Anda di halaman 1dari 8

2.

1 Vitamin
2.1.1 Definisi dari Vitamin
Vitamin merupakan nutrien organik yang dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai
fungsi biokimiawi dan yang umumnya tidak disintesis oleh tubuh sehingga harus didapatkan dari
makanan.Vitamin yang pertama kali ditemukan adalah vitamin A dan B , dan ternyata masing-
masing larut dalam lemak dan larut dalam air. Kemudian ditemukan lagi vitamin-vitamin yang
lain yang juga bersifat larut dalam lemak atau larut dalam air. Sifat larut dalam lemak atau larut
dalam air dipakai sebagai dasar klasifikasi vitamin.Vitamin yang larut dalam air, seluruhnya diberi
symbol anggota B kompleks kecuali (vitamin C) dan vitamin larut dalam lemak yang baru
ditemukan diberi symbol menurut abjad (vitamin A,D,E,K).Vitamin yang larut dalam air tidak
pernah dalam keadaan toksisitas di didalam tubuh karena kelebihan vitamin ini akan dikeluarkan
melalui urin (Triana, 2006).

2.1.2 Jenis Vitamin Dan Fungsinya


Vitamin dibagi menjadi 2 golongan , vitamin yang larut dalam lemak yaitu vitamin A,
D, E, K dan yang larut dalam air yaitu B1, B2, B3, B6, B11, B12 (Mary E. Beck, 2000) :
1. Larut dalam lemak
a. Vitamin A
Vitamin A, yang juga dikenal dengan nama retinol, merupakan vitamin yang berperan
dalam pembentukkan indra penglihatan yang baik, terutama di malam hari, dan sebagai
salah satu komponen penyusun pigmen mata di retina. Vitamin A berguna untuk
penglihatan, melindungi kulit dan lapisan mukosa (mulut, hidung dan sistem pencernaan).
Vitamin A dikenal sebagai vitamin yang sangat dibutukkan tubuh dan mutlak harus
dipenuhi melalui makanan. Pada umunnya vitamin A dikonsumsi dalam bentuk pre form
vitamin A dan pro vitamin A. Di Indonesia 80% konsumsi vitamin A berasal dari karoten
dan 20% dari makanan hewani maupun pre form vitamin A. Vitamin A beredar dalam
darah dan disimpan dalam hati. Berdasarkan hasil percobaan, klinis pada manusia dan
hewan menunjukkan bahwa vitamin A diperlukan untuk pemeliharaan dan fungsi normal
sistem kekebalan dan jaringan epitel.
Gambar 1. Struktur kimia vitamin A (Sumber ; Arta, 2008)
b. Vitamin D
Vitamin D merupakan vitamin yang dapat diperoleh dari makanan atau diproduksi dari
kulit manusia yang terkena sinar matahari pagi dan sangat berperan penting dalam
meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Karena dapat disintesis didalam tubuh,
vitamin D dapat dikatakan bukan vitamin, tapi suatu prohormon (Almatsier, 2005).
Terdapat dua bentuk vitamin D yang penting bagi manusia, yaitu vitamin D2 dan vitamin
D3. Vitamin D2 dan D3 larut dalam lemak dan pelarutnya tidak larut dalam air, stabil
terhadap panas, asam, alkali, dan oksidasi (Astuti dan Gardjito, 1986).

Gambar 2. Struktur kimia vitamin D (Sumber ; Arta, 2008)


c. Vitamin E
Vitamin E pertama kali diisolasi pada tahun 1936 dari minyak tepung gandum. Disebut
vitamin E karena ditemukan setelah vitamin-vitamin yang sudah ada yaitu A, B, C, dan D.
Bentuk vitamin E merupakan kombinasi dari delapan molekul yang sangat rumit yang
disebut ’tocopherol’. Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak
seperti minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Karena tidak larut dalam air,
vitamin E dalam tubuh hanya dapat dicerna dalam empedu hati (Shella, 2009).
Vitamin E stabil pada pemanasan namun akan rusak bila pemanasan terlalu tinggi.
Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak terpengaruh oleh asam pada suhu
100o C. Bila terkena oksigen di udara, akan teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan
bila terkena cahaya warnanya akan menjadi gelap secara bertahap (Shella, 2009).
Vitamin E merupakan komponen yang terdapat dalam tanaman dan hewan yaitu
tokoferol dan tokotrienol. Ada 4 jenis tokoferol, tetapi yang berperan sebagai vitamin E
adalah tokoferol. Vitamin E larut dalam lemak, tidak larut dalam air, stabil terhadap panas,
asam maupun sinar visibel. Tokoperol tidak stabil terhadap alkali, sinar ultra violet dan
oksigen. Semua tokoperol adalah antioksidan artinya bahwa baik di dalam maupun di luar
tubuh berikatan dengan oksigen (Astuti dan Gardjito, 1986).

