Anda di halaman 1dari 16

Lingkungan Bisnis Internasional

(Ekonomi, Hukum, Politik dan Budaya)

MAKALAH

1
Disusun oleh:

Dina Ashida F.M 170810301012


Rina Novianti 170810301036
Virda Ayu Erdina P 170810301037
Firda Indira Sari 170810301040
Elisa Cahyaningrum 170810301044
Septianing Clarista P 170810301054
Wiranti Ayuningtiyas 170810301059

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI AKUNTANSI
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2019

1
LINGKUNGAN BISNIS DAN INTERNASIONAL

Pengertian lingkunga bisnis internasional

Lingkungan bisnis internasional adalah seluruh kekuatan yang mempengaruhi kehidupan dan
perkembangan perusahaan. Kekuatan ini ada yang dapat dikontrol dan tidak dikontrol oleh
perusahaan. Kekuatan yang dapat dikontrol oleh perusahaan adalah unsur-unsur yang ada di dalam
perusahaan itu sendiri, seperti penyediaan faktor-faktor produksi (modal , bahan baku, tenaga kerja,
dan teknologi) dan aktivitas organisasi ( produksi, personalia, keuangan dan pemasaran). Sedangkan
kekuatan yang tidak dapat dikontrol pada umumnya adalah unsur-unsur yang berada di luar
perusahaan seperti politik Negara, persaingan, agen distribusi, kondisi ekonomi, ketentuan hukum,
dan perundang-undangan.

Lingkungan bisnis internasional secara umum dibagi menjadi tiga yaitu : lingkungan
domestic, lingkungan luar negeri dan lingkungan internasional. Lingkungan Domestik merupakan
semua kekuatan yang tidak dapat dikontrol yang berasal dari Negara asal yang mempengaruhi
kehidupan dan perkembangan perusahaan. Lingkungan luar negeri merupakan semua kekuatan yang
tidak dapat dikontrol yang berasal dari luar negeri atau luar Negara asal. Sedangkan lingkungan
internasional merupakan interaksi antara kekuatan lingkungan domestic dan lingkungan luar negeri.

1. Lingkungan yang tidak dikontrol perusahaan

1.1 Lingkungan Ekonomi

Lingkungan ekonomi adalah kondisi ekonomi di negara tempat organisasi Internasional


beroperasi. Lingkungan ekonomi merupakan salah satu kekuatan yang tidak dapat terkontrol
oleh seorang manajer. Lingkungan ekonomi meliputi sistem perekonomian dan kondisi-
kondisi ekonomi pada tingkat nasional dan internasional.

Sistem perekonomian masing masing negara tidak sama, pada dasarnya sistem
perekonomian dapat dibagi menjadi tiga, yaitu (1) Sistem ekonomi kapitalis, (2) sistem
ekonomi sosialis, dan (3) sistem ekonomi campuran. Dalam buku yang berjudul “The Wealth
of Nation (1776) dalam bukunya menyatakan bahwa ekonomi kapitalis merupakan
“kemakmuran suatu negara akan terwujud apabila setiap individu diberikan kebebasan yang
seluas-luasnya untuk mencapai kemakmuran, sehingga kehidupan ekonomi berjalan secara
bebas sesuai dengan mekasnisme pasar.” Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi
kapitalis adalah Jerman. Sedangkan dalam sistem ekonomi sosialis yakin untuk memberikan
kemakmuran pada masyarakat dimana pemerintah turut ikut campur didalam pergerakan
ataupun kemajuan dalam perekonomiannya, ikut campur pemerintah disini sangat besar dan

1
masyarakat merasa potensi dan kreasinya akan mati dan tidak adanya kebebasan individu
didalam melakukan kegiatan ekonomi. Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi
sosialis adalah Uni Soviet. Dan yang terakhir Sistem ekonomi campuran yang muncul karena
untuk mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada sistem ekonomi kapitalis dan sosialis.
Contoh negara yang menerapkan sistem ekonomi campuran adalah Indonesia, Malaysia,
Singapore.

Kondisi ekonomi memiliki dampak yang kuat terhadap kinerja bisnis dikarenakan
kondisi ekonomi mempengaruhi pendapatan maupun beban bisnis tersebut. Apabila
perekonomian kuat, tingkat lapangan kerja akan tinggi, dan biaya tenaga kerja karyawan
relative tinggi. Maka dari itu karena orang memiliki penghasilan yang relative baik dan suatu
perusahaan menghasilkan produk-produk secara maksimal atas memenuhi permintaan
konsumen yang sangat tinggi, bisa dikatakan bahwa kondisi ekonomi yang baik dapat
berpengaruh atas jalannya suatu bisnis.

