Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat
menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Potensi Dan Kontribusi Keterbakatan“
dengan lancar.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, maka pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen MURSYID RIDA. M.Pd., Kons.
ebagai pengampu mata kuliah Pembinaan Anak Berbakat dan juga kawan-kawan yang
membantu penulis sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan.

Akhir kata, Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan
kearah kesempurnaan.

Padang, Februari 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 3


B. Rumusan Masalah ........................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN

A. Populasi anak berbakat .................................................................. 4


B. Kontribusi anak berbakat dalam pembangunan SDM ................ 6
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 9

2
BAB I

PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Keberbakatan hingga kini masih menjadi wacana yang sangat menarik, baik bagi yang
terlibat langsung dengan persoalan keberbakatan maupun yang tidak. Bahkan menjadi lebih
menarik lagi, karena banyak terjadi miskonsepsi terhadap keberbakatan. Secara umum
“Keberbakatan dapat diartikan sebagai kemampuan unggul yang memungkinkan seseorang
berinteraksi dengan lingkungan dengan tingkat prestasi dan kreativitas yang sangat tinggi.”

Dari peranyataan tersebut dapat dipahami bahwa pertama, keberbakatan merupakan suatu
kualitas yang dibawa sejak lahir (dengan kata lain keberbakatan itu bersifat alamiah), dan kedua,
bahwa lingkungan keberbakatan adalah arena di mana anak berbakat memainkan peran
didalamnya). Karena itulah dapat dikatakan bahwa tingkat prestasi dan kreativitas yang tinggi
dihasilkan dari interaksi yang terus menerus dan fungsional antara kemampuan dan karakteristik
yang dibawa seseorang dari lahir dan yang diperoleh selama dalam kehidupannya.

Perhatian terhadap pendidikan anak berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun
yang lalu. Misalnya, Plato pernah menyerukan agar anak-anak berbakat dikumpulkan dan dididik
secara khusus karena mereka ini diharapkan bakal menjadi pemimpin negara dalam segala
bidang pemerintahan. Oleh karena itu, mereka dibekali ilmu pengetahuan yang dapat menunjang
tugas mereka (Rohman Natawijaya, 1979).

B .RUMUSAN MASALAH

1.Bagaimana Populasi Anak Berbakat?

2.Bagaimana Kontribusi Anak Berbakat Dalam Pengembangan SDM

3
BAB II

PEMBAHASAN

POTENSI DAN KONTRIBUSI KETERBAKATAN

A. Populasi anak berbakat

Menurut Hadi populasi adalah sebagian individu yang diselidiki itu di sebut sampel
atau contoh, sedang semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang di peroleh dari
sampel itu hendak di generalisasikan, di sebut populasi atau universe. Menurut Nawawi
populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang dapat atau terdiri dari manusia, hewan,
tumbuhan, gejala, nilai tes atau peristiwa, sebagai sumberdata yang memiliki karakteristik
tertentu dalam suatu penelitian.

Penjaringan terhadap keberbakatan intelektual dalam kelompok populasi tertentu


pada umumnya bertolak dari perkiraan kurang lebih 15 % sampai 25 % populasi sample yang
secara kasar merupakan identfikasi permulaan dalam menghadapi seleksi yang lebih cermat.
Penjaringan keberbakatan bisa menggunakan nominasi guru tentang kemajuan sehari-hari
siswa, namun bisa juga melalui penilaian beberapa mata pelajaran tertentu tergantung dari
tujuan penjaringan. Penjaringan atau penyaringan dapat juga menggunakan tes psikologis
yang didasarkan pada beberapa aspek tertentu, tetapi yang paling penting hsrus diketahui
untuk keperluan apa tes dilakukan.

Jika dipersentasekan jumlah anak berbakat hanyalah sekitar 5 persen dari seluruh
populasi anak-anak yang relatif sama usianya, tapi walaupun demikian anak berbakat ini
sangat memerlukan layanan pendidikan secara khusus, karena mereka memiliki karakteristik
belajar yang berbeda jika dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.

Keberadaan anak berbakat intelektual hanya 2 – 3 % dari populasi. Jumlah tersebut


cukup sedikit dan tersebar keberadaannya. Oleh karena itu pelayanan akselerasi yang
menuntut kontinyuitas penyelenggaraan mustahil untuk dilakukan, terlebih dengan adanya
penetapan kuota. Salah satu alternatif solusi untuk memastikan semua anak berbakat
4
terlayani adalah dengan memberikan fleksibilitas berbagai alternatif pilihan program
pelayanan bagi anak berbakat (pengayaan, pendalaman, percepatan, dan pengelompokkan).

Pada tahun 1997 menyebutkan bahwa terdapat 9,7 % siswa yang tergolong dalam
kategori anak berbakat intelektual (Hawadi, et.al, 2001). Dari data tersebut para siswa yang
memiliki potensi dan bakat yang luar biasa dibandingkan dengan siswa lainnya berhak untuk
memperoleh perhatian khusus dan menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu
yang telah ditentukan (Pasal 8 dan 24 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989), sehingga
mereka dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal (GBHN, 1993).

