Anda di halaman 1dari 64

ISSN 2621-3869

Jurnal Ilmiah
RISET TEKNOLOGI PERTAMBANGAN

Halaman Kendari
JRistam Vol. 1 No. 1
1 - 56 Mei 2018

Diterbitkan Oleh :
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869

JURNAL RISET TEKNOLOGI PERTAMBANGAN


(JRISTAM)

Penanggung Jawab : Ketua Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, UHO

Dewan Redaksi : Ketua :


Dr. La Ode Ngkoimani (Universitas Halu Oleo)
Anggota :
Dr. Eng. Jamhir Syafani (Universitas Halu Oleo)
Dr. La Ode Safiuddin (Universitas Halu Oleo)
Drs. Firdaus, M.Si (Universitas Halu Oleo)
Deniyatno, S.Si., M.Si (Universitas Halu Oleo)
Jahidin, S.Si., M.Si (Universitas Halu Oleo)
Irfan Ido, SP., M.Si (Universitas Halu Oleo)
Erwin Anshari, S.Si., M.Eng (Universitas Halu Oleo)
Suryawan Asfar, ST., M.Si (Universitas Halu Oleo)
Wahab, S.Si., M.T (Universitas Halu Oleo)
Fitrani Amin, ST., M.T (Universitas Halu Oleo)
Al Amin Siharis, ST., MT (Universitas Halu Oleo)
Marwan Zam Mili, ST., MT (Universitas Halu Oleo)
Dr. Andi Makkawaru, ST., M.Si (Dinas ESDM Prov.
Sultra)

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (JRISTAM) terbit pertama kali pada bulan Mei 2018,
diterbitkan dengan frekuensi 2 kali setahun yaitu pada bulan Mei dan Oktober. Redaksi menerima
makalah ilmiah hasil-hasil penelitian, telaah pustaka, maupun komunikasi singkat dari semua
disiplin ilmu yang berhubungan dengan Teknik Pertambangan. Makalah akan diterbitkan setelah
diputuskan oleh Dewan Redaksi berdasarkan hasil penilaian tim penilai yang ditentukan oleh
Dewan Redaksi.

Diterbitkan oleh :
Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Universitas Halu Oleo

Alamat Redaksi :
Kantor Jurusan Teknik Pertambangan
Kampus Hijau Bumi Tridharma, Gedung FITK, Anduonohu, Kambu, Kota Kendari, 93132
E-Mail : jristamuho@gmail.com
Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869

JURNAL RISET TEKNOLOGI PERTAMBANGAN


(JRISTAM)

DAFTAR ISI

Halaman
1 Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. 1-9
Paramitha Persada Tama Kabupaten Konawe Utara.
2 Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan 10 - 17
Masyarakat Kelurahan Pondidaha.
3 Evaluasi Geometri Jala Tambang pada Penambangan Bijih Nikel (Studi 18 - 27
Kasus : Jalan Angkut PT. Manunggal Sarana Surya Pratama)
4 Pemodelan dan Estimasi Cadangan Dengan Metode Nearest Neighbour 28 - 37
Point (NNP) PT. Ifishdeco, Site Tinanggea.
5 Perencanaan Penjadwalan Produksi Pada Penambangan Bijih Nikel 38 - 47
Berdasarkan Target Produksi PT. Ifishdeco Site Tinanggea
6 Analisa Suseptibilitas Magnetik Sedimen Laterit pada Lokasi 49-57
Penambangan Nikel PT. Wanagon Anoa Indonesia
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

EVALUASI TEKNIK SISTEM PENYALIRAN PENAMBANGAN BIJIH NIKEL


PT. PARAMITHA PERSADA TAMA KABUPATEN KONAWE UTARA

Resty KM1), Firdaus1), Suryawan A1).


1)
Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, Universitas Halu Oleo
E-mail: suryawan_tambang@uho.ac.id

ABSTRAK
Sistem penyaliran pada PT. Paramitha Persada Tama menggunakan metode saluran untuk mencegah
masuknya air limpasan dari luar pit yang kemudian dialirkan ke sediment pond sebagai tempat
penampungan sementara sebelum dialirkan kembali ke laut, metode ini dapat berfugsi dengan baik
jika debit yang masuk dengan dimensi saluran dan sediment pond sesuai. Dari hasil pengolahan data
maka di peroleh debit air limpasan sebesar 1,20 𝑚3 /detik. Dimensi yang sesuai berdasarkan
perhitungan adalah kedalaman saluran 0,82 m dengan lebar dasar saluran 0,95 m, panjang sisi
saluran 0,95 m, lebar permukaan saluran 2,1 m dan tinggi jagaan 0,12 m. Pada kedalaman saluran
dan lebar atas saluran terdapat ketidak sesuain dari hasil perhitungan dengan dimensi aktual saat
ini. Pada sediment pond volume air yang masuk berdasarkan waktu pengendapan material yaitu
sebesar 1.224 𝑚3 , dari hasil perhitungan dimensi sediment pond yang sesuai untuk menampung
volume air tersebut yaitu untuk luas sediment pond 408 𝑚2 dengan panjang 43 m, lebar 9,5 m, dan
kedalaman 4 m.

Kata Kunci : Debit, Air Limpasan, Drainase, Sediment Pond

ABSTRACT
Mine drainage system PT. Paramitha Persada Tama using channels to prevent water runoff from the
outside pit which is then supplied to the sediment pond as temporary shelters before piped back to
the sea, this method can work well if the debit entry with dimensions corresponding channel and
sediment pond. From the data processing then obtained discharge runoff water of 1.20 𝑚3 / sec. The
appropriate dimensions based computation is a channel depth of 0.82 m, with a channel base width
0.95 m, 0.95 m long side of the channel, the surface of the channel width of 2.1 m and 0.12 m high
surveillance. On the channel depth and width on the channel there is a discrepancy from the
calculation in accordance with the current actual dimensions. In the sediment pond water volume
entering by a deposition of material in the amount of 1,224 𝑚3, from the calculation of the sediment
pond appropriate dimensions to accommodate the volume of water that is to sediment pond area 408
𝑚2 with a length of 43 m, a width of 9.5 m, and a depth of 4 m.

Key Words: Rate of flow, Runoff, Drainage, Sediment Pond

A. PENDAHULUAN
PT. Paramitha Persada Tama terletak di Kegiatan penambangan yang dilakukan
Desa Boenaga, Kecamatan Lasolo, Kabupaten oleh PT. Paramitha Persada Tama
Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. menggunakan sistem open pit mining, dimana
Perusahaan ini bergerak pada bidang industri system penambangan ini berpotensi masuknya
pertambangan bijih nikel. Luasan daerah izin air ke dalam lokasi penambangan baik air hujan
usaha pertambangan PT. Paramitha Persada maupun air tanah yang akan mempengaruhi
Tama mencapai 175 Ha dimana terbagi dalam kegiatan penambangan yang akan berakibat
4 (empat) blok yaitu Blok A, B, C dan D. pada terganggunya aktivitas penambangan.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 1


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

Oleh karena itu dibutuhkan sistem penyaliran penambangan. Selain itu pada daerah sediment
yang baik agar tidak mengganggu aktivitas pond tidak mampu menampung air yang masuk
penambangan. sehingga meluap keluar menggenangi beberapa
Metode tambang terbuka (open pit mining) area kerja, air yang masuk pada sediment pond
berpotensi akan menyebabkan terbentuknya bukan hanya berasal dari lokasi penambangan
cekungan luas sehingga sangat potensial akan tetapi ditambah dengan air sungai yang berada
membentuk suatu daerah tangkapan yang dapat di dekat lokasi sediment pond.
menyimpan air baik dari limpasan permukaan Untuk itu tujuan utama dilakukannya
maupun dari air tanah [1]. penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sistem
System penyaliran tambang dengan penyaliran tambang yang terdapat pada
menggukan kolam pengendap (sump) biasanya PT. Paramitha Persada Tama dengan
diterapkan pada system penambangan terbuka menghitung kembali debit air yang masuk ke
(open pit mining), dimana air yang dihasilkan dalam saluran dan menghitung dimensi saluran
dari front kegiatan penambangan akan dialirkan serta sediment pond yang sesuai dengan kondisi
atau dipompa menuju ke kolam pengendap debit aliran permukaan yang masuk.
(sump). [2]
Faktor utama dalam merencanakan sistem B. METODE PENELITIAN
penyaliran tambang adalah curah hujan, 1. Lokasi Penelitian
intensitas curah hujan rencana, debit limpasan Penelitian ini dilakukan pada wilayah
permukaan dan luas daerah tangkapan hujan penambangan PT. Paramitha Persada Tama,
(catchment area). [2] dimana secara administrasi berada di Desa
Sistem penyaliran tambang yang Boenaga, Kecamatan Lasolo, Kabupaten
diterapkan oleh PT. Paramitha Persada Tama Konawe Utara. Secara geografis terletak pada
relatif lebih mudah dalam proses pengejaannya, 1220 22’ 25” BT dan 030 25’ 50” LS.
dimana metode yang diterapkan memanfaatkan
gravitasi untuk mengalirkan air dari bagian
lokasi penambangan yang memiliki elevasi
lebih tinggi menuju ke sediment pond dengan
elevasi yang lebih rendah, oleh karena itu
sistem saluran terbuka yang dibuat perlu
memenuhi beberapa kriteria yaitu dimensi
saluran yang disesuaikan dengan debit air yang
masuk, tidak terjadinya pengendapan pada
saluran, tidak terjadi erosi dan mudah dalam
proses pengaliran. Sedangkan kriteria untuk
sediment pond harus disesuaikan dengan debit
aliran permukaan dan partikel padatan yang
terbawa oleh aliran permukaan.
Berdasarkan pengamatan langsung di
lapangan pada jalur jalan tambang yang ada di
PT. Paramitha Persada Tama dijumpai adanya
genangan air diakibatkan oleh dimensi saluran
yang tidak sesuai dengan debit air yang masuk
pada saluran air tersebut, selain itu diperparah Gambar 1. Peta lokasi penelitian
lagi dengan kondisi saluran yang mengalami
pendangkalan akibat adanya tumpukan 2. Tahapan Penelitian
endapan material yang terbawa bersamaan Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan
dengan air limpasan yang berasal dari front dalam penelitian ini, meliputi :

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 2


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

a. Studi Literatur 𝑅 24
24
I = 24 ( 𝑡 )2/3 ……………….. (2)
Dilakukan dengan mengumpulkan data,
Dimana :
referensi dan informasi-informasi lain yang
I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
terkait dengan objek penelitian.
T : Waktu hujan (jam)
b. Observasi
R24 : Curah hujan maksimum harian (mm)
Observasi dilakukan dengan peninjauan
langsung di lapangan untuk melakukan
c. Analisis Catchment Area
pengamatan secara langsung terhadap keadaan
Catchment area merupakan suatu areal atau
situasi, kondisi dan aktivitas di lokasi
kondisi tangkapan hujan uang akan tertampung
penelitian.
dan menuju ke suatu titik konsentrasi yang
c. Pengolahan Data
lama, dimana batas wilayah tangkapannya
Kegiatan ini meliputi pengolahan dan
dibentuk dari titik-titik elevasi tertinggi hingga
analisis data secara matematis untuk
akhirnya merupakan suatu polygon yang
menentukan intensitas hujan, debit air
tertutup dimana polanya disesuaikan dengan
limpasan, dimensi saluran, dan dimensi kolam
kondisi topografi, dengan mengikuti
pengendapan.
kecendrungan arah gerak air. Sedangkan untuk
daerah-daerah yang sudah terganggu digunakan
3. Analisis Data
peta situasi.
a. Analisis Curah Hujan Rencana
Dengan pembatas catchment area maka
Curah hujan merupakan suatu kriteria utama
diperkirakan setiap debit hujan yang tertangkap
dalam perencanaan sistem penyaliran untuk air
akan terkonsentrasi pada elevasi terendah pada
permukaan pada suatu tambang. Prediksi hujan
catchment area. Pembatasan suatu catchment
maksimum diharapkan akan terjadi pada setiap
area biasa dilakukan menggunakan peta
satu kali dalam n tahun ulang. Salah satu
topografi. [6]
metode dalam analisis frekuensi hujan yang
sering digunakan dalam menganalisis data
d. Debit Limpasan
curah hujan yaitu metode distribusi ghumbel.
Air limpasan adalah bagian dari curah hujan
[3]
yang mengalir di atas permukaan tanah menuju
𝑠 ke daerah yang lebih rendah seperti sungai,
𝑋𝑡 = 𝑋 + (𝑌𝑡 − 𝑌𝑛 )……………….. (1) danau dan lautan. Untuk memperkirakan debit
𝑠𝑛
Dimana : limpasan menggunakan persamaan metode
Xt : Perkiraan nilai curah hujan rencana (mm) rasional. [7]
X : Curah hujan rata-rata (mm)
Sn : Simpangan baku (standar deviation) 𝑄 = 0,0028 𝑥 𝐶 𝑥 𝐼 𝑥 𝐴 …………….(3)
S : Standar deviasi dari reduksi variate Dimana :
Yt : Nilai reduksi variate dari variabel yang Q : Debit air limpasan (m3/detik)
diharapkan terjadi pada periode ulang C : Koefisien limpasan
tertentu I : Intensitas curah hujan (mm/jam)
Yn : Koreksi rata-rata. A : Luas daerah tangkapan hujan (km2)

b. Analisis Intesitas Curah Hujan e. Dimensi Saluran


Intensitas hujan adalah jumlah air yang Untuk menentukan dimensi saluran secara
dinyatakan dalam tinggi hujan atau volume aktual dilakukan pengukuran langsung
hujan setiap satuan waktu [4]. Untuk kedalaman saluran, lebar dasar saluran, panjang
menentukan intensitas hujan dapat ditentukan sisi saluran dan lebar atas saluran. Sedangkan
dengan menggunakan metode mononobe. [5] untuk menentukan dimensi saluran yang
berdasarkan debit air limpasan maksimum yang

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 3


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

masuk ke dalam sediment pond menggunakan menentukan dimensi sediment pond


persamaan manning. [8] menggunakan persamaan : [5]

1 2 1 𝑔.𝐷2 (𝑆𝑔 −1)


𝑄 = 𝑛 𝑥 𝑅 ⁄3 𝑥 𝑆 ⁄2 𝑥 𝐴 …………..(4) V= ………………….. (11)
18 𝑣
Dimana : Dimana :
Q : Debit (m3/detik) V : Kecepatan pengendapan partikel (m/s)
R : Jari-jari hidrolik (m) v : Viskositas kinematic (m2/s)
S : Kemiringan saluran (%) g : Percepatan gravitasi (m/s2)
A : Luas penampang basah (m2) sg : Specific gravity
n : Koefisien kekerasan manning. D : Diameter partikel padatan

Sehingga dalam menentukan dimensi ℎ


𝑡𝑣 = 𝑉 ………………….. (12)
saluran bentuk trapezium dengan menggunakan
parameter luas penampang basah saluran (A), Dimana :
jari-jari hidrolik (R), kedalaman penampang tv : Waktu pengendapan partikel (detik)
(h), lebar dasar saluran (b), penampang sisi V : Kecepatan pengendapan partikel (m/detik)
saluran (a), lebar permukaan saluran (B), dan h : kedalaman saluran (meter)
kemiringan dinding saluran (z), mempunyai
hubungan yang dapat dinyatakan sebagai 𝑉 = 𝑡𝑣 𝑥 𝑄𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 …………. (13)
berikut : [9] Dimana :
V : Volume air di sediment pond (m3)
𝑏⁄ = 2 ((1 + 𝑍 2 )1⁄2 − 𝑍) …. tv : Waktu pengendapan partikel (detik)
ℎ (5)
Qtotal : Debit air yang masuk ke sediment pond
𝑧 = Costg ∝ ………………… (6) (m3/detik)
1
𝑅 = 2 ℎ ……………………... (7)
𝑄
𝑑
𝑎 = 𝑆𝑖𝑛 ∝ …………………….. (8) 𝐴 = 𝑣 ……………………. (14)
2
𝐴 = 𝑏 ℎ + 𝑧 ℎ ……………… (9) Dimana :
𝐵 = 𝑏 + 2 𝑧 ℎ………………... (10) A : Luas sediment pond (m2)
Dimana : Q : Debit total air yang masuk kedalam
b : Lebar dasar saluran (m) sediment pond (m3/detik)
h : Kedalaman saluran (m) v : Kecepatan pengendapan (m/detik)
Z : kemiringan dinding saluran ( 0 ) 𝐴
R : Jari-jari hidrolik (m) 𝑃 = 𝑙 …………………….. (15)
a : Panjang sisi saluran (m) Dimana :
d : Tinggi air (m) P : Panjang sediment pond (m)
A : Luas penampang basah saluran (m) A : Luas sediment pond (m2)
B : Lebar permukaan saluran (m) l : Lebar sediment pond (m)

f. Dimensi Kolam Pengendapan (Sediment C. HASIL DAN PEMBAHASAN


Pond) 1. Data Curah Hujan
Sediment pond merupakan lokasi tempat Evaluasi sistem penyaliran PT. Paramitha
penampungan atau menyimpan sementara air Persada Tama menggunakan 3 (tiga) pos
yang berasal dari saluran sebelum disalurkan penangkar data curah hujan, yaitu : Pos Tinobu,
kembali ke sungai atau laut. Sediment pond juga Pos Asera dan Pos Lamonae. Dimana data
sebagai cara untuk menghindarkan pencemaran curah hujan yang dimiliki selama 10 tahun,
air yang berasal dari tambang yang yaitu dari tahun 2007 – 2016.
mengandung partikel padat akibat erosi. Untuk

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 4


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

Tabel 1. Data curah hujan harian pos hujan Tinobu


BULAN (mm)
TAHUN
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Juli Agu Sep Okt Nov Des
2007 460 255 39 555 455 510 365 327 115 335 110 260
2008 30 377 146 228 447 216 105 320 120 245 110 595
2009 385 435 400 225 240 285 240 15 325 30 170 300
2010 0 0 0 80 125 200 110 150 75 85 65 65
2011 19 20 19 45,5 61 17,5 52 42,5 12 32,1 28,5 44
2012 60 46,5 19,8 22 36,5 52 30 10 35 4 18 23
2013 37 26,5 17,1 21 20 29,5 44 15 10 23 225 310
2014 211 308 341 210 330 435 235 5 0 60 10 389
2015 296 487 274 358 266 230 203 20 0 75 18 266
2016 345 246 308 589 315 557 927 80 108 168 35 366

Tabel 2. Data curah hujan harian pos hujan Lamonae


BULAN (mm)
TAHUN
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2007 78 118 40,8 72,6 63,7 96,7 84 58,8 22,7 20 34 18
2008 62 110 59 87 195 75 144 200 121 69 21 40
2009 33 167 189 87 90 57 109 22 7 19 77 132
2010 227 49 201 97 32 333 206 112 15 136 95 66
2011 184 132 62 83 136 133 253 14 81 15 0 91
2012 127 132 62 83 136 133 253 14 81 15 0 91
2013 110 82,5 233 163 161 87 467 77,5 104 34 155 75,5
2014 124 168 63,5 161 140 356 177 188 2 5 27 209
2015 133 106 63,5 121 94 167 201 141 2 0 0 110
2016 66 238 165 77 52 207 115 58.5 29 61 54 157

Tabel 3. Data curah hujan harian pos hujan Asera


BULAN (mm)
TAHUN
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
2007 440 186 317 215 212 451 448 262 109 77 0 0
2008 125 229 180 277 480 280 0 535 182 118 133 411
2009 197 213 39 312 205 68 205 41 46 22 112 118
2010 298 245 306 151 202 324 630 0 48,5 211 170 247
2011 42 175 92,2 307 271 173 261 29 148 43,5 133 333
2012 272 258 295 189 42 0 43 24 88 96,5 87 224
2013 219 163 318 202 348 296 800 117 190 20 296 275
2014 305 276 265 149 144 429 305 107 0 10 68,5 361
2015 310 361 392 272 409 448 226 13 3 5 0 106
2016 174 514 278 177 286 285 378 172 115 120 105 199

2. Curah Hujan Rencana 3. Intensitas Curah Hujan


Berdasarkan data curah hujan yang Nilai intensitas curah hujan dikonversikan
didapatkan dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi dari nilai curah maksimum harian menjadi
IV dan setelah dilakukan perhitungan dengan curah hujan maksimum perjam dengan
metode ghumbel maka diperoleh nilai curah menggunakan metode mononobe, sehingga
hujan rencana maksimum (Xt) dalam periode 2 didapatkan nilai intesitas curah hujan sebesar
tahun kedepan yaitu sebesar 49,71 mm. 17,23 mm/jam, dengan asumsi terjadinya hujan
ekstrim selama 24 jam.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 5


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

4. Catchment Area
Lokasi penelitian berada pada blok D dengan menggunakan aplikasi Software
dimana dalam melakukan analisis penentuan Autocad dan dari hasil analisis diperoleh luasan
catchment area menggunakan peta situasi daerah tangkapan hujan pada lokasi penelitian
tambang yang diolah langsung di lokasi yaitu sebesar 0,28 km2
penelitian.

Gambar 2. Lokasi catchment area yang berada di wilayah Blok D, PT. Paramitha Persada Tama

5. Debit Air Limpasan Adapun hasil pengukuran dimensi saluran


Debit air limpasan akan mengalir melalui saat ini yaitu sebagai berikut :
parit dan menuju ke sediment pond. Debit air
limpasan sangat dipengaruhi oleh luas daerah Tabel 4. Hasil pengukuran dimensi drainase
tangkapan hujan, koefisien limpasan dan aktual PT. Paramitha Persada Tama.
intensitas hujan pada lokasi penelitian. Pada No h a b B
lokasi penelitian Blok D luasan daerah 1 0,68 0,92 0,80 1,82
tangkapan hujan yaitu sebesar 0,28 km2 2 0,77 1,15 1,00 1,74
sehingga besarnya debit air limpasan pada 3 0,69 1,33 1,29 2,10
lokasi penelitian yaitu sebesar 1,20 m3/s. 4 0,47 1,23 1,13 1,84
5 0,88 1,58 1,48 1,84
Rata-rata 0,69 1,24 1,12 1,86
6. Dimensi Saluran
Dari pengamatan langsung di lapangan PT.
Dari hasil pengukuran lapangan diperoleh
Paramitha Persada Tama sudah mulai
nilai rata-rata kedalaman saluran sebesar 0,69
merencanakan sistem penyaliran di sepanjang
meter, dengan panjang sisi saluran 1,24 meter,
jalan tambang dengan bentuk trapezium, tetapi
lebar dasar 1,12 meter dan lebar atas saluran
karena kurangnya perawatan maka beberapa
saluran drainase mengalami penyempitan. sebesar 1,86 meter.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 6


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

Setelah dilakukan perhitungan dimensi


saluran yang disesuaikan dengan debit aliran air
maksimum yang terbentuk maka diperoleh
ukuran saluran drainase yang sesuai yaitu
memiliki kedalaman 0,82 meter, lebar dasar
saluran 0,95 meter, lebar atas permukaan
saluran 2,1 meter, dengan tinggi jagaan aliran
air 0,12 meter.