Sedangakan, ketika perekonomian lemah, perusahaan cenderung memberhentikan


sebagian karyawan dan tidak mampu membayar upah yang tinggi. Karena orang memiliki
penghasilan yang relative rendah, maka akan menurun jumlah suatu permintaan, perusahaan
tidak dapat menjual seluruh produknya. Hal yang paling berdampak pada kondisi
perekonomian yang seperti ini adalah tingkat pengangguran meningkat.

Indikator-indikator ekonomi pada bisnis internasional antara lain :

a. Pendapatan Nasional Bruto

PNB adalah ukuran pendapatan yang diterima oleh penduduk suatu negara dari
aktivitas domestik maupun internasional. Sebagian organisasi internasional memilih
PNB dibandingkan PDB sebagai ukuran ekonomi karena PDB mengukur
pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas domestik yang dilakukan baik oleh
penduduk maupun bukan penduduk di negara tersebut. PNB digunakan untuk
membandingkan daya beli antar negara, manajer harus mengetahui berapa besar
jumlah penduduk yang dibagi PNB yang menjadi PNB/Kapita.

Secara umum kita mengasumsikan bahwa semakin tinggi nilainya, semakin


maju perekonomiannya. Namun umumnya tingkat pertumbuhan lebih penting bagi
pemasar sebab tingkat pertumbuhan yang tinggi mengidikasikan pasar yang
mengalami pertumbuhan pesat-yang selalu menjadi tujuan mereka.

2
b. Pengeluaran konsumsi masyarakat

Hal yang menarik bagi para pemasar adalah memperhatikan bagaimana cara
konsumen mengalokasikan pendapatan bersih mereka (pendapatan setelah dipotong
pajak pribadi) antar membeli barang-barang pokok dan bukan barang pokok.
Produsen barang-barang rumah tangga misalnya, ingin mengetahui jumlah yang
dibelanjakan dalam kategori tersebut, sementara produsen produk yang bukan
termasuk barang pokok akan tertarik kepada besarnya pendapatan diskresioner
(pendapatan bersih untuk pembelian yang kurang penting)

Persentase pengeluaran rumah tangga yang dibelanjakan untuk makanan dan


pakaian oleh masyarakat negara berkembang sebesar dua kali lipat dari persentase
yang dibelanjakan oleh masyarakat di negara industri maju. Disisi lain, persentase
yang dibelanjakan untuk (1) transportasi dan komunikasi, (2) barang tahan lama, (3)
layanan kesehatan, (4) konsumsi lain (minuman, rokok, dan jasa, termasuk makan
direstoran atau dibawa pulang) oleh rumah tangga dinegara maju dua kali lipat
persentase belanjaan hal-hal tersebut di negara berkembang.

c. Biaya perunit tenaga kerja

Satu faktor yang berkontribusi dalam kesempatan investasi yang


menguntungkan adalah kemampuan untuk mendapatkan biaya tenaga kerja per unit
(total biaya tenaga kerja langsung/ unit yang diproduksi) lebih rendah dibandingkan
biaya yang saat ini tersedia diperusahaan.

Negara dengan peningkatan biaya tenaga kerja per unit yang lebih rendah akan
menarik perhatian manajer karena dua alasan. Pertama, mereka adalah investasi
untuk perusahaan yang berusaha untuk menurunkan biaya produksi. Kedua, mereka
mungkin bisa menjadi sumber kompetisi baru di pasar dunia jika perusahaan lain
dalam industri yang sama sudah lebih dulu masuk.

Alasan terjadinya perubahan relatif pada baiaya tenaga kerja yaitu ada tiga
faktor, (1) kompensasi, (2) produktivitas dan (3) nilai tukar.

1.2 Lingkungan Hukum

3
Sebuah perusahaan domestic harus mengikuti hukum dan adat istiadat dinegara asal. Sebuah
bisnis internasional menghadapi tugas yang lebih kompleks. Tidak hanya hukum dinegara asal tapi
jug adari seluruh Negara tuan rumah tempat mereka beroprasi. Hukum- hukum tersebut dapat
mempengaruhi secara kritis cara perusahaan internasional melakukan bisnis mereka. Hukum ini
mennetukan pasar yang dapat dilayani perusahaan, harga yang dapat mereka tetapkan untuk barang
mereka, dan biaya dari input yang dibutuhkan seperti tenaga kerja, bahan baku dan teknologi.
Hukum juga dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi.

