Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH KELOMPOK

KIMIA FISIKA 3
PRINSIP KETIDAKPASTIAN HEISENBERG
(Season 1)

Oleh

Kelompok 15

Anggota : 1. Anisa Wiranda (1305841)


2. Mela Ramadhani (1305812)
Prodi : Pendidikan Kimia RM

Jurusan : Kimia
Dosen : 1. Dr. Rahadian Z., S. Pd., M. Si.
2. Fajriah Azra, M. Si.

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2015
PRINSIP KETIDAKPASTIAN HEISENBERG

Dalam dunia fisika yang banyak berhubungan dengan partikel-partikel berukuran besar,
nilai konstanta Planck (h) dapat diabaikan karena kecil. Tetapi dalam dunia atom, h nilainya
cukup besar sehingga tidak dapat diabaikan. Salah satu prinsip dasar fisika klasik menyatakan
bahwa posisi dan momentum suatu partikel dapat ditentukan secara bersamaan secara pasti,
tetapi menurut Heisenberg posisi dan momentum tidak dapat ditentukan secara bersamaan
jika partikel memiliki sifat-sifat gelombang.
Bila elektron pada tingkat energi terendah mempunyai tingkat energi yang sama dengan
nol, maka kecepatannya juga harus nol, yang berarti momentumnya (mv) juga bernilai nol.
Maka, baik posisi maupun momentum elektron dapat diketahui. Menurut prinsip
ketidakpastian Heisenberg (1972) hal tersebut tidak benar, Heisenberg menyatakan bahwa
tidak mungkin mengukur posisi dan momentum sebuah partikel secara pasti pada waktu
bersamaan. Jika posisi partikel diketahui dengan pasti; maka momentum partikel tidak dapat
ditentukan dengan pasti, demikian pula sebaliknya.
Misalnya adalah bahwa ketika Anda melemparkan bola, terutama bola yang berat pada
benda seperti bangku, maka bola mungkin menabrak beberapa benda dalam ruangan, tetapi
walaupun demikian masih terdapat momentum yang cukup sehingga bola tersebut kembali.
Anda dapat mengatakan dimana benda lain yang tertabrak, bukan dimana benda tersebut
sekarang. Selain itu anda dapat menghitung velositas benda yang anda lempar dengan bola,
tetapi Anda tidak tahu kecepatannya sebelum anda lempar dengan bola.
Ini adalah masalah yang diungkapkan oleh Prinsip Ketidakpastian Heisenberg. Untuk
mengetahui kecepatan maka kita harus mengukurnya, dan untuk melakukan pengukuran, kita
dipaksa untuk mempengaruhinya. Hal yang sama berlaku untuk mengamati posisi obyek.
Ketidakpastian tentang posisi suatu objek dan kecepatan membuat sulit bagi fisikawan untuk
menentukan banyak hal tentang objek.
Secara matematik prinsip ketidakpastian Heisenberg dapat ditulis:

= posisi partikel
= momentum partikel
= konstanta Planck
= ketidakpastian dari ...
Bersamaan persamaan diatas, dijelaskan bahwa apabila posisi sebuah partikel dapat
diukur dengan tepat , maka ketepatan dalam mengukur momentum partikel tersebut pada
waktu yang sama tidak dapat melebihi Nilai sangat kecil, nilai ini akan menjadi
penting, bila pengukuran dilakukan terhadap partikel-partikel kecil sepertielektron misalnya.
Untuk partikel berukuran besar, nilai (ketidakpastian) dapat diabaikan.

a. Rumusan Umum Ketidakpastian Heisenberg


Kenyataan bahwa sebuah partikel bergerak harus dipandang sebagai group gelombang
de Broglie dalam kedaan tertentu alih – alih sebagai suatu kuantitas yang terlokalisasi
menimbulakan batas dasar pada ketetapan pengukuran sifat partikel yang dapat diukur
misalnya kedudukan momentum.
Untuk menjelaskan faktor apa yang terlibat, marilah kita meninjau group gelombang
dalam gambar 2.3 berikut

