Anda di halaman 1dari 171

2nd – 5th September

2019
SESI 06 –
PERENCANAAN
STRUKTUR BAJA
SESI 06 –
PERENCANAAN
STRUKTUR BAJA
BERDASARKAN AASHTO LRFD
BRIDGE DESIGN SPECIFICATIONS
8th EDITION

DONALD ESSEN, ST, MT


- UNIVERSITAS MERCU BUANA
- PT. ESSEN SEKAWAN ENJINIRING
Capaian Pembelajaran
1. Peserta memahami material baja yang umum digunakan dalam
pekerjaan jembatan
2. Peserta memahami mengenai dasar-dasar perencajaan jembatan
Gelagar I Komposit, Gelagar U/Box Komposit dan Rangka Batang
3. Peserta memahami mengenai dasar perencanaan fatik serta
persyaratan fraktur pada jembatan
4. Peserta memahami mengenai dasar-dasar sambungan baut dan las
1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
Referensi

content
1. Pendahuluan
• Pemuktahiran BMS
• Pemilihan Sistem Struktur Atas Jembatan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las

1
Pemuktahiran BMS
Pemuktahiran BMS
Beberapa alasan pemuktahiran Code Baja dalam BMS:
 BMS 92 mengikuti Australian Standard dimana kebanyakan insinyur di
Indonesia terbiasa dengan US Standard (AISC)
 Formula dan notasi yang digunakan dalam BMS 92 banyak berbeda
dengan AASHTO/AISC
 Spesifikasi material yang diatur dalam BMS92 tidak update
 BMS 92 hanya mengatur untuk Jembatan Komposit I-Girder dan Rangka
Batang yang lurus
 BMS 92 tidak mengatur tentang Fraktur
Pemilihan Sistem Struktur Atas Jembatan

Bentang Jembatan
1. Kondisi topografi/batimetri
& persyaratan geometri
2. Kondisi lokasi pekerjaan
(lalu lintas, lingkungan)
3. Ketersediaan material
4. Metode konstruksi
5. Segi biaya
1. Pendahuluan
2. Material Baja
• Properti Material Baja
• Baja US (AASHTO)
• Baja Indonesia (SNI/Spesifikasi Bina Marga)
• Baja Jepang (JIS)
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
2
Properti Material Baja
Properti material untuk pelat baja yang diharapkan :
 Kuat (Strength)
 Mudah dilas (Weldability)
 Kokoh (Toughness)
 Lebih Tahan korosi (Corrosion Resistance)

Jenis baja yang diproduksi saat ini :


 Baja Karbon
 Baja HSLA dengan atau tanpa heat treatment
 Baja HSLA dengan heat treatment kinerja tinggi
Baja US (AASHTO)
Heat Zinc Tebal Fy.min Fu.min
Grade ASTM Tipe Weldability Toughness
Treatment Coated (mm) (MPa) (MPa)
36 A36 Karbon No Yes Fine Good ≤ 100 250 400
50 A572 HSLA No Yes Fine Good ≤ 100 345 450
50S A992 Scrap No Yes Fine Good NA 345 450
50W A588 HSLA No No Fine Good ≤ 100 345 485
HPS 50W A709 HSLA No No Enhanced Enhanced ≤ 100 345 485
HPS 70W A709 HSLA Yes No Enhanced Enhanced ≤ 100 480 585
50 &
HPS 620 690
A709 HSLA Yes No Enhanced Enhanced ≤ 100
100W
≤ 50 690 760

 Weathering steel, tidak untuk daerah pantai/lingkungan laut


 Grade 70 umum digunakan sebagai flens bawah dari I-Girder & U-Girder
 ASTM A709 memenuhi persyaratan energi minimum toughness AASHTO
Baja Indonesia (SNI / Spesifikasi Bina Marga)

Gr485 & Gr690 kurang weldable?!


kecuali HPS
Baja Jepang (JIS)
Produsen baja lokal umumnya mengacu pada JIS G3101 SS400 untuk
pelat/profil baja karbon sedangkan untuk pelat baja HSLA mengacu pada JIS
G3106 SM490 YA/YB.

≈ AASHTO
Gr50

Apakah JIS G3106 HPS!?


Baja Jepang (JIS)
HPS diatur pada JIS G3140 – Steels for Bridge High Performance Structures
Lower Carbon Content Copper Nickel Chromium
BRIDGES
OTHER
STEEL
SUSPENSION
STAYED/
CABLE
1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
• Komponen Jembatan
• Penampang Yang Ditinjau
• Kondisi Batas Perencanaan
• Pengaturan Bentang dan Rasio Tinggi Terhadap Bentang
• Notasi Dimensi
• Proporsi Penampang
• Perencanaan Lentur (Persyaratan)
• Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
• Perencanaan Geser (Persyaratan)
3
• Perencanaan Geser (Tahanan Terfaktor)
• Tulangan Crack Control
• Shear Connector
• Stiffener
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
Komponen Jembatan

Rangka Silang Balok


(V type) Diafragma
Gelagar I Bracing Lateral
(Welded Plate) Form Deck (Stay In Place)
Gelagar I
Rangka Silang (X type)
(Rolled Shape)
Komponen Jembatan

Shear Connector

Intermediate Transverse Stiffener


/Connection Plate untuk Rangka
Silang/Diafragma

Bearing
Stiffener
Penampang Yang Ditinjau

PENAMPANG KOMPOSIT/NON KOMPOSIT PENAMPANG HIBRID/NON HIBRID

 AASHTO tidak merekomendasikan penampang non komposit


 Penampang hybrid  mutu flens Fyf lebih tinggi dari mutu web Fyw.
Fyw ≥ 70% Fyf
 Penampang simetris tunggal  ukuran flens atas dibuat lebih kecil
dibanding flens bawah.
Kondisi Batas Perencanaan DESIGN FLOWCHART

Constructibility Appendix C6.4.1

Serviceability Appendix C6.4.2

Limit States Fatigue Appendix C6.4.3

Fracture Appendix C6.4.3

Strength Appendix C6.4.4 s/d C6.4.10

SNI 1725:2016 Beban, Faktor & Kombinasi Beban


AASHTO Pasal 6.5.4.2 & RSNI T-03-2005 Faktor Tahanan
Pengaturan Bentang dan Rasio Tinggi Terhadap Bentang
 Konfigurasi dan Panjang Bentang
- Simple span= 30 – 50 m
- Continuous span = 50 – 90 m
- Extend continuous span sampai 120 m untuk haunched girder
- Untuk jembatan menerus, jika memungkinkan bentang eksterior
= 70 -80% bentang interior
 Rasio Tinggi I Girder Terhadap Bentang

𝑑 𝐿 = 1 30 u/ simple span
AASHTO
𝑑 𝐿 = 1 37 u/ continuous span

 Rasio Tinggi Total Terhadap Bentang (No Haunched)


𝐷𝑡 𝐿 = 1 25 u/ simple span
AASHTO
𝐷𝑡 𝐿 = 1 31 u/ continuous span
Pengaturan Bentang dan Rasio Tinggi Terhadap Bentang
 Rasio Tinggi Total Terhadap Bentang (Haunched)
𝐷𝑡 𝐿 = 1 20 ~ 1 16 pada pier
WF Chen
𝐷𝑡 𝐿 = 1 40 ~ 1 30 pada tengah bentang
Catatan:
1. Tambah 10-20% untuk jembatan melengkung horisontal
2. Untuk Railway Bridge, total tinggi gelagar I komposit untuk simple
span diambil Dt/L = 1/20 ~ 1/18
3. Beban kendaraan SNI 1725 > AASHTO  tambahkan 10%~15% untuk
tinggi gelagar
Pengaturan Bentang dan Penampang
 Spasi Antar Gelagar
Untuk bentang 35 m - 60 m
𝑡𝑠 S = 2.0 ~ 4.2 m
S’ = (0.35 ~ 0.5) × S atau
𝑆′ 𝑆
S’max = 1.5 m untuk kendaraan
MULTIPLE GIRDER HIGHWAY BRIDGE = 2.5 m untuk pejalan kaki
ts = 230 – 250 mm

12 m max Untuk bentang ≤ 35 m


S=6~7m
S’ = 2 m untuk kendaraan + 1.5 untuk
𝑆′ 𝑆 pejalan kaki
ts = 250 mm di midspan dan overhang
TWIN GIRDER HIGHWAY BRIDGE
= 300 mm di gelagar
Notasi Dimensi
Proporsi Penampang
 Proporsi Web
Lihat AISC 360 F13
Tanpa longitudinal stiffener untuk vertical buckling

Dengan longitudinal stiffener

Rekomendasi NSBA D/tw ≤ 120 untuk web tanpa longitudinal stiffener

Note:
- Proporsi web untuk web vertical buckling control
- Sesuai AASHTO, persamaan valid untuk Fy ≤ 685 MPa (100 ksi). Sesuai AISC
360-2016, persamaan ini valid selama kuat leleh flens tekan ≤ 585 MPa (85
ksi)
- Longitudinal stiffener sebisa mungkin dihindari. Web dengan tinggi lebih
dari 3 m umumnya ditambahkan longitudinal stiffener
- Tebal web tw sebaiknya ≥ 12 mm
Proporsi Penampang
 Proporsi Flens

NSBA merekomendasikan bf/2tf ≤ 9.2 untuk Grade 50 (Fy = 345 MPa)

NSBA merekomendasikan bf ≥ D/4 untuk jembatan curved

L = handling/shipping length
Proporsi Penampang
Untuk menjamin validitas persamaan tahanan web bend buckling
Umumnya tf ≈ 1.5 s/d 2 kali tw

1 1
𝐼𝑦𝑐 = 𝑡𝑓𝑐 𝑏𝑓𝑐 3 𝐼𝑦𝑡 = 𝑡𝑓𝑡 𝑏𝑓𝑡 3
12 12

Untuk mencegah bentuk yang lebih seperti penampang T dibanding


penampang I
Note:
- Lebar flens minimum 300 mm
- Usahakan lebar flens konstan sepanjang bentang, lakukan penebalan tebal
flens jika diperlukan
- Tebal flens tf ≥ 19 mm untuk jembatan lurus dan ≥ 25 mm untuk jembatan
curved. Usahakan tebal maksimum flens adalah 75 mm
- Luas area flens atas sebaiknya tidak kurang dari 2/3 luas area flens bawah
2/3 Af.bot ≤ Af.top ≤ Af.bot
Contoh Proporsi Penampang
Jembatan simple span yang lurus L = 40 m, lebar total 9 m termasuk trotoar
9
𝑑 𝐿 = 1 30
𝑑 = 𝐿 30 = 40000 30 = 1333 𝑚𝑚
Naikan 10 % tinggi gelagar untuk beban
kendaraan SNI diperoleh d = 1467 mm
Ambil d = 1500 mm 0.75 2.5 2.5 2.5 0.75
𝑡𝑠 = 250 𝑚𝑚
250
Ambil S = 2.5 m & S’ = 0.75 m
1750 1500
Contoh Proporsi Penampang
Lebar flens dikontrol saat handling & transportation
L = shipping length ≈ 12 m
12000
𝑏𝑓𝑐 ≥ = 142 𝑚𝑚 ≥ 300 mm  bfc ≥ 300 mm
85

Tebal flens minimum = 19 mm untuk jembatan lurus


Jadi ambil tebal flens atas tf = 20 mm dan tebal flens bawah tf = 25 mm
Diperoleh tinggi web D = 1500 – 20 – 25 = 1455 mm
Tebal web minimum = 12 mm, ambil tw = 14 mm
Longitudinal stiffener umumnya tidak digunakan kecuali jika tinggi gelagar
sudah lebih dari 3 m
𝐷 1455
= = 103.9 < 120 (NSBA)
𝑡𝑤 14
Contoh Proporsi Penampang
Cek syarat proporsi flens
𝐷 1455
𝑏𝑓 ≥ = = 242.5 𝑚𝑚
6 6
Gunakan bf = 300 mm untuk flens atas dan flens bawah
𝑏𝑓 300
≤ 9.2 = = 7.5 < 9.2 (Flens Atas NSBA)
2𝑡𝑓 2 × 20
𝑏𝑓 300
≤ 9.2 = = 7.5 < 9.2 (Flens Bawah NSBA)
2𝑡𝑓 2 × 25
Momen inersia flens atas dan flens bawah
1 3 1
𝐼𝑦𝑐 = 𝑡𝑓𝑐 𝑏𝑓𝑐 = × 20 × 3003 = 4.5 × 107 𝑚𝑚4 𝐼𝑦𝑐 4.5
12 12 0.1 < = = 0.8 < 10
1 1 𝐼𝑦𝑡 5.625
3
𝐼𝑦𝑡 = 𝑡𝑓𝑡 𝑏𝑓𝑡 = × 25 × 3003 = 5.625 × 107 𝑚𝑚4
12 12
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
CONSTRUCTIBILITY (AASHTO Pasal 6.10.3.2) WBB, FLB, LTB tidak boleh
terjadi dan tegangan
 Discretely Braced Compression Flange tidak lebih dari Fy