1.2.1 Perbedaan dalam sistem hukum

Sistem hukum nasional sangat bervariasi secara dramatis untuk alasan historis,
buadaya, politik dan keagamaan. Akses dalam sistem hukum juga sangat bervariasi dari satu
Negara satu dengan Negara lain. Dalam hal ini hukum dibagi menjadi beberapa diantanya
sebagai berikut :

 Hukum umum (Common law) :


Hukum yang didasarkan pada kebijaksanaan kumulatif keputusan hakim pada kasus
individual sepanjang sejarah. Kasus kasus ini menciptakan preseden hukum, yang
digunakan oleh hakim lain untuk memutuskan kasus serupa. Hukum umum telah
berevolusi secara berbeda disetiap Negara menurut hukum umum. Jadi, hukum yang
mempengaruhi praktis bisnis sedikit bervariasi antar Negara tersebut, dan
menciptakan potensi masalah bagi pelaku bisnis yang tidak mengetahuinya.
 Hukum sipil (Civil law):
Hukum sipil didasarkan pada kodifikasi, atau daftar terperinci, mengenai apa yang
diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan. Salah satu perbedaan penting
antara sistem hukum umum dengan sistem hukum sipil tampak dalam peran hakim
dan pengacara. Dalam sistem hukum umum hakim bertindak sebagai hakim wasit
yang netral, memutuskan berbagai macam mosi dari pengacara kedua belah pihak
yang bertikai. Dalam sistem hukum sipil hakim mengambil banyak peran pengacara,
dan menentukan.
 Hukum agama (Religious Law) :
Hukum agama didasarkan pada aturan yang telah ditetapkan secara resmi yang
mengatur keyakinan dan praktik dari agama tertentu. Suatu Negara yang
menerapkan hukum agama terhadap tindakan sipil dan krimilnal disebut sebagai
teokrasi.
 Hukum birokratis :
Sistem hukum dalam Negara komunis dan dalam kediktatoran seringkali
dideskripsikan sebagai hukum birokratis. Hukum birokratis adalah apapun yang

4
dikatakan oleh birokrat Negara tersebut, tanpa emmandang hukum formal dinegara
tersebut. Kontrak dapat dibuat atau dilanggar atas keinginan mereka yang berkuasa.
Dinegara yang mengandalkan hukum birokratis, kemampuan bisnis internasional
untuk mengelola operasinya seringkali berkompromi dengan birokrat. Manajer
internasional terkadang dihadapkan dengan peraturan atau keputusan sewenang-
wenang yang mempunyai kekuatan hukum. Banyak manajer internasional telah
belajar dengan keras bahwa akibat sampingan yang tidak menguntungkan dari
hukum birokratis adalah kurangnya konsistensi, prediktabilitas, dan prosedur
banding.

1.2.2 Hukum yang berorientasi Domestik

Hukum dinegara tempat bisnis internasional beroperasi memainkan peran utama


dalam membentuk kesempatan yang tersedia bagi perusahaan tersebut. Beberapa dari
hukum ini terutama dirancang untuk meregulasi lingkungan ekonomi domestic. Hukum
tersebut mempengaruhi seluruh segi operasi perusahaan seperti; mengelola angkatan
kerjanya, pendanaan operasinya, memasarkan produknya, serta pengembangan dan
penggunaan teknologi. Meskipun hukum tersebut terutama berfokus pada pasar domestic,
tetapi secara tidak langsung dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan domestic untuk
bersaing secara internasional dengan meningkatkan biaya mereka, dan mengurangi daya
saing harga mereka secara relative terhadap perusahaan asing.

Hukum yang berorientasi domestic juga dapat secara tidak sengaja mempengaruhi
Pratik bisnis dari perusahaan asing yang beroperasi diluar perbatasan Negara. Sering kali
perusahaan yang produknya di tujukan untuk pasar ekspor mengubah teknik produksi
mereka untuk memenuhi regulasi dari Negara pengimpor, meskipun operasi perusahaan
tersebut legal di Negara asal mereka.

