Anda di halaman 1dari 1

Eksistensi stroberi sebagai ikon agrowisata Desa Serang

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Suroso selaku Kaur Keuangan Desa Serang, berdirinya
agrowisata stroberi berawal dari Bapak Sugito, SE yang mempunyai insting bisnis yang tajam, yang dapat
melihat potensi Desa Serang dengan keunikan wilayahnya untuk dapat dikembangkan sebagai desa
agrowisata stroberi. Sejak tahun 2009, Bapak Sugito mulai mengenalkan stroberi sebagai komoditas yang
menjanjikan keuntungan lebih bagi petani setempat. Akhirnya dengan dukungan masyarakat desa, sekitar 20
Ha lahan di Desa Serang menjadi kebun stroberi.

Pada perkembangannya, masyarakat juga tertarik untuk menjadikan kebun stroberi mereka sebagai wisata
kebun petik. Keuntungan yang diperoleh dari kebun petik lebih banyak dibandingkan dengan petani stroberi
biasa. Jika harga jual stroberi dari petani biasa mencapai 10.000/Kg, petani stroberi petik melalui kerja sama
dengan rest area D’LAS dapat memperoleh harga jualsekitar 80% lebih besar. Puncak dari perkembangan
agrowisata stroberi ini berlangsung sekitar tahun 2014-2015, dengan produksi stroberi mencapai 1 ton per
harinya.

Stroberi bagi Desa Serang tidak hanya sekedar komoditas unggulan desa, melainkan juga berperan sebagai
ikon wilayah agrowisata yang memberi warna bagi kehidupan masyarakat. Patung Stroberi raksasa yang
menyambut pengunjung sejak pintu gerbang kawasan agrowisata, penginapan dan tempat kuliner bernuansa
stroberi adalah beberapa hal bernuansa stroberi yang sudahtidak asing lagi ditemui di kawasan ini.