Anda di halaman 1dari 13

3.

Pandangan Gereja Katolik terhadap Gereja Protestan


Pandangan Gereja Katolik terhadap Gereja Protestan terdapat pada dokumen
Konsili Vatikan II,
Nostra Aetate (1965) art 1
Semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab
Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi (Kis
17:26). Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir yakni Allah, yang
penyelenggaraanNya, bukti-bukti kebaikanNya dan rencana
penyelamatanNya meliputi semua orang (Keb 8:1; Kis 14:17; Rom 2:6-17;
1Tim 2:4).
Unitatis Redingratio (1964), art 19 dan seterusnya menyerukan:
"..... Konsili suci ini sungguh menginginkan, supaya usaha-usaha putera-
puteri Gereja katolik makin mengalami kemajuan terpadu dengan usaha-
usaha saudara-saudai yang terpisah, dan supaya jangan sampai ada
hambatan terhadap jalan Penyelenggaraan ilahi, jangan pula ada
prasangka-prasangka terhadap dorongan-dorongan Roh Kudus di masa
mendatang. Kecuali itu Konsili menyatakan keyakinannya, banyak maksud
yang suci untuk mendamaikan segenap umat kristen menjadi satu dalam
Gereja Kristus yang satu dan tunggal melampaui daya-kekuatan serta bakat-
kemampuan manusiawi. Oleh karena itu konsili menaruh harapan
sepenuhnya pada doa Kristus bagi Gereja, pada cinta kasih Bapa terhadap
kita, dan pada kekuatan Roh Kudus. “Harapan tidak mengecewakan: sebab
cinta kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita berkat Roh Kudus, yang
dianugerahkan kepada kita” (Rom 5:5) ....."
Juga dalam Ensiklik Ut Unum Sint
PELBAGAI MACAM PANGGILAN HIDUP

1. Panggilan Hidup Berkeluarga


Berbagai pandangan tentang Perkawinan
a. Tradisional : Ikatan antara laki-laki dan perempuan bersama keluarga besarnya.
b. Sosial : Persekutuan hidup yang memiliki bentuk, tujuan dan hubungan khusus,
dimana laki-laki dan perempuan menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi ayah atau
ibu.
c. Hukum : Perjanjian antara laki-laki dan perempuan yang memiliki ketetapan
hukum yang mengikat.
d. Antropologis : Persekutuan hidup antara laki-laki dan perempuan berdasarkan
cinta,pengungkapan diri manusia sebagai manusia.
e. Arti Perkawinan Katolik : Menurut KHK 1983 kan.1055 § 1 adalah perjanjian (foedus)
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan
hidup.
Yakni kesepakatan untuk saling melengkapi, saling mendukung dan membahagiakan dalam
seluruh hidup, dalam untung dan malang dan suka dan duka.
f. Jadi Perkawinan adalah: Persekutuan hidup antara laki-laki dan perempuan yang
memiliki ketetapan hukum, dimana anak adalah mahkota perkawinan.

2. Makna keluarga pada umumnya


a. Bentuk Persekutuan/ suatu institusi. *) Berdasarkan darah : ayah, ibu, anak, kakek
– nenek, tante, dst. *) Kesatuan social: keluarga Sanmar 1, keluarga kelas IPS/ IPA.
*)Ekonomi : Ikatan Pengusaha Indonesia, Perkumpulan para Tukang Becak Bandung.
*) Rohani: Keluarga Gereja Pasundan, Perkumpulan Wanita Katolik.
b. Sel kehidupan masyarakat yang juga mempengaruhi masyarakat. Masyarakat
dipengeruhi oleh keadaan keluarga-keluarga dalam masyarakat. Situasi di kompleks
perumahan para pebisnis, mereka jarang bergaul. Lebih sering sunyi dan tertata rapi.
Sedangkan situasi di perkampungan tampak ramai, para ibu mudah ditemui di lorong-
lorong.
c. Tempat utama dan pertama pendidikan anak-anak : kebiasaan dalam keluarga
biasanya lebih kuat dibawa anak hingga besar. Anak-anak akan mengkopi sifat orang
tuanya yang biasanya berdoa, sopan, dan sabar. Anak-anak akan menjadi kasar dan
memberontak bila sering dicueki, atau dimarahi oleh orang tuanya.

