Anda di halaman 1dari 2

PENTINGNYA MEMPERTAHANKAN

POROS DEMOKRASI BAGI MAHASISWA

Demokrasi Secara etimologi atau asal usul kata, "demokrasi" berasal dari bahasa Yunani --
(dmokrata) "kekuasaan rakyat" yang dibentuk dari kata (dmos) "rakyat" dan (Kratos)
"kekuasaan", merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4
SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun
508 SM. dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti
pemerintahan, dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal
sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan secara
terminologi atau definisi demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga
negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup
mereka.

Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di
sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum
adalah universitas.

Sepanjang sejarah, mahasiswa di berbagai negara mengambil peran penting dalam sejarah
suatu negara. Di Indonesia sendiri pada Mei 1998, ratusan ribu mahasiswa berhasil mendesak
Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya. Sejarah runtuhnya rezim otoriter yang
memoles di Indonesia adalah buah dari kerja keras dan ikhtiar dari gerakan mahasiswa yang
mendorong lahirnya rezim yang lebih demokratis. Mahasiswa adalah satu-satunya kekuatan
ekstraparlementer yang perlu muncul ke permukaan dikala kondisi bangsa yang nyaris karam.

Mahasiswa merupakan seseorang yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan


tinggi lebih daripada orang-orang pada umumnya. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa
mahasiswa yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, sudah selayaknya berjuang
mendidik dirinya sendiri untuk menjadi Insan Akademis yang memiliki tanggungjawab lebih
dalam menyelesaikan permasalahan — permasalahan yang timbul di dalam masyarakat. Jika
dikaitkan dengan teori demokrasi yang sudah dijelaskan, Insan Akademis merupakan hasil
dari proses demokratisasi yang berlangsung di dalam kampus atau perguruan tinggi. Proses ini
tidak terlepas dari pendidikan formal maupun pendidikan karakter pada mahasiswanya. Untuk
itu diperlukan sebuah wadah konkrit dalam mengkatalis hal tersebut, yang dalam hal ini
adalah organisasi kemahasiswaan.

Sering kita temui organisasi — organisasi kemahasiswaan seperti Dewan Eksekutif


Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA) dan lain sebagainya. Tentunya mereka
dibentuk karena suatu kebutuhan dari mahasiswa dan poros keberjalanan dari organisasi-
organisasi kemahasiswaan itu adalah mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswa sudah tidak satu
visi dengan organisasi yang diikutinya, maka dia berhak untuk keluar dan mencari organisasi
lain yang sevisi dengannya. Bahkan lebih kritis dari itu, mahasiswa secara komunal bisa
menghentikan pergerakan organisasi yang diikutinya karena tidak adanya sebuah kebutuhan
atas organisasi yang diikutinya. Oleh karena itu partisipasi anggota organisasi menjadi sangat
dipertimbangkan dan harus ada karena partisipasi termasuk prinsip yang ada di dalam teori
demokrasi.

Dalam organisasi kemahasiswaan sering kali terjadi regenerasi kepengurusan dan regenerasi
kepengurusan selalu dilakukan melalui sebuah mekanisme, salah satunya adalah Pemilihan
Mahasiswa yang bertujuan untuk memilih Ketua Organisasi terkait. Pemilihan Mahasiswa
merupakan perwujudan dari demokrasi karena di sanalah semua mahasiswa dianggap setara
dan bisa memilih pemimpin yang diidamkannya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan
sebuah organisasi. Pemilihan Mahasiswa menjadi momen yang sangat krusial karena di
sanalah keberlanjutan organisasi itu mulai dipertanyakan. Di sini partisipasi anggota sangat
diuji. Seperti yang sudah kita bahas di atas bahwa partisipasi merupakan wujud dari adanya
sebuah demokrasi. Sedangkan partisipasi yang rendah akan menimbulkan sebuah pertanyaan
besar, “Dengan partisipasi yang sedemikian rendahnya, masih dibutuhkan kah organisasi
ini ?”. Pertanyaan kedua pun muncul, “Jika memang dirasa partisipasi bukan hal yang krusial,
lalu mengapa organisasi itu bisa muncul ?”. Padahal seperti yang sudah saya katakan di awal
bahwa Organisasi kemahasiswaan inipun muncul atas hadirnya kebutuhan dari mahasiswa itu
sendiri.

Sebagai mahasiswa yang sadar akan pentingnya membangun khazanah demokrasi yang lebih
baik, kita perlu bergerak melalui kanal — kanal yang ada seperti komunitas, himpunan
mahasiswa jurusan, unit kegiatan mahasiswa, atau organisasi lain yang kita ikuti. Hal yang
harus dilakukan untuk mencapai itu semua adalah dengan merubah konstruksi berpikir dan
pemahaman mahasiswa terhadap konstelasi masyarakat madani dan demokrasi itu sendiri.
Salah satu cara untuk memiliki pemahaman semacam itu adalah dengan banyak membaca
literatur. Seperti yang kita ketahui bahwa buku adalah jendela dunia. Ketika kita membaca
buku, banyak sekali pengetahuan dan pengalaman yang kita serap dan itu dapat menambah
wawasan kita termasuk masalah masyarakat madani dan demokrasi. Yang kedua adalah
perbanyak menulis dan beropini terkait permasalahan demokrasi. Karena dengan menulis,
kita bisa mempengaruhi pemikiran orang lain dan bahkan merubah sudut pandang orang lain
terhadap sesuatu.

Dengan kita memperbanyak literasi dan menulis, kita semakin mengerti akan pentingnya
sebuah ideologi. Sehingga dalam hal ini kita bisa memiliki pendirian dan indepensi dari
banyak hal. Independensi atau kemandirian berarti menjaga idealisme pribadi dari pihak —
 pihak lain yang akan mempengaruhi diri kita. Menjaga independensi ini semakin diperlukan
ketika kita menjadi seorang pemimpin suatu organisasi kemahaiswaan di kampus. Hal ini
ditujukan untuk menjaga keutuhan dan kemandirian baik dari kita maupun organisasi yang
kita pimpin.

Ketika menjadi seorang pemimpin di organisasi kemahasiswaan, terapkanlah segala macam


pengetahuan tentang demokrasi ke semua perilaku dan keputusan yang kita ambil supaya hal
ini bisa memberikan contoh kepada adik tingkat atau pewaris selanjutnya sehingga
pemahaman mengenai demokrasi ini terus dilanjutkan dan semakin meluas di kalangan
mahasiswa yang lain.