Anda di halaman 1dari 15

SKS 2

STEP 1
1. BAB cair = Kondisi dimana feses yang keluar berbentuk cair
2. Obat Amlodipin = Golongan obat untuk mengatasi hipertensi
3. Turgor kulit = Kondisi kulit yang tak bisa kembali ke posisi semula setelah diberi
perlakuan tertentu
4. Membran mukosa mulut = Lapisan membran untuk absorpsi dan sekresi serta
melicinkan permukaan organ
5. Nyeri ketok CVA dextra (+) = Terdeteksi nyeri ketika mengetuk sudut tulang
costovertebral di sisi kanan
6. Laju filtrasi Glomerulus = Kelajuan rata-rata darah yang melewati dan disaring ginjal
per menitnya
7. Gangguan keseimbangan cairan = Gangguan pada osmolaritas maupun osmolalitas
cairan tubuh
8. Gangguan asam-basa = Gangguan pada distribusi komponen elektrolit dalam tubuh
9. Serum ureum = Sampel urea nitrogen dari sisa metabolisme protein tubuh
10. Kreatinin = Produk sisa metabolisme otot selama kontraksi
11. Massa solid ren = Suatu tonjolan pada ginjal yang cenderung menghambat kerja
ginjal

STEP 2
1. Bagaimana penurunan laju filtrasi Glomerulus bisa terjadi?
2. Apa efek samping pada renal yang dirimbulkan obat Amlodipin?
3. Apa saja produk sisa yang biasanya terdapat pada urin?
4. Mengapa renal dapat dikatakan berperan dalam penghematan gizi dan energi?
5. Apa itu miksi?
6. Hormon-hormon apa saja yang diproduksi di renal?
7. Apakah urolithiasis memiliki kaitan erat dengan sistem intrarenal?
8. Seperti apakah efek samping yang mungkin timbul dari obat-obatan untuk sistem
urinaria?
PEMICU 2 UROGENITAL SYSTEM UCI MING

STEP 1
• Hipertensi: meningkatnya tekanan darah di arteri shg jantung bekerja lebih keras
untuk mengedarkan darah / kondisi tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg
• Amlodipin : obat yang digunakan untuk penderita hipertensi / obat calcium chanel
blocker untuk menurunkan tekanan darah tinggi / cara kerja dengan memasuki
jaringan dan pembuluh arteri tertentu, kmd mengalir ke jantung shg bekerja lebih
efektif
• Turgor Kulit : tanda bahwa seseorang mengalami dehidrasi / tingkat kelenturan kulit
untuk menentukan seseorang kekurangan cairan atau tidak
• Costovertebra angle (CVA) : sudut yg dibentuk pada kedua sisi di bag. Punggung
manusia (diantara costae 12 dan columna vertebralis)
• Kreatinin: Kreatinin adalah molekul limbah kimia hasil metabolisme otot / molekul
penting untuk produksi energi otot / zat yang disaring oleh ginjal untuk dibuang
bersama urine
• Laju Filtrasi Glomerulus (GFR) : laju rata-rata penyaringan darah yang terjadi di
glomerulus
• Ureum : Blood Urea Nitrogen / Kadar urea nitrogen dalam darah

STEP 2 :
1. Bagaimana fungsi ren?
2. Bagaimana fungsi ureter, vesica urinaria, dan urethra?
3. Bagaimana peranan ren dalam keseimbangan cairan dan asam basa? Ada di abstrak
kuliah 7
4. Bagaimana proses patologis sistema urinarium?
5. Bagaimana farmakodinamik dan farmakonkinetik obat pada sistema urinarium? Ada
di buku blok abstrak kuliah 9
6. Apa penyebab naik dan turunnya kreatinin?
7. Faktor resiko terjadinya hipertensi?
8. Apa hubungan hipertensi dan gagal ginjal?
9. Bagaimana farmakokinetik dan farmakodinamik obat amlodipin?
10. Bagaimana penilaian turgor kulit?
11. Mengapa bisa terjadi kenaikan kadar serum ureum dan kreatinin?
12. Mengapa bisa terjadi gangguan cairan elektrolit?
13. Apa itu gangguan asam-basa?

