Anda di halaman 1dari 45

BAB II

PEMBAHASAN

a. Dioda Khusus : Thyristor

Thyristor termasuk jenis semikonduktor. Kata


Thyristor diambil dari bahasa yunani yang berarti
pintu. Fungsi utama Thyristor adalah sebagai saklar.
Thyristor yang sering dipakai ada tiga, yaitu SCR,
DIAC, dan TRIAC.

Simbol Thyristor :

Bentuk Fisik Thyristor


1. Dioda SCR

SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier.


SCR adalah diode yang mempunyai fungsi sebagai
pengendali. SCR merupakan thyristor yang paling
sering digunakan. SCR dapat melakukan penyaklaran
untuk arus yang besar. Silicon Controlled Rectifier
(SCR) merupakan alat semikonduktor empat lapis
(PNPN) yang menggunakan tiga kaki yaitu anoda
(anode), katoda (cathode), dan gerbang (gate) – dalam
operasinya.

Disamping itu, pemicuan gerbang lebih mudah


dibandingkan dengan pemicuan breakover. Karena itu
banyak digunakan untuk mengatur motor, pemanas,
AC, dan pemanas induksi. Adapun bagian-bagiannya
adalah sebagai berikut, komponen dengan tiga pemicu
yaitu Anoda(A),Katoda(K) dan Gate(G).

Simbol untuk SCR:


Bentuk Fisik Dioda SCR :

Diagram dan skema SCR:

Gambar Diagram dan Skema SCR


a) Susunannya. (b) Susunan ekivalen. (c) Rangkaian
ekivalen. (d) Simbol Rangkaian
Kontruksi SCR :
Gambar Konstruksi dari SCR
SCR dapat dikategorikan menurut jumlah arus yang
dapat beroperasi, yaitu SCR arus rendah dan SCR arus
tinggi. SCR arus rendah dapat bekerja dengan arus anoda
kurang dari 1 A sedangkan SCR arus tinggi dapat
menangani arus beban sampai ribuan ampere.
Pada kenyataannya, SCR mirip dengan dioda
karena SCR menghantarkan hanya pada satu arah. SCR
harus diberi bias maju dari anoda ke katoda untuk
konduksi arus. Tidak seperti pada dioda, ujung gerbang
yang digunakan berfungsi untuk menghidupkan alat.

Kegunaan SCR:

1. Sebagai rangkaian Saklar (switch control)


2. Sebagai rangkaian pengendali (remote control)
Ada tiga kelompok besar untuk semikonduktor ini
yang sama-sama dapat berfungsi sebagai Saklar
(Switching) pada tegangan 120 volt sampai 240 volt.
Ketiga kelompok tersebut adalah SCR ini sendiri, DIAC
dan TRIAC.
a. Cara Kerja SCR

Adapun cara kerja dari SCR kita bisa terangkan ini


dengan sebuah rangkaian elektronik persegi sebagai
berikut:

Saat kita menghubungkan SCR ke sumber


tegangan, plus(+) dan minus(-) ke K dan jangan
menyuplai tegangan ke gate(G), kedua transisitor dalam
keadaaan cutoff. Menyuplai pulsa (bahkan untuk waktu
yang sangat pendek) ke gate menyebabkan transistor Q2
terhubung. Penghubungan ini menciptakan aliran arus
yang pokok untuk transisitor Q1. Arus ini terhubung dan
menyebabkan aliran yang rata ke base Q2. Aliran ini
menjaga transistor Q2 dalam keadaan terhubung, yang
mana menjaga transistor Q1 dalam keadaan terhubung
walaupun pulsa dalam gate dalam keadaan berhenti. Tipe
dari penekanan tombol ini disebut penekanan regeneratif
termasuk umpan balik positif.

Karakter SCR terlihat pada gambar berikut:

Gambar Karakter SCR

Dalam tegangan belakang SCR seperti diode.Ini


tidak akan terhubung sampai alat ini breaks-over.
Komponen SCR dirancang untuk brek-over tegangan
yang tinggi (dalam hal ini untuk menghindari situasi ini).
Vx lebih besar dari 400 V.
a. Operasi SCR

Operasi SCR sama dengan operasi dioda standar


kecuali bahwa SCR memerlukan tegangan positif pada
gerbang untuk menghidupkan saklar. Gerbang SCR
dihubungkan dengan basis transistor internal, dan
untuk itu diperlukan setidaknya 0,7 V untuk memicu
SCR. Tegangan ini disebut sebagai tegangan pemicu
gerbang (gate trigger voltage). Biasanya pabrik
pembuat SCR memberikan data arus masukan
minimum yang dibutuhkan untuk menghidupkan SCR.
Lembar data (Data sheet) menyebutkan arus ini
sebagai arus pemicu gerbang (gate trigger current).
Sebagai contoh lembar data 2N4441 memberikan
tegangan dan arus pemicu :
VGT = 0,75 V
IGT = 10 mA
Hal ini berarti sumber yang menggerakkan
gerbang 2N4441 harus mencatu 10 mA pada tegangan
0,75 V untuk mengunci SCR.