3. Perkawinan dalam Tradisi Katolik


a. Landasan biblis (perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)
- Spiritualitas Keluarga Abraham : Nilai dan konflik
Konflik Ciri Solusi Kitab Suci
Kemapanan Taat, beriman Menurut dan
Allah menyuruh Abraham berangkat.
pergi dari mencari tanah baru
Keturunan Sarai mulai putus Sarai memberikan Kej 16. 1 – 4
Sampai tua Abraham dan Sara asa dan tidak pembantunya
percaya kepada Abraham
belum memiliki keturunan
Pertengkaran Sakit hati dan Sarai menindas Kej 16. 4 – 15
Hagar mengandung dan marah Hagar sehingga dia
merasa tinggi hati. melarikan diri.
Warisan Cemas dan egosi Hagar dan Ismail Kej. 21. 8 – 14
Sara tidak mau Ismail disuruh pergi
mendapat bagian warisan
Persembahan Taat, beriman Allah sendiri Kej 22. 1 – 19
Allah meminta Abraham menyediakan
untuk menjadikan Isaak sbg korban pengganti,
korban bakaran. seekor domba.
- Spiritualitas Keluarga Nazareth : Kebiasaan, nilai dan konflik.
Konflik Ciri Solusi Kitab suci
Maria Mengandung sebelum Maria taat Maria akan diceraikan Matius 1. 18 –
menikah secara diam-diam 19
Yusuf mau menceraikan Maria Marah Malaikat Matius 1: 20
memberitahukan Yusuf – 25
untuk tidak melakukan
niatnya itu.
Dipaksa melakukan perjalanan Taat, setia dan Mendapatkan tempat Lukas 2: 1 - 6
jauh saat Maria hamil tua, saling mendukung penginapan di kandang.
kesulitan mendapatkan
penginapan
Herodes memburu Yesus Takut Malaikat menyuruh Matius 2 : 13
Yusuf membawa anak – 15
dan istrinya ke Mesir
Yesus tertinggal di Bait Allah Cemas Kembali ke Yerusalem Lukas 2: 41-
ketika berumur 12 tahun untuk mencari Yesus 51
sehari perjalanan.
Kebingungan Maria tentang Hening dan pasrah Maria menyimpan Lukas 2: 19,
kedirian Yesus semua perkara dalam 51
hati
Yesus disiksa dan disalibkan Hening dan pasrah Maria menyimpan Matius 27
semua perkara dlm hati

b. Hakikat Spiritual (sebagai peristiwa iman, cinta sebagai pengalaman rohani)


- Cinta sebagai dasar dan suci : kesediaan untuk terbuka, saling menerima dan
berkurban.
Tingkatan Cinta
a. Agape : cinta yang tulus bahkan disertai pengurbanan diri. Misal : Ayah terhadap anak-
anaknya, Istri terhadap suami. Teman yang rela berkoban agar temannya selamat.
Tuhan Yesus yang rela wafat untuk manusia.
b. Phileo : menyayangi secara murni, hubungan saling melengkapi (dua sahabat yang
baik)
c. Stergo : tertarik spontan, mau melindungi, rasa bertanggung jawat terhadap
kesejahteraan. (Pemerintah terhadap rakyat, guru terhadap siswa, dll)
d. Eros : ketertarikan secara fisik– seksual. Bersifat emosional belaka dan sesaat.
- Menanggapi panggilan Tuhan : Menjadi ayah / ibu adalah panggilan untuk menjadi
rekan kerja Allah dalam mewartakan kasih, dan menciptakan manusia baru.
- Makna sakramen Pernikahan : Perkawinan adalah suci karena Allah sendiri yang telah
merestui perkawinan. Maka tidak ada perceraian, sebab Allah tidak mungkin
memasangkan dua orang secara acak dan coba-coba.
- Keluarga sebagai gereja mini : Gereja = tempat tinggal Allah. Allah hadir dalam tiap
keluarga, dan tiap keluarga melaksanakan misi gereja yakni mewartakan kasih Allah.

c. Hakikat sosial pernikahan (Sosial – hubungan yang khusus antara dua atau lebih
pribadi)
- Persekutuan hidup dan cinta : perkawinan adalah persatuan antara dua pribadi yang
berbeda. Dimana cinta bisa mengalahkan semua perbedaan, menjadi dasar dan tujuan
dari persekutuan tersebut. Dan sangat terbuka terhadap kehadiran anak-anak / anggota
sosial yang lain.
- Monogami dan tak terceraikan : Perkawinan itu hanya untuk satu laki-laki dan
perempuan, memiliki ketetapan hukum sehingga tidak dapat seenaknya saja bercerai
untuk kawin lagi.

