Anda di halaman 1dari 14

Perseroan terbatas (PT) (bahasa Belanda: Naamloze Vennootschap) adalah suatu badan hukum

untuk menjalankan usaha yang memiliki modal terdiri dari saham-saham, yang pemiliknya
memiliki bagian sebanyak saham yang dimilikinya. Karena modalnya terdiri dari saham-saham
yang dapat diperjualbelikan, perubahan kepemilikan perusahaan dapat dilakukan tanpa perlu
membubarkan perusahaan.

Firma (dari bahasa Belanda venootschap onder firma; secara harfiah: perserikatan dagang antara
beberapa perusahaan) atau sering juga disebut Fa, adalah sebuah bentuk persekutuan untuk
menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan memakai nama bersama. Pemilik firma
terdiri dari beberapa orang yang bersekutu dan masing-masing anggota persekutuan menyerahkan
kekayaan pribadi sesuai yang tercantum dalam akta pendirian perusahaan.

Persekutuan Komanditer (commanditaire vennootschap atau CV) adalah suatu persekutuan


yang didirikan oleh seorang atau beberapa orang yang mempercayakan uang atau barang kepada
seorang atau beberapa orang yang menjalankan perusahaan dan bertindak sebagai pemimpin.

Dari pengertian di atas, sekutu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

 Sekutu aktif atau sekutu Komplementer, adalah sekutu yang menjalankan perusahaan dan
berhak melakukan perjanjian dengan pihak ketiga. Artinya, semua kebijakan perusahaan
dijalankan oleh sekutu aktif. Sekutu aktif sering juga disebut sebagai persero kuasa atau
persero pengurus.
 Sekutu Pasif atau sekutu Komanditer, adalah sekutu yang hanya menyertakan modal dalam
persekutuan. Jika perusahaan menderita rugi, mereka hanya bertanggung jawab sebatas
modal yang disertakan dan begitu juga apabila untung, uang mereka memperoleh terbatas
tergantung modal yang mereka berikan. Status Sekutu Komanditer dapat disamakan
dengan seorang yang menitipkan modal pada suatu perusahaan, yang hanya menantikan
hasil keuntungan dari inbreng yang dimasukan itu, dan tidak ikut campur dalam
kepengurusan, pengusahaan, maupun kegiatan usaha perusahaan. Sekutu ini sering juga
disebut sebagai persero diam.

A. MAATSCHAP (PERSEKUTUAN PERDATA)

1. Pengertian
Maatschap (persekutuan perdata), sebagai badan usaha diatur dalam pasal 1618-1652
KUHPdt. Dalam pasal 1618 dijelaskan bahwa:
Persekutuan perdata adalah suatu perjanjian dengan nama dua orang atau lebih mengikatkan diri
untuk memasukkan sesuatu kedalam persekutuan dengan maksud untuk membagi keuntungan atau
kemanfaatan yang diperoleh karenanya
Unsur-unsurnya adalah :

a) bertindak secara terang-terangan


b) harus bersifat kebendaan
c) untuk memperoleh keuntungan
d) keuntungan dibagi-bagikan antara anggota
e) kerjasama ini tidak nyata tampak keluar atau tidak diberitahukan kepada umum
f) harus ditujukan pada sesuatu yang mempunyai sifat yang dibenarkan dan diizinkan
g) diadakan untuk kepentingan bersama anggotanya

Ciri-ciri persekutuan perdata:


a) Adanya perjanjian antara dua orang atau lebih
b) Para pihak memasukkan ke dalam persekutuan (inbreng)
c) Tujuan memasukkan sesuatu ke dalam persekutuan untuk membagi keuntungan atau
kemanfaatan dari hasil usaha yang dilakukan secara bersama-sama
Dalam pasal 1619 ayat (1) KUHPdt yang berisikan “usaha persekutuan usaha yang halal dan
dibuat untuk manfaat bersama para pihak”,pasal yang menjelaskan bahwa bidang usaha yang
dapat dilakukan oleh persekutuan sesuatu yang bermanfaat bagi para sekutu.
Dalam mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sarana seperti yang dijelaskan dalam pasal 1619
ayat (2) KUHPdt, “masing-masing sekutu diwajibkan memasukkan uang, barang, dan
keahliannya ke dalam persekutuan”.
2. Jenis Perseroan
Pasal 1620-1623 BW
 Persekutuan Penuh inbrengnya berupa uang
 Persekutuan Khusus inbrengnya tidak harus uang, dapat berupa barang atau kerajian

3. Pendirian Persekutuan Perdata


Dalam pasal 1624 KUHPdt dijelaskan bahwa persekutuan mulai berlaku sejak saat perjanjian,
jika dalam perjanjian tidak ditentukan lain. Pendirian persekutuan perdata bisa dilakukan secara
lisan atau dibuat secara tertulis. Hal ini dapat diketahui dari ketentuan, persekutuan ada sejak
adanya perjanjian.

