Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA

PASIEN DENGAN ALL (ACUTE LEUKIMIA LYMPHOBLASTIC)

A. Konsep Dasar
1. Definisi

Leukimia adalah keganasan yang berasal dari sel-sel induk system hematopoietick
yang mengakibatkan ploriferasi sel-sel darah putih tidak terkontrol dan pada sel-sel darah
merah namun sangat jarang (Gale, 2005). Sehingga terjadi ekspansi progresif dari
kelompok sel ganas tersebut dalam sumsum tulang belakang, kemudian sel leukemia
beredar secara sistemik dan mempengaruhi produksi dari sel-sel darah normal lainnya
(Bakta, 2012).
Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) adalah penyakit yang berkaitan dengan sel
jaringan tubuh yang tumbuhnya melebihi dan berubah menjadi ganas tidak normal serta
bersifat ganas, yaitu sel-sel sangat muda yang serharusnya membentuk limfosit berubah
menjadi ganas.
Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) adalah proliferasi maligna / ganas
limphoblast dalam sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat
bersifat sistemik. (Ngastiyah, 1997; Smeltzer & Bare, 2002; Tucker, 1997; Reeves &
Lockart, 2002).
Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) merupakan tipe leukemia paling sering terjadi
pada anak-anak. Penyakit ini juga terdapat pada dewasa yang terutama telah berumur 65
tahun atau lebih. Leukemia limfositik akut dapat berakibat fatal karena sel-sel yang
dalam keadaan normal akan berkembang menjadi limfosit, pada ALL berubah menjadi
ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang.
Intinya, leukemia limfositik akut merupakan proliferasi maligna/ganas limphoblast dalam
sumsum tulang yang disebabkan oleh sel inti tunggal yang dapat bersifat sistemik.

2. Epidemiologi
Insidensi ALL adalah 1/60.000 orang per tahun dengan 75 % berusia  15 tahun,
insidensi puncaknya usia 3 – 5 tahun. ALL lebih banyak di temukan pada pria dari pada
perempuan. Saudara kandung dari pasien ALL mempunyai resiko 4 kali lebih besar untuk
berkembang menjadi, ALL, sedangkan kembar monozigot dari pasien ALL mempunyai
resiko 20% untuk berkembang menjadi ALL.

3. Etiologi
Penyebab Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) sampai saat ini belum jelas, diduga
kemungkinan karena virus (virus onkogenik) dan faktor lain yang mungkin berperan,
yaitu:
1) Faktor Predisposisi
 Penyakit defisiensi imun tertentu, misalnya agannaglobulinemia; kelainan
kromosom, misalnya sindrom Down (risikonya 20 kali lipat populasi umumnya);
sindrom Bloom.
 Virus
Virus sebagai penyebab sampai sekarang masih terus diteliti. Sel leukemia
mempunyai enzim trankriptase (suatu enzim yang diperkirakan berasal dari virus).
Limfoma Burkitt, yang diduga disebabkan oleh virus EB, dapat berakhir dengan
leukemia
 Radiasi Ionisasi
Terdapat bukti yang menyongkong dugaan bahwa radiasi pada ibu selama
kehamilan dapat meningkatkan risiko pada janinnya. Baik dilingkungan kerja,
maupun pengobatan kanker sebelumnya. Terpapar zat-zat kimiawi seperti
benzene, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen anti neoplastik
 Herediter
Faktor herediter lebih sering pada saudara sekandung terutama pada kembar
monozigot
 Obat-obatan
Obat-obatan imunosupresif, obat karsiogenik seperti diethylstilbestrol.
2) Faktor lain
 Faktor eksogen seperti sinar X, sinar radioaktif, dan bahan kimia (benzol, arsen,
preparat sulfat), infeksi (virus dan bakteri
 Faktor endogen seperti ras
 Faktor konstitusi seperti kelainan kromosom, herediter ( kadang-kadang dijumpai
kasus leukemia pada kakak adik atau kembar satu telur.