d. Tujuan perkawinan
a) Kesejahteran hidup bersama suami – istri (Bonum vitae). Tujuan utama perkawinan
adalah agar suami - istri untuk saling membahagiakan.
b) Membentuk persekutuan hidup bersama (Bonum Cognium/ Comune). Suami istri harus
menerima pasangan secara total, seluruh diri dan apa adanya. Cinta yang tanpa syarat.
c) Kebaikan hidup anak-anak (Bonum Proles). Perkawinan itu harus terbuka pada
kelahiran anak (procreatio) dan bertanggung jawab untuk kebahagiaan dan
kemandirian anak-anak.

e. Ciri Perkawinan Katolik


1. Monogami : Perkawinan itu hanya untuk satu laki-laki dan satu perempuan.
2. Tak terceraikan : Setia dengan satu pasangan sampai akhir hayat sebab apa yang
telah disatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia. (Matius, 5:32; 19.6)
3. Sakramental : Perkawinan itu direstui oleh Allah sendiri dan Allah hadir di dalam
keluarga tersebut.

f. Proses Pernikahan Katolik


a) Syarat pernikahan : Sah bila
1. Ada kesepakatan / perjanjian nikah.
2. Kesepakatan diterima oleh pejabat gereja (uskup, imam atau diakon).
3. Ada saksi minimal dua orang.

Syarat tambahan :
4. Pasangan bebas dan memahami –lewat KPP) tentang perkawinan.
5. Penyelidikan Kanonik : untuk memastikan kelayakan secara moral dan hukum suatu
perkawinan.

Halangan Perkawinan
b) Halangan pernikahan dari hukum ilahi : halangan yang bersifat kodrati, tidak
terbantahkan.
1. Impotensi yang bersifat tetap (Kak 1084)
2. Masih terikat perkawinan sebelumnya (Kan. 1085)
3. Ada hubungan darah dalam garis lurus (kebawah atau ke atas) – (Kan 1091 $ 1)
Garis lurus : ayah/ Ibu – Anak – Cucu – Cicit, dst.

c) Halangan nikah menurut Kitab Hukum Kanonik :


1. Belum cukup Umur (Pr. 14 th & Lk. 16 th).
2. Beda Agama
3. Masih terikat Tahbisan Suci
4. Masih terikat kaul biarawan/ wati
5. Penculikan
6. Kriminal
7. Hubungan darah ke samping : Adik-kakak sepupuh.
8. Hubungan semenda (anak tiri dan ipar)
9. Kelayakan public.
10. Pertalian adopsi.

4. Tantangan dan Peluang untuk Membangun Hidup Berkeluarga


a. Situasi Harmonis
 Ada komunikasi yang baik
 Ada sikap saling percaya, terbuka dan hormat
b. Situasi tidak harmonis
 Ada permusuhan, tidak saling hormat, komunikasi negative, dll. (
 Perkawinan campur :
1. Beda agama : Katolik & Muslim, Katolik & Hindu, Katolik & Budha, dll.
Untuk sah membutukan dispensasi dari Uskup.
2. Beda gereja : Katolik & Protestan

5. Program Keluarga berencana Alamiah (KBA)


Keluarga Berencana adalah perencanaan kelahiran anak lewat pantang berkala.
Maksudnya bahwa jadwal hubungan suami-istri dilakukan sambil memperhitungan
jadwal masa subur sang istri. Bila suami – istri belum ingin memiliki anak (lagi) maka
mereka tidak boleh melakukan hubungan seks pada masa subur. Masa subur berdurasi
2 – 4 hari, terjadi pada hari ke 12 - 16 sejak menstruasi hari pertama. Tiap perempuan
memiliki masa subur yang berbeda-beda.
Program KBA memiliki makna spritual, yakni agar suami istri tidak fokus pada
hubungan seks sebagai pengungkapan cinta, namun kreatif menemukan cara
lain. Sehingga cinta mereka sungguh tulus, bukan karena dorongan seksual
semata. Selain itu KBA sangat membuka peluang bagi campur tangan Allah
sang pencipta.
Gereja tidak menganjurkan pemakaian KB buatan terutama bila ada pihak yang
dipaksakan untuk memakai sehingga menjadi pihak yang dikurbankan dan menderita,
misalnya pemasangan spiral membuat sang istri tidak nyaman.
6. Tantangan keluarga modern
a. Tuntutan Ekonomi makin tinggi : hampir semua hal harus dibeli. Uang menjadi
barang wajib untuk dimiliki. Harga-harga melaju lebih cepat naik dibanding pendapatan.
Keluarga dituntun professional dalam mengolah keuangan.
b. Hidup bersama masyarakat materialis dan hedonis : Materialis : gaya hidup yang
lebih mementingkan materi, mengumpul harta atau barang lebih banyak meski tidak
(terlalu) penting untuk dimiliki. Hedonisme : Gaya hidup yang mementingkan
kenikmatan / kesenangan. Tidak mau lagi hidup berkurban. Hidup hanyalah
kesenangan. Segalanya haruslah mudah didapatkan, dan tidak jadi soal untuk mudah
dibuang.