STEP 3 :
1. Bagaimana fungsi ren?
Fisiologi Ginjal
Menurut Guyton dan Hall (2006), ginjal adalah organ utama untuk membuang produk
sisa metabolisme yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh. Produk-produk ini meliputi urea,
kreatin asam urat, produk akhir dari pemecahan hemoglobin. Ginjal tersusun dari beberapa
juta nefron yang akan melakukan ultrafiltrasi terkait dengan ekskresi dan reabsorpsi. Kerja
ginjal dimulai saat dinding kapiler glomerulus melakukan ultrafiltrasi untuk memisahkan
plasma darah dari sebagian besar air, ion-ion dan molekul-molekul.
Fungsi ginjal scr spesifik:
1. Mempertahankan keseimbangan H2O dalam tubuh
2. Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion CES,
termasuk Na+, Cl-, K+,HCO3-, Ca2+, Mg2+, SO42-, PO Bahkan fluktuasi minor pada
konsentrasi sebagian elektrolit ini dalam CES dapat menimbulkan pengaruh besar. Sebagai
contoh, perubahan konsentrasi K jantung yang fatal.+42-, dan H di CES dapat menimbulkan
disfungsi
3. Memelihara volume plasma yang sesuai, sehingga sangat berperan dalam pengaturan
jangka panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai
pengatur keseimbangan garam dan H2O.
4. Membantu memelihara keseimbangan asam–basa tubuh dan
menyesuaikan pengeluaran H + dan HCO 3- melalui urin.
5. Memelihara osmolaritas berbagai cairan, terutama melalui
pengaturan keseimbangan H 2O.
6. Mengekskresikan produk–produk sisa dari metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat,
dan kreatinin. Jika dibiarkan menumpuk, zat–zat sisa tersebut bersifat toksik bagi tubuh,
terutama otak.
7. Mensekskresikan banyak senyawa asing, misalnya obat zat penambah pada makanan,
pestisida, dan bahan–bahan eksogen non nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke dalam tubuh.
8. Mensekresikan eritropoietin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel darah
merah.
9. Mensekresikan renin, suatu hormonn enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting
dalam proses konservasi garam oleh ginjal.
10. Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya (Sherwood, 2001).
Masing-masing ginjal manusia terdiri dari sekitar satu juta nefron yang masing-
masing dari nefron tersebut memiliki tugas untuk membentuk urin. Ginjal tidak dapat
membentuk nefron baru, oleh sebab itu, pada trauma, penyakit ginjal, atau penuaan ginjal
normal akan terjadi penurunan jumlah nefron secara bertahap. Setelah usia 40 tahun, jumlah
nefron biasanya menurun setiap 10 tahun. Berkurangnya fungsi ini seharusnya tidak
mengancam jiwa karena adanya proses adaptif tubuh terhadap penurunan fungsi faal ginjal
(Sherwood, 2001).
Setiap nefron memiliki 2 komponen utama yaitu glomerulus dan tubulus. Glomerulus
(kapiler glomerulus) dilalui sejumlah cairan yang difiltrasi dari darah sedangkan tubulus
merupakan saluran panjang yang mengubah cairan yang telah difiltrasi menjadi urin dan
dialirkan menuju keluar ginjal.
Kapiler-kapiler glomerulus dilapisi oleh sel-sel epitel dan seluruh glomerulus
