Anda di halaman 1dari 8

Abraham atau yang akrab dipanggil Bram, merupakan pemerhati sejarah yang tinggal sejak

tahun 1957 di Kampung Pulo Geulis, Bogor Tengah, Kota Bogor.

"Saya lahir dan besar di tempat ini, tapi selesai kuliah saya merantau keluar untuk bekerja kurang
lebih selama 10 tahun," ujar Bram menjelaskan asal usulnya, Jumat (23/2/2018).

Bram mengatakan sekembalinya dia dari merantau, kondisi lingkungan di Kampung Pulo Geulis
terlihat memprihatinkan.

Pada saat itu warga pribumi menjaga jarak dengan warga tionghoa yang tinggal dan beribadah di
Klenteng Pan Kho Bio.

"Orang-orang di luar kelenteng tidak mau tahu yang di dalam, begitu pula sebaliknya," ungkap
Bram.

Bram kemudian berinisiatif untuk menemui pengurus kelenteng dan berbincang dengan mereka.

"Solusinya saya adakan kumpul bareng antar warga, terutama yang tinggal dekat dengan
kelenteng," kata Bram.

Hingga saat ini Bram tetap dipercaya sebagai pemimpin dan penghubung antara warga pribumi
dengan warga tionghoa di Kampung Pulo Geulis.

"Sampai-sampai saya di panggil 'abah ngora' oleh warga, artinya kakek tapi masih muda gitu,"
ungkap Bram dengan tawa.

Pria berkumis itu menyatakan kepercayaan yang diberikan warga itu sebagai bentuk rasa terima
kasih kepada dirinya.

"Tapi prinsip saya, kita yang harus menghargai dan menghormati orang lain, maka orang lain
akan berlaku sama," ucap Bram.

Bapak beranak dua itu mengatakan sering mengadakan kegiatan kumpul warga di Klenteng Pan
Kho Bio.

"Bersatu dalam perbedaan itu akan terasa indah, bersatu bukan berarti harus bercampur tapi
berdampingan," ujar Bram.

Meski saat ini terjadi perselisihan antar warga yang berbeda agama, Bram mengaku dia dan
masyarakat Kampung Pulo Geulis tidak merasa khawatir.

"Alhamdulillah kami hidup disini tetap berdampingan, rahasianya harus saling menghargai,
menghormati, dan tidak saling mengganggu," tuturnya.

Bram menceritakan momen yang paling dia ingat kepada TribunnewsBogor.com,


"Waktu banjir besar di tahun 1967, 1980, dan 1986 airnya naik banyak barang-barang yang
hanyut," kata Bram.

Menurut ceritanya, warga dengan sigap saling membantu untuk menjaga agar tidak ada korban
jiwa dan kerugian yang lebih besar.

"Nilai-nilai kebersamaan ini insyaallah terus dijaga sampai selamanya, itu harapan saya," ungkap
Bram.

Akan tetapi Bram mengatakan hal itu bukan berarti dapat dilakukan tanpa hambatan.

"Tantangannya bagaimana agar anak muda jaman sekarang mengerti akan keberagaman dan
kerukunan," kata Bram.

"Selain itu juga harus waspada dengan warga pendatang jangan sampai merusak nilai yang sudah
ada," tambahnya.

Langkah Anda akan terhenti di sebuah gerbang besi kuning, Vihara Maha Brahma. Masyarakat
di sini juga mengenalnya dengan Kelenteng Pan Kho Bio. KompasTravel pun masuk dan
disambut salah satu tokoh masyarakat di Pulo Geulis bernama Bram Abraham Halim. Ia
meminta dipangil dengan sebutan Bram.

Bram merupakan salah satu tokoh masyarakat yang mempelajari sejarah Pulo Geulis beserta
ragam peninggalan bersejarahnya. Ia juga yang turut menjaga kelenteng serta dipercaya
menjelaskan kepada wisatawan tentang Pulo Geulis.

