Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum

Fisiologi Tumbuhan

POTENSIAL OSMOTIK DAN POTENSIAL


AIR JARINGAN TANAMAN

NAMA : ULFA FITRIANA


NIM : G011181097
KELAS : FISIOLOGI TANAMAN I
KELOMPOK : 27
ASISTEN : RESKI ANUGRAENI RAHMAN

DEPARTEMEN BUDIDAYA TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Potensial air merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi
tumbuhan. Potensial air adalah energi yang dimiliki air untuk bergerak untuk
mengadakan reaksi. Dengan kata lain, potensial air merupakan tingkat
kemampuan molekul-molekul air untuk melakukan difusi. Potensial kimia air
murni dinyatakan sebagai nol (merupakan konvensi), adanya beberapa substansi
yang terlarut didalam air tersebut akan menurunkan potensial airnya, sehingga
potensial air dari suatu larutan adalah kurang dari nol. Definisi ini hanya berlaku
pada tekanan atmosfer. Apabila tekanan di sekitar sistem ditingkatkan atau
diturunkan, maka secara otomatis potensial air akan naik atau turun sesuai dengan
perubahan tekanan tersebut (Advinda, 2018).
Potensial osmotik yaitu sifat larutan yang di ukur dengan tekanan osmosis
untuk mengukur jumlah air yang terkandung dalam suatu sel atau jaringan
tumbuhan. Potensial osmotik memungkinkan tekanan secara tepat keadaan air
dalam sel, dimana jika semakin rendah potensial osmotik dari suatu sel, maka
semakin besar kemampuan tanaman untuk menyerap air. Sebaliknya, semakin
tinggi potensial,maka semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan
cairan kepada sel yang memiliki kandungan air rendah (Advinda, 2018).
Jika sel tumbuhan di letakkan pada lingkungan hipertonik, maka tumbuhan
akan kehilangan air dan tekanan turgo, yang mengakibatkan sel tumbuhan layu
bahkan nantinya akan mati. Potensial air merupakan alat diaknosis yang
memungkinkan penentuan secara tepat keadaan status air dalam sel atau jaringan
tumbuhan. Semakin rendah potensial pada suatu sel atau jaringan tumbuhan maka
semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan air kepada sel. Yang
mempunyai kandungan air lebih rendah (Agustina,2015).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum ini untuk
memahami bagaimana potensial osmotik dan potensial air jaringan tanaman yang
terjadi pada tumbuhan serta proses apa saja yang mempengaruhinya.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami
fakta tentang potensial osmotik, dan hubungan antara potensial osmotik dengan
potensial air pada sel jaringan tanaman.
Kegunaan praktikum ini dimaksud agar mahasiswa setelah melakukan
kegiatan ini, diharapkan dapat; dapat mengetahui sera memahami fakta tentang
potensial osmotik, mampu mendeskripsikan potensial osmotik serta nilai apa saja
yang harus diketahui dalam menentykan potensial air sera nilai potensial air pada
jaringan tanaman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kentang
Tanaman kentang (Solanum Lycopersicum) adalah termasuk tanaman sayuran
yang berumur pendek. Saat ini kegunaan umbinya semakin banyak dan
mempunyai peran penting bagi perekonomian Indonesia. Kebutuhan kentang akan
meningkat akibat pertumbuhan jumlah oenduduk, juga akibat perubahan pola
konsumsi di beberapa Negara berkembang (Rukmana, 2007).
Kentang merupakan tanaman semusim yang memiliki potensi untuk diekspor
ke negara lain. Kentang pada umumnya dibudidayakan di daerah dataran tinggi
dengan kemiringan tertentu yang menimbulkan erosi dan tanah longsor. Upaya
dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari budidaya kentang pada
dataran tinggi di lahan yang miring yaitu dengan budidaya kentang dalam
Polybag. Polybag memiliki ketahanan bahan 2-3 tahun dengan warna hitam yang
memberikan suasana gelap didalam media dan dapat merangsang pertumbuhan
dan perkembangan akar tanaman.Cara budidaya kentang dengan penggemburan
tanah sehingga tanah akan mudah lepas. Oleh karena itu, perlu dilakukan
budidaya dalam Polybag sehingga tidak menyebabkan penggemburan tanah dan
peristiwa tanah longsor (Wasonowati, 2011 dalam Partiyani Hidayah, 2017).
Kentang untuk pengolahan biasanya disimpan pada suhu 4,5oC, tetapi dalam
