukup besar
(Thermocline) dan juga salinitas (Halocline), sehingga menghasilkan pola
perubahan densitas yang cukup besar (Pynocline)
4. Di bawah Pynocline hingga ke dasar laut mempunyai densitas yang lebih padat.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya
temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air laut
terletak pada kisaran 1025 kg/m3. Densitas maksimum terjadi di atas titik beku
sedangkan untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk salinitas di
atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya peristiwa konveksi panas.
a. S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum, kemudian
jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas maksimum telah
terlewati) pendinginan terjadi hanya pada lapisan campuran akibat angin
(wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi pembekuan. Di bagian
kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh air dengan densitas
maksimum.
9

b. S > 24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan


diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas yang tersimpan di
dalam badan air. Hal ini terjadi karena air mencapai titik bekunya sebelum
densitas maksimum tercapai.

Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter


densitas potensial yang didefinisikan sebagai densitas parsel air laut yang
dibawa secara adiabatis ke level tekanan referensi. Densitas air tawar adalah
1000kg/m3. Air laut lebih padat karena terdapat salinitas. Densitas air laut
adalah 1027 kg/m3.(Ii & Pustaka, 2012)

2.5 pH
Derajat keasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan
alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan
semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Besaran pH berkisar antara 0-14, nilai
pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai di atas 7
menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH = 7 disebut sebagai netral. Sebagian
besar hewan akuatik sensitif terhadap perubahan pH. pH yang berkisar antara 7-8,5
merupakan pH yang disukai biota akuatik.
Air laut umumnya mempunyai pH lebih besar dari 8 pada permukaan. Pada
pH ini, 93% dari total karbon anorganik ada dalam bentuk HCO3, 6% sebagai CO3,
dan 1% sebagai CO2. Konsentrasi ion karbonat relatif sangat tinggi pada permukaan
dan permukaan air hampir selalu jenuh dengan kalsium karbonat. Hal ini
menyebabkan terjadinya pengendapan jenuh calcareous scale pada permukaan
logam. Konsentrasi CO2 dan O2 mempunyai hubungan yang erat dengan pH air laut
dalam proses fotosintesa dan oksidasi biokimia dengan reaksi sebagai berikut :
fotosintesa CH2O2 + O2 Oksidasi biokimia CO2 + H2O (Juliana Anggono, 1999)
Perubahan nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan. Pada
pH netral, umumnya bakteri dapat tumbuh dengan baik, sedangkan jamur menyukai
pH yang rendah. Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik dapat
berlangsung dengan cepat pada kondisi pH netral dan alkalis (Effendi, 2003).
Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada dalam
10

kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7-8,4. pH dipengaruhi oleh


kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat
yang dikandungnya (Nybakken, 1992).
Toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak
faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermacam-macam
anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7-9) merupakan
perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan bahan organik
dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasi oleh fitoplankton. Tidak
optimalnya pH air akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangbiakan
ikan. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan memiliki pola hubungan
terbalik. Semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka pH akan menurun dan
demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang apabila air mengandung
garam CaCO3 Saat matahari bersinar terjadi pelepasan oksigen oleh proses
fotosintesis yang berlangsung secara intensif pada lapisan eufotik lebih besar
daripada oksigen yang dikonsumsi melalui proses respirasi.
Kadar oksigen terlarut ini dapat melebihi kadar oksigen jenuh (saturasi)
sehingga perairan akan mengalami super saturasi. Karbon berasal atmosfer dan
perairan terutama lautan. Laut mengandung lima puluh kali lebih banyak daripada
karbon di atmosfer. Perpindahan karbon dari atmosfer ke laut terjadi melalui proses
difusi. Oleh karena itu karbon yang terdapat di laut dapat berpengaruh terhadap
karbondioksida di atmosfer (Effendi, 2003). Terkait dengan pH, hubungannya
dengan karbondioksida dalam perairan dapat terjadi asidifikasi. Asidifikasi itu
sendiri merupakan proses turunnya kadar pH air laut yang terjadi akibat penyerapan
karbondioksida di atmosfer akibat dari kegiatan manusia (seperti penggunaan bahan
bakar fosil). Proses asidifikasi secara sederhana adalah karbon dioksida dari
pembakaran bahan bakar fosil terakumulasi dalam atmosfer, menyebabkan
pemanasan global, kemudian berpengaruh terhadap perairan. Karbon dioksida yang
diserap oleh laut kemudian bereaksi dengan air laut membentuk asam karbonat dan
meningkatkan keasaman air laut. karbondioksida dapat berasal dari berbagai
aktivitas, di antaranya hasil buangan industri, peternakan, kendaraan, pembukaan
lahan; dapat dikatakan bahwa sesuatu yang sifatnya menghasilkan energi dapat
11