4. Klasifikasi
1. Leukemia Lymphoblastik Akut (ALL)
ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-
anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak insiden usia 4 tahun,
setelah usia 15 tahun ALL jarang terjadi. Limfosit immatur berproliferasi dalam
sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.
Secara morfologik menurut FAB ALL dibagi menjadi tiga yaitu:
- L1 : ALL dengan sel limfoblas kecil-kecil dan merupakan 84% dari ALL.
- L2 : sel lebih besar, inti regular, kromatin bergumpal, nucleoli prominen dan
sitoplasma agak banyak. Merupakan 14% dari ALL
- L3 : ALL mirip dengan limfoma Burkitt, yaitu sitoplasma basofil dengan
banyak vakuola, hanya merupakan 1% dari ALL
2. Leukemia Nonlympgoblastic Akut (ANLL)
Secara morfo ogik yang umum dipakai adalah klasifikasi dari FAB:
- M0 : myeloblastic without differentiation
- 2M1: myeloblastic without maturation
- M2 : myeloblastic with maturation
- M3 : acute promyelocytic
- M4 : acute myelomonocytic
- M5: monocytic (Subtipe M5a dan Subtipe M5b)
- M6 : erythroleukimia
- M7 : acute megakaryocytic leukemia

5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik Akut Limfoblastik Leukimia (ALL) antara lain:
1) Pilek tak sembuh-sembuh
2) Pucat, lesu, mudah terstimulasi
3) Demam, anoreksia, mual, muntah
4) Berat badan menurun
5) Ptechiae, epistaksis, perdarahan gusi, memar tanpa sebab
6) Nyeri tulang dan persendian
7) Nyeri abdomen
8) Hepatosplenomegali, limfadenopati
9) Abnormalitas WBC
10) Nyeri kepala

6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan pada anak dengan Leukemia Limfositik
Akut adalah:
1. Pemeriksaan sumsum tulang Leukemia Limfositik Akut (BMP / Bone Marrow
Punction):
- Ditemukan sel blast yang berlebihan
- Peningkatan protein
2. Pemeriksaan Pemeriksaan darah tepi Leukemia Limfositik Akut
- Pansitopenia (anemia, lekopenia, trombositopneia)
- Peningkatan asam urat serum
- Peningkatan tembaga (Cu) serum
- Penurunan kadar Zink (Zn)
- Peningkatan leukosit dapat terjadi (20.000 – 200.000 / µl) tetapi dalam bentuk
sel blast / sel primitive
3. Biopsi Biopsi hati, limpa, ginjal, tulang untuk mengkaji keterlibatan / infiltrasi sel
kanker ke organ tersebut
4. Fotothorax untuk mengkaji keterlibatan mediastinum
5. Sitogenik : 50-60% dari pasien ALL dan AML mempunyai kelainan berupa:
- Kelainan Kelainan jumlah kromosom, seperti diploid (2n), haploid (2n-a),
hiperploid (2n+a)
- Bertambah atau hilangnya bagian kromosom (partial delection)
- Terdapat marker kromosom, yaitu elemen yang secara morfologis bukan
komponen kromosom normal dari bentuk yang sangat besar sampai yang
sangat kecil

7. Penatalaksanaan
1. Transfusi Transfusi darah, biasanya diberikan bila kadar Hb kurang dari 6 g%. Pada
trombositopenia yang berat dan perdarahan masif, dapat diberi-kan transfusi
trombosit dan bila terdapat tanda‑tanda DIC dapat dibe-rikan heparin.
2. Kortikosteroid (prednison, kortison, deksametason dan sebagainya). Setelah dicapai
remisi dosis dikurangi sedikit demi sedikit dan akhir-nya dihentikan.
3. Sitostatika. Selain sitostatika yang lama (6‑merkaptopurin atau 6‑mp, metotreksat
atau MTX) pada waktu ini dipakai pula yang baru dan lebih poten seperti vinkristin
(oncovin), rubidomisin (daunorubycine), sitosin, arabinosid, L‑asparaginase,
siklofosfamid atau CPA, adriami-sin dan sebagainya. Umumnya sitostatika diberikan
dalam kombinasi bersama‑sama dengan prednison. Pada pemberian obat‑obatan ini
sering terdapat akibat samping beru-pa alopesia, stomatitis, leukopenia, infeksi
sekunder atau kandidiagis. Hendaknya lebih berhaiti‑hati bila jumiah leukosit kurang
dari 2.000/mm3.
4. Infeksi sekunder dihindarkan (bila mungkin penderita diisolasi dalam kamar yang
suci hama).
5. Transplantasi sumsum tulang merupakan prosedur dimana sumsum tulang yang rusak
digantikan dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat
disebabkan oleh dosis tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu transplantasi
sumsum tulang juga berguna untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena
kanker.
8. Pathway
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN RETINOBLASTOMA

