Anda di halaman 1dari 2

Ruang Lingkup Filsafat

Seperti halnya pengetahuan, maka filsafat pun dapat ditentukan ruang lingkupnya
yang dipilahkan dalam dua objek yaitu, objek material (lapangan) dan objek
forrnalnva (sudut pandangnya). Objek material filsafat ialah segala sesuatu yang
diperrnasalaltkan oleh filsafat.[1]Isi filsafat ditentukan oleh objek yang
dipikirkan. Objek adalah sesuatu yang menjadi bahan dari kajian dari suatu
penalaahan atau penelitian tentang pengetahuan. Dan setiap ilmu pengetahuan pasti
mempunyai objek, baik objek yang bersifat materiil maupun objek formal.

Objek Materil
Adapun mengenai objek formal filsafat, adalah bersifat non-fragmentaris, karena
filsafat mencari pengertian realita secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi
pemikiran ini, maka okjek formal filsafat adalah seluruh pengalaman manusia antara
lain: etika, estetika, teknik, ekonorni, sosial, budava, religius dan lain-lain.
Dalam hal ini pemikiran filsafat menuntut bahwa seorang ahli filsafat adalah
seorang pribadi yang berkembang secara harmonis dan memiliki pengalaman secara
authentik yang diperoleh dari dunia realita. Objek materiil ini adalah suatu
penyelidikan, pemikiran atau penelitian keilmuan. Objek material filsafat ilmu
adalah ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang telah disusun secara
sistematis dengan metode ilmiah tertentu, sehingga dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya secara umum. Menurut Poedjawijatna, objek materiil filsafat meliputi
segala sesuatu dari keseluruhan ilmu yang menyelidiki sesuatu. Objek materiil
mencakup segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materiil konkret, fisik.
Sedangkan objek nonmateriil meliputi hal-hal yang abstrak, dan psikis, termasuk
juga abstrak logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai dan lain-lain. Jadi,
dengan melihat dari beberapa pendapat mengenai objek filsafat ini dapat dipahami
bahwa objek filsafat meliputi berbagai hal, dengan kata lain, objek filsafat
materiil ini tak terbatas, Objek filsafat ini tak terbatas, Burhanudin Salam, bahwa
lapangan kerja filsafat itu bukan main luasnya yaitu meliputi segala pengetahuan
manusia serta segala sesuatu apa saja yang ingin diketahui manusia. [2]Baik hal-hal
yang fisik atau tampak maupun yang psikis atau yang tidak tampak. Hal-hal yang
fisik adalah segala sesuatu yang ada baik yang ada dalam pikiran, ada dalam
kenyataan maupun ada dalam kemungkinan. Sedangkan hal-hal yang psikis atau nonfisik
adalah masalah Tuhan, kepercayaan, norma-norma, nilai, keyakinan,dan lainnya. Suatu
objek materiil, baik yang materiil dan lebih-lebih yang nonmateriil sebenarnya
merupakan suatu substansi yang tidak begitu mudah untuk diketahui. Karena
didalamnya terkandung segi-segi kuantitatif berganda, berjenis-jenis dan kualitatif
bertingkat-tingkat dari yang konkret ke tingkat abstrak. Sebagai contoh objek
materiilnya adalah 'manusia', dari segi kuantitatif meliputi banyak jenis menurut
ras, suku, ciri khas, dan individualitasnya yang selanjutnya menjadi kompleks dalam
setiap perilaku hidupnya. Contoh tersebut menunjukkan bahwa objek materiil memiliki
segi yang jumlahnya tak terhitung. Sedangkan kemampuan akal fikir manusia bersifat
terbatas. Oleh karena itu, dalam rangka memperoleh pengetahuan yang benar, dan
pasti mengenai suatu objek maka perlu dilakukan pembatasan-pembatasan jenis objek,
dan selanjutnya titik pandang artinya dari segi mana objek materiil itu diselidiki.

Objek Formal
Objek yang satu ini (objek formal) lebih kepada sifat penelitian yaitu penyelidikan
yang mendalam. Mendalam dalam hal ini berarti ingin mengetahui mengenai objek yang
tak empiris. Menurut Lasiyo dan Yuwono, objek formal adalah sudut pandang yang
menyeluruh, umum, sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materiilnya[1]. Objek
fromal ini ingin membahas tentang objek materiil dari suatu objek sampai ke
hakikatnya atau keindahan (esensi) yang dibahas. Objek formal merupakan sudut
pandang atau cara memandang terhadap objek materiil, termasuk prinsip-prinsip yang
digunakan, dalam artian objek formal filsafat bersifat mengasaskan atau berprinsip
maka filsafat itu mengonstatir prinsip-prinsip kebenaran dan ketidak-benaran. Jadi
objek formal filsafat itu bersifat mengasaskan atau berprinsip dan oleh karena
mengasas, maka filsatat itu mengongstruksi serta menemukan prinsip-prinsip
kebenaran.