menghasilkan gas ini. Bahkan manusia juga menyuplai CO2 melalui proses
pernapasan.
Asidifikasi secara tidak langsung dapat menghancurkan ekosistem laut dan
mengancam produktivitas perikanan. Hal tersebut terjadi karena berkurangnya
persediaan karbonat, sebagai zat yang digunakan oleh puluhan ribu spesies hewan
laut untuk membentuk cangkang dan tulang (kerangka). Dampak yang dapat
ditimbulkan akibat Asidifikasi antara lain air laut menjadi korosif dan dapat
melarutkan cangkang (jika keasaman lautan cukup tinggi), melemahkan
pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta jutaan spesies hewan laut
yang bergantung kepadanya. Asidifikasi samudra dapat mengganggu efektivitas
organisme laut dalam melakukan reproduksi. Proses pengasaman tersebut dapat
mengganggu indra penciuman spesies laut.

2.6 Warna Air Laut


Sinar matahari dapat menembus lapisan air laut bagian permukaannya saja.
Makin dalam pengaruh sinar matahari semakin lemah, bahkan pada laut-laut dalam
sinar matahari sudah tidak lagi berpengaruh sehingga laut menjadi gelap gulita.
Dilihat dari kondisi cahaya dalam laut secara vertikal dapat diklasifikasikan dalam
3 zona, yaitu:
a. Zona eufotik (0 – 150 m), terdapat pada permukaan sampai pada kedalaman
dimana cahaya matahari memungkinkan berlangsungnya proses fotosintesis
b. Zona disfotik (150 – 1000 m), berada di bawah zona eufotik, cagaya sudah
terlampau redup untuk memungkinkan terjadinya preses fotosintesis.
c. Zona afotik (lebih dari 1000 m), zona yang paling bawah yang merupakan zona
yang gelap gulita sepanjang masa.
Pada laut dalam yang gelap, sinar-sinar berasal dari binatang-binatang yang
memancarkan sinarnya sendiri seperti jenis ubur-ubur, corals, ascidian,
siphomorphorus, fishlet dan lain- lain Dari kedalaman 300 meter photometer dapat
menangkap sinar cahaya dari beberapa macam organisma yang menyinarkan
cahayanya 200 – 1000 kali lebih kuat dari pada cahaya umumnya. Beberapa jenis
ikan laut dalam, kadang-kadang seluruh tubuhnya bercahaya, ada pula yang hanya
12

