Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KEPERAWATAN BENCANA

“ Perawatan Psikososial dan Spiritual Pada Korban Bencana dan Perawatan


untuk Populasi Rentan “

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Bencana
Dosen Pengampu : Erlin Kurnia., S.Kep., Ns., M.Kes

Nama Kelompok :

Cathrine Yemima Ristyawati ( 01.2.16.00526 )


Erlyana Rahayu Fibriani ( 01.2.16.00538 )
Milkha Oktariyanti ( 01.2.16.00548 )
Yesika Margiana ( 01.2.16.00566 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS. BAPTIS KEDIRI


PRODI PROGRAM SARJANA KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas hikmat dan rahmat-Nya
sehingga makalah Keperawatan Bencana dengan Perawatan Psikososial dan
Spiritual Pada Korban Bencana dan Perawatan untuk Populasi Rentan ini dapat
tersusun hingga selesai. Terima kasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan
Bencana atas bimbingannya selama penyusunan makalah ini. Karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman penyusun, penyusun merasa masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah. Oleh karena itu penyusun sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Kediri, 15 September 2019

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perawatan Psikososial dan Spiritual Pada Korban Bencana
2.1.1 Dampak bencana pada aspek spiritual
Manusia sebagai makhluk yang utuh atau holistik memiliki
kebutuhan yang kompleks yaitu kebutuhan biologis, psikologis, sosial
kultural dan spiritual. Spiritual digambarkan sebagai pengalaman seseorang
atau keyakinan seseorang, dan merupakan bagian dari kekuatan yang ada
pada diri seseorang dalam memaknai kehidupannya. Spiritual juga
digambarkan sebagai pencarian individu untuk mencari makna (Bown &
Williams, 1993). Dyson, Cobb, dan Forman (1997) menyatakan bahwa
spiritual menggabungkan perasaan dari hubungan dengan dirinya sendiri,
dengan orang lain dan dengan kekuatan yang lebih tinggi.
Bencana adalah fenomena kehidupan yang maknanya sangat
tergantung dari mana seseorang memaknainya. Disinilah aspek spiritual ini
berperan. Dalam kondisi bencana, spiritualitas seseorang merupakan
kekuatan yang luar biasa, karena spiritualitas seseorang ini mempengaruhi
persepsi dalam memaknai bencana selain faktor pengetahuan, pengalaman,
dan sosial ekonomi.
Kejadian bencana dapat merubah pola spiritualitas seseorang. Ada
yang bertambah meningkat aspek spiritualitasnya ada pula yang sebaliknya.
Bagi yang meningkatkan aspek spiritualitasnya berarti mereka meyakini
bahwa apa yang terjadi merupakan kehendak dan kuasa sang Pencipta yang
tidak mampu di tandingi oleh siapapun. Mereka mendekat dengan cara
meningkatkan spiritualitasnya supaya mendapatkan kekuatan dan
pertolongan dalam menghadapi bencana atau musibah yang dialaminya.
Sedangkan bagi yang menjauh umumnya karena dasar keimanan atau
keyakinan terhadap sang pencipta rendah, atau karena putus asa.
2.1.2 Dampak bencana pada aspek psikososial
Psikososial merupakan salah satu istilah yang merujuk pada
perkembangan psikologi manusia dan interaksinya dengan lingkungan
sosial. Hal ini terjadi karena tidak semua individu mampu berinteraksi atau
sepenuhnya menerima lingkungan sosial dengan baik. Psikososial adalah
Suatu kondisi yang terjadi pada individu yang mencakup aspek psikis dan
sosial atau sebaliknya secara terintegrasi. Aspek kejiwaan berasal dari dalam
diri kita, sedangkan aspek sosial berasal dari luar, dan kedua aspek ini
sangat saling berpengaruh kala mengalami masa pertumbuhan dan
perkembangan.
Definisi lain menyebutkan bahwa aspek psikososial merupakan
aspek hubungan yang dinamis antara dimensi psikologis/kejiwaan dan
sosial. Penderitaan dan luka psikologis yang dialami individu memiliki
kaitan erat dengan keadaan sekitar atau kondisi sosial. Pemulihan
psikososial bagi individu maupun kelompok masyarakat ditujukan untuk
meraih kembali fungsi normalnya sehingga tetap menjadi produktif dan
menjalani hidup yang bermakna setelah peristiwa yang traumatik (Iskandar,
Dharmawan & Tim Pulih, 2005). Dengan demikian dampak psikososial
adalah suatu perubahan psikis dan sosial yang terjadi setelah adanya
bencana atau peristiwa traumatik misalnya tsunami, banjir, tanah longsor
atau seperti luapan lumpur Lapindo.
