Anda di halaman 1dari 12

Bedsite Teaching

KATARAK SENILIS MATUR OD +


KATARAK SENILIS IMATUR OS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSMH Palembang

Oleh:
Bianca Dwinta Daryanto, S.Ked.

Pembimbing:
dr. H.E. Iskandar, Sp.M(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT DR. MOH. HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
SRIWIJAYA
2019
STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien
Nama : Ny. ND
Umur : 63 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Petani
Alamat : Prabumulih
Tanggal Pemeriksaan : 2 Juli 2019

2. Anamnesis (Autoanamnesis)
a. Keluhan Utama
Pandangan mata kanan makin kabur sejak 1 tahun yang lalu.

b. Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien mengeluh pandangan kabur sejak 4 tahun yang lalu pada mata
kanan dan kiri. Kabur dirasakan semakin lama semakin bertambah. Sejak 1
tahun yang lalu, pasien merasa mata kanan semakin kabur. Keluhan juga
mulai dirasakan pada mata kiri, namun tidak sekabur mata kanan. Mata
merah (-), pandangan kabur seperti melihat asap (+), Pasien mengaku
sering merasa silau (+) ketika melihat, terutama melihat lampu sehingga
lebih nyaman jika melihat pada sore hari atau di tempat yang gelap.
Keluhan melihat seperti di dalam terowongan (-), pandangan ganda (-),
pandangan seperti melihat kilatan cahaya (-), penglihatan warna berkurang
(+),Pandangan kabur tidak dipengaruhi jarak, hanya dirasakan saat melihat
jauh (-) atau hanya dirasakan saat membaca (-). Pasien lalu berobat ke
RSMH Palembang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


• Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
• Riwayat memakai kacamata (-)
• Riwayat trauma pada mata (-)
• Riwayat alergi (-)
• Riwayat konsumsi obat dalam waktu lama (-)
• Riwayat DM (-)
• Riwayat hipertensi (+) selama 5 tahun rutin konsumsi obat

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-)

3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum : tampak baik
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80 kali/menit regular, isi dan tegangan cukup
Frekuensi napas : 20 kali/menit
Suhu : 36,5o C
Status gizi : gizi baik

b. Status Oftalmologis
Okuli Dekstra Okuli Sinistra
Visus 1/300 6/60 ph (-)
Tekanan TIOD = 13,2 mmHg TIOS = 16,1 mmHg
intraocular
KBM Ortoforia
GBM

Palpebra Tenang Tenang


Konjungtiva Tenang Tenang
Kornea Jernih Jernih
BMD Sedang Sedang
Iris Gambaran baik Gambaran baik
Pupil Bulat, Central, Refleks Bulat, Central, Refleks
Cahaya (+), diameter 3 mm cahaya (+), diameter 3 mm

Lensa Keruh, ST (-) Keruh, ST (+)


Segmen Posterior
Refleks RFOD (-) RFOS (+)
Fundus

Papil Tidak tembus Bulat, batas tegas, warna


merah normal, c/d 0,3, a/v
2/3
Makula Tidak tembus RF (+)
Retina Tidak tembus Kontur pembuluh darah baik

4. Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan slit lamp
 Pro Pemeriksaan laboratorium pre-op
 Pro Rontgen Thoraks pre-op
 Pro Konsul PDL pre-op
 Pro Konsul Anestesi pre-op
5. Diagnosis Kerja
Katarak Senilis Matur OD + Katarak Senilis Imatur OS

6. Tatalaksana
KIE
 Menjelaskan pada pasien bahwa keluhan mata kabur pada pasien
disebabkan oleh katarak yang timbul dipengaruhi oleh faktor usia.
 Menjelaskan rencana terapi yang akan dilakukan yaitu akan dilakukan
terapi pembedahan berupa ektraksi lensa dan akan dipasang lensa baru.
 Pro ekstraksi lensa (ECCE) OD + IOL

8. Prognosis
• Okuli Dextra
o Quo ad vitam : bonam
o Quo ad functionam : dubia ad bonam
o Quo ad sanationam : bonam
• Okuli Sinistra
o Quo ad vitam : bonam
o Quo ad functionam : dubia ad bonam

9. Lampiran

A B
Gambar 1. Foto klinis pasien pre op (A) OD ST (-); (B) OS ST (+).
ANALISIS KASUS

