Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Limbah Cair


Secara sederhana limbah cair dapat didefinisikan sebagai air buangan
yang berasal dari aktivitas manusia dan mengandung berbagai polutan yang
berbahaya baik secara langsung maupun dalam jangka panjang. Berdasarkan
sumbernya, limbah cair dapat dibedakan atas limbah rumah tangga dan limbah
industri, sedangkan polutan yang terdapat dalam limbah dapat dibedakan atas
polutan organik dan polutan anorganik dan umumnya terdapat dalam bentuk
terlarut atau tersuspensi.
Polutan yang terdapat dalam limbah cair merupakan ancaman yang cukup
serius terhadap kelestarian lingkungan, karena di samping adanya polutan
yang beracun terhadap biota perairan, polutan juga mempunyai dampak
terhadap sifat fisika, kimia, dan biologis lingkungan perairan. Dengan kata
lain, perubahan sifat-sifat air akibat adanya polutan dapat mengakibatkan
menurunnya kualitas air sehingga berdampak negatif terhadap kelestarian
ekosistem perairan dalam berbagai aspek.
Perubahan sifat-sifat pada limbah cair (sifat biologis, fisika dan kimia),
sangat berpengaruh terhadap kualitas dari suatu limbah. Dalam prakteknya,
kualitas limbah cair diukur berdasarkan parameter-parameter yang telah
ditentukan di berbagai negara termasuk negara Indonesia. Parameter-
parameter yang akan dipelajari pada penelitian ini adalah COD dan BOD.

II.2 Air limbah batik


Zat pewarna batik adalah zat warna tekstil yang dapat digunakan dalam
proses pewarnaan batik baik dengan cara pencelupan maupun coletan pada
suhu kamar (25oC), sehingga tidak merusak lilin sebagai perintang warnanya.

4
Berdasarkan sumber/asalnya, zat pewarna batik dibagi menjadi 2
golongan yaitu:
1. Pewarna alami
Zat warna yang diperoleh dari alam/tumbuh-tumbuhan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Bahan pewarna alam yang bisa
digunakan dapat diambil pada tumbuhan di bagian daun, buah, kulit kayu
ataupun bunga.
2. Pewarna buatan/pewarna sintetis
Zat warna kimia mudah diperoleh, stabil, dan praktis pemakaiannya. Zat
warna ini merupakan turunan hidrokarbon aromatik seperti benzena,
toluena, naftalena, dan antrasena yang merupakan cairan kental berwarna
hitam serta terdiri dari despersi karbon dalam minyak.
Sedangkan Air bekas cucian pembuatan batik yang menggunakan bahan-
bahan kimia banyak mengandung zat pencemar/racun yang dapat
mengakibatkan gangguan terhadap lingkungan, kehidupan manusia, binatang
maupun tumbuh-tumbuhan.
Sementara oleh masyarakat pembuat batik di Giriloyo kebanyakan
menggunakan jenis pewarna sintetis jenis Napthol. Zat warna ini merupakan
zat warna yang tidak larut dalam air. Untuk melarutkannya diperlukan zat
pembantu kostik soda. Pencelupan napthol dikerjakan dalam 2 tingkat.
Pertama pencelupan dengan larutan naphtol, pada pencelupan pertama belum
diperoleh warna. Kemudian pencelupan tahap kedua dengan larutan garam
diazodium akan diperoleh warna yang dikehendaki.
Dengan penambahan garam ini menjadikan konduktivitas limbah menjadi
besar maka hal tersebut dapat menjadi acuan dipakainya metode
elektrokoagulasi. Pada gambar.2 akan dijelaskan tentang uraian singkat
mengenai proses dalam industri batik dengan hasil limbah pada setiap
prosesnya.

5
Gambar.1 Skema Pembuatan Batik dan Sumber Limbah (Sumber :
Sembiring,2008)
Pemerintah daerah Yogyakarta telah mengatur beberapa syarat mutu
limbah Tekstil yang harus dipenuhi jika limbah Tekstil tersebut dibuang ke
lingkungan. Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Daerah Istimewa
Yogyakarta Nomor 7 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah. Pada
table.1 akan ditampilkan Kadar Baku Mutu Air Limbah berikut dengan
parameter – parameter kualitas limbah batik.