Respon individu paska trauma bervariasi tergantung dari persepsi
dan kestabilan emosi ynag dimilikinya. Menurut Keliat, dkk (2005), ada 3
tahapan reaksi emosi yang dapat terjadi setelah bencana, yaitu : pertama,
reaksi individu segera (24 jam) setelah bencana dengan reaksi yang
diperlihatkan: Tegang, cemas dan panik; terpaku, linglung, syok, tidak
percaya; gembira/euphoria, tidak terlalu merasa menderita; lelah; bingung;
gelisah, menangis dan menarik diri; merasa bersalah. Reaksi ini termasuk
reaksi normal terhadap situasi yang abnormal dan memerlukan upaya
pencegahan primer.
Adapun yang kedua adalah minggu pertama sampai dengan
minggu ketiga setelah bencana. Reaksi yang diperlihatkan antara lain:
ketakutan, waspada, sensitif, mudah marah, kesulitan tidur; kuatir, sangat
sedih; mengulang-ulang kembali (flashback) kejadian; bersedih. Reaksi
positif yang masih dimiliki yaitu: Berharap dan berpikir tentang masa
depan, terlibat dalam kegiatan menolong dan menyelamatkan; menerima
bencana sebagai takdir. Kondisi ini masih termasuk respon normal yang
membutuhkan tindakan psikososial minimal, terutama untuk respon yang
maladaptif.
Sedangkan reaksi yang Ketiga adalah lebih dari minggu ketiga
setelah bencana dengan reaksi yang diperlihatkan dapat menetap.
Manifestasi diri yang ditampilkan yaitu : Kelelahan; merasa panik;
kesedihan terus berlanjut, pesimis dan berpikir tidak realistis; tidak
beraktivitas, isolasi dan menarik diri; kecemasan yang dimanifestasikan
dengan palpitasi, pusing, letih, mual, sakit kepala, dan lain – lain. Kondisi
ini merupakan akumulasi respon yang menimbulkan masalah psikososial.
Masalah psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik
yang bersifat psikologis ataupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal
balik dan dianggap berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab
terjadinya gangguan jiwa (atau gangguan kesehatan) secara nyata, atau
sebaliknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada lingkungan sosial.
Ciri-ciri masalah psikososial antara lain:
a) cemas, khawatir berlebihan, takut,
b) mudah tersinggung,
c) sulit konsentrasi,
d) bersifat ragu-ragu/merasa rendah diri,
e) merasa kecewa,
f) pemarah dan agresif,
g) reaksi fisik seperti: jantung berdebar, otot tegang, sakit kepala (CMHN,
2005).
Danvers, dkk (2006) dalam penelitiannya tentang reaksi
psikososial pasca bencana Tsunami dan bencana Tamil Eelam di Srilanka
menemukan 19 reaksi psikososial yaitu:
1) pada tahap awal timbul ketakutan akan laut dan mimpi – mimpi buruk,
2) tidak percaya pada laut, mereka menjadi takut untuk kembali tinggal di
pesisir pantai,
3) timbulnya perasaan bersalah,
4) banyak orang yang mengalami reaksi stres akut, perasaan berduka,
bingung dan sangat emosional. Reaksi tersebut secara umum bersifat
temporal,
5) tingkat kehilangan nyawa yang tinggi, sehingga seluruh masyarakat
menderita bersama – sama, dan masalah psikososial utama yang
teridentifikasi adalah reaksi kesedihan, umumnya diperberat oleh rasa
bersalah, kemarahan dan permusuhan serta gagasan untuk bunuh diri,
6) keadaan ekonomi berubah secara besar–besaran akibat bencana. Bahkan
ada kasus bunuh diri karena kehilangan harta benda,
7) sistem pendukung umum telah hancur, semua anggota masyarakat
mengalami bencana, individu tidak menerima bantuan dari masyarakat.
Struktur desa dan masyarakat telah hancur, orang – orang berpindah pada
keadaan dan situasi yang berbeda, baik dari segi lingkungan maupun
sosial,
8) belum adanya persiapan diri dan skala kerusakan akibat Tsunami telah
menambah kesusahan masyarakat. Sepertinya mereka tidak mampu
untuk menghadapi tekanan/stres untuk waktu yang lama,
9) orang – orang yang terkena bencana harus berurusan dengan stres praktis.
