Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

STRATEGI PERLAWANAN BANGSA INDONESIA TERHADAP PENJAJAHAN BANGSA


EROPA

SAMPAI ABAD KE 26

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berisikan sejarah tentang
“Perlawanan Bangsa Indonesia Terhadap Bangsa Barat” tepat pada waktunya.

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan bagi


para pembaca dan dapat digunakan sebagai salah satu pedoman dalam proses
pembelajaran.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya karena


pengetahuan yang kami miliki cukup terbatas. Oleh karena itu, kami berharap
kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih.

Daftar Isi

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB. I PENDAHULUAN .............................................................................................

BAB. II PEMBAHASAN
................................................................................................
1. Pengertian
Hegemoni..............................................................................................

2. Konsep Hegemoni
...................................................................................................

3. Model Dan Kategori Hegemoni


..............................................................................

4. Tujuan Hegemoni
....................................................................................................

5. Negara-negara di Eropa yang melakukan Penjajahan di Nusantara


.......................

BAB. III PENUTUP


..........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Latar belakang kedatangan Belanda ke Indonesia adalah akibat meletusnya


perang delapan puluh tahun antara Belanda dan Spanyol (1568-1648). Pada
awalnya, perang antara Belanda dan Spanyol bersifat agama karena Belanda
mayoritas beragama kristen protestan sedangkan orang Spanyol beragama
kristen katolik. Perang tersebut kemudian menjadi perang ekonomi dan politik.
Raja philip II dari Spanyol memerintahkan kota Lisabon tertutup bagi kapal
Belanda pada tahun 1585 selain karena faktor tesebut juga karena adanya
petunjuk jalan ke Indonesia dari Jan Huygen Van Lischoten, mantan pelaut
Belanda yang bekerja pada Portugis dan pernah sampai di Indonesia.
Tujuan kedatangan belanda ke indonesia adalah untuk berdagang rempah-
rempah. Setelah berhasil menemukan daerah penghasil rempah-rempah dan
keuntungan yang besar, belanda berusaha untuk mengadakan monopoli
perdagangan rempah-rempah dan menjajah. Untuk melancarkan usahanya,
belanda menempuh beberapa cara seperti pembentukan VOC dan pembentukan
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda.

Pada awal abad XIX Jawa Setelah pemerintahan Inggris berakhir, yaitu pada tahun
1816, Indonesia kembali dikuasai oleh Pemerintahan Hindia-Belanda. Pada masa
”kedua” penjajahan ini, yang sangat terkenal adalah sistem tanam paksa yang
diterapkan oleh Van den Bosch. Pelaksanaannya pun dimulai pada tahun 1830.
Terdapat ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan sistem tanam paksa tersebut.
Namun pada akhirnya, dalam praktek sesungguhnya terdapat banyak
penyimpangan-penyimpangan.

Terdapat perbedaan antara penerapan sistem sewa tanah yang dilaksanakan oleh
Raffles serta sistem tanam paksa yang dilaksanakan oleh Van den Bosch.
Keduanya membawa dampak yang tidak sedikit bagi kehidupan bangsa Indonesia.

Dalam perkembangan sampai dengan paruh pertama abad ke-19, kebijakan


selain bidang perekonomian, dalam bidang pendidikan juga tidak diabaikan oleh
pemerintah Hindia-Belanda, tetapi itu hanya masih berupa rencana dari pada
tindakan nyata. Dalam periode itu pemerintah harus melakukan penghematan
anggaran, biaya untuk menumpas Perang Dipenogoro (1825-1830), dan untuk
pelaksanaan Culturstelsel.

Dalam rangka usahanya menguasai Indonesia,Belanda secara licik menjalankan


politik pecah belah,sehingga kerajaan-kerajaan yang saling bertentangan itu
menjadi lemah.Kesempatan inilah digunakan oleh Belanda untuk menjajah
Indonesia.