b. SCR yang dioperasikan dari sumber DC


Gambar SCR yang dioperasikan dari sumber DC
Skema rangkaian penghubungan SCR yang
dioperasikan dari sumber DC diperlihatkan pada Gambar
diatas. Anoda terhubung sehingga positif terhadap katoda
(bias maju). Penutupan sebentar tombol tekan (push
button) PB1 memberikan pengaruh positif tegangan
terbatas pada gerbang SCR, yang men-switch ON
rangkaian anoda-katoda, atau pada konduksi, kemudian
menghidupkan lampu.Rangkaian anoda-katoda akan
terhubung ON hanya satu arah.
Hal ini terjadi hanya apabila anoda positif
terhadap katoda dan tegangan positif diberikan kepada
gerbang Ketika SCR ON, SCR akan tetap ON, bahkan
sesudah tegangan gerbang dilepas. Satu-satunya cara
mematikan SCR adalah penekanan tombol tekan PB2
sebentar, yang akan mengurangi arus anoda-katoda
sampai nol atau dengan melepaskan tegangan sumber dari
rangkaian anoda-katoda.
SCR dapat digunakan untuk penghubungan arus pada
beban yang dihubungkan pada sumber AC. Karena SCR
adalah penyearah, maka hanya dapat menghantarkan
setengah dari gelombang input AC. Oleh karena itu,
output maksimum yang diberikan adalah 50%; bentuknya
adalah bentuk gelombang DC yang berdenyut setengah
gelombang.
SCR yang dioperasikan dari sumber AC

Gambar SCR yang dioperasikan dari sumber AC


Skema penghubungan rangkaian SCR yang
dioperasikan dari sumber AC diperlihatkan oleh Gambar
diatas. Rangkaian anoda-katoda hanya dapat di switch ON
selama setengah siklus dan jika anoda adalah positif
(diberi bias maju). Dengan tombol tekan PB1 terbuka,
arus gerbang tidak mengalir sehingga rangkaian anoda-
katoda bertahan OFF. Dengan menekan tombol tekan PB1
dan terus-menerus tertutup, menyebabkan rangkaian
gerbang-katoda dan anoda-katoda diberi bias maju pada
waktu yang sama. Prosedur arus searah berdenyut
setengah gelombang melewati depan lampu. Ketika
tombol tekan PB1 dilepaskan, arus anoda-katoda secara
otomatis menutup OFF ketika tegangan AC turun ke nol
pada gelombang sinus.

Gambar Aplikasi SCR sebagai kontrol output suplay


daya pada motor DC
Ketika SCR dihubungkan pada sumber tegangan
AC, SCR dapat juga digunakan untuk merubah atau
mengatur jumlah daya yang diberikan pada beban. Pada
dasarnya SCR melakukan fungsi yang sama seperti
rheostat, tetapi SCR jauh lebih efisien. Gambar diatas
menggambarkan penggunaan SCR untuk mengatur dan
menyearahkan suplai daya pada motor DC dari sumber
AC.
Gambar Aplikasi SCR untuk start lunak motor AC
induksi 3 fase
Rangkaian SCR dari Gambar diatas dapat
digunakan untuk “start lunak” dari motor induksi 3
fase. Dua SCR dihubungkan secara terbalik paralel
untuk memperoleh kontrol gelombang penuh. Dalam
tema hubungan ini, SCR pertama mengontrol tegangan
apabila tegangan positif dengan bentuk gelombang
sinus dan SCR yang lain mengontrol tegangan apabila
tegangan negatif. Kontrol arus dan percepatan dicapai
dengan pemberian trigger dan penyelaan SCR pada
waktu yang berbeda selama setengah siklus. Jika pulsa
gerbang diberikan awal pada setengah siklus, maka
outputnya tinggi. Jika pulsa gerbang diberikan
terlambat pada setengah siklus, hanya sebagian kecil
dari bentuk gelombang dilewatkan dan mengakibatkan
outputnya rendah.

c. Aplikasi SCR

Pada aplikasinya, SCR tepat digunakan sebagai


saklar solid-state, namun tidak dapat memperkuat
sinyal seperti halnya transistor. SCR juga banyak
digunakan untuk mengatur dan menyearahkan suplai
daya pada motor DC dari sumber AC, pemanas, AC,
melindungi beban yang mahal (diproteksi) terhadap
kelebihan tegangan yang berasal dari catu daya,
digunakan untuk “start lunak” dari motor induksi 3 fase
dan pemanas induksi. Sebagian besar SCR mempunyai
perlengkapan untuk penyerapan berbagai jenis panas
untuk mendisipasi panas internal dalam
pengoperasiannya.

1. Aplikasi SCR pada saklar solid state

Solid state relay berfungsi sama seperti halnya relay


mekanik, dengan solid state relay kita dapat
mengendalikan beban AC maupun DC daya besar
dengan sinyal logika TTL. Rangkaian solid state
relay terdiri dari 2 jenis, yaitu solid state relay DC
dan solid state relay AC. Pada gambar rangkaian
dibawah merupakan skema dari rangkaian solid
state relay yang digunakan untuk jaringan AC 220V
dengan daya maksimum 500 watt. Rangkaian solid
state relay ini dibangun menggunakan TRIAC
BT136 sebagai saklar beban dan optocopler
MOC3021 sebagai isolator. Solid state relay pada
gambar rangkaian dibawah dapat digunakan untuk
mengendalikan beban AC dengan konsumsi daya
maksimal 500 watt.