6
Tabel 1. Data Analisa dan baku mutu air limbah batik.
PROSES BASAH PROSES KERING
Kadar Beban Beban
Kadar
Parameter Paling Pencemaran Pencemaran
Paling
Paling Paling
Banyak Banyak
Banyak Banyak
(mg/L)
(mg/L) (Kg/Ton) (kg/ton)

BOD 85 5,1 85 1,275


COD 250 15 250 3,75
TDS 2000 120 2000 30
TSS 60 3,6 80 1,2
Fenol 0,5 0,03 1 0,015

Krom Total
1 0,06 2 0,03
(Cr)

Amonia
Total
(NH3 3 0,18 3 0,045

Sebagai N)

Sulfida
0,3 0,018 0,3 0,0045
(sebagai S)

Minyak dan
5 0,3 5 0,075
Lemak Total

Suhu ± 3 0C terhadap suhu udara

pH 6,0 – 9,0

Debit
limbah
Paling
Banyak 60 15
(m³/Ton
produk
batik)

7
II.2.a Chemical oxygen demand (COD)
Chemical oxygen demand (COD) merupakan jumlah oksigen
(mg/L) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada
dalam sejumlah sampel. Oksidator yang paling umum digunakan
adalah K2Cr2O7 (Alaerts, 1984). Nilai COD merupakan ukuran bagi
pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat
dioksidasi melalui proses kimiawi. Maka, semakin tinggi COD maka
semakin tinggi kadar oksigen terlarut untuk oksidasi dan oksigen yang
tersedia untuk biota perairan semakin rendah.
Metode pengukuran COD dilakukan dengan menggunakan
peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat, pemanasan, dan
titrasi (Apha, 1989). Pada prinsipnya pengukuran COD adalah
penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai
oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah
ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat (Ag2SO4), kemudian
dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium
bikromat diatasi dengan cara titrasi. Dengan demikian kalium bikromat
yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam sampel dapat
dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.

II.2.b Biological oxygen demand (BOD)


Biological Oxygen Demand (BOD) adalah suatu karakteristik
yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh
mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai atau
mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Metcalf,
1991). Ditegaskan lagi oleh Boyd (1990), bahwa bahan organik yang
terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang siap
terdekomposisi (readily decomposable organic matter). Mays (1996)
mengartikan BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang
digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan

8
sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai.
Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun nilai BOD
menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya dapat juga
diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik mudah terurai
(biodegradable organics) yang ada di perairan.
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana,
yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel
segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan
oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari pada
kondisi gelap dan suhu tetap (20 oC) yang sering disebut dengan DO5.
Selisih DOi dan DO5 (DOi - DO5) merupakan nilai BOD yang
dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran
oksigen dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode
Winkler, iodometri) atau dengan menggunakan alat yang disebut DO
meter yang dilengkapi dengan probe khusus. Jadi pada prinsipnya
dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses fotosintesis yang
menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang tetap selama lima hari,
diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime,
sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen
tersisa adalah sebagai DO5. Hal terpenting yang harus diperhatikan
adalah mengupayakan agar masih ada oksigen tersisa pada
pengamatan hari kelima sehingga DO5 tidak nol. Bila DO5 nol maka
nilai BOD tidak dapat ditentukan.

II.3 Elektrokoagulasi (EC)

Proses elektrokoagulasi dilakukan pada bejana elektrolisis yang di


dalamnya terdapat dua atau lebih penghantar arus listrik searah yang disebut
elektroda, yang tercelup dalam larutan limbah.

9
Prinsip dasar dari elektrokoagulasi ini merupakan reaksi reduksi dan
oksidasi (redoks). Dalam suatu sel elektrokoagulasi, peristiwa oksidasi terjadi
di anoda (+) dan sekaligus berfungsi sebagai koagulan, sedangkan reduksi dan
pengendapan terjadi di katoda (-). Untuk proses elektrokoagulasi digunakan
elektroda yang dibuat dari plat aluminium (Al), karena logam ini mempunyai
sifat sebagai koagulan yang baik (fitri dan Ismawati, 2007).
Karena dalam proses elektrokoagulasi ini menghasilkan gelembung-
gelembung gas, maka kotoran-kotoran yang terbentuk yang ada dalam air
akan terangkat ke atas permukaan air. Flok - flokter bentuk ternyata
mempunyai ukuran yang relatif kecil sehingga flok-flok yang terbentuk
tersebut lama - kelamaan akan bertambah besar ukurannya dan mengendap.
Untuk dapat memahami reaksi yang terjadi, selanjutnya akan dijelaskan
tentang reaksi katoda dan anoda pada elektrokoagulasi.