Tabel 5. Perbandingan dimensi saluran aktual


dan berdasarkan perhitungan debit
aliran air.
Gambar 3. Kondisi aktual drainase di dalam Aktual Berdasarkan
Keterangan
wilayah Blok D, PT. Paramitha (m) Debit Air (m)
Lebar Atas Saluran (B) 1,82 2,1
Persada Tama.
Lebar Bawah Saluran (b) 1,24 0,95
Kedalaman (h) 0,69 0,82
Rancangan dimensi drainase PT. Paramitha Panjang Sisi Saluran (a) 1,12 0,95
Persada Tama yang telah disesuaikan dengan Tinggi Jagaan (x) - 0,12
kondisi debit aliran permukaan memiliki
bentuk trapezium. (Gambar 4)

B = 2,1 m
x = 0,12 m
x

h
h = 0,82 m

α = 600

b = 0,95 m

Gambar 4. Rancangan dimensi drainase PT. Paramitha Persada Tama


7. Dimensi Kolam Pengendapan (Sediment
Pond)
Sediment pond PT. Paramitha Persada Tama Berdasarkan hasil pengukuran aktual di
memiliki 1 kolam pengendapan dimana pada lapangan didapatkan panjang kolam pengendap
sediment pond ini tidak terdapat sekat mencapai 22 meter, lebar 9,56 meter dengan
pembatas, sehinga mengakibatkan material kedalaman 3 meter, sehingga luas total dari
yang terbawa oleh air tidak dapat terendapkan kolam pengendapan tersebut sebesar 210 m2
dengan baik karena kecepatan aliran air pada dan volume kolam pengendapan sebesar 630
sediment pond masih terbilang cepat dan m3.
membuat aliran air langsung menuju keluar. Nilai kecepatan pengendapan pada sedimen
pond lokasi penelitian yaitu sebesar 0,0049 m/s
dengan waktu yang dibutuhkan material untuk

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 7


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

mengendap yaitu sebesar 612,24 detik. Berdasarkan hasil perhitungan dimensi


Sementara untuk volume air yang masuk dalam sediment pond yang disesuaikan dengan debit
sediment pond selama waktu pengendapan pada aliran air permukaan yang mengalir, didapatkan
saat debit maksimum yaitu sebesar 1.224 m3. panjang sediment pond sebesar 43 meter,
dengan kedalaman 4 meter, sekat pembatas
sediment pond dengan lebar 3 meter sehingga
sediment pond ini akan membentuk
kompartemen-kompartemen, waktu yang
dibutuhkan oleh partikel untuk keluar melalui
rancangan sediment pond ini sebesar 8.775
detik.
Perbandingan dimensi sediment pond
berdasarkan hasil pengukuran di lapangan
dengan hasil rancangan yang disesuaikan
dengan debit aliran air yang melalui saluran
drainase dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Gambar 5. Kondisi aktual sediment pond
Tabel 6. Perbandingan sediment pond aktual
dan rancangan berdasarkan debit
aliran air.
RANCAN
KETERANGAN AKTUAL
GAN
Luas kolam 210,9 𝑚2 408
pengendapan (A)
Panjang kolam 22 m 43
pengendapan (P)
Lebar kolam 9,56 m 9,5
pengendapan (l)
Kedalaman (h) 3m 4
Sekat - 3
Volume 630 𝒎𝟑 1.685 𝒎𝟑

Gambar 6. Luasan saluran inlet yang terdapat Adapun rancangan dimensi sediment pond
pada sediment pond. PT. Paramitha Persada Tama yang disesuaikan
dengan debit aliran air adalah sebagai berikut :

12,3 Meter
9,5 Meter

Zona inlet Sekat Zona sedimentasi

Sekat
Zona outlet

Saluran masuk 43 Meter Saluran keluar

Gambar 7. Rancangan dimensi kolam sediment pond PT. Paramitha Persada Tama

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 8


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Teknik Sistem Penyaliran Penambangan Bijih Nikel PT. Paramitha Pesada Tama Kab. Konawe Utara (1-9)

D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan maka dapat dihasilkan beberapa
kesimpulan, yaitu :
1. Dimensi saluran drainase yang di
rekomendasikan untuk debit masksimum
yaitu memiliki kedalaman saluran 0,82
meter, lebar dasar saluran 0,95 meter,
panjang sisi saluran 0,95 meter, lebar atas
saluran 2,1 meter, dan tinggi jagaan aliran
air 0,12 meter
2. Dimensi sediment pond yang sesuai dengan
debit air saluran drainase yaitu : memiliki
panjang kolam sebesar 43 meter, lebar 9,5
meter, kedalaman 4 meter dengan luas 408
m2 sehingga volume yang dapat ditampung
kolam pengendapan yaitu sebesar 1.685 m3.

Daftar Pustaka

[1] Khairuddin Yusran., dkk, Sistem [7] Chay Asdak, Hidrologi dan Pengelolaan
Penyaliran Tambang PIT AB EKS Pada Daerah Aliran Sungai, Gadjah Mada
PT. Andalan Mining Jobsite Kaltim Prima University Press, Yogyakarta, (2014), 151-
Coal Sangatta Kalimantan Timur, Jurnal 161.
Geomine, Vol. 3 (2015), 170. [8] Wibawa Hari, Laju Infiltrasi Pada Lahan
[2] Dewangga Jabal Putra., dkk, Perencanaan Gambut yang di Pengaruhi Air Tanah,
Sistem Penyaliran Tambang Batubara pada Jurnal Belian, Vol. 9 No. 1, (2010), 90-
PIT Bravo PT. Pro Sarana Cipta, Jurnal 103.
GEOSAPTA, Vol. 4 No. 1 (2018), 1. [9] Purwaningsih Diyah Ayu., dkk, Kajian
[3] Endriantho Muhammad., dkk, Dimensi Penyaliran pada Tambang
Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang Terbuka PT. Baturona Adimulya
Terbuka Batubara, Jurnal Geosains, Vol. Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi
09 No. 01 (2013), 30. Sumatera Selatan, Jurnal Geologi
[4] Fasdarsyah, Analisis Curah Hujan Untuk Pertambangan (JGP), Vol. 2, (2015), 23
Membuat Kurva Intensity-Duration-
Frequency (Idf) di Kawasan Kota
Lhokseumawe, Teras Jurnal, Vol. 4 No. 1
(2014), 26.
[5] Sita Dewi Prahastini., dkk, Perencanaan
Aplikasi Untuk Sistem Penyaliran pada
Tambang Terbuka, JTM, Vol. XIX No. 3
(2012), 153.
[6] Marwan., dkk, Kajian Teknik Penirisan
Tambang Nikel Laterit Menggunakan
Metode Mine Dewatering, Jurnal
Geomine, Vol. 4 No. 3 (2016), 107.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 9


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-18)

PENGARUH IMPLEMENTASI PROGRAM CSR TERHADAP TINGKAT


KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELURAHAN PONDIDAHA

Sri Herminawati1) , Irfan Ido1), La Ode Alwi1)


1)
Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, Universitas Halu Oleo
E-mail : Sriherminawati@yahoo.com

ABSTRAK
PT. Sulemandara Konawe terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Pondidaha
Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe. Data yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis
secara kuantitatif. Penentuan jumlah sampel diambil dari 261 Kepala Keluarga dengan tingkat
kesalahan sebesar 10 %, sehingga memperoleh 72 responden. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu program CSR dalam bidang ekonomi, bidang budaya & lingkungan dan bidang
kesehatan serta kesejahteraan masyarakat. Hasil analisis yang dilakukan menunjukan bahwa
implementasi program CSR PT. Sulemandara Konawe secara simultan tidak berpengaruh terhadap
kesejahteraan masyarakat. Tetapi secara parsial hanya program CSR pada bidang ekonomi yang
berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat, sedangkan pada bidang budaya dan
lingkungan dan bidang kesehatan tidak berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat
Berdasarkan koefisien determinasinya presentase pengaruh implementasi program CSR pada bidang
ekonomi, bidang budaya & lingkungan, dan bidang kesehatan secara simultan terhadap
kesejahteraan masyarakat Kelurahan Pondidaha Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe adalah
sebesar 12,2%, sisanya 87,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam peneltian ini.

Kata Kunci : Implementasi, Corporate Social Responsibility (CSR), Kesejahteran.

ABSTRACT
PT.Sulemandara Konawe to the level of welfare in the Pondidaha Village of Pondidaha District,
Konawe Regency. The data used in this study were analyzed quantitatively. Determination of the
number of samples taken from 261 heads of household with an error rate of 10%, thus acquiring 72
respondents. Variables used in this research that CSR programs in the economic, cultural and
environmental fields and the field of health and social welfare. The results of the analysis conducted
show that the implementation of CSR program PT. Sulemandara Konawe simultaneously does not
affect the welfare of the community. But only partially CSR program in economics that affect the level
of welfare of the people, while in the fields of culture and environmental and health field do not affect
the level of welfare Based on the determination coefficient percentage influence the implementation
of CSR programs in the economic field, the field of culture and the environment, and field health
simultaneously to the public welfare Pondidaha Village, District of Pondidaha, Konawe Regency was
12.2%, the remaining 87.8% is influenced by other variables not examined in this research.

Key Words: Implementation, Corporate Social Responsibility (CSR), Welfare.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 10


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

A. PENDAHULUAN
Perusahaan yang diberikan izin Sulemandara Konawe telah menimbulkan
mengelolah sumber daya alam pada umumnya beberapa dampak yang dapat dirasakaan
memiliki suatu kewajiban terhadap masyarakat langsung oleh masyarakat antara lain timbulnya
maupun lingkungan. Kewajiban ini disebut debu, dan terjadinya kerusakan jalur
dengan Coorporate Social Responsibility atau transportasi jalan raya.
tanggung jawab sosial perusahaan yang Dalam pelaksanaan program CSR
selanjutnya akan disebut dengan CSR. perusahaan memerlukan keterlibatan seluruh
Setiap perusahaan yang berdiri dan berada eleman masyarakat karena banyak aspek yang
di Indonesia khususnya perusahaan yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
bergerak di bidang pertambangan wajib untuk program kegiatan tersebut, mulai dari
melaksanakan CSR sesuai dengan ketentuan pemerataan ekonomi hingga
Pasal 74 Ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 mempertimbangkan kelestarian lingkungan
tentang Perseroan Terbatas. serta dampak yang mungkin akan dirasakan
Konsep CSR sejalan dengan pemikiran oleh masyarakat.
Elkington, 1998, melalui prisip Triple Bottom Beberapa program CSR yang telah
Line, dimana setiap perusahaan yang dilaksanakan oleh PT. Sulemandara Konawe
melaksanakan CSR harus berpedoman pada terhadap masyarakat Kelurahan Pondidaha
tiga prinsip dasar, yaitu people, planet, ana yaitu: pemberian bantuan langsung tunai,
profit, atau lebih dikenal dengan istilah 3P. [1] pemberian sembako kepapada masyarakat,
Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pembangunan sarana ibadah berupa masjid, dan
usahanya wajib memperhatikan kesejahteraan pemberian bantuan pada bidang kesehatan.
masyarakat (people), kelestarian lingkungan Berdasarkan latar belakang di atas, penulis
hidup (planet), dan keuntungan yang diperoleh tertarik untuk melakukan penelitian dengan
(profit). Ketiga prinsip ini juga ditambahkan judul “Pengaruh Implementasi Corporate
dengan prinsip human rights, karena sebagai Social Responsibility (CSR) PT. Sulemandara
entitas sosial perusahaan memiliki kemampuan Konawe Terhadap Tingkat Kesejahteraan
dan kekuatan untuk melanggar dan/atau Masyarakat Kelurahan Pondidaha Kecamatan
mengadvokasi HAM (Hak Asasi Manusia). Pondidaha Kabupaten Konawe.
Tanggung jawab sosial oleh perusahaan
dapat direalisasikan dalam berbagai bidang, B. METODE PENELITIAN
meliputi: pendidikan, kesehatan, lingkungan, 1. Lokasi Penelitian
olahraga, agama, ekonomi, sosial Secara administratif peleksanaan penelitian
kemasyarakatan, dan lain-lain. Contoh ini berada di Kelurahan Pondidaha Kecamatan
perwujudan nyata tanggung jawab terebut Pondidaha Kabupaten Konawe,. Adapun
adalah membuka lapangna pekerjaan, pertimbangan pemilihan lokasi penelitian,
menyediakan kebutuhan masyarakat, yaitu: lokasi penelitian merupakankan daerah
melakukan pembayaran pajak, srta pertambangan nikel, dan merupakan tempat
menyelenggarakan aktivitas nonproduksi yang perusahaan melaksanakan program CSR.
mewakili penghargaan dan kontribusi Populasi yang digunakan dalam penelitian
perusahaan terhadap masyarakat. [2] ini adalah masyarakat yang berada di sekitar
PT. Sulemandara Konawe merupakan kawasan pertambangan PT. Sulemandara
salah satu perusahaan pertambangan nikel yang Konawe, yakni Kelurahan Pondidaha
berada pada daerah penelitian. Perusahaan ini Kecamatan Pondidaha.
mulai melakukan kegiatan eksplorasi pada
tahun 2007 dan pada tahun 2012 melakukan
kegiatan produksi hingga sekarang. Kegiatan
usaha pertambangan yang dilakukan oleh PT.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 11


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

Gambar 1. Peta wilayah penelitian yang berada di Kelurahan Pondidaha


Berdasarkan rumus Slovin [3] maka  Kuesioner (angket) adalah sejumlah
jumlah sampel yang digunakan adalah 72,29 pertanyaan secara tertulis yang digunakan
KK atau dibulatkkan menjadi 72 KK untuk memperoleh informasi dari responden
masyarakat sebagai responden penelitian. alam arti laporan tentang data pribadinya
atau hal-hal yang diketahui.
𝑁  Observasi, yaitu pengumpulan data yang
𝑛 = 𝑁. d2 +1 ………………………… (1) dilakukan melalui pengamatan langsung
terhadap obyek penelitian.
Dimana :  Wawancara terstruktur, yaitu melakukan
n = Jumlah sampel tanya jawab dengan obyek penelitian untuk
N = Jumlah populasi mengumpulkan data dan informasi yang
d = Presisi (10% = 0,1) diperlukan dengan menggunakan kuisioner
yang telah disiapkan sebelumnya.
Metode pengambilan sampel dilakukan  Studi pustaka, yaitu studi terhadap referensi
dengan menggunakan teknik simple random yang berkaitan dengan kebutuhan penelitian
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel tertulis.
yang dilakukan secara acak. [4]
3. Analisis Data
2. Tahapan Penelitian Analisis data yang digunakan dalam
Kegiatan penelitian ini terdiri dari beberapa penelitian ini, yaitu analisis regresi linier
tahapan dimulai dari observasi pendahuluan, berganda. Analisis ini digunakan untuk
pengumpulan data hingga tahap pengolahan menguji dua atau lebih variabel bebas terhadap
dan analisis data. variabel terikat. Variabel bebas dalam
Kegiatan pengambilan data yang dilakukan penelitian ini adalah implementasi program
di dalam penelitian ini terdiri atas beberapa cara CSR dalam bidang ekonomi, bidang budaya,
yaitu : bidang lingkungan dan bidang kesehatan.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 12


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

Sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat luas Kecamatan Pondidaha. Sedangkan desa
kesejahteraan masyarakat. dengan luas wilayah terkecil adalah Desa
Dalam melakukan kegiatan analisis peneliti Wonua Monapa deengan luas 282 Ha atau
dibantu dengan menggunakan alat analisis 1,80% dari luas Kecamatan Pondidaha. Jarak
berupa program SPSS (Statistic Product and ibukota kecamatan terhadap Kabupaten adalah
Service Solution). 28 Km dan jarak ibukota Kecamatan terhadap
Provinsi adalah 34 Km. [5]
Y = a + 𝑏1𝑋1+𝑏2𝑋2+𝑏3𝑋3 + 𝑒 ………… (2)
b. Keadaan Iklim dan Topografi
Dimana : Secara umum keadaan iklim pada daerah
Y = Variabel kesejahteraan masyarakat penelitian tidak jauh berbeda dengan keadaan
a = Konstanta iklim pada beberapa wilayah lain yang ada di
𝑏1,𝑏2,𝑏3 = Koefisien regresi wilayah Kabupaten Konawe yaitu iklim tropis
𝑋1 = Variabel implementasi program dengan dua jenis musim yang terjadi dalam
CSR bidang ekonomi setahun khususnya dimana dua jenis musim
𝑋2 = Variabel implementasi program yang dimaksud adalah musim penghujan dan
CSR bidang budaya & lingkungan. musim kemarau, musim penghujan biasanya
𝑋3 = Variabel implementasi program terjadi pada bulan April sampai bulan Juni,
CSR bidang kesehatan sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan
𝑒 = Standart eror Juli sampai bulan Oktober dan terkadang
musim hujan dan musim kemarau terjadi pada
C. HASIL DAN PEMBAHASAN bulan November sampai bulan Maret. Kedua
1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian musim ini sangat mempengaruhi kehidupan
Gambaran umum wilayah penelitian masyarakat di Kelurahan Pondidaha, hal ini
menggambarkan keadaan dimana suatu disebabkan oleh dampak yang ditimbulkan oleh
wilayah berada, dan segala yang berhubungan kedua musim tersebut. Selain itu, berkaitan
dengan apa yang dimiliki oleh wilayah tersebut. dengan mata pencaharian pokok masyarakat di
Gambaran umum wilayah penelitian dijelaskan Kelurahan Pondidaha khusunya para petani dan
sebagaimana uraian dibawah ini : nelayan [5].

a. Letak dan Batas Wilayah c. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis


Secara astronomis Kecamatan Pondidaha Kelamin
terletak antara 03⁰51΄15˝ - 04⁰2΄30˝ LS dan Kelurahan Pondidaha memiliki jumlah
antara 122⁰10˝ - 122⁰21’ BT. Berdasarkan penduduk sebanyak 1.207 jiwa, yang terdiri
geografisnya, Kecamatan Pondidaha memiliki dari 618 laki-laki (51,20%) dan sebanyak 589
batas-batas: Sebelah Utara berbatasan dengan orang perempuan (48,80%). [5]
Kecamatan Amonggedo dan Kabupaten
Konawe Utara (Kecamatan Sawa), sebelah Tabel 1. Jumlah penduduk berdasarkan jenis
Selatan berbatasan dengan Kabupaten Konawe kelamin
Selatan (Kecamatan Mowila), sebelah Barat Jenis Jumlah Persentase
No.
berbatasan dengan Kecamatan Wonggeduku Kelamin (Jiwa) (%)
dan Sebelah Timur berbatasan dengan 1 Laki 618 51,20
Kecamatan Besulutu. 2 Perempuan 589 48,80
Luas wilayah Kecamatan Pondidaha adalah Jumlah 1.207 100
15.628 Ha atau 2,69% dari luas daratan
Kabupaten Konawe. Desa dengan wilayah
terluas di Kecamatan Pondidaha adalah Desa
Amesiu dengan luas 2.055 Ha atau 13,15% dari

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 13


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

d. Kondisi Sarana dan Prasarana Sosial Tabel 3. Keadaan responden berdasarkan


Ekonomi golongan umur daerah penelitian
Kondisi sarana dan prasarana social pada Tahun 2017.
ekonomi yang ada pada daerah penelitian dapat No
Umur Jumlah Presentase
dilihat pada Tabel 2. [5] (Tahun) Responden (%)
1 Usia Produktif 66 91,67
Tabel 2. Keadaan sarana dan prasarana (15-54)
kelurahan 2 Usia Non 6 8,33
Sarana dan Jumlah Fisik Produktif >55
No. Ket.
Prasarana (unit) Jumlah 72 100
1. SD 1 Baik
2. SMP 1 Baik
Tabel 3 menunjukan bahwa 91,67% atau
3. SMA 1 Baik
4. Puskesmas 1 Baik sebanyak 66 orang responden berada pada usia
5. Posyandu 1 Baik produktif antara 15- 54 tahun, sedangkan
6. Masjid 1 Baik responden yang berada pada usia non produktif
7. Kantor Lurah 1 Baik diatas 55 tahun sebesar 8,33 atau sebanyak 6
8. Sanggar PKK 1 Baik orang. Hal ini berarti bahwa kemampuan fisik
9. Pos Kamling 1 Baik dan kemampuan berfikir masyarakat di
Kelurahan Pondidaha masih dalam kondisi
Keadaan sarana dan prasarana sosial produktif. Oleh karena itu, masyarakat yang
ekonomi yang ada pada daerah penelitian cukup memiliki keterbatasan dalam kemampuan fisik
baik, begitu juga pada aspek sarana dan maka seharusnya pihak-pihak yang
prasarana dibidang pendidikan sudah cukup bersangkutan memberikan lapangan pekerjaaan
memadai. Hal itu dibuktikan dengan adanya sesuai dengan kemampuan baik secara fisik
sarana dan prasarana sekolah yang mendukung ataupun secara psikis. Sehingga dapat
pada tingkat SD, SMP dan SMA. Sarana dan diharapkan masyarakat memperoleh
prasarana pada aspek kesehatan sudah penghidupan yang layak dan berkelanjutan.
memadai.
c. Tingkat Pendidikan
2. Hasil Penelitian dan Pembahasan Keadaan responden berdasarkan tingkat
Hasil penelitian dan pembahasan pendidikan dapat dilihat pada Tabel 4.
mendeskripsikan hasil yang diperoleh dari
lokasi atau tempat penenlitian. Hasil penelitian Tabel 4. Keadaan responden berdasarkan
dan pembahasan dijelaskan sebagaimana uraian tingkat pendidikan formal daerah
di bawah ini. penelitian Tahun 2016.
Jumlah Presentase
a. Identitas Responden Pendidikan
Responden (%)
Responden penelitian ini adalah Masyarakat
Tamat SD 5 6,94
di Kelurahan Pondidaha Kecamatan Pondidaha
Tamat SMP 22 30,56
Kabupaten Konawe. Identitas responden dalam
penelitian ini yaitu umur, tingkat pendidikan, Tamat SMA 41 56,94
dan jumlah tanggungan keluarga. S1 4 5,56
Jumlah 72 100
b. Umur Responden
Keadaan umur responden masyarakat Kondisi tingkat pendidikan para responden
Kelurahan Pondidaha dapat dilihat pada Tabel yang mayoritas berpendidikan tamatan sekolah
3. menengah atas memungkinkan mereka hanya
berharap pada pengalaman dalam usahatani,
nelayan dan sebagainya yang pada akhirnya