Bram merupakan salah satu tokoh masyarakat yang mempelajari sejarah Pulo Geulis beserta
ragam peninggalan bersejarahnya. Ia juga yang turut menjaga kelenteng serta dipercaya
menjelaskan kepada wisatawan tentang Pulo Geulis.

Di wihara ini terdapat berbagai peninggalan sebagai bukti masa kejayaan penghuninya dari masa
ke masa. Selain itu juga lengkap dengan peralatan peribadatan Islam dengan peralatan solat,
Buddha dengan patung Dewi Kwan Im, dan Konghucu dengan altar berbagai dewanya. Tak
heran tempat ini bertuliskan wihara, namun juga dikenal sebagai kelenteng dengan dewa Pan
Kho.

Pertama masuk, Anda akan melihat berbagai hiolo (tampat menancapkan hio atau dupa yang
dibakar) di pelataran hingga pintu masuk. Jendelanya pun sangat kental sentuhan Konghucu,
dengan bentuk pat-kwa warna-warni. Lampion-lampion merah pun menghiasi langit-langit di
ruangan utama kelenteng yang tak begitu luas ini.

Bram pun mengajak wisatawan ke batu besar berselimut kain hijau dengan motif bunga coklat di
ruangan utama. Ternyata batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Embah Raden Mangun Jaya,
salah satu karuhun atau leluhur masyarakat tradisional Sunda, yang masih merupakan keturunan
dari Raja Pajajaran.

Menghadap ke depan terdapat altar lengkap dengan deretan patung para dewa bagi kepercayaan
Konghucu. Dewa Pan Kho sebagai tuan rumah kelenteng Pan Kho Bio pun terletak di tengah
teratas.

BOGOR, KOMPAS.com - Di tengah Kota Bogor, tak jauh dari Tugu Kujang dan Kebun Raya
Bogor ternyata berdiri sebuah pulau yang sangat bersejarah bagi beberapa agama, hingga leluhur
kerajaan Sunda. Berkunjung ke tempat tersebut dapat menjadi alternatif wisata pendidikan,
sejarah, religi, hingga hiburan pada beberapa perayaan tertentu.

Sebagian orang memang membayangkan bahwa sebuah pulau harus dikelilingi lautan. Namun,
di Bogor, Sungai Ciliwung yang mengairi sebagian daratan Sunda harus terbelah dan menyatu
kembali di satu tempat yang tidak jauh. Sehingga menyisakan sebongkah daratan yang disebut
pulau atau orang Sunda dahulu menyebutnya pulo.

Pulo Geulis terletak tak jauh dari Kebun Raya Bogor, Tugu Kujang, dan Jalan Surya Kencana
yang legendaris tersebut. Akses menuju lokasi tersebut dapat melewati dua jalur jembatan yang
melintasi Sungai Ciliwung, yaitu dari Terminal Baranangsiang dan Suryakencana atau Pasar
Bogor.

Saat berkunjung ke sana, KompasTraveldirekomendasikan melewati Suryakencana, selain tidak


terlalu membingungkan, juga bisa menikmati berbagai kuliner di jalan tersebut. Jika dari Stasiun
Bogor cukup naik satu angkot 02 menuju Pasar Bogor, sedangkan dari keluar tol Jagorawi atau
terminal Baranangsiang bisa menggunakan angkot 02 dengan rute sebaliknya, hanya 10 menit ke
Pasar Bogor.

Menelusuri Jalan Suryakencana, Anda masuk melalui Jalan Roda Jaya, terletak berseberangan
dengan Gang Aut. Jika melalui Pasar Bogor, juga berjalan ke Jalan Roda Jaya, hingga
menemukan gapura masuk bertuliskan Kelurahan Babakan Pasar.

Masuklah ke sana dan tak terlalu rumit, tapi Anda perlu bertanya kepada warga sekitar. Tak lama
dari sana jembatan panjang sekitar 20 meter menghantarkan Anda masuk ke gerbang pulau yang
sarat akan sejarah.