7. Panggilan Hidup Membiara.


Hakikat atau inti hidup membiara adalah menjadi contoh hidup Kristus. Para biarawan/
wati adalah contoh yang tampak dari kepribadian Yesus Kristus. Mereka adalah contoh
hidup para kudus.Hidup membiara atau jadi kaum klerus adalah hidup yang istimewa,
mereka dipanggil untuk menjadi "Yang Paling" dekat dengan Kristus. Sebagian besar
waktu mereka adalah waktu untuk Tuhan dan bersama Tuhan. Mereka memberi
gambaran kepada dunia, rupa dan cara hidup para kudus di surga. Demikianlah
spiritualitas dasar hidup para pembiara dan klerus (imam). Itu sebabnya mereka harus
hidup dalam komunitas tertentu agar irama dan suasana dan nyala spiritualitas ini tetap
terjaga. Pusat hidup mereka adalah doa dan terutama ekaristi, (dalam komunitasnya).
Ada yang menuntut agar para biarawan dan klerus harus lebih terlibat dalam
kehidupan sosial umat, itu benar! Namun umat harus tahu bahwa pusat hidup mereka
adalah doa, ekaristi dalam komunitasnya. Semakin jauh dia dari pusat itu, dapat
meredupkan cahaya surga pada dirinya.
Para biarawan/ wati mengucapkan tiga janji setia yang disebut KAUL :
a. Kaul Kemurnian : Tidak menikah. Mereka bersatu sampai akhir hayat dengan gereja.
Mempelainya adalah gereja dimana Roh Kudus tinggal di dalamnya. (Mat. 22.30)
b. Kaul Kesederhanaan / kemiskinan : tidak mengandalkan harta dan barang duniawi.
Tidak memiliki harta pribadi. Rendah hati untuk meminta kepada atasan bila
membutuhkan sesuatu. Bisa menahan diri untuk tidak menikmati apa yang dinikmati
dunia. (Mat. 10.10)
c. Kaul Ketaatan : Hanya taat kepada Allah lewat pimpinan biara. Mengabaikan egoisme
pribadi, meski merasa diri benar. (Meniru Ketaatan Abraham, Maria, & Yesus Kristus)
Proses untuk mencapai pengucapan sumpah setia ini relatif lama,
sekitar 6 - 8 tahun, bahkan bisa lebih dari itu. Selama proses itu para biarawan
terus memurnikan panggilannya untuk menjadi kelompok "yang paling dekat"
dengan Kristus. Tidak ada persaingan di dalamnya, kecuali semangat
persaudaraan yang saling mendukung. Bahwa ada Biarawan atau calon Klerus
yang kemudian keluar dari kehidupan biaranya, itu adalah pilihan bebas sebagai
hasil dari semua proses pemurnian panggilan tersebut.
Yesus pernah berkata, banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih. Matius
22:14. Sabda ini tidak boleh dipandang, bahnya Tuhan hanya akan memilih
orang-orang tertentu yang sudah sejak awal ditakdirkan demikian. "Yang dipilih"
adalah mereka yang mau dan siap dipilih. Jadi Sabda itu mau mengatakan
BANYAK YANG DIPANGGIL, tapi SAYANGNYA banyak yang TIDAK MAU dan
TIDAK SIAP DIPILIH.
Yang tidak mau, bisa karena banyak sekali faktor :
1. Menemukan pilihan hidup yang lain : ingin menjadi politisi, penguasaha, dll.
2. Jatuh cinta dengan seorang perempuan .
3. Semangatnya tidak banyak didukung keluarga atau orang sekitar.
4. Kehilangan semangat, gairah untuk tetap setia.
5. Konflik dalam komunitas.