Partikel yang bersesuaian dengan grup gelombang ini dapat diperoleh dalam selang
grup tersebut pada waktu tertentu. Tentu saja kerapatan peluang |  |2 maksimum pada
tengah – tengah grup, sehingga patikel tersebut mempunyai peluang terbesar untuk
didapatkan di daerah tersebut. Namun, kita tetap mempunyai kemungkinan untuk
mendapatkan partikel pada suatu tempat jika |  |2 tidak nol.
Lebih sempit grup gelombang itu, lebih teliti kedudukan partikel itu dapat ditentukan
(Gambar 2.4a).
Namun, panjang gelombang pada paket yang sempit tidak terdefinisikan dengan baik; tidak
cukup banyak gelombang untuk menetapkan  dengan tepat. Ini berarti bahwa karena
, maka momentum mv bukan merupakan kuantitas yang dapat diukur secara tepat.

Jika melakukan sederetan pengukuran momentum, akan diperoleh momentum dengan


kisaran yang cukup lebar.
Sebaliknya, grup gelombang yang lebar seperti pada gambar 2.4b memiliki panjang
gelombang yang terdefinisikan dengan baik. Momentum yang bersesuaian dengan panjang
gelombang ini menjadi kuantitas yang dapat ditentukan dengan teliti, dan sederetan
pengukuran momentum akan menghasil-kan kisaran yang sempit. Akan tetapi di manakah
kedudukan partikel tersebut? Lebar grup gelombang tersebut menjadi terlalu besar untuk
menentukan kedudukan pada suatu waktu.
Jadi kita sampai pada prinsip ketidakpastian : Tidak mungkin kita mengetahui
keduanya yaitu kedudukan dan momentum suatu benda secara seksama pada saat
yang bersamaan. Prinsip ini dikemukakan oleh Werner Heisenberg pada tahun 1927, dan
merupakan salah satu hukum fisis yang memegang peranan penting.
Persoalan berikutnya adalah mencari suatu besaran yang mampu menampung dan
mempresentasikan sifat – sifat partikel sekaligus sifat – sifat gelombang. Dengan demikian
kuantitas tersebut harus bersifat sebagai gelombang tetapi tidak menyebar melainkan
terkurung di dalam ruang. Hal ini dipenuhi oleh paket gelombang yang merupakan
kumpulan gelombang dan terkurung dalam ruang tertentu. Analisis yang formal
mendukung kesimpulan tersebut dan membuat kita mampu untuk menyatakannya secara
kuantitatif. Contoh yang paling sederhana dari pembentukan grup gelombang, perhatikan
kombinasi dari dua gelombang bidang berikut :
 1 x,t   Acos1t  k1 x
 2 x,t   Acos2t  k 2 x (2.3)
Prinsip superposisi memberikan
 x,t   1  x,t   2 x,t
 1  2   k1  k2    (2.4)
 A cos 
t  

R   

 x 
 2   2  
Dengan amplitudo AR

 1  2 
A  2Acos   k1  k2  
  x

R 
 t

  
 2   2  

Dalam bentuk grafik,


Bila gelombang tunggalnya diperbanyak,

Tampak dari gambar 2.6 bahwa paket gelombang terlokalisasi di daerah yang sebesar x
dan lokalisasi ini yang diharapkan sebagai posisi partikel klasik.

Setelah mendapatkan barang yang dapat menyatakan partikel sekaligus gelombang


berikutnya harus dicari perumusan matematisnya. Formalisme matematis untuk paket
gelombang yang terlokalisasi tersebut tidak lain adalah transformasi Fourier.

Sebagai contoh, jika distribusi gelombang dengan vektor gelombang k, g(k), diberikan
seperti gambar.
Maka distribusi gelombang di dalam ruang koordinat f(x),

Grafiknya,

Dari uraian contoh dan gambar transformasi Fourier di atas, diperoleh hubungan
antara x dan k (atau p). Hubungan antara x dan k bergantung pada bentuk paket
gelombang dan bergantung pada k, x didefinisikan. Perkalian (x) (k) akan minimum
jika paket gelombang berbentuk fungsi Gaussian, dalam hal ini ternyata transformasi
Fouriernya juga merupakan fungsi Gaussian juga. Jika x dan k diambil deviasi standar
dari fungsi (x) dan g(k), maka harga minimum x k = ½. Karena pada umumnya paket
gelombang tidak memiliki bentuk Gaussian (bentuk lonceng), maka lebih realistis jika
hubungan antara x dan k dinyatakan sebagai berikut :
1
xk  (2.7)
2