4. Asas Kepentingan Bersama Dalam Maatschap


Asas kepentingan bersama dalam maatschap, tercantum dalam pasal 1628-1631 BW
 Kewajiban untuk mengganti rugi untuk kesalahan yang dilakukan sekutu diatur dalam Pasal
1630
 Perihal aturan untuk sekutu yang memasukan inbreng dalam bentuk barang diatur dalam Pasal
1631

5. Pengelola Persekutuan Perdata


Setelah dikemukakan lahirnya persekutuan berdasarkan perjanjian, maka hal ini berlaku bagi
para sekutu yang telah meyatakan perjanjian ikut dalam persekutuan dan berkewajiban untuk
memenuhi kewajibannya dalam persekutuan.
Seperti dijelaskan dalam pasal 1625 KUHPdt:
Masing-masing sekutu berutang kepada persekutuan segala apa yang ia telah menyanggupi
memasukkan di dalamnya, dan jika pemasukan ini terdiri atas suatu barang tertentu, maka ia
diwajibkan menanggung, dengan cara yang sama seperti jualbeli.
Adanya pengelola tentu akan memudahkan untuk menata secara profesional apa yang hendak
dicapai persekutuan. Secara intern, pengelola atas nama persekutuan dapat menagih kepada
anggota sekutu yang belum melunasi kewajibannya agar segera menyelesaikannya, secara ekstern
dengan adanya pengelola, pihak luar akan lebih mudah mengadakan persekutuan.
Pasal 1636-1638 BW
 Daden van Beheren pengurusan dapat dilakukan oleh semua sekutu selain yang dikecualikan.
 Daden van Beshiken (sekutu yang memutuskan) à sekutu yang memutuskan sesuatu haruslah
didasarkan pada penunjukkan atas dasar kesepakatan seluruh sekutu.
Dalam pasal 1639 KUHPdt, tidak ada janji-janji khusus mengenai cara mengurus persekutuan,
setiap sekutu dianggap secara bertimbal-balik memberi kuasa.
Dalam pasal 1642 KUHPdt dijelaskan:
Para sekutu tidaklah terikat masing-masing untuk seluruh utang persekutuan dan masing-masing
sekutu tidaklah dapat mengikat sekutu lainnya, jika mereka ini tidak telah memberikan kuasa
kepadanya untuk itu

6. Pembagian Keuntungan dalam Maatschap


Tentang tata cara pembagian keuntungan dalam maatschap diatur dalam pasal 1633 – 1644 BW:
 Keuntungan Maatschap harus dibagi secara seimbang dan proporsional.
 Keuntungan tidak boleh diperjanjikan untuk dibagi hanya kepada satu pihak atau pihak
ketiga saja.
 Pasal 1635 menjelaskan bahwa janji untuk membagi keuntungan hanya pada satu pihak
maka perjanjian tersebut batal demi hukum, sedangkan perjanjian untuk membagi
kerugian hanya pada satu pihak diperbolehkan.

7. Keanggotaan Maatschap
 Pada umumnya harus memperoleh izin dari sekutu yang telah ada (sekutu lama)
 Dikenal dengan istilah nama onder maatschap, yaitu masuknya sekutu baru tanpa izin
diperbolehkan, namun nama sekutu baru tersebut ikut (nunut) nama seseorang sekutu yang
sudah ada

8. Sifat Maatschap
1. Ekstern, Pada asasnya bila seorang sekutu maatschap mengadakan hubungan hukum
dengan pihak ketiga, maka sekutu yang bersangkutan sajalah yang bertanggung jawab
atas perbuatan-perbuatan hukum yang dilakukan dengan pihak ketiga itu, walaupun
dia mengatakan bahwa dia berbuat untuk kepentingan persekutuan
2. Intern, Perjanjian maatschap tidak mempunyai pengaruh ke luar (terhadap pihak
ketiga), dan pesertalah yang semata-mata mengatur bagaimana caranya kerjasama itu
berlangsung, demikian juga pembagian keuntungan yang diperoleh bersama
diserahkan sepenuhnya kepada mereka sendiri untuk mengaturnya dalam perjanjian
maatschapnya.

