Anda di halaman 1dari 22

SIFAT-SIFAT AIR LAUT

MAKALAH
disusun guna memenuhi tugas kelompok Mata Kuliah Oceanografi Semester 3

Dosen Pengampu
Era Iswara Pangastuti, S.Pd., M.Sc.

Oleh:
Ahmad Farhan Alfani NIM 180210303045
M. Fikri Umam NIM 180210303005
M. Junaedy Saud NIM 180210303010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad
SAW yang telah membawa umat-Nya menuju jalan yang terang benerang
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Oceanografi yang berjudul “Sifat-
Sifat Air Laut”. Makalah ini di susun untuk memenuhi tugas Oceanografi pada
Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember.
Penyusunan tugas ini tidak lepas dari bantuan dan keterlibatan dari
berbagai pihak yang telah mendukung dan memberikan bantuan pemikiran.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi
referensi dalam penyusunan makalah Oceanografi, penulis mengharapkan kritik,
masukan, dan saran demi kesempurnaan makalah ini.

Jember, 3 September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................


1.1 Latar Belakang .............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................
1.3 Tujuan ..........................................................................................................
1.4 Manfaat ........................................................................................................
BAB 2 PEMBAHASAN ....................................................................................
2.1 .......................................................................................................................
2.2 .......................................................................................................................
2.3 .......................................................................................................................
2.4 .......................................................................................................................
2.5 .......................................................................................................................
BAB 3 PENUTUP..............................................................................................
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................
3.2 Saran .............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bumi kita dikelilingi oleh dua lautan yang sangat luas yaitu lautan udara
dan lautan air. Keduanya berada dalam keadaan bergerak (dynamic condition),
dibangkitkan oleh energi dari matahari dan gaya gravitasi bumi. Gerakan- gerakan
mereka saling berhubungan: angin memberikan energinya ke permukaan laut
sehingga menghasilkan arus laut, dan arus laut membawa energi panas dari satu
lokasi ke lokasi lainnya, mengubah pola temperatur permukaan bumi dan juga
mengubah sifat-sifat fisis udara di atasnya. Interaksi laut dan udara ini disebut
ocean-atmosphere coupled system (Furqon, 2006)
Indonesia telah dikenal luas sebagai negara kepulauan yang 2/3wilayahnya
adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia yaitu ± 80.791,42
Km( Septiana dan Asnani, 2012). Laut merupakan tempat bermuaranya sungai,
baik sungai besar maupun sungai kecil. Dengan demikian, laut akan menjadi
tempat berkumpulnya zat-zat pencemar yang terbawa oleh aliran sungai.
Hampir seluruh unsur kimia yang ada pada tabel periodik juga ada
(terlarut) di dalam air laut, dengan konsentrasi yang bervariasi mulai dari yang
paling banyak, yaitu pada tingkatan persen (%) seperti unsur Natrium, karena
mudah larut dan ionnya stabil di dalam air laut, permil (0/00), ppm, ppb sampai
dengan ppt (yang jumlahnya paling sedikit, seperti unsur-unsur radioaktif)

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana suhu dari air laut ?
2) Bagaimana tinggi rendahnya tekanan air laut ?
3) Bagaimana kadar salinitas air laut ?
4) Bagaimana kadar densitas air laut ?
5) Bagaimana kadar Ph air laut ?
6) Bagaimana membedakan sifat air laut berdasarkan warna ?
7) Bagaimana pergerakan arus air laut ?
8) Bagaimana gelombang air laut terbentuk ?
9) Bagaimana mekanisme pasang surut air laut ?
1.3 Tujuan
1) Untuk menjelaskan tentang suhu air laut;
2) Untuk menjelaskan tentang tekanan air laut;
3) Untuk menjelaskan tentang salinitas air laut;
4) Untuk menjelaskan tentang densitas air laut;
5) Untuk menjelaskan Ph air laut;
6) Untuk menjelaskan perbedaan sifat air laut berdasarkan warna;
7) Untuk menjelaskan bagaimana pergerakan arus air laut;
8) Untuk menjelaskan tentang gelombang air laut;
9) Untuk menjelaskan mekanisme pasang surut air laut.