Notes:
- Faktor beban sesuai SNI 1725:2016
Pasal 6.2
 Discretely Braced Tension Flange
- Perhitungan tegangan pada pelat dek
menggunakan penampang komposit
jangka pendek
 Continuously Braced Ten/Comp Flange
- Jika tegangan pada pelat dek lebih dari
Øfr maka tulangan atas minimum pelat
dek harus memenuhi syarat AASHTO
 Tegangan Tarik Pelat Dek (Lentur Negatif)
Pasal 6.10.1.7 (Crack Control)
𝑓𝑡.𝑑𝑒𝑐𝑘 ≤ 𝑓𝑟 = 0.62 𝑓𝑐 ′ 𝜙𝑓 = 1.0 AASHTO
= 0.9 (AASHTO) 𝜙𝑓 = 0.9 BMS
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
Notes:
SERVICEABILITY (AASHTO Pasal 6.10.4)
- Batas lendutan harus diperiksa sesuai
 Flens Atas (Komposit) persyaratan izin lendutan (AASHTO
Pasal 2.5.2.6)
- Kekakuan untuk perhitungan lendutan
 Flens Bawah (Komposit) dengan kekakuan penampang
komposit penuh
- Untuk pengecekan tegangan, faktor
 Flens Atas/Bawah (Non Komposit) beban yang digunakan adalah LAYAN II
sesuai SNI 1725:2016
- Syarat web bend buckling tidak perlu
diperiksa untuk penampang komposit
 Tegangan Tekan Pelat Dek (Lentur Positif) yang mengalami lentur positif
𝑓𝑐.𝑑𝑒𝑐𝑘 ≤ 0.6𝑓𝑐 ′ - Syarat crack control pada pelat dek
juga harus dipenuhi
 Flens Tekan (Web Bend Buckling)
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
Untuk keperluan perhitungan tegangan pada Serviceability
𝑓𝑡.𝑑𝑒𝑐𝑘 < 2𝑓𝑟

CE CE
CE

𝑓𝑡.𝑑𝑒𝑐𝑘 ≥ 2𝑓𝑟

CE CE
CNE

CE CE
NC
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
STRENGTH

Lentur Positif Lentur Negatif

Konsevatif
Memenuhi Pasal Memenuhi
6.10.6.2.2 ? Tidak Pasal A6.1 ?
Ya Tidak Ya Diizinkan
Penampang Penampang Web Web Tidak
Kompak Non Kompak Langsing Langsing

Pasal 6.10.7.1 Pasal 6.10.7.2


Pasal 6.10.7.3
Pasal 6.10.8 Appendix A6
Pasal 6.10.7.3

UNTUK MEDIUM SPAN 40 - 60 m KONSERVATIF


UNTUK LONG SPAN > 60 m ATAU d > 3000 m, LONGITUDINAL STIFFENER
DIPERLUKAN
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
STRENGTH – LENTUR POSITIF (AASHTO Pasal 6.10.7) y
 Penampang Kompak

PNA
Dp
 Flens Tekan Penampang Non Kompak
x
Dt
 Flens Tarik Penampang Non Kompak

 Tegangan Tekan Pelat Dek


𝑓𝑐.𝑑𝑒𝑐𝑘 ≤ 0.6𝑓𝑐 ′
 Persyaratan Daktilitas
Perencanaan Lentur (Persyaratan)
STRENGTH – LENTUR NEGATIF STRENGTH – LENTUR NEGATIF
(AASHTO Pasal 6.10.8) (AASHTO Appendix A6)
 Discretely Braced Compression Flange  Discretely Braced Compression Flange

 Discretely Braced Tension Flange  Discretely Braced Tension Flange

 Continuously Braced Ten/Comp Flange  Continuously Braced Compression Flange

 Continuously Braced Tension Flange


Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
LENTUR POSITIF – PERSYARATAN PENAMPANG KOMPAK (AASHTO PASAL 6.10.6.2.2)

- Kuat leleh flens, Fyf ≤ 485 MPa (Gr70)


- Web memenuhi syarat D/tw ≤ 150 (Note: NSBA merekomendasikan D/tw ≤
120)
- Penampang memenuhi syarat batas kelangsingan web yaitu:

Web bend buckling


COMPACT WEB
tidak akan terjadi

Note: Untuk jembatan lurus komposit yang tidak memenuhi persyaratan


diatas dan juga jembatan curved komposit (walaupun memenuhi
persyaratan diatas) harus dianggap non kompak
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
LENTUR NEGATIF – PERSYARATAN WEB TIDAK LANGSING (AASHTO APPENDIX A6)

- Jembatan lurus atau jembatan skew dengan sudut tidak lebih dari 20o dari
sumbu tegak lurus jembatan
- Diafragma atau rangka silang dipasang pada satu garis menerus yang
sejajar dengan tumpuan
- Kuat leleh flens, Fyf ≤ 485 MPa (Gr70)
- Penampang memenuhi syarat batas kelangsingan web yaitu:

COMPACT OR NON COMPACT WEB

- Flens harus memenuhi syarat AASHTO Appendix A6


secara umum sama
dengan AISC 360 F4
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
MOMEN PLASTIS POSITIF
PENAMPANG KOMPOSIT, Mp
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
MOMEN PLASTIS NEGATIF PENAMPANG KOMPOSIT, Mp
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
KETINGGIAN PELAT BADAN DALAM TEKAN PADA KONDISI PLASTIS, Dcp – MOMEN POSITIF

CASE I – PNA DI WEB

atau 𝐷𝑐𝑝 = 𝑌 − 𝑡𝑐 2

Untuk case lainnya, web mengalami tarik


jadi Dcp = 0
KETINGGIAN PELAT BADAN DALAM TEKAN PADA KONDISI PLASTIS, Dcp – MOMEN NEGATIF

CASE I – PNA DI WEB

atau 𝐷𝑐𝑝 = 𝐷 − 𝑌 + 𝑡𝑡 2

Untuk case lainnya, web mengalami tekan


seluruhnya jadi Dcp = D
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
MOMEN LELEH POSITIF PENAMPANG KOMPOSIT, My

Diperoleh Myc dan Myt

Note:
- MD1 = momen akibat beban tetap sebelum penampang menjadi komposit
- MD2 = momen akibat beban tetap setelah penampang menjadi komposit
- My dihitung untuk terhadap flens atas (flens tekan, Myc) dan terhadap flens
bawah (flens tarik, Myt)
- Modulus penampang komposit jangka pendek dihitung dengan n = Es/Ec
- Modulus penampang komposit jangka pendek dihitung dengan 3n = 3Es/Ec
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
MOMEN LELEH NEGATIF PENAMPANG KOMPOSIT, My

Diperoleh Myc dan Myt

Note:
- MD1 = momen akibat beban tetap sebelum penampang menjadi komposit
- MD2 = momen akibat beban tetap setelah penampang menjadi komposit
- Pehitungan modulus penampang komposit hanya terdiri dari penampang baja
dan tulangan dek dengan demikian nilai SLT dan SST akan memberikan nilai yang
sama (tidak ada n)
- My dihitung untuk terhadap flens atas (flens tarik, Myt) dan terhadap flens
bawah (flens tekan, Myc)
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
CONSTRUCTION/POURING SEQUENCE

Sequence pengecoran
dek harus ditampilkan
pada gambar kerja
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
KETINGGIAN PELAT BADAN DALAM TEKAN PADA KONDISI ELASTIS, Dc – MOMEN POSITIF

𝐷𝑛 Dc bergantung
pada beban

Note:
- fc dan ft dihitung berdasarkan beban rencana yang bekerja pada penampang
non komposit, komposit jangka pendek ataupun penampang komposit jangka
panjang sesuai dengan tahapan konstruksinya
- fc dengan tanda minus untuk tekan
- Tegangan lentur lateral sayap fl diabaikan
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
KETINGGIAN PELAT BADAN DALAM TEKAN PADA KONDISI ELASTIS, Dc – MOMEN NEGATIF

BETON EFEKTIF MEMIKUL TARIK BETON TIDAK EFEKTIF MEMIKUL TARIK

𝐷𝑛𝑡 𝐷𝑛𝑡

𝐷𝑛𝑏 𝐷𝑛𝑏

Dc bergantung
pada beban
𝐷𝑛 = 𝑚𝑎𝑥 𝐷𝑛𝑡 ; 𝐷𝑛𝑏
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
FAKTOR HIBRID, Rh UNTUK Fyw < Fyf Penampang Komposit Lentur Positif
(AASHTO Pasal 6.10.1.10.1) 𝐷𝑛 = Jarak dari garis netral elastis ke sisi
atas flens bawah
𝐴𝑓𝑛 = Luas flens bawah
𝑓𝑛 = Fy flens bawah
Penampang Komposit Lentur Negatif
𝐷𝑛 = Terbesar antara jarak dari sumbu netral
elastis ke sisi bawah flens atas atau
ke sisi atas flens bawah = max (Dnt, Dnb)
𝐴𝑓𝑛 = Luas flens bawah jika Dnb > Dnt atau luas
flens atas + luas tulangan jika Dnb < Dnt
Jika Dnt = Dnb  Afn diambil yang
terkecil antara luas flens bawah atau 𝑓𝑛 = Fy flens bawah jika Dnb > Dnt atau yang
luas flens atas+luas tulangan. Untuk fn terbesar antara Fy flens atas dengan
sama dengan Fy flens bawah jika luas Fy tulangan jika Dnb < Dnt
flens bawah lebih kecil dari luas flens
atas+luas tulangan dan sebaliknya
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
Faktor Hibrid Dengan Strain Compatibility Analysis

AASHTO tidak clear apakah menentukan Dn dari


strain compatibility atau saat menghitung My ?!
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
FAKTOR WEB LOAD SHEDDING, Rb (AASHTO Pasal 6.10.1.10.2)

Faktor Rb = 1.0 untuk pemeriksaan kekuatan


saat Constructibility dan jika satu dari kondisi
berikut terpenuhi:
Untuk penampang komposit lentur
- untuk penampang komposit lentur positif
positif dengan longitudinal
tanpa longitudinal stiffener yang memenuhi
stiffener namun tidak memenuhi :
persyaratan

- untuk penampang yang memiliki satu atau


lebih longitudinal stiffener yang memenuhi
Untuk penampang lainnya

- untuk penampang dengan web yang


memenuhi
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
TAHAN NOMINAL WEB BEND BUCKLING, Fcrw (AASHTO Pasal 6.10.1.9)

≤ min ( ; )

Web Dengan Longitudinal Stiffener Web Tanpa Longitudinal Stiffener


Jika 

Jika 
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
TAHANAN LENTUR NOMINAL POSITIF PENAMPANG KOMPAK, Mn (AASHTO Pasal 6.10.7.1.2)

Jika 𝐷𝑝 ≤ 0.1𝐷𝑡 Batasan Mn ≤ 1.3 RhMy tidak perlu dilakukan jika:


- semua bentang interior dan penampang di
lokasi tumpuan pier interior memenuhi
ketentuan AASHTO Appendix B pasal B6.2 dan
Jika 𝐷𝑝 > 0.1𝐷𝑡 batas rotasi plastis dimana tahanan lentur
nominal mulai berkurang θRL > 0.009 rad

𝐷𝑡 = 𝑑 + 𝑡𝑑𝑒𝑐𝑘
Khusus untuk jembatan - Jika penampang di lokasi tumpuan interior
menerus juga memenuhi pasal B6.5.1 selain memenuhi
pasal B6.2 maka θRL dapat dihitung dengan
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
TAHANAN LENTUR NOMINAL POSITIF PENAMPANG NON KOMPAK, Fnc & Fnt (AASHTO Pasal 6.10.7.2.2)

Pelat Sayap Tekan Pelat Sayap Tarik

Penampang dengan posisi garis netral plastis (PNA) yang berada jauh dibawah pelat dek
beton dapat mengakibatkan tegangan tekan beton melampaui 0.6 fc’. Penampang non
kompak tidak mengizinkan tegangan tekan pelat dek melampaui 0.6 fc’, untuk itu tinggi
gelagar harus diperbesar atau peningkatan mutu beton harus dipertimbangkan

TAHANAN LENTUR NOMINAL NEGATIF PELAT SAYAP TARIK, Fnt (AASHTO Pasal 6.10.8.3)
Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
TAHAN LENTUR NOMINAL NEGATIF PELAT SAYAP TEKAN, Fnc (AASHTO Pasal 6.10.8.2)