menyinarkan cahayanya dari sisi badannya, dari atas kepalanya dan ada pula yang
dari ekornya.
Energi sinar matahari yang masuk kedalam air laut itu diabsorpsi,
dihamburkan, dan sebagian diubah menjadi energi panas. Sinar matahari terdiri dari
sinar yang tampak seperti sinar yang terurai pada rainbow (katumbiri), dan sinar-
sinar yang tidak tampak oleh mata kita seperti sinar ultraviolet dan inframerah. Air
laut mempunyai daya selektif untuk mengabsorpsi sinar matahari. Warna air laut
tampak hijau kebiru-biruan, hal ini disebabkan karena tiap lapisan air laut
mempunyai daya seleksi absorpsi yang berbeda-beda terhadap setiap sinar cahaya
matahari. Pada lapisan air permukaan (0 – 0,5 meter) air hanya mengabsorpsi sinar
inframerah yang tidak nampak oleh mata kita, sehingga dipermukaan tampaknya
putih. Sampai pada kedalaman 5 meter, sinar yang diabsorpsi mula-mula sinar hijau
dan sinar kebiru-biruan. Pada kedalaman 50 meter, lapisan air itu mengabsorpsi
sinar yang biru hijau yang menyebabkan warna air permukan tampak biru.
Matahari menyinarkan energinya ke permukaan air laut, bila posisi matahari
di zenith 98 % dari energinya mencapai permukaan laut dan diabsorpsi oleh air laut
tersebut. Tetapi bila matahari ada 100 di atas horizon hanya 65 % energi matahari
tersebut yang diabsorpsi oleh air laut sisanya direfleksikan oleh permukaan air laut
ke atmosfer. Selain penyinaran secara langsung dari matahari air laut juga
menerima cahaya difusi dari langit. Kira-kira 95 % dari energi juga masuk ke dalam
air laut dan dapat mempengaruhi warna laut itu sendiri.

Gambar 2.1 Contoh Warna Laut


Faktor lain yang mempengaruhi warna air laut antara lain, warna hijau,
karena air biru dengan dasar laut yang putih karena endapan kapur sehingga tampak
hijau. Warna merah, bila pada laut tersebut tumbuh plankton algae merah misalnya
yang terdapat pada laut Merah. Warna kuning, seperti yang terjadi di laut Kuning
13

karena adanya lumpur tanah loss yang berwarna kuning yang berasal dari gurun
Gobi yang terbawa oleh sungai Hoang Ho atau oleh angin ke laut tersebut.

2.7 Arus Laut


Arus air laut merupakan gerakan air laut dari suatu tempat ke tempat lain.
Arus air laut terjadi dimana saja di laut. Pada dasarnya air laut bergerak karena
perbedaan suhu air laut diakibatkan adanya perbedaan sinar matahari. perbedaaan
ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk
menyeimbangkan energi yang ada. Angina merupakan salah satu gaya utama yang
menimbulkan arus laut selain pemanasan yang tidak merata dan pendinginan air
laut.
sirkulasi dari arus laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di permukaan
laut (surface circulation) dan sirkulasi di dalam laut. (intermediate or deep
circulation).(Luo, Pan, Kou, Zhao, & Wang, 2005). Arus pada permukaan air laut
disebabkan adanya gaya angin sedangakan arus yang berada di dalam laut
didominasi oleh arus termohalin. Arus termohalin timbul sebagai akibat dari
perbedaan densitas karena perbedaan suhu dan salinitas air laut. Perlu didingat
bahwa arus termohalin dapat terjadi pada permukaan air laut begitu juga sebaliknya
agin dapat menyebabkan arus laut hingga dasar laut. Berbeda dengan sirkulasi
angin yang secara horizontal, sirkulasi termohalin mempunyai komponen Gerakan
vertikal dan merupakan agen dari percampuran massa air di lapisan dalam.
Arus memainkan peranan penting dalam memodifikasi cuaca dan iklim
dunia. Di Atlantik Utara, aliran arus yang relatif panas di sekitar Islandia dan
Semenanjung Skandinavia membuat pelabuhan-pelabuhan di daerah Arctic bebas
dari es meskipun pada musim dingin dan membuat udara di daerah tersebut menjadi
lebih hangat dibanding daerah lain pada lintang yang sama. Di Samudera Pasifik
arus Kuroshio yang panas yang mengalir ke arah utara di pantai timur Kepulauan
Jepang memainkan peranan yang sama di daerah ekuator Pulau Aleutian.
Sebaliknya, arus dingin seperti arus Labrador dan arus California menyebabkan
udara panas di atasnya menjadi dingin dan menimbulkan kabut laut (Luo et al.,
2005)
14

