Anda di halaman 1dari 10

Fase-fase Perang Dingin

1. Periode 1947-1953; Dikeluarkannya Truman Doctrine, pembagian Jerman,


Marshall Plan, kudeta Komunis di Cekoslowakia, Pembelotan Tito, Blokade
Berlin, Pendirian NATO, Kemenangan Komunis di Cina, perang Korea.

2. Periode 1953-1956; Ekspansi NATO, perang di Indocina, pembentukan SEATO


dan METO, krisis di Quemoy dan Matsu, Krisis Suez

3. Periode 1956-1958; Hubungan Amerika-Soviet memanas karena Soviet


melakukan penindasan terhadap revolusi Hongaria, Krisis di Irak, Libanon, dan
Jordania, Krisis Taiwan berlanjut

4. Periode 1958-1962: meningkatnya dukungan Uni Soviet terhadap gerilya


Komunis di Vietnam, Krisis Laos, Kongo, dan Krisis Kuba

5. Periode 1962-1985: Ancaman perang nuklir merebak, Krisis nuklir di Kuba,


Agresi Uni Soviet ke Afganistan

6. Periode 1985-1990: Perang Dingin mereda dengan makin intensifnya


pembicaraan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pasca munculnya
Gorbachev

7. 1991: PERANG DINGIN BERAKHIR

Berlangsungnya perang dingin

Perang Dunia II membawa perubahan yang besar dalam konstelasi kehidupan


masyarakat dunia. Perubahan terjadi dalam pelbagai bidang seperti bidang politik,
ekonomi, dan sosial-budaya. Dalam bidang politik Amerika Serikat dan Uni Soviet
membentuk suatu koalisi militer setela muncul sebagai pemenang Perang Dunia II,
keduanya tampil sebagai negara super power (Adi Daya). Amerika Serikat dan Uni
Soviet kemudian berusaha memegang hegemoni politik di Dunia, keduanya merasa
paling kuat dan berusaha menaruh pengaruh dipelbagai negara di Dunia, khususnya
negara Dunia ke 3 yaitu negara-negara yang berada di kawasan Asia Afrika yang baru
merdeka.
Amerika Serikat semakin memperkuat pengaruhnya dan berupaya menyebarluaskan
paham liberal dengan cara memberikan bantuan ekonomi dan militer terhadap negara
yang hancur akibat Perang Dunia II seperti Turki dan Yunani. Tujuannya adalah untuk
mencegah agar kedua negara tersebut tidak jatuh dalam pengaruh komunisme Uni
Soviet.

Sebagai negara yang secara ekonomi sangat kuat , Amerika Serikat juga memberikan
bantuan kepada negara-negara di kawasan eropa dan asia sehingga lahirnya negara
"Blok Kapitalis" atau "Blok Barat" yang berideologi Liberal-Kapitalis . untuk menangkal
pengaruh komunis maka Amerika serikat dan negara-negara yang tergabung dalam
blok barat mendirikan pakta pertahana militer bersama pada tahun 1949 yang disebut
NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara.

Adapun negara-negara awal yang menjadi anggota NATO adalah Inggris, Irlandia,
Norwegia, Denmark, Belgia, Jerman Barat, Belanda, Luksemburg, Prancis, Portugal,
Kanada, dan Amerika Serikat yang bermarkas pusat di Brussel, Belgia. Uni
Soviet yang juga menjadi pemenang dalam perang Dunia II juga berusaha
menyebarkan pengaruh kepada negara negara yang baru merdeka dengan cara
membentuk Cominfrom atau Organisasi Komunis Internasional untuk dijadikan sebagai
alat propaganda dalam menyebarluaskan pengaruh ideologi komunis ke seluruh dunia,
salah satunya Indonesia.

Untuk mengimbangin kekuatan NATO maka pada tahun 1955 Uni Soviet mendirikan
suatu pakta pertahanan, yaitu Pakta Warsawa yang anggotanya terdiri atas Uni Soviet,
Albania, Bulgaria, Cekoslowakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia, dan Rumania
yang berideologi komunis dengan adanya perebutan pengaruh antara kedua negara
adikuasa tersebut situasi politik di dunia kembali tegang dan mengakibatkan timbulnya
rasa saling curiga dan perlombaan senjata antara antara kedua belah pihak sehingga
masing-masing pihak diliputi susana perang dingin.

Perang dingin adalah perang dalam bentuk ketegangan sebagai perwujudan konflik
antara blok barat dan blok Timur . Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya Perang Dingin , antara lain sebagai berikut .