hal ini kentang harus dikondisikan pada suhu 20oC selama 1-4 minggu sebelum
diproses. Kentang biasanya mempertahankan sifat-sifat baiknya untuk pengolahan
bila disimpan pada suhu 10oC atau lebih tinggi, tetapi tidak disarankan
menyimpan kentang pada suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar karena pada
suhu tersebut kentang cebderung bertunas. Kentang yang diperdagangkan dapat
disimpan pada suhu 5oC atau lebih rendah, tetapi hal itu dapat mengakibatkan
pembentukan konsentrasi gula reduksi yang berlebihan (Rodriguez, 2015).
Hasil utama tanaman kentang adalah umbi, bahan pangan yang kaya akan
vitamin danmineral. Komposisi utama umbi kentang terdiri dari 80% air, 18%
pati, dan 2% protein. Selain mineral, kalsium, fosfor, dan zat besi, umbi kentang
juga mengandung beberapa mineral lain, yaitu magnesium, kalium, natrium,
klorin, sulfur, tembaga, mangan, dan kobalt (Pitojo, 2004).
2.2 Potensial Osmotik
Potensial osmotik adalah sifat larutan yang diukur dengan tekanan osmosis
untuk mengukur jumlah air yang terkandung dalam suatu sel atau jaringan
tumbuhan. Potensial Osmotik memungkinkan penentuan secara tepat keadaan air
didalam sel, dimana jika semakin rendah potensial osmotik dari suatu sel, maka
semakin besar kemampuan tanaman untuk menyerap air. Sebaliknya, semakin
tinggi potensial, maka semakin besar kemampuan jaringan untuk memberikan
cairan kepada sel yang memiliki kandungan air rendah (Ismail, 2011).
Dalam proses osmosis, Potensial osmotic sangat berperan penting disamping
potensial air dan tekanan. Potensial osmotik merupakan potensial kimia yang
disebabkan adanya materi yang terlarut. Atau dengan kata lain kontribusi dan
potensial air pada zat terlarut disebut dengan potensial osmotik, yang selalu
bernilai negatif. Di lain pihak zatter larut merupakan potensial air dengan cara
larutnya zat tersebut di dalam air. Hal ini disebabkan karena pencampuran zat
terlarut dengan air dapat meningkatkan kekacauan dalam sistem, yang berakibat
menurunnya energy bebas. Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan
menurunkan nilai potensial osmotiknya. Sehingga potensial osmotic larutan
tersebut bernilai negatif karena air sebagai pelarut dalam larutan itu melakukan
kerja kurang dari air murni. Kaluar tekanan pada larutan meningkat, maka
kemampuan larutan untuk melakukan kerja juga meningkat (Advinda, 2018).
Di dalam sel, Potensial air memiliki dua komponen, yaitu potensial tekanan
dan potensial osmotik. Potensial tekanan dapat menambah dan mengurangi
potensial air, sedangkan potensial osmotik menunjukkan status larutan di dalam
sel tersebut. Dengan memasukkan suatu jaringan tumbuhan kedalam seri larutan
yang telah diketahui potensial airnya, maka potensial air jaringan tersebut dapat
diketahui. Potensial tekanan air dapat bernilai positif, negatif, bukan nol. Tetapi
secara umum nilai potensial air tekanan ini bernilai positif, karena setiap sel
tumbuhan memiliki tekanan turgo. Terkait dengan kemampuan air berasosiasi
dengan partikel koloid, makam muncullah istilah potensial matriks. Potensial
matriks bernilai kecil, sehingga seringkali diabaikan (Advinda, 2018).
2.3 Tekanan Osmotik Cairan sel
Secara luas, proses osmosis dapat diartikan sebagai perpindahan pelarut
melalui sebuah membran semipermeabel. Secara sederhana, osmosis dapat
diartikan sebagai proses difusi air sebagai pelarut, melewati sebuah membran
semipermeabel. Masuknya air ini dapat menyebabkan tekanan air yang disebut
tekanan osmotik. Pada sel tanaman disebut tekanan turgor (Ferdinand, 2009).
Untuk mengetahui nilai potensial osmotik cairan sel, salah satunya dapat
digunakan metode plasmolisis. Jika potensial air dalam suatu sel lebih tinggi dari
pada potensial air yang ada di sekitar sel atau di luar sel, maka air akan
meninggalkan sel sampai potensial air yang ada dalam sel maupun di luar sel
sama besar. Protoplas yang kehilangan air itu akan menyusut volumenya dan
pada akhirnya dapat terlepas dari dinding sel, peristiwa tersebut biasa kita kenal
dengan istilah plasmolisis (Salisbury, 2015).
Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Jika sel tumbuhan