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 14


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

akan mempengaruhi mereka untuk bekerja Tabel 6. Hasil Uji Regresi Coefficientsa
disektor pertambangan nikel. Kegiatan Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
pertambangan nikel yang dilakukan oleh Model
Std.
perusahaan diharapkan lebih dinamis dalam B Beta
Error
melakukan kegiatan operasinya sehingga 1 (Constant) 73.488 5.743
karyawan yang bekerja diperusahaan mampu Bidang Ekonomi -0.144 0.051 -0.34
(X1)
berpikir secara rasional dan mengambil Bidang 0.098 0.062 0.191
keputusan yang tepat untuk meningkatkan Kebudayaan dan
pendapatan dan kesejahteraan. Lingkungan (X2)
Bidang 0.041 0.056 0.087
Kesehatan (X3)
d. Jumlah Tanggungan Keluarga F = 3.137 & nilai sig = 0.031
Jumlah tanggungan keluarga responden R2 = 0.122 atau 12.2%
dapat dilihat pada Tabel 5. Tanggungan Data hasil regresi yang ditunjukkan maka
keluarga merupakan salah satu tanggung jawab diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
yangakan dilakukan oleh orang tua. Tabel 5 𝑌 = 73.488 − 0.144𝑋1 + 0.098𝑋2 0.041𝑋3 + 𝑒
menunjukan bahwa sebagian besar responden
tergolong keluarga kecil (<4 orang) yaitu  Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
sebanyak 45 orang atau 62,5% sedangkan Berdasarkan hasil uji F terlihat bahwa nilai
keluarga sedang (5-7 orang) hanya 27 orang signifikan 0,031 < 0,1. Sehingga dapat
responden atau 37,5%. Besar kecilnya keluarga disimpulkan bahwa implementasi program
responden tersebut mendorong semangat CSR bidang ekonomi, bidang budaya &
responden dalam melakukan kegiatan berusaha, lingkungan, dan bidang kesehatan secara
berdagang, ataupun bekerja diperusahaan,
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
sehingga responden dapat memenuhi
kebutuhan hidup keluarganya. kesejahteraan masyarakat. Hal ini dikarenakan
pentingnya program CSR bagi masyarakat,
Tabel 5. Jumlah dan persentase tanggungan dimana dapat memenuhi kebutuhan bagi
keluarga responden, Tahun 2016 masyarakat, sekalipun itu untuk kebutuhan
Jumlah sementara atau jangka pendek, misalnyaadanya
Jumlah Persentase
Tanggungan pembagian sembako pada hari raya idul fitri
Responden (%)
Keluarga
dan adanya bantuan langsung tunai yang
Kecil (<4 orang) 45 62,5
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-
Sedang (5-7 orang) 27 37,5
hari.
Total 72 100
Berdasarkan pada tabel di atas dapat dilihat
e. Pengaruh Implementasi Program CSR nilai R2 sebesar 0,122 atau 12,2%. Hal ini
PT. Sulemandara Konawe Terhadap berarti 12,2% kesejahteraan masyarakat
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat dipengaruhi variabel bidang eknomi, bidang
Kelurahan Pondidaha budaya & lingkungan dan bidang kesehatan.
Untuk mengetahui pengaruh implentasi Sisanya 87,8% dipengaruhi oleh model atau
program CSR terhadap tingkat kesejahteraan variabel lain yang tidak ada dalam penelitiaan
terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat,
ini.
maka dilakukan dengan menggunakan uji
analisis regresi linear berganda. Analisis
dilakukan dengan menggunakan program SPSS  Uji Signifikan Parsial (Uji Statistik t)
versi 16,0. Hasil analisis dapat dilihat pada Uji ini digunakan untuk menunjukkan
Tabel 6. seberapa besar pengaruh variabel bebas secara
individual dalam menerangkan variabel terikat.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 15


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

f. Pengaruh Implementasi Program CSR h. Pengaruh Implementasi Program CSR


Bidang Ekonomi terhadap Bidang Kesehatan terhadap
Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan Masyarakat
Berdasarkan hasil analisis uji regresi yang Berdasarkan hasil uji regresi pada Tabel 6,
terlihat pada Tabel 6 menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar
nilai signifikan sebesar 0,006 < 0,1. Hal ini 0,472 > 0,1. Hal ini berarti variabel bidang
berarti variabel bidang ekonomi signifikan kesehatan tidak signifikan pada level 10%,
pada level 10%, sehingga dapat disimpulkan sehingga dapat disimpulkan implementasi
implementasi program CSR bidang ekonomi program Corporate Social Responsibility
berpengaruh terhadap kesejahteraan (CSR) bidang kesehatan tidak berpengaruh
masyarakat Kelurahan Pondidaha sebesar - terhadap kesejahteraan masyarakat Kelurahan
0,144. Hal ini menunjukkan bahwa program Pondidaha, dikarenakan masyarakat
CSR bidang ekonomi memiliki pengaruh, menganggap kurangnya yang sakit dalam
tetapi tidak meningkatkan kesejahteraan, anggota keluarga, sehingga bagi masyarakat
Menurunkan tingkat kesejahteraan. Hal ini dengan adanya program Corporate Social
dikarenakan masyarakat dalam menerima Responsibility (CSR) pada bidang kesehatan
program tersebut, tidak digunakan untuk seperti adanya pengobatan gratis, bukan
kebutuhan yang berkelanjutan atau jangka menjadi kebutuhan bagi masyarakat, sehingga
panjang bagi masyarakat, misalnya digunakan tidak mempengaruhi kesejahteraan.
untuk usahan mikro kecil atau tambahan
modal. Melainkan digunakan untuk D. PENUTUP
kebutuhan yang sifatnya sementara atau 1. Kesimpulan
jangka pendek, seperti kebutuhan sandang & Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
pangan. pengaruh implementasi program CSR, yang
meliputi bidang ekonomi, bidang budaya &
g. Pengaruh Implementasi Program CSR lingkungan dan bidang kesehatan pada PT.
Bidang Budaya & Lingkungan terhadap Sulemandara Konawe terhadap tingkat
Kesejahteraan Masyarakat kesejahteraan masyarakat Secara simultan,
Berdasarkan hasil uji regresi pada Tabel 6, yakni variabel bidang ekonomi, variabel
menunjukkan bahwa nilai signifikan sebesar bidang budaya& lingkungan dan variabel
0,115 > 0,1. Hal ini berarti variabel bidang bidang kesehatan berpengaruh terhadap tingkat
budaya & lingkungan tidak signifikan pada kesejateraan masyarakat Kelurahan Pondidaha
level 10%, sehingga dapat disimpulkan Kecamatan Pondidaha Kabupaten Konawe.
implementasi program CSR bidang budaya & Secara parsial hanya variabel bidang
lingkungan tidak berpengaruh terhadap ekonomi yang berpengaruh terhadap tingkat
kesejahteraan masyarakat Kelurahan kesejahteraan masyarakat, sedangkan variabel
Pondidaha. Hal ini dikarenakan masyarakat bidang budaya dan lingkungan dan variabel
kurangnya toleransi dalam beragama dan bidang kesehatan keduanya tidak berpengaruh
menganggap dengan adanya polusi udara pada tingkat kesejahteraan masyarakat
tidak menjadi masalah bagi mereka, sehingga Kelurahan Pondidaha
dengan adanya kontribusi pembangunan
masjid dan penyiraman debu yang dilakukan
oleh perusahaan, bukan menjadi kebutuhan
bagi masyarakat dan tidak mempengruhi
kesejahteraan.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 16


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pengaruh Implementasi Program CSR terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Kelurahan Pondidaha (10-17)

Daftar Pustaka

[1] Prima, D.I, Tanggung Jawab Sosial [3] Hendry, Populasi dan Sampel,
Perusahaan (Corporate Social https://teorionline.wordpress.com/2010/01
Responsibility) di Bidang Pertambangan /24/populasi-dan-sampel/comment page-
Bauksit PT. Kereta Kencana Bangun 1/, 16 April 2018.
Perkasa Terhadap Lingkungan dan [4] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif,
Masyarakat Kota Tanjung Pinang, JOM Kualitattif dan R&D, Alfabeta, Bandung,
Fakultas Hukum, Vol. 1 No. 2 (2014), 3. (2008).
[2] Dendy Jaya Putra, Persepsi Masyarakat [5] BPS Kabupaten Konawe, Kecamatan
Terhadap Program Corporate Social Pondidaha Dalam Angka Tahun 2016,
Responsibility sebagai Bentuk BPS (2018).
Pertanggungjawaban Sosial Perusahaan
pada PT. Pertamina (Persero) Refinery
Unit IV Cilacap, Universitas Negeri
Yogyakarta (2013), 1.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 17


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

EVALUASI GEOMETRI JALAN TAMBANG PADA PENAMBANGAN BIJIH NIKEL


(Studi Kasus: Jalan Angkut PT. Manunggal Sarana Surya Pratama)

Arif Sutrisno1), Deniyatno1), Fitrani Amin1)


1)
Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, Universitas Halu Oleo
E-mail: a_fitrani@ymail.com

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian evaluasi geometri jalan tambang pada penambangan bijih nikel
PT. Manunggal Sarana Surya Pratama dimana aktivitas pengangkutan ore dari PIT A menuju
Stockpile dimana dump truck harus melalui jalan angkut yang dirasa kurang memenuhi standar
minimum jalan angkut, sehingga perlu dilakukan evaluasi pada jalan angkut tambang untuk
mengetahui kondisi aktual geometri jalan angkut tambang dan memberikan rekomendasi geometri
jalan angkut tambang yang harus diterapkan agar sesuai dengan geometri jalan angkut standar.
Jalan angkut tambang PT. Manunggal Sarana Surya Pratama dari PIT A menuju stockpile
memiliki jarak ±1.686 meter dan memiliki dua lajur. Kegiatan pengangkutan bijih nikel
menggunakan dump truck Hino 500 FM 260 TI dengan kapasitas ±17 ton. Hasil analisis terhadap
geomotri jalan tambang didapatkan bahwa lebar minimum jalan angkut pada jalan lurus adalah 9
meter dan untuk jalan tikungan diperoleh lebar minimum 15 meter. Jari-jari tikungan harus dibuat
sepanjang 28 meter dengan kemiringan pada tikungan (superelevasi) harus di buat sebesar 8%
sehingga alat angkut bisa melewati tikungan dengan kecepatan rencana 30 km/jm secara maksimal.
Pada jalan angkut tambang merupakan daerah perbukitan, sehingga kemiringan jalan angkut yang
dianjurkan adalah 8%. Untuk nilai kemiringan melintang (cross slope) yang harus diterapkan
berdasarkan perhitungan adalah sebesar 0,1792 meter.

Kata Kunci : Evaluasi, Geometri, Jalan Tambang

ABSTRACT
Evaluation studies have been conducted on the mine road geometry nickel ore mining
PT. Manunggal Sarana Surya Pratama wherein the activity of transporting ore from PIT A to
Stockpile where dump trucks have to go through the haul roads were deemed not meet minimum
standards of road transport, so it needs to be evaluated on the haul roads mine to know the actual
condition geometry haul road mines and provide recommendations road geometry mine transport
that should be applied to fit the standard haul road geometry. PT. Manunggal Surya Pratama haul
mine roads Means of PIT A to stockpile has a range of ± 1.686 meters and has two lanes. The
transport of ore using a dump truck Hino 500 FM 260 ± TI with a capacity of 17 tons. Analysis of
the mining road geometric found that the minimum width of road transport on a straight road is 9
meters and on the road twists obtained a minimum width of 15 meters. The radius of the bends must
be made throughout the 28 meters with a slope of the curve (super elevation) must be made by 8%
so that the conveyance speed corners could pass a plan of 30 km/hr maximum. At the mine haul
road is a hilly area, so the slope of the road transport is the recommended 8%. For slope values
transverse (cross slope) should be applied based on the calculation is equal to 0.1792meters.

Key Words: Evaluation, Geometric, Haul Roads Mine

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 18


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

A. PENDAHULUAN mempengaruhi produktivitas alat angkut,


Pertambangan adalah sebagian atau biaya produksi dan target produksi, maka
seluruh tahapan kegiatan dalam rangkaian perlu dilakukan evaluasi geometri jalan
penelitian, pengelolaan dan pengusahaan angkut tambang di PT. Manunggal Sarana
mineral atau batubara yang meliputi Surya Pratama dan PIT A menuju Stockpile.
penyelidikan umum, eksplorasi, studi
kelayakan, konstruksi, penambangan, B. DASAR TEORI
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan 1. Kegiatan Penambangan
dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Penambangan adalah bagian kegiatan
[1] usaha pertambangan untuk memproduksi
PT. Manunggal Sarana Surya Pratama mineral dan/atau batubara dan mineral
merupakan salah satu perusahaan yang ikutannya. [1]
bergerak di bidang pertambangan bijih nikel,
yang dalam operasional penambangannya 2. Fasilitas Kegiatan Penambangan
menerapkan sistem tambang terbuka, dimana a. Jalan
seluruh aktivitasnya berhubungan langsung Pasal (1) ayat (1) jalan adalah prasarana
dengan udara luar. Sarana penunjang seperti transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan angkut pada sistem tambang terbuka jalan, termasuk bangunan pelengkap dan
sangatlah mempengaruhi produktivitas perlengkapannya yang diperuntukkan bagi
pengangkutan, biasanya dipengaruhi oleh lalu lintas, berada pada permukaan tanah
keadaan jalan yang sempit, tanjakan yang dan/atau air, serta diatas permukaan air,
curam, jalan berlubang, permukaan jalan yang kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
licin dan lainnya. Ini menyebabkan resiko kabel; ayat (2) jalan umum adalah jalan yang
keselamatan kerja dan antrian alat angkut diperuntukkan bagi lalu lintas umum; dan
(menambah waktu edar), sehingga ayat (3) jalan khusus adalah jalan yang
mempengruhi produktivitas alat angkut, biaya dibangun oleh instansi, badan usaha,
produksi dan target produksi. Hal tersebut perseorangan, atau kelompok masyarakat
biasanya disebabkan oleh geometri jalan untuk kepentingan sendiri. [2]
angkut tambang yang belum memenuhi
standar. b. Stockpile
Jalan angkut tambang PT. Manunggal Stockpile adalah salah satu sarana
Sarana Surya Pratama dari PIT A menuju penunjang dalam kegiatan penambangan,
stockpile memiliki jarak ± 1.686 meter. biasanya digunakan sebagai tempat
Kegiatan pengangkutan (hauling) bijih nikel penyimpanan sementara bahan galian yang
PT.Manunggal Sarana Surya Pratama telah siap dijual, untuk selanjutnya
menggunakan dump truck Hino 500 FM 260 dimanfaatkan sebagai bahan baku industri.
TI dengan kapasitas ± 17 ton. Pada kegiatan Stockpile sendiri biasanya terletak di dekat
tersebut, dump truck harus melalui jalan pelabuhan (jetty) guna mempermudah
angkut yang dirasa kurang memenuhi standar kegiatan pemuatan bahan galian ke kapal,
minimum jalan angkut, seperti lebar jalan, sedangkan untuk luasnya tergantung pada
jari-jari tikungan dan superelevasi, target produksi yang direncanakan.
kemiringan jalan (grade), serta kemiringan
melintang (cross slope). Hal tersebut 3. Geometri Jalan Angkut Tambang
dibuktikan dengan adanya waktu berhenti alat a. Lebar Jalan Angkut
angkut (kosong) ketika berpapasan dengan Lebar jalan angkut minimum pada wilayah
alat angkut lainnya (bermuatan) yang berjalan tambang terbagi menjadi dua yaitu:
berlawanan, ini menyebabkan bertambahnya  Lebar jalan angkut minimum pada jalan
waktu edar (circle time) sehingga lurus

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 19


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

Lebar jalan minimum pada jalan lurus Ad = Jarak AS roda depan dengan bagian
dengan lajur ganda atau lebih, menurut The depan dump truck (Meter)
American Association of State Highway and Ab = Jarak AS roda belakang dengan
Transportation Officials (AASHTO) Manual bagian belakang dump truck (Meter)
Runal High Way Design harus ditambah α = Sudut penyimpangan (belok) roda
dengan setengah lebar alat angkut pada depan, ( o )
bagian tepi kiri dan kanan jalan. Maka lebar
jalan angkut pada jalan lurus dapat
dirumuskan sebagai berikut: [3]

L min = n.Wt + (n+1) (½.Wt) …………….(1)


Dimana :
L min = Lebar jalan angkut minimum, m
n = Jumlah lajur
Wt = Lebar alat angkut, m

Gambar 2. Lebar jalan angkut dua lajur


pada lintasan berkelok [3]

b. Jari-Jari Tikungan dan Superelevasi


Kemampuan alat angkut dump truck untuk
melawati tikungan terbatas, maka dalam
pembuatan tikungan harus memperhatikan
Gambar 1. Lebar jalan angkut dua lajur besarnya jari-jari tikungan jalan. Untuk
pada lintasan lurus [3] menentukan nilai jari-jari tikungan minimum
dengan mempertimbangkan kecepatan (V),
 Lebar jalan angkut minimum pada gesekan roda (f) dan superelevasi, maka
tikungan rumus yang digunakan adalah ketentuan dari
Dengan menggunakan ilustrasi pada Departemen PU, Dirjen Bina Marga (1997).
Gambar 2 dapat dihitung lebar jalan minimum [5]
pada tikungan, menggunakan perhitungan [4]
sebagai berikut: VR
2
Rmin  ……………...……(6)
127 (emax  f )
Wmin = n (U + Fa + Fb + Z) + C ....... (2) Dimana :
C = Z = 0,5 (U + Fa + Fb)………. (3) Rmin = Jari-jari tikungan minimum, m
Fa = Ad .sin α………………………(4) VR = Kecepatan rencana, km/jam
Fb = Ab .sin α………………………(5) emax = Nilai superelevasi maksimum, %
Dimana : f = Koefisien gesek (friction factor)
W min = Lebar jalan angkut minimum pada
tikungan (Meter) Dalam pembuatan jalan menikung, jari-jari
n = Jumlah lajur tikungan harus dibuat lebih besar dari jari-jari
U = Lebar jejak roda/ center to center lintasan alat angkut atau minimal sama. Jari-
tires (Meter) jari tikungan jalan angkut juga harus
Fa = Lebar juntai depan (overhang), m memenuhi keselamatan kerja di tambang atau
Fb = Lebar juntai belakang, m memenuhi faktor keamanan yang dimaksud
Z = Lebar bagian tepi jalan, m adalah jarak pandang bagi pengemudi di
C = Jarak antar kendaraan, m tikungan, baik horizontal maupun vertikal
terhadap kedudukan suatu penghalang pada

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 20


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

jalan tersebut yang diukur dari mata jalan turun pada daerah perbukitan lebih aman
pengemudi. Hal lain yang tidak bisa diabaikan kemiringan jalan maksimum 8%. [4]
dalam pembuatan tikungan adalah
superelevasi, yaitu kemiringan melintang d. Kemiringan Melintang (Cross Slope)
jalan pada tikungan. [6] Besarnya angka Cross Slope adalah sudut yang dibentuk
superelevasi dapat dihitung dengan rumus oleh dua sisi permukaan jalan terhadap bidang
sebagai berikut: [7] horizontal. Pada umumnya jalan angkut
mempunyai bentuk penampang melintang
V2
e f  ……………….…..….. (7) cembung (lihat Gambar 4). Dibuat demikian
127 R dengan tujuan untuk memperlancar
Dimana : penyaliran. [3]
e = angka superelevasi, %
f = Friction factor
V = kecepatan, km/jam
R = jari-jari tikungan, m
Bina marga menganjurkan superelevasi
maksimum 10% untuk kecepatan rencana
>30 km/jam dan 8% untuk kecepatan rencana
30 km/jam, sedangkan untuk jalan kota dapat Gambar 4. Penampang melintang jalan
dipergunakan superelevasi maksimum 6%. angkut [2]
Untuk kecepatan rencana <80 km/jam berlaku
friction factor sebesar f= -0,00065 V+ 0,192 Angka cross slope dinyatakan dalam
dan untuk kecepatan rencana yaitu senilai perbandingan jarak vertikal (b) dan horizontal
antara 80–112 km/jam berlaku friction factor (a) dengan satuan mm/m atau m/m. Jalan
sebesar f=-0,00125 V + 0,24. [6] angkut yang baik memiliki cross slope antara
1/50 sampai 1/25 atau 20 mm/m sampai 40
c. Kemiringan Jalan Angkut (Grade) mm/m. Untuk menghitung nilai cross slope
Kemampuan dalam mengatasi tanjakan minimum dapat menggunakan perhitungan
untuk setiap alat angkut tidak sama, sebagai berikut: [3]
tergantung pada jenis alat angkut itu sendiri.
Sudut kemiringan jalan biasanya dinyatakan CS = 40mm/m x (½ x Lmin)…………………(9)
dalam persen, yaitu beda tinggi setiap seratus Dimana:
satuan panjang jarak mendatar. Kemiringan CS = Cross slope, mm/m
dapat dihitung dengan persamaan sebagai Lmin = Lebar minimum jalan, m
berikut: [8]
h
Grade%  x100% ……………..…… (8) C. METODE PENELITIAN
x 1. Waktu dan Tempat Penelitian
Dimana : Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Δh = Beda tinggi antara 2 titik yang diukur Oktober 2017 selama 1 bulan. Dimana lokasi
(Meter) penelitian ini berada di Desa Boenaga,
Δx = Jarak datar antara 2 titik yang diukur Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten
(Meter) Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara,
tepatnya pada jalan angkut tambang
Kemiringan jalan maksimum yang dapat PT. Manunggal Sarana Surya Pratama dari
dilalui dengan baik oleh alat angkut PIT A menuju stockpile yang memiliki jarak
khususnya dump truck, berkisar antara 7% - ± 1.686 meter.
10%. Sedangkan untuk jalan naik maupun

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 21


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

 Data Skunder
Data sekunder yakni data yang penulis
dapatkan dari studi literatur, baik data dari
perusahaan maupun data yang didapatkan dari
berbagai sumber-sumber terpercaya lainnya.
Data sekunder yang telah diperoleh penulis
yakni data batas wilayah IUP, list unit
peralatan mekanis yang digunakan dan data
pendukung lainnya.