1.4 Manfaat
Menambah khazanah ilmu tentang sifat-sifat air laut dalam kajian ilmu
oceanografi sehingga mahasiswa dapat mengidentifikasi dari sifat-sifat air laut
sehingga dapat di manfaatkan dalam berbagai bidang tanpa merusak ekosistem
laut.
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Suhu
Suhu pada air laut merupakan faktor yang sangat penting bagi
berlangsungnya kehidupan organisme di lautan, karena memepengaruhi aktifitas
metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme-organisme yang ada
dilautan. Bumi kita dikelilingi oleh dua lautan yang sangat luas yaitu lautan udara
dan lautan air yang keduanya di panasi oleh sinar matahari yang dinamakan
proses insolation. Namun di setiap daerah memiliki perbedaan intensitas sinar
matahari, misal daerah ekuator akan menerima lebih banyak sinar matahari yang
menyebabkan meningkatnya suhu air laut di bandingkan suhu air laut di daerah
yang berada di lintang tinggi. Suhu air laut dipengaruhi oleh pemanasan matahari,
pengaruh pemanasan berbeda-beda untuk daerah yang terletak pada lintang yang
berbeda. Daerah tropis lebih banyak menerima panas daripada daerah lintang
tinggi dan kutub. Perbedaan jumlah panas yang diterima permukaan bumi di
tempat yang terletak pada lintang yang berbeda, merupakan akibat dari bentuk
bumi yang bulat. Suhu merupakan parameter fisik perairan yang penting. Suhu
permukaan laut di seluruh dunia sangat bervariasi. Suhu di bawah permukaan
bervariasi tergantung kedalaman, sirkulasi udara, turbulensi, lokasi geografi, dan
jarak dari sumber panas (sebagai contoh gunung berapi) (Bhatt, 1978).
Cahaya mata hari yang jatuh di atas daerah tropik terlebih dahulu akan
melalui atmosfer dengan menempuh jarak yang lebih pendek daripada yang
ditempuh di daerah kutub. Cahaya matahari ini juga memanasi daerah ekuator
pada area yang lebih sempit jika dibandingkan dengan daerah kutub. Terdapat 3
faktor yang menyebabkan perbedaan suhu yaitu:
1) Sinar matahari yang merambat melalui atmosfer akan banyak kehilangan
panas sebelum sampai pada daerah kutub bila di bandingkan dengan daerah
yang ada di ekuator;
2) Karena besarnya perbedaan sudut datang sinar matahari ketika mancapai
permukaan bumi, pada daerah kutub sinar matahari yang sampai di permukaan
bumi akan tersebar pada daerah yang lebih luas dari pada di daerah ekuator;
3) Daerah kutub lebih banyak panas yang diterima oleh permukaan bumi yang
dipantulkan kembali ke atmosfer. Hal ini sekali lagi disebabkan oleh sudut
relatif ketika sinar matahari mencapai permukaan bumi.
Keadaan ini yang membuat insolation di daerah subtropik lebih besar
daripada di daerah tropik. Alasan yang menyebabkan mengapa keanehan ini bias
terjadi kelihatannya disebabkan oleh karena adanya faktor yang keempat yaitu
awan yang menutupi. Awan ini mengakibatkan insolation berkurang karena
mereka menyerap dan menyebarkan sinar-sinar yang datang. Daerah tropis adalah
daerah yang mempu nyai nilai kelembaban udara (humidity) yang tinggi yang
mengakibatkan daerah ini mempunyai lapisan awan yang lebih tebal daripada
daerah subtropis (ditandai dengan langit yang selalu tampak bersih). Insolation
yang bersama-sama curah hujan yang rendah menghasilkan suatu bentuk daerah
padang pasir yang luas di daerah subtropik.
Meskipun pengaruh pemanasan pada lintang yang berbeda tidak seimbang,
kenyataannya kisaran suhu yang tersebar di seluruh lautan dunia jauh lebih kecil
jika dibandingkan dengan di daratan. Hal ini disebabkan karena air mempunyai
daya muat panas yang tertinggi dari seluruh cairan selain daripada gas amonia. Air
mempunyai daya muat panas yang jauh lebih tinggi daripada daratan. Akibatnya
untuk menaikkan suhu sebesar 1°C air akan membutuhkan panas yang lebih besar
daripada yang dibutuhkan oleh daratan dalam jumlah massa yang sama. Dengan
kata lain dalam jumlah pemanasan yang sama, daratan akan lebih cepat menjadi
panas daripada lautan. Demikian juga sebaliknya, bahwa lautan lebih efektif untuk
menyimpan panas yang diterima daripada daratan, sehingga pada waktu tidak ada
pemanasan (malam hari) lautan akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk
menjadi dingin daripada daratan. Sejak sinar matahari kebanyakan diserap oleh
lapisan permukaan laut, maka lapisan ini cenderung untuk relatif panas sampai
pada kedalaman 200 meter. Pada lapisan kedalaman antara 200 dan 1000 meter,
suhu turun secara mendadak yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang
tajam yang dikenal sebagai thermokline. Air pada daerah yang terdalam biasanya
mempunyai suhu kurang lebih 20C (Hutabarat dan Evans, 1986).
Suhu diukur dengan satuan derajat C, Suhu perairan dapat diukur
menggunakan alat pengukur suhu yang biasa disebut thermometer. Suhu dapat
juga didefinisikan sebagai pengukuran langsung terhadap rata-rata energi kinetik
yang membentuk substansi yang dapat memberikan respons terhadap masukan
atau keluaran panas. Energi kinetik yang dimaksud merupakan energi gerak,
sehingga semakin tinggi suhu, semakin besar kecepatan molekul pada substansi di
mana suhu diukur. Suhu alami air laut berkisar antara suhu di bawah -5 C sampai
lebih dari 33 C (Bhatt, 1978).
Beberapa kondisi meteorologi yang mempengaruhi suhu permukaan laut
antara lain curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara, kecepatan
angin dan intensitas radiasi matahari. Perubahan suhu di laut berpengaruh
terhadap gejala fisika di laut dan biota laut. Sebagian besar air samudra dingin
karena matahari hanya mampu menembus perairan laut sampai beberapa meter
saja.
Perairan laut di Indonesia umumnya memiliki sebaran suhu secara vertical.
Sebaran suhu secara vertikal terbagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan hangat di
bagian teratas (biasa disebut mixed layer atau lapisan campuran), termoklin di
bagian tengah dan lapisan dingin di bagian bawah. Termoklin di daerah ekuator
terlihat lebih jelas karena tingginya suhu di lapisan permukaan, sedangkan
termoklin di daerah beriklim sedang dan dingin cenderung berubah-ubah karena
adanya perubahan musim dari bagian tahun yang satu ke tahun yang lainnya. Suhu
menjadi faktor fisik yang sangat penting di laut, berguna untuk mengidentifikasi
massa air tertentu bersama salinitas dan bersama tekanan dapat menentukan
densitas air laut. Air berdensitas rendah berada di lapisan atas dan air dengan
densitas tinggi akan berada di lapisan bawahnya.
Sebaran suhu di kolom perairan laut secara vertikal pada daerah iklim
sedang (subtropis) dan kutub relatif tidak sama pada musim berbeda. Pada saat
musim panas (summer) di mana sinar matahari menghangatkan lapisan
permukaan kemudian suhu akan menurun seiring dengan bertambahnya
kedalaman, sehingga terbentuk dua lapisan air, yaitu lapisan air panas di
permukaan dan lapisan air dingin di kedalaman tinggi. Pada saat musim gugur
(fall), permukaan air menjadi dingin dan terjadi pergolakan oleh angin yang
menyebabkan percampuran air dingin dari kedalaman menuju permukaan pada
lapisan atas. Pada saat musim dingin (winter), permukaan air menjadi lebih
dingin, sehingga massa air menjadi padat daripada air yang di dalam dan
kemudian akan tenggelam selama winter. Hal ini menyebabkan air laut tercampur
secara vertikal yang menyebabkan sebaran suhu relatif sama dari permukaan
hingga ke kolom air yang dalam (Castro dan Huber, 2000).