II.3.1 Reaksi pada Katoda


Pada katoda akan terjadi reaksi-reaksi reduksi terhadap kation,
yang termasukdalam kation ini adalah ion H+ dan ion-ion logam.
1. Ion H+ dari suatu asam akan direduksi menjadi gas hidrogen yang
akan bebassebagai gelembung-gelembung gas.
Reaksi : 2H+ + 2e → H2
2. larutan yang mengalami reduksi adalah pelarut (air) dan terbentuk
gas hidrogen (H2) pada katoda.
-
Reaksi : 2H2O + 2e → 2OH + H2

3. Jika larutan mengandung ion-ion logam lain, maka ion-ion logam


akan direduksi menjadi logamnya dan menempel pada batang
katoda.
Reaksi: Al2++ 2e → Al

10
II.3.2 Reaksi pada Anoda

1. Anoda terbuat dari logam stainles steel akan teroksidasi:


-
Reaksi : Al3++ 3H2O → Al(OH)3 + 3H +3e

2. Ion OH- dari basa akan mengalami oksidasi membentuk gas


oksigen (O2):
-
Reaksi : 4OH → 2H2O + O2 +4e

3. Anion-anion lain (SO4-, SO3-) tidak dapat dioksidasi dari larutan,


yang akan mengalami oksidasi adalah pelarutnya (H2O)
membentuk gas oksigen (O2) pada anoda:
Reaksi : 2H2O → 4H- + O2 +4e
Dari reaksi-reaksi yang terjadi dalam proses elektrokoagulasi, maka
pada katoda akan dihasilkan gas hidrogen dan reaksi ion logamnya.
Sedangkan pada anoda akan dihasilkan gas halogen dan pengendapan flok-
flok yang terbentuk. Berikut ini adalah gambar yang dapat menunjukkan
interaksi/mekanisme yang terjadi dalam reaktor elektrokoagulasi.

Gambar 2. Mekanisme dalam elektrokoagulasi (Holt, P., 2006)

11
Mekanisme penyisihan yang umum terjadi di dalam elektrokoagulasi
terbagi dalam tiga faktor utama, yaitu:
1. Terbentuknya koagulan akibat proses oksidasi pada elektroda,
2. Destabilisasi kontaminan, partikel tersuspensi dan pemecahan emulsi.
3. Perubahan dari hasil suspensi untuk membentuk flok dan mengendap.
Sedangkan proses stabilisasi kontaminan, partikel tersuspensi dan
pemecahan emulsi terjadi dalam tahapan sebagai berikut:
1. Kompresi dari lapisan ganda (double layer), difusi yang terjadi disekeliling
spesies bermuatan yang disebabkan interaksi dengan ion yang
terbntukdarioksidasi di elektroda.
2. Netralisasi ion kontaminan dalam air limbah dengan menambahkan ion
berlawanan yang dihasilkan dari elektroda. Dengan adanya ion tersebut
menyebabkan berkurangnya gaya tolak menolak antar partikel dalam air
limbah (gaya Van der Waals) sehingga proses elektrokoagulasi biasa
berlangsung.
3. Terbentuknya flok, dimana flok ini terbentuk akibat proses elektrokoagulasi
sehingga terbentuk sludge yang mampu menjebak dan menjembatani
partikel koloid yang masih ada di air limbah.

II.3.3 Kelebihan dan Kelemahan Elektrokoagulasi


a. Kelebihan Elektrokoagulasi
Untuk pertimbangan penentuan penggunaan elektrokoagulasi
maka Mollah (2001)
telah memberikan gambaran tentang keuntungan dan kerugiannya.
Keuntungan
dari penggunaan elektrokoagulasi adalah sebagai berikut :
1. Elektrokoagulasi membutuhkan peralatan yang sederhana dan
mudah dioperasikan.