dilingkupi dengan kapsula Bowman. Cairan yang difiltrasi dari kapiler glomerulus masuk ke
dalam kapsula Bowman dan kemudian masuk ke tubulus proksimal, yang terletak pada
korteks ginjal. Dari tubulus proksimal kemudian dilanjutkan dengan ansa Henle (Loop of
Henle). Pada ansa Henle terdapat bagian yang desenden dan asenden. Pada ujung cabang
asenden tebal terdapat makula densa. Makula densa juga memiliki kemampuan kosong untuk
mengatur fungsi nefron. Setelah itu dari tubulus distal, urin menuju tubulus rektus dan
tubulus koligentes modular hingga urin mengalir melalui ujung papilla renalis dan kemudian
bergabung membentuk struktur pelvis renalis. (Berawi, 2009).
(berdasarkan sumber lain)
Bagian ginjal beserta fungsinya:
1. Korteks renal
Bagian terluar dari ginjal disebut dengan korteks. Bagian ini dikelilingi oleh kapsul renal dan
lapisan lemak yang berfungsi utk melindungi struktur dalam organ dari kerusakan.
2. Medula renal
Medula merupakan jaringan ginjal yang halus. Bagian ini terdiri dari lengkung Henle serta
piramida renal, yaitu struktur kecil yang berisi nefron dan tubulus. Tubulus inilah yang
berfungsi untuk mengangkut cairan yang masuk dan mengeluarkan urine dari renal.
3. Pelvis renal
Pelvis renal adalah bagian terdalam ginjal yang berbentuk corong. Fungsi bagian yang satu
ini adalah sebagai jalur bagi cairan untuk berpindah dari renal menuju kandung kemih. Pelvis
renal terdiri dari dua bagian. Bagian pertama pelvis renal terdiri dari calyces, yaitu ruang
berbentuk cangkir yang berfungsi untuk mengumpulkan cairan sebelum ke kandung kemih.
Selanjutnya, cairan tersebut akan masuk ke hilum, yaitu lubang kecil yang akan mengalirkan
cairan tadi menuju kandung kemih.
Selain bagian-bagian tersebut, ginjal juga terdiri dari nefron. Nefron ini terletak di
sepanjang korteks hingga medula renal. Fungsi nefron itu sendiri adalah untuk menyaring
darah, menyerap nutrisi, dan mengalirkan zat-zat buangan ke urine. Nefron terdiri dari
beberapa bagian, yaitu:
1. Badan malphigi, disebut juga korpus renal. Badan malphigi terdiri dari dua bagian, yaitu
glomerulus atau kumpulan kapiler yang menyerap protein dari darah; dan kapsul Bowman.
2. Tubulus renal, yaitu kumpulan tabung yang menjalar dari kapsul Bowman menuju tabung
pengumpul (tubulus kolektivus). Kumpulan tabung ini terdiri dari tubulus proksimal,
lengkung Henle, dan tubulus distal.
(berdasarkan sumber lain)
1. Korteks
Bagian bagian ginjal manusia yang paling utama adalah korteks. Tempat inilah yang menjadi
muara asalnya urin berasal. Di dalam korteks terdapat jutaan nefron nefron yang di dalamnya
terletak badan Malpighi. Setiap badan Malpighi tersusun atas glomerulus, kapsula bowman,
serta beberapa tubulus tubulus pendukung untuk proses pemfilteran. Darah manusia akan
mulai di filter pada bagian ini. Nefron yang terletak di dalam nefron tersebut memiliki
struktur dan kegunaan sendiri. bagian inilah yang menjadi unit terkecil ginjal, di mana
memiliki fungsional sendiri. berikut adalah bagian bagian di dalam nefron :