9. Berakhirnya Maatschap
Mengenai berakhirnya suatu maatschap diatur dalam pasal 1646 – 1652 KUHPdt:
 Dengan lewatnya waktu dimana perseroan telah diadakan
 Dengan musnahnya barang atau diselesaikannya perbuatan yang menjadi pokok
perseroan
 Atas kehendak semata-mata dari beberapa orang atau seorang persero
 Jika salah seorang persero meninggal atau ditaruh di bawah pengampuan atau pailit

B. FIRMA

1. Pengertian
Perseroan firma adalah suatu persekutuan yang menyelenggarakan perusahaan atasa
nama bersama, di amna tiap-tiap persero dapat mengikat firma dengan pihak ke tiga dan mereka
masing-masing bertanggung jawab atas keseluruhan utang firma secara tanggung menanggung
(pasal 16-18 KUH Dagang). Menurut Prof. Sukardono perseroan firma adalah suatu perikatan
perdata yang khusus. Kekhususan itu menurut pasal 16 KUHD terletak pada keharusan adanya
tiga unsur mutlak, yaitu:
a. Menjalankan perusahaan dengan nama bersama atau firma
b. Persekutuan perdata (menggunakan 4 syarat tentang maatschap)
c. Pertanggung jawaban tiap-tiap sekutu untuk seluruhnya mengenai perikatan dengan
firma.
d. Tanggung jawab sekutu bersifat pribadi untuk keseluruhan
e. Semua sekutu berhak untuk melaksanakan kepengurusan kecuali diperjanjikan lain

Perseroan firma merupakan personen Vennootschap atau perjanjian perseroan orang, di


mana peranan modal dan peranan persero menjadi satu. Hal ini akan bertambah jelas, bahwa
pada perseroan firma:
a. Penggantian sekutu harus disetujui oleh semua sekutu (pasal 1641 KUH perdata)
b. Tidak dibenarkan seorang sekutu melakukan perbuatan konkurensi terhadap persekutuan
(pasal 1627 jo pasal 1630 KUH Perdata)
c. Adanya tanggung jawab tanggung menanggung (pasal 18 KUHD)
d. Pada asasnya semua sekutu turut serta di dalam kepengurusan (pasal 1630 KUH Perdata dan
pasal 17 KUH dagang).

2. Pendirian Firma
Persekutuan firma didirikan di hadapan notaries dengan akta otentik. Pasal 22 KUH
Dagang mengatakan tiap-tiap persekutuan firma harus didirikan dengan akta otentik, akan tetapi
ketiadaan akta otentik tidak dapat dikemukakan untuk merugikan pihak ke tiga. Dengan kata lain
akta otentik dalam pedirian firma bukan merupaka suatu syarat yang mutlak, hanya merupakan
alat bukti jika di kemudian hari terjadi suatu sengketa.
Namun dalam hal ini jika telah terjadi hubungan antara pihak ke tiga dengan firma
sebelum firma tersebut memiliki akta otentik lalu pihak ke tiga mempermasalahkan mengenai
akta otentik pendirian firma tersebut. Mollengraf menyatakan bahwa suatu perseroan firma
hanya dapat dibuktikan dengan akta saja. Dengan kata lain dalam pendirian firma harus
disegerakan dalam pembuatan akta otentik sebagai suatu langkah preventif dalam menghadapi
sengketa yang mungkin terjadi di kemudian hari.