Stres praktis tersebut misalnya sistem registrasi yang rumit, berusaha
untuk menyatukan kembali anggota keluarga yang masih ada, tidak
meratanya pembagian distribusi dan pertolongan, harus tinggal di pusat –
pusat penampungan dan di tempat penampungan sementara,
10) keluarga yang terpisah setelah bencana terdapat di tempat penampungan
yang berbeda. Emosi dan pertanyaan yang tak terjawab mengenai
keadaan kerabatnya, kasus tubuh yang tidak diketemukan atau hanya
teridentifikasi secara umum/tidak spesifik dan berbagai hal yang
berhubungan dengan keadaan dukacita, 11) kurangnya kesempatan untuk
melaksanakan ritual pemakaman. Hal ini berhubungan dengan
pemakaman dilakukan secara masal karena banyak mayat yang tidak
teridentifikasi dengan baik,
12) ekpresi marah adalah reaksi yang paling umum. Mereka juga saling
menyalahkan karena kematian anggota keluarganya, marah pada diri
sendiri dan merasa bersalah. Kemarahan juga ditujukan kepada pihak lain
seperti pada kelompok distribusi bantuan dan pemerintah,
13) ada masyarakat yang memandang secara magis tentang penyebab
terjadinya bencana dan berusaha dengan cara – cara tertentu untuk
selamat dari bencana,
14) kurangnya koordinasi antara organisasi dan agensi yang menyebabkan
banyaknya bantuan yang tidak tersalurkan kepada yang membutuhkan.
Khususnya pada proses pemulihan bagi yang mengalami reaksi
psikolgis yang berat sehingga penderitaan para korban semakin parah,
15) kurangnya sikap peka dan simpatik pemerintah terhadap para korban.
Demikian juga dengan campur tangan politik yang mengejar
keuntungan sendiri menyebabkan sulit terpenuhinya kebutuhan para
korban,
16) banyak korban yang mempunyai riwayat kerugian di masa lalu yang
dapat membangkitkan kenangan dan reaksi emosi mereka karena
bencana sekarang. Dengan begitu semakin sulit bagi individu untuk
menghadapinya,
17) banyak para duda yang kesulitan untuk mengurus anak kecil terutama
bayi. Mereka mengkonsumsi alkohol dalam menghadapi masalahnya,
18) salah satu kelompok yang mempunyai kebutuhan paling spesifik yakni
para remaja, khususnya yang kehilangan orang tua. Mereka terlihat di
pusat–pusat pemondokkan, menarik diri dan marah. Jika program
spesifik tidak dilakukan dengan pada kelompok ini, akan timbul risiko
perkembangan personalitas yang menyimpang seperti tindakkan anti
sosial, pengeksploitasian oleh pihak-pihak tertentu yang tidak
bertanggung jawab,
19) ada semangat dan antusiasme yang tinggi dari beberapa kelompok untuk
melakukan aktivitas psikososial, meskipun tidak semua kelompok ini
dibekali dengan kompetensi yang cukup untuk melakukan intervensi
psikososial.
Teori Psikososial dari Erik Erikson (1955, dalam Frisch & Frisch,
2006), manjelaskan masalah perkembangan psikososial berbeda dalam
delapan tahapan. Setiap tahap akan terjadi konflik psikososial berdasarkan
usia. Peneliti hanya menjelaskan perkembangan psikososial yang terkait
dengan subyek penelitian yaitu usia 20 tahun keatas. Pada usia ini tahap
perkembangannya adalah tahap keintiman versus pengasingan (Intimacy
versus isolation). Perkembangan tahap ini terjadi antara usia 18-25/30 tahun,
dimana individu mampu berinteraksi akrab dengan orang lain terutama
lawan jenis dan memiliki pekerjaan. Kegagalan tahap ini membuat individu
menjauhi pergaulan, merasa kesepian dan menyendiri. Adanya bencana
dapat menimbulkan masa ini tidak dapat dilampaui dengan baik. Mereka
cenderung lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan hidup dan harapan
masing-masing.