Daya maksimum rangkaian solid state relay ini


ditentukan oleh kapasitas menglirkan arus oleh
TRIAC Q1 BT136. Untuk membuat rangkaian solid
state relay dapat dilihat gambar rangkaian dan
komponen yang digunakan sebagai berikut.

Gambar Rangkaian Solid State Relay 220VAC 500W


Rangkaian solid state relay pada gambar
diatas dapat digunakan untuk mengendalikan
beban dengan tegangan kerja AC dari 24 volt
hingga 220 volt. Rangkaian solid state relay ini
dikendalikan dengan sinyal logika tinggi TTL 2 –
5 volt DC yang diberikan ke jalur input solid state
relay. Untuk meningkatkan daya atau kemampuan
arus solid state relay ini dapat dilkukan dengan
mengganti TRIAC Q1 BT136 dengan TRIAC
yang memiliki kapasitas arus yang lebih besar.
TRIAC Q1 BT136 pada rangkaian solid state relay
diatas harus dilengkapi dengan pendingin
(heatsink) untuk meredam panas yang dihasilkan
TRIAC pada saat mengalirkan arus ke beban.

2. Pengontrolan Beban DC / AC

Perhatikan rangkaian pada gambar a dan b,


pada dasarnya merupakan pengontrol dc
gelombang penuh, disebut pengontrol dc/ac
karena dapat digunakan untuk mengendalikan
beban AC maupun beban DC, yang selanjutnya
biasa dinamakan “Uni-bi directional full wave
controll ”.

Gambar Pengontrolan Beban AC/DC.

Untuk pemakaian beban ac sebagaimana


gambar a) bridge tidak dibebani (dihubung
singkat), beban dipasang di luar bridge.
Selanjutnya untuk beban DC sebagaimana gambar
b), beban dipasang di dalambridge sedangkan di
luar bridge sambungan rangkaian langsung ke
sumber (tidak dibebani).

3. Rangkaian Pemicu (Trigger) pada Frekuensi


AC-50 Hz

Pemanfaatan UJT secara konvensional


sebagai pemicu SCR melalui rangkaian relaxation
osilator merupakan pilihan yang tepat, rangkaian
relaxation oscillator uni junction transistor (RO-
UJT) dirancang agar sinyal/pulsa yang dihasilkan
senantiasa sinkron terhadap interval tegangan
sumber AC (power supply), serta mampu
menghasilkan daerah pengaturan sudut penyalaan
(a) atau sudut (j) konduksi antara 00 sampai
dengan 1800, rangkaiannya sebagaimana pada
gambar dibawah berikut:
Gambar Rangkaian RO-UJT Pemicu SCR

Data teknis yang merupakan persyaratan /


pertimbangan dalam perancangan rangkaian RO-
UJT adalah: tegangan AC 220 volt / 50 Hz, UJT
(misal 2N2646), tegangan bias RO-UJT (misal 12
volt dc)

Untuk menghasilkan sinyal picu yang


tetap sinkron terhadap perioda tegangan sumber
AC (Us), maka tegangan pencatu rangkaian RO-
UJT adalah tegangan dc rata yang secara periodik
“off” dan sinkron terhadap Us tersebut. Hal ini
dapat dipenuhi melalui rangkaian seri tahanan
(Rz) dan zener dioda (Dz) yang dihubungkan pada
sumber dc gelombang penuh hasil penyearahan Us
melalui dioda jembatan DB, selanjutnya tegangan
output Dz (= Uz) digunakan sebagai pencatu RO-
UJT yaitu titik C-D.
Di tegangan depan SCR bisa breaks-over
dalam satu dari tiga kasus berikut:

1. Tegangan di dalam ini lebih besar dari VH


(Holding Voltage) dan arus pulsa yang tetap
diterima di gate.
2. Ketika tegangan diantara anoda dan katoda
kenaikan setinggi break-over depan VB
(Break-over Voltage). Dalam keadaan ini,
hambatan aliran tetap berhembus dalam
transistor Q1, yang menyebabkan hubungan
Q2 dan dengan demikian meningkatkan
hubungan untuk Q1 sampai kedua transistor
terhubung. Hal ini biasanya bukan hubungan
yang diinginkan, dengan demikian SCR
diprogram untuk VB yang sangat tinggi (lebih
dari 400 V).
3. Perubahan yang sangat cepat dari tegangan
dari VAK (tegangan diantara anoda dan
katoda), walaupun jika VAK lebih kecil dari
VB. Untuk menghindari situasi ini kapasitor
kadang kala ditambahkan dalam pararel ke
SCR yang dijelaskan pada contoh berikut:

Gambar Rangkaian SCR

4. Jenis-jenis SCR

Dalam prakteknya, dikenal berbagai


piranti pnpn yang serupa dengan SCR. Berikut
ini adalah penjelasan dari berbagai jenis SCR
tersebut.
a. LASCR ( light-activated SCR)

LASCR atau SCR aktivasi-cahaya


ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Tanda-
tanda panah menunjukkan cahaya datang yang
akan menembus jendela piranti dan mengenai
lapisan-lapisan pengosongan transistor. Bila
cahaya itu cukup kuat, elektron-elektron
valensi akan dilepaskan dari orbitorbitnya
menjadi elektron-elektron bebas. Ketika
elktron-elektron ini mengalir keluar dari
kolektor dan memasuki basis transistor, maka
proses regenerasi akan berlangsung sampai
LASCR menjadi tertutup atau menyambung.