Tahanan Tekuk Lokal Tahanan Tekuk Torsi Lateral


Jika 𝜆𝑓 ≤ 𝜆𝑝𝑓 Jika Jika

Jika 𝜆𝑓 > 𝜆𝑝𝑓 Jika

𝐹𝑦𝑟 = 𝑚𝑖𝑛 0.7𝐹𝑦𝑐 ; 𝐹𝑦𝑤 > 0.5𝐹𝑦𝑐


Perencanaan Lentur (Tahanan Terfaktor)
Faktor Modifikasi Momen Gradien, Cb

Cb = 1.0

Cb > 1.0 Tekan +


x x Tarik -

Cb = 1.0 x
x
x x Cb > 1.0

Cb > 1.0 x x

x x
Cb > 1.0
Cb > 1.0
x x
x x
Perencanaan Geser (Persyaratan)
CONSTRUCTIBILITY (AASHTO Pasal 6.10.3.3) - Vu untuk constructability adalah
gaya geser akibat beban
permanen terfaktor dan beban
konstruksi terfaktor
STRENGTH LIMIT STATE (AASHTO Pasal 6.10.9)
- Pada constructability, post
buckling resistance hanya boleh
diperhitungkan jika penampang
FATIGUE LIMIT STATE (AASHTO Pasal 6.10.9) sudah komposit (ΦvVn)
- Vu untuk fatigue limit state
adalah gaya geser akibat beban
permanen tidak terfaktor + gaya
𝜙𝑣 = 1.0 AASHTO geser akibat beban FATIK I
𝜙𝑣 = 0.9 BMS
Perencanaan Geser (Tahanan Terfaktor)

End Panel
Perencanaan Geser (Tahanan Terfaktor)
Unstiffened atau Stiffened Web

Interior Panel
Stiffened Web jika memenuhi:
- Tanpa longitudinal stiffener dan dengan spasi transverse stiffener (do)
tidak lebih dari 3D
- Dengan satu atau lebih longitudinal stiffener dan dengan spasi
transverse stiffener (do) tidak lebih dari 1.5D
End Panel
Stiffened Web jika memenuhi:
- Dengan atau tanpa longitudinal stiffener dan dengan spasi transverse
stiffener (do) tidak lebih dari 1.5D
Perencanaan Geser (Tahanan Terfaktor)
Tahanan Geser Nominal Unstiffened Web (AASHTO Pasal 6.10.9.2)

Jika 

Jika 

Jika 

𝑘=5
Perencanaan Geser (Tahanan Terfaktor)
Tahanan Geser Nominal Stiffened Web – Interior & End Panel (AASHTO Pasal 6.10.9.3)
Interior Panel Interior Panel
Full Post Buckling Resistance Reduced Post Buckling Resistance End Panel

>

5
𝑘 =5+ 2
𝑑𝑜
𝐷
𝑑𝑜
≤ 1.5
𝐷

5 5
𝑘 =5+ 2 𝑘 =5+ 2
𝑑𝑜 𝑑𝑜
𝐷 𝐷
Tulangan Crack Control

Hanya Tulangan
Longitudinal

(AASHTO Pasal 6.10.1.7)


Shear Connector
Jembatan lurus simple span  shear connector disepanjang bentang
Jembatan lurus continuous span  shear connector di daerah lentur negatif
boleh tidak digunakan (NOT RECOMMENDED)
Jembatan curved  shear connector harus disepanjang bentang
Shear Connector
Persyaratan Pitch Berdasarkan Fatigue Limit State (AASHTO Pasal 6.10.10.1.2)
Note:
- Ffat1 = 0 untuk jembatan lurus
- Ffat2 = 0 untuk jembatan lurus/ jembatan
curved dengan tumpuan skew tidak lebih
dari 20 derajat dari sumbu tegak lurus
jembatan  Frc = 0 (most cases)
- Untuk kasus Frc ≠ 0, flange lateral
Ambil yang bending untuk flens tekan ditentukan
terbesar dari analisis rinci (beban Fatik I) namun
tidak kurang dari 170 kN
𝑀𝑠𝑟 - I dan Q dihitung berdasarkan
𝜎𝑓1𝑔 =
𝑆𝑥𝑡 penampang komposit jangka pendek
= 1200 mm pada bentang
= 600 mm pada tumpuan
Shear Connector
Shear Connector

VERTICAL SHEAR

SHEAR RANGE, Vf
Shear Connector
Tahanan Fatik Shear Connector, Zr (AASHTO Pasal 6.10.10.2)

Tahanan Fatik Untuk Infinite Life Note:


2
𝑍𝑟 = 60𝑑𝑠𝑡𝑢𝑑 - Infinite life jika Rata-Rata Lalu lintas Truk
Harian 𝐿𝐻𝑅 𝑆𝐿 dalam 75 tahun ≥ 960
Tahanan Fatik Untuk Finite Life - Jika infinite life maka kombinasi beban
2
𝑍𝑟 = 11𝛼𝑑𝑠𝑡𝑢𝑑 Fatik I yang digunakan untuk menentukan
Shear/Moment Range dari beban fatik
- Jika finite life maka kombinasi beban Fatik
II yang digunakan untuk menentukan
Shear/Moment Range dari beban fatik

SNI 1725:2016 HANYA FAKTOR BEBAN FATIK


ADA SATU KOMBINASI DI AASHTO LRFD 2017
BEBAN FATIK?! > 2014
Shear Connector
Tambahan Stud Pada Titik Balik Momen Beban Mati (AASHTO Pasal 6.10.10.3

Hitung stress range pada


tulangan fsr di lokasi
bs/3
tumpuan akibat momen
beban fatik
Shear Connector
Persyaratan LRFD Pada Strength Limit State (AASHTO Pasal 6.10.10.4)
Tahanan Geser Nominal Satu Shear Connector
𝜙𝑠𝑐 = 0.85 AASHTO
𝜙𝑠𝑐 = 0.75 BMS
Gaya Geser Rencana
𝑃 𝑃 𝑃 𝑃

NC & CNE
𝑃= 𝑃𝑝2 + 𝐹𝑝2

𝑃𝑝 = 𝑚𝑖𝑛 𝑃1𝑝 ; 𝑃2𝑝

𝐿𝑝

Straight = 0
Shear Connector
Persyaratan LRFD Pada Strength Limit State (AASHTO Pasal 6.10.10.4)
Tahanan Geser Nominal Satu Shear Connector
𝜙𝑠𝑐 = 0.85 AASHTO 𝑃2

𝜙𝑠𝑐 = 0.75 BMS


Gaya Geser Rencana

𝑃 𝑃2

CE

𝑃2 = 𝑃𝑇2 + 𝐹𝑇2 𝐿𝑛

𝑃𝑛 = 𝑚𝑖𝑛 𝑃1𝑛 ; 𝑃2𝑛 Straight = 0


Stiffener
Transverse Stiffener

- Weld access hole tidak boleh kurang dari 4tw tidak perlu lebih besar dari
6tw dan 100 mm
- Lebar stiffener, bt harus memenuhi syarat sebagai berikut:
𝐷
𝑏𝑡 ≥ 50 +
30
Stiffener
- Transverse stiffener harus memenuhi syarat momen inersia sebagai berikut:
Pada Panel Yang Tidak Mengalami Pada Panel Yang Mengalami
Postbuckling Tension Field Action Postbuckling Tension Field Action

Jika 𝐼𝑡2 > 𝐼𝑡1 


Jika 𝐼𝑡2 ≤ 𝐼𝑡1 

PB PB PB

ambil maksimum pada panel yang PB


𝜌𝑡 = 𝑚𝑎𝑥 𝐹𝑦𝑤 𝐹𝑐𝑟𝑠 ; 1.0
Stiffener
- Transverse stiffener pada panel web dengan longitudinal stiffener juga
harus memenuhi:

- Momen inersia transverse stiffener


Stiffener
Bearing Stiffener

- Bearing stiffener harus menempel sedekat mungkin pada flens atas dan
bawah
- Lebar bearing stiffener, bt harus memenuhi syarat sebagai berikut:
Stiffener
- Bearing stiffener harus mampu memikul reaksi tumpuan dari gelagar.
Tahanan bearing terfaktor adalah sebagai berikut:

𝜙𝑏 =0.8 AASHTO
𝜙𝑏 = 0.75 BMS

Luas permukaan yang menumpu ke flens harus dihitung sebagai berikut:


• Jika tepi bearing stiffener diluar tepi flens atas
Apn = (bf.flens atas – weld access hole) x tp
• Jika tepi bearing stiffener didalam tepi flens atas
Apn = (bt – weld access hole) x tp
Stiffener
- Bearing stiffener harus memiliki tahanan aksial terfaktor yang cukup
untuk memikul reaksi tumpuan. Tahanan aksial terfaktor dihitung sebagai
komponen tekan dengan asumsi sebagai berikut:
• Panjang efektif = 0.75D
• Radius girasi dihitung terhadap setengah tebal web
• Ketentuan penampang efektif adalah sebagai berikut:
 Web tidak dianggap efektif jika bearing stiffener disambung ke web
dengan cara dibaut
 Web tidak dianggap tidak efektif jika kuat leleh web kurang dari
70% kuat leleh flens
 Lebar efektif web direduksi dengan faktor jika kuat leleh
web lebih rendah dari kuat leleh bearing stiffener
Stiffener
Penampang efektif untuk perhitungan tahanan aksial terfaktor dari bearing
stiffener
1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
• Komponen Jembatan
• Lentur Lateral Sayap (Flange Lateral Bending)
• Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
• Pengaturan Diafragma dan Rangka Silang
• Perencanaan Gelagar U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
4
Komponen Jembatan

End Diaphragm Interbox


Interbox Diaphragm Cross Frame
Interior Cross Frame
Top Lateral Bracing
Bearing Stiffener
Intermediate Transverse Stiffener
Connection Plate
Lentur Lateral Sayap (Flange Lateral Bending)
Lentur lateral sayap terjadi antara lain karena:
1. Beban eksentris dari beban deck overhang pada gelagar eksterior yang
bertumpu pada bracket
2. Beban angin pada flens gelagar eksterior tanpa bracing menerus
3. Pengaruh torsi pada jembatan curved dan skew  3D Analysis (Mixed
Modelling)
BEBAN DECK OVERHANG - CONSTRUCTIBILITY

𝐹𝑙 = 𝐹𝑡𝑎𝑛𝛼 𝑃𝑙 = 𝑃𝑡𝑎𝑛𝛼
−1
𝑒
𝛼 = 𝑡𝑎𝑛
𝐷
Lentur Lateral Sayap (Flange Lateral Bending)
BEBAN ANGIN - SEMUA KONDISI BATAS

pw pw

Seperempat ke W = 0.25 x pw x d
Setengah ke W = 0.5 x pw x d flens bawah
flens bawah

W = 0.5 x pw x d W = 0.5 x pw x d

W = 0.5 x pw x d W = 0.5 x pw x d
Lentur Lateral Sayap (Flange Lateral Bending)
Lb = jarak antar cross frame
L = panjang bentang
Nb = jumlah gelagar
Tanpa Lateral Bracing
Top
Lateral Lb = jarak antar lateral bracing
Bracing
(flens atas); jarak cross frame
(flens bawah)
Dengan Top Lateral Bracing

Lb = jarak antar lateral bracing


(flens atas dan flens bawah
Interbox Bottom
Lateral Bracing
Lentur Lateral Sayap (Flange Lateral Bending)
Flange lateral bending tidak perlu diperbesar jika persyaratan berikut terpenuhi:

Pembesaran flange lateral bending ditentukan sebagai berikut:


Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
TEGANGAN NORMAL/LONGITUDINAL PADA GELAGAR - I
• St. Venant Torsion Stiffness
jauh lebih kecil dibanding
gelagar box
• High warping stiffness
• Warping hanya terjadi jika ada
fl torsional/warping restraint
• Pada jembatan gelagar I,
torsional/warping restraint
diberikan oleh cross
frame/diaphragm
fbu
• Warping normal stress =
flange lateral bending stress
akibat torsi
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
TEGANGAN GESER PADA GELAGAR - I

• Torsional shear stress


umumnya tidak signifikan
untuk gelagar I. Dalam
perencanaan AASHTO
mengabaikan torsional
shear stress baik St.
Venant maupung warping
untuk jembatan gelagar I

Diabaikan
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
JEMBATAN GELAGAR I YANG MELENGKUNG HORISONTAL
• Gelagar yang berada disisi luar kurva cenderung memikul gaya yang lebih
besar dari gelagar yang berada didalam kurva
• Cross frame/diaphragm berfungsi mentransfer beban akibat torsi dari
salah satu gelagar ke gelagar lainnya

N = 10 ~ 12

D
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
• Karena gelagar I (open section) tidak memiliki kekakuan torsi yang tinggi
maka deformasi (twisting) yang terjadi pada jembatan gelagar I akan
cukup besar sehingga cukup mempengaruhi fabrikasi dan proses
konstruksi jembatan  cross frame/diafragma akan mereduksi twisting
• 2D Grid Model dapat digunakan untuk preliminary analysis atau jembatan
yang lurus. Pemodelan kekakuan torsi elemen gelagar perlu diperhatikan
karena umumnya elemen frame dalam program analisis struktur komersial
tidak dapat melakukan pemodelan warping stiffness. Selain itu shear
stiffness dari cross frame harus dimodelkan dengan tepat oleh elemen
frame  Bagaimana memilah tegangan normal/geser lentur, torsi,
distorsi?
• 3D Mixed Model direkomendasikan untuk analisis rinci. Dengan
pemodelan eksplisit dari flens/web dan cross frame, warping stiffness dari
gelagar dan shear stiffness dari cross frame dapat termodelkan dengan
akurat  Bagaimana memilah tegangan normal/geser lentur, torsi,
distorsi?
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
TEGANGAN NORMAL/LONGITUDINAL PADA GELAGAR BOX

fbu

fbu
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
TEGANGAN GESER PADA GELAGAR BOX