Tahap selanjutnya adalah tahap perluasan versus stagnasi
(Generativity versus stagnation). Perluasan yang dimaksud dalam tahap ini
adalah perluasan perhatian dan kepedulian terhadap orang lain. Masa ini
terjadi pada usia pertenganan antara 21-45/50 tahun. Perkembangan yang
baik pada periode ini memunculkan semangat untuk caring kepada orang
lain melebihi kebutuhan untuk kepentingan pribadinya. Termasuk perhatian
dan kepedulianya terhadap keluarga dan anak-anaknya. Adanya gangguan
pada masa ini dapat menimbulkan stagnasi, yaitu ketidakpedulian atau
pengabaian kepada orang lain termasuk keluarga. Mereka hanya
memikirkan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Akhir tahap perkembangan psikososial menurut Erikson adalah
tahap integeritas diri versus putus asa (Ego integrity versus despair)
Perkembangan periode ini dapat dimulai pada usia 45/60 tahun ketika mulai
meninggalkan aktifitas-aktifitas dimasyarakat. Perkembangan psikososial
yang baik pada masa ini diwujudkan dengan adanya integeritas diri yang
baik, lebih matang, dan tidak takut mati karena telah melalui kehidupan
dengan baik. Namun bila hidup yang dilalui tidak semestinya, maka akan
muncul perasaan putus asa, penyesalan dan ”marah” dengan dirinya sendiri
karena merasa gagal menjalani hidup.
2.2 Kelompok–Kelompok Rentan Saat Bencana
Bencana adalah masalah global dengan dampak yang sulit diprediksi.
Siapa saja dapat menjadi korban saat kejadian bencana, namun terdapat
individu atau kelompok-kelompok tertebtu yang memiliki resiko yang lebih
besar atau rentan saat kejadian bencana atau pasca bencana yang dapat
disebabkan karena usia, jenis kelamin, kondisi fisik dan kesehatan atau
karena kemiskinan. Oleh karena itu petugas kesehatan yang terlibat dalam
penanganan bencana perlu mengidentifikasi kelompok-kelompok rentan ini
sebelum kejadian bencana, termasuk mekibatkan mereka sejak tahap kesiap-
sigaan bencana dan mengidentifikasi sumber daya yang dibutuhkan untuk
mengurangi dampak jangka pendek maupun jangka panjang bencana pada
kelompok tersebut. Kelompok-kelompok rentan rentan saat bencana
diantaranya: lanjut usia, wanita hamil, atau menyusui, anak-anak dan
bayi,orang-orang dengan penyakit kronis,kecacatan dan ganguan metal.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP Nomor 21 th 2008,
tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana) terdapat pasal tentang
pelindungan kepada kelompok rentan, dimana pemerintah dan lembaga
terkait harus memberikan prioritas pelayanan penyelamatan, evakuasi,
pengamanan pelayanan kesehatan dan psikososial. Bab ini akan membahas
lebih jauh kelompok rentan dalam menghadapi bencana.
2.1.1 Lanjut Usia
Lanjut usia(lansia) merupakan salah satu kelompok rentan baik
pada saat kejadian bencana maupun pasca bencana bencana yang
disebabkan karena salah satu atau kombinasi dari factor-faktor keterbatasan
fisikm ketebatasan funsional, karakteristik sosiodemografi dan psikososial
dan atau menderita penyakit kronis sehingga membutuhkan lebih banyak
bantuan. Selain itu, dalan situasi kegawatdaruratan, lansia mengabaikan
peringatan bencana dan enggan meninggalkan rumah mereka. Di Amerika
Serikat, sebagian besar korban kematian akibat Badai Katrina tahun 2005
dialami oleh lansia. Di kota Lousiana and New Orleans, lebih dari 70%
korban yang meninggal berusia lebih dari 60 tahun.
Setelah kejadian bencana, alnsia mudah mengalami penurunan
kesadaran akibat kurang nutrisi, suhu yang ekstrim, terpapar
terhadapnsumber infeksi di pengungsian, keterbatasan bantuan kebutuhan
medis dan stress emosional. Hull (2007) melaporkan sekitar 1300 lansia
yang hidup mandiri sebelumnya harus tinggal di panti jompo karena
mengalami komplikasi penyakit kronis setelah Bencana Badai Katrina
Tahun 2005. Oleh karena itu, lansia memerlukan perhatian dan dukungan
khusus dari petugas kesehatan untuk mencegah kondisi yang lebih parah
pasca bencana. Kegiatab yang dapat dilakukan.
1. Buat disaster plans di rumah yang disosialisasikan kepada seluruh
anggota keluarga sehingga keluarga dapar memberikan dukungan yang
sesuai saat bencana terjadi.
2. Pemberian nutrusu adekuat sesuai dengan kebutuhab lansia dab penyakit
yang dideritanya.
3. Pemeriksaan kesehatan untuk mencegah penyakit penyerta yang dapat
timbul karena penurunan daya tahan tubuh lansia.