Setelah LASCR ditutup oleh suatu picu


cahaya, keadaan ini akan bertahan terus
walaupun tidak mendapat masukan cahaya
selanjutnya. Untuk memberi sensitivitas
maksimum terhadap cahaya, gerbang SCR
dibiarkan terbuka seperti ditunjukkan oleh
Gambar dibawah. Jika dikehendaki tingkat
alih (tingkat acuan) yang dapat diubah-ubah,
maka rangkaian pengatur dapat ditambahkan
seperti diperlihatkan pada Gambar. Hambatan
gerbang akan mengalihkan sebagian dari
elektron elektron yang dihasilkan oleh cahaya
masuk dan dengan demikian mengubah
kepekaan rangkaian terhadap cahaya yang
masuk.
Gambar Rangakaian LASCAR (a)
Sensitivitas maksimum (b) Titik alih yang
variabel

b. GCS ( gate-controlled switch)

Seperti yang telah diketahui, pemutusan


arus rendah merupakan cara yang normal
untuk membuka saklar SCR. Namun saklar
kendali gerbang (GCS) adalah saklar yang
dirancang untuk dibuka secara mudah dengan
picu prategangan balik. Untuk GCS penutupan
dilakukan dengan picu positif dan pembukaan
dilakukan dengan picu negatif (atau dengan
pemutusan arus rendah). Rangkaian GCS
diberikan pada Gambar 4.2.7. Setiap picu
positif akan menutup saklar tersebut dan setiap
picu negatif akan membukanya. Sebagai
akibatnya akan diperoleh keluaran gelombang
persegi seperti terlihat dalam gambar. Piranti
GCS digunakan dalam rangkaian-rangkaian
pencacah, rangkaian-rangkaian digital dan
penerapan-penerapan lain yang menyediakan
picu negatif untuk penghentian operasi.

Gambar Rangkaian GCS

a. SCS ( silikon-controlled switch)

Daerah-daerah pengandung tak-murnian


dari suatu saklar kendali silikon (SCS)
diperlihatkan pada Gambar 4.2.8. Masing-masing
daerah tersebut dihubungkan dengan penyalur
luar. Bayangkan bahwa piranti ini terdiri dari dua
bagian yang terpisah seperti ditunjukkan pada
Gambar 4.2.8. Dengan demikian sistem ini
ekuivalen dengan saklar penahan yang
menyediakan saluran kepada kedua basisnya.
Suatu picu prategangan maju yang diberikan
kepada salah satu basis tersebut akan menutup
SCS. Begitu pula suatu picu prategangan balik
pada salah satu basisinya akan membuka piranti
saklar ini.

Lambang rangkaian SCS diperlihatkan


pada Gambar 4.2.8.Gerbang di bawah disebut
gerbang katode. Gerbang di atas disebut gerbang
anode. Dibandingkan dengan SCR, SCS terhitung
sebagai piranti daya rendah. Arus yang dihadapi
berukuran mili ampere dan bukan berukuran
ampere seperti dijumpai dalam operasi SCR.
Gambar SCS
(a) Susunannya. (b) susunan ekuivalen. (c) Rangkaian
ekuivalen. (d) Simbol Komponen