3. Pendaftaran dan Pengumuman Firma


Sebagai suatu persekutuan yang bersifat terang-terangan, maka firma harus didaftarkan
dan diumumkan. Dalam pasal 23 KUH dagang ditentukan bahwa para sekutu firma harus
mendaftarkan akta tersebut dalam register yang disediakan di kepaniteraan Pengadilan Negeri
yang ada dalam daerah hukum dimana firma itu berada.
Akta otentik pendirian firma harus memuat:
a) Nama lengkap, pekerjaan dan tempat tinggal para sekutu
b) Penetapan nama bersama atau firma
c) Firma bersifat umum atau terbatas pada menjalankan perusahaan bidang tertentu
d) Nama-nama sekutu yang tidak diberi kuasa untuk menanda tangani perjanjian bagi firma
e) Ditentukannya saat mulai dan berakhirnya
f) Ketentuan-ketentuan lain yang mengenai hak pihak ketiga terhadap para sekutu

4. Hubungan antara Intern Sekutu


Berdasarkan pasal 15 KUHD diatur mengenai keterkaitan antar sekutu di dalam firma.
Hal ini juga meliputi kewajiban para sekutu untuk memasukan sesuatu ke dalam persekutuan.
Dalam pasal 1625 KUH Perdata, para sekutuyang memasukan sesuatu ke dalam firma berupa
barang maka sekutu tersebut harus menjamin barang tersebut seperti layaknya jual beli. Dalam
hal ini sekutu disamakan dengan penjual dan persekutuan firma disamakan dengan pembeli.
Menurut Prof. Pitlo, tindakan dalan firma yang disamakan dengan jual beli terlalu kasar
karena tujuan dam firma dan jual beli itu sendiri berbeda. Menurut Prof. Sukardono penyamaan
penanggungan oleh sekutu terhadap masukan barang yang dilakukan olehnya ke dalam suatu
firma dengan jual beli harus dipakai sebagai pedoman saja.
Jika masukan tersebut berupa uang maka jika sekutu tidak memasukan uang tersebut
tepat pada waktunya maka ia berhutang pada persekutuan firma. Hal ini sesuai dengan pasal
1250 KUH Perdata. Sesuai denagn pasal tersebut maka hal itu dianggap utang dan dikenakan
bunga sesuai dengan undang-undang. Hal yang sama berlaku terhadap sekutu yang memakai
uang persekutuan untuk kepentingan pribadi dan bunga tersebut dihitung sejak uang tersebut
pertama kali diambil.
Pemasukan berupa tenaga kerja digunakan untuk mencapai tujuan persekutuan dan segala
hasil-hasil yang diperoleh adalah untuk persekutuan. Hal ini diatur dalam pasal 1627 KUH
Perdata. Adanya asas kerja sama mengharuskan untuk mengutamakan kepentingan persekutuan
daripada kepentingan pribadi.
Selain kewajiban-kewajiban, para sekutu juga memiliki hak, diantaranya adalah hak
untuk menerima pembayaran atas uang yang telah dikeluarkan oleh sekutu dalam pembiayaan-
pembiayaan yang harus dibayarkan terlebih dahulu bedasarkan itikad baik dan untuk
persekutuan, juga termasuk kerugian yang dialami oleh sekutu. Hal ini diatur dalam pasal 1632
KUH Perdata.
Pengurusan Persekutuan Firma diatur dalam pasal 1636-1640 KUH Perdata.
Kepengurusan harus dimuat dlam akta pendirian firma, jika tidak dibuat suatu pengaturan
mengenai kepengurusannya maka:
a. Para sekutu dianggap secara timbale balik telah member kuasa agar yag satu melakukan
pengurusan bagi yang lain.
b. Tiap-tiap sekutu diperbolehkan memakai barang-barang kekayaan persekutuan yang sesuai
dengan tujuan dan kepentingan persekutuan.
c. Tiap-tiap sekutu wajib turut memikul biaya yang diperlukan untuk pemeliharaan barang-
barang persekutuan.
d. Para sekutu tidak boleh membuat hal-hal yang baru terhadap benda-benda tidak bergerak
dari persekutuan.

5. Hak-hak tiap Sekutu


Tiap sekutu berhak mewakili dan mengikat persekutuan baik di dalam maupun di luar
pengadilan dan berhak melakukan segala tindakan hukum atas nama perseroan dan membuat
perjanjian-perjanjian yang mengikat perseroan pada pihak ke tiga dan sebaliknya, baik dalam
lapangan kepengurusan maupun dalam lapangan hak milik.

