Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN WORKSHOP PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN 18-19 JULI 2019

ASOSIASI RUMAH SAKIT SWASTA INDONESIA


PURWABEKA, CIKARANG BEKASI.

RUMAH SAKIT JIWA DAERAH PROVINSI JAMBI

TAHUN 2019
LAPORAN WORKSHOP

I. PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat.
Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna memiliki peran yang sangat strategis untuk mewujudkan derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya (Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia No. 36 Tahun
2014). Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat
inap, rawat jalan dan gawat darurat (Permenkes No. 56 Tahun 2014).
Rumah sakit dikatakan bermutu apabila layanan yang diberikan sesuai standar,
mempunyai tolak ukur, diakui dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Saefurohman,
2014). Indikator mutu mengandalkan pada mutu layanan yang berasal dari perpaduan
antara kompetensi sumber daya manusia berkualitas, teknologi tinggi dan komitmen
untuk menjadikannya sebagai layanan yang terbaik. Termasuk mutu pelayanan di rumah
sakit khusus seperti rumah sakit jiwa (Saefurohman, 2014).
Peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pelayanan secara efisien dan
efektif yaitu dengan menyesuaikan standar profesi, standar pelayanan yang sesuai
dengan kebutuhan pasien, pemanfaatan teknologi tepat guna dan hasil penelitian untuk
mengembangkan pelayanan kesehatan sehingga tercapai derajat kesehatan yang optimal
(Potter & Perry, 2015). Peningkatan mutu pelayanan di rumah sakit dapat dilakukan
dengan mengembangkan akreditasi rumah sakit dimana indikator utamanya adalah
International Patient Safety Goals (IPSG) atau Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) sebagai
bentuk dari hasil kinerja tenaga kesehatan di rumah sakit (The Joint Commision
International [JCI], 2011).
Kurangnya keamanan dan sistem yang baik merupakan masalah yang dihadapi
oleh penyedia pelayanan kesehatan untuk menyeberangi jurang dari perawatan yang bisa
diberikan saat ini untuk mencapai perawatan yang seharusnya diberikan (IOM, 2000).
Keselamatan Pasien/KP (Patient Safety) merupakan issue Global dan Nasional bagi rumah
sakit dan merupakan komponen penting dari mutu pelayanan kesehatan, serta
merupakan prinsip dasar dalam pelayanan pasien dan komponen kritis dalam
manajemen mutu (WHO, 2004). Perhatian dan Fokus terhadap Keselamatan Pasien ini
didorong oleh masih tingginya angka kejadian Tak Diinginkan (KTD) atau Adverse Event
(AE) di rumah sakit baik secara global maupun nasional. KTD yang terjadi di berbagai
negara dipekirakan sekitar 4.0 – 16.6 % (Vincent 2005 dalam Raleigh, 2009) dan hampir
50 % diantaranya adalah kejadian yang dapat dicegah (Cahyono, 2008, Yahya, 2011).
Adanya KTD tersebut selain berdampak pada peningkatan biaya pelayanan juga dapat
membawa rumah sakit ke area blamming, menimbulkan konflik antara dokter/petugas
kesehatan lain dan pasien, dan tidak jarang berakhir dengan tuntutan hukum yang dapat
merugikan bagi rumah sakit (Depkes RI, 2006). Data KTD di Indonesia masih sangat sulit
diperoleh secara lengkap dan akurat, tetapi dapat diasumsikan tidaklah kecil (KKP-RS,
2006).
Sebagai upaya memecahkan masalah tersebut dan mewujudkan pelayanan
kesehatan yang lebih aman diperlukan suatu perubahan budaya dalam pelayanan
kesehatan dari budaya yang menyalahkan individu menjadi suatu budaya di mana insiden
dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem (IOM, 2000). Sistem pelaporan
yang mengutamakan pembelanjaran dari kesalahan dan perbaikkan sistem pelayanan
merupakan dasar budaya keselamatan (Reason, 1997). Meningkatnya kesadaran
pelayanan kesehatan mengenai pentingnya mewujudkan budaya keselamatan pasien
menyebabkan meningkatnya pula kebutuhan untuk mengukur budaya keselamatan.
Perubahan budaya keselamatan dapat dipergunakan sebagai bukti keberhasilan
implementasi program keselamatan pasien.
Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Provinsi Jambi sudah memulai menerapkan
budaya keselamatan sejak tahun 2015 tetapi data yang pasti tentang insiden masih belum
dapat tergambarkan. Dalam rangka menilai keberhasilan penerapan budaya keselamatan
maka perlu dilakukan survey tentang budaya keselamatan pasien di RSJD Provinsi Jambi,
ini dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan program kerja keselamatan pasien
Rumah Sakit. Jumlah hasil pelaporan insiden yang tidak terlalu menggembirakan di tahun
terakhir haruslah dicari sebabnya, salah satunya melalui survey untuk mengetahui
persepsi karyawan terhadap budaya keselamatan yang yang berlaku, dan sebagai proses
perbaikan pada manajemen dalam upaya menghilangkan budaya menyalahkan
(blamming culture) dan menghilangkan budaya mempermalukan (Shamming Culture)
sehingga di RSJD Provinsi Jambi berlaku budaya belajar.
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan pasien dan keselamatan pasien
maka Rumah Sakit perlu mempunyai program peningkatan mutu dan keselamatan pasien
yang menjangjau ke seluruh unit kerja di Rumah Sakit. Workshop Peningkatan Mutu dan
Keselamatan Pasien (PMKP) merupakan wahana dalam memperkaya wawasan tentang
peningkatan mutu RS sekaligus syarat agar ada SDM Rumah Sakit yang mengikuti
pelatihan eksternal tentang PMPKP. Assosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI)
Cabang Purwabeka bekerja sama dengan Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS)
mengadakan workshop PMKP selama 2 hari yakni pada tanggal 18-19 Juli 2019 dengan
tujuan turut berperan memberi kontribusi dalam memudahkan pihak RS menambah
pengetahuan dan wawasan tentang Akreditasi SNARS edisi 1 sekaligus menjalin
silahturahim antara anggota maupun peserta workshop dalam mempersiapkan akreditasi
di masing-masing RS.
II. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Program Workshop ini bertujuan untuk dapat meningkatkan pengetahuan dan
wawasan peserta tentang Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) di RS
dalam mempersiapkan Akreditasi SNARS edisi 1.
2. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti workshop ini, diharapkan peserta mampu:
a. Mampu membuat Program PMKP
b. Mengetahui konsep tentang Peningkatan Mutu RS dan Keselamatan Pasien
c. Mampu merumuskan Indikator Mutu Pelayanan sesuai dengan RS masing-masing
d. Mampu memahami elemen penilaian yang diminta dalam Bab PMKP
e. Mampu memahami budaya keselamatan pasien
f. Mampu memahami konsep Root Cause Analysis (RCA) dan Failure Mode Effect
Analysis (FMEA)