b. Crowbar SCR

Salah satu aplikasi penting dari SCR adalah


melindungi beban seperti IC digital terhadap
kelebihan tegangan yang berasal dari catu daya,
dimana kelebihan tegangan ini dapat menyebabkan
kerusakan pada piranti tersebut.
Pada gambar dibawah menunjukkan catu daya
VCC yang digunakan pada beban yang diproteksi.
Dibawah kondisi normal, VCC lebih kecil dari
tegangan breakdown dida zener. Dalam kasus ini, tidak
ada tegangan pada R, dan SCR akan tetap terbuka.
Beban akan menerima tegangan VCC dan semuanya
baik.
Gambar Crowbar SCR
Apabila tegangan catu daya naik sehingga VCC
terlalu besar, dioda zener akan breakdown dan
tegangan akan terlihat pada hambatan R. Apabila
tegangan ini lebih besar daripada tegangan pemicu
SCR, SCR akan tersulut dan menjadi grendel yang
tertutup. Tindakan ini mirip dengan melempar sebuah
crowbar melalui terminal beban. Karena SCR akan
hidup sangat cepat (1ms untuk 2N4441), beban akan
secara cepat dilindungi dari efek yang merusakkan
karena kelebihan tegangan. Kelebihan tegangan yang
menyulut SCR adalah :
Vcc =VZ + VGT
Crowbar, melalui bentuk proteksi yang drastis,
merupakan hal yang perlu untuk banyak IC digital
yang tidak dapat menahan kelebihan tegangan yang
cukup besar. Daripada merusakkan IC yang mahal, kita
dapat menggunakan SCR crowbar untuk
mempersingkat terminal beban pada saat pertama kali
ada tanda kelebihan tegangan. Dengan SCR crowbar,
sebuah sekering atau pembatas arus dibutuhkan untuk
mencegah kerusakan pada catu daya.
Crowbar pada gambar diatas merupakan sebuah
prototipe, sebuah rangkaian dasar yang dapat
dimodifikasi dan dikembangkan. Prototipe ini tepat
bagi banyak aplikasi . Akan tetapi tidak memiliki soft
turn-on karena sudut pada zener berbentuk
melengkung dan tidak bersudut tajam. Ketika kita
melakukan perhitungan toleransi tegangan zener , soft
turn-on tersebut dapat mengakibatkan tegangan daya
menjadi sangat berbahaya sebelum SCR terbakar.
Salah satu cara untuk mengatasi soft turn-on
adalah dengan menambahkan sedikit perolehan
tegangan seperti Gambar 4.2.10. Umumnya, transistor
dalam keadaan mati. Namun ketika tegangan keluaran
meningkat, transistor akhirnya menyala dan
menghasilkan tegangan tegangan tinggi diluar R4.
Karena transistor menyediakan perolehan tegangan
swamped kira-kira R4 / R3, sedikit kelebihan tegangan
dapat menggerakkan SCR.
Gambar Penambahan perolehan transistor ke
crowbar
Dioda yang digunakan akan mengkompensasikan
temperature dioda emitter dasar transistor. Penyesuaian
pelatuk ini menyebabkan kita mengatur trip point dari
rangkaian tersebut, yang secara tipikal berada 10 sampai
15 persen di atas tegangan normal.
Crowbar dapat ditambah dengan amplifier IC seperti
Gambar dibawah.
Kotak segitiga merupakan sebuah IC penguat
yang disebut dengan pembanding (comparator ). Penguat
ini memiliki masukan nonpembalik(+) dan inverting (-).
Saat masukan nonpembalik lebih besar dari masukan
pembalik , maka keluaran akan positif. Ketika masukan
pembalik lebih besar daripada masukan nonpembalik,
maka keluarannya akan menjadi negatif. Penguat
memiliki perolehan tegangan yang cukup besar, biasanya
100.000 kali atau lebih. Karena perolehan tegangan yang
besar ini, rangkaian dapat mendeteksi kelebihan tegangan
yang paling kecil. Dioda zener menghasilkan tegangan
10V, yang diberikan ke masukan minus dari penguat.
Ketika tegangan catu 20 V (keluaran normal),
penala pemicu diset untuk menghasilkan tegangan sedikit
lebih kecil daripada 10 V pada masukan positif. Karena
masukan negatif lebih besar daripada masukan positif,
keluaran penguat akan negative dan SCR terbuka. Apabila
tegangan catu di atas 20 V, masukan positif pada penguat
menjadi lebih besar daripada 10 V. Kemudian, keluaran
penguat menjadi positif dan SCR tersulut. Hal ini secara
cepat akan memutus catu dengan crowbar terminal beban.

Gambar Penambahan amplifier IC ke crowbar

Keuntungan dan Kerugian SCR


Keuntungan SCR :

1. Penekanan tombol yang sangat pendek berdasarkan


penekanan tombol yang regeneratif. Ini mengurangi
penurunan tegangan di dalam ini dan mengijinkan
produksi komponen SCR, yang bisa menahan arus
yang sangat besar (100 ampere)
2. Sebuah transistor bisa juga menekan tombol arus
dalam cara yang sama. Keuntungan dari transistor
adalah pematian ini dilakukan dengan sederhana yaitu
menghentikan arus di base.

Kekurangan SCR :

1. Keburukan dari SCR adalah pematian ini. Pematian


dari SCR hanya ada satu cara yaitu mengurangi arus
yang mengalir melalui ini disamping arus yang utama.
2. Kerugiannya adalah waktu penekanan tombol lebih
lama dan selama penekanan tombol dalam keadaaan
tegangan yang tinggi dibangun dalam ini, dengan
demikian ini tidak bisa digunakan untuk penekanan
tombol untuk arus yang besar.

2. TRIAC (Triode for Alternating Current)

TRIAC mempunyai kontruksi sama dengan


DIAC, hanya saja pada TRIAC terdapat terminal
pengontrol (terminal gate). Sedangkan untuk terminal
lainnya dinamakan main terminal 1 dan main terminal
2 (disingkat mt1 dan mt2). Seperti halnya pada DIAC,
maka TRIAC pun dapat mengaliri arus bolak-balik,
tidak seperti SCR yang hanya mengalirkan arus searah
(dari terminal anoda ke terminal katoda).
Lambang TRIAC di dalam skema elektronika,
memiliki tiga kaki, dua diantaranya terminal MT1
(T1) dan MT2 (T2) dan lainnya terminal Gate (G).