8. Panggilan Karya / Profesi


Bekerja adalah salah satu cara mempertanggungjawabkan hidup. Dengan bekerja
manusia diserahi tanggung jawab untuk membangun hidupnya sendiri, lingkungan
sekitarnya dan tata dunia.
Maka ada beberapa makna dan tujuan bekerja:
a. Ekonomis : kerja untuk menghasilkan uang, membangun hidup yang lebih baik dan
sejahtera.
b. Sosial : Dengan bekerja seseorang dapat berinteraksi dengan orang lain, entah
sebagai rekan, patner bisnis atau melayani / menolong orang lain. Dengan bekerja
seseorang juga mendapat peran dan kedudukan tertentu dalam masyarakat.
c. Antropologis : ada orang bekerja sebagai aktualisasi diri, membuat dirinya bahagia
dan bangga pada dirinya sendiri.
d. Religius : bekerja adalah bentuk pelayanan/ pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk
pelayanan terhadap sesama dan alam. Ini yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II
dalam ensiklik Laborem Excercem (1981), bahwa kerja itu bukan hanya untuk
mendapatkan harta dan kekayaan, melainkan sebagai bentuk pelayanan untuk
kebaikan sesama.

Dasar Biblis :
a. Kejadian 2:15, TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam
taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
b. 2 Tes 3 : 1 – 15, Bekerja dan berdoa
c. 2 Tes 3.10, Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
d. Kisah Rasul 20:35, Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu,
bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan
harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah
lebih berbahagia memberi dari pada menerima.
e. Ams 10:4, Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan
kaya
f. Flp 2:14, Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-
bantahan.
Bagian Kedua
MEMPERJUANGKAN NILAI-NILAI PENTING DALAM MASYARAKAT
Nilai-nilai Penting dalam Masyarakat yang Diperjuangkan (bukan hanya empat ini,
namun ini menjadi dasar nilai-nilai yang lainnya)
A. Keadilan: Adil berarti seimbang, tidak berat sebelah kecuali pada kebenaran. Keadilan
berarti memberikan tiap orang apa yang menjadi haknya. “Berikan kepada Kaisar apa
yang menjadi hak kaisar dan kepada Tuhan apa yang menjadi hak Tuma.” Hak itu
berasal dari kesepakatan. Namun keadilan dalam ajaran Kristen harus keadilan plus
cinta kasih (Matius 20: 1 – 16 : kisah seorang tuan yang memberi upah satu dinar untuk
semua pekerja meski beda-beda durasi waktu kerjanya)
B. Kedamaian: Shalom : kesejahteran pribadi dan masyarakat. Damai dalam perjanjian
baru adalah suasana hati yang tenang tanpa permusuhan, mudah memberi maaf dan
saling memaafkan (Matius 18:22). Damai terjadi karena memiliki hubungan yang bersih
dan tulus kepada Allah, diri sendiri, sesama dan alam.
C. Kebenaran: adalah keadaan yang sesungguhnya. Kel. 20:8, “Jangan bersaksi dusta
tentang sesamamu”. Ketika ditanya Pilatus tentang kebenaran (Yoh 18:38), Yesus tidak
menjawab tapi Pilatus langsung berkesimpulan Yesus tidak bersalah. Ini kebenaran
adalah pengakuan tentang suatu fakta pada dirinya sendiri, sebelum diolah oleh pikiran
dan formulasi kalimat yang diucapkan- (yg terakhir ini mengacu pada kejujuran)
D. Kejujuran: Mengakui sesuatu hal sesuatu dengan kenyataannya, atau berkata dan
bertindak sesuai hati nurani yang sejati.
Landasan untuk Memperjuangkan Nilai-nilai Penting dalam Masyarakat.
Masyarakat Indonesia hidup dalam lindungan hukum. Undang-undang Dasar 1945
adalah landasan utamanya, dimana Pancasila menjadi nilai utama yang menjadi
karakter bangsa.
Keadilan dijamin oleh UUD 45 pasal 33 dan 34 serta Pancasila sila ke 5. Gereja Katolik juga
mengeluarkan ensiklik Rerum Novarum tentang kesejahteraan para buruh, dan
Populorum Progegresio tentang keadilan dalam masyarakat untuk mengajatsi
kesenjangan si kaya dan si miskin.
Kedamaian : Naskah Proklamasi dengan tegas mengatakan tentang pentingnya kedamaian yang
ada dalam kemerdekaan tiap bangsa dan menjadi hak tiap bangsa. Sepertu juga
tercantum dalam pembukaan UUD 45. Yesus juga meninggalkan damai untuk umat
manusia (Yoh. 14:27). Damai yang dimaksud adalah damai seperti Kerajaan Allah –
datanglah kerajaan-Mu, di atas bumi seperti di dalam Surga- Damai dan kebahagiaan
sejati.
Kebenaran : Kel. 20:8, “Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu.” Iman Kristiani mengakui
Yesus sebagai jalan – Kebenaran – hidup. (Yohanes 14: 6). Hidup yang lurus adalah
hidup yang diwajibkan Yesus untuk umat manusia. Itupulah sebabnya nilai kebenaran
ini sangat luas tersebar dalam kitab Suci.
Kejujuran : Kitab Hukum Pidana pasal 242 sangat terang melarang orang untuk bersaksi dusta dan
bersumpa palsu. Persis seperti yang dikatakan Kitab Keluaran 23. Tuhan Yesus juga
berkata : katakana ya kalau ya, katakana tidak kalau tidak. Selain dari pada itu berasal
dari si jahat (Matius 5:37) ( hal. 94 – 99)