Gambar 3. Struktur kimia vitamin E (Sumber ; Arta, 2008)


d. Vitamin K
Pengenalan
Vitamin K dikenal sebagai vitamin anti pendarahan (anti hemorrhagic); berada dalam
dua bentuk yaitu vitamin K1 atau disebut phyloquinon terdapat dalam makanan terutama
sayuran dan K2 atau menaquinon, aktivitasnya ¾ nya vitamin K1 berasal dari usus
manusia. Vitamin ini disintesa oleh bakteri dalam usus. Kedua bentuk vitamin K tidak larut
dalam air, larut dalam lemak, stabil terhadap panas dan senyawa pereduksi, tetapi sangat
labil dengan asam kuat, senyawa pengoksidasi, sinar, dan alkali alkaholik. Vitamin K yang
dibuat secara sintetis bersifat larut dalam air dan dipergunakan sebagai obat (Astuti dan
Gardjito, 1986).
Kebanyakan sumber vitamin K di dalam tubuh adalah hasil sintesis oleh bakteri di
dalam sistem pencernaan. Sumber vitamin K dalam makanan adalah hati, sayur-sayuran
berwarna hijau yang berdaun banyak, sayuran sejenis kobis (kol) dan susu (Ridwanaz,
2010).
Gambar 4. Struktur kimia vitamin K (Sumber ; Arta, 2008)
2. Larut dalam Air
e. Vitamin C
Vitamin C (asam askorbat) banyak memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Di
dalam tubuh, vitamin C juga berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang merupakan
protein penting penyusun jaringan kulit, sendi, tulang, dan jaringan penyokong lainnya.
Vitamin C merupakan senyawa antioksidan alami yang dapat menangkal berbagai radikal
bebas dari polusi di sekitar lingkungan kita. Terkait dengan sifatnya yang mampu menangkal
radikal bebas, vitamin C dapat membantu menurunkan laju mutasi dalam tubuh sehingga
risiko timbulnya berbagai penyakit degenaratif, seperti kanker, dapat diturunkan. Selain itu,
vitamin C berperan dalam menjaga bentuk dan struktur dari berbagai jaringan di dalam tubuh,
seperti otot. Vitamin ini juga berperan dalam penutupan luka saat terjadi pendarahan dan
memberikan perlindungan lebih dari infeksi mikroorganisme patogen. Melalui mekanisme
inilah vitamin C berperan dalam menjaga kebugaran tubuh dan membantu mencegah berbagai
jenis penyakit. Defisiensi vitamin C juga dapat menyebabkan gusi berdarah dan nyeri pada
persendian. Akumulasi vitamin C yang berlebihan di dalam tubuh dapat menyebabkan batu
ginjal, gangguan saluran pencernaan, dan rusaknya sel darah merah.

f. Vitamin B
Secara umum, golongan vitamin B berperan penting dalam metabolisme di dalam
tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi saat beraktivitas. Hal ini terkait dengan
peranannya di dalam tubuh, yaitu sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju
reaksi metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi. Beberapa jenis vitamin yang
tergolong dalam kelompok vitamin B ini juga berperan dalam pembentukan sel darah merah
(eritrosit). Sumber utama vitamin B berasal dari susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.
Vitamin B terdiri dari beberapa jenis, yang semuanya disebut dengan vitamin B
kompleks. Diantaranya adalah sebagai berikut:
 Vitamin B1
Vitamin B1, yang dikenal juga dengan nama tiamin, merupakan salah satu jenis
vitamin yang memiliki peranan penting dalam menjaga kesehatan kulit dan membantu
mengkonversi karbohidrat menjadi energi yang diperlukan tubuh untuk rutinitas sehari-
hari. Di samping itu, vitamin B1 juga membantu proses metabolisme protein dan lemak.
Bila terjadi defisiensi vitamin B1, kulit akan mengalami berbagai gangguan, seperti kulit
kering dan bersisik. Tubuh juga dapat mengalami beri-beri, gangguan saluran pencernaan,
jantung, dan sistem saraf. Untuk mencegah hal tersebut, kita perlu banyak mengkonsumsi
banyak gandum, nasi, daging, susu, telur, dan tanaman kacang-kacangan. Bahan makanan
inilah yang telah terbukti banyak mengandung vitamin B1.

Gambar 5. Struktur kimia vitamin B1 (Sumber ; Arta, 2008)