diletakkan pada larutan hipertonik, maka sel tumbuhan akan kehilangan air
dengan tekanan turgo yang menyebabkan sel tumbuhan menjadi lemah.
Tumbuhan dengan kondisi sel seperti ini disebut layu. Kehilangan air lebih
banyak menyebabkan menyebabkan terjadinya plasmolisis, dimana tekanan harus
berkurang sampai di suatu titik dimana sitoplasma mengerut dan menjauhi
dinding sel. Hubungan plsmolisis dengan status potensial osmotik antara cairan
sel dengan larutan di lingkungannya adalah bahwa sel yang berada dalam larutan
hipertonik akan menyebkan cairan di dalam sel berosmosis keluar dari sel,
sehingga potensial osmosis semakin besar dan mengakibatkan sel yang
terplasmolisis semakin banyak (Agustina,2015).
Metode plasmolisis dapat ditempuh dengan cara menentukan pada
konsentrasi sukrosa berapakah yang mengakibatkan jumlah sel yang
terplasmolisis mencapai 50%. Pada kondisi tersebut dianggap konsentrasinya
sama dengan konsentrasi yang dimiliki oleh cairan sel (Sasmita, 2016).
2.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Potensial Osmotik
Menurut Suyitro (2017), terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
potensial osmotik adalah sebagai berikut:
a. Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi suatu larutan akan menurunkan potensial
osmotiknya. Apabila zat terlarut bukan elektrolit dan molekulnya tidak
mengikat air hidrasi, maka potensial osmotik larutan tersebut hampir pasti
akan sebanding dengan konsentrasi molekulnya.
b. Ionisasi Molekul Zat Terlarut
Poternsial osmotik suatu larutan ditentukan oleh jumlah potensial partikel
yang terdapat dalam larutan tersebut. Partikel yang dimaksud dapat berbentuk
ion, molekul, atau partikel koloid (micelle).
c. Hidrasi Molekul Zat Terlarut
Air yang berasoasi dengan partikel zat terlarut disebut sebagai air hidrasi. Air
dapat berasosiasi dengan ion, molekul atau partikel koloid. Dampak air
hidrasi terhadap suatu larutan dapat menyebabkan larutan menjadi lebih
pekat dari yang diperkirakan, sehingga nilai potensial osmotik lebih rendah.
d. Suhu
Potensial osmotik suatu larutan nilainya akan menurun bila ada kenaikan
suhu. Pada larutan sukrosa 1 molal pada 0°C nilai potensial osmotiknya -
24,85 atm atau pada suhu suhu 40°C turun menjadi -27,70 atm dan pada
ssuhu 80°C turun lagi menjadi -28,82 atm.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium Agroklimatologi dan
Biostatistika, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar pada hari
Sabtu, 7 September 2019 pukul 08:00 WITA sampai selesai.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu cutter, pelubang umbi, mistar,
5 gelas aqua plastik dan kotak alat.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu dua kentang berukuran besar
dan aluminium foil, larutan sukrosa 0,25 M, 0,50 M, 0,75 M dan 1 M.
3.3 Prosedur Praktikum
Prosedur kerja praktikum ini yaitu :
1. Mencuci bersih kentang yang akan digunakan, kemudian mengelap sampai
kering.
2. Mencuci bersih peralatan yang akan digunakan dengan detergen sampai
bersih, kemudian mengeringkan dengan lap.
3. Menimbang sukrosa untuk membuat seri larutan sukrosa 0,25 M, 0,50 M,
0,75 M dan 1 M dengan rumus : Molar = (g/BM)/1 L pelarut.
4. Membuat silinder umbi kentang dengan menggunakan pelubang gabus,
kemudian memotong silinder umbi tersebut dengan ukuran 40 mm sebanyak
15 buah.
5. Memasukkan 3 potong silinder kentang kedalam gelas yang masing-masing
berisi seri larutan sukrosa 30 ml : 0,25 M, 0,50 M, 0,75 M dan 1 M.
6. Mengerjakan dengan cepat untuk memperkecil terjadinya penguapan dari
permukaan silinder kentang.
7. Menutup rapat permukaan gelas tersebut dengan menggunakan aluminium
foil dan membiarkan selama 30 menit.
8. Mengambil dan mengukur kembali panjang potongan-potongan kentang yang
direndam tadi.
9. Menghitung rata-rata panjang silinder umbi dari tiap larutan perlakuan
sukrosa.
10. Membuat diagram batang perubahan ukuran panjang umbi terhadap
konsentrasi larutan sukrosa..
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Berdasarkan praktikum potensial osmotik dan potensial air jaringan tanaman,
maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Pertambahan Panjang Kentang (cm)