2.2 Tekanan Air Laut


Gaya akibat tekanan berasal dari perbedaan tekanan dari satu titik ke
titik lainnya - yaitu "gaya gradien tekanan" karena gradien adalah perubahan
jarak. Gaya berada pada arah dari tekanan tinggi ke rendah, maka kita katakan
gaya berorientasi "turun gradien tekanan".
Di lautan, gaya gravitasi ke bawah sebagian besar diimbangi oleh gaya gradien
tekanan ke atas. Artinya, air tidak berakselerasi ke bawah - melainkan dijaga agar
tidak runtuh oleh gradien tekanan ke atas. Karena itu tekanan meningkat dengan
meningkatnya kedalaman.
Tekanan pada kedalaman tertentu tergantung pada massa air yang berada
di atas kedalaman itu. (Persamaan hidrostatik diberikan dalam kelas.) Jika
perubahan tekanan adalah 100 desibel (100 dbar), gravitasi g = 9,8 m / detik ^ 2,
dan kerapatan 1025 kg / m ^ 3, maka perubahan kedalaman adalah 99,55 meter.
Variasi vertikal total dalam tekanan di lautan demikian dari hampir nol
(permukaan) ke 10.000 dbar (terdalam).
Gradien tekanan horizontal mendorong aliran horisontal di laut (yang
jauh lebih kuat dari aliran vertikal). Variasi horisontal dalam tekanan di lautan
sepenuhnya disebabkan oleh variasi dalam distribusi massa. Jika kolom air di atas
kedalaman tertentu (atau lebih tepatnya permukaan geopotensial, sejajar dengan
geoid) lebih berat karena lebih berat atau lebih tebal atau keduanya, tekanannya
akan lebih besar. Perhatikan bahwa perbedaan tekanan horizontal yang
menggerakkan arus laut berada pada urutan dekibar lebih dari ratusan atau ribuan
kilometer, yaitu, jauh lebih kecil daripada perubahan tekanan dengan kedalaman.
2.3 Salinitas
Salinitas merupakan kadar garam yang terkandung di perairan. Salinitas
dapat didefinisikan menjadi jumlah total material solid terlarut dalam 1 kilogram
air saat seluruh karbon dikonversi menjadi oksida, seluruh bromin dan iodin
digantikan oleh klorin dan seluruh organik matter sudah teroksidasi (Thurman,
1993). Garam di laut berasal dari dasar laut karena proses rembesan dari kulit
bumi di dasar laut yang berbentuk gas. Bersama gas ini terlarut juga hasil kikisan
kerak bumi dan air dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam di
laut. Zat-zat terlarut tersebut dapat dibagi menjadi empat kelompok
(Romimohtarto dan Juwana, 1999): 1. Konstituen utama : Cl, Na.SO2 dan Mg 2.
Gas terlarut : CO2, N2 dan O2 3. Unsur hara : Si, N dan P 4. Unsur runut : I, Fe.
Mn, Pb dan Hg Salinitas di laut umumnya merupakan sejumlah garam terlarut
(gram) dalam 1000 gram air laut. Salinitas di laut bervariasi antara 33‰ - 38‰
dengan rata-rata adalah 35‰.
Salinitas air laut mengalami perbedaan karena pengaruh evaporasi dan
presipitasi, run off dari sungai, pendinginan maupun pencairan es. Di daerah
dengan evaporasi yang tinggi (sebagai contoh Laut merah), salinitas dapat
mencapai 40‰, tetapi yang dekat dengan muara sungai akan rendah yaitu sekitar
20‰. Pada umumnya salinitas tinggi terjadi di ekuator (Bhatt, 1978). Salinitas di
perairan bervariasi tergantung kedalaman. Perubahan salinitas yang besar terjadi
antara 100 sampai 1000 meter. Pada zona ini variasi salinitas yang cepat disebut
dengan lapisan haloklin. Perubahan salinitas yang cepat berhubungan dengan suhu
dan oksigen terlarut.
Pengukuran salinitas harus dilakukan dengan akurat. Salinitas laut dapat
diukur dengan menggunakan eletrical conductivity atau juga salinometer. Perairan
laut mengalami percampuran dengan baik dan kelimpahan komponen esensial
relatif konstan, kondisi ini membuat pengukuran kimia pada salinitas menjadi
sederhana. Adanya komposisi yang konstan, maka penting untuk mengukur
konsentrasi pada satu pada salinitas pada contoh air.
2.4 Densitas Air Laut
Densitas merupakan salah satu parameter terpenting dalam
mempelajari dinamika laut. Perbedaan densitas yang kecil secara horisontal
(misalnya akibat perbedaan pemanasan di permukaan) dapat menghasilkan arus
laut yang sangat kuat. Oleh karena itu penentuan densitas merupakan hal yang
sangat penting dalam oseanografi. Lambang yang digunakan untuk menyatakan
densitas adalah ρ (rho). (Ii & Pustaka, 2012)
Densitas air laut bergantung pada temperatur (T), salinitas (S) dan
tekanan(p). Kebergantungan ini dikenal sebagai persamaan keadaan air laut
(Equation of State of Sea Water), maka rumusnya :
Densitas dapat berubah, hal-hal yang dapat menyebabkan perubahan
densitas antara lain:
1. Evaporasi di permukaan laut
2. Massa air pada kedalaman < 100 m sangat dipengaruhi oleh angin dan
gelombang, sehingga besarnya densitas relatif homogen
3. Di bawah lapisan ini terjadi perubahan temperatur yang cukup besar
(Thermocline) dan juga salinitas (Halocline), sehingga menghasilkan pola
perubahan densitas yang cukup besar (Pynocline)
4. Di bawah Pynocline hingga ke dasar laut mempunyai densitas yang lebih padat.
Densitas bertambah dengan bertambahnya salinitas dan berkurangnya
temperatur, kecuali pada temperatur di bawah densitas maksimum. Densitas air
laut terletak pada kisaran 1025 kg/m3. Densitas maksimum terjadi di atas titik
beku sedangkan untuk salinitas di bawah 24,7 dan di bawah titik beku untuk
salinitas di atas 24,7. Hal ini mengakibatkan adanya peristiwa konveksi panas.
a. S < 24.7 : air menjadi dingin hingga dicapai densitas maksimum,
kemudian jika air permukaan menjadi lebih ringan (ketika densitas
maksimum telah terlewati) pendinginan terjadi hanya pada lapisan
campuran akibat angin (wind mixed layer) saja, dimana akhirnya terjadi
pembekuan. Di bagian kolam (basin) yang lebih dalam akan dipenuhi oleh
air dengan densitas maksimum.
b. S > 24.7 : konveksi selalu terjadi di keseluruhan badan air. Pendinginan
diperlambat akibat adanya sejumlah besar energi panas yang tersimpan di
dalam badan air. Hal ini terjadi karena air mencapai titik bekunya sebelum
densitas maksimum tercapai.