1.2.3 Hukum Langsung Mempegaruhi Transaksi Bisnis Internasional

Hukum nasional lainnya secara eksplisit dirancang untuk meregulasi aktivitas bisnis
iternasional. Hukum seperti ini sering kali termotivasi secara politis dan dirancang untuk
memperomosikan kebijakan luar negeri atau tujuan militer. Sebuah Negara dapat berusaha
untuk membujuk Negara kedua untuk mengubah kebijakan yang tidak di inginkan dengan
menerapkan sanksi, yaitu pembatasan terhadap perniagaan dengan Negara tersebut. Sanksi
dapat mengambil banyak bentuk seperti; membatasai akses terhadap barang berteknologi

5
tinggi, menarik perlakuan tarif istimewa, memboikot barang tersebut, dan menolak
pemberian pinjaman baru.

Bentuk pengendalian ekspor yang sangat penting melibatkan barang berteknologi


tinggi. Banyak Negara maju yang secara teknologi membatasi ekspor produk yang disebut
dengan penggunaan ganda yang dapat digunakan baik untuk tujuan sipil maupun militer.
Negara juga dapat berusaha untuk meregulasi aktivitas bisnis yang dilakukan diluar
perbatasan mereka, yaitu praktik yang dikenal sebagai ekstrateritorialitas.

1.2.4 Hukum Langsung Terhadap Perusahaan Asing

Pada kesempatan lain Negara dapat mengesahkan hukum-hukum yang secara eksplisit
diarahkan pada perusahaan milik asing. Isu kepemilikan menjadi area khusus yang di
perhatikan. Disebagian besar Negara terdapat perdebatan yang terus berlangsung antara
sayap politik kiri dan kanan mengenai keseimbangan yang tepat antara pengawasan
pemerintah terhadap ekonomi dan ketergantungan pada kekuatan pasar untuk mengalokasi
sumber daya. Seringkali ketika pemerintah sayap kiri mendapatkan kekuasaan, mereka
memilih untuk mengalihkan kepemilikan sumber daya dari sektor swasta ke sektor
pemerintah, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai nasionalisasi. Kebanyakan yang
paling rentan terhadap tindakan seperti ini adalah industry yang tidak mempunyai mobilitas :
industry sumber daya alam seperti produksi minyak mentah dan pertambangan, industry
padat modal seperti baja, bahan kimia, dan penyulingan minyak bumi

Ketika pemerintah tuan rumah memberikan kompensasi kepada pemilik swasta untuk
kerugian mereka, transfer tersebut disebut ekspropriasi. Ketika pemerintah tuan rumah
tidak menawarkan kompensasi, transfer tersebut disebut sebagai penyitaan.

Konversi property milik Negara menjadi property milik swasta disebut sebagai
privatisasi. Meskipun bukan merupakan isu pengendalian Negara tuan rumah, privatisasi
merupakan kebalikan dari nasionalisasi dan menciptakan kesempatan bagi bisnis
internasional. Sebagian besar perusahaan milik pemerintah yang dijual ke sektor swasta
adalah perusahaan yang tidak menguntungkan, kekurangan modal dan kelebihan staf.
Meskipun demikian, mereka seringkali menarik bagi bisnis internasional yang berusaha
untuk mengembangkan operasi mereka kedalam pasar baru yang berlokasi disektor kunci
dari ekonomi nasional seperti telekomunikasi, transportasi dan manufaktur.

Banyak pemerintah membatasi kepemilikan asing pada perusahaan domestic untuk


mencegah agar ekonomi atau industry kunci mereka tidak dikuasai oleh orang asing. Sebagai
contoh Meksiko melarang kepemilikan asing dalam industry energinya, meyakini bahwa

6
manfaat dari cadangan minyak buminya, yang mereka pandang sebagian dari warisan
nasional, harus diterima hanya oleh warga negaranya.

1.3 Lingkungan Politik

Lingkungan politik dan hukum sangat berkaitan erat karena sistem politik yang terapkan
oleh sebuah negara tentunya akan menghasilkan kebijakan-kebijakan (hukum) tertentu.
Misalnya sebuah negara yang memiliki lingkungan politik yang menerapkan asas demokrasi
pastinya nanti akan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang cenderung mendukung adanya
keterbukaan dalam keterbukaan dalam aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh negara
tersebut, artinya kebijakan ekonominya akan cenderung terbuka.

