Anda di halaman 1dari 7

KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI

KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL


AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cakupan wilayah yang sangat
luas yang terdiri dari ribuan gugusan kepulauan, dimana berdasarkan data dari
Kementrian Dalam Negeri Indonesia memiliki luas wilayah mencapai
±1.913.578,68 km2. Indonesia juga dianugerahi dengan iklim tropis dengan sinar
matahari dan curah hujan yang cukup sehingga menjadikan kondisi tanah di
Indonesia subur yang mendukung berbagai jenis tanaman untuk tumbuh dengan
baik.Salah satu jenis tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik di wilayah
Indonesia yakni tanaman tembakau.
Tanaman tembakau merupakan salah satu komoditi yang sejak dulu hingga
saat ini menjadi primadona di Indonesia karena banyaknya permintaan daun
tembakau dari berbagai perusahaan rokok di Indonesia untuk dijadikan berbagai
jenis rokok. Berdasarkan data dari Tobacco Control Suppport Center-Ikatan Ahli
Kesehatan Masyarakat Indonesia (TCSC-IAKMI) pada tahun 2013 Indonesia
termasuk negara ke enam dengan jumlah produksi daun tembakau sebesar 136
ribu ton atau sekitar 1,91% dari total produksi tembakau dunia.
Tanaman tembakau mengandung berbagai macam zat-zat kimia berbahaya
yang dapat mengancam kesehatan petani tembakau, salah satunya adalah nikotin
yang merupakan alkaloid yang secara alami ditemukan pada tumbuhan tembakau
dan dapat masuk ke tubuh petani melalui kontak langsung dengan daun tembakau
pada saat panen, terlebih lagi jika petani tidak menggunakan alat pelindung diri
seperti sarung tangan dan baju pelindung untuk menghindari kontak langsung
dengan daun tembakau maka jumlah nikotin yang masuk ke tubuh petani akan
lebih banyak dibandingkan dengan petani tembakau yang menggunakan alat
pelindung diri. Paparan nikotin pada saat panen daun tembakau dapat
menimbulkan penyakit yang disebut dengan Green Tobacco Sickness (GTS)
(Curwin, et al. 2005).

1
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 2
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Green Tobacco Sickness (GTS) merupakan penyakit yang disebabkan


karena terjadi kontak dengan permukaan daun tembakau sehingga terjadi
penyerapan nikotin melalui kulit pada petani yang mengolah dan memanen
tembakau. Angka kesakitan penyakit GTS hampir seperempat dari petani
tembakau yang ada dimana timbul gejala-gejala yang khas seperti mual, muntah,
sakit kepala, pusing, kram perut, kesulitan bernapas, suhu tubuh tidak normal,
pucat, menggigil, fluktuasi tekanan darah atau denyut jantung, serta peningkatan
air iur (Saleeon, et al. 2015).
Green Tobacco Sickness (GTS) adalah salah satu penyakit akibat kerja yang
disebabkan karena paparan nikotin yang terjadi ketika penanganan daun tembakau
pada saat panen yang menyebabkan keracunan nikotin pada petani tembakau.
Risiko keracunan nikotin pada petani tembakau dapat menjadi tinggi ketika daun
tembakau yang dipanen dalam keadaan basah karena hujan, embun, ataupun
keringat sehingga meningkatkan resiko terjadinya kontak antara nikotin dengan
kulit sehingga masuk ke aliran darah petani dengan mudahnya (Osha-Niosh,
2015).
Kejadian Green Tobacco Sickness (GTS) pada petani tembakau telah
ditemukan di beberapa negara di dunia seperti di Amerika, Jepang, India, Italia,
serta di beberapa negara lainnya dan bahkan di Brazil pada tahun 2014 telah
terjadi Outbreak GTS, dan berdasarkan penelitian ditemukan bahwa prevalensinya
cukup tinggi yakni berkisar antara 8,2% dan 47% sejak masa tanam tembakau
(Fassa, A. et al, 2014). Penelitian Arcury, et al. (2005) di negara bagian Carolina,
Amerika Serikat, menyebutkan 18,4% dari 304 petani tembakau positif terkena
GTS dengan adanya gejala gatal-gatal dan adanya luka di kulit. Sedangkan faktor
yang berhubungan dengan terjadinya GTS antara lain kelompok umur, lama
bertani tembakau dan kegiatan yang dilakukan di lahan tembakau.
Di Indonesia penelitian mengenai GTS telah dilakukan di beberapa daerah
seperti penelitian yang dilakukan oleh Rokhma, et al. (2014) menunjukkan bahwa
Terdapat 66,3% petani tembakau yang mengalami gejala GTS. Sebagian besar
petani tembakau memiliki pengetahuan tentang Gejala GTS yang rendah (96,6%),
serta memiliki tindakan pencegahan GTS yang kurang baik (86,5%).
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 3
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Pengetahuan dan tindakan petani tembakau yang masih rendah tersebut


