Anda di halaman 1dari 151

DAFTAR ISI

Histologi Organ Feminime ( Dra. Iriani )……………………………………………2


Anatomi Sistem Reproduksi ( dr. Alfaina)…………………………..……………18
Fisiologi Reproduksi Perempuan ( dr. Zulkhah )……………………..…………28
Kehamilan ( dr. Ivana )…………………………………………………………………..41
Anatomi Sistem Urinaria ( dr. Sagiran )……………………………………………45
Histologi Sistem Urinaria ( bu Yuning )…………………………………………….55
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat ( dr. Titiek )…………64
Histologi Organ Masculina ( dr. Sherly )……………………………………………73
Fisiologi Reproduksi Laki-Laki ( dr. Ikhlas )……………………………………….91
Gangguan Asam Basa ( dr. Ardi )……………………………………………………114
Fisiologi Cairan Tubuh ( Dr. Tri Pitara )…………………………..………………120
Metabolisme Air dan Elektrolit ( dr. Ika )……………………………..…………126
Fisiologi Ginjal dan Berkemih ( dr. Ratna )……………………………..………138

-- BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIIM--
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

HISTOLOGI GENITALIA FEMININA


Dra. Idiani Darmawati, M.Sc

Editor : Atayo
Layouter : Alifia F. A.

Gambaran umum : Sistem Reproduksi Wanita

KOMPONEN SISTEM
■ Ovarium (indung telur) Fungsi utama reproduksi wanita :
■ Tuba uterina (tubaFalopii/oviduct) 1. Menghasilkan gamet betina, yaitu ovum,
■ Uterus (rahim) melalui proses oogenesis
■ Vagina 2. Menerima gamet jantan, yaitu spermatozoa
■ Apparatus genitalia externa
3. Menyediakan lingkungan yang sesuai untuk
organ genitalia feminina dibagi menjadi 2 : pembuahan ovum oleh spermatozoa
1. organa genitalia externa 4. Menyediakan lingkungan yang sesuai untuk
a. Labium mayus perkembangan janin
b. Labium minus
5. Merupakan alat untuk mengeluarkan janin
c. Klitoris
d. himen matang ke lingkungan luar
2. oragana genitalia interna 6. Nutrisi untuk bayi baru lahir
a. Ovarium
b. Tuba Uterina Fallopii
c. Uterus
d. Vagina
3. Organ lain
a. Kelenjar Mammae
b. Kelenjar endokrin
i. Hipofisis
ii. Hipotalamus

2
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

PENDAHULUAN
Sistem reproduksi wanita
o Mengalami perubahan pada masa pubertas (Diinisiasi oleh menarche)
o Mengalami siklus bulanan (siklus menstruasi) hingga akhir masa reproduksi
dikenal sebagai menopause
■ terjadi setiap 28-35 hari
■ perubahan struktur dan kegiatan setiap organ terutama ovarium dan uterus
■ dikendalikan oleh hormon hipofisis
1. FSH (‘Folikel Stimulating Hormone’) dan LH (‘Luteinizing Hormone’).
a. mempengaruhi ovarium
b. mengatur pertumbuhan dan perkembangan folikel
c. Mengatur produksi hormon estrogen dan progesteron yang
mengendalikan siklus haid
2. mempengaruhi produksi gonadotrophin (hormon hipofisis yang memicu
pertumbuhan dan kegiatan gonad, yaitu FSH dan LH)
a. melalui mekanisme umpan balik negatif

organ reproduksi dalam lateral organa genitalia feminina

3
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

A. ORGAN GENITALIA INTERNA

Female Reproductive Organ

1. Ovarium
tempat beekembangnya gamet betina atau sel telur.
Terdiri dari lapisan (dalam-keluar)
 Epitel Germinal : melapisi seluruh permukaan ovarium dengan epitel selapis
kuboid (visceral peritoneum).
 Tunica Albuginea : kapsul dari jaringankonektif yang tersusun atas jaringan ikat
kolagen padat.
 Cortex : dalam tunica, mengandung folikel (tempat terbentuknya sel-sel gamet).
 Medulla : bagian paling dalam, tdd conective tissue, pembuluh darah, dan
pembuluh limfe.
Cortex dan medulla batasnya tidak jelas.