1.3.1 Risiko politik

Sebagian besar perusahaan akan merasa nyaman jika menilai iklimpolitik di negara asal
mereka, tetapi akan lebih sulit jika menilai iklim politik di negara lain, oleh karena itu bisnis
internasional yang berpengalaman melaksanakan penilaian risiko politik, yang merupakan
analisis risiko politik yang mereka hadapi di negara asing. Risiko politik dibagi menjadi 3
yaitu :

1. Risiko kepemilikan, dimana property perusahaan terancam melalui penyitaan


atau pengambilalihan
2. Risiko operasional, dimana berlamgsungnya operasi perusahaan atau
kesalamatan karyawan terancam melalui hukum, standar lingkungan, kode
pajak,terorisme dan sebagainya
3. Risiko transfer, dimana pemerintah campur tangan dengan kemampuan sebuah
perusahaan untuk mengalihkan dana kedalam dan keluar negeri.

Risiko politik sendiri dibagi menjadi 2 yaitu :

1. Risiko politik makro, adalah risiko yang mempengaruhi seluruh perusahaan


disebuah negara. Contohnya perang saudara yang menghancurkan sierra
leone, Zaire, bosnia, dan Rwanda pada tahun 1990
2. Risiko politik mikro, adalah risiko yang mempengaruhi hanya perusahaan
tertentu atau perusahaan dalam industry tertentu. Contohnya nasionalisme
arab Saudi terhadap minyak buminya pada tahun 1970 an

Berikut merupakan contoh dari risiko politik :

jenis Dampak perusahaan


Pengambilan Kehilangan laba dimasa depan

7
Penyitaan Kehilangan asset
Kehilangan laba dimasa depan
Kampanye melawan barang Kehilangan penjualan
asing Meningkatnya biaya ari usaha hubungan masyarakat untuk
memperbaiki citra publik
Legislasi tunjungan tenaga Meningkatnya biaya operasional
kerja yang harus dipatuhi
Penculikan, ancaman teroris, Produksi terganggu
dan bentuk kekerasan lainnya Meningkatnya biaya keamanan
Meningkatnya biaya manajerial
Produktivitas yang lebih rendah
Perang saudara Kehancuran property
Kehilangan penjualan
Gangguan produksi
Meningkatnya biaya kemanann
Inflasi Produktivitas yang lebih rendah
Repatriasi Ketidakmampuan mentransfer dana secara bebas
Devaluasi mata uang asing Berkurangnya nilai pendapatan yang direpatriasi
Peningkatan pajak Laba setelah pajak lebih rendah

1.4 Lingkungan Budaya

Sosiolog Zvi Namenwirth dan Robert Weber melihat budaya sebagai sistem gagasan
yang merupakan desain untuk hidup. Dari pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat kita
simpulkan bahwa budaya adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, dan sikap yang
membedakan sebuah masyarakat dengan masyarakat lainnya. Budaya merupakan sesuatu hal
yang tidak berwujud, tersebar luas , sulit untuk dipelajari. Budaya berasal dari nilai dan
norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat.

Menurut Hill (2014:93) Nilai adalah ide-ide abstrak tentang apa yang kelompok
(International Business Environment) percayai sebagai seuatu hal yang baik benar dan
diinginkan. Dengan kata lain nilai yaitu asumsi bersama tentang bagaimana hal-hal yang
seharusnya. Masih menurut Hill (2014:93) norma merupakan auran-aturan sosial dan
pedoman yang merumuskan perilaku yang tepat dalam situasi tertentu , dan masyarakat
merupakan sekelompok orang yang berbagi seperangkat nilai dan norma.

Budaya dibentuk dari beberapa elemen yaitu :

8
a) Struktur Sosial. Struktur sosial menjadi salah satu elemen pembentuk budaya karena
dalam struktur sosial tersebut terdiri dari individu yang membentuk keluarga dan anggota
dari sebuah kelompok. Dalam kelompok-kelompok sosial ini terdapat strata sosial yang
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, status pernikahan, status ekonomi dan lain
sebagainya.

b) Nilai/perilaku. Nilai adalah kumpulan prinsip dan standar yang diterima oleh anggota
dalam sebuah masyarakat. Sedangkan perilaku adalah mencakup tindakan perasaan dan
pikiran yang dihasilkan dari nilai-nilai tersebut.

c) Bahasa. Di dunia ini terdapat lebih dari 3.000 bahasa dan lebih darai 10.000 dialek yang
berbeda. Bahasa menjadi pembeda yang utama dalam kelompok-kelompok sosial dalam
masyarakat. Dari bahasa kita dapat membedakan budaya yang ada. Perbedaan bahasa
dapat menyebabkan perbedaan persepsi yang mengarah kepada konflik. Para pelaku
bisnis internasional harus benar-benar menguasai bahasa counterpart sehingga tidak
terjadi kesalahpahaman yang ditimbulkan dari perbedaan bahasa.