Penyebab Terjadinya Perang Dingin

Perang Dingin antara Amerika Serikat (US) dan sekutu-sekutunya di satu pihak dan Uni
Soviet (USSR) serta kawan-kawannya di pihak lain berawal dari masalah penyelesaian
Perang Dunia II. Dalam Perang Dunia II tersebut, US dan USSR berada dalam satu
Sekutu dan memenangkan perang terhadap Jerman, Italia, dan Jepang.

Ternyata, kemenangan total Sekutu tersebut tidak diikuti dengan terciptanya


perdamaian sejati. Persekutuan US dan USSR ditandai dengan perbedaan ideologi
yang kontras antara kapitalis-liberalis dan sosialis-komunis. Keduanya berseteru
setelah perang melawan Hitler, Musolini, dan kawan-kawan berakhir. Konferensi antara
Stalin (USSR), Roosevelt (US) dan Churchill (Inggris) yang dikenal dengan The Big
Three atau Tiga Besar yang diselenggarakan di kota Iran, Teheran (Konferensi
Teheran), pada November 1943, merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap
kejadian-kejadian berikutnya. Dalam konferensi tersebut, mereka menyatakan untuk
menghancurkan Jerman dan berusaha mencari strategi militer terbaik.

Pembagian Jerman Hasil Konferensi Postdam (Foto: Alternate History)


Pada Konferensi pasca perang di Postdam (Juli 1945), perbedaan yang berlangsung
lama mengenai Eropa Timur, akhirnya muncul kembal lebih jelas, Presiden US, Harry
S. Truman, memiliki kebijaksanaan berbeda dengan pendahulunya. Dia menginginkan
diselenggarakannya pemilu yang bebas di seluruh negara-negara di Eropa Timur. Stalin
menolak usulan tersebut dengan mengatakan, “Sebuah pemerintahan yang dipilih
secara bebas di Eropa Timur akan membentuk "pemerintahan anti Uni Soviet" dan kami
tidak akan mengizinkannya.”

Perbedaan pandangan antara Uni Soviet dan US dalam Konferensi Posdam tersebut
dianggap sebagai kunci asal mula Perang Dingin. Sikap orang-orang Amerika Serikat
yang dipengaruhi oleh “perang suci” terhadap Hitler dan pandangan politik di Amerika
Serikat yang dipengaruhi oleh jutaan pemilih dari negara-negara Eropa Timur,
menginginkan diadakannya pemilu yang bebas di negara-negara yang telah diduduki
oleh Uni Soviet. Di pihak lain, Stalin yang merasakan dan menyaksikan sendiri
negerinya hancur akibat dua serangan raksasa pasukan Nazi Jerman menginginkan
keamanan militer yang total dari Jerman dan sekutu-sekutu potensialnya di Eropa Timur
untuk selamanya.

Stalin percaya bahwa hanya negara-negara komunis yang dapat menjadi sekutu sejati
bagi Uni Soviet Oleh karena itu, Stalin khawatir bahwa pemilu yang bebas akan
menghasilkan pemerintahan yang bermusuhan dengan USSR di perbatasan sebelah
barat. Sejak pasukan Stalin menduduki negara-negara timur, Stalin merasa harus
konsisten dengan keyakinannya.

Respon dari Amerika Serikat terhadap konsep keamanan Stalin, yang tampaknya
berlebihan, mulai terlihat. Pada Mei 1945, sebelum diselenggarakan Konferensi
Postdam, Truman mengusulkan dihentikannya semua bantuan ke USSR. Pada Oktober
1945, Truman menyatakan bahwa US tidak akan mengakui suatu pemerintahan yang
didirikan dengan paksa dan tidak mengabaikan aspirasi politik rakyatnya.

Pada Maret 1946, mantan PM Inggris, Churchill, ketika mengunjungi Amerikat Serikat,
menyatakan di depan publik Amerika bahwa “Iron Curtain atau Tirai Besi” telah digelar
diseluruh daratan Eropa dengan membagi Jerman dan Eropa ke dalam dua kubu yang
saling berlawanan. Segera setelah itu muncul kembali sikap emosional dan sikap
mencela orang Amerika Serikat terhadap Stalin serta Uni Soviet. Sikap tersebut
kemudian menjadi bagian dari kehidupan politik Amerika Serikat di era Perang Dingin.
Amerika Serikat sendiri meresponnya dengan melakukan mobilisasi dipelbagai bidang
dengan cepat.
Agen-agen intelijen rahasia Stalin diseluruh dunia memanaskan situasi dengan
mengungkapkan pentingnya “perjuangan ideologi melwan imperialisme kapitalis.” Partai
Komunis besar dan terorganisasi dengan baik di Italia dan Perancis mengungkapkan
rencana Amerika Serikat untuk mengambil alih Eropa dan dengan agresif menentang
pemerintahan mereka melalui cara-cara kekerasan dan pemogokan. Uni Soviet juga
melakukan tekanan terhadap Iran yang disokong oleh Rezim Syah Reza Pahlavi dan
Turki yang terlalu pro Amerika. Perang sipil yang disponsori Amerikat Serikat juga
terjadi di Yunani dan Cina. Sejak musim semi 1947, di mata Amerika Serikat, Uni Soviet
telah berusaha mengeskpor komunisme dan melakukan kegiatan subversif ke negara-
negara Eropa Barat.