6. Tanggung Jawab Sekutu atas Semua Utang Persekutuan


Dalam persekutuan firma tiap-tiap sekutu bertanggunga jawab secara tanggung
menanggung untuk keseluruhan utang firma atas segala perikatan persekutuan.
Pertanggungjawaban secara tanggung menanggung ini harus dalam ruang lingkup bahwa
tindakan sekutu tersebut adalah intra vires dengan kata lain tindakan dari sekutu tersebut harus
sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam anggaran dasar.
7. Kedudukan Hukum
Kedudukan Firma menjadi suatu perdebatan di kalangan para ahli. Mollengraf
menitikberatkan pada pertanggungjawaban firma, namun Scholten berpendapat bahwa ada
tidaknya pertanggungjawaban yang terbatas itu bukan merupakan suatu syarat yang mutlak
untuk menentukan ada tidaknya kedudukan badan hukum.
Para ahli hukum umumnya berpendapat, bahwa perundang-undangan tidak memberikan
kedudukan badan hukum bagi perseroan firma, namun menurut arrest H.R. 26 November 1897,
W. 7074. Arrest ini memperkuat pendapat Scholten bahwa pertanggungjawaban yang terbatas
bukan merupakan syarat mutlak untuk menentukan ada tidaknya kedudukan badan hukum.
Karena persekutuan firma memiliki kekayaan yang dipisahkan tersendiri dan mempunyai tujuan
sendiri.

C. PERSEKUTUAN KOMANDITER (CV)

1. Pengertian
Persekutuan Komanditer adalah suatu kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak
pertama disebut anggota aktif atau sekutu aktif, ada juga yang menyebut sekutu kerja atau sekutu
komplementer, dimana pihak pertama ini bertanggungjawab penuh dengan kekayaan pribadinya
terhadap perusahaan atau utang-utang perusahaan. Pihak kedua disebut sekutu komanditer dimana
ia turut menanamkan modalnya tetapi tidak ikut memimpin perusahaan dan betanggung jawab
terhadap perusahaan terbatas pada modal yang tertanam saja.
Menurut Pasal 19 KUHD, persekutuan komanditer/CV adalah perseroan menjalankan suatu
perusahaan yang dibentuk antara satu orang atau beberapa orang persero yang secara langsung
bertanggung jawab untuk seluruhnya pada satu pihak dan satu orang atau lebih sebagai pelepas
uang pada pihak lain.

2. Prinsip-prinsip CV
a. Kepentingan bersama lebih tinggi daripada kepentingan pribadi (Pasal 1628-1629
KUHPerdata)
b. Prinsip tanggung menanggung (all for one, one for all) selain pesero yang dikecualiakan
c. Pasal 21 KUHD
d. Pelanggaran terhadap aturan pesero komanditer akan merubah statusnya menjadi persero
komplementer.