4.05
4
Rata-rata (cm)

3.95
3.9
3.85
3.8
3.75
3.7
0,0 M 0,25 M 0,5 M 0,75 M 1M
Konsentrasi Larutan Sukrosa

Gambar 1. Diagram perubahan ukuran panjang umbi terhadap konsentrasi larutan


sukrosa.
Sumber : Data Primer Setelah Diolah, 2019
4.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa kentang
pada larutan aquades dengan konsentrasi 0,0 M dan kentang pada larutan sukrosa
yang berkosentrasi 0,25 M tidak mengalami perubahan apa-apa atau menetap. Hal
ini membuktikan bahwa tidak ada aliran air yang terjadi baik dalam kentang
maupun dari luar kentang sehingga dapat dikatakan larutan 0,0 M dan 0,25 M
bersifat isotonik karena konsentrasi kentang sama dengan larutan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Utami (2018), yang menyatakan apabila potensial osmotik diluar
sel sama besarnya dengan di dalam sel maka tidak ada gerakan air (konsentrasi
seimbang), maka larutan mengalami isotonik.
Pada percobaan silinder umbi kentang menggunakan larutan sukrosa 0,50M,
0,75 M, dan 1,0 M terjadi pengurangan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin pekat konsentrasi larutan sukrosa maka semakin berkurang panjang
sampel potongan umbi kentang. Hal ini sesuai dengan pendapat Kartika (2015),
yang menyatakan bahwa hal ini terjadi karena potensial air yang ada pada larutan
lebih rendah dari pada potensial air yang ada di dalam sel kentang, sehingga air
keluar dari sel kentang menuju ke larutan sukrosa.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan:
1. Fakta mengenai gejala potensial osmotik dapat dilihat dari perubahan panjang
selinder kentang yang dipengaruhi dengan adanya plasmolisis dengan durasi
yang ditentukan.
2. Potensial osmotik merupakan zat cair dalam vakuola dan bagian-bagian sel
lainnya yang mengandung zat-zat terlarut di dalamnya.
3. Nilai potensial air pada jaringan tanaman yaitu dipengaruhi oleh tekanan
osmosis air yang dimana dilihat dari laju konsentrasinya tersebut.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam praktikum ini dalam melubangi kentang perlu dilakukan
secara hati-hati agar hasil yang didapatkan sesuai teori yang ada.
DAFTAR PUSTAKA

Advinda, Linda. 2018. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Yogyakarta. CV Budi


Utama.
Agustina, N. 2015. Pengaruh Suhu Perendaman Terhadap Koefisien Difusi Dan
Sifat Fisik Kacang Merah. Jurnal Teknik Pertanian Lampung. Vol 2
(1) : 37-44.
Ferdianand. 2009. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Hidayah, Partiyani. Siska R, Ayusartika. 2017. Pertumbuhan dan Produksi
Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L. var. Granola) pada Sistem
Budidaya yang Berbeda. Jurnal Buletin Anatomi dan Fisiologi. Vol
2(2) : 218-225.
Ismail, Abdul Muis. 2011. Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Makassar :
Jurusan Biologi FMIPA UNM Makassar.
Kartika, Priska Nur, Cahyadi, Kumalasari. 2015. Studi Pembuatan Osmodehidrat
Buah Nanas (Ananas comosus L. Merr): Kajian Konsentrasi Gula
dalam Larutan Osmosis dan Lama Perendaman. Jurnal Pangan dan
Agroindustri. Vol 3 (4) : 1345-1355.
Pitojo, S. 2004. Benih Kentang. Yogyakarta : Kanisius.
Rodriguez R, Peter F, Gasiel S. 2015. Relationship Between Muscle Water and
Glycogen Recovery after Prolonged Exercise in the Heat in Human.
European Jurnal of Applied Physiology. Vol 15(9): 1919-1926.
Rukmana. R. 2007. Kentang Budidaya dan Pasca Panen Edisi II. Yogyakarta:
Kanisius.
Salisbury, Frank. 2015. Fisiologi Tumbuhan jilid 1. Bandung: ITB.
Sasmita, H. 2016. Pengaruh Kadar NaCl Terhadap Hasil Dari Mutu Buah Tomat.
Jurnal Vegetalika. vol 1(4) : 40-50.
Suyitro, 2017. Panduan Lengkap Solanum Vinicium. Jakarta. Penebar Swadaya.
Utami. 2018. Potensail Osmosis JaringanTumbuhan. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia
LAMPIRAN

Tabel Lampiran 1. Panjang Silinder Umbi Kentang Setelah Direndam 30 Menit


Panjang Potongan Silinder Kentang (cm)
No
0,0 M 0,25 M 0,50 M 0,75 M 1,0 M
1 4 4 3,7 3,7 3,8
2 4 4 3,9 4 4
3 4 4 4 3,7 4
Rerata 4 4 3,86 3,8 3,93
LAMPIRAN GAMBAR PRAKTIKUM

Gambar 1.Menyiapkan seri larutan Gambar 2. Mengupas kulit kentang

Gambar 3. Menyiapkan aluminium Gambar 4. Melubangi kentang


foil dengan pelubang umbi
Gambar 5.Menyiapkan potongan Gambar 6.Menutup larutan yang
kentang telah dimasukkan kentang
dengan aluminium foil

Gambar 7. Pengamatan selama 30 menit

Anda mungkin juga menyukai