Seorang pasien datang dengan keluhan pandangan mata yang semakin


buram sejak 4 tahun yang lalu dan semakin dirasa memburuk sejak 1 tahun yang
lalu. Dari keluhan ini kita langsung mendapatkan diagnosis banding yang
mungkin yaitu diagnosis banding penyebab mata tenang visus turun perlahan.
Beberapa diagnosis banding mata tenang visus perlahan dari yang tersering adalah
katarak, kelainan refraksi, glaukoma kronis sudut terbuka, retinopati diabetik,
retinopati hipertensi. Kelainan refraksi belum bisa disingkirkan karena pada
pasien katarak dapat terjadi miopisasi akibat lensa mata menjadi cembung,
sehingga pasien merasa tidak perlu kacamata sewaktu membaca dekat. Dan faktor
usia pasien yang memungkinkan terjadinya presbiopia. Glaukoma kronis dapat
ditanyakan dari anamnesis keluhan melihat seperti di dalam terowongan, pada
pasien ini tidak ada. Glaukoma kronis juga dapat terjadi akibat penyakit katarak
pada pasien, pada pasien juga tidak ditemukan peningkatan TIO dan perbesaran
cup disk ratio sehingga diagnosis glaukoma dapat disingkirkan. Retinopati diabetik
dapat disingkirkan pada pasien karena pasien menyangkal adanya riwayat kencing manis
yang dapat dilihat gejala polifagi, polidipsi, poliuri.

Retinopati hipertensi  Pada pasien ini memiliki riwayat hipertensi sejak 5


tahun yang lalu dan rutin minum obat tetapi tidak menutup kemungkinan pasien
ini dapat mengalami retinopati hipertensi.

Retina dan pembuluh darahnya mudah dipengaruhi hipertensi. Salah satu


target organ hipertensi adalah mata. Hipertensi yang berlangsung lama pada
penderita dapat mempercepat timbulnya sklerosis pembuluh darah halus.

• Pada pasien hipertensi terjadi spasme arterioles dan kerusakan endothelial

• Hialinisasi pembuluh darah

• Berkurangnya elastisitas pembuluh darah retina

Dari identitas, didapatkan umur pasien 63 tahun, yang merupakan faktor


risiko untuk beberapa penyebab diagnosis banding di atas seperti katarak. Dari
anamnesis digali lagi keluhan tambahan, didapatkan keluhan tambahan berupa
Keluhan tambahan:

1. Pandangan kabur seperti melihat asap  hal ini terjadi karena adanya
kekeruhan pada lensa sehingga menutupi penglihatan

2. Sering merasa silau  Keluhan silau tergantung dengan lokasi dan besar
kekeruhannya, biasanya dijumpai pada tipe katarak posterior subkapsular.

Terjadi kekeruhan lensa yang tidak merata  Katarak mendispersikan


cahaya putih  Cahaya yang masuk difokuskan terpencar pada retina 
Keluhan silau (glare)

3. Lebih nyaman jika melihat di tempat yang gelap atau sore/malam hari 
Pada katarak senilis, kekeruhan yang terjadi pada bagian nukleus lensa
dapat memberikan gejala berupa kesan melihat lebih jelas pada malam hari
dibandingkan siang karena pupil terbuka lebih lebar sehingga
memungkinkan cahaya masuk melalui bagian perifer lensa.
4. Penglihatan warna berkurang 
Hal ini bisa terjadi pada beberapa pasien oleh karena terpecahnya sinar
putih menjadi spektrum warna oleh karena meningkatnya kandungan air
dalam lensa dan disebabkan karena terpencarnya cahaya yang masuk ke
mata sehingga persepsi warna berkurang,

Pasien sebelumnya tidak menggunakan kacamata, dan melaporkan tidak ada


perubahan daya penglihatan jauh dan dekat (tidak adanya fenomena myopic shift/
second sight). Dari anamnesis ditanyakan beberapa pertanyaan yang mengarahkan
ke diagnosis banding seperti ada atau tidaknya pandangan yang menyempit seperti
melihat dalam terowongan (seperti pada glaukoma kronik), kebiasaan makan
makanan mentah dan memelihara hewan peliharaan (seperti pada toksoplasmosis
serebri). Riwayat penyakit seperti ini sebelumnya disangkal pada pasien. Riwayat
penyakit diabetes disangkal, namun riwayat darah tinggi dikonfirmasi pasien
dengan durasi kurang lebih 5 tahun belakangan dan rutin mengkonsumsi obat.
Tekanan darah saat diperiksa menunjukkan hasil yang normal, namun retinopati
diabetik dan hipertensi akan perlu dikonfirmasi lagi pada pemeriksaan status
oftalmologikus. Status oftalmologis:

1. Pada pemeriksaan visus, okuli dekstra didapatkan 1/300 sedangkan okuli


sinistra didapatkan 6/60 ph (-). Penggunaan pinhole tidak akan menaikkan
visus pasien karena pasien memiliki katarak yaitu kelainan anatomi pada
lensa pasien.

2. Tekanan bola mata memberikan hasil yang normal  sehingga dapat


menyingkirkan diagnosis glaukoma yang biasanya terjadi peningkatan
TIO akibat terjadi peningkatan produksi aquous humour, resistensi aliran
aquous humour, dan peningkatan tekanan vena episkleral.