Arus permukaan laut umumnya digerakkan oleh stress angina yang bekerja
pada permukaan laut. Angin cenderung mendorong lapisan permukaan air laut
dalam arah Gerakan air laut. Tetapi karena adanya rotasi bumi atau gaya corliolis,
arus tidak searah dengan arah angina tetapi dibelokkan kearah kanan dari angina di
belahan bumi utara dan arah kiri di belahan bumi selatan. Jadi angin dari selatan
akan mengakibatkan arus yang bergerak kea rah timur laut. Arus yang diakibatkan
angina ini kecepatannya berkurang seiring dengan kedalam air laut dan arahnya
akan berlawanan dengan arus di permukaan.
Arus air laut juga diakibatkan adanya tekanan yang berbeda dari satu tempat
dengan tempat yang lain. Perbedaan tekanan ini terajdi sebagai hasil dari adanya
variasi densitas air laut dan slope permukaan laut. Densitas air laut bervariasi
dengan suhu dan salinitas. Air tawar yang hangat adalah ringan, sementara air laut
yang dingin adalah berat. Pada kedalam dibawah 2000m, densitas air laut hamper
konstan jadi variasi densitas umunya terbatas pada lapisan dekat dengan
permukaan. Perairan dengan densitas rendah mempunyai permukaan air laut yang
lebih rendah dan tinggi.

2.8 Gelombang Air Laut


Gelombang laut merupakan pergerakan naik dan turunnya air laut dengan
arah tegak lurus pemukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.
Gelombang laut timbul karena adanya gaya pembangkit yang bekerja pada laut
(Kurniawan, Habibie, & Suratno, 2012). Gelombang yang terjadi di lautan dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya
pembangkit tersebut terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi -
bulan - matahari atau yang disebut dengan gelombang pasang surut dan gempa
bumi.
Jenis-jenis gelombang apat diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan gaya
pembangkitnya, antara lain:
a. Gelombang Angin, merupakan gelombang yang disebabkan oleh tiupan angin
di permukaan laut. Gelombang ini mempunyai periode yang sangat bervariasi,
ditinjau dari frekuensi kejadiannya, gelombang angin merupakan gelombang
15

yang paling dominan terjadi di laut. Angin terjadi karena adanya perbedaan
tekanan udara, angina yang bergerak di permukaan bumi menyebabkan
terbentuknya suatu gelombang. Gelombang angin merupakan gelombang yang
gaya pembangkitnya berasal dari angin gelombnag ini biasanya dapat ditemui
di laut bahkan di danau ataupun waduk. Angin menipu dan mendorong air yang
berad di permukaan laut ke daratan dimana partikel airnya bergerak dalam pola
lingkaran. Dalam perjalannya ke daratan air terdorong naik ke atas sehingga
terciptanya puncak gelombang, namun karena adanya efek gravitasi bumi air
akan turun lagi yang mana proses tersebut terus berulang-ulang sampai ke
daratan sehingga membentuk gelombang. Tinggi dan periode gelombang
dipengaruhi oleh kecepatan angin, lama hembusan angina, arah angina dan
panjang fetch. Fetch merupakan Panjang daerah pembangkitan gelombang di
mana kecepatan dan arah angin berhembus. Panjang fetch sangat berpengaruh
pada Panjang dan tinggi gelombang yang di hasilkan.
b. Gelombang Pasang surut (Pasut), merupakan gelombang yang disebabkan oleh
gaya tarik bumi terhadap benda -benda langit, benda langit yang paling besar
pengaruhnya adalah Matahari dan Bulan, gelombang pasut lebih mudah
diprediksi karena terjadi secara periodik mengikuti sesuai peredarannya.
c. Gelombang Tsunami, gelombang yang diakibatkan oleh gempa bumi tektonik
atau letusan gunung api di dasar laut, tsunami merupakan gelombang yang
sangat besar dan tinggi gelombangnya dapat mencapai lebih dari 10 meter.
Tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” yang berarti pelabuhan atau laut dan
“nami” yang berarti gelombang. (US Army Corps of Engineers, 1990)
mendefinisikan tsunami sebagai gelombang laut gravitasi periode panjang
yang ditimbulkan oleh gangguan seperti gerakan patahan, longsor, gempa,
meteor, genung meletus di bawah laut.