12
2. Air limbah yang diolah dengan elektrokoagulasi
menghasilkan effluent yang jernih, tidak berwarna, dan tidak
berbau.
3. Lumpur yang dihasilkan elektrokaogulasi realtif stabil dan
mudah dipisahkan karena terutama berasal dari oksida logam.
Selain itu jumlah lumpur yang dihasilkan sedikit.
4. Flok yang terbentuk pada elektrokoagulasi memiliki
kesamaan dengan flok yang berasal dari koagulasi kimia.
Perbedaannya adalah flok dari elektrokoagulasi berukuran
lebih besar dengan kandungan air yang sedikit, lebih stabil
dan mudah dipisahkan secara cepat dengan filtrasi
5. Elektrokoagulasi menghasilkan effluen yang mengandung
TDS dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan
pengolahan kimiawi. Jika air hasil pengolahan ini digunakan
kembali, kandungan TDS yang rendah akan mengurangi biaya
recovery.
6. Proses elektrokoagulasi mempunyai keuntungan dalam
mengolah partikel koloid yang berukuran sangat kecil karena
dengan pemakaian arus listrik menyebabkan proses koagulasi
lebih mudah terjadi dan lebih cepat.
7. Proses elektrokoagulasi tidak memerlukan pemakaian bahan
kimia sehingga tidak bermasalah dengan netralisasi kelebihan
bahan kimia dan tidak membutuhkan kemungkinan
pengolahan berikutnya jika terjadi penambahan senyawa
kimia yang terlalu tinggi seperti pada penggunaan bahan
kimia.
8. Gelembung gas yang dihasilkan selama proses elektrolisis dan
membawa polutan yang diolah untuk naik ke permukaan
(flotasi) dimana flok tersebut dengan mudah terkonsentrasi,
dikumpulkan dan dipisahkan.

13
9. Perawatan reaktor elektrokoagulasi lebih mudah karena
proses elektrolisis yang terjadi cukup dikontrol dari
pemakaian listrik tanpa perlu memindahkan bagian di
dalamnya.
10. Teknologi elektrokoagulasi dapat dengan mudah diaplikasikan
di daerah yang tidak terjangkau layanan listrik yakni dengan
menggunakan panel matahari yang cukup untuk terjadinya
proses pengolahan.

b. Kelemahan Elektrokoagulasi
Sedangkan kerugian dari penggunaan elektrokoagulasi adalah :
1. Elektroda yang digunakan dalam proses pengolahan ini harus
diganti secara teratur.
2. Penggunaan listrik kadang kala lebih mahal pada beberapa
daerah.
3. Terbentuknya lapisan di elektroda dapat mengurangi efisiensi
pengolahan.
4. Teknologi ini membutuhkan konduktivitas yang tinggi pada
air limbah yang diolah.
5. Hidroksida seperti gelatin cenderung solubilize pada beberapa
kasus

II.3.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Elektrokoagulasi


II.3.4.A Pelarutan Logam di Elektroda
Pada percobaan elektrokoagulasi, elektroda yang
digunakan selalu dihubungkan dengan sumber listrik DC.
Jumlah logam yang larut tergantung pada jumlah arus listrik
yang mengalir pada elektroda tersebut.
Hukum Faraday membuat hubungan antara kuat arus (I)
yang mengalir dengan jumlah massa yang terlepas ke larutan,

14
hal ini merupakan pendekatan secara teoritis untuk menghitung
jumlah aluminium yang terlepas ke larutan. Adapun rumus dari
hukum Faraday adalah sebagai berikut :

𝑚𝑍 𝐼𝑡
= (3.1)
𝑀 𝐹
Dimana : m = berat aluminium yang larut (g).
Z = valensi Aluminium, yaitu 3.
I = kuat arus yang digunakan (A).
t = waktu deteksi (detik).
M = berat molekul Aluminium, yaitu 27g mol.
F = konstanta Faraday, 96.500 C/mol.
Jika menggunakan kerapatan arus (A/m2) maka satuan dari
m adalah g/m2. Dengan menggunakan persamaan tersebut kita
dapat membandingkan antara jumlah logam yang larut secara
teoritis dengan percobaan di lapangan. Seringkali diperoleh
hubungan yang cukup baik antara hasil percobaan dengan teori
Walaupun kadangkala terdapat perbedaan/error yang signifikan
yang dapat terjadi karena tidak memperhatikan bentuk dan
ukuran elektroda yang tepat serta pemasangan elektroda yang
kurang baik.

II.3.4.B Daya Hantar Listrik / Konduktifitas


Konduktivitas adalah sifat menghantarkan listrik dalam air.
Sifat ini dipengaruhidengan jumlah kandungan apa yang
disebut sebagai ion bebas (Amrih, 2005).Perbedaan
konduktivitas ini dipengaruhi oleh komposisi, jumlah ion
terlarut dansalinitas suhu. Tinggi rendahnya daya hantar listrik
pada air dapat menunjukkanbanyaknya jumlah logam yang
terlarut dalam air.

