Anda di halaman 1dari 6

FILARIASIS

No. 440/ /UPTD-


PS/SOP/II/2019
Dokumen

S
No.Revisi
O
P
Tanggal Februari 2019
Terbit

Halaman 1 dari 4

UPTD drg. NUZULISA ZULKIFLI


PUSKESMAS
KECAMATAN Nip.19830929200802200
PONTIANAK 1
SELATAN

1. Pengertian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) adalah penyakit menular yang


disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis
nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak
mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa
pembesaran kaki,lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki-laki.
2. Tujuan Sebagai pedoman petugas untuk melakukan penatalaksanaan filariasis.
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Kecamatan
Pontianak Selatan Nomor: 440/ /UPTD-PS/SOP/II/2019
tentang layanan klinis
4. Referensi 1. Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin, 5th Ed. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2007.
2. James, W.D. Berger, T.G. Elston, D.M. Andrew’s Diseases of the
Skin: Clinical Dermatology. 10th Ed. Saunders Elsevier. Canada. 2000.
3. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Pedoman
Pelayanan Medik. 2011.
5. Prosedur 1. Petugas melakukan anamnesis terhadap pasien
- Demam berulang ulang selama 3-5 hari. Demam dapat hilang
bila istirahat dantimbul lagi setelah bekerja berat.
- Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah
lipatan paha,ketiak(lymphadentitis) yang tampak kemerahan,
panas dan sakit.
- Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan
sakit menjalar dari pangkal kaki atau pangkal lengan ke arah
ujung (retrograde lymphangitis).
- Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan
kelenjar getah bening,dapat pecah dan mengeluarkan nanah
serta darah.
- Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, kantong zakar yang
terlihat agak kemerahan dan terasa panas (Early Imphodema)

2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang


 Pada manifestasi akut dapat ditemukan adanya limfangitis dan
limfadenitis yang berlangsung 3-15 hari, dan dapat terjadi
beberapa kali dalam setahun. Limfangitis akan meluas kedaerah
distal dari kelenjar yang terkena tempat cacing ini tinggal.
 Identifikasi mikrofilaria dari sediaan darah. Cacing filaria dapat
ditemukan dengan pengambilan darah tebal atau tipis pada
waktu malam hari antara jam 10 malam sampai jam 2 pagi yang
dipulas dengan pewarnaan Giemsa atau Wright. Mikrofilaria
juga dapat ditemukan pada cairan hidrokel atau cairan tubuh
lain (sangat jarang).
 Pemeriksaan darah tepi terdapat leukositosis dengan eosinofilia
sampai 10-30%. Dengan pemeriksaan sediaan darah jari yang
diambil pukul mulai 20.00 malam waktu setempat.
 Bila sangat diperlukan dapat dilakukan Diethylcarbamazine
provocative test.

3. Petugas melakukan penegakkan diagnosis


No ICD X :
- B74 Filariasis
- B74.0 Filariasis due to Wuchereria bancrofti
- B74.1 Filariasis due to Brugia malayi
- B74.2 Filariasis due to Brugia timori
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang identifikasi mikrofilaria.
Diagnosis Banding
- Infeksi bakteri, tromboflebitis atau trauma dapat mengacaukan
adenolimfadenitis filariasis akut
- Tuberkulosis, lepra, sarkoidosis dan penyakit sistemik
granulomatous lainnya.

2 dari 5
4. Petugas menentukan ada tidaknya komplikasi

Pembesaran organ (kaki, tangan, skrotum atau bagian tubuh lainnya)


akibat obstruksi saluran limfe.