2. Nefron
Inilah tempat darah yang ada di dalam tubuh di saring. Di dalam setiap nefron terdapat bagian
bagian penting seperti glomerulus, kapsula bowman, tubulus kontortus proximal, tubulus
kontortus distal, tubulus kolektivus serta lengkung henle.

3. Glomerulus
Pada bagian glomerulus ini darah yang masuk akan di saring zat zat yang masih berguna.
Seperti air, garam, asam amino, glukosa (zat gula), serta urea. Hasil penyaringan dari bagian
ini adalah urin primer.

4. Kapsul bowman
Di namakan sebagai kapsul bowman karena bentuk organ ini mirip seperti kapsul atau
kantung yang mana di temukan oleh peneliti Sir William Bowman. Kapsul bowman ini
membungkus glomerulus.

5. Tubulus kontortus proximal


Di tempat inilah yang menghasilkan urin sekunder. Di dalam tubulus kontortus proximal,
darah yang berasal dari glomerulus melakukan penyerapan kembali. Sebab darah yang sudah
menjadi urin primer ini masih mengandung zat zat yang berguna. Pada proses ini di kenal
dengan nama reabsorpsi atau penyerapan kembali. Tubulus kontortus proximal masih
menerima glukosa, asam amino, air serta garam yang penting untuk tubuh.
6. Lengkung henle
Di namakan dengan lengkung henle karena anatomi organ ini memang melengkung. Struktur
seperti ini memang di perlukan dalam menyaring dan sebagai penghubung antara tubulus
kontortus proximal dengan tubulus kontortus distal.
7. Tubulus kontortus distal
Pada bagian ini, urin yang masih dalam tahap urin sekunder melepas zat zat yang masih
berguna. Lalu mendapat tambahan zat zat sisa atau pembuangan yang tidak berguna. Di
sinilah terbentuknya urin yang sesungguhnya, dimana nantinya di keluarkan ke luar tubuh
manusia

2. Bagaimana fungsi ureter, vesica urinaria, dan urethra?


1. Ureter
Ureter adalah bagian sistem urinaria yang berbentuk saluran kecil yang terdiri dari
banyak otot. Bagian inilah yang membawa urine dari masing-masing ginjal ke kandung
kemih
2.Kandung kemih
Merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai penyalur dan tempat penampungan
air urin sementara sebelum di buang. Di kandung kemih, urin masuk ke dalam kantung yang
mana ketika sudah mulai penuh akan mengirimkan sinyal sinyal dari bagian otot dan syaraf
yang di lanjutkan ke otak. Nantinya akan muncul respond an hasrat ingin ‘pipis’. Otot akan
menahan air tersebut keluar, sampai individu tersebut menemukan tempat yang pas untuk
membuang air kencing. Jika air urin yang ada di dalam tubuh sudah mencapai batas
maksimal, otot tidak akan mampu untuk menahan kontraksi tersbut. Maka mau tidak mau
akan keluar dengan sendirinya.
3.Uretra
Merupakan saluran yang menyampungkan antara kandung kemih dengan lingkunga di
luar tubuh. Uretra inilah merupakan satu satunya jalan air urin jeluar dari tubuh manusia.
Selain berguna sebagai alat sistem ekskresi, uretra juga berperan dalam sistem seksual
manusia.

4.Bagaimana proses patologis sistema urinarium?

PENYAKIT2 YANG SERING DAN PENYAKIT2 YANG BERSIFAT SERIUS PADA


SISTEM URINARIA DAN SISTEM UROGENITAL PRIA
Infeksi bakterial
- Merupakan problem yang paling sering terjadi pada ginjal dan tr.urinarius bagian
bawah
1. infeksi vesica urinaria (cystitis)
Sering terjadi pada wanita oleh karena bakteri pada perineum mudah mencapai akses
ke vesica urinaria melalui urethra yang pendek
2. prostatitis
Sering pada pria muda
3. Hipertrofi Prostat
Sering pada pria lanjut usia
obstruksi urethra  infeksi vesica urinaria infeksi ginjal
4. Renal calculi/batu ginjal
Sering terdapat pada orang dewasa

5. Penyakit2 glomerulus renalis


Merupakan kausa utama dari kegagalan ginjal kronis (chronic renal failure)
6. Karsinoma sel2 transisional pada vesica urinaria dan adenokarsinoma Prostat
Relatif sering pada individu2 tua
7. Kanker ginjal dan testis jarang
(berdasaran sumber lain, buat dibaca-baca aja sapa tau perlu hehe)
1. LOWER URINARY TRACT SYMTOMPS
Gejala berkemih mencakup aliran urin yang lemah, keraguan, dan tidak lengkap
mengosongkan atau mengejan dan biasanya karena pembesaran kelenjar prostat. Gejala
penyimpanan meliputi frekuensi, urgensi dan nokturia dan mungkin karena aktivitas yang
berlebihan otot detrusor. Pada pria lansia yang hadir dengan gejala saluran kemih bawah,
indikasi untuk rujukan awal untuk ahli urologi termasuk hematuria infeksi berulang, batu
kandung kemih, retensi urin dan gangguan ginjal. Dalam kasus tanpa komplikasi, medis
terapi dapat dilembagakan dalam pengaturan perawatan pertama. Pilihan untuk terapi medis
termasuk alpha blocker untuk mengendurkan otot polos prostat, inhibitor 5 alfa reduktase
untuk mengecilkan prostat, dan antimuscarinik untuk mengendurkan kandung kemih.
2. BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH)
BPH yaitu sebenarnya merupakan istilah histopatologis, yaitu terdapat hiperplasia sel-
sel stroma dan sel-sel epitel kelenjar prostat. Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada
hormon testosterone, yang di dalam sel kelenjar prostat, hormon ini akan dirubah menjadi
metabolit aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5a-reduktase.
BPH banyak menyerang pria lanjut usia (>80tahun), sehingga akan menimbulkan
gangguan miksi (berkemih).
Patofisiologi : Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan, efek perubahan
juga terjadi perlahan. Pada tahap awal pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen
uretra pars prostatika. Keadaan ini menyebabkan tekanan intravesikal meningkat, sehingga
untuk mengeluarkan urin, kandung kemih harus berkontraksi lebih kuat untuk melawan
tahanan tersebut. Kontraksi yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik yaitu
hipertrofi otot detrusor. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi dinding
otot. Apabila keadaan berlanjut, otot detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi.
3. Untuk lebih lengkap lagi baca di abstrak buku blok kuliah 9