Diabaikan

Tidak Dapat
Diabaikan
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
TEGANGAN PADA GELAGAR BOX AKIBAT DISTORSI – BEBAN EKSENTRIS

Harus ditinjau
Distortional pada fatigue limit
Warping Normal
Stress
state

Distortional
Umumnya
Warping Shear diabaikan
Stress

Distortional Harus ditinjau pada


Transverse Bending
Stress
strength dan fatigue
limit state
Tegangan yang timbul akibat distorsi dapat
dikontrol dengan cross frame/diaphragm
Perilaku Torsi Jembatan Melengkung Horisontal
JEMBATAN GELAGAR BOX YANG MELENGKUNG HORISONTAL
• Penampang box sangat efektif memikul torsi sehingga lebih efisien
digunakan untuk jembatan curved. Penampang U setelah komposit pada
dasarnya juga berperilaku sama
• 2D Grid Model direkomendasi untuk digunakan hanya pada jembatan
yang lurus yang memiliki flens efektif
• Jika menggunakan 2D Grid Model, perhitungan torsional dan distortional
stress pada penampang box dapat ditentukan berdasarkan BEF (BSC
1981)  BS lebih mudah digunakan untuk distortional stress
• 3D Mixed Model direkomendasikan untuk analisis rinci. Dengan
pemodelan eksplisit dari flens/web, cross frame dan top lateral bracing,
pemodelan kekakuan dapat dilakukan dengan lebih akurat
• 3D Shell Model juga dapat digunakan untuk analisis rinci apabila pengaruh
distorsi pada penampang box yang lebar ingin diperoleh
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
Umum
 Jembatan yang memiliki segmen lurus dan curve harus dianggap curve
 Jembatan gelagar U/Box harus komposit (Sesuai AASHTO) jadi shear
connector harus dipasang diseluruh panjang bentang
 Penampang tunggal dizinkan dengan dua dudukan bearing pada
tumpuan

 Penampang box hanya memiliki satu sel


 Untuk keperluan penentuan tegangan, flens dianggap efektif jika lebar
flens kurang dari 1/5 panjang bentang  salah satu prasyarat compact
section
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
Special Case Bridge
 Jembatan yang memenuhi ketentuan ketentuan berikut dapat
direncanakan dengan mengabaikan pengaruh torsi dan distorsi
- Jembatan lurus tanpa tumpuan skew
- Penampang jembatan memenuhi syarat geometri berikut:

4
1
- Lebar flens tidak lebih dari 1/5 panjang bentang
- Panjang deck overhang ≤ 0.6a & ≤ 1200 mm
- Distribusi beban kendaraan dilakukan berdasarkan AASHTO
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
Constructibility, Serviceability & Strength Limit State
 St. Venant torsional shear stress pada strength limit state harus kurang
dari tahanan geser torsi

 Transverse bending stress akibat distorsi tidak boleh lebih dari 138 MPa
pada strength limit state
 Pengaruh flange lateral bending dapat diabaikan untuk serviceability
dan strength limit state
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
 Untuk penampang U non composite, flange lateral bending perlu
ditinjau saat constructability namun tidak perlu untuk penampang U
komposit dan box
 Tahanan web bend buckling, Fcrw untuk web yang miring dihitung
dengan nilai Dc = Dc*

D c* Dc

 Pengaruh St. Venant torsional shear stress tidak perlu diperhitungkan


untuk serviceability limit state
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
 Pengaruh St. Venant Torsional Stress harus diperhitungkan pada
penampang U/Box komposit pada constructability dan strength limit
state  Torsional shear stress mereduksi tahanan lentur (biaxial stress)
dari flens bawah penampang U komposit dan flens atas /bawah
penampang box baik komposit dan non komposit kecuali compact
section (Faktor ∆)

Flens atas penampang U tidak memikul


St. Venant torsional shear stress
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
 Untuk penampang box, tahanan lentur dari flens dapat ditingkatkan
dengan menggunakan longitudinal stiffener  Umumnya dipasang pada
flens bawah daerah momen negatif
 Untuk web yang miring, gaya geser yang bekerja pada web dihitung
dengan

θ ∗
𝐷
D* D 𝐷 =
𝑐𝑜𝑠𝜃

 St. Venant torsional shear harus ditambahkan ke vertical shear (warping


shear diabaikan) untuk Vu kecuali untuk jembatan yang memenuhi
persyaratan penampang kompak atau Special Case Bridge
Vu.St.Venant = fv x Aw = fv x D* x tw
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
 Untuk perhitungan tahanan geser tiap web, lebar flens harus diambil
sesuai ketentuan berikut:
bf = 0.5 beff ≤ 18 tf
bf

bf = 0.5 beff ≤ 18 tf bf = 0.5 beff ≤ 18 tf

RECALL
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
Shear Connector
 Perencanaan shear connector penampang U/Box pada dasarnya sama
dengan penampang I
 Dalam perencanaan shear connector pada konfisi fatigue limit state, St.
Venant torsional shear stress harus ditambahkan pada vertical shear
untuk menghitung Vfat
 Ffat dapat diabaikan untuk perhitungan shear connector pada
penampang box
 Spasi tranversal dari shear connector (gage), st pada penampang box
harus memenuhi syarat berikut:
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
 St. Venant longitudinal fatigue range harus ditambahkan ke persamaan:

 Pada kondisi strength limit state, St. Venant longitudinal shear terfaktor
harus ditambahkan ke vektor gaya dek beton saat menghitung P1p dan
P2n
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit
Stiffener
 Perencanaan tranverse intermediate stiffener dan longitudinal web
stiffener sama dengan gelagar I
 Bearing stiffener dipasang pada support diaphragm. Perencanaan bearing
stiffener sama dengan gelagar I (web  support diaphragm)

Support Diaphragm
Bearing Stiffener
Perencanaan Gelagar U/Box Komposit

 Persyaratan lebar dan kekakuan longitudinal compression flange stiffener


harus memenuhi ketentuan AASHTO pasal 6.11.11.2
 Kuat leleh longitudinal compression flange tidak boleh kurang dari kuat
leleh flens
 Persamaan persyaratan momen inersia untuk longitudinal compression
flange stiffener dalam AASHTO adalah untuk infinitely long stiffener  nilai
persyaratan momen inersia akan sangat besar
 Untuk mengurangi persyaratan momen inersia untuk longitudinal
compression flange stiffener maka transverse flange stiffener harus
diberikan  lihat AASHTO Commentary C6.11.11.2 untuk kasus ini
1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar Box/U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
• Terminologi
• Komponen Jembatan
• Standar Jembatan Rangka di Indonesia
• Konfigurasi Jembatan Rangka Batang
• Perencanaan Komponen Tekan
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
5
Terminologi
Berdasarkan posisi dek, jembatan rangka batang dibagi menjadi tiga tipe

DECK TRUSS THROUGH TRUSS

HALF-THROUGH TRUSS
Terminologi
Tipe dasar bentuk rangka batang yang umum digunakan untuk jembatan

WARREN TRUSS

HOWE TRUSS

PRATT TRUSS
Komponen Jembatan
Standar Jembatan Rangka Di Indonesia

BINA MARGA TRANS BAKRIE WAGNER BIRO

6.3 m

40 m 9m
Perilaku Rangka Batang(Through Warren Truss)

Axial (Beban Mati)

Axial Range (Beban Truk)


 Akibat beban mati, end post dan top chord mengalami tekan, bottom
chord mengalami tarik, sedangkan batang diagonal mengalami tarik/tekan
 Akibat beban kendaraan, batang diagonal dan end pot dapat mengalami
pembalikan tegangan
 Secara umum lebih efisien dibanding Howe dan juga lebih efisien/least
weight dibanding Pratt untuk panel lebih dari 10 (J.L Waling 1953)
 Detail pelat buhul lebih mudah
Konfigurasi Jembatan Rangka Batang
 Panjang Bentang
Bentang sederhana = 40 – 80 m
Bentang menerus/kantilever > 80 m ditentukan juga oleh biaya struktur
bawah /pondasi
 Rasio Tinggi Terhadap Bentang (Depth to Span Ratio)
AASHTO

Rekomendasi 𝐵

 Dimensi Panel 𝐻
𝛼
Panjang 𝐵 = 5 − 10 m
Sudut 𝛼 = 45𝑜 − 60𝑜 𝐿
Diagonal
Perencanaan Komponen Tekan
 Klasifikasi Komponen
Komponen Primer  Chord, vertikal, diagonal, lateral/wind bracing
dan end post
Komponen Sekunder  Portal bracing dan sway bracing
 Penampang
Komponen primer/sekunder dengan menggunakan penampang profil
ataupun builtup – IWF simetris ganda
 Batas Kelangsingan - K = 0.75 untuk chord, diagonal dan
𝐾ℓ end post dengan portal bracing
Komponen Primer ≤ 120
𝑟 - K = 1.0 untuk end post tanpa portal
bracing
𝐾ℓ - K = 0.75 untuk welded/bolted
Komponen Sekunder ≤ 140 moment connection bracing
𝑟
- K = 0.875 untuk pin connected
bracing
Perencanaan Komponen Tekan
 Pemeriksaan Kelangsingan Penampang (AASHTO LRFD Pasal 6.9.4.2.1)
𝑏
Elemen Tidak Langsing ≤ 𝜆𝑟
𝑡
𝑏
Elemen Langsing > 𝜆𝑟
𝑡
Untuk Pelat Sayap Profil IWF Untuk Pelat Badan Profil/ Built-Up IWF

𝐸 𝐸
𝜆𝑟 = 0.56 𝜆𝑟 = 1.49
𝐹𝑦 𝐹𝑦

Untuk Pelat Sayap Built-Up IWF

𝑘𝑐 𝐸
𝜆𝑟 = 0.64
𝐹𝑦
Perencanaan Komponen Tekan
 Tahanan Tekan Terfaktor – Penampang Tidak Langsing (AASHTO LRFD
Pasal 6.9.4.1.1)
Untuk penampang IWF simetris
𝜙𝑐 = 0.95 AASHTO ganda, kondisi batas yang ditinjau:
𝜙𝑐 = 0.85 BMS
1. Elastic Flexural Buckling

Jika 

2. Elastic Torsional Buckling


Jika 

𝐼𝑦 ℎ2 Kz = 1.0 untuk semua komponen


𝐶𝑤 =
4 dengan sambungan pelat buhul
Perencanaan Komponen Tekan
 Tahanan Tekan Terfaktor – Penampang Langsing (AASHTO LRFD Pasal
6.9.4.2.2)
Jika 

Jika 

Web

Flange
Design Notes
- Untuk penyederhanaan, gunakan penampang IWF simetris ganda
- Tinggi IWF dan lebar flens chord dibuat konstan. Tebal flens dapat
divariasikan di sepanjang jembatan sesuai gaya yang bekerja
- Untuk kemudahan detail dan fabrikasi sambungan pelat buhul, dimensi
transversal batang diagonal, batang vertikal dan end post dibuat sama
dengan lebar chord. Jika tidak maka pelat pengisi (filler plate) harus
digunakan
- Untuk efisiensi penampang batang diagonal dan vertikal dapat dibuat
mengecil menuju ke tengah bentang
- Hindari penggunaan elemen langsing untuk komponen tekan
- Eksentrisitas gaya aksial harus diminimalisir
- Untuk menghindari detail yang rumit pada pelat buhul, sway bracing
sebisa mungkin dihindari
1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
• Kondisi Peninjauan Fatik
• Prosedur Perencanaan Fatik
• Detail Umum Untuk Mereduksi Konsentrasi Tegangan
• Fracture Critical Member
7. Baut dan Las
5
Kondisi Peninjauan Fatik
LOAD INDUCED FATIGUE

Kondisi dimana Fatik harus ditinjau:


- Komponen tarik dan sambungannya
- Komponen yang dapat mengalami pembalikan tegangan pada akibat
beban permanen tidak terfaktor + beban FATIK I dan sambungannya

Posisi Truk untuk beban Fatik harus


dapat memberikan LL stress range
terbesar (“worst scenario”)
Prosedur Perencanaan Fatik
LOAD INDUCED FATIGUE

 Penentuan Lalu Lintas Truk Harian Rata-Rata pada satu arah (LHRT)

SNI 1725 Tabel 16


menunjukkan LHR
untuk semua jenis
kendaraan pada
satu arah !?