4. Pengolahan dan Analisis Data


Setelah data primer dan skunder
Gambar 5. Peta lokasi penelitian terkumpul, dilakukan beberapa tahap dalam
pengolahan data untuk mendapatkan kondisi
2. Jenis Penelitian geometri jalan angkut standar dari PIT A
Jenis penelitian yang dilakukan yaitu menuju stockpile yang harus diterapkan oleh
penelitian kuantitatif, yakni penelitian ilmiah PT. Manunggal Sarana Surya Pratama, yakni :
yang sistematis terhadap bagian-bagian dan  Perhitungan lebar jalan angkut,
fenomena serta hubungan-hubungannya. menggunakan Persamaan (1) sampai
Tujuan penelitian kuantitatif adalah dengan Persamaan (5)
mengembangkan dan menggunakan model-  Perhitungan jari-jari tikungan dan
model matematis, teori-teori dan/atau superelevasi, menggunakan Persamaan (6)
hipotesis yang berkaitan dengan fenomena dan (7)
alam. Penelitian ini merupakan penelitian  Perhitungan kemiringan jalan angkut
yang bersifat evaluasi. (grade), menggunakan Persamaan (8)
 Perhitungan kemiringan melintang (cross
3. Prosedur Penelitian slope), Menggunakan Persamaan (9)
a. Studi Literatur Dari hasil pengolahan data tersebut,
Studi literatur adalah mencari referensi selanjutnya dianalisis dengan
teori yang relefan dengan penelitian yang membandingkan geometri jalan angkut
dilakukan. tambang dari PIT A menuju stockpile dengan
hasil perhitungan geometri jalan yang sesuai
b. Pengumpulan Data standar berdasarkan teori yang harus
Data yang digunakan pada penelitian ini diterapkan oleh PT. Manunggal Sarana Surya
terbagi atas 2 (dua) jenis, yaitu : Pratama.
 Data Primer
Data primer berupa data yang penulis D. HASIL DAN PEMBAHASAN
dapatkan sendiri dari pengambilan data di 1. Hasil Penelitian
lapangan. Di antaranya adalah pengukuran Jalan angkut tambang PT. Manunggal
lebar jalan dan jarak, pengukuran jari-jari Sarana Surya Pratama dari PIT A menuju
tikungan dan superelevasi, pengukuran stockpile memiliki jarak ± 1.686 meter.
kemiringan jalan angkut (grade), pengukuran Kegiatan pengangkutan (hauling) bijih nikel
kemiringan melintang (cross slope) serta PT. Manunggal Sarana Surya Pratama
pengukuran dimensi alat angkut. menggunakan dump truck Hino 500 FM 260
Untuk pengukuran superelevasi di TI dengan kapasitas ± 17 ton.
lapangan menggunakan alat ukur jarak datar Berikut hasil pengukuran geometri jalan
dan beda tinggi waterpass TOPCON AT-D2. angkut tambang dari PIT A menuju stockpile
PT. Manunggal Sarana Surya Pratama :

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 22


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

 Lebar Jalan Angkut Tabel 2. Lebar jalan angkut pada tikungan


Sudut Panjang
Lebar jalan angkut tambang yang Lebar
Tikungan Tikungan Tikungan Keterangan
dimaksud terbagi menjadi 2, yakni lebar jalan (m)
(°) (m)
angkut pada jalan lurus dan pada tikungan. T1 9 128 53 2 lajur
Untuk lebar jalan angkut tambang pada jalan T2 7.9 105 45 2 lajur
T3 11 119 48 2 lajur
lurus dan tikungan berdasarkan pengukuran di
T4 9.8 130 55 2 lajur
lapangan (Tabel 1 dan Tabel 2) :
Sesuai hasil identifikasi lapangan di jalan
Tabel 1. Lebar jalan angkut pada jalan lurus
Lebar angkut tambang PT. Manunggal Sarana Surya
Jarak Pratama dari PIT A menuju stockpile hanya
No Segmen Jalan Keterangan
(m) (m) terdapat 4 tikungan, lebar tersempit terdapat
1 W1 6.3-10 100 2 lajur pada tikungan T2 dan terlebar ada pada
2 W2 5.4-9.2 100 2 lajur tikungan T3.
3 W3 6 - 9.3 100 2 lajur
4 W4 6 - 9.5 100 2 lajur
5 W5 7.6- 9.5 150 2 lajur
6 W6 7.6-11.5 100 2 lajur
7 W7 8.8-10.5 135 2 lajur
8 W8 9.2-12.1 100 2 lajur
9 W9 6.6-12.1 100 2 lajur
10 W10 7.5 - 9.7 100 2 lajur
11 W11 7.9 - 9.7 100 2 lajur
12 W12 7.9 - 8.5 100 2 lajur
13 W13 8.3 - 9.1 100 2 lajur
14 W14 8 - 9.1 100 2 lajur
Gambar 7. Kondisi jalan tersempit pada
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan, tikungan
lebar jalan angkut pada setiap segmennya
tidaklah sama. Untuk lebar jalan tersempit  Jari-Jari Tikungan dan Superelevasi
pada jalan lurus terdapat pada segmen W3 Data yang diperoleh dari hasil pengukuran
dan W4, sedangkan untuk lebar jalan terlebar jari-jari tikungan dan superelevasi T1 sampai
ada pada segmen W8 dan W9. T4 dipaparkan dalam Tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Jari-jari tikungan dan superelevasi


Sudut Panjang Superelevasi
Jari-
No Tikungan Tikungan Tikungan
jari (m) (%)
(°) (m)
1 T1 28,2 128 53 5,085
2 T2 28,47 105 45 0,824
3 T3 28,58 119 48 5,352
4 T4 29,11 130 55 0,674

Dari tabel diatas, terlihat bahwa jari-jari


tikungan terendah ada pada tikungan T1 dan
tertinggi pada tikungan T4. Untuk nilai
superelevasi, persentase terbesar ada pada
Gambar 6. Kondisi jalan tersempit pada tikungan T3 dan yang terkecil ada pada T4.
jalan lurus.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 23


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

 Kemiringan Jalan Angkut 2. Pembahasan


Data hasil pengukuran kemiringan jalan Penentuan lebar jalan angkut pada jalan
angkut tambang (grade) menggunakan alat didasarkan pada alat angkut berdimensi
ukur jarak datar dan beda tinggi waterpass terbesar yang melewati jalan tersebut, alat
TOPCON AT-D2 yang telah di olah lebih, angkut berdimensi terbesar yang digunakan
dipaparkan dalam Tabel 4 sebagai berikut: oleh PT. Manunggal Sarana Surya Pratama
adalah dump truck Hino 500 FM 260 TI.
Tabel 4. Kemiringan jalan angkut tambang
(grade).  Lebar Jalan Angkut
Beda Jarak Dari hasil perhitungan, lebar minimum
Grade (%)
Segmen Tinggi Datar
untuk jalan angkut tambang pada jalan lurus
Δh (m) Δx (m) (Δh x 100)/Δx
1 -4.433 65.5 6.75
adalah 8,96 m ≈ 9 m. Untuk evaluasi lebar
2 -13.119 131.8 9.95 jalan angkut pada jalan lurus dilapangan yang
3 9.486 131.4 7.22 tidak sesui dengan hasil perhitungan lebar
4 -8.965 68.9 13.01 jalan angkut minimum dapat dilihat pada
5 2.546 90 2.82 Tabel 6, dimana lebar jalan angkut pada jalan
6 -6.675 65.8 10.14 lurus di lapangan memiliki lebar 6 meter –
7 6.051 143.3 4.22 12,1 meter.
8 -3.694 120.8 3.05
9 -7.7 88.2 8.73
Tabel 6. Evaluasi lebar jalan angkut
tambang pada jalan lurus.
Dari hasil pengukuran tersebut diatas, Lebar
Penambahan Jarak
persentase kemiringan (grade) terendah ada No Segmen
Jalan
Keterangan
Lebar Jalan
pada segmen 5 dan yang tertinggi ada pada (m)
(m)
(m)

segmen 4. 1 W1 A 10 100 2 lajur


B 8.3 0.7
C 6.3 2.7
 Kemiringan Melintang 2 W2 A 6.3 2.7 100 2 lajur
B 5.4 3.6
Kondisi kemiringan melintang jalan angkut C 9.2
tambang pada jalan lurus dari pit A menuju 3 W3 A 9.2 100 2 lajur
stockpile di paparkan dalam Tabel 5 sebagai B 9.3
C 6 3
berikut : 4 W4 A 6 3 100 2 lajur
B 6.5 2.5
C 9.5
Tabel 5. Kemiringan melintang jalan angkut 5 W5 A 9.5 150 2 lajur
tambang. B 9
Lebar C 9.2
Kemiringan Jarak D 7.6 1.4
Jalan
Segmen Keterangan 6 W6 A 7.6 1.4 100 2 lajur
Melintang
(m) (m) B 10.2
(mm/m)
C 11.5
W1 6.3 - 10 0 100 2 lajur 7 W7 A 10 135 2 lajur
W2 5.4 - 9.2 0 100 2 lajur B 10.5
W3 6 - 9.3 0 100 2 lajur C 8.8 0.2
W4 6 - 9.5 0 100 2 lajur D 9.3
W5 7.6 - 9.5 2.5 - 32.7 150 2 lajur 8 W8 A 10 100 2 lajur
W6 7.6 - 11.5 0 100 2 lajur B 9.2
C 12.1
W7 8.8 - 10.5 0 135 2 lajur
9 W9 A 12.1 100 2 lajur
W8 9.2 - 12.1 0 100 2 lajur B 6.6 2.4
W9 6.6 - 12.1 0 100 2 lajur C 7 2
W10 7.5 - 9.7 0 100 2 lajur 10 W10 A 8.8 0.2 100 2 lajur
W11 7.9 - 9.7 0 100 2 lajur B 7.5 1.5
W12 7.9 - 8.5 0 100 2 lajur C 9.7
W13 8.3 - 9.1 0 100 2 lajur 11 W11 A 9.7 100 2 lajur
B 8 1
W14 8 - 9.1 0 100 2 lajur
C 7.9 1.1

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 24


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

Lebar tambang PT. Manunggal Sarana Surya


Penambahan Jarak
Jalan
No Segmen Keterangan Pratama karna telah memenuhi standar.
Lebar Jalan
(m) (m)
(m) Untuk hasil perhitungan nilai superelevasi
12 W12 A 7.9 1.1 100 2 lajur
B 8 1 dengan pertimbangan kecepatan rencana (VR)
C 8.5 0.5 dump truck 30 km/jm, friction factor
13 W13 A 8.5 0.5 100 2 lajur
B 8.3 0.7
berdasarkan ketentuan Bina marga untuk
C 9.1 kecepatan 30 km/jm sebesar f= -0,00065 V+
14 W14 A 9.1 100 2 lajur 0,192 dan jari-jari tikungan (R) minimum
B 8.5 0.5
C 8 1 berdasarkan hasil perhitungan sebelumnya
adalah 28,06 m adalah sebesar 0,08 m/m atau
Berdasarkan hasil perhitungan di atas 8%. Untuk evaluasi atau koreksi yang harus
menggunakan Persamaan 2 dan 3, lebar minimum ditambah di 4 tikungan jalan angkut tambang
untuk jalan angkut tambang pada tikungan di PT.Manunggal Sarana Surya Pratama dapat
PT. Manunggal Sarana Surya Pratama adalah dilihat pada Tabel 8 berikut:
sebesar 15,365 m ≈ 15 m. Untuk evaluasi
penambahan lebar minimum pada setiap tikungan
Tabel 8. Evaluasi nilai superelevasi.
di jalan angkut tambang PT. Manunggal Sarana Penambahan
Surya Pratama dapat dilihat pada Tabel 7 sebagai Superelevasi Panjang
Nilai
berikut: No Tikungan Tikungan
Superelevasi
(%) (m)
(%)
Tabel 7. Evaluasi lebar jalan angkut tambang 1 T1 5,085 2.92 53
pada jalan tikungan.
Lebar Penambahan 2 T2 0,824 7.18 45
No Tikungan Keterangan
(m) Lebar (m) 3 T3 5,352 2.65 48
1 T1 9 6 2 lajur 4 T4 0,674 7.33 55
2 T2 7.9 7.1 2 lajur
3 T3 11 4 2 lajur  Kemiringan Jalan Angkut
4 T4 9.8 5.2 2 lajur Kemiringan jalan maksimum yang dapat
dilalui dengan baik oleh alat angkut
 Jari-Jari Tikungan dan Superelevasi khususnya dump truck, berkisar antara 7% -
Hasil perhitungan jari-jari tikungan 10%. Sedangkan untuk jalan naik maupun
minimum dengan pertimbangan kecepatan jalan turun pada daerah perbukitan lebih aman
rencana (VR) dump truck 30 km/jm, friction kemiringan jalan maksimum 8%. [4] Pada
factor berdasarkan ketentuan Bina marga jalan angkut tambang PT. Manunggal Sarana
untuk kecepatan 30 km/jm sebesar f=-0,00065 Surya Pratama merupakan daerah perbukitan,
V+ 0,192 dan superelevasi (emax) maksimum sehingga kemiringan maksimum yang
berdasarkan ketentuan Bina marga untuk dianjurkan berdasarkan Riyanto, T. dkk.
kecepatan rencana 30 km/jm sebesar 8% ≈ adalah 8%.
0,08 m/m adalah sebesar 28,06 m.
Hal ini menunjukan bahwa jari-jari Tabel 9. Evaluasi kemiringan jalan angkut
tikungan dilapangan berdasarkan hasil tambang (grade).
pengukuran, semua telah memenuhi standar Beda Jarak
Grade (%) Koreksi
Tinggi Datar
jika dibandingkan dengan hasil perhitungan Segmen
(Δh x
Δh (m) Δx (m) (%)
jari-jari minimum yakni sebesar 28,06 m, 100)/Δx
dimana jari-jari tikungan dilapangan yang 1 -4.433 65.5 6.75 -
terendah sebesar 28,2 m ada pada tikungan T1 2 -13.119 131.8 9.95 1.95
dan tertinggi ada pada tikungan T4 sebesar 3 9.486 131.4 7.22 -
29,11 m, sehingga tidak perlu lagi dilakukan 4 -8.965 68.9 13.01 5.01
koreksi pada jari-jari tikungan di jalan angkut

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 25


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

Beda Jarak
Grade (%) Koreksi T4 sebesar 29,11 m, sehingga tidak perlu lagi
Tinggi Datar
Segmen
(Δh x
dilakukan koreksi pada jari-jari tikungan di
Δh (m) Δx (m) (%) jalan angkut tambang PT. Manunggal Sarana
100)/Δx
5 2.546 90 2.82 - Surya Pratama karna telah memenuhi standar.
6 -6.675 65.8 10.14 2.14 Untuk nilai superelevasi didapat nilai sebesar
7 6.051 143.3 4.22 - 8%, jika dibandingan dengan nilai
superelevasi hasil pengukuran langsung
8 -3.694 120.8 3.05 -
dilapangan yakni tikungan T1 sampai T4
9 -7.7 88.2 8.73 0.73
menunjukan bahwa nilai dilapangan belum
sesuai dengan nilai superelevasi berdasarkan
 Kemiringan Melintang hasil perhitungan yang sesuai standar.
Dari hasil perhitungan menunjukan bahwa Terdapat 4 segmen kemiringan jalan
nilai cross slope yang harus dibuat di angkut tambang yang belum memenuhi
sepanjang jalan angkut tambang pada jalan standar yang telah ditetapkan, yakni segmen 2
lurus PT. Manunggal Sarana Surya dengan persentase kemiringan 9,95% dan
Pratama adalah 0,1792 m. koreksi sebesar 1,95%, segmen 4 dengan
persentase kemiringan 13,01% dan koreksi
E. PENUTUP sebesar 5,01%, segmen 6 dengan persentase
1. Kesimpulan kemiringan 10,14% dan koreksi sebesar
Jalan angkut tambang dari PIT A menuju 2,14% serta segmen 9 dengan persentase
stockpile PT. Manunggal Sarana Surya kemiringan 8,73% dan koreksi sebesar 0,73%.
Pratama memiliki jarak ± 1.686 meter. Lebar Nilai cross slope yang harus terapkan di
minimum untuk jalan angkut tambang pada sepanjang jalan angkut tambang pada jalan
jalan lurus adalah 8,96m ≈ 9 m, sedangkan lurus PT. Manunggal Sarana Surya Pratama
lebar jalan angkut pada jalan lurus di adalah 0,1792 m atau 40 mm/m, sedangkan
lapangan memiliki lebar 6 m – 12,1 m. Hanya berdasarkan hasil pengamatan dan
segmen W8 yang memenuhi lebar minimum pengukuran dilapangan, sepanjang jalan
jalan angkut tambang, yakni dengan lebar 9,2 angkut tambang PT. Manunggal Sarana Surya
m – 12,1 m, sedangkan untuk semua segmen Pratama tidak memiliki kemiringan melintang
lainnya perlu dilakukan perlebaran jalan agar (cross slope), hanya pada segmen W5 saja
memenuhi standar. yang memiliki kemiringan melintang yakni
Lebar minimum untuk jalan angkut sebesar 2.5 – 32.7 mm/m.
tambang pada tikungan adalah sebesar 15,365
m ≈ 15 m. Sedangkan untuk hasil pengukuran Daftar Pustaka
lebar jalan angkut pada 4 tikungan di
lapangan sebesar 7,9 m – 11 m, ini [1] ESDM, Undang-Undang Republik
menunjukan bahwa lebar jalan angkut Indonesia Nomor 4 Tahun 2009 tentang
tambang pada tikungan di setiap tikungan dari Pertambangan Mineral dan Batubara,
pit A menuju stockpile PT. Manunggal Sarana ESDM (2009).
Surya Pratama tidak memenuhi lebar [2] Kementrian PUPR, Peraturan Mentri
minimum. Pekerjaan Umum Republik Indonesia
Jari-jari tikungan dilapangan berdasarkan Nomor 11 Tahun 2011 tentang
hasil pengukuran, semua telah memenuhi Pedoman Penyelenggaraan Jalan
standar jika dibandingkan dengan hasil Khusus, Kementrian PUPR, 2011
perhitungan jari-jari minimum yakni sebesar [3] Suwandhi, A., Perencanaan Jalan
28 m, dimana jari-jari tikungan dilapangan Tambang, Universitas Islam Bandung,
yang terendah sebesar 28,2 m ada pada Bandung, (2004), 2
tikungan T1 dan tertinggi ada pada tikungan

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 26


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Evaluasi Geometri Jalan Tambang Pada Penambangan Bijih Nikel (18-27)

[4] Riyanto, T., Triantoro, A., Riswan, [7] Demara, A.A., Guntoro, D., Muchsin,
Olla, Y.D., Evaluasi Jalan Tambang A.M., Evaluasi Jalan Angkut dari
Berdasarkan Geometri dan Daya Kilometer 21+400 Meter sampai
Dukung Pada Lapisan Tanah Dasar PIT dengan Kilometer 24+400 Meter pada
Tutupan Area Highwall, Jurnal Penambangan Nikel di PT.
Himasapta, Vol. 1 No. 2 (2016), 50-56. Bintangdelapan Mineral, Desa Fatufia,
[5] Departemen Pekerjaan Umum, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten
Direktorat Jenderal Bina Marga, Tata Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah,
Cara Perencanaan Geometrik Jalan Seminar Penelitian Sivitas Akademika
Antar Kota, Kementrian Pekerjaan Unisba, Vol. 3 No. 1 (2017), 328.
Umum, Jakarta (1997). [8] Pratomo, K.N., Guntoro, D., Usman,
[6] Febriyani, Y., Evaluasi Jalan Angkut D.N., Evaluasi Jalan Angkut dari Front
untuk Produksi Penambangan dari Tambang Andesit ke Crusher II pada
Front Pit Limit ke Crusher IIIA dan IIIB Penambangan Batu Andesit di PT.
pada Penambangan Batu Kapur Bukit Gunung Kecapi, Kabupaten Purwakarta,
Karang Putih, PT.Semen Padang, Provinsi Jawa Barat, Seminar Penelitian
https://www.scribd.com/doc/246824733 Sivitas Akademika Unisba, Vol. 2 No. 2
/TA-jalan-tambang, (akses tanggal 28 (2016), 620.
Juli 2017).

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 27


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

PEMODELAN DAN ESTIMASI CADANGAN DENGAN METODE NEAREST


NEIGHBOUR POINT (NNP) PT. IFISHDECO, SITE TINANGGEA

Nanang S1), Firdaus1) , Al Amin Siharis1)


1)
Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, Universitas Halu Oleo
E-mail : daoesy@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan pada PT. Ifishdeco, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan
dengan tujuan membuat bentuk model endapan bijih serta melakukan estimasi pada model endapan
bijih yang telah dibuat dan membandingkan kerapatan titik bor pada grid 25 × 25 m dan 50 × 50
m pada lokasi yang sama yaitu pada sub blok selatan. Metode estimasi yang digunakan pada
penelitian ini adalah metode Nearest Neighbour Point. Data penelitian yang diperoleh adalah data
sekunder yaitu berupa data drill hole, data topografi, dan data density. Data tersebut diolah
dengan menggunakan software etimasi. Dari hasil pengolahan dan analisis data, pada grid 25 ×
25 m, model blok zona limonit menghasilkan volume 332188 m3 dan tonase 697594 ton dengan
kadar Ni rata-rata 1,2%, model blok zona saprolit menghasilkan volume 194063 m3 dan tonase
310500 ton dengan kadar Ni rata-rata 2,35%. Sedangkan pada grid 50 × 50 m, model blok zona
limonit menghasilkan volume 336563 m3 dan tonase 706781 ton dengan kadar Ni rata-rata 1,19%,
model blok zona saprolit menghasilkan volume 213438 m3 dan tonase 341500 ton dengan kadar Ni
rata-rata 2,23%. Berdasarkan analisis statistik dari hasil estimasi antara grid 25 × 25 m dan 50 ×
50 m pada lokasi yang sama, grid 25 × 25 m memiliki standar eror sebesar 0,01 pada zona limonit
dan 0,02 pada zona saprolit, sedangkan grid 50 × 50 m memiliki standar eror sebesar 0,02 pada
zona limonit dan 0,03 pada zona saprolit.

Kata Kunci : Nikel Laterit, Pemodelan, Estimasi, Kerapatan Data, Nearest Neighbour Point.

ABSTRACT
This research was conducted at PT. Ifishdeco, Tinanggea Subdistrict, South Konawe District with
the objective of making ore deposits and estimating the ore deposited model and comparing the
density of the drill hole on the 25 × 25 m and 50 × 50 m grids at the same location on the southern
sub-block. The estimation method used in this research is Nearest Neighbors Point method. The
research data obtained are secondary data that is data of drill hole, topographic data, and density
data. The data is processed using a software estimation application. From the results of processing
and data analysis, on the 25 × 25 m grid, volume of limonite zone block model is 332,188 m3 and
the tonnage is 697,594 ton with average grade of Ni 1.2%, volume of saprolite zone block model is
194,063 m3 and the tonnage is 310,500 ton with average of Ni 2.35 %. On the 50 × 50 m grid,
volume of limonite zone block model is 336563 m3 and the tonnage is 706,781 ton with average of
Ni 1.19%, volume of saprolite zone block model is 213438 m3 and the tonnage is 341,500 ton with
average of Ni 2.23%. Based on the estimation analysis statistic between grid 25 × 25 m and 50 ×
50 m at the same location, the 25 × 25 m grid has a standart eror of 0.01 on the limonite zone and
0.02 on the saprolite zone, than on the 50 × 50 m grid has a standart eror of 0.02 on the limonite
zone and 0.03 on the saprolite zone.