Berhenti sejenak di tengah jembatan yang hanya memiliki lebar sekitar satu meter, Anda
disuguhkan pemandangan yang menarik. Dari sana terlihat bentuk pulau yang membelah sungai,
hanya sangat disesaki pemukiman warga, ujung pulau tersebut berarti ujung tembok rumah
warga.

Hanya sekitar tiga menit setelah jembatan, langkah Anda akan terhenti di sebuah gerbang besi
kuning, Vihara Maha Brahma. Masyarakat di sini juga mengenalnya dengan Kelenteng Pan Kho
Bio. KompasTravel pun masuk dan disambut salah satu tokoh masyarakat di Pulo Geulis
bernama Bram Abraham Halim. Ia meminta dipangil dengan sebutan Bram.

Bram merupakan salah satu tokoh masyarakat yang mempelajari sejarah Pulo Geulis beserta
ragam peninggalan bersejarahnya. Ia juga yang turut menjaga kelenteng serta dipercaya
menjelaskan kepada wisatawan tentang Pulo Geulis.

Dari pertemuan inilah petualangan dimulai. Bram bercerita banyak sekaligus mengantarkan
beberapa wisatawan ke tempat-tempat menarik.

Di wihara ini terdapat berbagai peninggalan sebagai bukti masa kejayaan penghuninya dari masa
ke masa. Selain itu juga lengkap dengan peralatan peribadatan Islam dengan peralatan solat,
Buddha dengan patung Dewi Kwan Im, dan Konghucu dengan altar berbagai dewanya. Tak
heran tempat ini bertuliskan wihara, namun juga dikenal sebagai kelenteng dengan dewa Pan
Kho.

Pertama masuk, Anda akan melihat berbagai hiolo (tampat menancapkan hio atau dupa yang
dibakar) di pelataran hingga pintu masuk. Jendelanya pun sangat kental sentuhan Konghucu,
dengan bentuk pat-kwa warna-warni. Lampion-lampion merah pun menghiasi langit-langit di
ruangan utama kelenteng yang tak begitu luas ini.

Bram pun mengajak wisatawan ke batu besar berselimut kain hijau dengan motif bunga coklat di
ruangan utama. Ternyata batu tersebut dipercaya sebagai petilasan Embah Raden Mangun Jaya,
salah satu karuhun atau leluhur masyarakat tradisional Sunda, yang masih merupakan keturunan
dari Raja Pajajaran.

Menghadap ke depan terdapat altar lengkap dengan deretan patung para dewa bagi kepercayaan
Konghucu. Dewa Pan Kho sebagai tuan rumah kelenteng Pan Kho Bio pun terletak di tengah
teratas.

Firdaus, salah satu spiritualis sekaligus penganut keyakinan Konghucu yang sedang berkunjung
mengatakan Dewa Pan Kho merupakan dewa teratas dalam kepercayaannya. Ia pun heran, jika di
kelenteng lain terdapat dewa rezeki, bumi, dan sebagainya, di sini Dewa Pan Kho yang
merupakan dewa alam semesta.

“Di kelenteng tertua ini, walaupun kecil tapi dewa yang mendiaminya dewa tertinggi dari dewa
lainnya. Oleh karena itu saya diminta para leluhur untuk berkunjung ke sini, melihat realitasnya,”
ujar Firdaus yang datang dari Tangerang bersama keluarga, Sabtu (21/5/2016).

Tak jauh dari para dewa, terdapat patung tua Dewi Kwan Im warisan kelenteng tersebut sejak
pertama ditemukan. Beranjak ke belakang bangunan, ternyata terdapat beberapa batas ruangan.
Bram pun mengucapkan salam secara lengkap ketika memasuki ruangan belakang.