𝐿𝐻𝑅𝑇 = 𝑝𝑡𝑡 × 𝐿𝐻𝑅


Prosedur Perencanaan Fatik
 Penentuan Lalu Lintas Truk Harian Rata-Rata satu lajur (LHRT)SL
𝐿𝐻𝑅𝑇 𝑆𝐿 = 𝑝𝑡 × 𝐿𝐻𝑅𝑇

 Hitung jumlah siklus stress range untuk perlintasan satu truk, n

Nilai siklus stress range, n makin


besar, tahanan fatik makin kecil
Prosedur Perencanaan Fatik
 Hitung jumlah siklus stress range sepanjang umur rencana, N
𝑁 = 365 75 𝑛 𝐿𝐻𝑅𝑇 𝑆𝐿

 Cek apakah nilai (LHRT)SL selama umur rencana masuk batas Infinite Life

Sesuai kategori detailnya,


Infinite Life jika nilai (LHRT)SL
< Nilai (LHRT)SL ekivalen
untuk 75 tahun sesuai tabel
Note: Tabel ini untuk n = 1.0
Prosedur Perencanaan Fatik
 Tentukan Kategori Detail komponen yang akan ditinjau
Kategori Detail ditentukan berdasarkan AASHTO LRFD Tabel 6.6.1.2.3-1
Konstanta untuk CAFT untuk Infinite Life
Finite Life
Prosedur Perencanaan Fatik
Konstanta untuk CAFT untuk Infinite Life
Finite Life
Prosedur Perencanaan Fatik
 Hitung tahanan fatik nominal, (∆F)n

Low Volume Traffic

Infinite Life
Prosedur Perencanaan Fatik
Prosedur Perencanaan Fatik
Detail Umum Untuk Mencegah Fraktur

Multiaxial stress pada las


harus dihindari
Fracture Critical Member
Fracture Critical Member & System Redundant Member
 Komponen sekunder tidak perlu di uji Charpy V Notch
 Komponen primer yang memikul net tension ataupun yang dapat
mengalami pembalikan gaya akibat kombinasi beban KUAT I harus di uji
Charpy V Notch (kecuali untuk cross frame/diaphragm)
 Hanya komponen primer yang perlu direncanakan sebagai FCM atau tidak,
komponen sekunder tidak perlu diperhitungkan sebagai FCM
 Steel attachment (kecuali bearing sole plate) dengan panjang lebih dari 100
mm yang dilas pada arah tegangan tarik harus dianggap FCM
 FCM yang dapat ditunjukkan dengan analisis fracture yang rinci (Refined
Fracture Analysis) tidak akan menyebabkan jembatan roboh dapat
dianggap sebagai SRM
Fracture Critical Member
 Persyaratan energi untuk pengujian Charpy V Notch bergantung pada
grade dari baja dan juga temperature

INDONESIA
Fracture Critical Member
 FCM harus di fabrikasi berdasarkan ketentuan dalam AASHTO/AWS D1.5
Bridge Welding Code Pasal 12  SRM tidak perlu

AWS D1.5 Pasal 12


1. Pendahuluan
2. Material Baja
3. Jembatan Gelagar I Komposit
4. Jembatan Gelagar U Komposit
5. Jembatan Rangka Batang
6. Fatik dan Fraktur
7. Baut dan Las
• Gaya Rencana Pada Sambungan dan Splice
• Material Baut, Mur dan Ring
• Slip Critical Joint
• Perencanaan Splice Baut
• Sambungan Las
5
Gaya Rencana Pada Sambungan dan Splice
 Gaya sambungan/splice komponen yang memikul gaya aksial tarik/tekan
saja
Terbesar antara:
 0.5 x (Gaya Terfaktor + Tahanan Terfaktor)
 0.75 x Tahanan Terfaktor
 Gaya sambungan/splice komponen yang memikul gaya kombinasi aksial &
lentur kecuali splice untuk gelagar (arch, truss, rigid frame)
 1.0 x Kombinasi Gaya Terfaktor
 0.75 x Tahanan Terfaktor
Note: Boleh direduce sampai 50% Tahanan Terfaktor terkecil untuk
compression splice jika permukaan kedua komponen tekan berada pada
full bearing contact di lokasi splice  umumnya diratakan dengan cara di-
milling
Gaya Rencana Pada Sambungan dan Splice
 Gaya sambungan/splice komponen lain (cross frame, lateral bracing,
stringer, floorbeam/crossbeam) yang terbesar antara:
 1.0 x Kombinasi Gaya Terfaktor
 0.75 x Tahanan Terfaktor
 Untuk splice komponen tekan/tarik atau kombinasi gaya tekan/tarik dan
lentur dari dua penampang komponen yang berbeda, gaya splice diambil
yang terkecil
 Untuk komponen lentur (gelagar), flange splice harus direncanakan
memikul 100% tahanan leleh rencana flens yang terkecil dari dua
komponen yang disambung
 Untuk komponen lentur (gelagar), web splice harus direncanakan
memikul 100% tahanan geser rencana web yang terkecil dari dua
komponen yang disambung
Material Baut, Mur dan Ring
 Low Strength Bolt  ASTM A307 Grade A & B  Not Used for Fatigue
 High Strength Bolt  ASTM F3125 (A325, A490, F1852 & F2280)

 AASHTO 2017 /AISC 2016 mengadopsi Research Council On Structural


Connection (Bolt Council) - Specification for Structural Joints Using High-
Strength Bolts (edisi RCSC 2014 belum update pretension untuk slip critical
joint jadi gunakan AASHTO 2017 atau AISC 2016)
Material Baut, Mur dan Ring

 Mur (Nut) dan Ring (Washer) juga ha


Material Baut, Mur dan Ring

& F1852

& F2280
Material Baut, Mur dan Ring
 ASTM F3125 mewajibkan produsen baut untuk melakukan Rotational
Capacity Testing. Hal ini diataur dalam SNI 8458:2017 Metode Uji
Pengencangan Baut Mutu Tinggi (Calibrated Wrench Method
dengan/tanpa DTI)  Acceptance criteria didalam SNI 8458:2017 hanya
terlampauinya syarat gaya pretension sedangkan ASTM F3125 juga
membatasi nilai torsi maksimum saat mencapai pretension minimum
dan juga sudut putaran minimum
Material Baut, Mur dan Ring
 AASHTO mewajibkan kontraktor pelaksana melakukan untuk melakukan
Preinstallation Verification Test untuk jenis pengencangan baut yang
akan digunakan pada slip critical joint (Turn of Nut, DTI, Calibrated
Wrench) sesuai RCSC Specification.
 Prosedur instalasi sebaiknya mengacu pada RCSC Specification.
Spesifikasi Binamarga mengizinkan instalasi mengacu pada SOP supplier
 selama memenuhi Rotational Capacity Testing dari F3125 tidak
masalah
Slip Critical Joint
 Semua joint pada jembatan harus direncanakan sebagai Slip Critical Joint
kecuali joint dari komponen tekan (tidak terjadi pembalikan gaya) dan
joint pada komponen bracing dimana Bearing Type Joint diizinkan
 Bearing Type Joint  High Slip Resistance tidak diperlukan untuk
Serviceability dan Strength Limit State (pretensioned dapat diberikan
untuk kinerja yang lebih baik)
 Slip Critical Joint  High Slip Resistance hanya untuk Serviceability Limit
State (kombinasi beban Layan II saja) dan Shear/Bearing/Tension
Resistance untuk Strength Limit State
 Pt = minimum pretension bukan pretension yang terjadi
 Untuk slip critical joint pada jembatan yang lurus sebaiknya hanya
menggunakan lubang standard atau lubang oversize. Untuk jembatan
curved, AASHTO hanya mengizinkan lubang standard. Khusus splice, hanya
lubang standard yang diizinkan untuk digunakan
Slip Critical Joint

 Lubang baut harus difabrikasi menurut ketentuan RCSC Specification.


Ukuran lubang lebih besar 1.5 mm dari tabel di atas masih diizinkan
sesuai RSCS Specification (dan juga Spesifikasi Umum Bina Marga)
 Pembuatan lubang yang direkomendasikan dengan cara dibor kecil baru
diperbesar dengan reamer
Slip Critical Joint
 Kondisi permukaan baja dari produksi pabrikan (mill production) yang
akan disambung harus memenuhi persyaratan ASTM A6.
 Fabrikator bertanggung jawab untuk melakukan surface preparation
untuk keperluan protective coating. Untuk mendapatkan slip coefficient
pada permukaan yang di coating, RCSC Specification Appendix A harus
dilakukan

Surface condition tidak


sama dengan surface
preparation
Slip Critical Joint
 Jika baut pada slip critical joint juga memikul tarik, maka tahanan slip
harus direduksi dengan faktor

 AISC 360:-2016 memasukkan faktor reduksi filler plate persamaan


tahanan slip  sesuai AISC, gunakan satu filler plate tidak mereduksi
tahanan slip. Note: Mutu filler plate harus sama dengan pelat baja utama
yang akan disambung
Perencanaan Splice Baut Gelagar I
Min 2 baris Min 2 baris

Working clearance
AISC Manual of Steel
Construction

 Flens diasumsikan memikul seluruh momen terfaktor, jika tahanan


momen dari flens tidak mencukupi maka web selain memikul geser
harus harus direncanakan untuk memikul momen tambahan yang tidak
bias dipikul oleh flens
Perencanaan Splice Baut Gelagar I

 Slip check dilakukan saat pengecoran dek (Nonkomposit) dan


Serviceability Limit State (hanya untuk kombinai beban Layan II)
 Jarak pitch, gage & end/edge min/max harus memenuhi AASHTO pasal
6.13.2.6
Perencanaan Splice Baut Gelagar I
Langkah-langkah perencanaan splice baut sesuai AASHTO adalah sebagai
berikut:
 Hitung tahanan geser terfaktor dari baut 𝜙𝑠 𝑅𝑛 sesuai AASHTO pasal
6.13.2.7
 Hitung tahanan slip terfaktor 𝑅𝑛 dari baut sesuai AASHTO pasal
6.13.2.8
 Hitung tahanan bearing terfaktor lubang baut 𝜙𝑏𝑏 𝑅𝑛 sesuai AASHTO
pasal 6.13.2.9
𝜙𝑠 = 0.80 𝜙𝑏𝑏 = 0.80 AASHTO
𝜙𝑠 = 0.75 𝜙𝑏𝑏 = 0.75 BMS
Perencanaan Splice Baut Gelagar I
 Hitung gaya rencana yang bekerja pada splice
Ambil yang terkecil antara
flens gelagar kiri dan
gelagar kanan
𝜙𝑢 = 0.80 𝜙𝑦 = 0.95 AASHTO
𝜙𝑢 = 0.75 𝜙𝑦 = 0.9 BMS

 Jika terdapat pelat pengisi (filler plate/shim plate), tahanan geser


terfaktor dari baut direduksi dengan faktor

Af = total luas pelat pengisi luar dan dalam


Ap = yang terkecil antara total luas splice luar dan dalam dengan luas
flens
Perencanaan Splice Baut Gelagar I
 Hitung kebutuhan jumlah baut pada flens akibat Pfy
𝑃𝑓𝑦 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡 𝑃𝑒𝑟 𝐵𝑎𝑟𝑖𝑠 =
𝑅𝜙𝑠 𝑅𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑟𝑖𝑠

 Jika dari kebutuhan jumlah baut perbaris menghasilkan panjang splice


lebih dari 950 mm (38”), maka AASHTO pasal 6.13.2.7 mensyaratkan
tahanan geser terfaktor harus dikalikan 0.83. Dengan demikian jumlah
baut harus dihitung ulang menjadi
𝑃𝑓𝑦 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡 𝑃𝑒𝑟 𝐵𝑎𝑟𝑖𝑠 =
𝑅𝜙𝑠 0.83𝑅𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑟𝑖𝑠
 Untuk flens dengan splice luar dan splice dalam, gaya rencana pada
splice dapat dibagi rata antara splice luar dan splice dalam jika luas
penampang splice luar dan splice dalam tidak beda lebih dari 10% ( Ratio
Inner = Ratio Outer = 0.5).
𝐴𝑖𝑛𝑛𝑒𝑟 𝐴𝑜𝑢𝑡𝑒𝑟
𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 𝐼𝑛𝑛𝑒𝑟 = 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 𝑂𝑢𝑡𝑒𝑟 =
𝐴𝑖𝑛𝑛𝑒𝑟 + 𝐴𝑜𝑢𝑡𝑒𝑟 𝐴𝑖𝑛𝑛𝑒𝑟 + 𝐴𝑜𝑢𝑡𝑒𝑟
Perencanaan Splice Baut
 Hitung tahanan momen dari splice flens
Momen Positif Min antara Pfy gelagar kiri dan kanan

Tahanan momen diberikan oleh persamaan:


𝑀𝑓 = 𝑃𝑓𝑦 × 𝐴
Jika Mf ≥ Mu  𝐻𝑤 = 0
𝑀𝑢 − 𝑀𝑓
Jika Mf < Mu  𝐻𝑤 =
𝐴𝑤
Perencanaan Splice Baut
Min antara Pfy(top) & Pfy(bot) dan diambil
Momen Negatif
lagi minimum antara gelagar kiri dan
kanan

Tahanan momen diberikan oleh persamaan:


𝑀𝑓 = 𝑃𝑓𝑦 × 𝐴
Jika Mf ≥ Mu  𝐻𝑤 = 0
𝑀𝑢 − 𝑀𝑓
Jika Mf < Mu  𝐻𝑤 =
𝐴𝑤
Perencanaan Splice Baut Gelagar I
 Gaya horisontal tambahan pada web juga harus dicek pada kondisi
Serviceability Limit State (Layan II) dan saat pengecoran dek jika momen
layan lebih besar dari momen tahanan slip. Momen tahan slip dihitung
sbb:
𝑀𝑓.𝑠𝑙𝑖𝑝 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐵𝑎𝑢𝑡 × 𝑅𝑛 × 𝐴
 Pelat splice luar dan dalam harus direncanakan sebagai komponen tarik
dan harus diperiksa terhadap leleh pada penampang gross dan faktur
pada penampang neto sesuai AASHTO pasal 6.8 dan blok geser sesuai
AASHTO pasal 6.13.4
 Splice web direncanakan sama dengan splice flens, gaya yang bekerja
pada splice web ditentukan sesuai persamaan berikut:

𝑉𝑑𝑒𝑠𝑖𝑔𝑛 = 𝑉𝑟2 + 𝐻𝑤
2
Perencanaan Splice Baut Gelagar U/Box
 Perencanaan splice flens gelagar U/box secara prinsip sama dengan
gelagar I. Pada gelagar U/Box, pengaruh St. Venant Torsional Shear harus
diperhitungan untuk perencanaan splice dari flens pada kondisi Strength
Limit State
∗ 2 2
𝑃𝑓𝑦 = 𝑃𝑓𝑦 + 𝑓𝑣 𝐴𝑣

 Longitudinal warping stress harus ditambahkan ke gaya flens untuk


pengecekan slip pada kondisi Serviceability Limit State
 Perencanaan splice web gelagar U/box secara prinsip sama dengan
gelagar I. Pada gelagar U/Box, pengaruh St. Venant Torsional Shear harus
diperhitungan untuk perencanaan splice flens baik pada kondisi Strength
Limit State dan Serviceability Limit State
2
𝑉𝑑𝑒𝑠𝑖𝑔𝑛 = 𝑉𝑟2 + 𝐻𝑤
2 +𝑓𝐴
𝑣 𝑣 𝑉𝑑𝑒𝑠𝑖𝑔𝑛 = 𝑉𝐿𝐴𝑌𝐴𝑁 𝐼𝐼 + 𝐻𝑤
2 +𝑓𝐴
𝑣 𝑣
Sambungan Las
 Sambungan las secara prinsip adalah menyatukan dua base metal (fusion)
sehingga umumnya kekuatan sambungan las minimal akan sama dengan
base metal kecuali undermatch electrode yang diizinkan pada las sudut
 Untuk baja mutu tinggi, sambungan las lebih ditentukan pada
weldabilitynya.
 Dalam perencanaan weldability dari suatu material baja umumnya dilihat
dari nilai Carbon Equivalent (CE):

AWS

C = karbon; Mn = mangan; Cr = chromium; Mo = molidenum;


V = vanadium; Ni = nikel; Cu = tembaga

Baja yang mudah di las umumnya nilai CE ≤ 0.45 sesuai rekomendasi AWS
D1.5
Sambungan Las
Sambungan Las
 Heat treatment dilakukan untuk meningkatkan kekuatan baja

Austenit Phase

Control Rapid cooling


Komposisi base metal Cooling (Formasi Martensit)
harus dikontrol
Sambungan Las
 Pekerjaan Las harus dilakukan sedemikian agar cooling terjadi lambat
agar tidak terjadi formasi martensite
 Menjaga agar cooling terjadi lambat maka base metal disekitar
sambungan las (Heat Affecting Zone) harus di panaskan terlebih dahulu
(preheat temperature) dan temperatur harus dijaga selama proses
pengelasan (interpass temperature). Makin tebal pelat baja, makin cepat
cooling rate dengan demikian temperature preheat dan interpass akan
semakin tinggi
Sambungan Las
 AWS D1.5 dapat digunakan untuk menentukan jenis kawat las (filler
metal = electrode + flux) yang match dengan base metal  Tabel 4.1
AWS D1.5 untuk non weathering steel dan Table 4.2 AWS D1.5 untuk
weathering steel
 Kawat las dengan kandungan hidrogen yang rendah harus digunakan.
 Kawat las yang terekspos dengan udara luar (tidak termasuk kawat las
yang sudah basah) harus dikeringkan  kawat las harus dikeringkan
dalam oven
 Weld metal (base metal + filler metal) dapat memiliki komposisi yang
berbeda dengan base metal  CE harus dikontrol

Komposisi weld metal


harus dikontrol
Sambungan Las
 Temperatur preheat dan interpass minimum AWS D1.5

Temperatur
preheat/interpass yang
tinggi = slow cooling rate
Sambungan Las
 Kualifikasi Welding Procedure Specification (WPS) harus didukung oleh
jenis-jenis pengujian yang diminta dalam AWS D1.5 atau termasuk dalam
opsi prakualifikasi sesuai Tabel 5.3 AWS D1.5. WPS menjadi tanggung
jawab kontraktor

 Acceptance dari WPS menjadi tanggung jawab Engineer of Record


 Kualifikasi juga harus dilakukan terhadap teknisi dan inspektor las
Momen Plastis Positif Penampang U
Momen Plastis Negatif Penampang U
Flowchart
Diagram Alir Desain I-Girder Baja untuk Diagram Alir Kondisi Batas Layan
Persyaratan Kemudahan Pelaksanaan

Mulai Mulai
Periksa
Periksa
Ketahanan Periksa tekuk
nominal
Lentur(a) lentur
leleh sayap
pelat badan Periksa deformasi
Rb  1
f
elastis, persyaratan
fbu  f   f Rh Fyc f bu    f Fnc AASHTO 2.5.2.6
Pelat sayap tekan
Ya 3 f bu   f Fcrw
dengan bracing tidak 6.10.3.2.1-1 &  0.6 f Fyt sebagaimana berlaku
6.10.3.2.1-3
menerus?
6.10.3.2.1-2 &
6.10.1.6-1(b)

Tidak
Penampang f f  0.95Rh Fyf
(Bracing menerus) Periksa Ya Untuk pelat atas
Komposit
nominal sayap baja
leleh sayap
fbu   f Rh Fyf 6.10.4.2.2-1
6.10.3.2.3-1 Tidak
Periksa tekuk
lentur f
ff   0.80 Rh Fyf f
pelat badan ff   0.95Rh Fyf
fbu   f Fcrw 2
2
Untuk kedua pelat
6.10.3.2.1-3 sayap baja Untuk pelat bawah
6.10.4.2.2-3 sayap baja
6.10.4.2.2-2
Periksa nominal
tarik leleh pelat
sayap
Pelat sayap tarik fbu  f   f Rh Fyt
f c  Fcrw
dengan bracing tidak Ya
6.10.3.2.2-1 6.10.4.2.2-4 D
menerus?  150
Konstruksi tw
Tidak
lepas pantai Pada momen positif
Tidak
6.10.2.1.1-1
(Bracing menerus)
Periksa jika
A  terdapat lubang di Ya
fbu   f Rh Fyf ft  0.84  n  Fu  Fyt
 Ag 
 
pelat sayap tarik Tidak
6.10.3.2.3-1 pada penampang
6.10.1.8 yang ditinjau Untuk penampang kompak, Ya
Tegangan tekan beton f c  Fcrw
ft dek   f r Periksa tegangan f c.dek ≤ 0.6 f c' 6.10.4.2.2-4
longitudinal pada
6.10.3.2.4
dek beton

(a) Lihat bagan alir untuk Pasal 6.10.8, Lampiran A6, Vu  vVcr Selesai
Lampiran D6.4.1, Lampiran D6.4.2 sebagaimana 6.10.3.3-1
berlaku , untuk perhitungan ketahanan lentur Fnc

(b) Lihat P 6.10.1 untuk persyarataan perhituingan Fbu Selesai


dan F
Flowchart Diagram Alir Kondisi Fatik dan Fraktur

Diagram Alir Kondisi Batas Kuat


Mulai

Periksa penampang atau Mulai


(a) CATATAN: Untuk jembatan I-girder detail untuk fatik akibat
lengkung horizontal, sayap lentur lateral induksi beban, menggunakan
pada perhitungan  ( F ) Sub Bab 6.6.1.2
Jembatan lurus,
(b) CATATAN: Detail dimana elemen plat I
tidak menerus terbebani disambung dengan Penampang f yf  480MPa, yc  0.3
las fillet atau las PJP pada sisi berlawanan Ya komposit momen Tidak I yt
plat untuk arah tegangan utama, Lihat Apakah rentang tegangan lentur positif 2 Dcp E
6.6.1.2.5-4 Beban permanen tidak
komponen tarik lebih besar dari
 5.7 Ya
terfaktor menghasilkan Ya tw Fyc
tegangan tekan beban (Web Kompak atau
tegangan pada komponen
permanen tidak terfaktor? Jembatan lurus, 6.10.6.2.3-1&2
atau detail? D Tidak Kompak)
f yf  480MPa,  150
tw
2 Dcp E
Tidak  3.76 Tidak
tw Fyc
Tentukan kategori desain
utnuk beban induksi fatik Ya 6.10.6.2.2-1 Lanjut ke
Tabel 6.6.1.2.3-1 Gunakan pilihan
6.10.8 Tidak
Tidak Lamp.A6? *

Ya (Penampang Kompak)
Apakah komponen Ya
Ya atau detail adalah
elemen fraktur kritis Lanjut ke
(FCM) ? 6.10.7
Lanjutkan ke
Tidak Lamp.A6

( ADTT ) SL  p  ( ADTT )
Periksa jika terdapat lubang di pelat
3.6.1.4.2-1 sayap tarik pada penampang yang
ditinjau, harus memenuhi
persyararatan 6.10.1.8
Gunakan kombinasi
fatik I untuk perhitungan Apakah
batas tak hingga umur
Tidak ( ADTT ) SL  75tahun( ADTT ) SL
jembatan Periksa geser menggunakan
Tabel 6.6.1.2.3-2 * CATATAN: Disarankan ketika
 (F ) 6.10.9
(a) pelat badan (web) kompak atau
mendekati kompak dan untuk
Ya Periksa sambungan penampang badan (web) kompak
geser menggunakan atau tidak kompak ketika
Gunakan kombinasi fatik
II untuk perhitungan 6.10.10.4 pemeriksaan besar panjang tak
 f n   f TH batas tak hingga umur terkekang
jembatan
6.6.1.2.5-1  (F )
(a) Selesai

N  (365)(75)n( ADTT ) SL
6.6.1.2.5-3
  f    f n 1

 f n  
A 3
6.6.1.2.2-1 
N
6.6.1.2.5-2 (a)
Selesai
Flowchart Tahanan Geser Nominal Pelat Badan
Tahanan Geser Nominal Pelat Badan
Diperkaku (Stiffened Web)
Tidak Diperkaku (Unstiffened Web)
Mulai

Mulai Input
karakteristik
penampang

Input karakteristik
V p  0.58 Fyw Dtw
penampang
6.10.9.2-2

do
Tidak  1,5
D

V p  0.58 Fyw Dtw Ya


6.10.9.2-2
5
k  5 2
 d0  D
 1.12
Ek Tidak 1.12
Ek D
  1.40
Ek
Tidak
D
 1.40
Ek
D
do   tw Fyw Fyw tw Fyw tw Fyw
Tidak  1,5
D 6.10.9.3.2-7

Ya
Ya Ya Ya
1.57 Ek
C 2
1.12 Ek  D  Fyw
5 C=1,0 C  
k  5 2
6.10.9.3.2-4 D Fyw
 w
t
 d0  tw
D 6.10.9.3.2-6
  6.10.9.3.2-5
6.10.9.3.2-7

Panel ujung Panel interior


Vn  Vcr  CV p  
D Ek Ek D Ek D Ek 6.10.9.2-1  
 1.12 Tidak 1.12   1.40 Tidak  1.40  0.87(1  C ) 
Vn  V p C 
tw Fyw Fyw tw Fyw tw Fyw 2 
 d 
1  0  
  D  

6.10.9.3.2-1

Ya Ya  
Tidak Ya  
 0.87(1  C ) 
Vn  V p C  
1.57 Ek 2
1.12 Ek C  d  d
1  0   0 
C=1,0 C 2
 D  Fyw 
 D D 

D Fyw  
6.10.9.3.2-4
tw  tw  6.10.9.3.2-8

6.10.9.3.2-5 6.10.9.3.2-6

2 Dtw
 2.5
Vn  Vcr  CV p Tidak
Vu  vVn
Ya b t  b ft t ft 
fc fc Tidak
6.10.9.1-1
6.10.9.2-1 6.10.9.3.2-1

Ya

Selesai

Vu  vVn
6.10.9.1-1

Ya

Selesai
Diagram Alir Penampang Komposit pada

Flowchart
Lentur Positif

Mulai

D p  0.42 Dt Pengecekan
daktilitas
6.10.7.3-1

Penampang
Tidak
kompak?