Key Words : Laterite Nickel, Modeling, Estimation, Data Density, Nearest Neighbor Point.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 28


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

A. PENDAHULUAN
Potensi bijih nikel yang ada di Provinsi terdekat. Metode ini dipilih karena
Sulawesi Tenggara telah mendorong pengerjaannya lebih mudah dan lebih cepat,
PT. Ifishdeco Site Tinanggea yang merupakan selain itu berdasarkan literatur pemilihan
perusahaan swasta nasional bergerak di sektor metode estimasi terhadap geometri dan
penambangan bijih nikel berinisiatif variabilitas kadar, metode ini dapat digunakan
melakukan usaha pertambangan bijih nikel pada endapan dengan variabilitas kadar rendah
pada area seluas 800 Ha yang berlokasi di hingga sedang. Dalam penelitian ini statistik
Kelurahan Ngapaaha, Kecamatan Tinanggea, yang digunakan hanya berupa statistik
Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi deskriptif untuk menggambarkan penyebaran
Tenggara. PT. Ifishdeco Site Tinanggea telah kadar pada daerah penelitian dan tidak
mendapatkan surat izin Kuasa Pertambangan memperhitungkan statistik inferensial untuk
(KP) Eksplorasi melalui Surat Keputusan menarik sebuah kesimpulan.
Bupati Konawe Selatan, Nomor 2249 Tahun Adapun tujuan yang diharapkan pada
2008 tanggal 18 Desember Seluas 800 Ha. PT. penelitian ini berdasarkan rumusan masalah
Ifishdeco Site Tinanggea mempunyai dua Blok yang di angkat adalah Menentukan bentuk
penambangan yaitu Blok Utara dan Blok model blok endapan nikel laterit pada sub blok
Selatan, dimana kedua Blok tersebut masih selatan, Menentukan taksiran jumlah cadangan
aktif melakukan kegiatan penambangan [1]. pada sub blok selatan dan Membandingkan
Tahap eksplorasi bijih nikel yang telah dan mengetahui hasil estimasi berdasarkan
dilakukan oleh PT. Ifishdeco Site Tinanggea grid 25 x 25 m, 50 x 50 m.
adalah tahap eksplorasi umum dengan
kerapatan titik bor 50 x 50 m. Khususnya pada B. DASAR TEORI
sub blok selatan sedang dilakukan kegiatan 1. Nikel Laterit
eksplorasi detail dengan kerapatan titik bor 25 Batuan induk dari endapan nikel laterite
x 25 m dan jumlah data titik bor yang telah adalah batuan ultrabasa yaitu harzburgite
dilakukan sebanyak 46 titik bor, dengan luas (peridotit yang kaya akan unsur
area ± 2,5 Ha. Untuk memaksimalkan orthopiroksen), dunit dan jenis peridotit
berjalannya kegiatan pertambangan, maka lainnya, Nikel dengan kadar yang cukup baik
dibutuhkan suatu bentuk model pada endapan umumnya mengandung mineral garnierite
dan mengetahui jumlah cadangan pada sub (max. Ni 40%). Ni terlarut (leached) dari fase
blok selatan, khususnya kualitas dan kuantitas limonite (Fe Oxyhydroxide) dan terendapkan
pada endapan bahan galian untuk keperluan bersama mineral silicate hydrous atau
perencanaan pada endapan bahan galian mensubtitusi unsur Mg pada serpentinite yang
tersebut. teralterasi [2].
Pembuatan model endapan dapat
dilakukan secara konvensional maupun non 2. Genesa Nikel Laterit
konvensional. Pembuatan model endapan yang Proses terbentuknya nikel laterit dimulai
digunakan pada penelitian ini adalah metode dari adanya pelapukan yang intesif pada
non konvensional (model Blok) dengan peridotit (batuan induk). Batuan induk ini akan
bantuan komputer, metode ini dipilih karena berubah menjadi serpentin akibat pengaruh
tahapan pengerjaannya lebih mudah dan lebih larutan hidrotermal atau larutan residual pada
cepat dibandingkan dengan cara konvensional. waktu proses pembekuan magma (proses
Sedangkan untuk estimasi kadar metode yang serpentinisasi) dan akan merubah batuan
digunakan pada penelitian ini menggunakan peridotit menjadi batuan Serpentinit.
metode Nearest Neighbour Point (NNP) Kemudian kembali terjadi pelapukan (fisika
dimana metode ini memperhitungkan kadar dan kimia) menyebabkan disintegrasi dan
yang belum diketahui berdasarkan data kadar dekomposisi pada batuan induk. Sebagian

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 29


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

unsur Ca, Mg, dan Si akan mengalami di dalam pekerjaan perhitungan sumberdaya
dekomposisi, dan bebrapa terkayakan secara cadangan dan perencanaan tambang. Volume
supergen (Ni, Mn, Co, Zn), atau terkayakan 3 dimensi cebakan mineral yang akan
secara relatif (Fe, Cr, Al, Ti, S, dan Cu) [3]. ditambang dibagi ke dalam unit-unit yang
lebih kecil (blok/unit penambangan terkecil).
3. Profil Nikel Laterit Dalam kerangka model Blok inilah semua
Adapun susunan profil nikel laterit yaitu: tahap pekerjaan dilakukan, mulai dari
[4] penaksiran kadar, perancangan batas
 Iron cap atau tudung besi (cuirasse) penambangan hingga ke perencanaan tambang
 Zona Limonit jangka panjang dan jangka pendek. [5]
 Zona Saprolite c. Model Geologi
 Zona Protolith atau Bedrock Sebelum membuat model badan bijih hal
Profil nikel laterit dapat ditunjukan pada yang harus diperhatikan adalah kondisi
Gambar 1. geologi badan bijih tersebut yang disebut
model geologi. Model geologi yang berupa
penampang geologi sangat diperlukan dalam
pembuatan kerangka badan bijih sehingga
wilayah penaksiran dapat dibatasi pada daerah
mineralisasi. Badan bijih inilah yang nantinya
akan dibagi dalam blok-blok yang lebih kecil
untuk keperluan estimasi.
d. Model Topografi
Pada penerapan sistem penambangan
terbuka maka topografi harus dimasukkan
pada model Blok sebagai batas atas
penambangan. Batas dari model bijih diplot
pada peta topografi tersebut. Garis kontur
topografi didigitasi sehingga setiap titik
memiliki data koordinat permukaan berupa
Gambar 1. Skema profil laterit beserta komposisi northing, easting, dan elevasi. Hasil model
kimia pada setiap lapisan [4]. yang dibuat akan dioverlay dan dismoothing
terhadap model topografi yang bertujuan
4. Pemodelan untuk menggambarkan kondisi badan bijih
a. Basis Data Komputer yang sebenarnya.
Pembuatan suatu model sumberdaya/
cadangan yang representative dan cukup detail 5. Metode Estimasi
tentunya membutuhkan tingkat ketelitian yang Metode Nearest Neighbour Point (NNP),
tinggi dan waktu pengerjaan yang lama. memperhitungan nilai di suatu blok didasari
Dengan adanya teknologi komputer pada saat oleh nilai titik yang paling dekat dengan blok
ini maka sangat membantu untuk tersebut. Dalam kerangka model blok, dikenal
mempermudah pekerjaan tersebut dalam jenis penaksiran poligon dengan jarak titik
pengolahan, klasifikasi, dan interprestasi data. terdekat (rule of nearest point), yaitu nilai
b. Konsep Model Blok (Grid) hasil penaksiran hanya dipengaruhi oleh nilai
Pemakaian model blok untuk conto yang terdekat, dapat ditunjukan pada
memodelkan suatu cebakan mineral telah (Gambar 2), atau dengan kata lain titik (blok)
umum dilakukan dalam industri terdekat memberikan nilai pembobotan satu
pertambangan. Hal ini dimulai pada akhir untuk titik yang ditaksir, sedangkan titik
tahun 60-an, ketika komputer mulai digunakan (blok) yang lebih jauh memberikan nilai

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 30


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

pembobotan nol (tidak mempunyai pengaruh). 2. Tahapan Penelitian


[6] a. Studi Literatur
Penelitian yang dilakukan pada tahap ini
adalah mengumpulkan sumber-sumber
informasi berupa buku, dan jurnal penelitian,
yang terkait dengan keadaan geologi daerah
penelitian, endapan nikel laterit, serta sumber
informasi mengenai pemodelan dan estimasi.
b. Pengambilan Data
Data yang dimaksud disini yaitu data – data
yang berkaitan dengan permasalahan yang
sedang diteliti yaitu sebagai berikut :
 Lokasi pengambilan data berada di daerah
izin usaha pertambangan pada sub blok
selatan PT. Ifishdeco.
 Pengambilan data diperoleh langsung dari
perusahaan, untuk data sekunder terdiri atas
Gambar 2. Interpolasi nilai menggunakan data drill hole, data topografi dan data
nearest point hasil [5]. demsity.
c. Pengolahan dan Analisis Data
C. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini pengolahan data
1. Lokasi Penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik
Lokasi pada penelitian ini berada pada pengolahan data secara kuantitatif dan
perusahaan penambangan bijih nikel kualitatif.
PT. Ifishdeco dan secara administrasi lokasi
 Pengolahan data secara kuantitatif yaitu
IUP berada pada Kecamatan Tinanggea, pengolahan data yang dilakukan
Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi berdasarkan data aktual dari lapangan dan
Tenggara (Gambar 3) dan secara geografis diinterpretasikan dengan angka. Pada tahap
terletak diantara koordinat 122o 10’3.97” BT ini hasil pengolahan data drill hole
dan 4o24’15.07” LS. diinterpretasikan melalui angka berdasarkan
parameter statistik secara deskriptif untuk
menggambarkan kualitas data.
 Tahapan pengolahan secara kualitatif yaitu
pengolahan data yang dilakukan dengan
mendeskripsikan atau mengilustrasikan
hasil data yang diperoleh. Pada tahap ini
hasil data yang diperoleh berupa data
topografi pada daerah penelitian
dideskripsikan dan diilustrasikan melalui
gambar.
Adapun tahapan pengolahan data secara
detail adalah sebagai berikut :
 Input data
Gambar 3. Peta lokasi daerah penelitian  Transfer data
PT. Ifishdeco.  Korelasi (section) pada zona geologi
 Komposit
 Model blok
 Estimasi grade

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 31


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

 Menghitung volume dan tonase model blok Dari Gambar 5 populasi kadar Ni pada zona
 Presentasi bentuk model blok dan tabulasi saprolit didominasi dengan kadar yang relatif
cadangan. tinggi dengan populasi terbanyak berada pada
interval kadar 1,75-2,2%. Sedangkan kadar Fe
D. HASIL PENELITIAN didominasi dengan kadar yang relatif rendah
1. Statistik Deskriptif dengan populasi terbanyak berada pada
a. Data Kadar Ni, Fe Zona Limonit Dan interval kadar 8,02-11,81%.
Zona Saprolit Spasi Bor 25 x 25. b. Data Kadar Ni, Fe Zona Limonit dan
Zona Saprolit Spasi Bor 50 x 50
Histogram Kadar Ni dan Fe Zona Limonit
Histogram Kadar Ni dan Fe Zona Limonit
250
90
200 80
Frekuensi

70
150

Frekuensi
60
50
100
40
50 30
20
0 10
0.01 - 0.32
0.32 - 0.64
0.64 - 0.96
0.96 - 1.28
1.28 - 1.6
1.6 - 1.91
1.91 - 2.23
2.23 - 2.55
2.55 - 2.87
2.87 - 3.19
3.19 - 3.51

13.17 -…

18.64 -…

24.11 -…

29.58 -…

35.05 -…

40.52 -…

45.99 -…
0

2.63 - 2.96
0.01 - 0.33
2.23 - 7.7
0.33 - 0.66
7.7 - 13.17
0.66 - 0.99

0.99 - 1.32

1.32 - 1.64

1.64 - 1.97

1.97 - 2.3

2.3 - 2.63
Ni
Fe Kadar Ni &
Kadar Ni dan Fe % Fe %

Gambar 4. Histogram kadar Ni dan Fe zona Gambar 6. Histogram kadar Ni dan Fe zona
limonit spasi 25 x 25. limonit spasi 50 x 50.

Dari Gambar 4 populasi kadar Ni pada zona Dari Gambar 6 populasi kadar Ni pada zona
limonit didominasi dengan kadar yang relatif limonit didominasi dengan kadar yang relatif
rendah dengan populasi terbanyak berada pada rendah dengan populasi terbanyak berada pada
interval kadar 1,28-1,6%. Sedangkan kadar Fe interval kadar 0,99-1,32%. Sedangkan kadar
didominasi dengan kadar yang relatif tinggi Fe didominasi dengan kadar yang relatif tinggi
dengan populasi terbanyak berada pada dengan populasi terbanyak berada pada
interval kadar 44,53-49,34%. interval kadar 45,99-51,46%.
Histogram Kadar Ni dan Fe Zona Saprolit Histogram Kadar Ni dan Fe Zona Saprolit
100 35
90
Frekuensi
Frekuensi

30
80
70 25
60
50 20
40 15
30
20 10
10 5
0
0
0.42 - 0.86
0.86 - 1.31
1.31 - 1.75
1.75 - 2.2
2.2 - 2.64
2.64 - 3.09
3.09 - 3.53
3.53 - 3.98
3.98 - 4.42
4.42 - 4.87

9.7 - 13.2

3.15 - 3.7

4.25 - 4.8
3.7 - 4.25
16.7 - 20.2
13.2 - 16.7

20.2 - 23.7

23.7 - 27.2

27.2 - 30.7
0.42 - 0.96

0.96 - 1.51

1.51 - 2.06

2.06 - 2.61

2.61 - 3.15
6.2 - 9.7

Kadar Ni & Kadar Ni &


Fe % Fe %

Gambar 5. Histogram kadar Ni dan Fe zona


Gambar 7. Histogram kadar Ni dan Fe zona
saprolit 25 x 25.
saprolit 50 x 50.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 32


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

Dari Gambar 7 populasi kadar Ni pada zona


saprolit didominasi dengan kadar yang relatif
tinggi dengan populasi terbanyak berada pada
interval kadar 1,51-2,06%. Sedangkan kadar
Fe didominasi dengan kadar yang relatif
rendah dengan populasi terbanyak berada pada
interval kadar 9,7-13,2%.

2. Pemodelan Badan Bijih


Pemodelan badan bijih berdasarkan korelasi
zona dimana menggunakan data collar, survey,
geology, dan assay yang telah dijadikan
database di dalam program estimasi juga
digunakan untuk mengkorelasikan zona pada
25 m ®
Gambar 9. Kerangka badan bijih spasi 25 x

titik bor berdasarkan data geologi dimana hasil


dari korelasi akan menghasilkan kerangka
badan bijih. Visualisasi zona pada penampang
badan bijih dapat dilihat pada (Gambar 8).

Gambar 10. Kerangka badan bijih spasi 50 x


50 m

4. Model Blok Badan Bijih


Pembuatan model blok pada zona limonit
dan saprolit disusun oleh blok-blok kecil yang
Gambar 8. Korelasi zona pada penampang mengisi dimensi kerangka badan bijih yang
badan bijih T0019, T0020, telah dibuat, blok yang digunakan dalam
T0021. pembuatan model blok adalah parent cell
sebagai blok utama yang dibentuk pada
3. Kerangka dan Model Badan Bijih software estimasi, parent cell blok pada sub
Korelasi string pada penampang titik bor blok selatan dibuat dengan dimensi X x Y x Z.
dilakukan pada setiap zona yang ditarik dari Dimensi blok pada parent cell yang digunakan
arah barat ke timur. Kemudian dari hasil pada sub blok selatan adalah sebagai berikut :
korelasi tersebut akan menghasilkan sebuah a. Dimensi parent cell pada spasi bor 25 x
kerangka badan bijih tiga dimensi. Kerangka 25 meter
blok model dapat ditunjukan pada (Gambar 9 Easthing (X) = (1/2 x 25 m = 12,5 m),
dan 10). northing (Y) = (1/2 x 25 m = 12,5m) dan
elevasi (Z) = 1 m. Hasil dari pembuatan model
blok ditunjukan pada Gambar 11 dan 12.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 33


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

d. Dimensi parent cell pada spasi bor 50 ×


50 meter
Easthing (X) = (1/4 x 50 m = 12,5 m),
northing (Y) = (1/4 x 50 m = 12,5m) dan
elevasi (Z) = 1 m. Hasil dari pembuatan model
blok ditunjukan pada Gambar 13 dan 14.

®
Gambar 11. Model blok zona limonit spasi 25
x 25 meter

®
Gambar 13. Model Blok Zona Limonit Spasi
50 x 50 meter

Gambar 12. Model Blok Zona Saprolit spasi


25 x 25 meter

b. Tabulasi Hasil Estimasi


Dari hasil pemodelan dan estimasi kadar
pada setiap blok yang dibuat, dikumpulkan
dan diakumulasikan di dalam suatu tabulasi
seperti pada Tabel 1. Gambar 14. Model Blok Zona Saprolit Spasi
50 x 50 meter
c. Statistik Data Model Blok
Adapun parameter statistik pada model Sedangkan grid 50 x 50 m pada zona limonit
blok antara grid 25 x 25 m dan 50 x 50 m memiliki nilai standar eror 0,02 dan pada zona
ditunjukan pada Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2, saprolit memiliki nilai standar eror 0,03.
grid 25 x 25 meter pada zona limonit memiliki
nilai standar eror 0,01 dan pada zona saprolit
memiliki nilai standar eror 0,02.

Tabel 1. Tabulasi total cadangan model blok


Volume Tonase
Kadar Rata – Rata Ni %
(Ton/m3)
Density

(m3) (Ton)
Zona
Spasi Bor Spasi Bor Spasi Bor
25x25 50x50 25x25 50×50 25x25 50x50
Limonit 332188 336563 2,1 697594 706781 1,2 1.19
Saprolit 194063 213438 1,6 310500 341500 2,35 2.23

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 34


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

Tabel 2. Parameter Statistik Kadar Ni Model Data awal pada zona limonit memiliki data
Blok grid 25 x 25 m dan 50 x 50 m. kadar pada titik bor sebanyak 141 dan zona
Ni Zona Limonit Ni Zona Saprolit saprolit sebanyak 97. Sedangkan data hasil
Parameter Grid Grid Grid Grid estimasi pada zona limonit sebanyak 2.154 dan
25 x 25 50 x 50 25 x 25 50 x 50 zona saprolit 1.366.
Mean 1,2 1,19 2,35 2,23
Minimum 0,01 0,01 0,42 0,42 3. Analisis Hasil Taksiran Antara Model
Maximum 3,24 2,96 4,87 4,8 Blok Grid 25 x 25 m dan Grid 50 x 50
Sample 0,25 0,3 0,86 0,85 meter
Variance Selisih perhitungan zona limonit antara grid
Standard 0,5 0,55 0,93 0,92
Deviation 25 x 25 m dan 50 x 50 m pada lokasi yang
Standard 0,01 0,02 0,02 0,03 sama memiliki volume dengan selisih sebesar
Error 4.375 m3 dengan tonase 9.187 ton. Sedangkan
Jumlah 2.126 2.154 1.242 1.366 Selisih perhitungan zona saprolit antara grid
Data 25 x 25 m dan 50 x 50 m pada lokasi yang
sama memiliki volume dengan selisih sebesar
E. PEMBAHASAN 19.375 m3 dengan tonase 31.000 ton.
1. Model Blok dan Hasil Taksiran Grid 25 Perbedaan volume dan tonase pada grid 25 x
x 25 meter. 25 m dan 50 x 50 m disebabkan oleh beberapa
Berdasarkan statistik data kadar awal faktor yaitu sebagai berikut :
dengan data statistik kadar dari hasil estimasi, a. Jumlah data dan kerapatan titik bor
nilai rata-rata kadar Ni mengalami sedikit Jumlah data dan kerapatan titik bor
kenaikan, kadar Ni pada zona limonit dari nilai mempengaruhi di dalam pengkorelasian batas
1,17% menjadi 1,2%, kadar Ni zona saprolit zona limonit dan zona saprolit, berikut contoh
dari nilai 2,27% menjadi 2,35%. hal tersebut korelasi kedua grid dapat ditunjukan pada
diakibatkan karena terjadi penambahan data Gambar 14.
pada hasil estimasi, data awal tidak memiliki
data pada zona yang belum diestimasi
Grid 25 × 25 m 25 m
sedangkan data hasil estimasi memiliki data
hasil dari taksiran yang diisi oleh parent cell.
Data awal pada zona limonit memiliki data
kadar pada titik bor sebanyak 550 dan zona
saprolit sebanyak 319. Sedangkan data hasil
estimasi pada zona limonit sebanyak 2.126 dan Grid 50 × 50 m 50 m

zona saprolit 1.242.

2. Model Blok dan Hasil Taksiran Grid 50


x 50 meter.
Berdasarkan statistik data kadar awal Gambar 15. Korelasi Batas Zona Pada Grid
dengan data statistik kadar dari hasil estimasi, 25 x 25 m dan Grid 50 x 50 m.
nilai rata-rata kadar Ni mengalami sedikit
kenaikan, kadar Ni pada zona limonit dari nilai Berdasarkan Gambar 15, ketebalan zona
1,11 menjadi 1,19, kadar Ni zona saprolit dari pada grid 25 x 25 m lebih bervariasi karena
nilai 2,18 menjadi 2,23. hal tersebut memiliki kerapatan data titik bor pada spasi 25
diakibatkan karena terjadi penambahan data m, sehingga korelasi pada penampang titik bor
pada hasil estimasi, data awal tidak memiliki lebih jelas dalam menggambarkan bentuk
data pada zona yang belum diestimasi endapan, sedangkan pada grid 50 x 50 m
sedangkan data hasil estimasi memiliki data hanya memiliki kerapatan data titik bor pada
hasil dari taksiran yang diisi oleh parent cell.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 35


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

spasi 50 m dan tidak memiliki data titik bor data pada spasi 25 m sehingga batas zona yang
pada spasi 25 m, sehingga ketebalan endapan dihasilkan kurang jelas.
tidak terlalu bervariasi atau lebih sederhana Berdasarkan hasil statistik data dari model
dan korelasi batas zona endapan hanya blok grid 25 x 25 m, pada zona limonit
berdasarkan pengaruh topografi. memiliki jumlah data sebanyak 2.126 parent
cell dengan nilai standar eror yang rendah
4. Ketebalan Model Blok Berbeda yaitu 0,01, pada zona saprolit memiliki jumlah
Berdasarkan korelasi batas zona pada data sebanyak 1.242 parent cell dengan nilai
Gambar 15, hasil dari korelasi keseluruhan standar eror sebesar 0,02. Sedangkan pada grid
pada titik bor akan mempengaruhi pula hasil 50 x 50 m, pada zona limonit memiliki jumlah
pembuatan model blok terutama ketebalan data sebanyak 2154 dengan nilai standar eror
masing-masing endapan, ketebalan model blok 0,02, dan pada zona saprolit memiliki jumlah
yang berbeda akan mempengaruhi hasil data sebanyak 1.366 dengan nilai standar eror
taksiran volume dan tonase pada model blok 0,03.
kedua grid, karena hasil korelasi zona endapan
menghasilkan kerangka badan bijih sebagai F. KESIMPULAN
batas pengisian parent cell. Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka
Pada grid 25 x 25 m, zona limonit dapat disimpulkan sebagai berikut :
menghasilkan parent cell sebanyak 2.126, 1. Berdasarkan hasil dari pengolahan data
zona saprolit menghasilkan parent cell 1.242. yang telah dilakukan pada sub blok selatan
Sedangkan grid 50 x 50 m, pada zona limonit PT. Ifishdeco, hasil dari pembuatan model
menhasilkan parent cell sebanyak 2.154, zona pada penelitian ini terdiri atas 2 model blok
saprolit menghasilkan parent cell sebanyak yaitu model blok pada grid 25 x 25 m, dan
1.366. Berdasarkan jumlah parent cell di atas 2 model blok pada grid 50 x 50 m.
jika volume dan tonase di hitung 2. Hasil estimasi dari model blok pada grid 25
menggunakan persamaan 2 dan 4 maka grid 50 x 25 m yaitu, zona limonit memiliki volume
x 50 m akan memiliki volume dan tonase lebih 332.188 m3 dan tonase sebesar 697.594 Ton
besar dibandingkan grid 25 x 25 meter. dengan kadar Ni rata-rata 1,2%, sedangkan
pada zona saprolit volume 194.063 m3 dan
5. Dilusi tonase sebesar 310500 Ton dengan kadar
Berdasarkan Gambar 15 dan ketebalan Ni rata-rata 2,35%.
model blok yang berbeda, dilusi yang 3. Sedangkan hasil estimasi dari model blok
dihasilkan grid 25 x 25 m dapat diminimalkan pada grid 50 x 50 m, zona limonit memiliki
karena memiliki jumlah data lebih banyak dan volume 336.563 m3 dan tonase sebesar
memiliki kerapatan lebih detail, dan korelasi 706.781 Ton dengan kadar Ni rata-rata
batas zona lebih jelas. Sedangkan grid 50 x 50 1,19%, sedangkan pada zona saprolit
m korelasi batas zona hanya berdasarkan volume 213.438 m3 dan tonase sebesar
kondisi topografi karena tidak adanya data titik 341.500 Ton dengan kadar Ni rata-rata
bor pada spasi 25 m sehingga terjadi dilusi 2,23%.
pada model blok yang berpengaruh pada 4. Berdasarkan nilai standar eror model blok
besarnya hasil taksiran volume dan tonase. grid 25 x 25 m, zona limonit memiliki nilai
Berdasarkan gambar 15, dilusi yang standar eror 0,01, zona saprolit memiliki
dihasilkan pada grid 25 x 25 m lebih sedikit nilai standar eror 0,02. sedangkan grid 50 x
karena memiliki batas zona yang jelas 50 m, zona limonit memiliki nilai standar
berdasarkan data titik bor pada spasi 25 m, eror 0,02 sedangkan zona saprolit memiliki
sedangkan pada grid 50 x 50 m dilusi yang nilai standar eror sebesar 0,03.
dihasilkan lebih besar karna tidak memiliki 5. Sehingga berdasarkan hasil analisis grid 25
x 25 m memiliki ketelitian lebih baik

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 36


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Pemodelan dan Estimasi Cadangan dengan Metode Nearest Neighbour Point (NNP) (28-37)

dibandingkan grid 50 x 50 m, karena


memiliki interpretasi geologi lebih jelas
dalam penentuan zona yang akan ditaksir
dan memiliki nilai standar eror lebih rendah
berdasarkan statistik hasil estimasi.