Lambang TRIAC di dalam skema elektronika,


memiliki tiga kaki, dua diantaranya terminal MT1
(T1) dan MT2 (T2) dan lainnya terminal Gate (G)

Gambar Lambang TRIAC skema Elektronika

Gambar dibawah memperlihatkan struktur dalam


pada TRIAC
Gambar Struktur TRIAC

TRIAC setara dengan dua SCR yang dihubungkan


paralel. Artinya TRIAC dapat menjadi saklar
keduanya secara langsung. TRIAC digolongkan
menurut kemampuan pengontakan. TRIAC tidak
mempunyai kemampuan kuasa yang sangat tinggi
untuk jenis SCR.

Jenis- jenis TRIAC


Ada dua jenis TRIAC:

1. Low-Current
Low-Current TRIAC dapat mengontak hingga
kuat arus 1 ampere dan mempunyai maksimal
tegangan sampai beberapa ratus volt.
2. Medium-Current.
Medium-Current TRIACS dapat mengontak
sampai kuat arus 40 ampere dan mempunyai
maksimal tegangan hingga 1.000 volt.
Cara kerja TRIAC Sebelum
menghidupkan TRIAC, sebuah arus yang sangat
kecil mengalir pada beban dan semua sumber
tegangan turun ke RC filter dobel. Tegangan ini
dibagi dan bergerak di fase VC. Ketika VG
melewati penghidupan tegangan, TRIAC hidup
dan terhubung sampai ke input tegangan setengah
lingkaran dan berhenti. Ketika input tegangan
turun menjadi 0V, TRIAC mati dan prosedur
penghidupannya berulang di tegangan yang
terbalik.
Gambar Gelombang dari rangkaian TRIAC

Gambar Rangkaian picu TRIAC


Selama setengah perioda negative, muatan
negative akan berada pada plat bagian atas kapasitor dan
jika tegangan yang berada pada kapasitor telah
mencukupi, maka TRIAC akan ON.
Kecepatan pengisian kapasitor diatur oleh
hambatan R2, dimana jika R2 bernilai besar, maka
pengisisannya akan lambat sehingga terjadi penundaan
penyalaan yang panjang dan arus rata-ratanya kecil. Jika
R2 bernilai kecil, maka pengisian kapasitor akan cepat
dan arus bebannya tinggi.

Karakteristik TRIAC
TRIAC tersusun dari lima buah lapis
semikonduktor yang banyak digunakan pada pensaklaran
elektronik. TRIAC biasa juga disebut thyristor bi-
directional. TRIAC merupakan dua buah SCR yang
dihubungkan secara paralel.
Berbeda dengan SCR yang hanya melewatkan
tegangan dengan polaritas positif saja, tetapi TRIAC
dapat dipicu dengan tegangan polaritas positif dan negatif,
serta dapat dihidupkan dengan menggunakan tegangan
bolak-balik pada Gate.TRIAC banyak digunakan pada
rangkaian pengedali dan pensaklaran.
TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada
Anoda lebih positif dibandingkan Katodanya dan gate-
nya diberi polaritas positif, begitu juga sebaliknya.
Setelah terkonduksi, sebuah TRIAC akan tetap bekerja
selama arus yang mengalir pada TRIAC (IT) lebih besar
dari arus penahan (IH) walaupun arus gate dihilangkan.
Satu-satunya cara untuk membuka (meng-off-kan)
TRIAC adalah dengan mengurangi arus IT di bawah arus
IH.

3. DIAC (Diode Alternating Current)

DIAC memiliki dua terminal (elektroda) saja.


Simbol DIAC pada skema lektronik:

Gambar (a) Simbol DIAC (b) Struktur


DIAC

DIAC ini dirancang (di posisi ke yang lain) untuk


dihidupkan oleh tegangan yang lebih besar dari VB –
nya.Tegangan VB sangatlah kecil. Ada perbedaan
DIAC dengan VB tegangan berkisar antara +- 10 V
sampai 15 V. Karakteristik DIAC
Ketika tegangan dari DIAC bergerak dari
tegangan VB,DIAC break-over dan berperan sebagai
diode penghubung. Peranan ini sama pada kedua arah.
Menambahkan DIAC pada gerbang TRIAC
meningkatkan substansi tegangan penghidupan dari
TRIAC dan dengan demikian didapatkan tenaga yang
lebih dalam pengontrolan dalam tegangan tinggi.

DIAC merupakan komponen yang paling sederhana


dari keluarga thyristor, semi konduktor yang terdiri
dari tiga lapisan seperti pada transistor pnp. Hubungan
hanya dilakukan dengan tiga lapisan luarnya saja,
sehingga dengan demikian DIAC hanya mempunyai
dua macam terminal, komponen ini dapat bekerja
pada tegangan AC maupun DC, dan dapat konduksi
dari dua arah, seperti thyristor lainnya DIAC
mempunyai sifat seperti tabung tiratron.