Nampak ruangan segi tiga berisikan dua batu besar yang dipercaya merupakan petilasan Embah
Sakee dan Eyang Jayaningrat. Keduanya merupakan tokoh penyebar agama Islam pada masanya.
Di sampingnya terdapat dua sajadah berbaris rapih menghadap kiblat, ternyata ini mushola
tempat beribadah umat Muslim.

Setelah memanjatkan doa, Bram pun mengajak berpindah lagi ke bagian barat bangunan. Tak
ada habisnya, terdapat lebih banyak lagi peninggalan-peninggalan bersejarah. Di antaranya arca
kura-kura yang dalam filosofi Tionghoa sebagai lambang ketekunan dan panjang umur.

Lalu dua patung harimau hitam berbalut kain hijau, dan satu harimau putih kecil melambangkan
kegagahan, kejayaan, dan keberanian. Dalam bahasa Sunda disebut maung yang juga
melambangkan kekuatan Kerajaan Pajajaran.

Menurut Bram, patung-patung macan tersebut dipercaya jelmaan Raja Siliwangi. Prabu
Siliwangi dipercaya sebagai Raja Pajajaran yang abadi, karena pengaruhnya dan membawa
Pajajaran hingga masa kejayaan.

Selain itu di sampingnya terdapat makam Embah Imam, salah satu penyebar agama Islam di
daerah Bogor dan sekitarnya. Selain mengadakan pengajian, Bram mengatakan umat Muslim
pun ada yang berziarah ke makam ini, sebagai tanda penghormatan atas perjuangannya
menyebarkan agama Islam.

Lepas dari berbagai peninggalan batu-batu monolitik, atau berbagai peninggalan lintas
kepercayaan yang telah ada sejak kelenteng ini ditemukan, kelenteng ini memiliki keistimewaan
dalam perayaan umat.

Sebagai kelenteng tertua saat perayaan Cap Go Meh, Toa Pe Kong sebelum diarak dicuci
terlebih dahulu di sini. Selain itu Dewa Pan Kho sebagai tuan rumah pun dirayakan saat
kelahirannya, yaitu lima hari setelah Imlek, tepat tanggal enam, masyarakat pun mengadakan
syukuran diiringi musik kroncong.

Sedangkan umat Muslim, menurut Bram, biasa menggunakan saat peringatan Maulid Nabi
Muhammad SAW dan tempat buka bersama pada bulan Ramadhan.

Sejak dibangun jembatan oleh Belanda tahun 1923, dan hingga kini Pulo Geulis mulai didatangi
sehingga sangat padat penduduk. Dengan luas sekitar 3,5 hektar, Pulo Geulis dihuni lebih kurang
200 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 2.500 jiwa, mayoritas dari keturunan Sunda dan
Tionghoa.

Di kampung tematik Pulo Geulis, pengunjung bisa menjelajah ke salah satu kelenteng tertua di
Bogor,yakni Pan Kho Bio. Jika umumnya kelenteng menjadi rumah ibadah Umat Buddha,
Kelenteng Pan Kho Bio juga kerap digunakan oleh umat Muslim untuk menunaikan ibadah salat
di salah satu ruangan di dalamnya karena minimnya tempat ibadah di sana.
Wisata ke Pulo Geulis di Kota Bogor, Kampung Membelah Ciliwung

TEMPO.CO, Jakarta - Kota Bogor memiliki banyak destinasi wisata menarik. Ada Kebun Raya
Bogor, Taman Topi, Istana Kepresidenan, wisata kuliner soto, asinan Bogor, soto Bogor, dan
lainnya.

Kini ada satu lagi tempat wisata di Bogor yang menarik perhatian. Namanya Desa Wisata Pulo
Geulis.

Desa wisata Pulo Geulis merupakan kampung tematik yang memiliki berbagai keunikan. Dari
sisi lokasinya, kampung tematik Pulo Geulis berdekatan dengan kawasan Terpadu Wisata
Belanja dan Kuliner Suryakancana. Tempat ini juga punya pesona alam yang menarik karena
membelah aliran sungai Ciliwung.