Daftar Pustaka

[1] Lambuto, D.A, Pemodelan dan Estimasi


Cadangan Nikel Laterit dengan Metode
Blok Model (IDW) di PT Ifishdeco Site
Tinanggea, Blok Utara Front X Sulawesi
Tenggara. Skripsi, Universitas Halu Oleo,
Kendari (Unpublished). (2016)
[2] Pelletier, BG., Serpentines in nickel
silicate ore from New Caledonia. In:
Grimsey EJ, Neuss I (eds) Nickel ’96.
Australasian Institute of Mining and
Metallurgy, Melbourne: Melbourne
(1996)
[3] Golightly, J.P., Nickeliferous Laterite
Deposits. Economic Geology, 75th
Anniversary Volume. Exploration
Department, INCO Metals Company, J.R
Gordon Research Laboratory, Missisauga,
Ontario L5K 1Z9: Canada (1981)
[4] Brand, NW. Butt, CRM. Elias, M., Nickel
laterites: classification and features.
AGSO Journal of Australian Geology and
Geophysics: Australia (1998)
[5] Hustdtrulit, W., Kutcha, M., and Martin,
W., Open Pit Mine Planning & Design 3rd
Edition, Leiden: Belanda (2013)
[6] Hartman, H. L,. SME Mining Engineering
Handbook 2nd edition volume 1. Society
for Mining, Metallurgy and Exploration:
Colorado. (1992)

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 37


Vol. 1, No.1 , Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

PERENCANAAN PENJADWALAN PRODUKSI PADA PENAMBANGAN BIJIH NIKEL


BERDASARKAN TARGET PRODUKSI PT. IFISHDECO SITE TINANGGEA

L.O Raemaka1), Firdaus1), Suryawan A1)


1)
Jurusan Teknik Pertambangan, FITK, Universitas Halu Oleo
E-mail : suryawanasfar01@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Ngapaaha, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan
dengan tujuan menentukan perencanaan penjadwalan produksi berdasarkan target produksi pada
Front X Blok Selatan. Data penelitian diperoleh dari pengumpulan data primer dan data sekunder.
Data primer berupa data cycle time excavator dan dumptruck. Data sekunder berupa data
topografi, data blokmodel, data cadangan, data COG, dan data pit limit. Faktor loosing saat
penambangan adalah 20% dengan mining recovery 80%. Sistem penambangan yang diterapkan
adalah open pit mining dengan metode backfilling. Penjadwalan bulan pertama ore yang dibuka
126.000 ton dengan grade Ni 1,82% serta OB 226.000 ton dengan jumlah alat yang digunakan 12
excavator dan 14 dumptruck. Penjadwalan bulan kedua ore yang dibuka 122.250 ton dengan grade
Ni 1,89% serta OB 164.000 ton dengan jumlah alat yang digunakan 10 excavator dan 12
dumptruck. Penjadwalan bulan ketiga ore yang dibuka 124.250 ton dengan grade Ni 2,15% serta
OB 131.750 ton dengan jumlah alat yang digunakan 8 excavator dan 10 dumptruck. Penjadwalan
bulan keempat ore yang dibuka 123.750 ton dengan grade Ni 1,84% serta OB 109.750 ton dengan
jumlah alat yang digunakan 8 excavator dan 10 dumptruck. Penjadwalan bulan kelima ore yang
dibuka 34.500 ton dengan grade Ni 2,08% dengan jumlah alat yang digunakan 4 excavator dan 6
dumptruck. Biaya operasional alat termasuk biaya solar adalah Rp. 8.563.214.667,00.

Kata Kunci : Mining Recovery, Backfilling, COG, Penjadwalan Produksi, Biaya Operasional

ABSTRACT
The research was conducted in Ngapaaha village, Tinanggea subdistrict, South Konawe district,
with the aimed of determining production scheduling planning based on the production target on
Front X South Block. The research data was obtained from primary data collection and secondary
data. Primary data were cycle time excavator and dumptruck data. Secondary data were
topography, blockmodel, reserve data, COG and pit limit data. Loosing factor during mining was
20% with mining recovery was 80%. The mining system implemented were open pit mining and
backfilling method. Scheduling the first month of ore that openend 126.000 tons with Ni grade
1.82% and OB 226,000 tons with the number of tools was used were 12 excavator and 14
dumptruck. Scheduling the second month ore that opened 122,500 tons with Ni grade 1.89% and
OB 226,000 tons with the number of tools was used were 10 excavator and 12 dumptruck.
Scheduling the third month ore that opened 124,250 tons with Ni grade 2.15% and OB 131,750 tons
with the number of tools was used were 8 excavator and 10 dumptruck. Scheduling the fourth month
ore that opened 123,750 tons with Ni grade 1.84% and OB 109,750 tons with the number of tools
was used were 8 excavator and 10 dumptruck. Scheduling the fifth month ore that opened 34,500
tons with Ni grade 2.08% with the number of tools was used were 4 excavator and 6 dumptruck.
Operational cost of equipment including solar cost was Rp 8,563,214,667.00.

Key Words: Mining recovery, Backfilling, COG, Production scheduling, Operational Cost

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 38


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

A. PENDAHULUAN
Potensi bijih nikel yang ada di Provinsi target produksi yang ditetapkan adalah
Sulawesi Tenggara telah mendorong PT. 100.000 ton/bulan dengan COG 1,4% Ni dan
Ifishdeco Site Tinanggea yang merupakan kadar permintaan pasar 1,8% Ni, serta estimasi
perusahaan swasta nasional bergerak disektor biaya hanya dibatasi pada biaya operasional
penambangan bijih nikel berinisiatif alat yaitu sewa alat dan biaya penggunaan
melakukan usaha pertambangan bijih nikel solar, tidak memperhitungkan biaya perawatan
pada area seluas 800 Ha yang berlokasi di dan adiministrasi.
Kelurahan Ngapaaha, Kecamatan Tinanggea,
Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi B. DASAR TEORI
Tenggara. PT. Ifishdeco Site Tinanggea telah 1. Perencanaan Tambang (Mine Planning)
mendapatkan surat izin Kuasa Pertambangan Perencanaan adalah penentuan persyaratan
(KP) Eksplorasi melalui Surat Keputusan teknik pencapaian sasaran kegiatan serta
Bupati Konawe Selatan, Nomor 2249 Tahun urutan teknis pelaksanaan dalam berbagai
2008 tanggal 18 Desember Seluas 800 Ha. PT. macam anak kegiatan yang harus dilaksanakan
Ifishdeco Site Tinanggea mempunyai dua blok untuk pencapaian tujuan dan sasaran kegiatan.
penambangan yaitu Blok Utara dan Blok Perencanaan tambang merupakan bagian
Selatan, dimana kedua blok tersebut masih penting dalam pertambangan, karena
aktif melakukan kegiatan penambangan. [1] perencanaan tambang ini mencakup berbagai
Sistem penambangan bijih nikel yang kegiatan, mulai dari kegiatan prospeksi,
diterapkan oleh PT. Ifishdeco Site Tinanggea eksplorasi, studi kelayakan, dimana pada
adalah sistem open pit mining atau tambang kegiatan studi kelayakan mencakup berbagai
terbuka dengan metode penambangan hal selain aspek teknis, aspek ekonomis,
backfilling. Khusus pada Blok Selatan akan analisis dampak lingkungan (AMDAL),
dilakukan kegiatan penambangan pada salah persiapan infrastruktur tambang, serta K3.
Front, yaitu Front X. Front tersebut Dalam melakukan perencanaan tambang juga
mempunyai luas area 5,38 Ha atau 53.825 m 2. mencakup kegiatan eksploitasi, pengolahan,
Untuk memaksimalkan kegiatan penambangan pemasaran, hingga penutupan tambang. [2]
hingga tercapai target produksi sesuai dengan Beberapa jenis perencanaan tambang antara
permintaan pasar dengan biaya penambangan lain :
yang rendah, maka dibutuhkan perencaanaan  Perencanaan jangka panjang, yaitu suatu
penjadwalan produksi yang baik. perencanaan kegiatan yang jangka
Perencanaan penjadwalan produksi waktunya lebih dari 5 tahun secara
terbagi atas tiga yaitu perencanaan berkesinambungan.
penjadwalan jangka panjang, jangka  Perencanaan jangka menengah, yaitu suatu
menengah dan jangka pendek. Perencanaan perencanaan kerja yang jangka waktu
penjadwalan produksi yang dipakai dalam antara 1 – 5 tahun.
penelitian ini adalah perencanaan penjadwalan  Perencanaan jangka pendek, yaitu suatu
jangka pendek, yaitu pada Front X Blok perencanaan aktifitas untuk jangka waktu
Selatan dimana Front tersebut mempunyai kurang dari setahun demi kelancaran
umur tambang ± 4,42 bulan. Dalam penelitian perencanaan jangka menengah dan panjang.
ini, tidak memperhitungkan kajian geoteknik  Perencanaan penyangga atau alternative,
dan analisis curah hujan, kemudian dari aspek bagaimanapun baiknya suatu perencanaan
sosial, hukum dan lingkungan layak dilakukan telah disusun, kadang-kadang karena
kegiatan penambangan, dan cycle time alat kemudian terjadi hal-hal terduga atau ada
berat yang digunakan disamakan dengan cycle perubahan data dan informasi atau timbul
time pada saat beroperasi pada Blok Utara, hambatan yang sulit untuk diatasi, sehingga

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 39


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

dapat menyebabkan kegagalan maka harus tahap ini juga dapat ditentukan jumlah
diadakan perubahan dalam perencanaannya. waktu kerja dan shift kerja yang diperlukan
[3] untuk mencapai target produksi yang telah
Beberapa tugas dalam perencanaan direncanakan. [4]
tambang agar dapat dilakukan dengan lebih
mudah, berikut ini adalah tugas yang perlu 2. Kegiatan Penambangan dan Operasi
diselesaikan dalam merencanakan tambang : Produksi
 Penentuan batas pit Pertambangan adalah sebagian atau seluruh
Maksud dari penentuan batas pit ialah tahapan kegiatan dalam rangka penelitian,
menetukan batas akhir (limit) dari proses pengelolaan dan pengusahaan mineral atau
penambangan, dimana seorang mine plan batubara yang meliputi penyelidikan umum,
harus dapat merencanakan berapa banyak eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi,
bahan galian yang akan ditambang, namun penambangan, pengolahan dan pemurnian,
dalam penentuan batas pit ini masih belum pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan
memperhitungkan waktu dan biaya. pasca tambang. Sedangkan penambangan
 Perancangan sequence adalah bagian kegiatan usaha pertambangan
Dalam perancangan geometri untuk memproduksi mineral dan atau batubara
penambangan, perancangan sequence serta untuk memanfaatkan dan memperoleh
merupakan suatu tahapan yang penting, mineral ikutan. [5]
karena pada tahapan ini membuat Adrian Sutedi (2012), beberapa tahapan
penentuan pit limit menjadi bagian-bagian kegiatan penambangan secara garis besar
yang lebih kecil lagi, sehingga lebih mudah adalah:
untuk dikerjakan, dan dalam perancangan  Pembabatan (clearing)
bentuk tiga dimensi tambang menjadi lebih  Pengupasan tanah penutup (stripping)
mudah pula.  Penggalian bahan galian (mining)
 Penjadwalan produksi  Pemuatan (loading)
Tahap selanjutnya setelah perancangan  Pengangkutan (hauling)
sequence, ialah penjadwalan produksi,  Penumpahan (waste dump).
dimana pada tahap ini jumlah tanah Operasi Produksi adalah tahapan kegiatan
penutup dengan jumlah bahan galian yang usaha pertambangan yang meliputi konstruksi,
akan ditambang dalam periode tertentu penambangan, pengolahan, pemurnian,
berdasarkan urutan waktu dan target termasuk pengangkutan dan penjualan, serta
produksi. sarana pengendalian dampak lingkungan
 Pemilihan alat sesuai dengan hasil studi kelayakan. Dapat
Setelah diketahui produksi yang akan disimpulkan bahwa, kegiatan operasi produksi
dicapai, maka tahap selanjutnya adalah ini didalamnya sudah memuat kegiatan
pemilihan alat-alat yang akan digunakan penambangan, yakni pembongkaran,
dalam kegiatan penambangan tersebut, penggalian, dan pemuatan bahan galian.
selain pemilihan alat untuk produksi, alat Dalam operasi produksi dikenal istilah IUP
pun dipilih untuk proses pengembangan Operasi Produksi, dimana IUP Operasi
tambang. Produksi adalah izin usaha yang diberikan
 Perhitungan biaya operasi dan kapital setelah selesai pelaksanaan IUP Eksplorasi
Tahap selanjutnya dalam perencanaan untuk melakukan tahapan kegiatan operasi
tambang ialah perhitungan biaya operasi produksi. [5]
dan kapital, dimana perhitungan biaya
operasi dan kapital ini berdasarkan target a. Pushback
produksi yang akan dicapai serta pemilihan Rancangan tahapan desain (pushback)
alat yang akan digunakan, selain itu pada merupakan bentuk-bentuk penambangan yang

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 40


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

menunjukan bagaimana suatu tambang akan  Striping ratio (nisbah pengupasan)


ditambang dari titik awal hingga ke bentuk Nisbah pengupasan merupakan
akhir tambang. Adapun tujuan dari pembuatan perbandingan antara tonase overburden
tahapan ini, yaitu untuk membagi seluruh (material penutup) yang harus dipindahkan
volume yang ada di dalam tambang ke dalam terhadap satu ton ore yang ditambang. Hasil
unit-unit perencanaan yang lebih kecil suatu perancangan pit akan menentukan
sehingga lebih mudah ditangani. Tahapan- jumlah tonase overburden dan ore yang
tahapan penambangan yang dirancang secara mengisi pit. Perbandingan antara material
baik akan memberikan akses ke semua daerah penutup dan ore tersebut akan memberikan
kerja yang cukup untuk operasi peralatan yang nisbah pengupasan rata-rata suatu pit.
efisien. Dengan demikian, problem  Ultimate Pit Slope
perancangan tambang tiga dimensi yang amat Merupakan salah satu faktor teknis
kompleks ini dapat disederhanakan. [6] yang berarti kemiringan atau batas luar
Faktor-faktor yang mempengaruhi tambang yang masih tetap stabil dan
penentuan pushback : menguntungkan. Ultimate Pit Slope akan
 Bentuk dan karakteristik bijih berhubungan dengan geometri lereng yang
Rencana penambangan mineral bijih direncanakan. Hal ini berarti menentukan
akan berbeda dengan perencanaan besarnya cadangan ore yang akan
penambangan batubara yang berbentuk ditambang (tonase dan nilai kadarnya) yang
perlapisan (gradded seam) termasuk dalam akan memaksimalkan nilai bersih total dari
penentuan geometri lerengnya. ore tersebut.
 Rancangan Lereng
Jenjang digambarkan dengan kaki
lereng (toe), puncak (crest), sudut muka
jenjang (face angle), dan lebar jenjang
(bench width). Permukaan bagian atas dari
jenjang satu dengan yang berikutnya
dipisahkan oleh jarak (H) yang disebut
dengan tinggi jenjang. Pembentukan
dimensi dan bentuk lereng dipengaruhi oleh
karakteristik batuan, bentuk cadangan,
stripping ratio maksimum dan ukuran areal
Gambar 1. Bentuk dan sebaran badan bijih tambang. Rancangan lereng yang baik akan
memberikan kondisi kerja yang aman dan
 Jumlah cadangan dan overburden yang efisien.
harus dipindahkan  Ukuran dan jenis alat yang digunakan
Jumlah cadangan juga merupakan Perlu untuk menentukan jenis alat yang
faktor yang berpengaruh dalam digunakan untuk penggalian, pemuatan
perencanaan pushback. Jumlah cadangan serta pengangkutan sehingga lebar jalan dan
menentukan umur suatu tambang, jenjang dapat ditentukan untuk lebih
begitupun dengan jumlah material penutup memaksimalkan proses penambangan.
yang harus dipindahkan untuk mencapai Perhitungan lebar jalan angkut harus
ore. Pembagian material ini harus mempertimbangkan jumlah lajur, yaitu lajur
direncanakan sebaik mungkin dengan tunggal untuk jalan satu arah atau lajur
memperhatikan aspek geologi, teknik serta ganda untuk jalan dua arah. Dalam
ekonomis sehingga penambangan yang kenyataannya, semakin lebar jalan angkut
akan dilakukan berjalan efektif, aman dan maka akan semakin baik dimana lalu lintas
menguntungkan. pengangkutan semakin baik dan lancar.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 41


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

Sebaliknya, semakin lebar jalan angkut, dimulai dan diselesaikan, sedangkan


biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan pengurutan/tahapan (sequencing) merupakan
dan perawatan juga semakin besar. proses pengaturan urutan atas pekerjaan-
Misalnya saja untuk lajur ganda, ukuran pekerjaan yang harus diselesaikan tersebut.
yang dianjurkan adalah tiga setengah kali Prosedur yang biasa digunakan untuk
dari lebar alat angkut. [7] mendapatkan penjadwalan tambang yang
optimal dengan mendefinisikan tahapan
penambangan. Banyaknya material/lapisan
tanah penutup yang harus dikupas selama
masa pra-produksi sekurang-kurangnya adalah
jumlah lapisan tanah penutup yang harus
dipindahkan dari tahapan pertama dan masih
mungkin dilakukan pengupasan pra-produksi
pada tahapan kedua dan seterusnya. [6]
Penjadwalan produksi tambang (mine
scheduling) adalah salah satu bagian dalam
perencanaan tambang yang merupakan
Gambar 2. Desain pushback berdasarkan gambaran tentang jumlah produksi yang
sebaran bijih. dihasilkan dalam setiap tahapan penambangan
berdasarkan waktu dan rancangan
Kegiatan penambangan semestinya disusun penambangan. Tujuan dilaksanakannya proses
menurut urutan penambangannya, dimulai dari penjadwalan ini adalah untuk melakukan
yang memiliki keuntungan rata-rata tertinggi pengaturan waktu yang paling optimum
(APR). Lalu semakin kebawah akan memiliki sehingga proses produksi dapat dilaksanakan
APR semakin rendah. APR merupakan sebaik-baiknya. [8]
average profit ratio atau keuntungan rata-rata Penjadwalan produksi dilakukan dalam
yang didapat dari pemasukan dibagi semua beberapa skenario atau simulasi. Tujuannya
biaya untuk pembongkaran. Dengan APR yang adalah untuk melihat sequence mana yang
tinggi maka, IPR (incremental profit ratio) paling sedikit biaya penambangannya dengan
akan semakin bertambah, IPR merupakan waktu yang telah ditentukan sesuai dengan
peningkatan keuntungan dalam kegiatan target produksi. Skenario yang dilakukan lebih
penambangan. [4] ditekankan pada pembagian sub-blok
penambangan, mulai dari ukuran blok 25 x 25
x 1 sampai pada dimensi 50 x 50 x 6. Selain
dari variasi dimensi blok yang akan dibuka,
juga disimulasikan tahapan penambangan atau
blok mana duluan yang dibuka pertama. [9]
Dalam penentuan jadwal produksi untuk
jangka panjang, masalah utamanya adalah
terletak pada pemaksimalan nilai keuntungan
bersih (NPV). Pada penggunaannya di
lapangan, proses penjadwalan menjadi lebih
kompleks. Penjadwalan kemudian diperkecil
Gambar 3. Tahapan bukaan tambang menjadi satuan waktu bulanan hingga
mingguan. Pada bijih, recovery kadar yang
b. Penjadwalan Produksi Tambang akan didapat juga menjadi bagian dalam
Penjadwalan (scheduling) merupakan penjadwalan. Sehingga penjadwalan juga
proses penugasan kapan pekerjaan harus dilakukan dalam strategi melakukan blending

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 42


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

untuk mendapatkan keuntungan yang lebih ke batas akhir penambangan. Perancangan


besar. Aktivitas penjadwalan dilakukan tahap-tahap penambangan ini membagi pit
sebelum kegiatan perawatan mulai penambangan menjadi unit-unit perencanaan
dilaksanakan dan sangat berkaitan erat dengan yang lebih kecil dan mudah dikelola (Monthly
strategi perawatan yang akan dilakukan untuk plan, Weekly plan, Daily plan). Pada tahap ini,
unit tersebut. Dari strategi yang telah elemen waktu sudah mulai dimasukkan ke
ditentukan maka semua aktivitas yang akan dalam rancangan penambangan karena urutan
dilakukan dalam proses perawatan tersebut penambangan mulai dipertimbangkan. [3]
ditentukan waktu pelaksanaannya. [10]

c. Fase Penjadwalan Produksi Tambang


Perencanaan penjadwalan produksi
tambang sangat penting sebelum melakukan
eksploitasi, olehnya dalam melakukan
perencanaan penjadwalan, ada beberapa fase
yang harus diperhatikan.
 Fase pertama adalah desain.
Sudut kemiringan yang digunakan harus
berdasarkan pada hasil kajian geoteknik.
 Tonase ore dan waste harus sudah
diestimasi untuk tiap bench. Gambar 4. Rencana kemajuan penambangan
 Tonase ore dan waste tiap bench dibuatkan berdasarkan pushback
tabel secara lengkap.
 Dilakukan kegiatan penambangan untuk Ada beberapa langkah dalam membuat
tiap bench dan tidak dilakukan blending suatu tahapan penambangan (Mine Sequence)
untuk tiap bench. Setiap ore yang yaitu:
ditambang tidak dicampur satu sama lain.  Menghitung kembali volume pit dan
 Menenentukan sampai batas mana diposal berdasarkan data situasi akhir
dilakukan stripping, berapa ketebalan yang penambangan.
harus dibuka, dan keterdapatan atau posisi  Membuat database cadangan pada areal pit
dari waste (berkadar rendah). (blok reserve).
 Memperhalus operasi stripping agar  Menghitung jadwal produksi/kapasitas alat
kegiatan ore getting berjalan optimal, untuk masing-masing periode.
kemudian dilakukan ore getting.  Membuat penjadwalan (Mine Scheduling).
 Membuat jadwal pengupasan waste dan ore  Melakukan simulasi perhitungan volume
terhadap waktu. dan menentukan batas penggalian sesuai
 Mendesain peta kemajuan tambang lengkap dengan kapsitas alat.
dengan desain jalan.  Membuat desain situasi penambangan
 Dalam pengembangan eksploitasi, untuk periode-periode tersebut. [3]
perhatikan COG yang telah ditentukan.
 Penjadwalan produksi dikembangkan sesuai e. Produktivitas Alat Berat
dengan perencanaan awal berdasarkan Adapun rumus produktivitas excavator
waktu yang telah ditetapkan. [4] adalah sebagai berikut:

PS x 3.600 x FK
d. Kemajuan Tambang KP = 𝑚3/ 𝑗𝑎𝑚…………… (1)
CT
Merancang bentuk-bentuk penambangan
(Mineable Geometris) untuk menambang habis
overburden mulai dari titik masuk awal hingga

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 43


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

Dimana : akhir pada Blok Selatan PT. Ifishdeco Site


PS : Produksi per siklus = KB x BF Tinanggea
KB : Kapasitas bucket (m3)
BF : Bucket factor
CT : Cycle time (detik)
FK : Faktor koreksi, terdiri dari efisiensi
kerja, waktu dan operator.