B. Rumusan Masalah

a) Bagaimanakah sejarah bangsa Indonesia melawanBangsa Barat ?


c) Bagaimana cara atau strategi para pahlawan dalam melawan penjajah ?

C. Tujuan.

1. Untuk mengetahui sejarah bangsa Indonesia.

BAB. II

PEMBAHASAN

A. Perlawanan Fisik Bangsa Indonesia terhadap Penjajahan Barat

1. Perlawanan terhadap Portugis

a. Perlawanan Rakyat Demak terhadap Portugis

Pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka


dengan bantuan Kerajaan Aceh. Penyerangan dipimpin oleh Adipati Unus yang
terkenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. Pada masa pemerintahan Adipati
Unus, Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis
kekurangan makanan.

Upaya Demak untuk mengusir Portugis diwujudkan dengan ditaklukkannya


Kerajaan Pajajaran oleh Fatahillah pada tahun 1527.Ketika orang-orang Portugis
mendatangi Sunda Kelapa (sekarang Jakarta), terjadilah perang antara Kerajaan
Demak yang dipimpin Fatahillah dan tentara Portugis. Portugis pun berhasil
dipukuk mundur. Kemudian Pelabuhan Sunda Kelapa diganti namanya menjadi
Jayakarta yang berarti kejayaan yang sempurna oleh Fatahillah.

b. Perlawanan Rakyat Aceh terhadap Portugis

Portugis mulai mengusik kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam saat berada di


Malaka. Portugis berusaha menguasai Kerajaan Aceh Darussalam yang menjadi
pusat perdagangan baru setelah jatuhnya Malaka. Pada tahun 1513, Aceh
bersama Demak melancarkan serangan ke Malaka, tapi gagal. Portugis pun sama
juga gagal melancarkan serangan ke Aceh. Aceh meminta bantuan persenjataan,
militer, dan ahli perang dari Turki. Dan bantuan dipenuhi oleh Turki pada tahun
1567. Setelah bantuan dari Turki datang, pada tahun 1568 Aceh bersama Turki
menyerang Portugis di Malaka. Portugis terpaksa bertahan mati-matian dalam
menghadapi serangan tersebut di Benteng A Famassa. Namun, Portugis dapat
menggagalkan serangan dari Aceh.

c. Perlawanan Rakyat Ternate terhadap Portugis

2. Perlawanan terhadap VOC-Hindia Belanda

a. Perlawanan terhadap VOC

b. Perlawanan terhadap Pemerintahan Hindia Belanda

3. Perlawanan terhadap Inggris

a. Perlawanan Kraton Yogyakarta terhadap Penjajahan Bangsa Inggris

Pada saat Inggris berkuasa menggantikan Belanda di Jawa, yang mengisi


kekuasaan di pusat adalah Raffles, sedangkan Karesidenan Yogyakarta adalah
John Crawfurd. Saat itu, Karesidenan Yogyakarta dipimpin oleh Sultan
Hamengkubuwana II atau Sultan Sepuh. Sultan HB II terkenal keras dan sangat
menentang pemerintah kolonial sehingga membuat orang Eropa (Inggris)
terganggu. Sikap kerasnya tersebut terlihat ketika Raffles untu pertama kali
datang ke Yogyakarta pada bulan Desember 1811. Saat itu, Sultan HB II berani
bertengkar dengan Raffles. Selanjutnya, juga terjadi pada awal Januari 1812.
Dalam pertemuan ini ada insiden kecil yang terjadi ketika tempat duduk Raffles di
Keraton Yogyakarta dibuat lebih rendah dari Sultan HB II. Insiden ini pun berhasil
diatasi.