Selain itu, hasil penelitian Shields (1996) membuktikan bahwa siswa berbakat dan
berpotensi baik yang dikelompokkan secara kuantitatif dan kualitatif memberikan kontribusi
yang signifikan bagi pengembangan konsep diri secara akademik, pengembangan kebebasan
dan percaya diri.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hawadi, dkk (1998 dalam Ekojatmiko, 2008)
pada 20 SMA Unggulan di 16 propinsi menyimpulkan bahwa program akselerasi tidak cukup
memberikan dampak positif pada siswa berbakat untuk mengembangkan potensi intelektual
yang tinggi karena jumlah siswa yang tergolong memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa hanya 9,7%. Dari temuan di atas berarti sebagian besar siswa (92,3%) yang
mengikuti program akselerasi bukan merupakan anak berbakat intelektual tinggi.
Permasalahan di atas dapat dimungkinkan karena beberapa sebab, antara lain:

1. Prevalensi anak berbakat yang sedikit, berdasarkan nilai tes IQ di atas 130 terdapat
anak berbakat 2 - 3 % dari populasi (Webb dan Tolan, 1928 dalam Smith, 2006). Passow
(1980) dan Sorenson (1988 dalam Reni Akbar, 2005) mengemukan hal yang hampir sama,
yaitu anak berbakat intelektual yang tinggi (very superior) sebesar 2 – 3 % dari populasi.

2. Prosedur indentifikasi yang menyimpang dari acuan dan kurang memperhatikan


kharakteristik anak berbakat sehingga banyak menjaring anak-anak yang bukan termasuk
anak berbakat.

5
Akselerasi adalah belajar dimungkinkan untuk diterapkan sehingga siswa yang
memiliki kemampuan diatas rata-rata dapat menyelesaikan pelajarannya lebih cepat dari
masa belajar yang telah ditentukan. Jadi kelas akselerasi adalah kelas yang diperuntukan bagi
siswa yang belajarnya dipercepat sesuai dengan tingkat pemahaman materisehingga ia dapat
menempuh waktu studinya lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan pada kelas biasa.
Kelas akselerasi berfungsi ssebagai kelas percepatan pembelajaran yang disajikan kepada
peserta didik yang memiliki kemampuan lebih atau istimewa dengan materi atau kurikulum
yang padat sehingga dalam waktu lebih pendek mereka dapat menyelesaikan pendidikannya.

B. Kontribusi Anak Berbakat dalam Pembangunan SDM

Menghadapi persaingan global kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang


berkualitas merupakan kebutuhan yang sangat mendesak agar dapat sejajar dengan warga dunia
lainnya. Artinya, Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif,
inovatif, mandiri, dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk menghadapi
persaingan global.

Demikian penting pendidikan yang berdimensi keunggulan dalam menjawab tantangan


masa depan, maka sangat beralasan apabila proses peningkatan kualitas sumber daya manusia
dapat menampung anak-anak yang memiliki potensi dan bakat yang luar biasa, yang diharapkan
dapat mewakili bangsa Indonesia pada era globalisasi.

Hasil temuan riset terhadap 20 SMU Negeri Unggulan pada 16 propinsi di Indonesia
pada tahun 1997 menyebutkan bahwa terdapat 9,7 % siswa yang tergolong dalam kategori anak
berbakat intelektual (Hawadi, et.al, 2001). Dari data tersebut para siswa yang memiliki potensi
dan bakat yang luar biasa dibandingkan dengan siswa lainnya berhak untuk memperoleh
perhatian khusus dan menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah
ditentukan (Pasal 8 dan 24 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989), sehingga mereka dapat
mengembangkan kemampuannya secara maksimal (GBHN, 1993).

6
Selain itu, hasil penelitian Shields (1996) membuktikan bahwa siswa berbakat dan
berpotensi baik yang dikelompokkan secara kuantitatif dan kualitatif memberikan kontribusi
yang signifikan bagi pengembangan konsep diri secara akademik, pengembangan kebebasan dan
percaya diri.

Model pengelolaan program pendidikan dengan prinsip akselerasi yang dapat


menampung para siswa yang berpotensi dan berbakat perlu dikembangkan di daerah-daerah
tanpa menimbulkan pengaruh diskriminasi bagi peserta didik yang lain. Hal ini disebabkan
jumlah siswa yang berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa tersebar pada berbagai SMA di
kawasan Indonesia.

Demikian penting pendidikan yang berdimensi keunggulan dalam menjawab tantangan


masa depan, maka sangat beralasan apabila proses peningkatan kualitas sumber daya manusia
dapat menampung anak-anak yang memiliki potensi dan bakat yang luar biasa, yang diharapkan
dapat mewakili bangsa Indonesia pada era globalisasi.

7
BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

Menghadapi persaingan global kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang


berkualitas merupakan kebutuhan yang sangat mendesak agar dapat sejajar dengan warga
dunia lainnya. Artinya, Indonesia harus menyiapkan sumber daya manusia yang
produktif, kreatif, inovatif, mandiri, dan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif
untuk menghadapi persaingan global.

Demikian penting pendidikan yang berdimensi keunggulan dalam menjawab


tantangan masa depan, maka sangat beralasan apabila proses peningkatan kualitas sumber
daya manusia dapat menampung anak-anak yang memiliki potensi dan bakat yang luar
biasa, yang diharapkan dapat mewakili bangsa Indonesia pada era globalisasi.

8
KEPUSTAKAAN

Hawadi, Reni Akbar,dkk. 2001. kreativitas. Jakarta: PT Grasindo

Utami Munandar. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Anda mungkin juga menyukai