4
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

Bagiannya ovarium :
 cortex : tempat berkembangnya
folikel. Terdapat
o sel telur primordial (satu lapis
folikel pipih satu lapis, di tepi
ovarium)
o sel telur primer unilaminer
(sel telur dikelilingi sel-sel
folikel kuboid selapis, mulai
terbentuk zona pellucida)
o sel telur primer multilaminer
(sel telur dikelilingi sel-sel
folikel kuboid lebih dari 1
lapis, zona pellucida
berkembang)
o sel telur sekunder (terbentuk
anthrum foliculi lebih dari 1 –
berupa liquor untuk memberi
makan sel telur yang sedang
berkembang)
o sel telur mature atau masak
(anthrum folikel bergabung
menjadi satu besar, sel
granulosa dekat sel telur
membentuk cumulus
oophorus yaitu tangkai yang
membuat sel telur ga lepas)
o Folikel atretis :
Folikel yang berdegenerasi
pada stadium apapun baik itu
degenerasi ovum maupun
sel-sel granulosa.
o setelah masak keluar dari
ovarium, setiap siklus keluar
1 ovum
keterangan :
 zona pellucida : pelindung sel telur nonseluler
 corona radiata : pelindung sel telur seluler
 setelah ovulasi, sel telur keluar dan ditangkap oleh fimbrae. Bagian selain sel
telur tertinggal di ovarium akan membentuk corpus luteum yang
selanjutnya menjadi corpus albicans.

 Corpus luteum :
Disusun oleh
 sel-sel lutein granulosa (modifikasi sel-sel granulosa)
 banyak mengandung SER (smooth endoplasmic reticulum),
RER (rough ER) mitochondria, Golgi complex dan tetes lipid
 Turunan sel-sel granulosa

5
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

 Menghasilkan hormon progesteron dan relaxin


 Besar ukuran (φ 30μm) pucat
o Sel-sel lutein theca (modifikasi sel-sel theca interna)
o Berukuran kecil (φ 15 μm) dan terletak didaerah pinggiran
corpus luteum
o Berasal dari sel-sel teka interna
o Menghasilkan sedikit estrogen
 Corpus albicans :
Sisa corpus lutein yang berdegenerasi berupa jaringan parut kecil di
permukaan ovarium. Jumlahnya meningkat dengan usia, sering tampak
menempari seluruh jaringan stroma ovarium
 medula : tidak terdapat sel telur. Mengandung pembuluh darah, pembuluh linfa,
serat saraf, dan jaringan ikat longgar

Gambar Histologi : ovarium


Oogenesis

Figure 23—7. Photomicrograph of a


preantral ovarian follicle formed by an
oocyte and several layers of granulosa
cells. The oocyte is surrounded by the
zona pellucida. Picrosirius-hematoxylin
(PSH) stain. Medium magnification.

Folliculus secundarius

6
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

Folliculus secundarius

Figure 23—9. Photomicrograph of part of an antral follicle. Cavities (A) that appear in the
granulosa layer will fuse and form one large cavity, the antrum. The oocyte is surrounded by
the zona pellucida. Granulosa cells (G) surround the oocyte and cover the wall of the follicle.
A theca can be seen around the follicle. H&E. Medium magnification.

Folliculus de graaf

Figure 23—10. Photomicrograph of an antral follicle showing the oocyte surrounded by the
granulosa cells of the corona radiata and supported by the cells of the cumulus oophorus.
The remaining granulosa cells form the wall of the follicle and surround the large antrum. A
theca surrounds the whole follicle. PT stain. Medium magnification.

7
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

a. gambar tahapan oogenesis b. gambar perkembangan folikel

2. Tuba Uterina
Lamina propia berkelok-kelok
membentuk plica mucosa, main
proximal makin dikit lipatannya
Dibagi menjadi 4 daerah
 Infundibulum dengna fimbrae
 Ampulla (tempat fertilisasi)
 Isthmus
 Bagian intramural uterus atau
pars interstitialis
Tersusun atas 3 lapis
 Tunica mucosa : epitel kolumner 1 lapis, epitel ada yang bersilia dan tidak.
Yang bersilia untuk mempercepat dan membantu pergerakan sel telur ke
uterus, sedangkan yang ngga bersilia berfungsi untuk mengeluarkan sekret
nutrisi untuk sperma dan embrio (bersifat sel kelenjar)
 Tunica muscularis : tersusun atas stratum longitudinal eksterna, stratum
longitudinal interna, dan stratum circulare (dalam). Untuk motilitas ovum
atau embrio ke uterus.
 Tunica adventitia atau serosa : vaskular . tersusun oleh epitel simplex
swuamosum dengan jaringan ikat di bawahnya
Peristiwa yang terjadi pada oviduct
Oosit ditangkap fimbrae masuk ke tuba. Kemudian telur dipindahkan sepanjang
saluran melalui gerakan cilia dan peristaltik tuba. Setelah sperma bertemu
dengan oosite di ampula akan terjadi fertilisasi ±24 jam setelah ovulasi (ampulla
& infundibulum). Selanjutnya, zygote mencapai uterus dalam 1 minggu setelah
ovulasi.