Sultan HB II tidak puas dengan hasil pertemuannya dengan Raffles. Sultan HB II


semakin kecewa dengan pemerintah Inggris. Secara diam-diam, Sunan
Pakubuwana IV (Sultan PB IV) mengutus Tumenggung Ronowijoyo untuk
menghadap Sultan HB II dengan membawa surat. Dalam surat itu, Sunan PB IV
mengusulkan kerja sama untuk melawan Inggris dan bila berhasil akan membagi 2
wilayah yang telah dirampas oleh orang Eropa. Sultan HB II menyetujui hal itu dan
mengirimkan Tumenggung Sumodiningrat. Kesepakatan tercapai pada awal Mei
1812 di Klaten antara Ronowijoyo dan Sumodiningrat.

Tanpa sepengetahuan Sultan HB II, Sunan PB IV mengutus Patih Cokronegoro


untuk menemui putra mahkota Yogyakarta. Cokronegoro menyampaikan bahwa
Sunan PB IV menghendaki putra mahkota Surojo naik tahta dan bersedia
membantunya. Sunan PB IV menawarkan untuk kerja sama melawan Inggris dan
ketika Inggris berhasil diusir dari Jawa, wilayah Jawa akan dibagi 2 antara
Surakarta dan Yogyakarta. Rencana ini pun tercium oleh John Crawfurd yang
segera mengirimkan berita itu pada Raffles. Setelah mendengar berita tersebut,
Raffles memerintahkan Mayor Jenderal Gillespie untuk berangkat ke Yogyakarta
dan menyerbu Keraton Yogyakarta.

Pada tanggal 19-20 Juni 1812, Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta. Dalam
pertempuran 2 hari, Inggris berkekuatan 1000 serdadu berseragam merah.
Jumlah itu masih ditambah 500 prajurit Leguin Pangeran Prangwedono dari
Mangkunegaran, Surakarta. Sultan HB II yang menghadapi Inggris tidak mendapat
bantuan dari Surakarta seperti yang tertulis dalam surat rahasia bahwa Surakarta
akan membantu Yogyakarta dalam melakukan perlawanan terhadap Inggris.
Perang ini diakhiri dengan menyerahnya Sultan HB II dan dimulainya penjarahan
besar-besaran harta, pusaka, dan pustaka Keraton Yogyakarta. Setelah itu, Raffles
memerintahkan penangkapan Sultan HB II. Sultan HB II dibawa ke Batavia dan
menunggu pengadilan disana. Sultan HB II dijatuhi hukuman pembuangan ke
Pulau Penang pada awal Juli 1812. PB IV pun dirampas sebagian wilayahnya.

b. Perlawanan Rakyat Palembang terhadap Penjajahan Bangsa Inggris

Raffles mengirim 3 orang utusan yang dipimpin oleh Richard Philips ke Palembang
untuk mengambil alih kantor sekaligus benteng Belanda di Palembang dan
meminta hak kuasa sultan atas tambang timah di Pulau Bangka. Sultan Mahmud
Badaruddin II menolak permintaan itu dengan merujuk pada surat Raffles
sebelumnya bahwa kalau Belanda berhasil diusir, Palembang akan menjadi
kesultanan yang merdeka. Raffles pun kaget luar biasa setelah mengetahui bahwa
dengan cerdas Sultan Mahmud Badaruddin II menjadikan isi suratnya dahulu
sebagai legitimasi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Inggris.
Raffles pun memilih untuk mengkhianati janjinya tersebut. Ia mengirim ekspedisi
perang di tahun 1812 yang dipimpin Mayor Jenderal Robert Gillespie. Ekspedisi
pun sampai dalam waktu 1 bulan di Sungai Musi. Sultan Mahmud Badaruddin II
juga sudah bersiap-siap menghadapi gempuran tersebut.

Kesultanan Palembang akhirnya jatuh ke tangan Inggris hanya dalam waktu 1


minggu karena pertahanan di Pulau Borang sudah jebol tanpa perlawanan yang
berarti. Ternyata adik sultan yang bernama Pangeran Adipati Ahmad Najamuddin
telah menjadi komandan yang pengecut bagi pasukannya di pulau yang strategis
itu. Mengetahui hal itu, Sultan Mahmud Bdaruddin II segera meninggalkan
keraton Palembang dengan membawa seluruh tanda kebesaran kesultanan lalu
mempersiapkan perlawanan gerilya terhadap Inggris.