7. Apa faktor resiko terjadinya hipertensi?


Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih
dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan
darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan
pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke);
Faktor resiko hipertensi dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu:
1. Faktor risiko yang tidak dapat diubah
Faktor risiko yang melekat pada penderita hipertensi dan tidak dapat diubah, antara lain:
umur, jenis kelamin, dan genetik.
2. Faktor risiko yang dapat diubah
Faktor risiko yang diakibatkan perilaku tidak sehat dari penderita hipertensi antara lain
merokok, diet rendah serat, konsumsi garam berlebih, kurang aktifitas fisik, berat badan
berlebih/kegemukan, konsumsi alkohol, dyslipidemia dan stress.
• Faktor Keturunan
Hipertensi ternyata bisa diturunkan dari orang tua ke anaknya. Jika kedua orang tua Anda
memiliki riwayat hipertensi maka kemungkinan Anda juga berisiko mengalaminya.
• Usia
Usia yang makin bertambah biasanya membuat daya tahan tubuh menurun. Kondisi tubuh
yang makin tua ternyata bisa memicu serangan hipertensi. Makin tua usia Anda maka
pembuluh darah akan berkurang elastisitasnya sehingga pembuluh darah cenderung
menyempit. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat.
• Gender
Meski bisa dialami siapa saja namun pada usia 45 tahun pria lebih berisiko mengalami
tekanan darah tinggi. Pada usia 45 sampai 64 tahun pria dan wanita memiliki tingkat risiko
yang sama. Namun, jika di atas usia itu, wanita lebih berisiko.
• Kurang gerak
Kegiatan pasif seperti duduk atau tidur terlalu lama ditambah kurangnya olahraga cenderung
meningkatkan risiko penyempitan atau penyumbatan di pembuluh darah.
• Pola makan
Makanan yang Anda konsumsi sehari-hari bisa menjadi pemicu munculnya hipertensi. Jadi,
mulai sekarang hindari makanan tinggi kalori, gula, lemak, dan garam. Perlu diketahui bahwa
makanan bergaram bisa menahan banyak cairan dalam tubuh sehingga dapat meningkatkan
tekanannya.
• Stres
Stres tak hanya bisa merusak mood. Saat dilanda stres produksi hormon adrenalin akan
maningkat sehingga jantung memompa darah lebih cepat, akibatnya tekanan darah
meningkat. Selain itu, pada saat stres biasanya pilihan makanan kita kurang baik. Kita akan
cenderung melahap apa pun untuk merilekskan diri, dan itu bisa berdampak secara tidak
langsung pada tekanan darah kita.
Ada pun klasifikasi hipertensi terbagi menjadi:
Berdasarkan penyebab
a. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial Hipertensi yang penyebabnya tidak
diketahui (idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hid up seperti kurang
bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar 90% penderita hipertensi.
b. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi,
penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan
hormonal atau pemakaian obat tertentu (misalnya pil KB).