Seperti halnya pada temperatur, pada densitas juga dikenal parameter


densitas potensial yang didefinisikan sebagai densitas parsel air laut yang
dibawa secara adiabatis ke level tekanan referensi. Densitas air tawar adalah
1000kg/m3. Air laut lebih padat karena terdapat salinitas. Densitas air laut
adalah 1027 kg/m3.(Ii & Pustaka, 2012)

2.5 pH
Derajat keasaman (pH) berkaitan erat dengan karbondioksida dan
alkalinitas. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai alkalinitas dan
semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Besaran pH berkisar antara 0-14,
nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam sedangkan nilai di
atas 7 menunjukkan lingkungan yang basa, untuk pH = 7 disebut sebagai netral.
Sebagian besar hewan akuatik sensitif terhadap perubahan pH. pH yang berkisar
antara 7-8,5 merupakan pH yang disukai biota akuatik.
Air laut umumnya mempunyai pH lebih besar dari 8 pada permukaan.
Pada pH ini, 93% dari total karbon anorganik ada dalam bentuk HCO3, 6%
sebagai CO3, dan 1% sebagai CO2. Konsentrasi ion karbonat relatif sangat tinggi
pada permukaan dan permukaan air hampir selalu jenuh dengan kalsium karbonat.
Hal ini menyebabkan terjadinya pengendapan jenuh calcareous scale pada
permukaan logam. Konsentrasi CO2 dan O2 mempunyai hubungan yang erat
dengan pH air laut dalam proses fotosintesa dan oksidasi biokimia dengan reaksi
sebagai berikut : fotosintesa CH2O2 + O2 Oksidasi biokimia CO2 + H2O (Juliana
Anggono, 1999)
Perubahan nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan.
Pada pH netral, umumnya bakteri dapat tumbuh dengan baik, sedangkan jamur
menyukai pH yang rendah. Oleh karena itu proses dekomposisi bahan organik
dapat berlangsung dengan cepat pada kondisi pH netral dan alkalis (Effendi,
2003). Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif lebih stabil dan berada
dalam kisaran yang sempit, biasanya berkisar antara 7,7-8,4. pH dipengaruhi oleh
kapasitas penyangga (buffer) yaitu adanya garam-garam karbonat dan bikarbonat
yang dikandungnya (Nybakken, 1992).
Toleransi untuk kehidupan akuatik terhadap pH bergantung kepada banyak
faktor meliputi suhu, konsentrasi oksigen terlarut, adanya variasi bermacam-
macam anion dan kation, jenis dan daur hidup biota. Perairan basa (7-9)
merupakan perairan yang produktif dan berperan mendorong proses perubahan
bahan organik dalam air menjadi mineral-mineral yang dapat diasimilasi oleh
fitoplankton. Tidak optimalnya pH air akan berpengaruh terhadap pertumbuhan
dan perkembangbiakan ikan. pH air berfluktuasi mengikuti kadar CO2 terlarut dan
memiliki pola hubungan terbalik. Semakin tinggi kandungan CO2 perairan, maka
pH akan menurun dan demikian pula sebaliknya. Fluktuasi ini akan berkurang
apabila air mengandung garam CaCO3 Saat matahari bersinar terjadi pelepasan
oksigen oleh proses fotosintesis yang berlangsung secara intensif pada lapisan
eufotik lebih besar daripada oksigen yang dikonsumsi melalui proses respirasi.
Kadar oksigen terlarut ini dapat melebihi kadar oksigen jenuh (saturasi)
sehingga perairan akan mengalami super saturasi. Karbon berasal atmosfer dan
perairan terutama lautan. Laut mengandung lima puluh kali lebih banyak daripada
karbon di atmosfer. Perpindahan karbon dari atmosfer ke laut terjadi melalui
proses difusi. Oleh karena itu karbon yang terdapat di laut dapat berpengaruh
terhadap karbondioksida di atmosfer (Effendi, 2003). Terkait dengan pH,
hubungannya dengan karbondioksida dalam perairan dapat terjadi asidifikasi.
Asidifikasi itu sendiri merupakan proses turunnya kadar pH air laut yang terjadi
akibat penyerapan karbondioksida di atmosfer akibat dari kegiatan manusia
(seperti penggunaan bahan bakar fosil). Proses asidifikasi secara sederhana adalah
karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar fosil terakumulasi dalam atmosfer,
menyebabkan pemanasan global, kemudian berpengaruh terhadap perairan.
Karbon dioksida yang diserap oleh laut kemudian bereaksi dengan air laut
membentuk asam karbonat dan meningkatkan keasaman air laut. karbondioksida
dapat berasal dari berbagai aktivitas, di antaranya hasil buangan industri,
peternakan, kendaraan, pembukaan lahan; dapat dikatakan bahwa sesuatu yang
sifatnya menghasilkan energi dapat menghasilkan gas ini. Bahkan manusia juga
menyuplai CO2 melalui proses pernapasan.
Asidifikasi secara tidak langsung dapat menghancurkan ekosistem laut dan
mengancam produktivitas perikanan. Hal tersebut terjadi karena berkurangnya
persediaan karbonat, sebagai zat yang digunakan oleh puluhan ribu spesies hewan
laut untuk membentuk cangkang dan tulang (kerangka). Dampak yang dapat
ditimbulkan akibat Asidifikasi antara lain air laut menjadi korosif dan dapat
melarutkan cangkang (jika keasaman lautan cukup tinggi), melemahkan
pertumbuhan hewan laut dan terumbu karang beserta jutaan spesies hewan laut
yang bergantung kepadanya. Asidifikasi samudra dapat mengganggu efektivitas
organisme laut dalam melakukan reproduksi. Proses pengasaman tersebut dapat
mengganggu indra penciuman spesies laut.

2.6 Warna Air Laut


Sinar matahari dapat menembus lapisan air laut bagian permukaannya
saja. Makin dalam pengaruh sinar matahari semakin lemah, bahkan pada laut-laut
dalam sinar matahari sudah tidak lagi berpengaruh sehingga laut menjadi gelap
gulita. Dilihat dari kondisi cahaya dalam laut secara vertikal dapat diklasifikasikan
dalam 3 zona, yaitu:
a. Zona eufotik (0 – 150 m), terdapat pada permukaan sampai pada kedalaman
dimana cahaya matahari memungkinkan berlangsungnya proses fotosintesis
b. Zona disfotik (150 – 1000 m), berada di bawah zona eufotik, cagaya sudah
terlampau redup untuk memungkinkan terjadinya preses fotosintesis.
c. Zona afotik (lebih dari 1000 m), zona yang paling bawah yang merupakan zona
yang gelap gulita sepanjang masa.
Pada laut dalam yang gelap, sinar-sinar berasal dari binatang-binatang
yang memancarkan sinarnya sendiri seperti jenis ubur-ubur, corals, ascidian,
siphomorphorus, fishlet dan lain- lain Dari kedalaman 300 meter photometer
dapat menangkap sinar cahaya dari beberapa macam organisma yang
menyinarkan cahayanya 200 – 1000 kali lebih kuat dari pada cahaya umumnya.
Beberapa jenis ikan laut dalam, kadang-kadang seluruh tubuhnya bercahaya, ada
pula yang hanya menyinarkan cahayanya dari sisi badannya, dari atas kepalanya
dan ada pula yang dari ekornya.
Energi sinar matahari yang masuk kedalam air laut itu diabsorpsi,
dihamburkan, dan sebagian diubah menjadi energi panas. Snar matahari terdiri
dari sinar yang tampak seperti sinar yang terurai pada rainbow (katumbiri), dan
sinar-sinar yang tidak tampak oleh mata kita seperti sinar ultraviolet dan
inframerah. Air laut mempunyai daya selektif untuk mengabsorpsi sinar matahari.
Warna air laut tampak hijau kebiru-biruan, hal ini disebabkan karena tiap lapisan
air laut mempunyai daya seleksi absorpsi yang berbeda-beda terhadap setiap sinar
cahaya matahari. Pada lapisan air permukaan (0 – 0,5 meter) air hanya
mengabsorpsi sinar inframerah yang tidak nampak oleh mata kita, sehingga
dipermukaan tampaknya putih. Sampai pada kedalaman 5 meter, sinar yang
diabsorpsi mula-mula sinar hijau dan sinar kebiru-biruan. Pada kedalaman 50
meter, lapisan air itu mengabsorpsi sinar yang biru hijau yang menyebabkan
warna air permukan tampak biru.
Matahari menyinarkan energinya ke permukaan air laut, bila posisi
matahari di zenith 98 % dari energinya mencapai permukaan laut dan diabsorpsi
oleh air laut tersebut. Tetapi bila matahari ada 100 di atas horizon hanya 65 %
energi matahari tersebut yang diabsorpsi oleh air laut sisanya direfleksikan oleh
permukaan air laut ke atmosfer. Selain penyinaran secara langsung dari matahari
air laut juga menerima cahaya difusi dari langit. Kira-kira 95 % dari energi juga
masuk ke dalam air laut dan dapat mempengaruhi warna laut itu sendiri.

