Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

ANALISIS KASUS

Pasien Tn.A , laki-laki, 32 tahun datang dengan keluhan batuk berdarah sejak 2 hari
SMRS, pasien dirawat dengan diagnosa Tuberkulosis kasus baru karena sebelumnya belum
pernah mendapatkan pengobatan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Berdasarkan hasil anamnesis ditemukan adanya batuk
berdahak sejak 3 bulan yang lalu, batuk berdahak warna putih kental sebanyak ½-1 sdm
setiap batuknya tanpa disertai adanya darah pada dahak. Batuk dirasakan lebih sering timbul
terutama pada malam hari disertai adanya keringat dingin. Selain itu pasien juga
mengeluhkan adanya demam tinggi hilang timbul, demam suhu tidak diukur, demam timbul
terutama pada malam hari dan tidak turun dengan pemberian obat penurun panas. Keluhan
disertai adanya penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan sebanyak 3-4 kg dalam 1
bulan terakhir.
Berdasarkan anamnesis didapatkan gejala pada pasien sesuai dengan kriteria klinis
diagnosa Tuberkulosis Paru yaitu gejala batuk ≥ 2 minggu, batuk dapat disertai atau tanpa
batuk darah, gejala sistemik seperti demam, penurunan nafsu makan, dan penurunan berat
badan.
Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak menunjukkan suatu kelainan terutama pada
kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara asimtomatik. Demikian juga bila sarang
penyakit terletak di dalam, akan sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan fisik, karena
hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm ke dalam paru sulit dinilai secara palpasi,
perkusi, dan auskultasi. Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian
apeks paru. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan perkusi yang
redup dan auskultasi suara napas tambahan berupa ronki basah, kasar, dan nyering. Tetapi
bila infiltrat ini diliputi oleh penebalan pleura, suara napasnya menjadi vesikular melemah.
Bila terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau timpani
dan auskultasi memberikan suara nafas amforik.
Pasien juga mengeluh batuk yang berlangsung sepanjang hari. Batuk disertai dengan
demam dan keringat malam hari. Batuk darah disangkal oleh pasien. Batuk pada tuberkulosis
paru mungkin disebabkan oleh rangsangan pada saluran pernapasan akibat iritasi cairan
mukus dari hasil peradangan infeksi tuberkulosis di parenkim paru terutama pada apeks paru.
Pada pemeriksaan fisik paru pasien ini, saat inspeksi ditemukan statis dan dinamis
simetris kanan=kiri, pada palpasi ditemukan stem fremitus kanan=kiri, pada perkusi
ditemukan sonor pada kedua lapang paru, pada auskultasi ditemukan suara vesikuler yang
menurun pada lapangan paru kanan disertai ronkhi di apex paru.
Pada pasien ini diperlukan konfirmasi diagnosis dengan pemeriksaan foto roentgen
thorax untuk memastikan diagnosis kerja tuberkulosis paru pada pasien ini, didapatkan hasil
foto roentgen berupa gambaran infiltrat dan kavitas di paru kanan dengan kesan tuberkulosis
paru proses aktif. Pemeriksaan lanjutan pada pasien ini diperlukan pemeriksaan BTA Sputum
dan Test Cepat Molekuler (TCM) dengan hasil MTB Low detected,dengan ini diagnosis
Tuberkulosis Paru sudah dapat ditegakkan.
Berdasarkan pemeriksaan laboratorium darah rutin dan kimia pada pasien ini
didapatkan adanya penurunan kadar Hemoglobin, Eritrosit, Hematokrit, dan Natrium, hasil
ini diduga disebabkan dari batuk berdarah dan penurunan nafsu makan serta kurangnya
asupan nutrisi yang dikonsumsi pasien. Akibat dari penurunan nafsu makan tersebut pasien
saat ini telah mengalami penurunan berat badan sekitar 4 kg dalam sebulan terakhir.
Penatalaksanaan tuberkulosis kasus paru disertai malnutrisi pada pasien diberikan
terapi obat OAT Kategori 1 Fase Intensif yang diindikasikan pada pasien pasien tb paru
terkonfirmasi bakteriologis, pasien tb paru terdiagnosa klinis, dan pasien tb ekstra paru.
Terapi OAT yang diberikan berupa Rifampisin tablet 1x450 mg, Isoniazid 1x300 mg,
Pirazinamid 3x500mg, dan Etambutol 3x250 mg. Terapi OAT Kategori 1 Fase Intensif
tersebut dikonsumsi setiap hari selama 2 bulan, selanjutnya pasien diterapi fase lanjutan
dengan Isoniazid tablet 2 x 300 mg dan Rifampisin tablet 1 x 450 mg frekuensi 3x/minggu
selama 16 minggu (4 bulan).
Sebagai terapi tambahan pada pasien diberikan obat pengencer dahak yaitu Codein 3
x 10 mg, Curcuma tablet 2 x 1, Omeperazole tablet 1 x 20 mg, injeksi cefrtriaxon 2 x 1 gr,
Injeksi Mecobalamin 1 x 1 ampul, dan antipiretik Paracetamol tablet 3 x 500 mg bila pasien
demam dengan terapi cairan berupa IVFD RL dengan kecepatan tetesan XX/menit.