d) Komunikasi. Komunikasi menjadi bagian dari budaya, karena dengan komunikasi ini
setiap anggota masyarakat dapat berhubungan. Komunikasi dibedakan menjadi dua yaitu
komunikasi verbal melalui bahasa dan komunikasi non verbal melalui perilaku.

e) Agama. Agama memberikan batasan pada peran individu dalam masyarakat, agama pula
mempengaruhi produk yang dikonsumsi oleh masyarakat, contohnya bagi kaum muslim
penganut agama Islam ada makanan yang halal dan juga haram.

f) Waktu. Sikap terhadap waktu berbeda secara dramatis di seluruh budaya. “Sikap yang
berlaku adalah waktu adalah uang”. Waktu mewakili kesempatanuntuk memproduksi
lebih banyak yang meningkatkan pendapatan seseorang.

g) Usia. Perbedaan budaya yang paling penting ada dalam sikap terhadap usia. Kemudian
dianggap sebagai sesuatu yang baik di Amerika Serikat. Banyak perusahaan AS
mencurahkan banyak waktu dan energi untuk mencari “pekerja jalur cepat” muda dan
memberi mereka tugas yang berat dan penting.

h) Pendidikan. Sistem pendidikan negeri dan swasta sebuah negara adalah penyiar dan
refleksi penting dari nilai – nilai budaya dari masyarakatnya. Misalnya sekolah dasar dan
menengah di AS menekankan peran individu dan menekankan pengembangankan
kemadirian, kreativitas, dan harga diri.

9
i) Status. Cara untuk mendapatkan status juga bervariasi dibagai budaya. Di sejumlah
masyarakat, status diwariskan dari kekayaan atau peringkat leluhur seseorang. Di Jepang
status seseorang tergantung pada status kelompok di mana ia berada. Jadi, pelaku bisnis
Jepang sering memperkenalkan diri mereka dengan menyebutkan tidak hanya nama
mereka, tetapi juga afiliasi perusahaan mereka.

Di dalam suatu bisnis internasional, dimana semua kegiatan bisnis melibatkan antara
negara dan bangsa yang memiliki budaya yang berbeda, maka setiap kegiatan bisnis
internasional tersebut harus mampu memodifikasi perilakunya di negara yang satu dengan
yang lainnya.

Budaya menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat berubah dan menjadi pemicu
perubahan faktor intemal perusahaan, termasuk budaya perusahaan itu sendiri. Tidak dapat
dipungkiri jika budaya masyarakat dari masing-masing kelompok bangsa sangat kompleks,
sehingga perusahaan perlu menjadikan hal tersebut sebagai fokus utama mereka. Perusahaan
yang ingin beraktivitas global tentu haruslah memiliki wawasan internasional. Patut
dicermati jika beberapa keputusan bisnis mau tidak mau akan dipengaruhi oleh budaya
perusahaan yang bersangkutan. Aktivitas bisnis, seperti halnya manusia merupakan bagian
dari suatu masyarakat yang mempunyai karakter sosial budaya sesuai dengan lingkungan
dimana dia berada. Sehingga dalam hal ini karena beragamnya budaya, sebuah perusahaan
harus mempelajari budaya asing sebelum berkecimpung dalam bisnis internasional.
Keputusan yang buruk dapat saja dihasilkan dari penilaian yang tidak tepat mengenai selera,
kebiasaan dan adat istiadat suatu negara yang akan dijadikan tempat bisnis.

Dalam bukunya Introduction to Business, Jeff Madura, berpendapat bahwa ketika suatu
perusahaan berkecimpung dalam bisnis internasional, maka harus dipertimbangkan
karakteristik dari negara asing tersebut yaitu, budaya, sistem ekonomi, kondisi ekonomi nilai
tukar dan resiko politik (Saroyini;200l:186).

Adapula beberapa karakteristik budaya yang mempengaruhi organisasi internasional yaitu :

a. Jarak Kekuasaan. Jarak kekuasaan yang tinggi berarti orang menerima ketidaksetaraan di
antara institusi, organisasi dan manusianya.

b. Penghindaran Ketidakpastian. Berarti anggota dalam suatu masyarakat merasa tidak


nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas, sehingga mendukung keyakinan yang
menjanjikan kepastian dan kecocokan.