3. Pada pemeriksaan lensa OS, shadow test (+) 

Shadow test adalah pemeriksaan kekeruhan lensa menggunakan senter


yang disorotkan oblik dari samping (temporal) ke arah pupil. Pada katarak
imatur, sebagian lensa yang keruh akan menjadi opak yang memantulkan
kembali sinar senter yang jatuh melalui pupil, sehingga membentuk
bayangan (shadow) iris berbentuk bulan sabit.

4. OD

 Visus 1/300

 Lensa: keruh pada seperti mutiara seluruh bagian lensa

 Shadow test (-) menunjukkan tidak ada cahaya yang masuk karena
terhalangi oleh lensa yang keruh seluruh bagian

 Refleks fundus (-) sehingga papil, makula, dan retina tidak tembus

 Katarak matur

5. OS

 Visus 6/60
 Lensa: terlihat putih keabu-abuan, namun masih terdapat korteks
yang jernih, kekeruhan terdapat dibagian posterior

 Shadow test (+) , sebagian lensa yang keruh akan menjadi opak
yang memantulkan kembali sinar senter yang jatuh melalui pupil,
sehingga membentuk bayangan (shadow) iris berbentuk bulan sabit

 Refleks fundus (+), segmen posterior dapat diperiksa dan dalam


batas normal menujukkan bahwa kekeruhan lensa hanya terjadi
sebagian

 Katarak imatur grade II tipe subcapsular posterior

Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan didapatkan diagnosis katarak matur


OD dan katarak imatur OS. Katarak yang terjadi pada pasien ini diduga
akibat proses penuaan, yaitu katarak senilis. Katarak dapat disebabkan
oleh beberapa sebab lain seperti trauma (yang disangkal pada pasien ini),
kongenital (yang juga disangkal dari ketiadaan riwayat penyakit
terdahulu), atau diinduksi oleh obat-obatan seperti steroid. Beberapa faktor
risiko yang meningkatkan kejadian katarak senilis selain usia adalah
penyakit sistemik, riwayat operasi mata sebelumnya, dan seringnya mata
terpapar udara panas atau sinar matahari. Katarak senilis terjadi akibat
edema lensa, perubahan protein, peningkatan proliferasi, dan kerusakan
kontinuitas normal serat-serat lensa.

Teori hidrasi

• kegagalan mekanisme pompa aktif pada epitel lensa

• air tidak dapatdikeluarkan dari lensa

• bertambahnya tekanan osmotik

Teori sklerosis

• Serabut kolagen terus bertambah


• pemadatan serabut kolagen di tengah

• sklerosis nukleus lensa

Secara umum, edema lensa bervariasi sesuai stadium perkembangan


katarak. Seiring bertambahnya usia, secara alami akan terjadi proliferasi serat-
serat lensa dari arah korteks ke arah nuklear yang pada akhirnya akan
menimbulkan kekeruhan lensa, belum lagi jika ditambah edema lensa akibat
proses osmotik yang biasanya terjadi pada penyakit diabetes mellitus. Komposisi
lensa sebagian besar berupa air dan protein yaitu kristalin. Kristalin α dan β
adalah chaperon, yang merupakan heat shock protein yang berguna untuk
menjaga keadaan normal dan mempertahankan molekul protein agar tetap inaktif
sehingga lensa tetap jernih. Lensa orang dewasa tidak dapat lagi mensintesis
kristalin untuk menggantikan kristalin yang rusak, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya kekeruhan lensa.

Karena mengganggu kualitas hidup, katarak yang telah mencapai stadium


matur harus dilakukan operasi pengangkatan dan pergantian lensa. Operasi
ekstraksi lensa pada katarak memiliki beberapa tujuan yaitu perbaikan visus,
terapi (apabila ada komplikasi katarak, seperti glaukoma), diagnostik, atau
kosmetik. Persiapan operasi katarak meliputi persiapan kesiapan kondisi fisiologis
pasien untuk dilakukan pembedahan, dengan melakukan konsultasi pada sejawat
penyakit dalam dan anestesi (disertai dengan pemeriksaan penunjang seperti
laboratorium darah dan ronsen thoraks), untuk menilai kelayakan pasien. Selain
itu dilakukan pemeriksaan biometri untuk menentukan antara lain kurvatura
kornea, axial length, white-to-white measurements, dalam hal ini untuk membantu
penentuan kekuatan IOL (intraocular lens) yang akan digunakan. B-scan
ultrasonography juga dilakukan sebelum operasi untuk menilai kelainan segmen
posterior bola mata, terutama pada kasus-kasus dengan kekeruhan media refraksi
seperti katarak.