Fnc  Rb Rh Fyc Periksa


6.10.7.2.2-1 pelat
Ya
sayap
tekan
f bu   f Fnc
D p  0.1Dt Tidak 6.10.7.2.1-1

Ya Fnt  Rh Fyt Periksa


 Dp  6.10.7.2.2-2 pelat
Mn  M p M n  M p 1.07  0.7  sayap
6.10.7.1.2-1  Dt 
tarik
6.10.7.1.2-2
1
f   f Fnt
f bu 
3
dan f  0.6 f yf
6.10.7.2.1-2 &
Bentang yang ditinjau dan semua 6.10.1.6-1 (a)
penampang pada lokasi pilar interior yang
Bentang
Ya berdekatan yang memenuhi persyaratan
Menerus
Lamp.B6.2 dan penampang pilar harus
memenuhi Tidak
 RL  0.009radian ?
M n  1.3Rh M y
Sub Bab 7.8
Dimana:
Tidak
Mn=Tahanan lentur nominal
Ya dari 6.10.7.1.2-1 atau
6.10.7.1.2-2

1
M u  f S xt   f M n Tegangan tekan
dan f3  0.6 f yf
6.10.7.1.1-1& beton  0.6 f c'
6.10.1.6-1 (a)

Selesai
(a) CATATAN: Lihat P 6.10.1.6 untuk persyaratan perhitungan
M u , f bu , f
Flowchart
Diagram Alir Penampang Komposit dan Diagram Alir Penampang Komposit dan Non-
Non-Komposit pada Lentur Negatif Komposit pada Lentur Negatif (Lanjutan)

Mulai B
b fc (a)
rt 
 1 Dc tw 
12 1   Periksa
 3 b fc t fc
  tekuk torsi
E lateral (c)
Lp  1.0rt
Pelat sayap tekan Tidak Pelat sayap tarik Fyc
dengan bracing tidak (Bracing menerus) Ya 6.10.8.2.3-9 & 4
dengan bracing tidak
menerus? menerus?
Fyr  min 0.7 Fyc danFyw   0.5Fyc
f bu   f Rh Fyf Fnt  Rh Fyt E Tidak
6.10.8.1.3-1 6.10.8.3-1 Lb  Lp (b) Tidak Lr   rt Lp  Lb  Lr (Panjang tak terkekang
Ya Tidak Fyr
(Bracing menerus) penampang langsing)
6.10.8.2.3-5
b fc
f  fbu   f Rh Fyt Ya
(Panjang tak terkekang
Ya
2t fc Lanjut
(Panjang tak terkekang Cb Rb 2 E
6.10.8.1.3-1 1 penampang kompak) Fcr 
f   f Fnt
penampang tidak kompak)
fbu 
2
E Periksa tekuk  Lb 
ke B
 pf  0.38 3  
Fyc lokal pelat
dan Fnc ( LTB )  Rb Rh Fyc  rt 
sayap tekan 6.10.8.2.3-1 6.10.8.2.3-8
6.10.8.2.2-3 & 4 f  0.6 f yt
  Fyr   Lb  Lp 
6.10.8.1.2-1 & Fnc  Cb 1  1      Rb Rh Fyc  Rb Rh Fyc
6.10.1.6-1 (a)   Rh Fyc   Lr  L p   Fnc ( LTB )  Fcr  Rb Rh Fyc
6.10.8.2.3-2 6.10.8.2.3-3

 f  pf Tidak
(Sayap tidak Kompak)
Selesai

Ya Fnc  min  Fnc ( FLB ) , Fnc ( LTB )  b fc


(a) detail rt 
(Sayap Kompak)
E  1 Dc tw D 2 
12 1 
 rf  0.56  3 b fc t fc hd 
Fnc ( FLB )  Rb Rh Fyc F yr  
1 (b) CATATAN: Ketika Cb  1, lihat bagan alir
fbu  f   f Fnc
6.10.8.2.2-1 Fyr  min 0.7 Fyc danFyw   0.5Fyc 3 D6.4.1 untuk perhitungan eksplisit dari batas
& kekuatan yang lebih besar utnuk ketahanan lentur
f  0.6 f yf
  Fyr   f   pf   yang diberikan untuk Persamaan 6.10.8.2.3-1
Fnc ( FLB )  1  1 
 rf   pf   b h yc
 6.10.8.1.1-1 &
RRF

  Rh Fyc
6.10.1.6-1 (d) (c)CATATAN: Lihat P6.10.8.2.3 dan C6.10.8.2.3,
  mengenai perawatan untuk penampang non-
6.10.8.2.2-5 & 2 perismatik

Lanjut (d) CATATAN: Lihat pasal P6.10.1.6 untuk


ke B persyaratan Fbu dan F

Lanjut
(a) CATATAN: Lihat P 6.10.1.6 untuk persyaratan perhitungan
ke A
fbu , f
Flowchart
Diagram Alir Penampang I Komposite dan Non-Komposit
Lurus dengan Pelat Badan (web) Kompak dan Non-Kompak Diagram Alir Penampang I Komposite dan Non-Komposit Lurus
dengan Pelat Badan (web) Kompak dan Non-Kompak (Lanjutan)
B
bfc
Mulai D (a) detail rt 
 1 Dctw D2 
121
 3 bfct fc hd 
 
Pelat sayap tekan Tidak (b) CATATAN: Ketika Cb  1 , lihat bagan alir
b fc
f yf  480MPa, dengan bracing tidak (Bracing menerus) rt  (a) Periksa tekuk D6.4.2 untuk perhitungan eksplisit dari batas
 1 Dc tw  torsi lateral (c) kekuatan yang lebih besar utnuk ketahanan
menerus?
I yc 12 1   lentur yang diberikan untuk Persamaan
2 Dc
 5.7
E
 0.3  3 b fc t fc
tw Fyc ,& I yt Tidak   A6.3.3-1
M u   f Rpc M yc E
Ya Lp  1.0rt (c)CATATAN: Lihat P A6.3.3 dan
A6.1-1 & 2 Fyc   C6.10.8.2.3, mengenai perawatan untuk
A6.1.3-1 S
b fc Fyr  min 0.7 Fyc , Rh Fyt xt , Fyw   0.5Fyc penampang non-perismatik
Lanjut ke f  A6.3.3-10 & 4  S xc 
2t fc
Dt 3 b fct fc  t fc  b ft t 3ft  t ft 
6.10.8 Periksa tekuk 3
Ya
lokal pelat Lanjut J w  1  0.63   1  0.63 
 pf  0.38
E
sayap tekan ke C 3 3  b fc  3  b ft  Lp  Lb  Lr Tidak
E Fyc Tidak
(Panjang tak terkekang
Fyc  Dcp  A6.3.2-3 & 4 Lb  Lp (b) E J  Fyr S xc h 
2
penampang langsing)
 pw( D   rw   Hitung faktor Lr  1.95rt 1  1  6.76 
cp )
 Mp 
2
 Dc  
 plasifikasi Fyr S xc h  E J 
  Cb 2 E
0.54 0.09
Rh M y  J  Lb 2
  pelat badan
A6.3.3-9 & 5 Fcr  1  0.078  
 Lb 
2
Sxc h  rt 
(A6.2.1-2)  f   pf Tidak Ya
 r
(Sayap Tidak Kompak) (Panjang tak terkekang Ya  t
penampang kompak) (Panjang tak terkekang A6.3.3-8
penampang tidak kompak)
Penampang
Ya Tidak tersusun? M nc ( LTB )  R pc M yc
(Sayap kompak) (rolled section)
2 Dcp  
  pw D  Tidak A6.3.3-1
Fyr S xc  Lb  Lp 
tw M nc ( LTB )  Cb 1  1     Rpc M yc  Rpc M yc M nc ( LTB )  Fcr S xc  Rpc M yc
  Rpc M yc 
cp
(Web Tidak Kompak) Ya
A6.2.1-1  Lr  Lp   A6.3.3-3
M nc ( FLB )  R pc M yc 4 A6.3.3-2
kc  0.76 kc 
A6.3.2-1
Ya D
2 Dcp
(Web Kompak) w  tw
tw 0.35  kc  0.76 M nc  min  M nc ( FLB ) , M nc ( LTB )  C
Mp E A6.3.2-6
R pc  rw  5.7
M yc Fyc
1
Mp  Dc  Mu  f S xc   f M nc
R pt   pw( D )   pw( D )    rw 3&
   f  0.6 f yc
 Dcp
c cp
M yt  S
Fyr  min 0.7 Fyc , Rh Fyt xt , Fyw   0.5Fyc A6.1.1-1 & 6.10.1.6-1
Pelat sayap tarik
Ya
A6.2.2-2, 3 & 6
A.6.2.1-4 & 5  S xc  (d)
dengan bracing tidak
menerus?
Ekc M nt  R pt M yt
rf  0.95
Fyr A6.4-1
  Rh M yc   w   pw( D )   M p M p  
Rpc  1  1   c
  Fyr S xc   f   pf   Lanjut
Tidak
 M p   M nc ( FLB )  1  1     Rpc M yc ke C
   rw   pw( Dc )   M yc M yc   Rpc M yc   rf   pf  
(Bracing menerus)
1
  Rh M yt   w   pw( D )   M p M p M u   f Rpt M yt Mu  f S xt   f M nt
3
Rpt  1  1   c
  A6.3.2-5 & 2 & f  0.6 f yt
  M p  
 rw   pw( Dc )   M yt M yt A6.1.4-1
A6.1.1-1 & 6.10.1.6-1 (d)
A6.2.2-4 & 5

Selesai

Lanjut Lanjut
ke B ke D
Flowchart Diagram Alir Tekuk Torsi Lateral Ketentuan dengan Tekanan pada
Diagram Alir Tekuk Torsi Lateral Ketentuan dengan Tekanan pada Persyaratan
Panjang Tak Terkekang untuk Tahanan Lentur Maksimum (Lanjutan)
Persyaratan Panjang Tak Terkekang untuk Tahanan Lentur Maksimum
D
A
Periksa
b fc
(a) tekuk torsi
rt  lateral (b)
 1 Dc tw 
12 1 
b fc
(a)  3 b fc t fc 
rt     S 
 1 Dc tw  E Fyr  min 0.7 Fyc , Rh Fyt xt , Fyw   0.5Fyc
12 1 
 3 b fc t fc  Periksa Lp  1.0rt  S xc 
  Fyc
tekuk torsi
Dtw3 b fct fc  t fc  b ft t 3ft  
3
E A6.3.3.3-10 & 4 t ft
Lp  1.0rt lateral (b) J  1  0.63   1  0.63 
3 3  b fc  3  b 
Fyc
Tidak
ft Lp  Lb  Lr
6.10.8.2.3-9 & 4 2
Lb  Lp E J  Fyr S xc h 
Lr  1.95rt 1  1  6.76   Tidak
Fyr S xc h  E J  (Panjang tak terkekang
Fyr  min 0.7 Fyc , Fyw   0.5 Fyc penampang langsing)
A6.3.3-9 & 5
Lb  Lp E Lp  Lb  Lr
Tidak Lr   rt Tidak
Fyr (Panjang tak terkekang Ya
penampang langsing) (Panjang tak terkekang
6.10.8.2.3-5 penampang tidak kompak) (d) & (e)

Cb S xc E J
Lb  1.95rt 
Ya R pc M yc S xc
Cb E Lanjut Ya
(Panjang tak terkekang Lb   rt Ya

Ya
penampang tidak kompak) Rh Fyc ke C (Panjang tak terkekang 1 
penampang kompak) 1  
Lb  L p   L  Lp 
(d) Cb  Lanjut
 1   Fyr S xc 
r
ke E
Ya 1   Tidak 1   Tidak
Lb  Lp   b 
 Lr  Lp 
(Panjang tak terkekang C
penampang kompak) Ya  R pc M yc 
 Fyr 
 Cb Rb 2 E Cb 2E
 Rh Fyc 
1 Fcr  J  Lb 2
Fcr  1 0.078  
   Lb 
2
   Lb 
2
Sxch  rt 
Ya   Fyr S xc  Lb  Lp   r
 rt  M nc ( LTB )  Cb 1  1     Rpc M yc  Rpc M yc  t
 
No
6.10.8.2.3-8 E
M nc  R pc M yc   Rpc M yc  Lr  Lp   A6.3.3-8
A6.3.3-1
A6.3.3-2
  Fyr  Lb  Lp 
Fnc ( LTB )  Cb 1  1     Rb Rh Fyc  Rb Rh Fyc M nc ( LTB )  Fcr S xc  Rpc M yc
  Rh Fyc 
 Lr  Lp   Fnc ( LTB )  Fcr  Rb Rh Fyc
Fnc ( LTB )  Rb Rh Fyc A6.3.3-3
C 6.10.8.2.3-2 6.10.8.2.3-3
6.10.8.2.3-1
b fc
(a) detail rt 
M nc  min  M nc ( FLB ) , M nc ( LTB )   1 Dc tw D 2 
12 1 
 3 b fc t fc hd 
 