Yesus Kristus Pejuang Keadilan, Kejujuran, Kebenaran, dan Kedamaian.


Sikap hidup Yesus sangat bercirikan banyak nilai-nilai utama yang patut ditiru.
Ketika dihadapkan dengan seorang perempuan pezina (Yoh 8:2-12), Yesus tidak ragu
untuk membelanya karena melihat ada ketidakadilan disana, faktanya patner zinanya
tidak ikut diadili. Fakta bahwa penghukumnya melihat diri paling benar dan si
perempuan paling berdosa. Fakta bahwa perempuan itu adalah anak Allah yang juga
perlu dikasihi dengan tulus bukan untuk manfaatkan.
Dan kebenaran adalah Yesus sendiri. Dia mengajarkan kasih, itulah hukum utama dari
semua hukum. Kasih itu membebaskan siapapun untuk menjadi manusia seutuhnya.
(hal. 116 – 120)

Indonesia masih butuh waktu yang panjang dan tokoh-tokoh yang banyak untuk
memperjuangkan semua nilai di atas. Tokoh-tokoh itu haruslah kuat, berani
mati. Marsinah, pejuang kaum buruh telah tewas dibunuh karena aksinya, 1993
di Sidoardjo - Jawa Timur. Munir Said Thalib, pejuang HAM yang juga dibunuh
(2004) karena perjuangannya mengguggat para penculik aktifis mahasiswa
1996/1997.

Bagian Ketiga
MENGHORMATI PLURALITAS BANGSA INDONESIA

Keberagaman sebagai Realitas Asali Kehidupan Manusia.


Allah adalah maha cinta. Cinta tidak pernah bisa ditahan sendiri. Maka butuh subjek
lain untuk dapat berbagi. Itulah alasan alam semesta dan manusia diciptakan, yakni
karena CINTA. Cinta Allah sangat kreatif (creative – cipta) sehingga terungkap dalam
banyak rupa dan bentuk, maka lahirlah berupa-rupa subjek di alam semesta.
Demikianpula manusia terlahir dalam banyak karakter pribadi dan budaya. Maka
memang sejak awal penciptaan manusia itu plural. Tidak mungkin satu dan sama.
Mengupayakan Perdamaian dan Persatuan Bangsa.
Berupa-rupa karakter alam semesta berasal dari satu etintas ilahi, yang oleh masing-
masing orang punya pengalaman masing-masing tentang etintas ilahi tersebut. Etintas
Ilahi disebut sebagai sumber segala yang ada, dan tujuan segala yang ada. Dia adalah
kekuatan yang melampui kekuatan lain. Dia adalah sesuatu yang lebih dari padanya
tidak dapat dipikirkan lagi.
Nah, Dia yang melampui hal-hal duniawi ini berusaha di tangkap dan disadari oleh nalar
/ sence manusia yang terbatas, lalu berusaha diungkapkan dalam bahasa yang dapat
dipahami dan dirasakannya.
Menyadari hal ini, maka tidak ada alasan bagi timbulnya permusuhan tentang
keyakinan akan Etintas Ilahi tersebut, apalagi merasa diri paling benar dalam
penafsiran, asalkan dasar dan pengungkapannya adalah cinta sejati, dan berbuah baik.
Maka Gaudium Et Spes 23 – 32, menuntut Gereja untuk saling menghormati martabat
rohani tiap orang. Kita semua dipangil untuk menjadi satu keluarga, maka mestilah ada
cinta di dalamnya.

Memahami Kekhasan Agama-agama di Indonesia.