Tanggal 26 April 1812, bendera Inggris sudah berkibar di atas benteng Palembang.
Dan tanggal 14 Mei 1812, Najamuddin diangkat oleh Robert Gillespie atas nama
Inggris untuk menggantikan kakanya sebagai Sultan Palembang. Tambang timah
di Pulau Bangka dan Belitung akhirnya diserahkan oleh sultan boneka ini kepada
Inggris. Robert Gillespie ditarik pulang ke Batavia karena keberhasilannya dan
digantikan oleh Kapten R. Mearers menjadi Residen Palembang. Pertengahan
Agustus 1812, Mearers memimpin pasukannya untuk menyerang Sultan Mahmud
Badaruddin II di Buaya Langu, hulu Sungai Musi. Mearers mengalami luka parah
dalam pertempuran ini yang akhirnya meninggal di rumah sakit di Muntok.

Mearers digantikan oleh Mayor William Robinson. Tampaknya ia tidak cocok


dengan Sultan Najamuddin yang dinilai menjadi sultan yang lemah dan tidak
dihargai oleh rakyat. Robinson tidak setuju dengan keputusan Raffles yang
mengangkat sultan tersebut, dan juga ia tidak suka dengan kebiasaan Raffles yang
suka mengumbar janji, juga pembiaran yang dilakukan Raffles pada peristiwa
pembantain paukan Belanda. Atas inisiatifnya sendiri, Robinson mengirim seorang
perwira didampingi penerjemah untuk bernegosiasi dengan Sultan Mahmud
Badaruddin II, namun gagal.

Pada tangal 19 Juni 1813, Robinson datang sendiri untuk menemui Sultan
Mahmud Badaruddin II di Muara Rawas. Misi yang dilaksanakan Robinson pun
berhasil. Sultan Mahmud Badaruddin II mau kembali ke Palembang untuk
menggantikan adiknya. Akhirnya, tanggal 13 Juli 1813, Sultan Mahmud
Badaruddin II kembali ke istananya (keraton besar) di Palembang, sementara
adiknya bertempat tinggal di keraton lama.

Raffles sangat tersinggung dengan keputusan Robinson karena tidak meminta


pendapatnya dulu. Akhirnya, perjanjian Robinson dengan Sultan Mahmud
Badaruddin II dibatalkan sepihak. Robinson pun dipecat dan ditangkap dengan
alasan menerima suap dari Sultan Mahmud Badaruddin II. Tanggal 4 Agustus
1813, armada Inggris dipimpin Mayor W. Colebrooke tiba di Palembang untuk
menurunkan Sultan Mahmud Badaruddin II dari tahtanya kembali untuk
digantikan oleh Sultan Najamuddin. Uang yang dikatakan uang suap untuk
Robinson dikembalikan pihak Inggris ke Sultan Mahmud Badaruddin II lengkap
dengan bunganya. Dan tanggal 21 Agustus 1813, Sultan Najamuddin kembali
menduduki tahtanya di keraton besar.

B. Strategi Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Eropa sebelum


dan sesudah abad ke-26

Pada abad ke-16 bangsa Eropa berlayar ke wilayah Timur, diantaranya Portugis,
Spanyol, Inggris, dan Belanda. Tujuan mereka adalah mencari rempah-rempah
dan juga menyebarkan agama kristen. Setelah sampai Nusantara keserakahan
mereka timbul, yang awalnya hanya ingin berdagang tiba-tiba mereka ingin
menguasai Nusantara. Keinginan mereka itulah yang melatarbelakangi bangsa
Indonesia melakukan perjuangan.

1. Strategi Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Eropa sebelum


abad ke-26

Sebelum tahun 1908, banyak bangsa lain yang ingin menjajah dan menguasai
Indonesia. Banyak yang memeras, menyiksa dan merebut hak-hak rakyat
Nusantara. Perjuangan bangsa Indonesia terhadap penjajah hampir dilakukan
diseluruh wilayah, terutama di daerah yang menjadi pusat kekuasaan penjajah.