Untuk menyikapi USSR, Amerika Serikat melalui Doktrin Presiden Truman


melaksanakan politik containing atau pengepungan terhadap komunisme di kawasan
yang sudah dikuasai oleh Tentara Merah. Truman meminta kepada Kongres US untuk
mengirimkan bantuan militer ke Yunani dan Turki. Agar negara-negara Barat tidak jatuh
ke tangan komunis, US juga menawarkan program bantuan ekonomi dan militer kepada
negara-negara Eropa melalui Marshall Plan.

Stalin menolak program bantuan Marshall Plan bagi semua negara-negara Eropa Timur.
Sebagai jawaban terhadap rencana tersebut, Stalin segera membersihkan unsur-unsur
anti komunis dalam tubuh pemerintahan Eropa Timur dengan membentuk sistem
Pemerintahan Soviet, yaitu sistem satu partai komunis. Pendudukan Cekoslovakia pada
Februari 1948, merupakan jawaban Uni Soviet terhadap sikap US.

Pendudukan tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap semakin berkembangnya


komunisme di Eropa yang dimulai dari negara-negara Eropa Timur dan Jerman Timur.
Ketika Stalin memblokade semua lalu lintas barang dabnmanusia dari zona
pendudukan Jerman ke Berlin Barat, Sekutu meresponya degan melakukan “Air Lift
atau Jembatan Udara”, menjatuhkan bahan makanan dan obat-obatan dengan pesawat
terbang ke Berlin Barat. Selama 324 hari “Jembatan Udara” mengangkut berton-ton
bahan makanan dan obat-obatan ke Berlin sebagai bentuk pelaksanaan
politik containing.

Pada 4 April 1949, Amerika Serikat berhasil membujuk negara-negara Eropa Barat
untuk menandatangani pendirian suatu pakta pertahanan yang dikenal dengan
nama North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara.
Anggotanya terdiri atas Inggris, Irlandia, Islandia, Norwegia, Denmark, Jerman Barat,
Belgia, Belanda, Luxemburg, Prancis, Portugal dan Kanada serta Amerika Serikat.
Segera setelah itu pada 1955, Uni Soviet juga mengikat negara-negara satelitnya di
Eropa Timur yang berhaluan komunis dalam Pakta Warsawa. Anggotanya terdiri atas
Unis Soviet, Albania, Bulgaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hongaria, Polandia dan
Rumania. Dengan adanya pakta petahanan, kedua pemimpin blok militer berlomba-
lomba saling mengembangkan senjata, memata-matai dengan intelijen dan
mempertahankan pegaruhnya bersama sekutunya masing-masing yang sengaja
ditujukan untuk menghadapi ancaman NATO.

Dampak Perang Dingin

Dampak Positif
AS menjadi negara pertama yang mendarat di Bulan (SKS UI)
Selama Perang Dingin berlangsung perkembangan IPTEK maju pesat karena kedua
Blok ini banyak melakukan pengembangan dan mempunyai hasil yang sangat bagus
terutama masalah eksplorasi luar angkasa. Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah
periode di mana terjadi konflik, ketegangan, dan kompetisi antara Amerika Serikat
(beserta sekutunya disebut Blok Barat) dan Uni Soviet (beserta sekutunya disebut Blok
Timur) yang terjadi antara tahun 1947-1991.

Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang: koalisi militer; ideologi, psikologi, dan
tilik sandi; militer, industri, dan pengembangan teknologi; pertahanan; perlombaan nuklir
dan persenjataan; dan banyak lagi. Ditakutkan bahwa perang ini akan berakhir dengan
perang nuklir, yang akhirnya tidak terjadi. Istilah "Perang Dingin" sendiri diperkenalkan
pada tahun 1947 oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat untuk
menggambarkan hubungan yang terjadi di antara kedua negara adikuasa tersebut.

1. Bidang Ekonomi

Dalam bidang ekonomi ternyata perang dingin juga membawa dampak positif pada
perekonomian dunia. Baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini ditandai
dengan munculnya negara super power. Dengan adanya negara super power, maka
perekonomian dunia banyak dikuasai oleh para pemegang modal. Mereka saling
berlomba untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara
menginvestasikan modal mereka ke negara-negara berkembang yang upah buruhnya
masih relatif rendah. Sehingga keuntungan mereka juga melambung tinggi.