10
c. Individualisme dan Kolektivisme. Individualisme mencerminkan nilai terhadap ikatan
kerangka sosial yang longgar dimana masing-masing orang diharapkan untuk mengurus
diri mereka sendiri.

d. Maskulinisme dan Feminisme. Maskulinitas berarti preferensi budaya terhadap


pencapaian kepahlawanan, ketegasan, berpusat pada pekerjaan dan keberhasilan dalam
hal materi, sedangkan feminisme mencerminkan nilai hubungan kerjasama dan
pengambilan keputusan dalam kelompok dan kualitas hidup.

Budaya merupakan gambaran keseluruhan yang sangat kompleks dari spiritual, material,
intelektual dan emotional yang memberikan karakteristik pada suatu masyarakat atau
kelompok sosial. Termasuk didalamnya adalah mengenai seni, tulisan, gayahidup, hak-hak
dasar manusia, sistem nilai, radisi, kebiasaan dan sebagainya. Perbedaan budaya antar negara
sudah pasti ada. Kesadaran bahwa perusahaan yang ingin masuk ke negara lain perlu
menghargai budaya negara menjadi penting karena setiap budaya memiliki kekuatan dan nilai
yang sangat berarti bagi suatu kelompok/bangsa. Dengan demikian pemahaman budaya dapat
pula dipikirkan menjadi agenda yang penting dalam pembuatan kebijakan suatu perusahaan.
Perusahaan yang memasuki suatu negara/daerah tertentu untuk mengembangkan bisnisnya
akan merasa lebih pasti dan yakin jika aspek budayanya sudah mereka pahami dengan baik,
selanjutnya perlu pula menjadi pertimbangan bahwa pemahaman lintas budaya akan menjadi
suatu keunggulan bagi suatu perusahaan yang ingin bersaing di ajang internasional.

1.4.1 Pendekatan Konteks Rendah – Konteks Tinggi Hall

Dalam budaya konteks rendah, kata – kata yang digunakan oleh pembicara secra explisit
menyampaikan pembicara kepada pendengar. Dalam budaya tinggi, konteks dimana
percakapa terjadi sama pentingnya dengan kata – kata yang diucapkan, dan petunjuk budaya
adalah sesuatu yang penting dalam memahami apa yang dikomunikasikan. Perilaku bisnis
dalam konteks tinggi sering berbeda dari budaya konteks rendah. Sebagai contoh, periklanan
Jerman berorientasi fakta. Sementara pengiklanan Jepang biasanya berorientasi emosi.
Budaya konteks tinggi menempatkan nilai yang lebih tinggi dalam hubungan interpersonal
dalam memutuskan untuk memasuki sebuah perjanjian bisnis.

2.1 STUDY KASUS

MC DONALDS MENYESUAIKAN DIRI

11
Mcdonalds adalah salah satu dari penyedia makanan cepat saji yang paling sukses
didunia, dengan lebih dari 34000 restoran di 119 negara. Unsur kunci dari keberhasilan
global mcdonalds terletak pada penggunaan waralabanya. Pada awalnya mcdonalds
mengandalkan waralaba untuk membantu ekspansi domestiknya yang cepat-pemberi
waralaba memasok sebagian besar yang dibutuhkan untuk membangun kedai baru. Namun,
p0enerima waralaba juga memasok bahan utama terhadap keberhasilan mcdonalds-
pengetahuan local. Eksekutif korporasi pusatnya di Oak Brook lllinois, akan sulit untuk
mengetahui apakah keluarga local akan mengunjungi mcdonalds sebelum-atau mungkin-
parade natal local atau pertandingan football sekolah menengah atas. Namun, penerima
waralaba akan mengetahui perincian seperti ini dan dapat menambah dan menempatkan
pasokan tambahan manakala diperkirakan terdapat gelombang pelanggan yang datang

Pewaralabaan juga penting bagi keberhasilan internasional mcdonalds. Meskipun


mcdonalds telah menstandardisasi logo, merk dan komitmennya terhadap kualitas, mereka
mendorong burger dapat dibungkus dengan roti pita, sementara di Hongkong burger tersedia
dengan nasi dan di Afrika Utara McArabia disajikan dengan roti tawar. Meskipun anda tidak
bisa mendapatkan big Mac di India, anda bisa mendapatkan maharaja mac(terbuat dari ayam)
atau burger vegetarian. Di negara-negara muslim mcdonalds telah mengeluarkan daging babi
dari menunya untuk mematuhi ajaran agama islam. Perusahaan tersebut juga berencana untuk
membuka gerai khusus vegetarian di India. Tidak ada big mac yang dijual disana, tetapi
banyak dari burger McAloow tikki. Makanan lezat yang terbuat dari kentang pedas ini
menghasilkan seperempat penjualan Mcdonalds di India. Penyesuaian yang sederhana ini
adalah bagian dari strategi Mcdonalds untuk merepsons kebutuhan budaya local.