Cycle time excavator terdiri dari 4 gerakan


dasar yaitu:
 Excavating time (digging time)/waktu gali
 Swing time (loaded)/waktu putar (bucket
terisi)
 Dumping time/waktu buang muatan
 Swing time (empty)/waktu putar (bucket Gambar 5. Peta lokasi daerah penelitian
kosong) PT. Ifishdeco Site Tinanggea.

Sedangkan, produktivitas dari dumptruck Pertambangan bijih nikel perusahaan


adalah sebagai berikut : PT. Ifishdeco Site Tinanggea dilakukan dalam
dua blok penambangan utama yaitu Blok
KT x 60 x FK Selatan dan Blok Utara, secara spesifik lokasi
KP = 𝑚3/𝑗𝑎𝑚 ……………… (2)
CT penelitian berada di Blok Selatan
Dimana : PT. Ifishdeco Site Tinanggea.
KP : Kapasitas produksi
KT : Kapasitas muat (m3) 2. Tahapan Penelitian
FK : Faktor koreksi Penelitian ini dibagi menjadi beberapa
CT : Cycle time (menit) tahap yaitu tahap studi literatur, pengamatan
lapangan, tahap pengambilan dan
Waktu siklus untuk alat angkut dumptruck pengumpulan data serta tahap pengolahan dan
terdiri atas: analisa data. Berikut adalah hasil kegiatan
 Loading time (LT) atau waktu pemuatan penelitian yang dimaksud :
 Hauling time (HT) atau waktu angkut  Studi literatur
 Dumping time (DT) atau waktu Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
penumpahan adalah mengumpulkan literatur-literatur
 Returning time (RT) atau waktu kembali terkait dengan perencanaan penjadwalan
 Spotting time (ST) atau waktu manuver (2 produksi tambang, produktivitas alat,
kali). [11] perencanaan pushback serta penjadwalan
produksi tambang.
C. METODE PENELITIAN  Pengamatan lapangan
1. Waktu dan Lokasi Penelitian Pada tahap ini yang dilakukan adalah
Penelitian ini dilaksanakan selama kurun melakukan pengamatan mengenai kondisi
waktu 3 bulan pada Blok Selatan PT. Ifishdeco topografi dan morfologi daerah penelitian,
Site Tinanggea, dimana lokasi penelitian selain itu juga melakukan pengamatan
secara administratif terletak pada Kecamatan kegiatan penambangan pada Blok Utara.
Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan,  Pengambilan dan pengumpulan data
Provinsi Sulawesi Tenggara dengan titik Data yang dimaksud disini ada 2, yaitu
koordinat 122o10’3.97” BT dan 4o24’15.07” data primer dan data sekunder. Untuk data
LS. Berikut adalah peta lokasi penelitian tugas primer, pengambilannya turun langsung di

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 44


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

lapangan seperti data cycle time alat berat.


Untuk data sekunder diperoleh dari
perusahaan seperti data topografi, data
blokmodel, data cadangan, data COG, serta
data pit limit.
 Pengolahan dan analisa data
Secara garis besar, tahapan pengolahan
Gambar 7. Blokmodel Front X Blok Selatan
data ini terbagi atas:
- Pengolahan data sekunder dengan Berdasarkan bentuk dan sebaran bijih,
menggunakan surpac 6.5.1 maka pit limit pada Front X Blok Selatan dapat
- Perhitungan produktivitas alat berat dilihat pada gambar berikut.
menggunakan persamaan (1) dan (2).
- Perancangan pushback penambangan.
- Pembuatan rencana jadwal penambangan
jangka pendek.
- Pembuatan peta kemajuan tambang.
- Estimasi biaya total kegiatan
penambangan

D. HASIL PENELITIAN
1. Bentuk dan Sebaran Bijih
Bentuk bahan galian akan mempengaruhi
proses penentuan pushback. Rancangan Gambar 8. Pit limit Front X Blok Selatan
pushback untuk bahan galian yang relatif datar
akan berbeda dengan yang berbentuk Kedalaman maksimum dari pit tersebut
singkapan termasuk dalam hal ini adalah 24 m, lebar jalan dalam pit 7 m, grade
mempengaruhi penentuan geometri lerengnya. 10% (5,7110), lebar berm 6 m, tinggi jenjang 8
m, single slope maksimum 350 serta overall
slope maksimum adalah 250.

3. Pembagian Sub-blok Penambangan


Data blokmodel dengan size blok 12,5 x
12,5 x 1 m yang ada kemudian dibuatkan sub-
blok penambangan dengan dimensi blok 50 x
50 m.
Gambar 6. Bentuk dan sebaran bijih Front X
Blok Selatan dengan COG 1,4%
Ni (Utara - Selatan)

2. Blokmodel dan Pit Limit Front X


Front X Blok Selatan mempunyi range
kadar yang bervariasi mulai dari kadar 0,1
sampai pada range kadar 3.

Gambar 9. Pembagian sub-blok penambangan


Front X Blok Selatan.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 45


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

4. Jumlah Cadangan dan Umur Tambang dilakukan pengisian sebanyak 6 kali loading
Berdasarkan data geologi, bijih nikel di oleh excavator, sehingga :
daerah penelitian memiliki kadar yang
bervariasi. Kadar permintaan pasar adalah CT excavator = 27,57 detik
1,8% Ni dan COG yang ditetapkan pada Front = 6 x 27,57 detik
X Blok Selatan ini adalah 1,4% Ni. Setelah = 2,76 menit
dilakukan estimasi, total cadangan pada blok
ini adalah 530.750 ton dengan overburden Adapun waktu yang dibutuhkan dumptruck
yang ikut terbongkar adalah 631.750 ton, dari pengangkutan ore terhadap stockpile
sehingga SR rata-ratanya adalah 1,19:1. Target sampai kembali ke front adalah 9,11 menit.
produksi yang ditetapkan adalah 100.000 Maka untuk 1 unit excavator dapat melayani :
ton/bulan, dengan mempertimbangkan faktor Jumlah DT = CT dumptruck / CT excavator
loosing material sebesar 20%, maka target = 9,11 menit / 2,76 menit
pembongkaran ore tiap bulan dinaikan = 3 unit.
menjadi 120.000 ton. Berdasarkan pada target Untuk 1 unit excavator dapat melayani 3
produksi tersebut, maka umur tambang Front unit DT, sehingga total DT yang harus
X Blok Selatan diperkiran ± 4,42 bulan dengan disediakan adalah sebagai berikut:
luas area 5,38 Ha atau 53.825 m2. Total DT =2x3
= 6 unit
5. Jumlah Alat Berat yang Digunakan
Adapun target produksi perbulan dengan 6. Penjadwalan Produksi (Mine Scheduling)
memperhitungkan faktor loosing adalah Berdasarkan hasil estimasi, umur
120.000 ton. Dari target produksi tersebut, penambangan adalah 4 bulan 9 hari. Adapun
maka jumlah excavator yang harus digunakan total ore yang dibuka serta jumlah alat yang
untuk ore getting dapat dilihat pada digunakan adalah sebagai berikut :
perhitungan berikut :
KP 1 unit excavator = 250 ton / jam Tabel 1. Waktu, tonase, grade average (GA),
= 2.000 ton / hari (8 jam stripping ratio (SR) dan jumlah total
kerja per hari). alat.
= 60.000 ton / bulan
Untuk mencapai target produksi 120.000 ton,
Maka, Jumlah unit excavator :
120.000 ton / 60.000 ton = 2 unit

Untuk loading, jumlah excavator yang


harus disediakan adalah disesuaikan dengan
jumlah excavator untuk ore getting. Oleh
karena untuk ore getting digunakan 2 unit Total ore yang ditambang keseluruhan
excavator dimana kapasitas produksi untuk adalah 530.750 ton dengan total overburden
ore loading sama dengan ore getting yaitu 250 yang dipindahkan adalah 631.750 ton dan
ton/jam, maka untuk ore loading harus kadar rata-ratanya adalah 1,93% Ni dengan
digunakan 2 unit excavator. nisbah kupas adalah 1,19 : 1. Adapun untuk
Jumlah dumptruck yang digunakan untuk jumlah alat berat yang digunakan dapat dilihat
pengangkutan ore disesuaikan dengan jumlah pada grafik berikut.
excavator untuk ore loading. Diketahui bahwa
kapasitas bucket excavator adalah 1,5 m3 dan
kapasitas bak dumptruck adalah 10,6 m3,
maka untuk satu unit dumptruck dapat

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 46


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

keempat dan kelima secara berturut-turut


Grafik penggunaan alat berat adalah 126.000 ton dengan grade average
16 1,82% Ni; 122.250 ton dengan grade average
14 1,89% Ni; 124.250 ton dengan grade average
12
Jumlah Alat

2,15% Ni dan 123.750 ton dengan grade


10
8 average 1,84% Ni serta 34.500 ton dengan
6 grade average 2,08% Ni. Adapun jumlah alat
4 yang digunakan pada penambangan bulan
2 pertama adalah 12 excavator dan 14
0
Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan
dumptruck, bulan kedua 10 excavator dan 12
pertama kedua ketiga keempat kelima dumptruck, bulan ketiga 8 excavator dan 10
dumptruck, bulan keempat 8 excavator dan 10
Excavator Dumptruck
dumptruck, dan bulan kelima adalah 4
excavator dan 6 dumptruck. Adapun biaya
Gambar 10. Grafik penggunaan alat berat operasional penambangan dalam hal ini adalah
sewa alat dan biaya solar, totalnya adalah
7. Estimasi Biaya Operasional Rp 8.563.214.667.
Faktor biaya dalam kegiatan penambangan
merupakan faktor yang sangat penting dan Daftar Pustaka
menentukan apakah kegiatan penambangan
dilanjutkan atau tidak. Hal ini karena tujuan [1] Lambuto, D.A., 2016. Pemodelan dan
uatama dari kegiatan penambangan adalah Estimasi Cadangan Nikel Laterit dengan
mendapatkan keuntungan optimum dengan Metode Blok Model (IDW) di PT
biaya yang relatif rendah. Sehingga, estimasi Ifishdeco Site Tinanggea, Blok Utara
biaya penambangan wajib dihitung sebelum Front X Sulawesi Tenggara. Skripsi,
kegiatan penambangan dimulai. Pada Universitas Halu Oleo, Kendari
PT. Ifishdeco Site Tinanggea untuk biaya (Unpublished).
penggunaan alat menggunakan jasa kontraktor, [2] Salih, R., 2006. The new Fundamental
dimana biaya untuk pengoperasian excavator Tree Algorithm for production
tiap jam adalah Rp 450.000 tiap unit alat scheduling of open pit mines. Perth:
(termasuk gaji operator) dan biaya alat angkut Australia.
dumptruck dihitung tiap bulan dengan besar [3] Zainassolihin, A.A., 2015. Penjadwalan
Rp 50.000.000 tiap unit alat serta harga solar Tambang (Mine Scheduling) Untuk
per liter adalah Rp 9.000. Mencapai Target Produksi Batubara
Adapun biaya operasional alat mulai bulan 25000 ton/bulan di PT Milargo
pertama sampai bulan kelima sebagaimana Indonesia Mining Desa Bukit Merdeka..
estimasi di atas adalah Rp 6.765.266.667 serta Prosiding Teknik Pertambangan, ISSN
biaya penggunaan solar adalah Rp 2460-6499, Kutai Kartanegara,
1.797.948.000, sehingga biaya keseluruhan Kalimantan Timur.
yaitu sebesar Rp 8.563.214.667. [4] Hustrulid, W and Kuchta, M., 1995.
Open Pit Mine Planning and Design.
E. PENUTUP Volume 1-Fundamental 3RD Edition,
1. Kesimpulan A.A.Balkema, Leide: The Netherland.
Berdasarkan hasil perencanaan [5] Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009
penjadwalan produksi dengan target produksi tentang Pertambangan Mineral dan
yang ditetapkan yaitu 100.000 ton/bulan dan Batubara.
COG 1,4% Ni maka total ore pada
penjadwalan bulan pertama, kedua, ketiga,

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 47


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Perencanaan Penjadwalan Produksi pada Penambangan Bijih Nikel Berdasarkan Target Produksi (38-47)

[6] Adnandst et all. 2007. Rencana [9] Moreno, E., 2016. Linear Models for
Rancangan Tahapan Penambangan Stockpilling in Open-pit Mine
untuk Menentukan Jadwal Produksi PT. Production Scheduling Problems.
Cipta Kridatama. Prosiding Teknik European Journal of Operational
Pertambangan, [7]. Ludong, D.J., Research, doi:10.1016/j.ejor.2016.12.01,
2013. Perencanaan Penjadwalan Santiago: Chile.
Produksi Batubara Jangka Pendek pada [10] Samavati, M., et all, 2016. A local
PT. Berau Coal Tbk. Universitas branching heuristic for the open pit mine
Hasanuddin, Makassar. production scheduling problem.
[8] Prasojo, S.T., et all. 2012. Ore Blending European Journal of Operational
as Mine Scheduling Strategy to Research,doi:10.1016/j.ejor.2016.07.004
Accommodate Resources Coservation at Brisban Australia.
Pakal Nickel Mine, PT ANTAM [11] Rochmanhadi, 1982. Alat-alat Berat dan
IPersero) Tbk. International Symposium Penggunaannya. Departemen Pekerjaan
on Earth Science and Technology, Umum, Jakarta.
doi:10.1016/j.proeps.2013.01.003.
Bandung.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 48


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Analisa Suseptibilitas Magnetik Sedimen Laterit Pada Lokasi Penambangan Nikel (49-57)

ANALISA SUSEPTIBILITAS MAGNETIK SEDIMEN LATERIT PADA LOKASI


PENAMBANGAN NIKEL PT. WANAGON ANOA INDONESIA

Robin Yansa1, LO. Ngkoimani1, Jahidin1


Jurusan Teknik Geofisika, FITK, UHO
e-mail : jahidin_geofisika@uho.ac.id

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang analisa suseptibilitas magnetik sedimen laterit pada Lokasi
Penambangan Nikel PT. Wanagon Anoa Indonesia, Kabupaten Konawe Utara. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan pola nilai suseptibilitas magnetik dan kandungan unsur dalam
sedimen laterit berdasarkan kedalaman, serta mengevaluasi hubungan suseptibilitas magnetik dan
kandungan unsur dalam sedimen laterit. Sampel yang diambil sebanyak 200 conto dari dua
singkapan berbeda tempat, lalu diukur nilai suseptibilitas magnetik pada frekuensi rendah (χLF)
dan kandungan unsur-unsur mineral sampel (Fe, Al, Cr, Ni, Si, Mg). Hasil penelitian menunjukkan
bahwa nilai suseptibilitas magnetik pada kedua profil di daerah penelitan bervariasi dan
cenderung meningkat ke arah bagian atas profil, kemudian menurun dengan bertambahnya
kedalaman. Peningkatan nilai-nilai χLF ke arah bagian atas profil diduga berkaitan dengan
pengayaan mineral-mineral ferrimagnetik magnetit/maghemit. Variasi kandungan unsur-unsur
mineral Fe, Cr dan Al memiliki pola variasi yang sama dan secara umum meningkat ke arah
bagian atas profil, sedangkan unsur-unsur Ni, Si dan Mg meningkat dengan bertambahnya
kedalaman. Secara umum unsur Fe, Al dan Cr dalam dalam penelitian ini memiliki kontribusi yang
relatif terhadap peningkatan nilai-nilai suseptibilitas magnetik. Sedangkan unsur Ni, Mg, dan Si
tidak berkontribusi terhadap peningkatan nilai suseptibilitas magnetik.

Kata Kunci : Singkapan sedimen laterit , suseptibilitas magnetik, kandungan unsur.

ABSTRACT
A research on the magnetic susceptibility of laterite sediment has been done at Nickel Mining
Location from PT. Wanagon Anoa Indonesia, North Konawe regency. The purpose of this research
is to know the pattern of magnetic susceptibility value and elemental content in laterite sediment
based on depth, and to evaluate the relation of magnetic susceptibility and content of elements in
laterite sediment. Sample of laterite sediment consist of 200 samples taken from two different
laterite sediment outcrops, then they were measured the magnetic susceptibility values (χ LF) and
mineral element content (Fe, Al, Cr, Ni, Si, Mg). The results showed that magnetic susceptibility
values in both profiles in the research area varied and tended to increase toward the top of the
profile, then decreased with increasing depth. The increase of χ LF values towards the top of the
profile is thought to be related to the enrichment of magnetite / maghemit mineral ferrimagnets.
Variations in the mineral content of Fe, Cr and Al have the same pattern of variation and generally
increase toward the top of the profile, while Ni, Si and Mg elements increase with increasing depth.
In general, Fe, Al and Cr elements in this study have a relative contribution to the increase of
magnetic susceptibility values. While the elements Ni, Mg, and Si do not contribute to the increase
of magnetic susceptibility value.

Key Words : Laterite sediment, magnetic susceptibility, element content.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 49


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Analisa Suseptibilitas Magnetik Sedimen Laterit Pada Lokasi Penambangan Nikel (49-57)

A. PENDAHULUAN
Sedimen laterit merupakan tanah hasil proses lithogenik. Selain itu, peningkatan
pelapukan lanjut dari batuan induk ultrabasa nilai-nilai dari suseptibilitas magnetik
atau ultramafik yang mengandung mineral- mengekspresikan kandungan mineral-mineral
mineral bernilai ekonomis seperti Ni, Co, Fe besi yang tinggi [3] dimana mineral-mineral
dan Mn [1] dan umumnya dijumpai di daerah- yang banyak mengandung besi dijumpai
daerah penambangan nikel. Dalam profil tanah melimpah pada horison bagian atas profil
laterit, mineral-mineral yang bernilai tanah laterit [10] dan mencapai nilai
ekonomis tersebut sering kali berasosiasi maksimumnya pada batas-batas lapisan top
dengan mineral-mineral ferrimagnetik seperti soil. Selanjutnya mineral-mineral tersebut
hematit (Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4) yang menurun pada horison bagian bawah profil
melimpah [2] Dimana keberadaan mineral- tanah laterit.
mineral magnetik tersebut merupakan penanda Pola hubungan suseptibilitas magnetik
yang baik untuk pengaplikasian metode dan kandungan unsur-unsur mineral dalam
suseptibilitas magnetik. Peningkatan sifat menilai batas-batas perlapisan dalam tanah
magnetik diungkapkan berdasarkan laterit belum dipahami dengan baik. Oleh
suseptibilitas magnetik yang terukur. Dalam karena itu, pemahaman mengenai pola
beberapa tahun terakhir, metode tersebut telah hubungan suseptibilitas magnetik dan
berhasil diterapkan untuk mengkarakterisasi kandungan unsur-unsur mineral dalam
sedimen [3], lindi [4], dan sebagai proksi endapan tanah laterit akan membantu dalam
pedogenik tanah laterit [5]. memahami proses pembentukan tanah laterit
Pemahaman mengenai pola variasi sifat dari aspek magnetiknya. Di sisi lain, metode
magnetik dan kandungan unsur mineral- tersebut dapat digunakan sebagai salah satu
mineral dalam endapan tanah merupakan metode pendekatan baru dalam tahap
informasi yang sangat penting karena diduga eksplorasi keberadaan mineral nikel karena
berkaitan dengan proses pelapukan batuan relatif mudah, murah, cepat, tidak merusak
induk dan proses pembentukannya. Proses serta bersifat ramah lingkungan. Makalah ini
pelapukan pada batuan induk dapat memaparkan bagaimana pola nilai
mempengaruhi variasi unsur-unsur kimia [6] suseptibilitas magnetik, kandungan unsur, dan
dan sifat-sifat magnetik dalam profil tanah hubungan keduanya berdasarkan kedalaman
laterit [7][5]. Sebagai contoh pelapukan kimia pada singkapan sedimen laterit di area
mungkin mempengaruhi mineralogi magnetik penambangan nikel PT. Wanagon Anoa
dan pelapukan fisika dapat mempengaruhi Indonesia, Konawe Utara Provinsi Sulawesi
granulometry serta kuantitas mineral magnetik Tenggara.
dalam tanah. Proses pembentukan tanah
terbagi menjadi beberapa zona dengan B. METODE PENELITIAN
ketebalan dan kandungan unsur mineral yang Sampel yang dianalisa adalah tanah dari
bervariasi [8], misalnya pada endapan tanah beberapa singkapan sedimen laterit yang
laterit [9]. berasal dari lokasi penambangan nikel PT.
Karakteristik umum dari profil tanah Wanagon Anoa Indonesia, Desa Mandiodo,
laterit adalah peningkatan nilai-nilai Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi
suseptibilitas magnetik ke arah horizon bagian Tenggara (Gambar 1). Secara geologis daerah
atas profil yang didominasi oleh kehadiran ini terletak di kompleks ultramafik terdiri dari
bulir-bulir superparamagnetik dari magnetit serpentinit dan peridotit. Sampel tanah
atau maghematit yang dihasilkan dari proses diambil pada setiap kedalaman dengan
pedogenik [7]. Selanjutnya menurun kearah interval 10 cm (Gambar 2).
bagian bagian bawah yang disebabkan
kehadiran bulir-bulir kasar sebagai hasil dari

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 50


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Gambar 1. Peta lokasi daerah penelitian

Gambar 2. Pengambilan sampel sedimen laterit

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 51


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Untuk keperluan pengukuran terhadap kedalaman pada profil RY1 dan
suseptibilitas magnetik dan kandungan RY2 diperlihatkan masing-masing dalam
unsur, sampel sedimen laterit dimasukkan Gambar 3 dan Gambar 4. Nilai suseptbilitas
dalam holder yang berbentuk silinder. magnetik pada profil RY1 berkisar 1,436 ×
Pengukuran suseptibilitas magnetik (per 10-6 m3/kg sampai dengan 40,762 × 10-6
satuan massa pada frekuensi rendah) m3/kg dengan nilai suseptibilitas bergantung
menggunakan suseptibilitimeter MS2 sensor frekuensi χFD (%) sebesar 0,1 % sampai
MS2B, sedangkan pengukuran kandungan dengan 2,47 %. Selanjutnya, nilai
unsur sampel menggunakan X-Ray suseptibilitas magnetik pada profil RY2
Flouresence (XRF) portable dengan berkisar 3,44 × 10-6 m3/kg sampai dengan
spectrometer tipe Niton XL31 GOOLD++. 32,525 × 10-6 m3/kg dengan nilai χFD(%)
Pengukuran sampel dilakukan di berkisar 0,6 × 10-6m3/kg sampai 2,05 × 10-
Laboratorium Teknik Geofisika dan Teknik m /kg. Nilai χFD (%) yang rendah (sebagian
6 3

