Anda di halaman 1dari 1

Metodologi

Penelitian yang dilakukan pada tanggal 11 Juli 2018 di Desa Serang, Kabupaten Purbalingga ini
menggunakan pendekatan kualitatif.Data berasal dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen-
dokumen resmi (Moleong, 2004). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi non partisipatif dan
wawancara dengan narasumber. Hasil penelitian kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui
eksistensi stroberi sebagai ikon agrowisata, tantangan-tantangan yang dihadapi, dan strategi-strategi yang
telah dilakukan guna mengatasi tantangan-tantangan yang ada.

Pembahasan
Gambaran umum dan sejarah agrowisata stroberi Desa Serang
Desa Agrowisata Serang merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Karangreja,
Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Wilayahnya merupakan daerah dataran tinggi lerang gunung
Slamet dengan ketinggian sekitar 650–1.300 mdpl, serta curah hujan sekitar 6,240 mm dengan suhu rata-rata
20°C. Desa ini berjarak sekitar 25 km dari pusat Kabupaten Purbalingga.

Pada tahun 2009, sebuah lokasi di Desa Serang ini hanyalah hamparan rerumputan dan alang-alang. Dengan
gigihnya Sugito, Kepala Desa Serang yang didukung penuh petani stroberi di wilayah itu kemudian
menyulap wilayah ini menjadi rest area yang nyaman dengan pemandangan Gunung Slamet yang elok
menawan.

Berbagai sarana penunjang juga melengkapi kawasan agrowisata ini seperti flying fox, wisata berkuda, kids
farmer, tracking, camping ground dan sarana outbound lainnya. Warung-warung pun berbaris rapi dan
langsung menghadap Gunung Slamet. Saat ini masyarakat mengenalnya sebagai D’LAS (Desa Agrowisata
Lembah Asri Serang). Tarif memasuki kawasan agrowisata ini sangat terjangkau. Cukup Rp 5000 untuk
parkir mobil, Rp 2000 untuk sepeda motor, dan 15000 setiap orang dewasa. Agrowisata ini dapat diakses
dengan cukup mudah karena didukung juga oleh jalan aspal sepanjang jalan menuju lokasi yang juga telah
mengalami pelebaran 2 meter untuk memberi akses lebih baik bagi kendaraan yang lebih besar.