DIAC banyak di gunakan dalam rangkaian


rangkaian pengendali, penyaklaran, dan pemicu.
DIAC digunakan tersndiri atau digabungkan dengan
TRIAC, transistor atau SCR. Rangkaian ekuivalen
dari DIAC adalah dua buah diode empat lapis yang
dipasang secara paralel seperti terlihat pada dibawah.
Dilihat secara ideal ini sama dengan sistem saklar
penahan dalam Gambar (b). DIAC tidak akan
menghantar sampai tegangan yang melaluinya
melebihi tegangan breakover dalam salah satu
arahnya. Lambang dari DIAC terlihat pada Gambar
(d).

Gambar DIAC
(a) Rangkaian ekuivalen. (b) Sistem saklar-penahan
ekuivalen.
(c) Saklar penahan kiri tertutup. (d) Simbol Komponen

Gambar (a), maka dioda yang berada di sebelah


kiri akan menghantar bila harga v mulai melampaui
tegangan breakover DIAC. Dalam hal ini saklar penahan
kiri tertutup seperti yang terlihat pada Gambar (c) saat v
memiliki polaritas yang berlawanan dengan yang
ditunjukkan dalam Gambar (a), maka saklar-penahan
kanan yang akan menutup bila v mulai melampaui
tegangan breakover. Saat penghantaran arus pada DIAC
sudah mulai berlangsung, satusatunya cara untuk
membukanya kembali adalah dengan cara pemutusan arus
rendah. Ini berarti mengurangi arus sampai di bawah batas
arus-penahan dari piranti yang bersangkutan. Pada
komponen DIAC, konsentrasi pengotorannya tidak
seperti pada pengotoran transistor tetapi mempunyai
jumlah yang sama pada kedua pertemuannya sehingga
memungkinkan terjadinya operasi yang simetris. Jadi
tidak ada yang dapat disebut anoda atau katoda secara
eklusif. Karena lapisan p dan n dalam komponen tersebut
disusun secara seri maka DIAC tidak akan konduksi
dalam arah maju tetapi selalu mempunyai perilaku seperti
diioda bandangan yang diberi pra tegangan terbalik. Hal
ini terjadi tanpa memandang arah tegangan yang
diberikan.
Pada saat suatu tegangan diberikan ke komponen,
suatu arus bocor yang sangat kecil akan mengalir.
Keadaan ini disebut keadaan “off”dari DIAC. Pada titik
ini terjadi jebolan bandangan dan tiba-tiba akan mengalir
arus yang besar. Ini merupakan keadaan “on” DIAC.
Sekali DIAC dijadikan on dengan menggunakan tegangan
postif atau negatif, komponen ini akan terus
menghantarkan arus sampai tegangannya dihilangkan
atau dikurangi menjadi nol.
Di sini, arus bocor yang kecil (IBO+ untuk
tegangan positif atau IB0- untuk tegangan negatif).
Mengalir sampai tegangan yang diberikan mencpai
tegangan breakover. Pada saat tegangan breakover
dicapai, arus akan meningkat dengan tajam dari I+ atau I-
. Efek resistansi negatif akan muncul seperti terlihat pada
kurva lengkung ke arah belakang. Akibatnya arus menaik
jika teganganya sedikit diturunkan.
Penggunaannya yang utama adalah untuk
memberi denyut picu ke TRIAC. Tetapi tentu saja denyut
pemicu dan sifat konduksi dua arahnya dapat digunakan
pada berbagai tujuan selain pengoperasian TRIAC. Salah
satu penggunaan DIAC yang paling sederhana adalah
sebagai penyaklar otomatis. Sebuah DIAC akan
memberikan resistansi yang sangat tinggi baik dalam AC
maupun DC sampai tegangan yang diberikan mencapai
nilai VBO kritis. Apabila nilai ini sudah tercapai atau
dilampaui maka DIAC akan konduksi.
Dengan demikian komponen dua terminal yang
sederhana ini dapat disakelarkan dengan tegangan kendali
yang menaik dan tetap terkonduksi sampai tegangan
tersebut diturunkan ke nol.
Gambar DIAC 1N5411
Pada gambar dibawah memperlihatkan sebuah
rangkaian saklar peka amplituda sederhana yang
menggunakan sebuah DIAC 1N5411. Tegangan puncak
AC atau DC sebesar 35 Volt akan menyebabkan DIAC
terkonduksi dan akan mengalirkan arus sebesar 14 mA
melalui resistor keluaran R2. DIACnya sendiri dapat
konduksi pada tegangan dibawah 35 Volt. Dengan arus
sebesar 14mA, tegangan keluaran yang terdapat pada
resistor 1000Ω adalah 14 V. Apabila sumber tegangannya
mempunyai resistor dalam pada jalur keluarannya, maka
resistor R2 dapat di hilangkan.
Untuk mengoperasikan rangkaian ini, atur
tegangan masuk agar naik secara perlahan ahan mulai dari
nol sambil memperhatikan nilai keluarannya. Sampai
sekitar 30 volt tegangan keluarannya akan sangat kecil.
Pada sekitar 35 Volt, DIAC secara tiba tiba akan jebol dan
suatu tegangan akan muncul pada resistor R2 apabila
tegangan keluaran DIAC nol maka DIAC tersebut akan
mati dan perlu dipicu lagi dengan tegangan beramplituda
sebesar 35 Volt.

