Anda di halaman 1dari 7

Yohanna Elvira

2013-070-117
PAN 100 - Pancasila – Seksi D

BAB II
ARTI HISTORITAS, KEBUDAYAAN, DAN KONSTITUSI

Terdapat tiga aspek yang dapat kita dijadikan landasan dalam memahami Pancasila dan
untuk melihat hubungan antara Pancasila sebagai nilai-nilai dasar kehidupan bersama bangsa
Indonesia dan sebagai dasar hukum dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
1945 (UUD NRI 1945) sebagai norma hukum dan hukum dasar. Ketiga aspek tersebut meliputi:

1. Sejarah
Sejarah adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau yang memiliki pengaruh
besar terhadap perkembangan seseorang, institusi, bangsa atau negara di kemudian hari. Sejarah
dapat muncul karena adanya peninggalan dari berbagai peristiwa, yang disebut sebagai sumber
sejarah. Sumber sejarah sendiri memiliki tiga jenis, yaitu: sumber lisan, berupa keterangan
langsung dari pelaku atau saksi; sumber tertulis, berupa prasasti, piagam, dokumen, dsb.; benda,
berupa alat, senjata, patung, candi, masjid, dan benda lain yang tidak bisa disimpan di dalam
museum.
Waktu adalah pengalaman manusia mengenai urutan peristiwa, lamanya peristiwa terjadi,
serta urutan perubahan yang selalu pula terjadi. Sejarah dan waktu saling berkaitan dengan erat,
karena sejarah adalah bagian integral dari diri manusia, demikian juga waktu bukan sesuatu yang
berada di luar manusia dan sejarahnya. Ada dua pandangan tentang waktu, yaitu:
a. Pandangan siklis spiral, yaitu memandang atau mengalami waktu sebagai lingkaran
peristiwa yang selalu berulang.
b. Pandangan linear, yaitu mengalami waktu sebagai suatu garis lurus, yang terus
berlangsung menuju satu titik puncak

2. Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil karya manusia berkat olah pikir, rasa, dan karsa. Kebudayaan
merupakan ekspresi diri manusia dalam segala dimensi kodratinya sebagai: mahkluk jasmani-
rohani (susunan kodratinya), makhluk individu-sosial (sifat kodratinya), dan makhluk personal
yang otonom dan makhluk Tuhan (kedudukan kodratinya).
Manusia disebut sebagai makhluk multidimensional yang memiliki tiga dimensi, antara lain
dimensi kejasmanian, dimensi kerohanian, dan dimensi sosial.

3. Konstitusi
Konstitusi merupakan suatu sistem pengaturan berbangsa dan bernegara dalam rangka
menciptakan tata tertib di seluruh negara, kepastian dan kelancaran pembangunan nasional
dalama kehidupan berbangsa dan bernegara. Landasan pokok konstitusi adalah kesepakatan
umum (konsensus) antara mayoritas rakyat negara mengenai rancang bangun negara yang dicita-
citakan. Dalam suatu konstitusi negara terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur, yaitu hak
dan kewajiban seorang warganegarga serta negara/pemerintahnya, perlindungan terhadap
warga negara dari tindakan sewenang-wenang sesama warganegara ataupun penguasa, serta
tata hubungan dan tata kerja antar lembaga-lembaga negara sehingga terjalin suatu kerjasama
yang efektif, efisien, dan produktif sesuai wawasan yang dianutnya.

BAB III
LANDASAN HISTORIS, KULTURAL, DAN KONSTITUSIONAL

1. Landasan Historis dan Kultural


Landasan historis lebih menekankan aspek historis atau sejarah, sedangkan landasan
kultural berfokus pada aspek kultural atau budaya. Kedua landasan tersebut berasal dari identitas
bangsa yang pluralistik. Landasan historis dan kultural dari Pancasila dapat dilihat dari sejarah
‘Masa Purba Indonesia’, yang terbagi atas tiga periode sejarah, yaitu Zaman Suku-suku Bangsa,
Zaman Kerajaan-kerajaan, dan Zaman Penjajahan.
Kemudian dilanjutkan dengan Masa Modern Indonesia: Masa Perumusan Pancasila. Masa
ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu sidang-sidang Badan Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdakaan Indonesia (BPUPKI).
2. Landasan Yuridis-Konstitusional
Landasan yuridis-konstitusional dari keberadaan Pancasila dijelaskan dengan adanya
UUDNRI 1945, ketetapan MPR No. IV/MPR/1999: Garis-garis Besar Haluan Negara dan UU No. 2
Tahun 1989: Sistem Pendidikan Nasional.
BAB IV
PANCASILA SEBAGAI FILSAFAT

1. Konteks Historis
Bung Karno berpendapat bahwa Philosofische grondslag adalah fondamen, filsafat, pikiran
yang mendalam, jiwa, hasrat yang mendalam untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia
Merdeka yang kekal abadi. Pernyataan tersebut dijadikan konteks historis akan lahirnya gagasan
Pancasila sebagai Filsafat.