Pertanyaan :

1. Mengapa McDonald’s melakukan penyesuaian diri terhadap segmen pasar diberbagai


negara untuk memperluas usahanya secara global ?

2. Diskusikan mengenai pengaruh hukum dengan statetegi yang dilakukan Mc Donald’s ?

Jawaban Studi Kasus :

1. Karena McDonald’s memiliki fokus utama dalam pengembangan usahanya secara global
dengan memahami budaya lokal yang menjadi segmen pasar nya pada berbagai negara.
McDonald’s mampu untuk memenuhi selera lokal tanpa kehilangan citra mereknya. Misalkan
di negara India, disana memiliki banyak menu vegetarian dibandingkan dengan menu hewani

12
dikarena penduduk di negara india mayoritas beragama hindu, yang mana sapi merupakan
hewan yang disucikan.

Faktor lainnya yang mempengaruhi penyesuaian McDonald’s de berbagai negara khussnya di


Amerika Serikat dan Indonesia berbeda. Layanan yang diberikan oleh McDonald’s berbeda
dengan layanan asli yang ada di Amerika Serikat. Contohnya dengan tersedianya layanan
pesan antar di Indonesia bagi pelanggan. Pada umumnya masyarakat Indonesia menyukai
sesuatu yang instant, mereka tidak mau mengantri panjang di outlet McDonald’s. sedangkan
di negara asalnya sampai saat ini McDonald’s tidak menyediakan Delivery Service dan
dikhususkan bagi pelanggan Dine-in. Selain itu tawaran menu yang berbeda seperti nasi dan
ayam goreng yang tidak ditemukan di Amerika Serikat.

2. Semua perusahaan atau organisasi harus mengikuti peraturan hukum disemua tempat asal
mereka berdiri termasuk McDonald’s. Selain mentaati hukum dinegara asal, McDonald’s
juga harus mentaati hukum di negara tempat mereka beroperasi dinegara lain, karena sistem
hukum yang bervariasi sehingga harus memiliki strategi-strategi agar mempermudah
operasional perusahaan. Misalkan di negara Indonesia, konsumen di negara Indonesia pada
umumnya sensitif terhadap label halal dan nonhalal sehingga dalam hal ini lembaga
keagamaan negara atau Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerapkan peraturan untuk setiap
produk masuk harus tersertifikasi halal. Untuk mengatasi hal ini, McDonald’s Indonesia
bekerjasama dengan MUI dalam pencatutan label halal sesuai dengan SOP yang berlaku.
Kebijakan yang diberikan oleh MUI tidak hanya untuk makanan, tetapi juga pada tempat
operasionalnya diwajibkan lantai harus dibersihkan beberapa kali sehari agar tetap bersih
tetapi juga untuk menghindari kecelakaan yang menimpa pelanggan. Washtaffel dan toilet
juga selalu dicek, serta mewajibkan karyawan restoran mencuci tangan sebersih mungkin
sebelum mulai bekerja, serta menggunakan sarung tangan sekali pakai sesuai SOP yang
berlaku.

13
Referensi

Ball, Geriger, Mcnet, Minor. 2014. Bisnis Internasional Edisi 12. Jakarta :Salemba Empat

Budiarsi, S. Y. 2003. Lintas Budaya: Peranan dan Pemahaman dalam Aktivitas Bisnis
Internasional. JURNAL WIDYA MANAJEMEN & AKUNTANSI, 3(3), 232-243.

Gasparro, Annie dan Jargon,Julie. 2012. In India, McDonald’s Plans Vegetarian Outlets. The
Wall Street Journal. Diakses 05 September 2019.

Griffin W, Pustay, Michael W. 2015. Bisnis Internasional Edisi ke Delapan. Jakarta:


Salemba Empat

Kartawinata, Rustandi, Budi, Wardhana, Aditya, dan Syahputra. 2014. Bisnis Internasional.
Bandung : PT Karya Manunggal Lithomas.

Pratiwi, Hesty I. 2018. Pengaruh Aspek Budaya Dalam Pemasaran Internasional “Strategi
Adaptasi Budaya McDonald’s Indonesia”. Makalah.

14

Anda mungkin juga menyukai