Gambar 2.1 Contoh Warna Laut


Faktor lain yang mempengaruhi warna air laut antara lain, warna hijau,
karena air biru dengan dasar laut yang putih karena endapan kapur sehingga
tampak hijau. Warna merah, bila pada laut tersebut tumbuh plankton algae merah
misalnya yang terdapat pada laut Merah. Warna kuning, seperti yang terjadi di
laut Kuning karena adanya lumpur tanah loss yang berwarna kuning yang berasal
dari gurun Gobi yang terbawa oleh sungai Hoang Ho atau oleh angin ke laut
tersebut.

2.7 Arus Laut


Arus air laut adalah Gerakan air laut dari suatu tempat ke tempat lain. Arus
air laut terjadi dimana saja di laut. Pada dasarnya air laut bergerak karena
perbedaan suhu air laut diakibatkan adanya matahari.perbedaaan ini menimbulkan
fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan
energi yang ada. Angina merupakan salah satu gaya utama yang menimbulkan
arus laut selain pemanasan yang tidak merata dan pendinginan air laut.
sirkulasi dari arus laut terbagi atas dua kategori yaitu sirkulasi di
permukaan laut (surface circulation) dan sirkulasi di dalam laut. (intermediate or
deep circulation).(Luo, Pan, Kou, Zhao, & Wang, 2005). Arus pada permukaan air
laut disebabkan adanya gaya angin sedangakan arus yang berada di dalam laut
didominasi oleh arus termohalin. Arus termohalin timbul sebagai akibat dari
perbedaan densitas karena perbedaan suhu dan salinitas air laut. Perlu didingat
bahwa arus termohalin dapat terjadi pada permukaan air laut begitu juga
sebaliknya agin dapat menyebabkan arus laut hingga dasar laut. Berbeda dengan
sirkulasi angin yang secara horizontal, sirkulasi termohalin mempunyai komponen
Gerakan vertikal dan merupakan agen dari percampuran massa air di lapisan
dalam.
Arus memainkan peranan penting dalam memodifikasi cuaca dan iklim
dunia. Di Atlantik Utara, aliran arus yang relatif panas di sekitar Islandia dan
Semenanjung Skandinavia membuat pelabuhan-pelabuhan di daerah Arctic bebas
dari es meskipun pada musim dingin dan membuat udara di daerah tersebut
menjadi lebih hangat dibanding daerah lain pada lintang yang sama. Di Samudera
Pasifik arus Kuroshio yang panas yang mengalir ke arah utara di pantai timur
Kepulauan Jepang memainkan peranan yang sama di daerah ekuator Pulau
Aleutian. Sebaliknya, arus dingin seperti arus Labrador dan arus California
menyebabkan udara panas di atasnya menjadi dingin dan menimbulkan kabut laut
(Luo et al., 2005)
Arus permukaan laut umumnya digerakkan oleh stress angina yang
bekerja pada permukaan laut. Angin cenderung mendorong lapisan permukaan air
laut dalam arah Gerakan air laut. Tetapi karena adanya rotasi bumi atau gaya
corliolis, arus tidak searah dengan arah angina tetapi dibelokkan kearah kanan dari
angina di belahan bumi utara dan arah kiri di belahan bumi selatan. Jadi angin dari
selatan akan mengakibatkan arus yang bergerak kea rah timur laut. Arus yang
diakibatkan angina ini kecepatannya berkurang seiring dengan kedalam air laut
dan arahnya akan berlawanan dengan arus di permukaan.
Arus air laut juga diakibatkan adanya tekanan yang berbeda dari satu
tempat dengan tempat yang lain. Perbedaan tekanan ini terajdi sebagai hasil dari
adanya variasi densitas air laut dan slope permukaan laut. Densitas air laut
bervariasi dengan suhu dan salinitas. Air tawar yang hangat adalah ringan,
sementara air laut yang dingin adalah berat. Pada kedalam dibawah 2000m,
densitas air laut hamper konstan jadi variasi densitas umunya terbatas pada lapisan
dekat dengan permukaan. Perairan dengan densitas rendah mempunyai permukaan
air laut yang lebih rendah dan tinggi.