8. Apa hubungan hipertensi dengan gagal ginjal?


Hipertensi merupakan keadaan tekanan darah berada di atas batas normal, yaitu di
atas 120/80. Peningkatan tekanan darah berkepanjangan akan merusak pembuluh darah di
sebagian besar tubuh. Pada ginjal terdapat jutaan pembuluh darah kecil yg berfungsi sebagai
penyaring guna mengeluarkan produk sisa darah. Jika pembuluh darah di ginjal rusak, maka
kemungkinan aliran darah berhenti membuang limah dan cairan esktra dari tubuh.
(jawaban dari sumber lain)
1. Hipertensi menyebabkan kerusakan pada arteri, yang merupakan salah satu
komponen penting pada ginjal
Darah yang akan disaring oleh ginjal dialirkan melalui pembuluh darah yang berada
di sekitar ginjal, dan banyak sekali darah yang mengalir di pembuluh darah ini. Seiring
berjalannya waktu, kalau hipertensi tidak terkontrol, maka akan menyebabkan arteri di sekitar
ginjal ini menyempit, melemah, dan mengeras. Kerusakan pada arteri ini menghambat darah
yang diperlukan oleh jaringan pada ginjal.
2. Kerusakan pada arteri nefron mengakibatkan darah tidak tersaring dengan baik
Ginjal terdiri dari berjuta-juta nefron yang berfungsi sebagai unit penyaringan pada
ginjal. Nefron ini menerima suplai darah melalui pembuluh darah kapiler. Kalau arteri ini
rusak, maka nefron tidak menerima oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan. Hingga akhirnya,
ginjal kehilangan kemampuannya untuk menyaring darah dan mengatur cairan, hormon,
asam, dan garam.
3. Kerusakan pada ginjal mengakibatkan terganggunya pengaturan tekanan darah
Ginjal yang sehat biasanya memproduksi hormon yang dapat membantu tubuh
mengatur tekanan darah. Kerusakan pada ginjal dan tekanan darah yang tidak terkontrol
masing-masing menyebabkan dampak negatif satu sama lain. Dengan arteri yang mengalami
gangguan dan berhenti berfungsi, maka ginjal akan mengalami gagal ginjal. Proses ini dapat
terjadi bertahun-tahun.
(berdasarkan sumber lain lagi)
Jika penyempitan pembuluh darah terjadi pada ginjal, tentu akan terjadi kerusakan
ginjal yang berakibat kepada penyakit gagal ginjal.
Hipertensi pada dasarnya merusak pembuluh darah. Jika pembuluh darahnya ada pada
ginjal, tentu ginjalnya yang mengalami kerusakan. Belum lagi salah satu kerja ginjal adalah
memproduksi enzim angio tension. Selanjutnya diubah menjadi angio tension II yang
menyebabkan pembuluh darah mengkerut atau menjadi keras. Pada saat seperti inilah terjadi
hipertensi.
Hipertensi bisa berakibat gagal ginjal. Sedangkan bila sudah menderita gagal ginjal
sudah pasti terkena hipertensi. Bahkan hipertensi pada gilirannya menjadi salah satu faktor
risiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis (pasien ginjal yang menjalani terapi
pengganti ginjal dengan cara cuci darah/hemodialisis di rumah sakit).
Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala
munculnya penyakit pada ginjal. Beberapa gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah
urine atau sulit berkemih, edema (penimbunan cairan) dan meningkatnya frekuensi berkemih
terutama pada malam hari.
Bila sudah dinyatakan gagal ginjal tahap akhir, maka pasien harus menjalankan terapi
pengganti ginjal seumur hidupnya. Ada 3 jenis terapi pengganti pengganti ginjal yaitu
Transplantasi (cangkok ginjal), Hemodialisis (sering disebut cuci darah), Peritoneal
Dialisis (CAPD = continous ambulatory peritoneal dialysis).