15
Daya hantar listrik atau DHL adalah gambaran numerik
dari kemampuan airuntuk meneruskan aliran listrik. Oleh
karena itu, semakin banyak garam-garan terlarutterionisasi,
semakin tinggi pula nilai DHL. Asam, basa dan garam
merupakanpenghantar listrik yang baik sedangkan bahan
organic merupakan penghantar listrikyang buruk.Parameter
yang menggambarkan karakteristik kimia dari air adalah
konduktivitas.

Konduktivitas larutan adalah ukuran kemampuan larutan


tersebut untukmenghantarkan arus listrik. Arus listrik dialirkan
oleh ion-ion dalam larutan, olehkarena itu konduktivitas
meningkat apabila konsentrasi ion meningkat.Rumus untuk
menghitung besarnya daya hantar (konduktivitas) suatu
material adalah:
γ= 1/ρ (3.2)
𝜌𝐿 𝐿
R= R= (3.3)
𝐴 γ𝐴
𝐿
γ= (3.4)
R𝐴

Dimana: ρ = Resistivitas (Ω)


γ= Daya hantar arus/konduktivitas (mho)

Air murni adalah air yang bebas kandungan ion bebas


sehingga tidak menghantarkan listrik. Sebaliknya pada air
limbah tekstil khususnya limbah batik kandungan garam dari
pewarna menjadikan konduktivitas limbah batik menjadi besar.
Karena sifat konduktifitas limbah batik ini lah yang menjadikan
metode elektrokoagulasi dapat ditetrapkan untuk pemisahan
pengotor limbah.

16
Nilai daya hantar listrik untuk berbagai jenis air (Sucianda, 2009).
a. Air destilasi ( aquades ) 0,5 -5,0 μmho/cm
b. Air hujan5,0-30 μmho/cm
c. Air tanah segar 30-200 μmho/cm
d. Air laut 1500- 5500 μmho/cm
e. Air garam >100.000 μmho/cm
Berdasarkan daya hantar listrik, larutan terbagi menjadi 2 (dua) golongan :
1. Larutan elektrolit :
a. Dapat menghantarkan daya listrik
b. Terjadi proses ionisasi
c. Lampu menyala dengan terang
2. Larutan non- elektrolit :
a. Tidak dapat menghantar arus listrik
b. Tidak terjadi ionisasi
c. Lampu menyala redup

II.3.4.C Tahanan Jenis (resistivity), Tahanan dan Hukum Ohm


Arus I dalam suatu penghantar yang tertentu tergantung dari
intensitas listrik E didalam penghantar. Di dalam logam murni,
arus itu berbanding langsung dengan intensitas listrik. Untuk
logam-logam lain, hubungan antara I dan E lebih sulit. Sifat
penghantar yang disebut tahanan jenisnya ρ, sebagai
perbandingan intensitas listrik dengan arus per satuan luas
penampang:
𝐸
𝜌=𝐼 (3.5)
⁄𝐴

𝜌𝐿 𝑉
𝑅= → 𝑅= (3.6)
𝐴 𝐼
𝑉 𝜌𝐿 𝜌𝐿
= → 𝐼= (3.7)
𝐼 𝐴 𝑉𝐴

17
𝑉
𝐸= (3.8)
𝐿
Misalkan Va dan Vb ialah tegangan-tegangan pada dua titik
pada suatu penghantar yang dipisahkan oleh jarak L. Intensitas
listrik E di dalam penghantar sama dengan gradien potensial
(Va - Vb)/L. Jadi kita dapat menuliskan persamaan (2.1) sebagai
𝑉𝑎 − 𝑉𝑏
𝜌= (3.9)
𝐼. 𝐿⁄
𝐴
𝑉𝑎 − 𝑉𝑏
𝐼= (3.10)
𝜌. 𝐿⁄
𝐴
Atau
𝜌.𝐿 𝑉 𝜌.𝐿
𝑅= ; = (3.11)
𝐴 𝐼 𝐴
𝑉.𝐴 𝑉
𝐼= → 𝐼 = 𝜌.𝐿 (3.12)
𝜌.𝐿 ⁄𝐴