4. Dioda Varactor

Dioda Varactor atau bisa disebut juga dengan


Varicap Dioda adalah piranti semikonduktor yang
biasanya digunakan didalam industri elektronika.
Dioda varactor adalah jenis dioda yang memiliki
kapasitansi yang bervariasi sebagai fungsi dari
tegangan yang ditetapkan pada tiap terminalnya yang
sifatnya mempunyai kapasitas yang berubah-ubah jika
diberikan tegangan.

Dengan kata lain dioda ini merupakan variabel


kapasitor yang diatur oleh tegangan. Pemasangan
dioda ini adalah pada bias mundur (reverse bias) mirip
dengan dioda Zener.

Kelebihan dari dioda ini adalah mampu


menghasilkan nilai kapasitansi tertentu sesuai dengan
besar tegangan yang diberikan kepadanya. Dengan
dioda ini maka sistem penalaan digital pada sistem
transmisi frekuensi tinggi mengalami kemajuan pesat,
seperti pada radio dan televisi. Contoh sistem
penalaan dengan dioda ini adalah dengan sistem PLL
(Phase lock loop), yaitu mengoreksi oscilator dengan
membaca penyimpangan frekuensinya untuk
kemudian diolah menjadi tegangan koreksi untuk
oscilator.

simbol dan komponen dioda varactor

Bahan dasar pembuatan dioda varactor ini


adalah silikon dimana dioda ini sifat kapasitansinya
tergantung pada tegangan yang diberikan padanya.
Jika tegangan tegangannya semakin naik, kapasitasnya
akan turun. Dioda varikap banyak digunakan pada
pesawat penerima radio dan televisi di bagian
pengaturan suara (Audio).
Prinsip kerja pada Dioda Varactor, lapisan
pengosongan (Depletion Layer) diantara Junction P
dan N terdapat Kapasitansi transisi atau disebut juga
Kapasitansi Pengosongan yaitu antara kapasitansi
barier dan kapasitansi persambungan.
Semakin besarnya tegangan yang diumpankan
pada Varaktor akan memperkecil nilai Kapasitansi
transisi, hal ini diakibatkan seolah-olah melebarnya
depletion layer atau memperjauh jarak lempengan-
lempengan pembentuk kapasitor didalam dioda
tersebut. Oleh karena itu Varaktor adalah Dioda yang
nilai kapasitansinya dikendalikan oleh tegangan.
Contoh rangkaian pada dioda varactor

Besarnya frekuensi resonansi pada Dioda Varaktor yang


di paralel dengan Induktor :

Aplikasi penggunaan Dioda Varactor pada bagian


Tuner
Dioda varactor biasanya digunakan pada
modulator frekuensi atau pada pengatur frekuensi
otomatis dalam pemancar FM atau penerima FM,
Penerima Radio FM dan peralatan komunikasi yang
menggunakan frekuensi tinggi.
Beberapa Contoh Dioda Varactor berikut nilai
Kapasitansi, perubahannya terhadap tegangan :
Perubahan Nilai
No Spesifikasi Perbandingan
Tegangan Kapasitansi
1 IN51242 -4V s.d -60V 3:1 15pF~5pF
2 ECG610 4V s.d 30V 3:2 6.8pF~2.7pF
3 ECG612 4V s.d 30V 4:1 12pF~2.9pF
4 ECG613 4V s.d 30V 7:1 22pF~2.9pF
Tabel Perubahan Kapasitas terhadap Tegangan pada
Varactor

Daftar Pustaka

- modul materi elektronika dasar - Fauzan A Mahanani


- Syahyr, Ahmad. Makalah "Rangkaian Dioda sebagai
Penyearah".
- Mukti, Bayu Kuncoro. http://ilmu-
elektronika.co.cc/index.php/arus-bolak-balik-
ac/rangkaian-penyearah-gelombang-rectifier-
circuit.html.
- Dwiono, Wakhyu. http://trensains.com/rectifier.htm.
2008
- http://elektronika-dasar.web.id/teori-
elektronika/konsep-dasar-penyearah-gelombang-
rectifier/
-
http://www.produksielektronik.com/2014/05/pengertian-
seven-7-segment-display-7-segmen/
-
http://www.produksielektronik.com/2013/11/kelebihan-
keuntungan-memakai-lampu-led-light-emitting-diode-
lampu-penerang/
- http://elektronika-dasar.web.id/komponen/led-light-
emitting-dioda/
- http://www.circuitstoday.com/how-a-led-works-light-
emitting-diode-working
- http://www.slideshare.net/diatmika/pengertian-led
- http://www.produksielektronik.com/2014/03/cara-
menghitung-nilai-resistor-untuk-led/
- http://id.wikipedia.org/wiki/DIAC
- http://www.electronics-tutorials.ws/diode/diode_6.html
- Hasad Andi, 2011. Materi Kuliah Elektronika Industri,
Teknik Elektro, UNISMA Bekasi
- Malvino A.P., 2003. Prinsip-prinsip Elektronika,
Salemba Teknika, Jakarta
- Petruzella F.D., 2001. Elektronik Industri, Andi
Yogyakarta
- http://namakuvee.wordpress.com/2014/04/18/aplikasi-
thyristor-dan-scr/