A. Data Fokus Pengkajian


1. Identitas Anak
a. Umur : ALL lebih sering terjadi pada umur kurang dari 5 tahun. Angka kejadian
tertinggi adalah pada umur 3 tahun.
b. Jenis kelamin : leukemia limpfositik akut paling sering terjadi pada laki-laki
dibandingkan perempuan.
2. Identitas Orangtua
a. Pendidikan
Pendidikan yang rendah pada orang tua mengakibatkan kurangnya pengetahuan
terhadapa penyakit anaknya.
b. Pekerjaan
Pekerjaan orang tua yang berhubungan dengan bahan kimia , radiasi sinar X , sinar
radioaktif, berpengaruh kepada anaknya. Selain itu sejauh mana orang tua
mempengaruhi pengobatan penyakit anaknya.
3. Riwayat Keluarga
Insiden ALL lebih tinggi berasal dari saudara kandung anak-anak yang terserang
terlebih pada kembar monozigot (identik).
4. Keluhan Utama
Nyeri sendi dan tulang sering terjadi, lemah , nafsu makan menurun, demam (jika
disertai infeksi) bisa juga disertai dengan sakit kepala, purpura, penurunan berat badan
dan sering ditemukan suatu yang abnormal. Kelelahan dan petekie berhubungan dengan
trombositopenia juga merupakan gejala-gejala umum terjadi
5. Riwayat Kehamilan atau Kelahiran
Saat hamil ibu sering mengkomsumsi makanan dengan bahan pengawet dan
penyedap rasa. Radiasi pada ibu selama kehamilan dapat meningkatkan resiko Saat hamil
ibu sering mengkomsumsi makanan dengan bahan pengawet dan penyedap rasa. Radiasi
pada ibu selama kehamilan dapat meningkatkan resiko pada janinnya. Lebih sering pada
saudara sekandung, terutama pada kembar.
6. Pola Latihan dan Aktivitas
Anak penderita ALL sering ditemukan mengalami penurunan kordinasi dalam
pergerakan, keluhan nyeri pada sendi atau tulang. Anak sering dalam keadaan umum
lemah, rewel, dan ketidakmampuan melaksnakan aktivitas rutin seperti berpakaian,
mandi, makan, toileting secara mandiri. Dari pemeriksaan fisik dedapatkan penurunan
tonus otot, kesadaran somnolence, keluhan jantung berdebar-debar (palpitasi), adanya
murmur, kulit pucat, membran mukosa pucat, penurunan fungsi saraf kranial dengan atau
disertai tanda-tanda perdarahan serebral.Anak mudah mengalami kelelahan serta sesak
saat beraktifitas ringan, dapat ditemukan adanya dyspnea, tachipnea, batuk, crackles,
ronchi dan penurunan suara nafas. Penderita ALL mudah mengalami perdarahan spontan
yang tak terkontrol dengan trauma minimal, gangguan visual akibat perdarahan retina, ,
demam, lebam, purpura, perdarahan gusi, epistaksis.
7. Pola Nurisi
Anak sering mengalami penurunan nafsu makan, anorexia, muntah, perubahan
sensasi rasa, penurunan berat badan dan gangguan menelan, serta pharingitis. Dari
pemerksaan fisik ditemukan adanya distensi abdomen, penurunan bowel sounds,
pembesaran limfa, pembesaran hepar akibat invasi sel-sel darah putih yang berproliferasi
secara abnormal, ikterus, stomatitis, ulserasi oal, dan adanya pmbesaran gusi (bisa
menjadi indikasi terhadap acute monolytic leukemia)

8. Pola Eliminasi
Anak kadang mengalami diare, penegangan pada perianal, nyeri abdomen, dan
ditemukan darah segar dan faeces berwarna ter, darah dalam urin, serta penurunan urin
output. Pada inspeksi didapatkan adanya abses perianal, serta adanya hematuria.