Agama : ajaran atau system yang berisi aturan ritual /
hubungan manusia terhadap Allah, dan hubungan sosial,
manusia terhadap sesama dan alam.
1. Agama Islam
a. Sumber ajaran Kitab suci : Al-Quran dan hadist : kumpulan sabda, ajaran dan
kebiasan-kebiasaan Nabi Muhammad SAW.
b. Shadat : “Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah : Tiada Tuhan selain Allah, dan
Mummad adalah utusan-Nya.
c. Menjalankan 5 Rukun Islam :
1. Mengucapkan 2 kalimat syahadat.
2. Mendirikan shalat wajib lima waktu.
3. Berpuasa pada bulan Ramadhan.
4. Membayar Zakat.
5. Menunaikan ibadat haji bagi mereka yang mampu.

2. Agama Hindu
a. Hindu -> Sanskerta ‘Sindhu’
b. Dalam satu satu filsafat Hindu, Adwaita Wedanta dikatakan: Tuhan itu Maha Esa tiada
duanya. Namun Hindu percaya juga pada dewa-dewi, yang kedudukannya tidak
setinggi Tuhan atau Brahman. Brahman disebut sebagai satu-satunya kekuatan
dan menjadi sumber dari segala yang ada , yang memanifestasikan diri-Nya kepada
manusia dalam beragam bentuk.
c. 5 Kepercayaan Hindu (Pancasradha)
1. Widhi Tattwa – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya;
2. Atma Tattwa – percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk;
3. Karmaphala Tattwa – percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap
perbuatan;
4. Punarbhawa Tattwa – percaya dengan adanya proses kelahirankembali (reinkarnasi);
5. Moksa Tattwa – percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir
manusia.
d. Kitab Suci : Weda, Upanishad, Tantra, Agama, Purana dan dua Itihasa (epos), yaitu
Ramayana dan Mahabharata.

3. Agama Budha
a. Pendiri : Siddharta Gautama.
b. Inti ajaran : Catur Arya Satya -> Empat Kasunyatan atau Kebernaran Mulia.
1. Dukha-Satya : hidup adalah penderitaan;
2. Samudaya-Satya : penderitaan disebabkan manusia memiliki keinginan dan nafsu;
3. Nirodha-Satya : penderitaan dapat dilenyapkan (moksha) dan mencapai nirvana
(kebahagiaan) dengan membuang segala keinginan dan nafsu;
4. Marga-Satya : jalan dapat masuk ke dalam Nirvana adalah Delapan Jalan Utama (asta-
arya-marga)
c. Kitab : Tripitaka
d. Tempat Ibadah : Vihara

4. Kristen Protestan
Pencetus : Protestantisme muncul akibat reaksi Martin Luther yang tidak ditanggapi
dengan baik oleh Vatikan tahun 1517. Ada 95 dalil dalam suratnya yang menentang /
protes terhadap aturan Vatikan yang tidak bijaksana, misalnya menjual sakramen untuk
pembangunan gereja. Dan juga refleksi imannya sehingga tidak sesuai dengan ajaran
iman resmi gereja Vatikan, dan Ortodoks. Dia lalu diekskomunikasi. Ajarannya
dianggap sesat (heresi)
Tiga dasar teologis ajaran Martin Luther.
1. Sola Gratia : (gratia – grace – rahmat) Hanya Rahmat Allah semata yang dapat
menyelamatkan manusia.
2. Sola Scriptura : (Scripura – scrip – naskah) Hanya Kitab Suci sebagai sumber
ajaran iman yang menyelamatkan.
3. Sola Fide : (Fide – faith – iman) Hanya Imanlah yang membuat seseorang bisa
masuk surga.
Ciri Kristen Protestan :
1. Gereja diadakan oleh rahmat Tuhan, pilihan, sabda, Sakramen, dan anugerah iman.
2. Kitab Suci adalah satu-satunya sumber ajaran dan susunan Gereja (sola scriptura)
3. Pembenaran orang dari semula dampai selesai semata-mata rahmat ilahi (sola gratia).
4. Sabda ilahi adalah satu-satunya sarana rahmat yang dapat berbentuk Alkitab, khotbah,
sakramen, dan pembicaraan rohani.
5. Imamat umum semua orang beriman saja yang diakui sehingga pendeta dan orang
awam hanya berbeda menurut fungsi saja tanpa perbedaan rohani secara eksistensial.
Selain Martin Luther sebenarnya sudah ada John Hus di Ceko / Bohemia (1369) –
alirannya berkembang menjadi gereja Calvinis sekarang ini.