dapat terlihat dari ketidaktahuan petani mengenai penyakit GTS serta faktor
risikonya dan hal ini terjadi karena petani belum mendapat informasi tentang
faktor risikonya serta seperti apa penyakit GTS tersebut ditambah dengan sikap
petani tembakau yang sangat jarang menggunakan alat pelindung diri saat bekerja
sehingga tindakan pencegahan penyakit GTS menjadi kurang baik.
Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Suprapto (2005) pada petani
tembakau di Kabupaten Temanggung menyebutkan bahwa tingkat insidensi GTS
mencapai 63,7% dengan gejala yang ditemukan adalah pusing, sakit kepala serta
kelelahan. Sedangkan faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya GTS antara
lain pengalaman kerja, letak daun yang dipetik, serta penggunaan alat pelindung.
Kabupaten Bantul merupakan salah satu Kabupaten dari 5 Kabupaten atau
Kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten Bantul terdiri
dari 17 Kecamatan, yaitu Kecamatan Srandakan, Sanden, Kretek, Pundong,
Bambanglipuro, Pandak, Bantul, Jetis, Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan,
Banguntapan, Sewon, Kasihan, Pajangan dan Sedayu (BPS Bantul, 2014).
Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah penghasil tembakau di
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2013 jumlah petani tembakau
di Kabupaten Bantul mencapai 1.006 dengan luas area 205 Hektar dan produksi
tembakau sebesar 115 ton (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2014). Curah hujan di
Kabupaten Bantul juga tergolong cukup tinggi pada tahun 2013 mencapai 907
mm dengan jumlah hari hujan 29 hari (BPS Bantul, 2014). Data mengenai curah
hujan menjadi penting mengingat bahwa kejadian penyakit GTS disebabkan
karena petani bekerja di lahan tembakau yang basah karena air hujan atau embun
di pagi hari sehingga resiko mendapatkan penyakit GTS lebih tinggi karena daun
tembakau yang basah.
Petani tembakau di Kabupaten Bantul berisiko terkena penyakit akibat kerja
yang berhubungan dengan paparan nikotin dari daun tembakau basah yang masuk
melalui kulit yang diperparah dengan perilaku petani tembakau yang jarang
menggunakan alat pelindung diri serta kurang memperhatikan kebersihan dirinya
setelah melakukan aktivitas dari lahan tembakau.
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 4
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Berdasarkan data hasil penelitian maupun referensi yang ada menunjukkan


bahwa insiden kejadian GTS pada petani tembakau cukup tinggi. Di sisi lain,
penelitian terkait penyakit GTS ini masih kurang dan penelitian yang ada sudah
cukup lama, di Kabupaten Bantul sendiri sampai saat ini peneliti belum
menemukan penelitian mengenai GTS di Kabupaten Bantul dan rata-rata pekerja
petani tembakau tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan atau
baju pelindung ketika melakukan panen sehingga dapat meningkatkan resiko
terkena GTS, oleh karena itu peneliti tetarik untuk melakukan penelitian mengenai
penyakit GTS di Kabupaten Sleman dengan Judul “Prevalensi Kasus Green
Tobacco Sickness diantara Pekerja Petani Tembakau di Kecamatan Imogiri,
Bantul”. Penelitian ini akan menganalisis prevalensi kasus GTS serta faktor-faktor
risiko yang mempengaruhi terjadinya penyakit GTS pada petani tembakau, yang
meliputi penggunaan alat pelindung diri, jenis kelamin, tingkat pendidikan, durasi
kerja serta masa kerja dari petani tembakau di Imogiri, Bantul.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
selanjutnya perumusan masalah dalam penelitian ini diajukan dengan pertanyaan
penelitian yaitu “Berapa prevalensi kasus Green Tobacco Sickness diantara
pekerja petani tembakau di Imogiri, Bantul, serta faktor-faktor risiko apa saja
yang berhubungan dengan terjadinya Green Tobacco Sickness?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui prevalensi kasus GTS pada petani tembakau dan faktor risiko
yang berhubungan dengan terjadinya Green Tobacco Sickness diantara pekerja
petani tembakau di Imogiri, Bantul.
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 5
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui prevalensi Green Tobacco Sickness diantara pekerja petani
tembakau di Imogiri, Bantul .
b. Mengetahui hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian Green
Tobacco Sickness pada petani tembakau di Imogiri, Bantul.
c. Mengetahui hubungan antara pendidikan dengan kejadian Green Tobacco
Sickness pada petani tembakau di Imogiri, Bantul.
d. Mengetahui hubungan antara durasi kerja dengan kejadian Green Tobacco
Sickness pada petani tembakau di Imogiri, Bantul.
e. Mengetahui hubungan antara masa kerja dengan kejadian Green Tobacco
Sickness pada petani tembakau di Imogiri, Bantul.
f. Mengetahui hubungan antara faktor Penggunaan Alat Pelindung Diri
dengan kejadian Green Tobacco Sickness pada petani tembakau di
Imogiri, Bantul.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam
penerapan ilmu yang sudah didapatkan selama menempuh pendidikan di
Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada khususnya
mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
2. Bagi Pekerja dapat memberikan informasi yang dapat menambah
pengetahuan pekerja agar dapat mencegah terjadinya penyakit akibat kerja.
3. Bagi Dinas Kesehatan dapat memberikan masukan kepada dinas kesehatan
serta instansi terkait lainnya untuk dapat meningkatkan progam
penyuluhan mengenai penyakit akibat agar dapat mencegah terjadinya
penyakit akibat kerja secara dini.
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 6
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