2.9 Pasang Surut


Pasang surut merupakan gerakan naik turunnya muka air laut secara
periodik yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Permukaan air laut
naik hingga ketinggian maksimum disebut pasang tinggi (high water) kemudian
16

turun sampai ketinggian minimum disebut pasang rendah (low tide). Perbedaan
ketinggian antara pasang tinggi dan pasang rendah dikenal dengan tidal range.
Pasang yang mempunyai ketinggian maksimum dikenal dengan spring tide,
sedangkan yang mempunyai tinggi minimum dikenal dengan neap tide (Hutabarat
dan Evans, 1986). Pasang tertinggi biasanya terjadi saat bulan penuh atau bulan
baru, sedangkan pasang terendah terjadi saat bulan seperempat atau tiga perempat.
Pasang surut memberikan pengaruh terhadap kehidupan biota laut
khususnya yang hidup di wilayah pantai. Pasang surut di muka bumi tidak hanya
dipengaruhi oleh bulan dan matahari, namun ada faktor lain perlu diperhatikan,
antara lain: 1) Tingkah laku dari gerakan air; 2) Berubahnya kecondongan bulan
dan matahari mengakibatkan perbedaan tinggi paras air pasang di siang dan malam
hari. Kecondongan ini mengakibatkan ketidaksamaan jarak waktu dari air pasang
dan air surut berikutnya maupun antara air surut dan air pasang berikutnya; 3)
Perubahan jarak antara bulan dan bumi selama bulan berputar mengelilingi bumi
menyebabkan gaya atraktifnya berubah-ubah juga; 4) Berubahnya jarak antara
matahari dan bumi selama bumi mengelilingi matahari juga menyebabkan
berubahnya gaya atraktif matahari; 5) Susunan dan letak antara daratan dan lautan
juga mempengaruhi pasang surut; 6) Pasang surut dapat dipengaruhi oleh angin
yang keras. Angin yang keras ke pantai biasanya dapat menimbun massa air ke
pantai dan dapat menambah tinggi paras air pada saat pasang atau rendahnya paras
air pada saat surut; 7) Amplitudo pasang surut berbeda-beda menurut letak
daerahnya di permukaan bumi. Amplitudo kecil terjadi pada pulau-pulau yang
terletak di tengah laut; 8) Arus pasang surut saat memasuki selat yang sempit akan
menyebabkan penimbunan massa air sehingga paras laut saat pasang menjadi lebih
tinggi daripada biasanya. Indonesia memiliki empat jenis pasang surut yakni pasang
surut semi diurnal (pasut harian ganda) yaitu dua kali pasang dan dua kali surut
dalam 24 jam; pasut diurnal atau pasut harian tunggal (satu kali pasang dan satu
kali surut dalam 24 jam); campuran keduanya dengan jenis dominan ganda dan
campuran keduanya dengan jenis dominan tunggal.
Jenis pasang surut harian tunggal misalnya terjadi di perairan sekitar Selat
Karimata (Sumatra dan Kalimantan). Pasang surut harian ganda misalnya terjadi di
17