3. Macam-macam Perseroan Komanditer


Persekutuan Komanditer terdapat 3 macam, yaitu :
a. Persekutuan komanditer Diam-diam
Persekutuan komanditer Diam-diam yaitu persekutuan komanditer yang belum
menyatakan dirinya dengan terang-terangan kepada pihak ketiga sebagai persekutuan
komanditer. Kepada pihak ketiga persekutuan itu masih menyatakan dirinya sebagai
persekutuan firma, tetapi ke dalam persekutuan itu sudah menjadi persekutuan komanditer,
karena salah seorang atau beberapa orang sekutu sudah menjadi persekutuan komanditer.
b. Persekutuan Komanditer Terang-terangan
Persekutuan Komanditer Terang-terangan yaitu persekutuan komanditer yang dengan
terang-terangan menyatakan dirinya sebagai persekutuan komanditer pada pihak ketiga.
Hal ini dinyatakan misalnya pada papan nama di depan kantornya. Juga kepada surat-surat
yang keluar selalu menggunakan nama persekutuan komanditer. Jadi, istilah terang-
terangan itu tertuju pada pernyataan diri sebagai persekutuan komanditer kepada pihak
ketiga.
c. Persekutuan Komanditer dengan Saham
Persekutuan Komanditer dengan Sahamadalah persekutuan komanditer terang-terangan,
yang modalnya terdiri dari saham-saham. Persekutuan ini sama sekali tidak diatur dalam
KUHD. Pembentukkan dan cara mendapatkan modal semacam ini dimungkinkan oleh
pasal 1338 ayat 1, pasal 1337 KUHPerdata dan berdasarkan pasal 1 KUHD. Persekutuan
ini sama seperti persekutuan biasa, maka ketentuan-ketentuan dalam KUHD berlaku juga
pada persekutuan ini. Pada waktu pembentukkannnya kedudukan sekutu komanditer dapat
ditentukan, bisa diperalihkan atau diwariskan sedangkan modalnya dapat dibagi dalam
beberapa saham, tiap sekutu dapat memilikinya satu atau beberapa buah.
4. Keanggotaan
1. Sekutu Pimpinan
Anggota yang aktif dan duduk sebagai pengurus dalam perseroan komanditer. Biasanya
modal yang disetorkan lebih besar dari anggota lain dan pertanggungjawabannya tidak
terbatas terhadap hutang-hutang perusahaan.
2. Sekutu Terbatas
Anggota yang bertangggungjawab terbatas terhadap hutuang perusahaan sebesar modal
yang disetorkan dan mereka tidak perbolehkan untuk aktif dalam perusahaan.
3. Sekutu Diam
Tidak ikut aktif dalam kegiatan perusahaan, tetapi diketahui oleh umum bahwa mereka
termasuk anggota CV dan tidak mempunyai kekuasaan dalam manajemen.
4. Sekutu Rahasia
Aktif dalam perusahaan tetapi tidak diketahui umum bahwa mereka sebenarnya termasuk
anggota CV.
5. Sekutu Dormant
Seseorang yang tidak berperan aktif dalam perusahaan dan tidak diketahui umum sebagai
anggota.
6. Sekutu Nominal
Bukan pemilik perusahaan, tetapi memberikan saran kepada orang lain seperti partner,
tidak berminat di dalam perusahaan dan laba yang diperoleh 0perusahaan itu.
7. Sekutu Senior dan Junior
Keanggotaan didasarkan pada lamanya investasi atau lamanya bekerja kepada perusahaan.
Sekutu senior memiliki waktu yang lebih lama dalam bekerja dan lebih banyak modal yang
diinvestasikan dibandingkan dengan sekutu junior

5. Kebaikan dan Keburukan Perseroan Komanditer


a.Kebaikan
1. Pendiriannya mudah
2. Lebih banyak modal yang dikumpulkan
3. Kemampuan untuk mendapatkan kredit yang lebih banyak
4. Manajemen didiversifikasikan
5. Kesempatan ekspansi lebih banyak
b.Keburukan
1. Tanggung jawab yang tidak terbatas
2. Masa hidup tidak tentu
3. Kekuasaan dan pengawasan kompleks
4. Sukar untuk menarik kembali investasi
5. Persamaan dan Perbedaan antara Perseroan Komanditer dan Perseroan Terbatas
6.
6. Persamaan antara Perseroan Komanditer dan Perseroan Terbatas
1. Modalnya sama-sama terdiri dari saham
2. Pengawasannya dilakukan oleh seorang komisaris yang ditetapkan salah seorang dari sekutu
komanditer.

7. Perbedaan CV dengan Perseroan Terbatas


1) Perseroan komplementer sebagai anggota-anggota pengurus bertanggung jawab untuk
sepenuhnya terhadap utang-utang persekutuan jadi selama berjalannya perseroan sampai
berkahirnya penyelesaian setelah pemecahannya.
2) Apabila anggota pengurus perseroan komanditer meninggal dunia, perseroan menjadi bubar,
sedangkan bagi suatu PT tidak demikian.
3) Para pengurus PT tidak boleh diangkat selama berjalannya perseroan.