2. Konteks Akademis
Filsafat dapat digolongkan kedalam dua hal, yaitu pengertian dan proses. Sebagai
pengertian, filsafat dapat dihubungkan dengan jenis pengetahuan, konsep, pemikiran-pemikiran
dari para filsuf. Sedangkan sebagai proses, filsafat merupakan suatu kegiatan, yaitu proses
pemecahan masalah menggunakan suatu cara atau metode tertentu. Sarana utama yang
digunakan oleh filsafat adalah akal budi. Dalam hal ini, filsafat bertujuan untuk membongkar dan
memperdalam pandangan-pandangan atau asumsi-asumsi yang mendasari realitas.

3. Merawat Kehidupan dalam Kearifan


Kata filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Upaya manusia untuk mencintai kebijaksanaan
terlaksana melalui adanya proses untuk mendapatkan pemahaman seluas-luasnya dan sedalam-
dalamnya. Dalam konteks ini, masyarakat Indonesia dapat menjadi semakin bijak apabila
hidupnya didasari oleh nilai-nilai Pancasila.

4. Karakter Filsafat dalam Pancasila


Menurut pandangan Driyarkara, Pancasila dipahami sebagai lima dalil filsafat, yaitu Dalil
yang berkaitan dengan dasar dari seluruh eksistensi, Dalil yang berkaitan dengan keadilan sosial,
Dalil yang berkaitan dengan demokrasi, Dalil yang berkaitan dengan perikemanusiaan dalam
aspek kebangsaan, dan Dalil yang berkaitan dengan dasar peri kemanusiaan.

5. Pancasila sebagai Ideologi Negara


Kesatuan sistematis gagasan dan nilai-nilai yang dijadikan pandangan tingkah laku
masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan manusia disebut sebagai ideologi. Ideologi dapat
bersifat tertutup dan terbuka. Ideologi tertutup dapat dilihat dari ideologi secara mutlak
menentukan bagaimana manusia harus bertingkah laku. Ideologi terbuka melihat pengakuan
akan keberadaan nilai-nilai yang tidak dipaksakan dari luar, digali dari kekayaan rohani dan
penghayatan hidup yang berbasis kearifan budaya masyarakat itu sendiri.

6. Susunan Hierarkis dan Piramidal Sila Pancasila


Terdapat tiga alsan untuk menempatkan Pancasila sebagai filsafat Bangsa Indonesia, yaitu:
Nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila merupakan intisari dari nilai-nilai yang sudah ada dalam
diri masyarakat Indonesia. Yang kedua, Pancasila sebagai suatu sistem filsasat. Masing-masing
silanya saling terkait satu sama lain sebagai suatu kesatuan. Oleh karena itu, nilai-nilai Pancasila
memiliki urutan yang hierarkis dan piramidal yang terkait satu sama lain. Yang ketiga, filsafat
Pancasila bersifat terbuka, karena dapat terus dikaji dan dikritisi yang didasarkan pada
objektivitas dan dengan sistematika yang terstruktur untuk terus menggali dan mengaktualkan
nilai-nilai yang ada di dalamnya.

BAB V
PANCASILA SEBAGAI ETIKA BERBANGSA

Pancasila merupakan pegangan perilaku bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang


dianut oleh bangsa Indonesia. Setiap prinsip yang terdapat di dalam Pancasila menjadi
pedoman etika bagi seluruh masyarakat Indonesia. Terdapat beberapa pokok penting yang
harus dipahami mengenai pancasila sebagai etika berbangsa, diantaranya adalah:

1. Pengertian Etika.
Etika merupakan cabang dari filsafat, biasa disebut filsafat moral. Etika berasal
dari kata Ethos, yang berarti cukup banyak antara lain tempat tinggal, padang rumput,
kebiasaan adat, akhlak, watak, perasaan serta cara berpikir.
2. Arti Etiket
Perilaku manusia juga sangat berkaitan dengan cara bergaul atau berelasi
dengan orang lain. Dengan kata lain, aspek lahiriah juga menjadi penting dalam
berperilaku etis. Aspek-aspek lahiriah itulah yang disebut dengan etiket, atau dengan
kata lain disebut dengan tata cara. Etiket berkaitan dengan cara suatu perbuatan atau
tata krama, sementara etika berkaitan dengan niat dan menentukan perbuatan
tersebut. Etiket hanya berlaku dalam interaksi ataupun relasi dengan sesama. Etiket juga
bersifat relatif, artinya hanya berlaku pada suatu tempat dan belum tentu berlaku di
tempat lain. Etiket memandang manusia hanya dari segi lahiriah, misalnya penampilan
dan cara berpakaian, sementara etika memandang manusia lebih dari itu.