perairan Selat Malaka sampai ke Laut Andaman. Pasang surut campuran dominan
ganda (mixed tide, prevailing semidiurnal) misalnya terjadi di sebagian besar
perairan Indonesia bagian timur. Sedangkan jenis campuran dominan tunggal
(mixed tide, prevailing diurnal) contohnya terjadi di pantai selatan Kalimantan dan
pantai utara Jawa Barat
Kisaran pasang-surut (tidal range), merupakan perbedaan tinggi muka air
pada saat pasang maksimum dengan tinggi air pada saat surut minimum. Rata-rata
kisaran pasang surut antara 1 m hingga 3 m. Akan tetapi ditemukan kisaran yang
terbesar di dunia seperti yang terjadi di Teluk Fundy (Kanada) yang mencapai
sekitar 20 m. Namun sebaliknya di Pulau Tahiti, di tengah Samudra Pasifik, kisaran
pasang surutnya kecil, tidak lebih dari 0,3 m, sementara di Laut Tengah hanya
berkisar 0,10-0,15 m. Kisaran pasang surut di perairan Indonesia sebagai contoh
dapat misalnya di Tanjung Priok (Jakarta) kisarannya hanya sekitar 1 m, Ambon
sekitar 2 m, Bagan Siapi-api sekitar 4 m, sedangkan yang kisaran tertinggi terjadi
di muara Sungai Digul dan Selat Muli di dekatnya (Irian Jaya bagian selatan) yaitu
bisa mencapai sekitar 7-8 m (Nontji, 2007).
Pasang terutama disebabkan oleh gaya tarik menarik oleh dua tenaga yang
terjadi di lautan. Gaya tersebut berasal dari gaya sentrifugal yang disebabkan oleh
perputaran bumi pada sumbunya dan gaya tarik bulan (Hutabarat dan Evans, 1986).
Gaya tarik yang terjadi di bagian permukaan bumi tidak merata. Gaya lebih kuat
terjadi pada daerah yang lebih dekat dengan bulan, sehingga gaya yang terbesar
berada pada bagian bumi yang terdekat dengan bulan dan gaya yang paling lemah
pada bagian yang terjauh dari bulan (Hutabarat dan Evans, 1986).
Permukaan bumi sebagian besar tertutup air akibat adanya gaya pembangkit
pasang ada dua tonjolan massa air di mana satu bagian terdapat pada permukaan
bumi yang dekat dengan bulan dan tonjolan lainnya terdapat pada sisi yang paling
jauh dari bulan.Tonjolan terbentuk karena adanya gaya tarik bulan yang relatif kuat
menarik massa air yang terdapat di sisi bumi yang langsung menghadap ke arah
bulan. Sementara itu di sisi lain juga terdapat tonjolan disebabkan gaya tarik bulan
pada sisi ini relatif lebih lemah daripada gaya sentrifugal bumi, sehingga tenaga
yang ditimbulkan mendorong massa air ke arah luar dari permukaan bumi. Dua
18

tonjolan itu merupakan dua daerah yang mengalami pasang tinggi (Hutabarat dan
Evans, 1986).
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Suhu pada air laut merupakan faktor yang sangat penting bagi
berlangsungnya kehidupan organisme di lautan, karena memepengaruhi aktifitas
metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme yang ada
dilautan. Suhu di laut di pengaruhi oleh penyinaran matahari, suhu pada wilayah
tropis, sub tropis, dan kutub memiliki perbedaan yang signifikan dikarenakan
perbedaan lama penyinaran matahari.
Tekanan air laut dipengaruhi oleh kedalaman, semakin dalam laut semakin
tinggi tekanannya. Salinitas merupakan kadar garam yang terkandung di perairan.
Salinitas dapat didefinisikan menjadi jumlah total material solid terlarut dalam 1
kilogram air saat seluruh karbon dikonversi menjadi oksida, seluruh bromin dan
iodin digantikan oleh klorin dan seluruh organik matter sudah teroksidasi. Densitas
merupakan salah satu parameter terpenting dalam mempelajari dinamika laut.
Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal (misalnya akibat perbedaan
pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus laut yang sangat kuat. Derajat
keasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas. Semakin
tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan semakin rendah kadar
karbondioksida bebas.
Warna air laut tampak hijau kebiru-biruan, hal ini disebabkan karena tiap
lapisan air laut mempunyai daya seleksi absorpsi yang berbeda-beda terhadap setiap
sinar cahaya matahari. Pada lapisan air permukaan (0 – 0,5 meter) air hanya
mengabsorpsi sinar inframerah yang tidak nampak oleh mata kita, sehingga
dipermukaan tampaknya putih. Sampai pada kedalaman 5 meter, sinar yang
diabsorpsi mula-mula sinar hijau dan sinar kebiru-biruan. Pada kedalaman 50
meter, lapisan air itu mengabsorpsi sinar yang biru hijau yang menyebabkan warna
air permukan tampak biru. Arus air laut merupakan gerakan air laut dari suatu
tempat ke tempat lain. Arus air laut terjadi dimana saja di laut. Pada dasarnya air
laut bergerak karena perbedaan suhu air laut diakibatkan adanya perbedaan sinar
matahari. Gelombang laut merupakan pergerakan naik dan turunnya air laut dengan
20

