Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

ANALISA KASUS

Pasien Nn. UF, 19 tahun, Os datang dengan keluhan nyeri saat menelan
berulang + 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Dari riwayat penyakit sekarang
didapatkan os mengeluh nyeri saat menelan sejak 6 bulan yang lalu. Bila nyeri
timbul, os merasakan badannya mulai panas. Os juga merasakan rasa mengganjal di
tenggorokan. Lalu sejak 1 minggu yang lalu os mengeluh sulit menelan, baik menelan
makanan biasa atau makanan lunak. Tenggorokan terasa berlendir (+),sulit membuka
mulut (-). Demam (-). pilek (-).nyeri hingga ke telinga (+), tenggorokan kering (+).
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tonsil T3-T3, hiperemis (-), edema (-), detritus (+).
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut pasien didiagnosis dengan tonsillitis
kronis.

Berdasarkan teori, tonsilitis adalah peradangan pada tonsila palatina yang


disebabkan oleh kuman streptococcus beta hemolyticus, streptococcus viridons dan
streptococcus pygenes, namun dapat juga disebabkan bakteri jenis lain atau oleh
virus. Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang semakin parah jika penderita
menelan) nyeri seringkali dirasakan ditelinga (karena tenggorokan dan telinga
memiliki persyarafan yang sama). Gejala lain demam, tidak enak badan, sakit kepala,
muntah.

Pada pasien ini direncanakan tindakan tonsilektomi atas indikasi relative


dengan adanya infeksi berulang. Pengobatan tonsillitis kronis adalah dengan terapi
bedah. Bila terapi medikamentosa tidak berhasil dianjurkan terapi dengan
tonsilektomi. Indikasi tonsilektomi relative adalah :2-4 Terjadi 3 episode atau lebih
infeksi tonsil pertahun dengan terapi antibiotik adekuat, halitosis (nafas bau) akibat
tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis, tonsilitis kronis
atau berulang yang tidak membaik dengan pemberian antibiotic. Indikasi mutlak
(absolut) tonsilektomi adalah pembengkakan tonsil menyebabkan obstruksi saluran

38
napas, disfagia berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmonal, abses peritonsil
yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase, tonsilitis yang
menimbulkan kejang demam, tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan
tempat yang dicurigai limfoma (keganasan), hipertropi tonsil atau adenoid dengan
sindrom apnoe waktu tidur dan infeksi berulang.
Pada saat kunjungan pra anestesi (anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang), didapatkan status fisik pada pasien ini adalah ASA 1, yaitu
pasien dalam keadaan normal dan sehat, dimana dari hasil anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang berupa laboratorium dan rho-thorax PA tidak
ditemukan kelainan.
Tindakan premedikasi yaitu pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi
bertujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari anestesia diantaranya
untuk meredakan kecemasan dan ketakutan, memperlancar induksi anestesia,
mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus, meminimalkan jumlah obat
anestetik, mengurangi mual-muntah pasca bedah, menciptakan amnesia, mengurangi
isi cairan lambung, mengurangi refleks yang membahayakan. Sebagai obat
premedikasi pada pasien ini yaitu: ondansentron 4 mg, ranitidine 50 mg, asam
traneksamat 1000 mg, sulfas atropine 0,40 mg dan fentanyl 80 mg.
Pengelolaan anestesia pada kasus ini adalah dengan menggunakan general
anestesi menggunakan teknik anestesia secara induksi intravena dan rumatan inhalasi.
Induksi pada pasien ini dengan injeksi recofol (propofol) 100 mg dan insersi ETT
ukuran 6 difasilitasi dengan rocuronium 20 mg. Dosis pemeliharaan dengan
menggunakan anestesi inhalasi: sevoflurans + N2O : O2
Induksi anestesi merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar
menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi. Obat-obatan yang
sering digunakan untuk induksi antar lain tiopental, propofol dan ketamin. Pada
pasien ini diberikan propofol (recofol) 100 mg iv. Propofol merupakan obat induksi
anestesi cepat, yang didistribusikan dan dieliminasikan dengan cepat. Propofol
diberikan dengan dosis bolus untuk induksi 2-2,5mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi

39
intravena total 4-12 mg/Kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/Kg.
Efek samping propofol pada sistem pernafasan adanya depresi pernapasan,
apneu, bronkospasme, dan laringospasme. Pada susunan saraf pusat adanya sakit
kepala, pusing, euforia, kebingungan, gerakan klonik-mioklonik, epistotonus, mual,
muntah. Pada daerah penyuntikan dapat terjadi nyeri.
Pada pasien ini diberikan obat pelumpuh otot rocuronium 20 mg iv, yang
merupakan non depolaritation intermediete acting. Rocuronium dipilih sebagai agen
penginduksi karena mempunyai beberapa keunggulan antara lain metabolisme terjadi
di dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut
eliminasi Hofman. Reaksi ini tidak tergantung pada fungsi hati atau ginjal. Selain itu
tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang dan tidak menyebabkan
perubahan fungsi kardiovaskular. Dosis intubasi dan relaksasi otot adalah 0,5-0,6
mg/kgBB (iv), dan dosis pemeliharaan yaitu 0,1-0,2 mg/kgBB (iv).
Pada pasien ini diberikan maintenance O2 + N2O + sevo. Oksigen diberikan
untuk mencukupi oksigen jaringan. Pemberian anestesi dengan N2O harus disertai
O2 minimal 25%, gas ini bersifat sebagai anestetik lemah tetapi analgetiknya kuat.
Sevoflurane merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih anestesi lebih cepat
dibandingkan isoflurane. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang
menyebabkan aritmia. Setelah pemberian dihentikan, sevoflurane cepat dikeluarkan
oleh tubuh.
Kebutuhan total cairan pada pasien ini, yaitu 960 cc selama operasi, terdiri
dari jumlah cairan pengganti puasa 480 cc, maintenance 80cc, stress operasi 240 cc.
pada jam I dibutuhkan 560 cc, jam II (30 menit) 400 cc. cairan yang telah masuk RL
sebesar 1000 cc. Kebutuhan cairan pada pasien ini telah tercukupi, namun tetap harus
dipantau dalam pengawasan ketat.
Setelah operasi selesai pasien dibawa ke Recovery Room (RR). Di ruang
inilah pemulihan dari anestesi umum atau anestesi regional dilakukan. RR terletak
berdekatan dengan ruang operasi sehingga apabila terjadi suatu kondisi yang
memerlukan pembedahan ulang tidak akan mengalami kesulitan. Pada saat di RR,

40
dilakukan monitoring seperti di ruang operasi, yaitu meliputi tekanan darah, saturasi
oksigen, EKG, denyut nadi hingga kondisi stabil. Bila pasien gelisah harus diteliti
apakah karena kesakitan atau karena hipoksia (TD turun, nadi cepat , misalnya karena
hipovolemik). Bila kesakitan harus diberikan analgetik seperti petidin 15-25 mg IV.
tetapi kalau gelisah karena hipoksia harus diobati sebabnya, misalnya dengan
menambah cairan elektrolit (RL), koloid, darah. Oksigen selalu diberikan sebelum
pasien sadar penuh. Pasien hendaknya jangan dikirim ke ruangan sebelum sadar,
tenang, reflek jalan nafas sudah aktif, tekanan darah, nadi dalam batas normal.
Pasien ini diberi obat tambahan yaitu ketorolac, tramadol dan asam
tranexamat bertujuan sebagai analgetik dan dan membantu pembekuan darah. Pasien
dapat keluar dari RR apabila sudah mencapai skor Aldrete lebih dari 8. Sedangkan
pada pasien ini, didapatkan skornya 10 sehingga dapat keluar dari ruang RR. Pasien
pindah dan dibawa ke bangsal THT jam 11.25 WIB.

41