Panjang gelombang de Broglie untuk sebuah partikel bermomentum p adalah :

h

p

Bilangan gelombang yang bersesuaian dengannya adalah :

2 2 p
k 
 h

Oleh karena itu, suatu ketidakpastian k dalam jumlah gelombang pada gelombang de
Broglie berhubugan dengan hasil – hasil partikel dalam suatu ketidakpastian p dalam
momentum partikel menurut Persamaan
hk
p 
2


Karena

xk  12 , k  1
2x
Dan
h 
xp  (prinsip ketidakpastian)
4
Persamaan ini menyatakan bahwa hasil kali ketidakpastian kedudukan benda x pada
suatu saat danketidakpastian komponen momentum dalam arah x yaitu p pada saat yang
sama lebih besar atausama dengan h / 4π. Kita tidak mungkin menentukan secara serentak
kedudukan dan momentum suatubenda. Jika diatur supaya x kecil yang bersesuaian
dengan paket gelombang yang sempit, maka pakan menjadi besar. Sebaliknya, p
direduksi dengan suatu cara tertentu, maka paket gelombangnyaakan melebar dan x
menjadi besar.
Ketidakpastian ini bukan ditimbulkan oleh alat yang kurang baik tetapi ditimbulkan
oleh sifat ketidakpastian alamiah dari kuantitas yang terkait. Setiap ketidakpastian
instrumental atau statistik hanya akan menambah besar hasil kali x p. Karena kita tidak
mengetahui secara tepat apa partikel itu atau bagaimana momentumnya, kita tidak dapat
menyatakan apapun dengan pasti – bagaimana kedudukan partikel itu kelak dan seberapa
cepat partikel tadi bergerak. Jadi, “ kita tidak dapat mengetahui masa depan karena kita
tidak mengetahui masa kin. ”
Kuantitas h/2π sering muncul dalam fisika modern, karena ternyata kuantitas itu
merupakan satuan dasar dari momentum sudut. Kuantitas ini sering disingkat dengan “ ħ
(baca ; h bar)” :
h
h  1,05 1034 J.s
2

Selanjutnya, dalam buku ini kita akan memakai ħ sebagai pengganti h/2π. Dinyatakan
dalam ħ, prinsip ketidakpastian menjadi :
h
xp  (2.9)
2

Contoh Perhitungan

Bila perkiraan ketidakpastian posisi:

a. Sebuah peluru bermassa 10 g adalah mm.


b. Sebuah elektron yang diketahui posisinya adalah A
Hitung ketidakpastian (minimum) dalam menentukan kecepatan kedua partikel tersebut di
atas.

Berdasarkan persamaan , maka :


a. = 0.01 mm = 0.001 cm
Momentum p = mv, jadi =
= 10 g
= 6,626 x 10-27 erg det (1 erg = 1 g cm2 det-2)
Dengan mengubah bentuk persamaan diatas akan diperoleh :

Ketidakpastian kecepatan ( ) sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

b. = 1 x 10-8cm
= 9,11 x 10-28g
= 6,626 x 10-27erg det

Ketidakpastian kecepatan elektron cukup besar, mendekati nilai kecepatan cahaya


pada ruang hampa. Dengan kata lain, tidak mungkin untuk menentukan posisi elektron di
sekitar inti atom secara pasti. Menunjukkan bahwa teori Bohr yang menyatakan bahwa
elektron bergerak pada orbit tertentu dan dengan kecepatan diketahui adalah tidak benar.

Sumber:

Bird, Tony. 1993. Kimia Fisik Untuk Universitas. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ributhermanto. 2010. Asas Ketidakpastian Heisenberg dan persamaan Schrodinger. Pages:


1-8.

http://www.tipsmu-tipsku.com/2011/10/prinsip-ketidakpastian-heisenberg.html