 Vitamin B2
Vitamin B2 (riboflavin) banyak berperan penting dalam metabolisme di tubuh
manusia. Di dalam tubuh, vitamin B2 berperan sebagai salah satu kompenen koenzim flavin
mononukleotida (flavin mononucleotide, FMN) dan flavin adenine dinukleotida (adenine
dinucleotide, FAD). Kedua enzim ini berperan penting dalam regenerasi energi bagi tubuh
melalui proses respirasi. Vitamin ini juga berperan dalam pembentukan molekul steroid,
sel darah merah, dan glikogen, serta menyokong pertumbuhan berbagai organ tubuh,
seperti kulit, rambut, dan kuku. Sumber vitamin B2 banyak ditemukan pada sayur-sayuran
segar, kacang kedelai, kuning telur, dan susu. Defisiensinya dapat menyebabkan
menurunnya daya tahan tubuh, kulit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, dan
sariawan.
Gambar 6. Struktur kimia vitamin B2 (Sumber ; Arta, 2008)
 Vitamin B3
Vitamin B3 juga dikenal dengan istilah niasin. Vitamin ini berperan penting dalam
metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi, metabolisme lemak, dan protein. Di
dalam tubuh, vitamin B3 memiliki peranan besar dalam menjaga kadar gula darah, tekanan
darah tinggi, penyembuhan migrain, dan vertigo. Berbagai jenis senyawa racun dapat
dinetralisir dengan bantuan vitamin ini. Vitamin B3 termasuk salah satu jenis vitamin yang
banyak ditemukan pada makanan hewani, seperti ragi, hati, ginjal, daging unggas, dan ikan.
Akan tetapi, terdapat beberapa sumber pangan lainnya yang juga mengandung vitamin ini
dalam kadar tinggi, antara lain gandum dan kentang manis. Kekurangan vitamin ini dapat
menyebabkan tubuh mengalami kekejangan, keram otot, gangguan sistem pencernaan,
muntah-muntah, dan mual.

Gambar 7. Struktur kimia vitamin B3 (Sumber ; Arta, 2008)


 Vitamin B5
Vitamin B5 (asam pantotenat) banyak terlibat dalam reaksi enzimatik di dalam
tubuh. Hal ini menyebabkan vitamin B5 berperan besar dalam berbagai jenis metabolisme,
seperti dalam reaksi pemecahan nutrisi makanan, terutama lemak. Peranan lain vitamin ini
adalah menjaga komunikasi yang baik antara sistem saraf pusat dan otak dan memproduksi
senyawa asam lemak, sterol, neurotransmiter, dan hormon tubuh. Vitamin B5 dapat
ditemukan dalam berbagai jenis variasi makanan hewani, mulai dari daging, susu, ginjal,
dan hati hingga makanan nabati, seperti sayuran hijau dan kacang hijau. Seperti halnya
vitamin B1 dan B2, defisiensi vitamin B5 dapat menyebabkan kulit pecah-pecah dan
bersisik. Selain itu, gangguan lain yang akan diderita adalah keram otot serta kesulitan
untuk tidur.

Gambar 8. Struktur kimia vitamin B5 (Sumber ; Arta, 2008)


 Vitamin B6
Vitamin B6, atau dikenal juga dengan istilah piridoksin, merupakan vitamin yang
esensial bagi pertumbuhan tubuh. Vitamin ini berperan sebagai salah satu senyawa
koenzim A yang digunakan tubuh untuk menghasilkan energi melalui jalur sintesis asam
lemak, seperti spingolipid dan fosfolipid. Selain itu, vitamin ini juga berperan dalam
metabolisme nutrisi dan memproduksi antibodi sebagai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap antigen atau senyawa asing yang berbahaya bagi tubuh. Vitamin ini merupakan
salah satu jenis vitamin yang mudah didapatkan karena vitamin ini banyak terdapat di
dalam beras, jagung, kacang-kacangan, daging, dan ikan. Kekurangan vitamin dalam
jumlah banyak dapat menyebabkan kulit pecah-pecah, keram otot, dan insomnia.

Gambar 9. Struktur kimia vitamin B6 (Sumber ; Arta, 2008)


 Vitamin B12
Vitamin B12 atau sianokobalamin merupakan jenis vitamin yang hanya khusus
diproduksi oleh hewan dan tidak ditemukan pada tanaman. Oleh karena itu, vegetarian
sering kali mengalami gangguan kesehatan tubuh akibat kekurangan vitamin ini. Vitamin
ini banyak berperan dalam metabolisme energi di dalam tubuh. Vitamin B12 juga termasuk
dalam salah satu jenis vitamin yang berperan dalam pemeliharaan kesehatan sel saraf,
pembentukkan molekul DNA dan RNA, pembentukkan platelet darah. Telur, hati, dan
daging merupakan sumber makanan yang baik untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12.
Kekurangan vitamin ini akan menyebabkan anemia (kekurangan darah), mudah lelah lesu,
dan iritasi kulit.

Gambar 10. Struktur kimia vitamin B12 (Sumber : Wikipedia)

Daftar Rujukan
Arta, Katherine. 2008. Kebutuhan Vitamin Sehari. (Online),
(http://katherinearta.wordpress.com/2008/02/07/kebutuhan-vitamin-sehari/ diakses 7
September 2011).
Mary E. Beck 2011. Ilmu Gizi dan Diet.Yogyakarta : Andi Ofset
Triana, Vivi. 2006. Macam Vitamin dan Fungsinya dalam Tubuh Manusia. JURNAL Kesehatan
Masyarakat, hal 40. Sumatra Barat: Universitas Andalas.
Almatsier, Sunita. Tanpa Tahun. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta
Astuti, M dan Gardjito, M. 1986. Pangan dan Gizi. Yogyakarta: UGM Press.
Ridwanaz. 2010. Pengertian stroke, penyebab, gejala, dan cara mencegah. Diakses tanggal 12
November 2018.