2.8 Gelombang Air Laut


Gelombang laut merupakan pergerakan naik dan turunnya air laut dengan
arah tegak lurus pemukaan air laut yang membentuk kurva/grafik sinusoidal.
Gelombang laut timbul karena adanya gaya pembangkit yang bekerja pada laut
(Kurniawan, Habibie, & Suratno, 2012). Gelombang yang terjadi di lautan dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya
pembangkit tersebut terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi -
bulan - matahari atau yang disebut dengan gelombang pasang surut dan gempa
bumi.
Jenis-jenis gelombang apat diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan gaya
pembangkitnya, antara lain:
a. Gelombang Angin, merupakan gelombang yang disebabkan oleh tiupan angin
di permukaan laut. Gelombang ini mempunyai periode yang sangat
bervariasi, ditinjau dari frekuensi kejadiannya, gelombang angin merupakan
gelombang yang paling dominan terjadi di laut. Angin terjadi karena adanya
perbedaan tekanan udara, angina yang bergerak di permukaan bumi
menyebabkan terbentuknya suatu gelombang. Gelombang angin merupakan
gelombang yang gaya pembangkitnya berasal dari angin gelombnag ini
biasanya dapat ditemui di laut bahkan di danau ataupun waduk. Angin
menipu dan mendorong air yang berad di permukaan laut ke daratan dimana
partikel airnya bergerak dalam pola lingkaran. Dalam perjalannya ke daratan
air terdorong naik ke atas sehingga terciptanya puncak gelombang, namun
karena adanya efek gravitasi bumi air akan turun lagi yang mana proses
tersebut terus berulang-ulang sampai ke daratan sehingga membentuk
gelombang. Tinggi dan periode gelombang dipengaruhi oleh kecepatan angin,
lama hembusan angina, arah angina dan panjang fetch. Fetch merupakan
Panjang daerah pembangkitan gelombang di mana kecepatan dan arah angin
berhembus. Panjang fetch sangat berpengaruh pada Panjang dan tinggi
gelombang yang di hasilkan.
b. Gelombang Pasang surut (Pasut), merupakan gelombang yang disebabkan
oleh gaya tarik bumi terhadap benda -benda langit, benda langit yang paling
besar pengaruhnya adalah Matahari dan Bulan, gelombang pasut lebih mudah
diprediksi karena terjadi secara periodik mengikuti sesuai peredarannya.
c. Gelombang Tsunami, gelombang yang diakibatkan oleh gempa bumi tektonik
atau letusan gunung api di dasar laut, tsunami merupakan gelombang yang
sangat besar dan tinggi gelombangnya dapat mencapai lebih dari 10 meter.
Tsunami berasal dari bahasa Jepang “tsu” yang berarti pelabuhan atau laut
dan “nami” yang berarti gelombang. (US Army Corps of Engineers, 1990)
mendefinisikan tsunami sebagai gelombang laut gravitasi periode panjang
yang ditimbulkan oleh gangguan seperti gerakan patahan, longsor, gempa,
meteor, genung meletus di bawah laut.
2.9 Pasang Surut
Pasang surut merupakan gerakan naik turunnya muka air laut secara
periodik yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Permukaan air laut
naik hingga ketinggian maksimum disebut pasang tinggi (high water) kemudian
turun sampai ketinggian minimum disebut pasang rendah (low tide). Perbedaan
ketinggian antara pasang tinggi dan pasang rendah dikenal dengan tidal range.
Pasang yang mempunyai ketinggian maksimum dikenal dengan spring tide,
sedangkan yang mempunyai tinggi minimum dikenal dengan neap tide (Hutabarat
dan Evans, 1986). Pasang tertinggi biasanya terjadi saat bulan penuh atau bulan
baru, sedangkan pasang terendah terjadi saat bulan seperempat atau tiga perempat.
Pasang surut memberikan pengaruh terhadap kehidupan biota laut
khususnya yang hidup di wilayah pantai. Pasang surut di muka bumi tidak hanya
dipengaruhi oleh bulan dan matahari, namun ada faktor lain perlu diperhatikan,
antara lain: 1) Tingkah laku dari gerakan air; 2) Berubahnya kecondongan bulan
dan matahari mengakibatkan perbedaan tinggi paras air pasang di siang dan
malam hari. Kecondongan ini mengakibatkan ketidaksamaan jarak waktu dari air