Perjuangan bangsa Indonesia menentang penjajah VOC menggunakan senjata


dimulai pada abad ke-17, dimana perlawanan tersebut dilakukan oleh Sultan
Agung dari Mataram, Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa Sulawesi Selatan,
Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Iskandar Muda dari Aceh, Untung Surapati,
Trunajaya, dan Ibnu Iskandar dari Minangkabau.

Sedangkan yang berjuang pada abad ke-19 antara lain :

a. Thomas Matulesy ata Pattimura dari Maluku (1817)

b. Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Kyai Mojo, dan Pangeran


Mangkubumi di Jawa (1825-1830)

c. Tuanku Imam Bonjoldari Minangkabau Sumatera Barat (1822-1837)

d. Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang (1817)

e. Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat dari Kalimantan (1859-1862)

f. I Gusti Kentut Jelantik dari Bali (1846-1849)

g. Anak Agung Made dari Lombok (1895)

h. Teuku Umar, Panglima Polim, Teuku Cik Di Tiro, dan Cut Nyak Dien dari Aceh
(1873-1904)

i. Si Singamangaraja XII dari Batak (1878-1907)

Berbagai perlawanan rakyat Indonesia yang terjadi pada sebelum abad ke-20
seperti perlawanan Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Agung serta perlawanan-
perlawanan rakyat lainnya masih dalam batas-batas wilayah yang sempit dan
parsial. Akibatnya perlawanan-perlawanan tersebut dapat diredam oleh kekuatan
penjajah yang sudah menguasai secara nasional di Indonesia.

Kegagalan perjuangan dengan kekerasan senjata oleh para pahlawan baik ketika
melawan Portugis, Belanda, maupun Inggris karena bangsa Indonesia mempunyai
beberapa kelemahan, sebagai berikut:

a. Perjuangan bersifat lokal / kedaerahan

b. Perlawanan terhadap penjajah dilakukan secara sporadis dan tidak dalam


waktu yang bersamaan
c. Perjuangan pada umunya dipimpin oleh pemimpin yang kharismatik

d. Perjuangan menentang penjajah sebelum masa 1908 dilakukan dengan


kekerasan senjata

e. Para pejuang mudah diadu domba sehingga sering terjadi perselisihan antar
pemimpin di Indonesia

Bangsa Indonesia sadar bahwa penjajah yang terorganisasi dengan baik tidak
mungkin dapat dikalahkan oleh perjuangan yang bersifat lokal dan tidak
terorganisasi, oleh karena itu strategi perjuangan baru lebih diorganisasi dengan
baik agar setelah abad ke-20 menggunakan strategi yang baru dan bisa
mengalahkan penjajah.

2. Strategi Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan Barat sesudah


abad ke-20

Perjuangan Bangsa Indonesia pada pada abad 20 ditandai dengan berdirinya


organisasi-organisasi pergerakan.Masa pergerakan nasional (1908 - 1942), dibagi
dalam tiga tahap berikut.

1) Masa pembentukan (1908 - 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo,


Sarekat Islam, dan Indische Partij.

2) Masa radikal/nonkooperasi (1920 - 1930), berdiri organisasi seperti Partai


Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional
Indonesia (PNI).

3) Masa moderat/kooperasi (1930 - 1942), berdiri organisasi seperti Parindra,


Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi
pemuda, dan organisasi perempuan.

1. Budi Utomo (BU)

Pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr.
Sutomo.Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.Pada mulanya Budi Utomo
bukanlah sebuah partai politik.Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia
Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran
di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan
untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertanian,
memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan
bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka
mencapai kehidupan rakyat yang layak.