Pertambangan FITK UHO. besar kurang dari 2 %) pada profil ini


mengindikasikan kontribusi dari partikel-
C. HASIL DAN PEMBAHASAN partikel superparamagnetik (SP) yang tidak
Sampel yang digunakan pada penelitian signifikan [7] atau mengekspresikan bahwa
ini diambil dari dua singkapan sedimen dalam sampel tidak terdapat bulir-bulir SP
laterit di lokasi penambangan nikel PT. atau kehadiran bulir-bulir SP kurang dari
Wanagon Anoa Indonesia Kabupaten 10% [3]. Nilai-nilai χLF pada profil RY1 dan
Konawe Utara. Sampel diambil dari dua profil RY2 cenderung meningkat ke arah
singkapan sedimen laterit yang berbeda yaitu bagian atas profil dan menurun dengan
RY1 dan RY2, dimana keduanya berjarak bertambahnya kedalaman. Peningkatan nilai-
sekitar 70 m satu sama lain. Posisi geografis, nilai χLF ke arah bagian atas profil diduga
elevasi, dan kedalaman maksimum dari berkaitan dengan pengayaan mineral-mineral
tempat pengambilan sampel untuk kedua ferrimagnetik magnetit/maghemit yang
singkapan/profil dapat dilihat pada Tabel 1. dihasilkan dari proses pedogenesis,
sedangkan nilai-nilai χLF yang rendah pada
Tabel 1. Deskripsi tempat pengambilan bagian bawah berkaitan dengan proses
sampel lithogenik yang diturunkan langsung dari
Kedalaman batuan induk. Seperti halnya pada tanah
Elevasi
Posisi Profil Maksimum
Profil
(Koordinat) ID
(m)
Pengambilan
lainnya, proses-proses pembentukan tanah
dpl atau endapan nikel laterit juga dapat
Sampel (cm)
S: mempengaruhi sifat-sifat magnetiknya.
03033’65.5’’
I
E:
RY1 37 1000 Misalnya, pelapukan fisika mempengaruhi
122010’92.1’’ granulometry serta kuantitas mineral
S: magnetik dan pelapukan kimia
03033’65.4’’
II
E:
RY2 45 1000 mempengaruhi mineralogi dari sedimen
122010’90.1’’ laterit. Selanjutnya, pada kedalaman 420 cm
- 550 cm menunjukkan nilai-nilai χLF yang
cukup tinggi. Dimana nilai-nilai χLF pada
1. Nilai Suseptibilitas Magnetik dan kedalaman ini menunjukkan variasi yang
Kandungan Unsur Profil Sedimen hampir sama dengan nilai χLF pada
Laterit RY1 dan RY2 kedalaman < 100 cm. Nilai-nilai χLF yang
Hasil pengukuran suseptibilitas tinggi pada kedalaman ini, juga diduga
magnetik (χLF) dan kandungan unsur berkaitan dengan kehadiran mineral-mineral

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 52


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
ferrimagnetik magnetit atau maghemit Perbedaan tersebut mengindikasikan
berukuran besar [3]. perbedaan sifat mobilitas dari unsur-unsur
Hasil pengukuran kandungan unsur yang terdapat pada profil tanah laterit [8].
mineral pada profil RY1 dan RY2 Kandungan unsur mineral Fe, Cr dan Al
diperlihatkan masing-masing dalam Gambar memiliki pola variasi yang sama dan secara
3 dan Gambar 4. Keduanya, terdapat variasi umum meningkat kearah bagian atas profil,
kuantitas unsur mineral (Fe, Al, Cr, Ni, Si, sedangkan unsur Ni, Si dan Mg meningkat
Mg) terhadap kedalaman. Secara umum dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini
variasi kuantitas unsur-unsur mineral dalam mengindikasikan bahwa unsur-unsur Si, Ni
profil RYI dan RY2 juga cenderung dan Mg kemungkinan mengalami pencucian
memperlihatkan karakteristik yang berbeda (leaching) dan meninggalkan unsur-unsur
antara lapisan atas dan lapisan bagian bawah dengan mobilitas rendah sampai immobile
profil. seperti Fe, Al dan Cr pada bagian atas profil.

Gambar 3. Variasi nilai χLF dan kandungan unsur mineral (Fe, Al, Cr, Ni, Si, Mg) berdasarkan
kedalaman untuk profil RY1.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 53


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Gambar 4. Variasi nilai χLF dan kandungan unsur mineral (Fe, Al, Cr, Ni, Si, Mg) berdasarkan
kedalaman untuk profil RY2.

2. Hubungan Suseptibilitas Magnetik


dan Kandungan Unsur Sedimen
Laterit RY1 dan RY2
Perbedaan tersebut diduga berkaitan
Secara umum unsur Fe, Al, dan Cr
dengan kehadiran unsur-unsur mineral.
dalam dalam penelitian ini memiliki
Dimana variasi unsur-unsur mineral dalam
kontribusi yang relatif (berkorelasi posisitif)
kedua profil juga memperlihatkan perbedaan
terhadap peningkatan nilai-nilai
karakteristik yang berbeda lapisan bagian
suseptibilitas magnetik (χLF) (Gambar 5).
atas dan lapisan bagian bawah profil. Seperti
Sedangkan unsur Ni, Mg, dan Si tidak
pada profil RY1 kedalaman < 100 cm, Nilai-
berkontribusi (berkorelasi negatif) terhadap
nilai χLF yang tinggi pada kedalaman ini
peningkatan nilai suseptibilitas magnetik
diduga berkaitan dengan kontribusi relatif
(χLF) (Gambar 6). Penurunan suseptibilitas
dari mineral Fe. Hal ini dibuktikan dengan
magnetik (χLF) terhadap kedalaman juga
kehadiran persentase Fe yang relatif tinggi
dibarengi dengan penurunan unsur Fe, Al,
pada kedalaman ini, jika dibandingkan
dan Cr, sedangkan unsur Ni, Mg, dan Si
dengan persentase unsur Fe pada kedalaman
cenderung mengalami peningkatan.
> 100 cm. Dalam Dearing (1999), nilai-nilai
Berdasarkan pengukuran suseptibilitas
maksimum dari suseptibilitas magnetik
magnetik pada kedua profil secara umum
mengekspresikan kandungan mineral Fe
menunjukkan perbedaan variasi antara
yang tinggi. Meskipun pada kedalaman
lapisan bagian atas dan bagian bawah profil.
antara 100 cm – 420 cm, nilai-nilai χLF
menunjukkan penurunan yang cukup

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 54


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
signifikan yang tidak diikuti dengan nilai suseptibilitas magnetiknya. Seperti
penurunan persentase kandungan Fe yang yang terlihat pada kedalaman < 600cm,
besar. Hal tersebut diduga bahwa unsur Fe variasi nilai-nilai suseptibilitas magnetik
pada kedalaman ini berasosiasi dengan unsur (χLF) cenderung tinggi jika dibandingkan
lain menjadi mineral-mineral hematit atau dengan nilai suseptibilitas magnetik pada
geotit dengan nilai suseptibilitas magnetik kedalaman > 600 cm. Nilai-nilai χLF yang
yang rendah [3]. Selanjutnya pada tinggi pada kedalaman ini diduga berkaitan
kedalaman 420 cm – 550 cm menunjukkan dengan kehadiran mineral-mineral magnetik
variasi nilai-nilai χLF yang cukup tinggi. seperti Fe. Hal ini dibuktikan dengan
Dimana nilai-nilai χLF pada kedalaman ini persentase unsur Fe yang relatif tinggi pada
menunjukkan variasi yang hampir sama lapisan ini. Selain itu, unsur-unsur lainnya
dengan nilai χLF pada kedalaman < 100 cm. seperti Al dan Cr diduga juga memberikan
Meskipun persentase unsur Fe pada kontribusi terhadap peningkatan nilai
kedalaman ini sedikit lebih rendah jika suseptibilitas magnetik pada bagian atas
dibandingkan dengan persentase unsur Fe profil dimana trend kurva Al dan Cr
pada kedalaman < 100 cm. Akan tetapi menunjukkan kecenderungan yang sama
unsur Fe pada kedalaman ini kemungkinan dengan Fe. Akan tetapi kontribusi unsur-
berasosiasi menjadi mineral magnetit atau unsur tersebut relatif kecil jika dibandingkan
maghemit dengan nilai suseptibilitas dengan unsur Fe. Selain itu, persentase
magnetik yang tinggi (Dearing, 1999). kandungan unsur Ni, Si dan Mg pada
Sedangkan persentase unsur Ni pada kedalaman ini relatif rendah jika
kedalaman < 550 cm relatif sama dan lebih dibandingkan pada kedalaman > 600 cm.
rendah jika dibandingkan dengan persentase Pada kedalaman > 600 cm, nilai-nilai χLF
unsur Ni pada kedalaman > 550 cm. cenderung mengalami penurunan yang
Persentase Fe yang tinggi pada bagian atas diikuti dengan penurunan persentase
profil yang diikuti dengan persentase Ni kandungan Fe, Al dan Cr. Sedangkan unsur-
yang rendah mengekspresikan lapisan unsur lainnya seperti Ni, Si dan Mg
limonit (Syafrizal dkk., 2011). Pada bagian menunjukkan trend yang sebaliknya dengan
bawah profil (kedalaman > 550 cm) nilai- trend kurva suseptibilitas magnetik (χLF)
nilai χLF cenderung mengalami penurunan. dimana persentase unsur-unsur Ni, Si dan
Penurunan nilai-nilai χLF pada kedalaman ini Mg pada kedalaman ini cenderung lebih
sejalan dengan penurunan persentase unsur tinggi dibandingkan pada kedalaman < 600
Fe. Sedangkan persentase unsur Ni secara cm. Hal ini mengkonfirmasikan bahwa
umum pada kedalaman ini cenderung unsur-unsur Ni, Si dan Mg pada penelitian
mengalami peningkatan. Dimana kehadiran ini tidak berkontribusi terhadap nilai-nilai
unsur Ni lebih besar jika dibandingkan suseptibilitas magnetik.
dengan persentase unsur Ni pada kedalaman
< 550 cm. Kecenderungan peningkatan
unsur Ni yang diikuti dengan penurunan
persentase unsur Fe secara geologi
menggambarkan lapisan saprolit [1].
Pada profil RY2 juga
memperlihatkan perbedaan variasi unsur-
unsur mineral dalam profil. Perbedaan
variasi unsur-unsur tersebut dalam profil ini
diduga dapat mempengaruhi variasi nilai-

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 55


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Gambar 5. Korelasi nilai-nilai suseptibilitas magnetik (χLF) dan kandungan unsur-unsur
mineral (Fe, Cr, Al, Ni, Si, dan Mg) pada profil RYI.

Gambar 6. Korelasi nilai-nilai suseptibilitas magnetik (χLF) dan kandungan unsur-unsur


mineral Fe, Cr, Al, Ni, Si dan Mg) pada profil RY2.

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 56


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
D. KESIMPULAN two landfill sites near Bandung,
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, Indonesia. Environmetal Earth
diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Sciences, 60, 409-419.
1. Nilai suseptibilitas magnetik (χLF) pada [5] Ananthapadmanabha, A. L., Shankar,
kedua profil di daerah penelitan R., Sandeep, K., 2014, Rock Magnetic
bervariasi dan cenderung meningkat ke Properties Of Lateritic Soil Profil from
arah bagian atas profil, kemudian Southern India: Evidence For
menurun dengan bertambahnya Pedogenic Processes. Journal Of
kedalaman. Peningkatan nilai-nilai χLF ke Applied Geofphysics 111, 203-210.
arah bagian atas profil diduga berkaitan [6] Tufaila. M.,Safiuddin La Ode, Eso
dengan pengayaan mineral-mineral Rosliana,Kasmiat Sitti, Syaf Hasbullah,
ferrimagnetik magnetit/maghemit. Ahmad Nur Ramadhan La Ode,
2. Variasi kandungan unsur-unsur mineral Hasrorayan, Ardin, 2015, Variation of
Fe, Cr dan Al memiliki pola variasi yang Chemical Elements and their
sama dan secara umum meningkat ke Associationsin Laterite Soil Profile,
arah bagian atas profil, sedangkan unsur- Universitas Halu Oleo, Kendari.
unsur Ni, Si, dan Mg meningkat dengan [7] Safiuddin, L., 2011, A preliminary
bertambahnya kedalaman. study of the magnetic properties on
3. Secara umum unsur Fe, Al, dan Cr dalam laterite soils as indicators of pedogenic
dalam penelitian ini memiliki kontribusi processes, Latinmag Letters, 1(1), 1-15.
yang relatif terhadap peningkatan nilai- [8] Burger, P.A., 1996, Origins and
nilai suseptibilitas magnetik (χ LF). Characteristics of Lateritic Deposits,
Sedangkan unsur Ni, Mg, dan Si tidak Proceeding Nickel, 96, pp. 179-183.
berkontribusi terhadap peningkatan nilai [9] Sundari, W., 2012, Analisis Data
suseptibilitas magnetik (χLF). Eksplorasi Biji Nikel Laterit Untuk
Ekstimasi Cadangan dan Perancangan
Pit pada PT. Timah Eksplomin di desa
Daftar Pustaka Baliara Kecamatan Kabaena Barat.
Prosiding Seminar Nasional Aplikasi
[1] Syafrizal, Komang A., Dono G., 2011, Sains & Teknologi (SNAST) Periode III
Karakteristik mineralogi endapan nikel ISSN : 1979-911X : Yogyakarta.
laterit di daerah Tinanggea Kabupaten [10] Sufriadin, 2013, Mineralogi, Geokimia
Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan sifat Leaching pada Endapan Laterit
JTM Vol. XVIII (4), 211-220. Nikel Soroako, Sulawesi Selatan,
[2] Yongue, F.R., Ghogomu, R.T., Penaye, Indonesia. Disertasi, Universitas Gadjah
J., Ekodeck, G.E., Stendal, H., Colin, Mada, Yogyakarta.
F., 2006, Nickel and cobalt distribution
in the laterites of the Lomie region,
South-east Cameroon. J Afr Earth Sci
45: 33-47.
[3] Dearing, J., 1999, Enviromental
Magnetic Susceptibility, Using the
Bartington MS2System, British Library
Cataloguing in Publication Data, 36 -
41.
[4] Bijaksana, S., dan Huliselan, E.K.,
2010, Magnetik Proporties and Metal
Content of Sanitary Leachate Sludge in

Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (J-Ristam) 57


Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869

JURNAL RISET TEKNOLOGI PERTAMBANGAN


(JRISTAM)

PETUNJUK PENULISAN NASKAH ILMIAH

1. Artikel ditulis dengan format esai disertai judul pada setiap bagian artikel
2. Naskah artikel ditulis menggunakan huruf ukuran 12 jenis Times New Roman dengan spasi
1,0 pt dan disarankan untuk pengolahan kata menggukana MS Word for Windows.
3. Menggunakan kertas A4 (210 x 297 mm) dengan susunan margin atas/ bawah 3 cm serta
susunan margin kiri/ kanan 2 cm, serta menggunakan format page layout 2 kolom dengan
jarak antar kolom (spasi) 1 cm.
4. Panjang artikel maksimal 10 halaman termasuk daftar rujukan.
5. Peringkat judul bagian dan subbagian ditulis dengan variasi huruf – angka sebagai berikut :
Peringkat 1 :
(A. Huruf Besar Tebal; B. Huruf Besar, Tebal; dst)
Peringkat 2 :
(1. Huruf Besar Kecil, Tebal; 2. Huruf Besar Kecil, Tebal; dst)(jika diperlukan)
Peringkat 3 :
(a. Huruf Besar Kecil, Tebal; b. Huruf Besar Kecil, Tebal; dst) (jika diperlukan)
6. Setiap persamaan harus diberi nomor latin secara berturut-turut pada bagian kanannya. Tabel-
tabel dan gambar-gambar harus diberi nomor latin sesuai dengan urutan pemunculannya,
dengan keterangan tiap gambarnya diletakkan pada bagian bawah dan kerangan tiap tabel
diletakkan di atasnya. Ukuran gambar hendaknya tidak melebihi ukuran 10x16 cm, kecuali
untuk gambar peta hendaknya memiliki ukuran tidak melebihi 13x15 cm.
7. Penulisan angka desimal disesuaikan dengan bahasa yang digunakan, dimana menggunakan
tanda titik (.) untuk penggunaan bahasa Inggris atau tanda koma (,) untuk penggunaan bahasa
Indonesia.
8. Judul artikel informatif dan disarankan tidak lebih dari 15 kata.
9. Judul artikel ditulis dalam format huruf besar, tebal (bold) dan maksimal terdiri atas 2 (dua)
baris, dan diletakkan pada bagian tengah artikel.
10. Nama penulis skripsi, nama pembimbing I dan pembimbing II, ditulis tebal (bold) dan tanpa
gelar akademik disertai nama lembaga (afiliasi: nama prodi/ jurusan, fakultas, universitas) dan
dianjurkan mencantumkan alamat email.
11. Abstrak terdiri atas 1 (satu) paragraf dengan jumlah maksimum kata mencapai 200 kata,
Secara umum gambaran abstrak meliputi tujuan, metode, hasil penelitian dan kesimpulan
pokok penelitian. Abstrak ditulis dalam bentuk bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, diketik
1,0 spasi, dan judul abstrak ditulis tebal (bold).
Vol. 1, No. 1, Mei 2018, ISSN 2621-3869
12. Kata kunci ditulis tebal (bold), diletakkan di bawah abstrak dengan jumlah kata sebanyak 3 –
5 kata.
13. Pendahuluan berisi permasalahan, dikaitkan dengan teori diakhiri dengan tujuan penelitian.
(diketik 1 spasi, kurang lebih 1-3 halaman).
14. Metode penelitian ditulis ringkas dan padat, meliputi : lokasi penelitian (peta lokasi
penelitian), tahapan penelitian, pengolahan data dan analisis data (diketik 1,0 spasi, kurang
lebih 1-3 halaman).
15. Hasil dan Pembahasan dapat dibagi ke dalam beberapa subbagian, diketik 1 spasi, kurang
lebih 2 – 5 halaman).
16. Kesimpulan, meliputi : inti pokok dari tujuan akhir penelitian, diketik 1 spasi, dengan jumlah
halaman kurang lebih 1 halaman,).
17. Ucapan Terima Kasih dapat ditampilkan jika diperlukan, diketik 1 spasi.
18. Daftar pustaka yang hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk, daftar pustaka harus
ditunjukkan dalam teks sesuai urutan pemunculan, dengan nomor-nomor dalam tanda kurung
siku (contoh : [1], [2], [3,5], [4-7]).
19. Referensi harus diberi nomor sesuai dengan urutan pemunculannya dalam naskah. Contoh
penulisan referensi adalah sebagai berikut :
a. Pustaka berupa jurnal ilmiah
Diurutkan : nama penulis, judul artikel, nama jurnal (cetak miring), (disingkat menurut
kebiasaan), volume/jilid (cetak tebal) (tahun dalam tanda kurung), halaman awal.
Contoh :
[1] Nurul Fajar Januriadi, Kajian Hubungan Hujan dan Limpasan sebagai Pendukung
Sistem Peringatan Dini Banjir, JTSDA, Vol. 1 No. 2 (2015), 115.
b. Pustaka berupa textbook
Diurutkan, nama penulis., judul buku (miring)., penerbit (disingkat menurut kebiasaan).,
tempat penerbit., (tahun dalam tanda kurung)., halaman kutipan.
Contoh :
[2] C.W. Fetter, Applied Hydrogeology, Prentice Hall, New Jersey, (2001), 11.
c. Pustaka berupa Disertasi, Tesis, atau Laporan.
Diurutkan : nama penulis, judul disertasi (miring), Perguruan Tinggi penulis (tahun dalam
tanda kurung), halaman kutipan.
Contoh :
[3] L.O. Ngkoimani, Magnetisasi Pada Batuan Andesit di Pulau Jawa Serta
Implikasinya Terhadap Paleomagnetisme dan Evolusi Tektonik, Institute Teknologi
Bandung (2005), 45.
d. Pustaka dan publikasi Lembaga atau Departemen
Diurutkan : nama lembaga, judul laporan (miring), Penerbit (tahun dalam tanda kurung.
Contoh :
[4] ESDM, Geologi Lengan Tenggara Sulawesi, Badan Geologi-ESDM (2010)
e. Artikel yang diakses pada internet
Diurutkan : nama penulis, Judul Artikel (miring), Website, tanggal akses.
Contoh :
[5] Andi, Peta Geologi Lembar Kolaka, www.esdm.go.id, 21 Januari 2014
Jakarta, 28 Mei 2018

No. : 0005.26213869/JI.3.1/SK.ISSN/2018.05
Hal. : SK Penerbitan ISSN no. 2621-3869

Kepada Yth.,
Penanggung-jawab / Pemimpin Redaksi
“Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (JRISTAM)”
Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Halu Oleo
Kampus Hijau Bumi Tridharma, Gedung FITK, Anduonohu, Kambu, Kota Kendari.,
Tel : 081245806864
Fax : (0401)31904496
Surat-e : jristamuho@gmail.com

PUSAT DOKUMENTASI DAN INFORMASI ILMIAH


LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
sebagai

Pusat Nasional ISSN (International Standard Serial Number ) untuk Indonesia yang berpusat di Paris, dengan
ini memberikan ISSN (International Standard Serial Number ) kepada terbitan berkala di bawah ini :

Judul : Jurnal Riset Teknologi Pertambangan (JRISTAM)


ISSN : 2621-3869 (media cetak)
Mulai edisi Vol. 1, No. 1, Mei, 2018
Penerbit : Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Halu Oleo

Sebagai syarat setelah memperoleh ISSN, penerbit diwajibkan :

1. Mencantumkan ISSN di pojok kanan atas pada halaman kulit muka, halaman judul dan halaman daftar
isi terbitan tersebut di atas dengan diawali tulisan ISSN, tanpa titik dua. Mencantumkan kodebar atau
barcode ISSN di pojok kanan bawah pada halaman kulit belakang untuk terbitan ilmiah, sedangkan
terbitan non ilmiah/popular di pojok kiri bawah pada halaman kulit muka.
2. Mengirimkan terbitannya minimal 2 (dua) eksemplar setiap nomor terbitan sebagai wajib simpan terbitan
ke PDII LIPI.
3. Pengelola/Penerbit juga wajib mengirimkan berkas digital atau softcopy setiap nomor terbitan dalam
format PDF dalam melalui email isjd@mail.lipi.go.id, baik untuk terbitan tercetak maupun online, agar
dapat dikelola dan diakses melalui Indonesian Scientific Journal Database (ISJD).
4. Apabila judul dan atau sub judul terbitan diganti, pengelola terbitan harus segera melaporkan ke PDII
untuk mendapatkan ISSN baru.
5. ISSN untuk terbitan tercetak tidak dapat digunakan untuk terbitan online. Demikian pula sebalik nya,
kedua media terbitan tersebut harus didaftarkan ISSN nya secara terpisah.
6. ISSN mulai berlaku sejak tanggal, bulan, dan tahun diberikannya nomor tersebut dan tidak berlaku
mundur. Penerbit atau pengelola terbitan berkala tidak berhak mencantumkan ISSN yang dimaksud
pada terbitan terdahulu.
Kepala Pusat Nasional ISSN,

Hendro Subagyo, M.Eng.


NIP 197501231994021001
Catatan :
Surat Keputusan ini diproduksi secara elektronik dan tidak membutuhkan tanda-tangan pengesahan. Konfirmasi atas
keabsahan nomor ISSN ini bisa dilakukan dengan melihat kesesuaiannya dengan nomor registrasi 1526459901 di situs
ISSN Online (http://issn.pdii.lipi.go.id ).
Alamat Redaksi :
Kantor Jurusan Teknik Pertambangan
Kampus Hijau Bumi Tridharma, Gedung FITK,
Anduonohu, Kambu, Kota Kendari, 93132
E-Mail : jristamuho@gmail.com

Anda mungkin juga menyukai