8. Pendirian, Pendaftaran, dan Pengumuman CV


Tidak ada aturan mengenai pendirian, pendaftaran dan pengumuman CV. Jadi, persekutuan
komanditer sama seperti firma dapat didrikan atas perjanjian secara lisan sesuai pasal 22 KUHD.
Namun dalam praktik ada suatu kebiasaan untuk mendirikan persekutuan komanditer berdasarkan
akta notaries, didaftrakan kepada kepaniteraan pengadilan negeri yang berwenang dan diumumkan
di berita negara RI.
9. Perikatan antar Sekutu
A. Hubungan antar sekutu
a. Pemasukkan modal diatur dalam pasal 1625 KUHPer. Benda pemasukan dapat
berupa benda fisik, uang dan tenaga manusia (fisik dan/atau pikiran).
b. Pembagian untung rugi. Hal ini diatur dalam pasal 1633 dan 1634 KUHPer.
Biasanya mengenai dua hal ini diatur dalam perjanjian pendirian persekutuan.
Kalau dalam perjanjian pendirian persekutuan tidak diatur, barulah aturan tersebut
berlaku.
B. Kepengurusan
Menurut pasal 20 ayat 2 KUHD, sekutu komanditer dilarang melakukan kepengurusan
(beheren), meskipun dengan kekuatan surat kuasa. Tetapi dia boleh mengawasi
kepengurusan itu, bila ditetapkan dalam perjanjian pendirian.
Dalam perjanjian pendirian juga dapat ditentukan bahwa beberapa tindakan pengurusan
tertentu sekutu kerja harus memnita izin terlebih dulu kepada sekutu komanditer atau
pengawas persekutuan bila melakukannya.
C. Mengenai kekayaan terpisah
Pasal 33 KUHD menunjukkan adanya kekayaan terpisah pada persekutuan firma.
Kekayaan terpisah dapat diperjanjikan sebelumnya dalam pepnrjanjian pendirian. Jadi,
pemisahan secara mutlak dengan harta kekayaan sendiri tidak perlu, asal dia dapat
membedakan mana harta kekayaan sendiri mana harta kekayaan persekutuan. Dengan harta
kekayaan persekutuan, sekutu kerja berhak bertindak atas namanya sendiri terhadap pihak
ketiga, walaupun kesemuanya itu sesungguhnya berdasarkan atas pembiayaan bersama.
D. Perikatan Antar Sekutu dengan Pihak Ketiga
a. Penagihan Pihak Ketiga Terhadap Persekutuan Komanditer
Pada persekutuan komanditer mempunyai dua macam sekutu, yaitu sekutu kerja dan sekutu
komanditer. Sekutu kerja bertanggung jawab secara pribadi untuk keseluruhan. Sedangkan
sekutu komanditer, bertanggung jawab terbatas kepada pemasukan saja.
b. Hubungan Persero Komanditer dengan Daftar Perusahaan.
Perseroan komanditer harus mendaftarkan perusahaannya kepada majelis peniagaan dan
perusahaan di daerah masing-masing dengan cara mengisi formulir-formulir yang tersedia.
c. Pertanggungjawaban Keluar
Sesuai dengan pasal 19 KUHD, sekutu yang bertanggung jawab keluar adalah sekutu kerja
atau sekutu komplementer. Sekutu komanditer baru bertanggung jawahb keluar bila dia
melanggar pasal 20 KUHD. Tanggung jawab sekutu komanditer hanya ke dalam yakni
hanya terhadap sekutu kerja kepada siapa dia harus menyerahkan pemasukannya (pasal 19
ayat 1 KUHD).

10.Berakhirnya Persekutuan Komanditer


Persekutuan komanditer itu sebenarnya adalah persekutuan perdata yang diatur dalam
pasal 16 KUHD, maka mengenai bubarnya persekutuan komanditer berlaku peraturan yang
sama dengan persekutuan perdata, yakni bagian kedelapan bab kedelapan buku III KUHPer,
mulai pasal 1646-1652, ditambah dengan pasal 31- 35 KUHD.
Pasal 31 KUHD ini khusus untuk kepentingan pihak ketiga yang berbunyi sebagai berikut:
“Membubarkan persekutuan komanditer sebelum waktu yang ditentukan dalam perjanjian
pendirian atau sebagai akibat pengunduran diri atau pemberhentian, begitu juga
memperpanjang waktu sehabis waktu yang ditentukan, dan mengadakan perubahan-perubahan
dalam perjanjian semula yang penting bagi pihak ketiga, semua itu harus dilakukan dengan
akta otentik, didaftarkan seperti disebut di atas dan diumumkan dalam tambahan berita negara
RI.”
Pasal 31 ayat 2 KUHD membahas mengenai kelalaian apabila tidak melakukan pendaftaran
dan pengumuman. Hal ini akan berakibat tidak berlakunya pembubaran, pengunduran diri,
pemberhentian atau perubahan terhadap pihak ketiga.Dalam apsal 31 KUHD tidak disebutkan
bahwa persekutuan komanditer dapat bubar karena lampaunya wkatu yang ditetapkan dalam
perjanjian pendirian persekutuan. Hal ini harus disesuaikan dengan pasal 1 ayat 1 KUHD.