5. Petugas menyusun rencana penatalaksanaan


 Memelihara kebersihan kulit.
 Fisioterapi kadang diperlukan pada penderita limfedema kronis.
 Obat antifilaria adalah Diethyl carbamazine citrate (DEC) dan
Ivermektin.
 Dosis DEC 6 mg/kgBB, 3 dosis/hari setelah makan, selama 12
hari, pada Tropical Pulmonary Eosinophylia (TPE) pengobatan
diberikan selama tiga minggu.
 Efek samping bisa terjadi sebagai reaksi terhadap DEC atau
reaksi terhadap cacing dewasa yang mati. Reaksi tubuh
terhadap protein yang dilepaskan pada saat cacing dewasa mati
dapat terjadi beberapa jam setelah pengobatan, didapat 2 bentuk
yang mungkin terjadi yaitu reaksi sistemik (demam, sakit
kepala, nyeri badan, pusing, anoreksia, malaise dan muntah-
muntah) dan reaksi lokal (limfadenitis, abses, dan transien
limfedema):
 Ivermektin diberikan dosis tunggal 150 ug/kg BB efektif
terhadap penurunan derajat mikrofilaria W.bancrofti, namun
pada filariasis oleh Brugia spp. penurunan tersebut bersifat
gradual. Efek samping ivermektin sama dengan DEC,
kontraindikasi ivermektin yaitu wanita hamil dan anak kurang
dari 5 tahun. Karena tidak memiliki efek terhadap cacing
dewasa, ivermektin harus diberikan setiap 6 bulan atau 12 bulan
untuk menjaga agar derajat mikrofilaremia tetap rendah.
 Pemberian antibiotik dan/atau antijamur akan mengurangi
serangan berulang, sehingga mencegah terjadinya limfedema
kronis.
 Antihistamin dan kortikosteroid diperlukan untuk mengatasi
efek samping pengobatan. Analgetik dapat diberikan bila
diperlukan.
 Pengobatan operatif, kadang-kadang hidrokel kronik
memerlukan tindakan operatif, demikian pula pada chyluria
yang tidak membaik dengan terapi konservatif.

3 dari 5
6. Petugas memberikan konseling dan edukasi:
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarganya mengenai
penyakit filariasis terutama dampak akibat penyakit dan cara
penularannya. Pasien dan keluarga juga harus memahami pencegahan
dan pengendalian penyakit menular ini melalui:
Pemberantasan nyamuk dewasa.
Pemberantasan jentik nyamuk.
Mencegah gigitan nyamuk.

7. Petugas menetapkan kriteria rujukan


Pasien dirujuk bila dibutuhkan pengobatan operatif atau bila gejala
tidak membaik dengan pengobatan konservatif.

8. Petugas menentukan prognosis


Prognosis pada umumnya tidak mengancam jiwa. Quo ad fungsionam
adalah dubia ad bonam, sedangkan quo ad sanationam adalah malam.
6. Unit Terkait Ruang Periksa Umum
IGD
7. Dokumen Register Pasien
Terkait Rekam Medik

4 dari 5
1. Rekaman Historis Perubahan

No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl.mulai


diberlakukan

1 Tata naskah 1. Judul 2 Februari


2019
2. Penyusunan naskah
dokumen(Logo,Nama
Kepala Puskesmas)
3. Kebijakan
4. Referensi
5. Prosedur

5 dari 5
FILARIASIS
No. Dokumen : 440/ /UPTD-PS/SOP/II/2019

No. Revisi :

Tgl. Mulai : Februari 2019


Berlaku
UPTD DAFTAR
PUSKESMAS TILIK Halaman : 1
KECAMATAN
PONTIANAK
SELATAN

No Kegiatan Ya Tidak

1. Apakah Petugas melakukan anamnesis terhadap pasien

2. Apakah Petugas melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang

3. Apakah Petugas melakukan penegakkan diagnosis

4. Apakah Petugas menentukan ada tidaknya komplikasi

5. Apakah Petugas menyusun rencana penatalaksanaan

6. Apakah Petugas memberikan konseling dan edukasi:

7. Apakah Petugas menetapkan kriteria rujukan

8. Apakah Petugas menentukan prognosis

CR :………………%.

Pontianak,……………………
Pelaksana / Auditor

(………………………………)

6 dari 5