8
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

3. Uterus
berfungsi sebagai tempat implantasi dan pemberian makanan ovum yang telah
mengalami fertilisasi.
Dinding uterus :
 endometrium : epithelium simplex columner. banyak glandula uterina.
Tersusun atas lapisan fungsional (dekat lumen, ketika menstruasi lapisan ini
yang akan mengelupas, lapisan ini tebal dan terletak pada superficial) dan
lapisan basal (tipis, di basal, dan permanen). Perubahan struktur berkala
dkendalikan oleh hormon ovarium.
 Myometrium : paling tebal. Oksitosin (kontraksi myometrium untuk
mendorong fetus)
o Selama masa kehamilan
Menebal karena hipertrofi dan hiperplasia
Gap junction >> untuk koordinasi kontraksi otot polos selama proses
persalinan
o Selama persalinan
Dirangsang oleh oksitosin dan prostaglandin
o Pasca persalinan
Mengalami apoptosis
 Perimetrium : paling tipis, tersusun oleh jaringan ikat
Bagian uterus :
 Corpus
 Fundus
 Cervix : epitel kolumner simplex
Fase uterus (siklus menstruasi)
❖ Fase Menstruasi
⚪ Hari ke1-4
⚪ Ditandai oleh perdarahan lapis fungsional
⯍ Dicetuskan oleh adanya spasme arteri berkelok (colled artery)
kadar hormon progesteron dan esterogen yang rendah
Terjadi iskemik dan nekrosis
⯍ Terjadi vasodilatasi mengikuti vasoconstriksi
Ruptur dinding arteri berkelok
Terjadi banjir darah di stroma
Lapis fungsional mengalami nekrotik dan terkelupas
⚪ Lapis basal tak mengalami perubahan
❖ Fase Proliferasi
⚪ Hari ke 5-14
⚪ Ditandai oleh perdarahan lapis fungsional
⚪ Terjadi setelah fase menstruasi
⚪ Perbaikan lapis fungsional
⯍ Dicetuskan oleh adanya spasme arteri berkelok
⯍ Sel-sel kelenjar di lapis basal aktif bermitosis
⯍ Kelenjar lurus-lurus dilapisi epitel selapis kolumnar
⯍ Sel-sel stroma berproliferasi dan membesar
⯍ Arteri berkelok memanjang 2/3 ke arah endometrium

9
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

❖ Fase Sekretorik (luteal)


⚪ Hari ke15-28
⚪ Setelah ovulasi
⚪ Ditandai oleh endometrium yang tebal karena kelenjar yang penuh terisi
sekret
⯍ Kelenjar berkelok-kelok dengan lumen terisi sekret yang mengandung
glikoprotein
⯍ Arteri berkelok menjadi memanjang dan lebih berkelok mencapai
permukaan lapis fungsional

4. Vagina
 Mrpk organ serupa tabung ini membantu mendorong sperma melalui cervix
 Cairan di dalam lumen vagina menambah motilitas sperma
 Di bawah pengaruh estrogen, epitel vagina menebal dan sel-selnya
menimbun glikogen, yg dilepaskan ke dalam lumen selama proses
pengelupasan.
 Estradiol mempengaruhi proliferasi dan keratinisasi epitel vagina, serta
aktivitas kelenjar vaginal sebagai lubrikasi
 Sehingga :
Estradiol me↑ epitel tebal & sekret mukus menjadi encer
Estradiol me↓ epitel tipis & sekret mukus menjadi menebal
 Terdiri dari lapisan submukosa (epitel stratificatum squamosum), lapisan
superficial (epitel stratificatum squamosum), bagian tengah epitel berbentuk
polihedral, dan bagian basal tersusun atas epitel kolumner pendek atau
kuboid.
 Pada bagian luar orifisium dikelilingi oleh sfingter otot lurik pada
 Lapisan pada vagina :

10
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

o Lapis mukosa
 Epitel gepeng berlapis tanpa lapisan keratin
 Mengandung glikogen dipakai oleh bakteri komensal
menghasilakn asam laktat untuk menurunkan pH
selama masa folikular untuk mencegah invasi bakteri
patogen
 Lamina propria tersusun oleh jaringan ikat fibroelastik dan
banyak mengandung kapiler darah
o Lapis muskularis
 Lapisan otot polos yang tersusun tidak beraturan antara otot
longitudinal dan sirkular dengan diselilingi oleh serat elastin
o Tunika adventisia
 Disusun oleh jaringan ikat fibroelastik
 Merekatkan vagina ke struktur disekitarnya

