Anda di halaman 1dari 5

Sleep Disorder

PWK 342 - Neuropsikologi

Seksi A
Andrean Putra 2013-070-220
Yohanna Elvira 2013-070-117

Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta
November 2017
Kekurangan jam tidur dapat mengakibatkan munculnnya penyakit atau gangguan
dalam hal fisik dan mental. Contoh gangguan dalam bidang fisik yang mungkin muncul
adalah melemahnya imun tubuh, penyakit liver, cardiovascular dan gastrointestinal.
Gangguan dalam hal mental yang mungkin muncul adalah kurangnya memori, proses
belajar, penalaran logis, kemampuan aritmatika, proses verbal dan kemampuan
membuat keputusan. Kurangnya waktu tidur tersebut tidak hanya memunculkan gejala
penyakit fisik dan mental, tetapi juga akan berkembang menjadi sebuah gangguan tidur.
Salah satu gangguan tidur adalah insomnia. Beberapa penyebab insomnia antara
lain: suara, suhu yang tidak nyaman, stress, nyeri, pola makan, dan pengobatan.
Insomnia juga dapat timbul karena epilepsi, penyakit Parkinson, tumor otak, depresi,
kegelisahan, serta gangguan saraf dan gangguan psikologis lainnya.
1.1. Sleep Apnea
Penyebab khusus insomnia adalah sleep apnea, dimana individu tidak
dapat bernapas pada saat tidur. Individu yang mengalami sleep apnea
mengalami waktu tidak bernapas, berlangsung selama satu menit atau lebih.
Kemudian individu tersebut akan terbangun dan terengah-engah kehabisan
nafas. Penyebab sleep apnea antara lain adalah gen, hormon, dan kerusakan
mekanisme pengendalian napas akibat lanjut usia. Penyebab lainnya adalah
obesitas, terutama pada pria usia paruh baya. Penderita sleep apnea diharapkan
untuk mengurangi berat badan serta menghindari alkohol dan obat penenang.
Tindakan medis yang dapat dilakukan antara lain melalui pembedahan untuk
menghilangkan jaringan penghalang trakea atau penggunaan topeng yang
menutup hidung dan mengalirkan udara bertekanan cukup tinggi sehingga
saluran nafas tetap terbuka.
1.2. Narcolepsy
Sebuah kondisi yang ditandai oleh seringnya muncul periode rasa kantuk
di siang hari, kondisi tersebut menjangkiti 1 di antara 1000 orang. Kondisi
tersebut bisa saja diturunkan dari keluarga, walaupun belum ada gen terkait
dengan narkolepsi. Terdapat empat gejala utama narkolepsi, yaitu:
● Serangan rasa kantuk yang bertahap atau mendadak selama siang
hari.
● Katapleksi yang sesekali muncul.
● Sleep paralysis, dimana individu tidak mampu bergerak ketika
memasuki periode tidur atau bangun dari tidur.
● Halusinasi hipnagogik, yaitu pengalaman menyerupai mimpi
sehingga penderitanya sulit membedakan antara kenyataan dan
mimpi.
Penyebab timbulnya gejala-gejala tersebut terkait dengan
neurotransmitter oreksin penderita narkolepsi kekurangan sel-sel hipotalamus
penghasil dan pelepas oreksin. Narkolepsi dapat disembuhkan dengan obat yang
memulihkan kadar oreksin. Tetapi pada saat ini pengobatan narkolepsi
umumnya menggunakan obat stimulant seperti metilfenidat (Ritalin) yang
meningkatkan keterjagaan dengan cara meningkatkan aktivitas hormon
dopamine dan norepinefrin.
1.3. Periodic Limb Movement Disorder
Gerakan reflek kaki dan terkadang tangan yang berulang. Hal ini menjadi
masalah ketika hal tersebut terjadi berulang-ulang kali, pada beberapa kasus
obat penenang dapat meredakan gangguan tersebut.
1.4. REM Behavior Disorder
Pada tidur REM biasanya otot tubuh bergerak pasif, tetapi pada hal ini
otot-otot tubuh bergerak sesuai dengan mimpi. Penderita gangguan ini sering
kali bermimpi mempertahankan diri dari sebuah serangan, mereka dapat
bergerak memukul, menendang, dan bahkan melompat. Sebagian besar
penderita melukai diri sendiri atau individu lain serta merusak barang-barang
disekitar mereka. Gangguan ini biasanya terjadi pada mereka yang sudah lanjut
usia. Gangguan ini merupakan kerusakan otak atau penyakit yang menyerang
otak merusak sel-sel pada pons pengirim informasi yang menginhibisi neuron
sum-sum tulang belakang pengendali pergerakan otot besar pendukung tubuh.
1.5. Night Terrors and Sleepwalking
Night terrors adalah kegelisahan yang menyebabkan penderitanya
terbangun dan berteriak dari tidurnya. Teror malam muncul pada tidur NREM
dan lebih banyak terjadi pada anak-anak dibanding individu dewasa. Tidur
berjalan sudah diturunkan dalam keluarga umumnya terjadi pada anak berusia
2-5 tahun. Tidur berjalan biasanya muncul pada tahap tidur ketiga dan keempat.

Berdasarkan jurnal yang ditemukan, gangguan tidur tidak hanya muncul karena
kurangnya waktu tidur seseorang, tetapi juga muncul karena penggunaan obat-obatan
berupa amphetamine tipe stimulan. Studi menyatakan bahwa penggunaan obat
tersebut dapat mengakibatkan anxiety, depresi, gangguan tidur dan masalah sosial.
Penyebab munculnya gangguan-gangguan ini adalah karena obat-obatan tersebut
menyerang neuron presinaptik yang menaikkan pelepasan serotonin (5-HT) dan
dopamin. Penggunaan obat-obatan ini secara terus menerus merubah adaptasi
terhadap 5-HT dan dopamin sehingga nuerotransmiter (5-HT dan dopamin) akan
berkurang atau habis.
Peneliti ingin mengurangi dampak ketergantungan dari obat-obatan
amphetamine tipe stimulan dengan menggunakan Trytophan dalam bentuk suplemen,
yaitu senyawa pembentuk dari 5-HT, jika dalam dosis yang tinggi dapat meningkatkan
sintesis dari 5-HT yang selanjutnya akan mengatur mood dan gangguan saat tidur.
Penelitian tersebut dilakukan dalam bentuk eksperimen yang melibatkan 80 orang
subjek secara acak dari tempat detoksifikasi di Wuhan, China, kemudian dibagi menjadi
2 kelompok masing-masing 40 orang dengan treatment kelompok 1 diberikan trytophan
dan kelompok 2 diberikan placebo selama 14 hari dengan dosis 2 kali sehari secara oral.
Output dari penelitian tersebut didapatkan dengan cara memberikan kuesioner
juga menggunakan AIS dan SCL-90 kepada setiap subjek, kemudian mendapatkan hasil
bahwa tryptophan berhasil mengurangi gangguan tidur pada pasien detoksifikasi yang
mengalami ketergantungan pada obat-obatan amphetamine tipe stimulan, tetapi tidak
memiliki efek pada gangguan mental seperti anxiety, depresi dan permasalahan sosial.
Daftar Pustaka

Nolen-Hoeksema, S. (2014). Abnormal Psychology. 6th Edition . Boston: McGraw-Hill


Companies, Inc.
Bryan, K., Wishaw, Ian Q. (2015). Fundamentals of Human Neuropsychology. Worth.