III. SASARAN PELATIHAN


Sasaran Kegiatan ini untuk seluruh anggota ARSSI Purwabeka maupun pihak luar yang
berkepentingan dalam persiapan akreditasi RS. Yang terdiri dari : Direktur RS, Komite
PMKP RS, komite medis RS dan Komite Keperawatan RS.

IV. PENYELENGARAAN PELATIHAN


1. WAKTU DAN TEMPAT PELATIHAN :
Hari / Tanggal : Kamis-Jumat/ 18-19 Juli 2019
Waktu : Jam 07.30 Wib s/d 17.00 Wib
Tempat : Ballroom Hotel Sakura Park and Resident, Deltamas Bekasi

2. MATERI PELATIHAN
1) Peran Informasi Teknologi dalam SNARS edisi 1 serta Asuhan Pasien 4.0
2) Penilaian kinerja dokter dan staf klinis
3) Panduan praktik klinis dan clinical pathway
4) Manajemen resiko klinis dalam akreditasi RS
5) Budaya keselamatan pasien
6) Sasaran Keselamatan Pasien
7) Peningkatan mutu dan keselamatan pasien
8) Penetapan prioritas kegiatan PMKP
9) Pemilihan indicator mutu
10)RCA dan FMEA
3. NARASUMBER
Narasumber merupakan surveyor KARS, terdiri dari:
1. DR. Dr. Sutoto, M.Kes
2. Dr. Djoti Atmodjo, Sp.A, MARS
3. Dr. Nico A Lumenta, K.Nefro, MM, MHKes
4. Dr. Luwiharsih, MSc.
4. METODE PENGAJARAN
Metode pengajaran dalam Pelatihan ini menggunakan pendekatan pendidikan
orang dewasa (Andragogi) dalam hal ini diharapkan berpartisipasi secara aktif,
metode yang digunakan adalah :
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
3. Simulasi / praktek

V. PENUTUP
Demikian Laporan kegiatan dalam mengikuti workshop ini kami sampaikan atas
kerjasama dan bantuan semua pihak dan tentunya atas peran serta Direktur Rumah
Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi yang membiayai semua kegiatan ini, kami ucapkan
terima kasih sebesar besarnya.

Jambi, 24 Juli 2019


Peserta Workshop

Ns. Firman Alamsyah, S.Kep


NIP. 19860921 201001 1 005