arah tegak lurus pemukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.
Gelombang laut timbul karena adanya gaya pembangkit yang bekerja pada laut,
salah satunya ialah karena tenaga angin. Gelombang di bedakan menjadi tiga yaitu,
gelombang angin, gelombang tsunami, dan gelombang pasang surut. Pasang surut
merupakan gerakan naik turunnya muka air laut secara periodik yang disebabkan
oleh gaya tarik bulan dan matahari.

3.2 Saran
Dalam mengamati dan mempelajari sifat-sifat air laut tidak bisa hanya
dengan membaca, tetapi juga harus turun ke lapangan untuk mengamatai dan
menganalisis bagaimana karakteristik dari air laut tersebut. Dengan mempelajari
sifat air laut diharapkan pembaca bisa mengidentifikasi suhu, tekanan, warna, dan
pergerakan air laut.
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah Tri Septiana dan Ari Asnani. (2012). Kajian Sifat Fiskokimia Ekstrak
Rumput Laut Coklat. Agrointek, 6(1), 22–28.

Bhatt J J. (1978). Oceanography Exploring the Planet Ocean. New York: D.Van
Nostrand Company.

Castro P. and Huber M. E. (2000). Marine Biology, 3rd edition. USA: Mc Graw
Hill Companies.

Effendi H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.

Furqon, M. A. (2006). Gerak Air Di Laut: Oseana, XXXI(4), 9–21.

Hutabarat S dan Evans S. M. (1986). Pengantar Oseanografi. Jakarta: Penerbit


Universitas Indonesia (UI-Press).

Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2012). 2 (14,4 %),. 2, 4–19.

Juliana Anggono, S. T. (1999). Studi Perbandingan Kinerja Anoda Korban Paduan


Aluminium dengan Paduan Seng dalam Lingkungan Air Laut. Jurnal Teknik
Mesin, 1(2), 89–99.

Kurniawan, R., Habibie, M. N., & Suratno. (2012). Variasi bulanan gelombang laut
di indonesia. Jurnal Meteorologi Dan Geofisika, 12(3), 221–232.

Kodoatie, R.T., Sjarief, R., 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta: Andi

Lolong, M. (2011). Hidro Oceanografi Pantai ( Study Kasus Pantai Inobonto ).


Jurnal Ilmiah Media Engineering, 1(2), 127–134.

Luo, C., Pan, M., Kou, S., Zhao, D., & Wang, W. (2005). Formation of Amorphous
Steel. Chinese Science Bulletin, 50(3), 205–207.
https://doi.org/10.1360/982004-132.

Nontji A. (2007). Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.

Nybakken, J. W. (1992). Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan


dari: Marine Biology: An Ecological Approach. Jakarta: Gramedia.

Romimohtarto K dan Juwana S. (1999). Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang


Biota Laut. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi Lipi.