2. Sarekat Islam (SI)

Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu
koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi,
dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji
Islam.Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak
memiliki anggota yang cukup banyak.Oleh karena itu agar memiliki anggota yang
banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI
diubah menjadi SI (Sarekat Islam).Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh
beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim.
Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam. Latar belakang
ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah:

1.perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina,

2.isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk

menunjukkan kekuatannya.

3.membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.

3. Indische Partij (IP)

IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga


Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi
Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk mengganti Indische Bond yang
merupakan organisasi orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia.Hal ini disebabkan
adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara
keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indo). IP sebagai
organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi
putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka
diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya
makin bertambah kuat.

Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak


kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial.Tindakan ini terlihat
nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan
peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte
(Prancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia
Belanda.Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan
upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia
sebagai penjajahnya.Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari
para pemimpin Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada
sarkastis yang berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang
Belanda. Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap. Menyusul
sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Express tanggal 26
Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran,
kekuatan, dan ketakutan. Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam
Tiga Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker turut mengkritik dalam tulisannya di De
Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto
Mangoenkoesoemoen Soewardi Soerjaningrat,

4. Perhimpunan Indonesia dan Manifesto Politik

Pada tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah organisasi yang bernama Indische
Vereeniging.Pelopor pembentukan organisasi ini adalah Sutan Kasayangan
Soripada dan RM Noto Suroto. Para mahasiswa lain yang terlibat dalam organisasi
ini adalah R. Pandji Sosrokartono, Gondowinoto, Notodiningrat, Abdul Rivai,
Radjiman Wediodipuro (Wediodiningrat), dan Brentel. Tujuan dibentuknya
Indische Vereeniging adalah untuk memajukan kepentingan bersama dari orang-
orang yang berasal dari Indonesia.Kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij seperti
Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sangat mempengaruhi
perkembangan Indische Vereeniging.Masuk konsep “Hindia Bebas” dari Belanda,
dalam pembentukan negara Hindia yang diperintah oleh rakyatnya
sendiri.Perasaan anti-kolonialisme semakin menonjol setelah ada seruan Presiden
Amerika Serikat Woodrow Wilson tentang kebebasan dalam menentukan nasib
sendiri pada negara-negara terjajah (The Right of Self Determination).Dalam
upaya berkiprah lebih jauh, organisasi ini memiliki media komunikasi yang berupa
majalah Hindia Poetra.

5. Partai Komunis Indonesia ( PKI )

Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei
1920.Berdirinya PKI tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet.
Ia bersama teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma,
mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada
tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara
lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain.PKI terus berupaya mendapatkan
pengaruh dalam masyarakat.Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah
melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam.Infiltrasi dapat dengan mudah
dilakukan karena ada beberapa faktor berikut.

a. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda lebih


memberi pengakuan kepada cabang Sarekat Islam lokal.

b. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana anggota SI yang merangkap


anggota ISDV harus keluar dari SI. Akibatnya SI terpecah menjadi SI Merah dan SI
Putih.

6. Partai Nasional Indonesia ( PNI )

Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak berawal dari studie


club.Salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI).Partai Nasional
Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari
keberadaan Algemeene Studie Club.Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi
sosio politik yang kompleks.Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan
semangat untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah
kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto
Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr.
Soenarjo. Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong
oleh faktor-faktor berikut.
a. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.

b. PKI sebagai partai massa telah dilarang.

c. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir.


Soekarno (Bung Karno).

Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan


Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI.Trilogi tersebut mencakup kesadaran
nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional.Tujuan PNI adalah mencapai
Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas
yaitu self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya
terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya
adalah marhaenisme.

7. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia


(PPPKI)

PPPKI dibentuk di Bandung pada tanggal 17 - 18 Desember 1927.

Beranggotakan organisasi-organisasi seperti Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII),


Budi Utomo, PNI Pasundan, Sumatra Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi
Indonesia. Tujuan dibentuknya PPPKI yaitu:

a. Menghindari perselisihan diantara anggota-anggotanya

b. Menyatukan organisasi, arah, serta cara beraksi dalam perjuangan


kemerdekaan Indonesia; dan

c. mengembangkan persatuan kebangsaan Indonesia.