9. Bagaimana farmakodinamik dan farmakokinetik obat amlodipine?


Farmakodinamik
Amlodipine merupakan golongan penghambat kanal kalsium generasi kedua dari
kelas 1,4 dihidropiridin (DHP). DHP bekerja dengan mengikat situs yang dibentuk dari residu
asam amino pada dua segmen S6 yang berdekatan dan segmen S5 diantaranya dari kanal
kalsium bermuatan di sel otot polos dan jantung. Ikatan tersebut menyebabkan kanal kalsium
termodifikasi ke dalam kondisi inaktif tanpa mampu berkonduksi (nonconducting inactive
state) sehingga kanal kalsium di sel otot menjadi impermeabel terhadap masuknya ion
kalsium.
Hambatan terhadap influks ion kalsium ekstraseluler tersebut menyebabkan terjadinya
vasodilatasi, penurunan kontraktilitas miokard, dan penurunan tahanan perifer.
Amlodipine memiliki afinitas lebih tinggi pada kanal kalsium yang terdepolarisasi.
Sel otot polos vaskuler memiliki potensial membran yang lebih terdepolarisasi dibandingkan
sel otot jantung sehingga efek fisiologis amlodipine lebih nyata di jaringan vaskuler
dibandingkan di jaringan jantung[3-5].
Farmakokinetik
Aspek farmakokinetik amlodipine mencakup aspek absorbsi, distribusi, metabolisme,
dan ekskresi obat.
• Absorpsi
Amlodipine cepat diserap menyusul konsumsi oral dengan bioavailabilitas hingga mencapai
64%. Konsentrasi amlodipine dalam plasma mencapai puncaknya 6-12 jam setelah
dikonsumsi setelah melalui metabolisme di hati.
Kadar plasma semakin meningkat dengan penggunaan amlodipine jangka panjang
sehubungan dengan masa paruh eliminasi yang panjang (35-48 jam) dan efek saturasi
metabolisme hepatik. Kadar plasma ini akan stabil setelah pemberian amlodipine secara rutin
selama 7-8 hari.
• Distribusi
Mengingat volume distribusinya yang besar (21,4±4,4 L/kg), amlodipine terdistribusi masif
ke kompartemen jaringan. 93-98% amlodipine dalam plasma terikat dengan protein.
• Metabolisme
Amlodipine dimetabolisme di hati menjadi bentuk metabolit inaktifnya. Metabolit amlodipine
tidak memiliki aktivitas antagonis kalsium dan hanya sedikit bentuk obat asli yang
diekskresikan melalui urin.
• Eskresi
Sebagian besar metabolit amlodipine (62% dosis yang dikonsumsi) diekskresikan melalui
urin dan sisanya melalui feses. Terkait besarnya proporsi metabolit yang diekskresikan
melalui urin, pada pasien usia lanjut, bersihan amlodipine dapat mengalami penurunan
sehingga diperlukan penyesuaian dosis

10. bagaimana penilaian turgor kulit?


Turgor kulit dpat dikaji dengan observasi dan palpasi. Apabila turgor kulit jelek, maka
menunjukkan adanya :
• Kurang cairan atau menurunnya jaringan lemak subkutan
• Berat badan menurun, dan aging menyebabkan kuklit tdk elastis. Untuk mengetahui
turgorkulit, dilakukan dg cara mencubit kulit di area tertentu
- Normal : jika segera kembali
- Abnormal : lambat, tidak kembali menunjukkan adanya dehidrasi
- Edema : di palpasi terdapat lekukan