4. Libatkan petugas konseling untuk mencegah, mengdentifikasi,
mengurangi resiko kejadian depresi pasca bencana.
2.2.2 Wanita Hamil dan Menyusui
Wanita khususnya wanita hamil sangat rentan saat bencana karena
keterbatasan fisik yang dialami sehingga kesulitan untuk menyelamatkan
diri dalam situasi darurat. Survey yang dilakukan oleh Nishikikori et al.
(2006) yang bertujuan untuk menggambarkan kematian dan factor resikonya
akibat bencan Tsubami 2004 di Wilayah Pantai Timur Srilanka menemukan
jumlah kematian pada wanita dua kali lebih besar dibandungka laki-laki.
Kondisi hamil juga menyebabkan wanita rentan pada saat proses evakuasi
karena ancaman keguguran atau kelahiran premature, pendarahan serta
pelepasan dini plasenta sehingga perlu dilakukan secara cepat dan tepat serta
perlu disediakan alat untuk pertolongan persalinan darurat.
Pada saat bencana pemeriksaan rutin pada wantia hamil harus tetap
dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mengidentifikasi awal resiki yang
dapat terjadi akibat dari stress fisk dan psikologis yang dialami. Kegitan
yang dapat dilakukan.
1. Buat disaster plans di rumah yang disosialisasikan kepada seluruh
anggota keluarga sehingga keluarga dapat memberikan dukungan yang
sesuai saat bencana terjadi
2. Pemberian nutrisi adekuat sesuai dengan kebutuhan ibu hamil dan
menyusui.
3. Libatkan petugas konseling untuk mencegah, mengidentifikasi,
mengurangi resiko kelanjutab depresi pasca bencana.
2.2.3 Anak-Anak
Anak-anak sering menjadi korban pada semua jenis bencana. Lebih
lanjut lagi ketersedian sumber daya, alat, dan bahan yang sesuai dengan
kebutuhan anak yang menjadi korban bencana sering diabaikan pada tahap
kesiap-siagaan bencana. Diperkirakan sekitar 70% dari total kematian akibat
bencana dialami oleh anak-anak baik bencana alam maupun vencana akibat
perbuatan manusia. Lebih tepatnyadari 30% korban bencana Tsunami tahun
2004 di Wilayah Pantai Timur Srilanka adalah anak-anak.
Anak-anak juga retan terpisah dari orang tua atau keluarga mereka
pada saat bencana. Pada saat kejadian Badai Katrina di Amerika Serikat,
banyak anak-anak yang tiba ditempat pengungsian setelah dievakuasi dari
New Orleans mengalami trauma psikilogis karena terpisah dengan keluarga
mereka. Akubat bencan Tsunami di Aceh tahun 2004, sekitar 35.000 anak
Indonesia kehilangan satu ata kedua orang tuanya. Selain itu, terdapat juga
laporan adanya perdagangan anak (Chil trafficking) yang dialami oleh anak-
anak yang kehilangan orang tua/wali.
Anak-anak rentan mengalami masalah kesehatan jangka pendek
dan jangka panjang karena keterbatasan fisik, imunitas, kondisi psikososial
dan kurangnya kemampuan untuk mengidentifikasi dan melindungi diri dari
bahaya yang dipengaruhi oleh tahap perkembangan serta kemampuan
komunikasinya. Oleh karena itu, petugas kesehatan bencana perlu lebih
tanggap dala mengidentifikasi dini masalah-masalah kesehatan fisik dan
psikososial yang dialami oleh anak, serta mampu merancang intervensi-
intervensi yang dapat menurunkan resiko-resiko yang dapat terjadi pada
anak intra dan pasca bencana misalnya dengan melakukan pemeriksaan
kesehatan serta berkala, melakukan terapi kelompok bermain, dan lain-lain.
Kegiatan yang dapat dilakukan dalam mempersiapkan anak-anak
siap bencana.
1. Libatkan anak-anak dalam latihan kesiapan bencana di institusi
pendidikan usia dini dan sekolah dasar.
2. Siapkan fasilitas kesehatan yang khusus untuk bayi dan anak pada saat
bencana.
3. Pertolongan sesuai dengan permasalahan fisik dan aspek tumbuh
kembangnya.
4. Upayakan saat evakuasi trasportasi dalam memberi pelayanan fasilitas
kesehatan, hindari memisahkan abak dari orang tua, keluarga, atau wali.