Pembentukan organisasi PPPKI sebagai ide persatuan sejak awal mengandung


benih-benih kelemahan dan keretakan. Berikut ini ada beberapa faktor yang
menyebabkan keretakan tesebut.

a. Masing-masing anggota lebih mementingkan loyalitas pada masing-masing


kelompoknya.
b. Kurangnya control pusat tehadap aktivitas local.

c. Perbedaan gaya perjuangan di antara organisasi-organisasi PPPKI tersebut.

8. Partai Indonesia (Partindo)

Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap pada tahun 1929,
maka PNI pecah menjadi dua yaitu Partindo dan PNI Baru.Partindo didirikan oleh
Sartono pada tahun 1929.Sejak awal berdirinya Partindo memiliki banyak anggota
dan terjun dalam aksi-aksi politik menuju Indonesia Merdeka. Dasar Partindo
sama dengan PNI yaitu nasional. Tujuannya adalah mencapai Indonesia merdeka.
Asasnya pun juga nonkooperasi. Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno
bergabung ke dalamnya pada tahun 1932, setelah dibebaskan dari
penjara.Namun, karena kegiatan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan
pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat.Karena tidak bisa
berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.

9. Partai Indonesia Raya (Parindra)

Salah satu organisasi yang bersifat moderat adalah Partai Indonesia Raya
(Parindra). Parindra didirikan di kota Solo oleh dr. Sutomo pada tanggal 26
Desember 1935. Parindra merupakan fusi dan Budi Utomo dan Persatuan Bangsa
Indonesia (PBI).Tujuan Parindra adalah mencapai Indonesia Raya.

Asas politik Parindra adalah insidental, artinya tidak berpegang pada asas
kooperasi maupun nonkooperasi.Sikapnya terhadap pemerintah tergantung pada
situasi dan kondisi yang dihadapi, jadi luwes.Tokoh-tokoh Parindra yang terkenal
dalam membela kepentingan rakyat di volksraad adalah Moh. Husni Thamrin.
Parindra berjuang agar wakil-wakil volksraad semakin bertambah sehingga suara
yang berhubungan dengan upaya mencapai Indonesia merdeka semakin
diperhatikan oleh pemerintah Belanda.Perjuangan Parindra dalam volksraad
cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah inlandeer menjadi
Indonesier.
10. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)

Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937
oleh orang-orang bekas Partindo. Tokoh-tokohnya antara lain Sartono, Sanusi
Pane, dan Moh. Yamin.Dasar dan tujuannya adalah nasional dan mencapai
Indonesia Merdeka. Gerindo juga menganut asas insidental yang sama dengan
Parindra. Tujuan Gerindo antara lain :

a. Mencapai Indonesia merdeka

b. Memperkokoh ekonomi Indonesia

c. Mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan

d. Memberi bantuan bagi kaum pengangguran

11. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)

Pada tanggal 15 Juli 1936, partai-partai politik dengan dipelopori oleh Sutardjo
Kartohadikusumo mengajukan usul atau petisi, yaitu permohonan supaya
diselenggarakan suatu musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan negara
Belanda di mana anggotanya mempunyai hak yang sama. Tujuannya adalah untuk
menyusun suatu rencana pemberian kepada Indonesia suatu pemerintah yang
berdiri sendiri.Namun usul tersebut ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda.

Tujuan Gapi adalah menuntut pemerintah Belanda agar Indonesia mempunyai


parlemen sendiri, sehingga Gapi mempunyai semboyan Indonesia Berparlemen.
Tuntutan Indonesia Berparlemen terus diperjuangkan dengan gigih. Akhirnya
pemerintah Belanda membentuk komisi yang dikenal dengan nama Komisi
Visman karena diketuai oleh Dr. F.H.Visman. Tugas komisi ini adalah menyelidiki
dan mempelajari perubahan-perubahan ketatanegaraan.Namun, setelah
melakukan penelitian, Komisi Visman mengeluarkan kesimpulan yang
mengecewakan bangsa Indonesia.