Di kampung tematik Pulo Geulis, pengunjung bisa menjelajah ke salah satu kelenteng tertua di
Bogor,yakni Pan Kho Bio. Jika umumnya kelenteng menjadi rumah ibadah Umat Buddha,
Kelenteng Pan Kho Bio juga kerap digunakan oleh umat Muslim untuk menunaikan ibadah salat
di salah satu ruangan di dalamnya karena minimnya tempat ibadah di sana.

Umat Muslim salat di Mushola yang berada didalam Klenteng Pulo Geulis, Bogor, 7 Februari
2016. Umumnya, setelah umat Khonghucu berdoa pada dewa Pan Kho mereka juga mendoakan
makam dan petilasan keturunan Raja Pajajaran dan tokoh islam yang keberadaannya sudah ada
sebelum klenteng ini berdiri. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

Jika berkeliling ke setiap sudut di kampung tematik Pulo Geuling, pengunjung disuguhkan aneka
mural di dinding permukiman penduduk. Sebagian mural tersebut menceritakan sejarah awal
terbentuknya Pulo Geulis.

Pengembangan Desa Pulo Geulis menjadi kampung tematik merupakan kerja sama antara
Pemerintah Kota Bogor dengan Panorama Group dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). CEO
Group of Panorama Group, Budi Tirtawisata mengatakan Desa Pulo Geulis punya potensi untuk
tumbuh menjadi salah satu desa wisata unggulan di Bogor. "Dukungan pemerintah, swasta, dan
masyarakat merupakan kunci sukses perkembangan wisata kampung tematik ini," kata Budi.

Untuk vihara, di wilayah ini selain digunakan sebagai tempat peribadatan warga Tionghoa yang
menganut aliran kepercayaan Tao, Khong Hucu dan Buddha, didalam vihara ini juga terdapat
situs kepurbakalaan, yang menurut para pengamat sejarah dan para budayawan di Bogor, situs
ini berasal dari tradisi megalitik. Yang mana situs ini berupa beberapa batu monolit besar, batu
menhir, serta ada pula batu persegi yang memiliki lubang, yang diduga merupakan sebuah yoni
dari masa klasik.

Selain itu semua, di dalam vihara ini juga terdapat makam serta petilasan yang dipercaya sebagai
karuhun atau sesepuh masa lalu. Di dalam vihara ini juga terdapat altar yang mana dibuat sebagai
penghormatan kepada Prabu Surya Kancana, sebagai raja terakhir Pajajaran.

Vihara ini juga sering dikunjungi oleh peziarah dari luar kota, dan juga para mahasiswa yang
akan membuat karya tulis ilmiah serta komunitas pecinta sejarah.

Warga Pulo Geulis sendiri sangat menjunjung tinggi kebersamaan, serta kerukunan dalam
perbedaan. Menurut almarhum ayah saya, kerukunan tersebut sudah ada sejak zaman dahulu
(Belanda). Di rumah saya, dahulu sering pula diadakan pertemuan para jawara sekitar Bogor dan
Banten, juga orang-orang Tionghoa untuk membicarakan tentang perjuangan dan sosial
masyarakat pada waktu itu.

Pulo Geulis atau pulau cantik adalah sebuah daratan di tengah Sungai Ciliwung yang terletak di
pusat Kota Bogor. Di pulau seluas 3,5 hektare ini berdiri sebuah Kelenteng Pan Kho Bio, yang
diperkirakan dibangun sekitar abad 16.

Menurut Bram Abraham, tokoh masyarakat setempat, kelenteng tersebut sudah ada saat daratan
di tengah sungai ini ditemukan oleh ekspedisi Belanda, Abraham Van Ribeck. Ekspedisi itu
mencari jejak peninggalan Kerajaan Pakuan Padjadjaran dan Kerajaan Sunda pada 1704.