Hubungan antara penghantaran listrik dan penghantaran


panas tidak hanya persamaan matematik saja. Electron-elektron
bebas yang merupakan pembawa-pembawa muatan dalam
penghantaran listrik juga memegang peran yang penting dalam
penghantaran panas. Adalah merupakan kenyataan bahwa
penghantar penghantar listrik yang baik misalnya logam-logam,
juga merupakan penghantar panas yang baik, sedangkan
penghantar-penghantar listrik yang jelek juga merupakan
penghantar-penghantar panas yang jelek.
Tahanan jenis  merupakan konstanta, tahanan R juga
merupakan konstanta, tidak bergantung pada I dan E. untuk
penghantar seperti ini, arus I adalah berbanding langsung
dengan perbedaan tegangan Vab.

18
Perbandingan langsung ini antara arus di dalam suatu
penghantar logam dengan perbedaan teagangan antara ujung-
ujungnya dikenal sebagai hokum Ohm.
V=I.R (3.13)
(Sears dan Zemansky. 1954)

II.3.4.D Derajat keasaman (pH)


Salah satu pengukuran yang sangat penting dalam berbagai cairan
proses (industri,farmasi, manufaktur, produksi makanan dan sebagainya)
adalah Ph. Larutan dengan pH rendah dinamakan ”asam” sedangkan
yang harga pH-nya tinggi dinamakan ”basa”. Skala pH rentang dari 0
(asam kuat) sampai 14 (basa kuat) dengan 7 adalah harga tengah
mewakili air netral. Keasaman adalah konsentrasi ion hydrogen (H+)
dalam pelarut air.
pH larutan dapat diukur dengan beberapa cara. Secara kualitatif
pH dapat diperkirakan dengan kertas Lakmus (Litmus) atau suatu
indikator (kertas indicator pH) atau pH meter.
pH air dapat mempengaruhi kelarutan dari suatu koagulan.
Koagulan memiliki kelarutan yang besar pada rentang pH 5-7. Semakin
mudah larut suatu koagulan, maka semakin mudah terbentuknya ion
aquometalik yang akhirnya semakin cepatnya partikel koloid
ternetralisasi membentuk flok. Semakin besar pH, maka kelarutan dari
koagualan semakin kecil, sehingga ion semakin sulit terbentuk, yang
akhirnya mengurangi jumlah partikel koloid yang dapat ternetralisasi
membentuk flok (Fathul, 2008).
Derajat keasaman atau pH merupakan parameter kimia yang
menunjukkan konsentrasi ion hidrogen pada perairan. Konsentrasi ion
hidrogen tersebut dapat mempengaruhi reaksi kimia yang terjadi di
lingkungan perairan. pH dalam air akan mempengaruhi rasa, korosifitas
air dan efisiensi klorinasi.

19
II.3.4.E Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat
berpengaruh terhadapkehidupan makhluk hidup. Suhu dapat memberikan
pengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung. Komposisi dan
warna tanah juga dapat mempengaruhi suhu, makin terangwarna tanah
makin banyak panas yang dipantulkan, makin gelap warna tanah makin
banyak panas yang diserap. Asap dan gas yang terdapat di udara sering
mereduksi radiasi. Partikel- partikel debu yang melayang di udara
merupakan inti dari uap air dalam proses kondensasinya uap air inilah
yang bersifat aktif dalam mengurangi pengaruh radiasi matahari. Suhu air
adalah parameter fisika yang dipengaruhi oleh kecerahan dan kedalaman.
Air yang dangkal dan daya tembus cahaya matahari yang tinggi dapat
meningkatkan suhu perairan. Peningkatan suhu akan meningkatkan
kecepatan gerak partikel dalam sistem sehingga semakin banyak
tumbukan antar partikel yang dapat terjadi yang akhirnya mempercepat
terbentuknya gumpalan suspensi.
Kenaikan suhu air yang mengandung zat organik akan menaikkan
kelarutan dari koagulan, sehingga ion aquometalik lebih cepat terbentuk,
dan partikel-partikel koloid lebih cepat ternetralisir membentuk flok
seiring dengan kenaikan suhu. Namun,saat suhu optimum telah tercapai,
peningkatan suhu tidak lagi memperbesar ukuran flok, karena kelarutan
flok meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Sehinggakenaikan suhu
akan menurunkan % efektifitas koagulasi karena flok-flok yang
sudahjenuh tadi akan melarut kembali (Fathul, 2008).

20