12. Organisasi Keagamaan

Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang didirikan di Yogyakarta


pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah
berarti umat Muhammad atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki
harapan dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi
Muhammad. Tujuan yang ingin dicapai adalah

a. Memajukan pengajaran berdasarkan agama islam.

b. Memupuk keimanan dan ketaqwaan para anggotanya.

Dalam rangka mencapai tujuan itu, Muhammadiyah melakukan beberapa upaya


berikut.

a. Mendirikan sekolah-sekolah (bukan pondok pesantren) dengan pengajaran


agama dan kurikulum yang modern.

b. Mendirikan rumah sakit dengan nama Pusat Kesengsaraan Umum (PKU).

c. Mendirikan rumah yatim piatu.

d. Mendirikan perkumpulan kepanduan Hisbul Wathan.

13. Organisasi Pemuda dan Wanita

Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro Dharmo.Organisasi ini
berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta atas petunjuk Budi Utomo.
Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Mereka
mufakat untuk mendirikan organisasi kepemudaan yang anggotanya berasal dari
siswa sekolah menengah di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini diberi nama Tri
Koro Dharmo yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti). Dalam
perkembangannya, Tri Koro Dharmo membuka cabang di Surabaya. Dalam rangka
mengefektifkan perjuangan, diterbitkan sebuah majalah yang juga diberi nama Tri
Koro Dharmo. Berikut ini tujuan Tri Koro Dharmo secara nyata dalam anggaran
dasarnya.
a. Ingin menghidupkan persatuan dan kesatuan, diantara pemuda jawa, sunda,
Madura, Bali, dan Lombok

b. Kerja sama dengan semua organisasi pemuda guna membentuk ke-Indonesia.


Keanggotaannya terbatas pada para pemuda jawa, sunda, Madura, Bali, dan
Lombok.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Perjuangan bangsa pada awalnya sebelum abad 20 masih bersifat kelompok,


kedaerahan yang masih menggunakan fisik tapi setelah dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya kesadaran nasional untuk membebaskan bangsa ini
dari penjajahan bangsa eropa, maka setelah abad ke-20 merupakan perjuangan
yang sudah menunjukkan karakter yang bersifat nasional. Perjuangan nasional
juga dikenal dengan istilah Pergerakan Nasional.

Tak hanya bersifat nasional, tapi bersifat perjuangan diplomasi dan organisasi.
Corak perlawanan berubah dari pola perjuangan fisik (memakai senjata) menjadi
non fisik (diplomasi dan organisasi). Berubahnya corak perlawanan terhadap
penjajah pada masa pergerakan nasional terwujud berkat meningkatnya
pendidikan di masa itu yang kemudian melahirkan kelompok baru, yaitu kaum
intelektual atau golongan terpelajar. Dan kelompok yang sangat berjasa pada
masa perjuangan dari pondok pesantren yang didalamnya para Kiai dan santri.
Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh seluruh Ulama-ulama pada masa itu berhasil
membakar semangat seluruh umat muslim untuk habis-habisan mengusir
penjajah dari Bumi pertiwi ini. Contohnya di Surabaya seandainya pada saat itu
tidak ada perintah jihad dari Bung Tomo yang berhasil membakar seluruh elemen
masyarakat surabaya pada umumnya dan umat islam khususnya. Allahuakbar..
DAFTAR PUSTAKA

Pringgodigdo, A,K, 1966, Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, Jakarta: Pustaka


Rakyat.

Sartono Kartodirdjo, 1970, Sejarah Nasional Indonesia Jilid V, Jakarta:


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sartono Kartodirjo, 1975, Sejarah Nasional Indonesia VI, jakarta: Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan.

Sartono Kartodirdjo, 1992, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan


Nasional Jilid 2, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utam