5. Lakukan healing proses dan healing terapi untuk menurunkan memori
yang negative akibat bencana
2.2.4 Penderita Penyakit Kronis
Penderita penyakit kronis menjadi salah satu kelompok rentan saat
kejadian bencana karena keterbatasan atau kelemahan fisik yang dialami.
Kondisi kronis tersebut mungkin ada yang mudah didefinisikan misalnya
penderita yang menggunakan alat bantu napas (ventilator) atau kursi roda,
sehingga memerlukan metode, bantuan yang lebih besar dan alat evakuasi
khusus pada saat bencana terjadi. Namun, ada juga penderita penyakit
kronis yang tidak tampak secara kasat mata contohnya penderita gagal ginjal
stadium awal atau diabetes, dimana untuk penderita ini akan rentan
mengalami masalah jangka panjang pasca bencana sehubungan dengan
ketersediaan kebutuhan obat, insulin atau alat misalnya oksigen atau mesin
hemodialosa.
2.2.5 Orang - orang Dengan Keterbatasan Fisik/Cacat
Orang cacat, karena keterbatasan fisik yang mereka alami berisiko
sangat rentan saat terjadi bencana, namun mereka sering mengalami
diskriminasi di masyarakat dan tidak dilibatkan pada semua level
kesiapsiagaan, mitigasi dan intervensi penanganan bencana. Bencana
yang terjadi dalam skala besar menyebabkan orang-orang dengan
keterbatasan fisik kesulitan dan tidak berdaya sehingga memerlukan
bantuan evakuasi dalam waktu yang cukup lama. Pada saat terjadi bencana
kebakaran di California tahun 2003, banyak individu-individu cacat
pendengaran tidak memahami level bahaya bencana tersebut karena
kurangnya informasi yang bisa mereka fahami. Orang-orang dengan
gangguan penglihatan mungkin tidak akan memperoleh informasi yang
adekuat melalui layar televisi, transportasi yang dapat diakses untuk
mengevakuasi orang-orang yang menggunakan kursi roda mungkin tidak
tersedia pada saat bencana akan terjadi, dan kemungkinan selama proses
triase, beberapa petugas kesehatan menentukan level triase yang lebih
rendah untuk korban dengan kecacatan karena merawat mereka lebih sulit.
Pasca bencana, bantuan pemerintah mungkin tidak adekuat sesuai
dengan kebutuhan individu-individu dengan keterbatasan fisik dan
berhenti terlalu cepat. Tantangan lainnya adalah orang-orang dwngan
keterbatasan fisik mungkin juga kesulitan untuk memperoleh tempat
tinggal yang aman, layanan kesehatan, sekolah yang memfasilitasi kondisi
mereka dan pekerjaan yang layak karena telah rusak akibat bencana.
Petugas penanganan bencana yang tergabung dalam multidisiplin harus
memastikan pertolongan jangka panjang untuk orang-orang dengan
keterbatasan fisik adekuat dan dapat mengembalikan tingkat kemandirian
mereka sebagaimana sebelum kejadian bencana. Selain itu, upaya mitigasi
dengan mempertimbangkan kebutuhan orang-orang dengan keterbatasan
fisik perlu diupayakan misalnya: akses rumah pengungsian yang lebih
mudah dijangkau untuk orang-orang dengan kursi roda, serta informasi-
informasi yang dapet diakses oleh orang-orang dengan gangguan
penglihatan dan pendengaran.
2.2.6 Penderita Gangguan Mental
Penderita gangguan mental sering terabaikan pada saat situasi
kegawatdaruratan atau bencana, baik yang hidup ditengah masyarakat
ataupun yang dirawat di institusi pelayanan. Proses evakuasi mungkin
menjadi kacau dan sulit untuk diarahkan oleh petugas bencana yang tidak
tahu atau kurang memahami kondisi mereka. Individu dengan gangguan
mental ringan atau sedang mungkin datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan atau pelayanan darurat dengan keluhan somatik, sedangkan
individu dengan gangguan mental berat munkin tidak mencari bantuan
sama sekali karena kondisi isolasi sosial, depresi, stigma, dan lain-lain.
Tempat pengungsian juga mungkin tidak mau menerima mereka dan
kurang sesuai dengan kebutuhan psikologis mereka. Mereka mungkin
juga menerima perlakuan yang kasar jika mereka tidak mau mengikuti
arahan. Tanpa perencanaan yang layak yang dapat mengantisipasi dan
mengakomodasi kebutuhan individu-individu dengan gangguan mental,
kelompok ini akan senantiasa menjadi korban yang paling menderita dan
kurang mendapat perhatian pada saat dan setelah kejadian bencana.