E. Keaslian Penelitian
Setelah membaca dan membandingkan dengan penelitian–penelitian
sebelumnya terdapat beberapa perbedaan dan persamaan antara penelitian yang
akan saya lakukan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Suprapto (2005) mengenai Insiden dan
Faktor Risiko Green Tobacco Sickness (GTS) pada Petani Pemetik Daun
Tembakau di Desa Bansari Kecamatan Parakan, Kabupaten
Temanggung. Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui
insiden, keluhan yang sering timbul, serta resiko Green Tobacco
Sickness(GTS) yang diderita oleh pemetik tembakau yang kontak dengan
daun tembakau basah dan segar, dilakukan penelitian Prospektif
Sederhana terhadap pemetik daun tembakau di desa Bansari
pergunungan Sindoro, Kecamatan Parakau, Kabupaten Temanggung,
Jawa Tengah. Perbedaan dari penelitian ini adalah faktor resiko yang
diteliti serta prosedur penelitian yang menggunakan uji nikotin pada urin
petani tembakau.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Rokhma, et al. pada tahun 2014
mengenai Analisis Faktor Risiko Green Tobacco Sickness (GTS) dan
Metode Penanganannya Pada Petani Tembakau di Kabupaten Jember.
Tujuan dari penelitian ini Menganalisis faktor risiko terjadinya penyakit
GTS pada petani leetembakau meliputi: faktor karakteristik individu
maupun faktor perilaku (pengetahuan, sikap, tindakan terkait GTS).
Penelitian ini menggunakan pendekatan analitik dengan metode survei
dan menggunakan rancangan cross sectional. Perbedaan dari penelitian
ini adalah faktor resiko yang diteliti serta prosedur penelitian yang
menggunakan uji nikotin pada urin petani tembakau.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Saleeon, et al. pada tahun 2015 mengenai
Green Tobacco Sickness (GTS) pada petani tembakau tardisional di
Thailand. Tujuan pada penelitian ini ntuk mengetahui prevalensi GTS
dan faktor risiko yang berhubungan dengan GTS pada petani tembakau
tradisional di Propinsi nan, Thailand.
KASUS GREEN TOBACCO SICKNESS (GTS) DIANTARA PEKERJA PETANI TEMBAKAU DI
KECAMATAN IMOGIRI, BANTUL 7
AKMAL DWIYANA KAU
Universitas Gadjah Mada, 2017 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode survey dengan


menggunakan rancangan cross sectional dan menggunakan kuisioner
untuk mengetahui gejala GTS pada petani tembakau tradisional di
Thailand. Perbedaan dari penelitian ini adalah faktor resiko yang diteliti
serta prosedur penelitian yang menggunakan uji nikotin pada urin petani
tembakau.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Fassa, et al. pada tahun 2014 mengenai
Green Tobacco Sickness (GTS) pada petani tembakau di Brazil.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi Green Tobacco
Sickness (GTS) di Negara Brazil. Penelitian ini menggunakan
pendekatan metode survey dengan menggunakan rancangan cross
sectional dan sampelnya merupakan petani tembakau di Brazil yang
dideskripsikan berdasarkan sosial-demografi, sikap dan variabel
pekerjaan serta jenis kelamin yang dianalisis secara multivariate untuk
menguji variabel yang berhubungan dengan GTS. Perbedaan dari
penelitian ini adalah faktor resiko yang diteliti serta prosedur penelitian
yang menggunakan uji nikotin pada urin petani tembakau.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Arcury, et al. pada tahun 2001 mengenai
Insidensi dan Prevalensi Green Tobacco Sickness (GTS) pada petani
tembakau di Amerika. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian
prospective cohort dan respondennya merupakan petani migran dan
petani tembakau musiman di Amerika yang diikuti selama awal musim
tanam tembakau, pertengahan musim hingga akhir musim tembakau.
Variabel yang diteliti dalam penelitian Arcury, et al. (2001) yaitu bekerja
tanpa menggunakan pakaian, BMI, menggunakan jas hujan, mengganti
pakaian yang basah, bekerja dengan menggunakan pakaian basah,
konsumsi alkohol, penggunaan tembakau dan tinggal dengan perokok.
Perbedaan dari penelitian ini adalah faktor resiko yang diteliti serta
prosedur penelitian yang menggunakan uji nikotin pada urin petani
tembakau.