pasang dan air surut berikutnya maupun antara air surut dan air pasang
berikutnya; 3) Perubahan jarak antara bulan dan bumi selama bulan berputar
mengelilingi bumi menyebabkan gaya atraktifnya berubah-ubah juga; 4)
Berubahnya jarak antara matahari dan bumi selama bumi mengelilingi matahari
juga menyebabkan berubahnya gaya atraktif matahari; 5) Susunan dan letak antara
daratan dan lautan juga mempengaruhi pasang surut; 6) Pasang surut dapat
dipengaruhi oleh angin yang keras. Angin yang keras ke pantai biasanya dapat
menimbun massa air ke pantai dan dapat menambah tinggi paras air pada saat
pasang atau rendahnya paras air pada saat surut; 7) Amplitudo pasang surut
berbeda-beda menurut letak daerahnya di permukaan bumi. Amplitudo kecil
terjadi pada pulau-pulau yang terletak di tengah laut; 8) Arus pasang surut saat
memasuki selat yang sempit akan menyebabkan penimbunan massa air sehingga
paras laut saat pasang menjadi lebih tinggi daripada biasanya. Indonesia memiliki
empat jenis pasang surut yakni pasang surut semi diurnal (pasut harian ganda)
yaitu dua kali pasang dan dua kali surut dalam 24 jam; pasut diurnal atau pasut
harian tunggal (satu kali pasang dan satu kali surut dalam 24 jam); campuran
keduanya dengan jenis dominan ganda dan campuran keduanya dengan jenis
dominan tunggal.
Jenis pasang surut harian tunggal misalnya terjadi di perairan sekitar Selat
Karimata (Sumatra dan Kalimantan). Pasang surut harian ganda misalnya terjadi
di perairan Selat Malaka sampai ke Laut Andaman. Pasang surut campuran
dominan ganda (mixed tide, prevailing semidiurnal) misalnya terjadi di sebagian
besar perairan Indonesia bagian timur. Sedangkan jenis campuran dominan
tunggal (mixed tide, prevailing diurnal) contohnya terjadi di pantai selatan
Kalimantan dan pantai utara Jawa Barat
Kisaran pasang-surut (tidal range), merupakan perbedaan tinggi muka air
pada saat pasang maksimum dengan tinggi air pada saat surut minimum. Rata-rata
kisaran pasang surut antara 1 m hingga 3 m. Akan tetapi ditemukan kisaran yang
terbesar di dunia seperti yang terjadi di Teluk Fundy (Kanada) yang mencapai
sekitar 20 m. Namun sebaliknya di Pulau Tahiti, di tengah Samudra Pasifik,
kisaran pasang surutnya kecil, tidak lebih dari 0,3 m, sementara di Laut Tengah
hanya berkisar 0,10-0,15 m. Kisaran pasang surut di perairan Indonesia sebagai
contoh dapat misalnya di Tanjung Priok (Jakarta) kisarannya hanya sekitar 1 m,
Ambon sekitar 2 m, Bagan Siapi-api sekitar 4 m, sedangkan yang kisaran tertinggi
terjadi di muara Sungai Digul dan Selat Muli di dekatnya (Irian Jaya bagian
selatan) yaitu bisa mencapai sekitar 7-8 m (Nontji, 2007).
Pasang terutama disebabkan oleh gaya tarik menarik oleh dua tenaga yang
terjadi di lautan. Gaya tersebut berasal dari gaya sentrifugal yang disebabkan oleh
perputaran bumi pada sumbunya dan gaya tarik bulan (Hutabarat dan Evans,
1986). Gaya tarik yang terjadi di bagian permukaan bumi tidak merata. Gaya lebih
kuat terjadi pada daerah yang lebih dekat dengan bulan, sehingga gaya yang
terbesar berada pada bagian bumi yang terdekat dengan bulan dan gaya yang
paling lemah pada bagian yang terjauh dari bulan (Hutabarat dan Evans, 1986).
Permukaan bumi sebagian besar tertutup air akibat adanya gaya
pembangkit pasang ada dua tonjolan massa air di mana satu bagian terdapat pada
permukaan bumi yang dekat dengan bulan dan tonjolan lainnya terdapat pada sisi
yang paling jauh dari bulan.Tonjolan terbentuk karena adanya gaya tarik bulan
yang relatif kuat menarik massa air yang terdapat di sisi bumi yang langsung
menghadap ke arah bulan. Sementara itu di sisi lain juga terdapat tonjolan
disebabkan gaya tarik bulan pada sisi ini relatif lebih lemah daripada gaya
sentrifugal bumi, sehingga tenaga yang ditimbulkan mendorong massa air ke arah
luar dari permukaan bumi. Dua tonjolan itu merupakan dua daerah yang
mengalami pasang tinggi (Hutabarat dan Evans, 1986).
DAFTAR PUSTAKA