Namun siapa sangka bahwa hal diatas juga berdampak baik bagi negara yang
ditempati untuk membuka usaha para pemilik modal. Pertumbuhan ekonomi di negara
itu juga akan tumbuh pesat. Jadi keduanya diuntungkan dalam usaha ekonomi ini. Pada
saat itu negara pemilik modal yang berlomba-lomba untuk menguasai dunia
perekonomian, secara tidak langsung juga membawa unsur politik didalamnya.

Sehingga pemilik modal besar mendapatkan keuntungan besar, sementara negara


yang modalnya terbatas keuntungannya juga kecil. Karena itu munculah istilah
globalisasi ekonomi di masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukanlah
beberapa tindakan seperti misalnya menyatukan mata uang. Contoh yang sangat
terlihat adalah negara-negara di kawasan eropa yang menyatukan mata uang mereka
menjadi euro.

2. Bidang Militer

Karena adanya rasa iri di antara negara- negara yang berseteru, masing-masing
negara mulai meningkatkan persenjataannya. Mereka melakukan hal ini agar tidak
kalah dengan negara besar. Dengan begitu persaingan senjata semakin maju dan
berkembang pesat. Itu semua memacu tiap negara untuk terus mengembangkan
pertahanan negaranya masing-masing.

3. Bidang Sosial Budaya

Menyebarnya isu-isu HAM mulai sedikit demi sedikit mengglobal. Secara langsung
adanya undang-undang tentang HAM mulai diakui, karena itu rakyat menyetujui
peresmian HAM itu sendiri. Dengan adanya HAM, rakyat semakin percaya akan adanya
demokrasi dan tidak ada lagi penindasan bagi kaum lemah.
4. Luar angkasa

Perang dingin ini juga membawa pengaruh besar pada perkembangan


keruangangkasaan yang kita miliki. Mungkin jika tidak ada perang dingin, kita tidak
akan tahu bagaimana bentuk tata surya kita. Pada saat itu kedua negara yang
bersengketa saling berlomba-lomba menunjukkan kepada dunia bahwa negara
merekalah yang paling baik dengan menyebarkan doktrin-doktrin yang mereka miliki.
Karena untuk meningkatkan gengsi negara mereka maka mereka sama-sama berlomba
untuk meluncurkan roket ke luar angkasa.

Hasilnya, kita semua menjadi tahu bahwa sebenarnya kita ada pada tata surya apa,
kemudian bagaimana bentuknya. Terlepas dari siapa yang pertama kali mengabarkan
berita ini, namun dengan adanya perang dingin ini secara tidak langsung juga
berdampak pada perkembangan ilmu pendidikan keruang angkasaan kita.

5. Teknologi

Pada masa perang dingin sains dan teknologi yang terpaut dengan kegiatan militer
mendapat sorotan yang lebih dari pemerintah. Pemerintah bersedia mengeluarkan
dana yang besar demi kemajuan iptek di negara mereka.

Pada periode ini tumbuh disiplin-disiplin ilmu yang mempelajari dampak sains pada
masyarakat. Di negara-negara maju, teknologi di era modern bukan lagi urusan individu
atau komunitas berskala kecil. Teknologi modern mempunyai tujuan-tujuan nasional
pada wilayah ideologi, militer, ataupun ekonomi dan bentuk kesadaran nasional untuk
menggali sumber-sumber alam yang ada. Ini juga bertujuan untuk mewujudkan
produksi barang dengan skala yang besar.
Akhir Perang Dingin (1989)

Kedua negara adidaya, AS dan Uni Soviet, mendeklarasikan berakhimya Perang Dingin
setelah berbincang dua hari di Pertemuan Puncak Malta. Pada konferensi pers
bersama yang diadakan di kapal layar Soviet, Maxim Gorky, kedua pihak menyatakan
akan mengurangi jumlah pasukan dan persenjataan di Eropa. Pemimpin Soviet, Mikhail
Gorbachev, mengatakan ia tidak akan pernah menyulut perang terbuka dengan AS.

Sementara itu, Presiden AS George Bush mengatakan kedua pihak dapat


merealisasikan perdamaian dan bekerja sama untuk waktu yang lama. Pertemuan
Puncak Malta merupakan pertemuan terpenting sejak 1945, ketika Churchill, Stalin, dan
Roosevelt menyetujui rencana pascaperang untuk Eropa di Yalta.
Dalam beberapa jam terakhir dari pembicaraan yang dilakukan kedua pemimpin negara
adidaya itu, terjadi perbedaan mengenai kebijakan di Amerika Tengah dan pemotongan
dalam armada laut. Maka, kedua pihak memutuskan melakukan pembicaraan lebih
lanjut pada Juni 1990.