Perbedaan Pokok Katolik dan Protestan

Katolik Kristen

Tekanan pada sakramen dan pada segi Tekanan pada sabda/pewartaan dari pada s
sakramen (tanda kelihatan) dari karya Allah karya keselamatan Allah
Kultis, yang mementingkkan kurban (Ekaristi) Profetis, yang berpusat pada sabda (pewarta

Hubungan dengan Gereja menentukan Hubungan dengan Kristus menentukan hubun


hubungan dengan Kristus Gereja
Gereja secara hakiki bersifathierarkis Segala pelayanan gerejawi adalahciptaan m
Kitab suci dibaca dan dipahami di bawah Setiap orang membaca dan mengartikan Ki
pimpinan hierarki
Jumlah Kitab Suci 74, Jumlah Kitab Suci 66, tidak termasuk Deute
termasukDeuterokanonika, yaitu 1-2 Makabe,
Kebijaksanaan, Tobit, Yudith dan Barukh
Ada 7 sakramen Ada 2 sakramen: sakramen Baptis dan
Ekaristi/Perjamuan
Ada devosi kepada para kudus Tidak menerima devosi kepada para kudus

6. Agama Konghucu
a. Agama Khonghucu adalah agama yang ada denganmengambil nama Sang nabi
KhongCu (Kongzi/Kong Fuzi) yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM di
negeri Lu (kini jazirah Shandong).
b. Tempat Ibadah : Kelenteng
c. Inti Ajaran : 4 Intisari ajaran Khong hu : ( Hal. 55 – 57)
I. Delapan Pengakuan Iman (Ba Cheng Chen Gui)
1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian);
2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie Die)
3. Sepenuh Iman menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
4. Sepenuh Iman percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)
6. Iman mengikuti Genta Rohani Nabi Kongzi (Cheng Shun Mu Duo)
7. Sepenuh Iman memuliakan Kitab Si Shu dan Wu Jing (Cheng Qin Jing Shu)
8. Sepenuh Iman menempuh Jalan Suci (Cheng Xing Da Dao)
II. Lima sifat Kekekalan (Wu Chang)
III. Lima Hubungan Sosial (Wu Lan):
IV.
5. Li – Susila
6. Yi – Bijaksana
7. Lian – Suci Hati
8. Chi – Tahu Malu

Delapan Kebajikan (Ba De):


5. Xiao – Laku Bakti
6. Ti – Rendah Hati
7. Zhong – Satya
8. Xin – Dapat Dipercaya

Aliran Kepercayaan / Agama-agama Asli Indonesia.


Ada yang sudah terstruktur rapi dan memiliki kitab tertulis. Ada pula yang diwariskan
secara turun-temurun melalui tradisi lisan yang bahkan menjadi budaya masyarakat
setempat. Inti ajaran pada umumnya berciri alami, yakni kesatuan yang akrab dengan
alam semesta. Melihat kekuasaan tertinggi terwujud dalam bentuk kuasa-kuasa alam
yang kelihatan dan dialami.

Dialog Antar Umat Beragama dan Berkepercayaan Lain.


Dialog antara umat menuntut keterbukaan, kerendahan hati dan pengetahuan yang
baik.
Tujuan dialog 1) agar tiap pemeluk agama mengerti dengan agamanya sendiri dan
agama orang lain. 2) bukan untuk saling mencari pemeluk agama baru, tidak untuk
meyakinkan orang lain bahwa agamanya paling benar dan yang lalin salah. 3) Dialog
membuka kesalingpahaman, saling hormat dan membuka kerja sama untuk kebaikan
bersama.

Cara-cara berdialog :
a. Dialog kehidupan sehari-hari : interaksi antara pemeluk agama dalam aneka
kegiatan bermasyarakat.Saling memberi salam ketika ada perayaan keagamaan, saling
tegur sapa.
b. Dialog formal : dalam rapat-rapat untuk mencari kesamaan visi, atau dalam rangka
mengajak persatuan bangsa.
c. Dialog teologis : berkumpul bersama untuk saling tukar informasi tentang ajaran iman
masing-masing agama agar saling mengerti dan melihat kebenaran dalam tiap-taiap
agama.
d. Dialog doa / iman: berkumpul bersama untuk berdoa dalam suatu ujud, misalnya
untuk proses pemilu yang lancar, atau di lingkungan untuk keselamatan pengantin baru.

Bagian Keempat
PERSAUDARAAN SEJATI
9. Membangun Persaudaraan Sejati melalui Kerja Sama antar Umat Beragama dan
Kepercayaan.
10. Membangun Bangsa dan Negara yang Dikehendaki Tuhan.
11. Tantangan dan Peluang Umat Membangun Bangsa dan Negara seperti yang
Dikehendaki Tuhan.
12. Dasar Keterpanggilan Gereja dalam Membangun Bangsa dan Negara.