Terdapat beberapa metode operasi katarak yang telah dikenal, di antaranya


adalah ICCE (Intracapsular Cataract Extraction), ECCE konvensional
(Extracapsular Cataract Extraction), SICS (Small Incision Cataract Surgery) dan
phacoemulsification. Di kasus ini telah dilakukan ECCE dengan IOL. ECCE
dilakukan dengan cara mengekstraksi hampir keseluruhan dari lensa yang
mengalami kekeruhan sembari meninggalkan kapsul lensa posterior elastik
sebagai tempat peletakkan IOL nantinya. ECCE dilakukan dengan insisi yang
lebih besar dari SICS ataupun phaco, sebesar 10-12 mm pada kornea atau sklera
untuk mengekspos lensa dan mengambilnya. IOL yang digunakan disesuaikan
kekuatannya dengan data yang telah didapat sebelumnya. Setelah dilakukan
operasi katarak, pasien dirawat terlebih dahulu untuk memantau komplikasi yang
dapat terjadi. Pasien post-operasi biasa akan mengalami reaksi peradangan akut
yang menimbulkan hiperemis dan kemosis konjungtiva serta edema kornea. Pada
pasien setelah dilakukan operasi, pemeriksaan status oftalmologis dextra didapatkan:

Edema kornea (+)  edema stroma atau epitelial dapat terjadi segera
setelah operasi katarak. Kombinasi dari trauma mekanik, waktu operasi yang
lama, radang, atau peningkatan TIO dapat menyebabkan edema kornea. Pada
umumnya, edema akan hilang dalam 4 sampai 6 minggu.

Edema kornea yang terjadi setelah operasi katarak disebut edema kornea
pseudophakic.

• Kornea terdiri dari lapisan jaringan yang membantu memfokuskan cahaya


pada bagian belakang mata untuk menghasilkan gambar yang jelas.

• Sepanjang permukaan bagian dalam kornea adalah lapisan sel yang


disebut endotelium.

• Tugasnya adalah memompa cairan apa pun yang terkumpul di dalam mata.

• Ketika sel-sel endotelium rusak, cairan dapat menumpuk dan


menyebabkan kornea membengkak serta penglihatan kabur.

Namun, terdapat komplikasi yang paling ditakutkan dan berbahaya pada


pasien post-operasi katarak, yaitu endoftalmitis. Endoftalmitis adalah sebuah
diagnosis klinis yang dibuat ketika terdapat inflamasi intraokular yang melibatkan
baik ruang posterior dan anterior mata yang berhubungan dengan infeksi bakteri
dan jamur. Endoftalmitis terbagi atas endogen dan eksogen, pada endoftalmitis
endogen dapat terjadi akibat penyebaran bakteri maupun jamur yang berasal dari
fokus infeksi di dalam tubuh terjadi sekitar 2-8%, sedangkan endoftalmitis
eksogen sering terjadi oleh karena trauma pada bola mata (20%) atau pasca
operasi intraokular (62%). Endofaltmitis dapat diklasifikasikan menjadi
endoftalmitis akut (terjadi pada hari 1 sampai hari 42/6 minggu pasca operasi);
dan endoftalmitis kronis (lebih dari 6 minggu pasca operasi hingga sekitar 2
tahun). Adanya kemungkinan endoftalmitis kronis inilah yang membuat pasien
post-op katarak harus tetap kontrol hingga 6 minggu pasca-operasi dan pada
waktu yang ditentukan setelahnya. Diagnosis endoftalmitis berdasarkan kondisi
klinis ini biasanya ditandai dengan edema palpebra, kongesti konjungtiva, dan
hipopion. Visus menurun bahkan dapat menjadi hilang. Terapi yang diberikan
setelah operasi adalah levofloxacin ED, prednison ED, ciprofloxacin oral dan
asam mefenamat oral. Terapi antibiotika topikal dan oral dipilih dari golongan
florokuinolon yang memiliki cakupan spektrum gram positif dan negatif yang
baik dan penetrasi yang baik di bola mata. Pencegahan perioperatif terhadap
endoftalmitis sangat menentukan prognosis akhir dari pasien post-operasi katarak.
Prednison ED diberikan untuk mengurangi peradangan dan asam mefenamat
diberikan sebagai agen anti nyeri. Edukasi mengenai apa yang boleh dilakukan
dan apa yang harus dihindari pada pasien post-operasi katarak menjadi penting
untuk mendukung pemulihan pasca operasi. Pasien dilarang untuk menunduk atau
mengangkat beban berat, serta menghindari batuk dan mengedan, karena
peningkatan tekanan bola mata yang ditimbulkan kemungkinan dapat
mempengaruhi luka operasi yang sedang menyembuh. Kontrol rutin sesuai
dengan jadwal menjadi penting dan harus terus ditekankan pada pasien setelah
pemulangan dari rawat inap.