B. Pemeriksaan Diagnostik
 Count Blood Cells : indikasi normocytic, normochromic anemia
 Hemoglobin : bisa kurang dari 10 gr%
 Retikulosit : menurun/rendah
 Platelet count : sangat rendah (<50.000/mm)
 White Blood cells : > 50.000/cm dengan peningkatan immatur WBC (“kiri ke kanan”
 Serum/urin uric acid : meningkat
 Serum zinc : menurun
 Bone marrow biopsy : indikasi 60 – 90 % adalah blast sel dengan erythroid prekursor, sel
matur dan penurunan megakaryosit
 Rongent dada dan biopsi kelenjar limfa : menunjukkan tingkat kesulitan tertentu

C. Diagnosa Keperawatan
- Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perubahan maturitas sel darah merah,
peningkatan jumlah limfosit imatur, imunosupresi
- Resiko terhadap penurunan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran berlebihan
seperti muntah, perdarahan, diare, penurunan intake cairan
- Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfe,
efek sekunder pemberian anti leukemic agents
- Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sumber energi,
peningkatan laju metabolik akibat produksi lekosit yang berlebihan, ketidakseimbangan
suplai oksigen dengan kebutuhan

D. Rencana Keperawatan
1) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan perubahan maturitas sel darah merah,
peningkatan jumlah limfosit imatur, imunosupresi
Tujuan : setelah dilakukan tindakana keperawatan diharapkan tdak terjadi infeksi
Kriteria Hasil
Klien akan :
- Mengidentifikasi faktor resiko yang dapat dikurangi
- Menyebutkan tanda dan gejala dini infeksi
- Tidak ada tand infeksi
Intervensi Rasional
1) Lakukan tindakan untuk mencegah Kewaspadaan meminimalkan pemajanan
pemajanan pada sumber yang diketahui klien terhadap bakteri, virus, dan patogen
atau potensial terhadap infeksi : jamur baik endogen maupun eksogen
- Pertahankan isolasi protektif sesuai
kebijakan institusional
- Pertahankan teknik mencuci tangan
dengan cermat
- Beri hygiene yang baik
- Batasi pengunjung yang sedang
demam, flu atau infeksi
- Berikan hygiene perianal 2 x sehari
dan setiap BAB
- Batasi bunga segar dan sayur segar
- Gunakan protokol rawat mulut
- Rawat klien dengan neutropenik
terlebih dahulu

2) Laporkan bila ada perubahan tanda vital Perubahan tanda-tanda vital merupakan
tanda din terjadinya sepsis, utamanya bila
terjadi peningkatan suhu tubuh
3) Dapatkan kultur sputum, urine, diare, Kultur dapat mengkonfirmasikan infeksi
darah dan sekresi tubuh abnormal sesuai dan mengidentifikasi organisme penyebab
anjuran
4) Jelaskan alasan kewaspadaan dan Pengertian klien dapat memperbaiki
pantangan kepatuhan dan mengurangi faktor resiko
5) Yakinkan klien dan keluarganya bahwa Granulositopeniaa dapat menetap 6-12
peningkatan kerentanan pada infeksi minggu. Pengetian tentang sifat
hanya sementara sementara granulositopenia dapat
membantu mencegah kecemasan klien
dan keluarganya
6) Minimalkan prosedur invasif Prosedur tertentu dapat menyebabkan
trauma jaringan, menngkatkan kerentanan
infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Faten. 2010. Retinoblastoma Expression in Thyroid Neoplasms. The United States and
Canadian Academy of Pathology journal. Vol 13,562. Diakses 13 oktober 2011, dari
medline database.

Carpenito, Lynda Juall. 1995. Rencana Asuhan & dokumentasi keperawatan edisi 2.
Jakarta:EGC

Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta: EGC

Tomlinson, Deborah. 2006. Pediatric Oncology Nursing. Berlin: Springer

Voughan, Dale. 2000. Oftalmologi umum. Jakarta :widya medika.