3. Etika Deskriptif dan Normatif


Etika deskriptif bertujuan untuk menggambarkan atau menjelaskan berbagai
persoalan, tanpa bermaksud memberikan penilaian atas persoalan tersebut. Etika
normatif bertujuan untuk memberikan penilaian terhadap suatu tindakan menurut
norma-norma yang sudah berlaku. Etika normatif dibagi menjadi dua, yaitu norma
umum dan norma khusus. Norma umum adalah suatu prinsip etis yang berlaku untuk
siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Norma khusus adalah norma yang berlaku
hanya pada bidang-bidang tertentu. Terdapat beberapa norma khusus yaitu norma
sopan santun, norma hukum, dan norma moral.
4. Pancasila Sebagai Etika dan Implementasinya
Terdapat dua aspek yang akan muncul apabila Pancasila ditempatkan sebagai
Etika. Yang pertama adalah dari sisi personal, nilai-nilai dasar pancasila menjadi pijakan
setiap pribadi warga negara Indonesia dalam menjalin relasi dengan sesamanya. Kedua
adalah dari sisi sosial, nilai-nilai pancasila menjadi pijakan dalam pengelolaan negara
dalam segala bidang seperti bidang ekonomi, sosial budaya, dan politik serta
pengembangan iptek.
BAB VI
PANCASILA SEBAGAI NILAI

Secara kodrati, pribadi yang mampu terus bertumbuh dalam karakter yang baik dan
selalu berusaha untuk melestarikan nilai-nilai luhur dalam hidupnya, nilai dan luhur saling
menyatu, walaupun memang tidak identik. Terdapat dua aspek yang harus dipahami mengenai
Pancasila sebagai nilai, yaitu:
1. Pemahaman Tentang Nilai
Nilai merupakan suatu hal yang berkaitan dengan ”hakikat”, yaitu suatu hal yang
menyebabkan hal tersebut pantas untuk dikejar. Hakikat bukanlah sesuatu yang terlihat
hanya dari permukaan, namun juga merupakan inti. Nilai sebagai sesuatu yang
mendasar dan sebagai substansi atau hakikat sesuatu menjadi objek kajian sekaligus ciri
khas filsafat. Maka dari itu, kemampuan untuk memahami nilai juga merupakan
kemampuan filosofis.
2. Pengalaman Tentang Nilai
Menurut Scheler, nilai-nilai tidak diketahui atau dipikirkan, melainkan dirasakan.
Scheler juga membuat sumber pengertian baru yaitu apriori emosional. Hal tersebut
tidak bermaksud sebagai kepekaan emosional mengenai apa yang kita anggap bernilai,
melainkan antara objek dan pengertian tersebut terdapat suatu keterkaitan. Scheler
juga berpendapat bahwa terdapat empat gugus nilai, masing-masingnya mandiri dan
apriori. Keempat gugus nilai tersebut adalah yang menyenangkan dan tidak
menyenangkan, perasaan vital, nilai-nilai rohani, serta yang kudus dan profan. Scheler
juga berpendapat bahwa terdapat lima kriteria penentu sifat hierarkis nilai. Kriteria
pertama adalah semakin lama sebuah nilai bertahan, semakin tinggi kedudukannya.
Kedua, semakin tinggi sebuah nilai, semakin tak dapat dan tak perlu dibagi kalau
disampaikan kepada orang lain. Ketiga, semakin tinggi sebuah nilai, semakin nilai itu
mampu mendasari nilai yang lain. Keempat, semakin dalam kepuasan yang dihasilkan
sebuah nilai, semakin tinggi kedudukannya. Kelima, semakin relatif sebuah nilai,
semakin rendah kedudukannya.
3. Relasi antara Nilai, Norma, dan Sanksi
Nilai merupakan sesuatu yang dianggap penting, sehingga menarik dan
membangkitkan keaktifan manusia untuk mewujudkannya. Nilai bersifat imanen dan
subjektif, karena bersangkutan dengan keselarasan dengan suatu sikap batin,
kecenderungan, dan kehendak insani pada orang yang bersangkutan. Namun pada sisi
lain nilai juga bersifat universal dan objektif, karena dapat dijelaskan dengan alasan yang
masuk akal. Norma mengarahkan kita apakah tindakan kita sesuai atau bertentangan
dengan nilai-nilai yang ingin direalisasikan. Jika ada yang melanggar norma maka akan
diberikan hukuman, hukuman ini hadir dalam bentuk sanksi.
4. Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai mengandaikan bahwa orang mengambil sikap terhadap alam,
sesama, dan bahkan Tuhan. Jadi pendidikan nilai mengandaikan “pandangan hidup”,
dan ”pandangan manusia tentang dunia dan Tuhan secara menyeluruh.