Anda di halaman 1dari 2

ALERGI MAKANAN

No. Dokumen : DTSPO

No. Revisi :
DAFTAR
TILIK Tanggal Terbit :

Halaman : 1 dari 2
PUSKESMAS
TEGALREJO dr. Prie Aka Mahdayanti
KOTA NIP.197306222006042012
YOGYAKARTA

No Kegiatan Ya Tidak Tidak


berlaku
1. Apakah petugas melakukan anamnesis terhadap pasien
(Subjective)?
1) Keluhan pada kulit: eksim, urtikaria.
a. Pada saluran pernapasan : rinitis, asma.
b. Keluhan pada saluran pencernaan: gejala gastrointestinal
non spesifik dan berkisar dari edema, pruritus bibir, mukosa
pipi, mukosa faring, muntah, kram, distensi, diare.
c. Sindroma alergi mulut melibatkan mukosa pipi atau lidah
tidak berhubungan dengan gejala gastrointestinal lainnya.
d. Diare kronis dan malabsorbsi terjadi akibat reaksi
hipersensitivitas lambat non Ig-E-mediated seperti pada
enteropati protein makanan dan penyakit seliak
2) Hipersensitivitas susu sapi pada bayi menyebabkan occult
bleeding atau frank colitis.
2. Apakah petugas melakukan cuci tangan sebelum memeriksa
pasien?
3. Apakah petugas melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang
sederhana (Objective)?
1.1. Pemeriksaan difokuskan pada kulit dan mukosa serta paru.
4. Apakah petugas melakukan penegakan diagnosis (Assessment)?
5. Apakah petugas memperkirakan komplikasi?
Reaksi alergi berat
6. Apakah petugas menyusun rencana penatalaksanaan komprehensif
(Plan)?
Medikamentosa : Antihistamin dan Kortikosteroid
Pada riwayat reaksi alergi berat atau anafilaksis:
a. Hindari makanan penyebab
b. Jangan lakukan uji kulit atau uji provokasi makanan
c. Gunakan pemeriksaan in vitro (tes radioalergosorbent-
RAST)
Rujukan pemeriksaan
a. Uji kulit langsung dengan teknik Prick dengan ekstrak
makanan dan cairan kontrol merupakan metode
sederhana dan sensitif mendeteksi antibodi sel mast
spesifik yang berikatan dengan IgE.Hasil positif
(diameter lebih dari 3 mm dari kontrol mengindikasikan
adanya antibody yang tersensitisasi, yang juga
mengindikasikan adanya alergi makanan yang dapat
dikonfirmasi dengan food challenge).
Uji kulit positif:
1. Hindari makanan yang terlibat secara temporer
2. Lakukan uji terbuka
a) Jika uji terbuka positif: hindari makan yang terlibat
dan lakukan uji plasebo tersamar ganda
b) Jika uji terbuka negatif: tidak ada retriksi makanan,
amati dan
ulangi test bila gejala muncul kembali
Uji kulit negatif:
Hindari makanan yang terlibat temporer diikuti uji
terbuka.
b. Uji provokasi makanan: menunjukkan apakah gejala
yang ada hubungan dengan makanan tertentu.
Kontraindikasi untuk pasien dengan riwayat anafilaksis
yang berkaitan dengan makanan.
c. Eliminasi makanan: eliminasi sistemik makanan yang
berbeda dengan pencatatan membantu mengidentifikasi
makananan apa yang menyebabkan alergi.
Rencana Tindak Lanjut
a. Edukasi pasien untuk kepatuhan diet pasien
b. Menghindari makanan yang bersifat alergen sengaja
mapun tidak sengaja (perlu konsultasi dengan ahli gizi)
c. Perhatikan label makanan
d. Menyusui bayi sampai usia 6 bulan menimbulkan efek
protektif terhadap alergi makanan

7. Apakah petugas memberikan konseling dan edukasi?


a. Masing-masing keluarga memiliki jamban keluarga. Sehingga
kotoran manusia tidak menimbulkan pencemaran pada tanah
disekitar lingkungan tempat tinggal kita.
b. Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk.
c. Menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja
manusia.
d. Menggunakan sarung tangan jika ingin mengelola
limbah/sampah.
e. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukkan aktifitas
dengan menggunakan sabun.
f. Kondisi rumah dan lingkungan dijaga agar tetap bersih dan
tidak lembab.

8. Apakah petugas menetapkan kriteria rujukan?


Pasien dirujuk apabila pemeriksaan uji kulit, uji provokasi dan
eliminasi makanan terjadi reaksi anafilaksis
9. Apakah petugas menentukan prognosis?
Umumnya prognosis adalah dubia ad bonam bila medikamentosa
disertai dengan perubahan gaya hidup.
10. Apakah petugas mencuci tangan setelah memeriksa pasien?
CR = [ Ya / ( Ya + Tidak ) ] x 100 % = %