Berbagai prasasti tersebut sebagai bukti masa kejayaan penghuninya dari masa ke masa. Antara
lain batu besar yang diyakini peninggalan zaman Megalithikum.

Batu menhir tersebut sebagai tempat masyarakat berdoa kepada leluhur pada zaman dulu. Selain
itu terdapat dua patung macan yang melambangkan kegagahan, kejayaan, dan keberanian serta
kekuatan Kerajaan Padjadjaran.

Di area kelenteng juga terdapat petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu karuhun atau
leluhur masyarakat tradisional Sunda, yang masih keturunan dari Raja Padjadjaran.

Selain terdapat altar lengkap dengan deretan patung para dewa bagi kepercayaan Konghucu,
Hindu, dan Budha, di belakang bangunan terdapat ruangan segi tiga berisikan dua batu besar.

Tempat itu dipercaya merupakan petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat. Keduanya
merupakan tokoh penyebar agama Islam pada masanya.

Para peziarah yang beragama Islam kerap menjalankan salat, maulid nabi, hingga pengajian di
tempat ini sebagai tanda penghormatan atas perjuangan menyebarkan agama Islam.

"Pulo Geulis memiliki nilai sejarah bagi beberapa agama," kata Bram.
Kelenteng tersebut selalu ramai dikunjungi warga Tionghoa dari berbagai daerah di nusantara
untuk melakukan ibadah. Terutama selama perayaan Imlek berlangsung. Kelenteng tersebut juga
kerap menjadi tujuan wisata religi, budaya dan sejarah.

Pulo Geulis menjadi pemukiman yang dikenal karena kerukunan warganya, dimana suku Sunda
dan suku Tionghoa dapat hidup berdampingan dengan damai. Tidak hanya itu, Klenteng Phan
Ko Bio, memiliki kisah yang sangat unik dan menarik.

Bila perayaan Imlek tiba, klenteng ini digunakan untuk suku Tionghoa yang merayakan Imlek.
Mereka bersuka cita, beribadah dan berdoa. Namun, siapa sangka, ternyata Klenteng ini juga
dapat digunakan untuk kegiatan warga sunda yang notabene muslim di Pulo Geulis seperti
pengajian, tawasulan, bahkan sembahyang.

Klenteng Phan Ko Bio sendiri baru bisa digunakan sembahyang pada tahun 2007, namun untuk
ziarah, pengajian, tawasulan dan wisata religi sudah berlangsung sejak dahulu.

“Perbedaan itu jangan kita samakan, perbedaan itu harus kita satukan. Bersatu dalam perbedaan
itu akan lebih indah,” ujar Bram.

Di halaman kelenteng terdapat Hiolo Dewa Langit dan sepasang hiolo kecil diletakkan di kiri
kanan pintu merapat tembok. Jendela hawa di kiri kanan berbentuk pat-kwa warna-warni, dan
lampion kecil bergelantungan di langit teras. Sepasang pagoda pembakaran kertas (Kim Lo) juga
ada di halaman depan Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis yang tak begitu luas ini.

Di sisi kanan ada batu hitam besar dibalut kain hijau berornamen bunga mekar dan kuncup yang
merupakan petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu karuhun atau orang yang semasa
hidupnya memiliki kharisma kuat dan disegani oleh masyarakat tradisional Sunda, serta
dipercayai masih merupakan keturunan dari Raja Pajajaran. Di ruang utama terdapat deretan
patung para dewa. Di tengah adalah altar Pan Kho yang merupakan tuan rumah Kelenteng Pan
Kho Bio Pulo Geulis. Pan Kho lahir pada bulan 1 tanggal 6 Imlek, dan ritual peringatan malam
Sie Jit Kongco Pan Kho dilakukan setiap tahun di kelenteng ini. Ada poster di tembok Kelenteng
Pan Kho Bio Pulo Geulis berisi legenda Pan Kho.