11. Mengapa bisa terjadi kenaikan kadar serum ureum dan kreatinin?
Kreatinin adalah molekul limbah kimia hasil metabolisme otot, molekul penting untuk
produksi energi otot. Zat yang mengalir melalui pembuluh darah ini disaring oleh ginjal
untuk kemudian dibuang bersama urine. Kreatinin menjadi indikator baik tidaknya fungsi
ginjal, karena organ inilah yang menjaga agar kreatinin tetap berada pada kadar normal.
Peningkatan kadar kreatinin adalah salah satu penanda terganggunya fungsi ginjal atau
terjadinya penyakit ginjal.
Pengukuran atau tes kadar kreatinin bersamaan dengan komponen lain seperti Basal
Urea Nitrogen (BUN) penting dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal dan perlu dilakukan
secara teratur. Ginjal yang sehat mampu menjaga kadar kreatinin darah dalam batas normal.
Semakin tinggi kadar kreatinin, maka semakin mengarah pada kemungkinan terjadinya
gangguan pada ginjal. Pemeriksaan kreatinin juga penting dilakukan untuk menilai respon
terapi pada penyakit ginjal.
Kadar normal kreatinin untuk pria dewasa kira-kira adalah 0,6-1,2 miligram per
deciliter (mg/dL) dan 0,5-1,1 mg/dL untuk wanita dewasa. Rentang ini bisa bervariasi pada
tiap laboratorium. Kelompok orang yang biasanya memiliki kadar kreatinin lebih tinggi
namun masih dalam rentang normal adalah orang dewasa muda atau mereka yang memiliki
tubuh berotot. Peningkatan kadar kreatinin dapat disebabkan oleh kondisi atau penyakit
tertentu, seperti hipertensi. Kadar kreatinin yang tinggi menandakan bahwa ginjal orang
tersebut telah rusak berat
Sebaliknya, kadar kreatinin mungkin lebih rendah dari umumnya pada orang yang
mengalami malnutrisi, penyakit kronis, dan penurunan berat badan drastis, serta lansia.
(berdasarkan sumber lain)
Peningkatan kadar ureum darah bergantung pada tingkat kerusakan GFR. Pada GFR
sebesar 60%, pasien masih belum merasakan keluhan tapi sudah terjadi peningkatan kada
urea dan kreatinin serum. Pada GFR 30%, mulai terjadi keluhan seperti nokturia, badan
lemah, mual, nafsu makan kurang, dan penurunan berat badan. Pada GFR kurang dr 30%,
pasien memperlihatkan gejala dan tanda uremia yang nyata, sepertianemia, peningkatan
tekanan darah mual, dsb.

12.Mengapa bisa terjadi gangguan elektrolit?


Gangguan elektrolit adalah kondisi saat kadar elektrolit di dalam tubuh seseorang
menjadi tidak seimbang, bisa terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ketidakseimbangan kadar
elektrolit bisa menimbulkan berbagai gangguan pada fungsi organ di dalam tubuh
Gangguan elektrolit umumnya disebabkan karena kehilangan cairan tubuh mel derita
alui keringat berlebih, diare atau muntah yang berlangsung lama, atau karena luka bakar.
Obat-obatan yang dikonsumsi juga bisa menyebabkan seseorang mengangguan elektrolit.
Natrium adalah elektrolit yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh
dan membantu mengatur fungsi saraf dan kontraksi otot. Kondisi kelebihan natrium
(hipernatremia) dalam darah umumnya disebabkan oleh kurangnya konsumsi
air, dehidrasi berat, hilangnya cairan tubuh karena demam, diare, muntah, penyakit
pernapasan, keringat berlebihan karena olahraga, dan konsumsi obat kortikosteroid.
Salah satu faktor resiko terjadinya gangguan elektrolit adalah penderta penyakit
ginjal, karena kelebihan elektrolit dapat memperberat kerja ginjal dan menyebabkan gagal
ginjal, sedangkan kekurangan elektrolit dapat menyebabkan kejang,koma, hingga henti
jantung

13.Apa itu gangguan asam basa?


Gangguan keseimbangan asam basa adalah kondisi ketika kadar asam dan basa dalam
darah tidak seimbang. Asidosis dan alkalosis yang disebabkan oleh gangguan pada paru-paru
atau pernapasan disebut dengan asidosis respiratorik dan alkalosis respiratorik.
Asidosis dan alkalosis juga dapat terjadi ketika produksi asam basa dalam tubuh tidak
seimbang atau bisa juga terjadi akibat ginjal tidak bisa membuang kelebihan asam atau basa
dari dalam tubuh. Asidosis dan alkalosis yang terjadi akibat dua kondisi di atas disebut
asidosis metabolik dan alkalosis metabolik.
Asidosis metabolik terjadi ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak asam, atau saat
ginjal hanya mampu membuang sedikit asam melalui urine.
Alkalosis metaboli terjadi jika kandungan asam tubuh terlalu rendah, sehingga tubuh
lebih banyak mengandung basa. Kondisi ini dapat disebabkan karena muntah yang berlebihan
dan berkepanjangan hingga kehilangan elektrolit (terutama klorida dan kalium), konsumsi
obat tertentu yang berlebihan (diuretik, antasida, atau obat pencahar), penyakit kelenjar
adrenal, konsumsi bikarbonat, serta kecanduan alkohol.
KULIAH 5
KULIAH 6
KULIAH 7
KULIAH 8
KULIAH 9