Fnc  min  Fnc ( FLB ) , Fnc ( LTB )  b fc (b) CATATAN: Lihat P A6.3.3 dan C6.10.8.2.3, mengenai
(a) detail rt  1
 1 Dc tw D 2  Mu  f S xc   f M nc perawatan untuk penampang non-perismatik
12 1  3
 3 b fc t fc hd  &
f  0.6 f yc (c)CATATAN: Lihat pasal P6.10.1.6 untuk persyaratan Fbu
1   dan F
fbu  f   f Fnc (b) CATATAN: Lihat P6.10.8.2.3 dan C6.10.8.2.3, A6.1.1-1 & 6.10.1.6-1 2
3  R pc M yc S xc h 
&
f  0.6 f yc
mengenai perawatan untuk penampang non- (c) (d)   1  1  6.76  
perismatik  Cb S xc E J 
6.10.8.1.1-1
& 6.10.1.6-1 (c) (c)CATATAN: Lihat pasal P6.10.1.6 untuk
persyaratan Fbu dan F Lanjut (e)CATATAN: Ketentuan bagan alir ini adalah identik untuk
ke C ketentuan LTB yang sesuai dengan bagan alir 6.10.8
(d) CATATAN: Ketentuan bagan alir ini adalah dengan pengecualian pada sel yang bewarna abu-abu
identik untuk ketentuan LTB yang sesuai dengan
Lanjut bagan alir 6.10.8 dengan pengecualian pada sel
ke B yang bewarna abu-abu
Flowchart Diagram Alir Perencanaan Komponen Tarik
Mulai

· Input karakteristik material Fy & Fu


· Input karakteristik geometrik
sesuai penampang yang
digunakan
· Input faktor tahanan  y , u
6.5.4.2

Untuk komponen utama:

 200 Batas rasio


r
Untuk komponen sekunder kelangsingan

 240
r
6.8.4

Kondisi leleh dari luas penampang kotor Kondisi fraktur dari luas penampang bersih

Ag  b  t An  Ag  n.d .t
b= Lebar pelat mm
s 2t
t= tebal pelat mm An  Ag  n.d .t  
4g
b= lebar pelat mm
t= tebal pelat mm
s=pitch dari dua baut berurutan mm
Pr  y Pny  y Fy Ag g=gage antar dua lubang yang sama mm
6.8.2.1-1

Tentukan faktor reduksi


shear leg U
6.8.2.2-1

Luas
penampang Ae  An .U
efektif
Faktor reduksi
untuk lubang

Jika ditumbuk (punch) Jika dibor (drilled)


R p  0.9 R p  1.0
6.8.2.1 6.8.2.1

Pr   y Pnu  u Fu An R pU
6.8.2.1-1
Pilih nilai terkecil antara
Pr  y Pny  y Fy Ag
Pr   y Pnu  u Fu An R pU
6.8.2.1

Selesai
Flowchart Diagram Alir Perencanaan Komponen Tarik dan Kombinasi Diagram Alir Perencanaan Komponen Tarik dan Kombinasi (Lanjutan)
Mulai
A
· Input karakteristik material Fy & Fu
· Input karakteristik geometrik sesuai
penampang yang digunakan
· Nilai Pu , M ux dan M uy Pilih nilai terkecil antara
·
·
Nilai M rx dan M
Input faktor tahanan  y , u 6.5.4.2
ry Pr  y Pny  y Fy Ag
Pr   y Pnu  u Fu An R pU
6.8.2.1

Untuk komponen utama: Tidak Syarat Tidak


 200 Batas rasio komponen tarik
Apakah
r kelangsingan dan kombinasi
Untuk komponen sekunder
Pu
 240
Ya  0.2 ? Tidak
r 6.8.4 Pr
6.8.2.3

Kondisi leleh dari luas penampang kotor Kondisi fraktur dari luas penampang bersih

Ag  b  t An  Ag  n.d .t Pu M M uy  Pu 8.0  M ux M uy 
  ux    1.0      1.0
b= Lebar pelat mm
st2
2.0 Pr  M rx M ry  Pr 9.0  M rx M ry 
t= tebal pelat mm An  Ag  n.d .t  
4g 6.8.2.3-1 6.8.2.3-2
b= lebar pelat mm
t= tebal pelat mm
s=pitch dari dua baut berurutan mm
Pr  y Pny  y Fy Ag g=gage antar dua lubang yang sama mm
6.8.2.1-1
Ya Ya
Tentukan faktor reduksi
Selesai
shear leg U
6.8.2.2-1

Luas
penampang Ae  An .U
efektif
Faktor reduksi
untuk lubang

Jika ditumbuk (punch) Jika dibor (drilled)


R p  0.9 R p  1.0
6.8.2.1 6.8.2.1

Pr   y Pnu  u Fu An R pU
6.8.2.1-1

Lanjut
ke A
Flowchart
Diagram Alir Perencanaan Kombinasi Tekan-Lentur Komponen Diagram Alir Perencanaan Komponen Tekan (Lanjutan)
Non-Komposit
Mulai

A B
· Input karakteristik material Fy & Fu
· Input karakteristik geometrik sesuai
penampang yang digunakan
2
· Nilai Pu , M ux dan M uy  K  Fe
· Nilai M rx dan M ry Pn  min  Pn  FB , Pn TB , Pn  FTB    
· Input faktor tahanan  y , u 6.5.4.2  rs  E e
6.9.4.1.1 6.9.5.1-3

Untuk komponen utama: A  A


K Fe  Fy  C1 Fyr  r   C2 f 'c c
 120
r Periksa rasio
 As  As
Untuk komponen sekunder 6.9.5.1-4
kelangsingan
K
 140
r
6.9.3
 C   Ac  
E e  E 1   3   A 
  n   s  
Gunakan Tabel 6.9.4.1.1-1 6.9.5.1-5
untuk pemilihan mode tekuk
potensial pada tiap penampang
dalam penentuan nilai Pe

Nilai konstanta kolom


Tahanan
komposit (C) dapat
P0  Fy Ag lentur
diambil dari T6.9.5.1-1
6.9.4.1.1 nominal
ekivalen

Penentuan
Apakah nilai Pn
Pe Pn  0.877Pe 0.88 Fe As
 0.44 Tidak Apakah Pn 
Po 6.9.4.1.1-2   2.25 ?
Tidak 
6.9.5.1-2

Ya
Hitung
  
 Po  sesuai mode
Pn  0.66 Fe As
Pn   0.658 e   Po tekuk (FB,
P
6.9.5.1-1
  TB, FTB)
  potensial tiap
6.9.4.1.1-1 penampang

Syarat Aeff  Ag   (b  be )t Pr  c Pn
elemen
Pcr  Pn min  Pn  FB , Pn TB , Pn  FTB 
b 6.9.2.1-1
 r langsing
Tidak
t Tidak
Ya P
6.9.4.2.1-1 Fcr  cr 6.9.4.2.2-2
Ag
Pn  Fcr  Aeff 6.9.4.2.2-1 Apakah
Tidak Pr  Pu ?
Pn  min  Pn  FB , Pn TB , Pn  FTB 
6.9.4.1.1 Ya

Selesai
Lanjut
ke A
Flowchart
Diagram Alir Perencanaan Kombinasi Tekan-Lentur Komponen Diagram Alir Perencanaan Kombinasi Tekan-Lentur Komponen
Non-Komposit Non-Komposit (Lanjutan)
Mulai

A
· Input karakteristik material Fy & Fu
· Input karakteristik geometrik sesuai
penampang yang digunakan
· Nilai Pu , M ux dan M uy Pr  c Pn
· Nilai M rx dan M ry 6.9.2.1-1
· Input faktor tahanan  y , u 6.5.4.2 Periksa syarat
komponen
terhadap tekan
dan kombinasi
Untuk komponen utama: Apakah Pu 8.0  M ux M uy 
K Tidak      1.0 Tidak
 120 Pu
 0.2 ? Pr 9.0  M rx M ry 
r Periksa rasio Pr
Untuk komponen sekunder 6.9.2.2-2
kelangsingan
K
 140
r Ya
6.9.3

Gunakan Tabel 6.9.4.1.1-1


untuk pemilihan mode tekuk
Tidak Periksa syarat
potensial pada tiap penampang
Pu M M uy 
dalam penentuan nilai Pe   ux    1.0 komponen
2.0 Pr  M rx M ry  terhadap tekan
dan kombinasi
Tahanan 6.9.2.2-1
P0  Fy Ag lentur
6.9.4.1.1 nominal
ekivalen

Penentuan Ya
Apakah nilai Pn
Pe Tidak Pn  0.877Pe
 0.44 6.9.4.1.1-2
Selesai Ya
Po

Hitung
  
 Po  sesuai mode
Pn   0.658 e   Po tekuk (FB,
P

  TB, FTB)
  potensial tiap
6.9.4.1.1-1 penampang

Syarat Aeff  Ag   (b  be )t
elemen
b
 r langsing Pcr  Pn min  Pn  FB , Pn TB , Pn  FTB 
t
Ya Pcr
6.9.4.2.1-1 Fcr  6.9.4.2.2-2
Ag
Pn  Fcr  Aeff 6.9.4.2.2-1
Tidak

Pn  min  Pn  FB , Pn TB , Pn  FTB 


6.9.4.1.1

Lanjut
ke A
Flowchart Diagram Alir Sambungan Las

Mulai

Inputkan Data:
Pu  Gaya aksial N

Fexx  Mutu las N/mm2


l  Panjang las mm

w Tebal las mm

Tentukan:
Faktor tahanan untuk
metal las e1,2
6.5.4.2

Sambungan las Sambungan las


Sambungan las
tumpul penetrasi tumpul penetrasi
sudut
penuh sebagian

Tahanan tarik dan tekan Tahanan tarik dan tekan Tahanan tarik dan tekan Geser
Geser Geser Diambil sebagai
Diambil sebagai Diambil sebgai nilai terkecil antara
tahanan terfaktor dari
nilai terkecil antara
tahanan terfaktor dari metal dasar nilai terkecil antara tahanan terfaktor dari Rr  0.6e 2 Fexx
Rn  0.60e1 Fexx Rr  v 0,58Fy Avg & Rr  vu 0.58 R p Fu Avn metal dasar
metal dasar atau 6.13.3.2.4b-1
6.13.3.2.2a Rr  0.6e1Fexx 7.13.5.3-1 7.13.5.3-2
atau 60% dari tahanan Atau tahanan terfaktor dari metal las
6.13.3.2.3a-1
terfaktor metal dasar yang diberikan
akibat tarik
6.13.3.2.2b-1 Rr  0.6e 2 Fexx
6.13.3.2.3b-1

 Rn  Pu
atau
 Rn  Vu
Tidak
Ya

Selesai
Flowchart Diagram Alir Sambungan Baut

Mulai

· Input diameter lubang baut, ditentukan


T6.13.2.4.2-1
· Input ukuran diameter baut, ditentukan
6.13.2.5
· Input spasi antar baut, ditentukan
6.13.2.6

Tahanan Kombinasi Tahanan


Tahanan Tahanan tumpu Tahanan
geser tarik dan geser
slip pada lubang baut tarik
geser tarik angkur baut

Rn  K h K s N s Pt Tahanan tarik Tahanan geser baut


nominal angkur
Apakah ulir di Tidak Rn  0.48 Ab Fub N s Pt  T6.13.2.8-1 Rn  0.50 Ab Fub N s
bidang geser? 6.13.2.7.-1 K h  T6.13.2.8-2 Tahanan nominal untuk Tn  0.76 Ab Fu b 6.13.2.12-1
K s  T6.13.2.8-3 baut standar? 6.13.2.10.2-1 Apakah
Tidak Pu
Ya
Ya (Berslot panjang)  0.33? Ya
Rn  0.38 Ab Fub N s Rn
6.13.2.7-2
Tidak Tn  0.76 Ab Fub
Jarak bersih Jarak bersih 6.13.2.11-1
antar lubang baut antar lubang baut
> 2.0d > 2.0d
Tidak Tidak 2
 P 
Tn  0.76Ab Fub 1  u 
Rn  1.2 LctFu Rn  LctFu  s Rn 
6.13.2.9-2 Ya Ya 6.13.2.9-4
6.13.2.11-2
Rn  2.4dtFu Rn  2.0dtFu
6.13.2.9-2 6.13.2.9-3

Rr   Rn
Tr  Tn
Tidak
Ya

Selesai
REFERENSI
1. AASHTO LRFD 2017 BridgeDesignSpecifications 8th Ed (US)
2. AASHTO NSBA G 13.1 - Guidelines for Steel Girder Bridge Analysis
(2014)
3. AASHTO NSBA S 2.1 - Steel Bridge Fabrication Guide Specification
(2018)
4. BSC Designers Guide to Box Girder Bridges (1981)
5. FHWA-HIF-16-002 Steel Bridge Design Handbook
6. Michel Bruneau, Chia Ming Uang, Andrew Whittaker., Ductile Design of
Steel Structures , 2nd Edition (2011)
7. Spesifikasi Umum Bina Marga 2018
8. Waling, J. L., 1953, “Least Weight Proportions of Bridge Trusses”, Eng.
Experiment Station Bulletin, No.417, Sept., 56 pp. University of Illinois

Anda mungkin juga menyukai