Bhatt J J. (1978). Oceanography Exploring the Planet Ocean. New York: D.Van
Nostrand Company.

Castro P. and Huber M. E. (2000). Marine Biology, 3rd edition. USA: Mc Graw
Hill Companies.

Effendi H. (2003). Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.

Hutabarat S dan Evans S. M. (1986). Pengantar Oseanografi. Jakarta: Penerbit


Universitas Indonesia (UI-Press).

Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2012). 2 (14,4 %),. 2, 4–19.


Aisyah Tri Septiana dan Ari Asnani. (2012). KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA
EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT. AGROINTEK, 6(1), 22–28.
Furqon, M. A. (2006). GERAK AIR DILAUT Oleh. Oseana, XXXI(4), 9–21.
Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2012). 2 (14,4 %),. 2, 4–19.
Juliana Anggono, S. T. (1999). Studi Perbandingan Kinerja Anoda Korban
Paduan Aluminium dengan Paduan Seng dalam Lingkungan Air Laut.
JURNAL TEKNIK MESIN, 1(2), 89–99.
Kurniawan, R., Habibie, M. N., & Suratno. (2012). Variasi bulanan gelombang
laut di indonesia. Jurnal Meteorologi Dan Geofisika, 12(3), 221–232.

Lolong, M. (2011). Hidro Oceanografi Pantai ( Study Kasus Pantai Inobonto ).


Jurnal Ilmiah Media Engineering, 1(2), 127–134.
Luo, C., Pan, M., Kou, S., Zhao, D., & Wang, W. (2005). Formation of
Fe56Mn5Cr7-Mo 12Er2C12B6 amorphous steel. Chinese Science Bulletin,
50(3), 205–207. https://doi.org/10.1360/982004-132

Nontji A. (2007). Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.

Nybakken, J. W. (1992). Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Terjemahan


dari: Marine Biology: An Ecological Approach. Jakarta: Gramedia.

Romimohtarto K dan Juwana S. (1999). Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang


Biota Laut. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanografi-
LIPI.