B. ORGAN GENITALIA EKSTERNA


 VESTIBULUM
 CLITORIS
 LABIUM MINUS
 LABIUM MAYUS
 KELENJAR DEWASA
 KELENJAR LAKTASI (SELAMA KEHAMILAN)
 INVOLUSI SENILIS
Fungsi:
 Sebagai jalan masuk sperma ke dalam tubuh wanita
 Sebagai pelindung organ kelamin dalam dari organisme penyebab infeksi
 Mengandung sejumlah besar ujung-ujung serabut saraf → berperan di dalam
merangsang gairah seksual

11
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

1. Vestibulum
Ruang di antara 2 labium minora
Muara dari kelenjar Bartholin (kelenjar mukosa) dan kelenjar-kelenjar kecil lain sekitar
klitoris dan uretra
2. Clitoris
Disusun oleh 2 badan erektil berbentuk silindris yang berakhir sebagai gland klitoris
yang ditutp oleh prepusium
Mengandung banyak serat saraf sensorik dan banadn Meissner serta Paccini
Disusun oleh jaringan ikat fibroelastik

3. Labia Mayora
Lipatan kulit yang mengandung banyak lemak mengandung folikel rambut, kelenjar
sebasea dan kelenjar keringat pada sisi permukaan luar

12
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

4. Labia Minora
Lipatan kulit yang mengandung banyak serat elastin dan kapiler darah
Tak mengandung folikel rambut
Dermis mengandung kelenjar sebasea yang bermuara langsung kepermukaan epitel

C. KEHAMILAN

1. Fertilisasi dan Implantasi

13
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

2. Kehamilan (Gestasi)
Tahapan pembelahan zigot hasil fertilisasi dalam perjalanan ke uterus untuk proses
implantasi.

3. Kehamilan (Gestasi 2)

14
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

4. Kehamilan (Gestasi 3)

bagian plasenta, cairan amnion, dan tali pusar

5. Kehamilan (Gestasi 4)

Embrio manusia pada usai kehamilan:


(a) 4 minggu, (b) 5-6 minggu, (c) 8 minggu, dan (d) 16 minggu.

6. Plasenta
Organ kesatuan yang terdiri dari pars materna (dari ibu) dan pars fetalis (dari bayi).
Pars fetalis terdiri dari fili chorialis yang terdiri dari 2 macam sel, yaitu sel
syncytiotrophoblast (luar) dan cytotrophoblast (dalam). Spatium interfilosum tempat
terjadinya pertukaran udara antara darah ibu dan janin.

15
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

7. Desidua
desidua → hub. Perkembangan fetus &
plasenta
desidua dibagi menjadi 3 :
- parietalis(DP)
- capsularis (DC)
- basalis (DB)
bentuk sel desidua:
- poligonal
- nukleus tercat pucat
- granula sitoplasma eosinofilik

8. Glandula Mammae
Disusun oleh kelenjar bertipe tubuloalveolar yang masing-masing kelenjar terdiri atas
15-25 lobulus. Setiap kelenjar mengandung sinus laktiferus dan duktus laktiferus yang
bermuara pada puncak puting susu (nipple). Kelenjar mammae sudah mulai
berkembang saat pubertas oleh pengaruh hormon esterogen. Namun, perkembangan
lobulus dan alveolus baru terjadi ketika wanita mengalami kehamilan, oleh pengaruh
hormon progesteron.

Bentuk glandula mammae :


a. Mammae Rehat (Resting/nonlactating
mammary glands)
 Disusun oleh sinus dan duktus
laktiferus
 dibatasi oleh epitel berlapis
kuboid
 pada bagian basal terdapat
sel-sel mioepitel yang
letaknya tersebar
 Lamina basal
b. Mammae laktan (active lactating
mammary gland)
 Membesar selama masa hamil
 Sel-sel alveolus berkembang
dikelilingi oleh sel-sel mioepitel
 Kaya akan RER dan
kompleks Golgi,
mitokondria, tetes lipid dan
vesikel yang mengandung
kasein dan laktosa
 Lipid dilepaskan ke dalam
lumen dengan cara apokrin
 Protein dan gula dilepaskan
ke dalam lumen dengan
cara merokrin

16
Histologi Genitalia Feminina MISC Pollux Blok 7

Kelenjar mammae
❖ Nipple (putting susu)
⚪ Disusun oleh jaringan ikat kolagen yang tak beraturan diselilingi oleh serat otot
polos yang berfungsi sebagai sfingter
⚪ Mempunyai muara duktus laktiferus
⚪ Dikelilingi oleh kulit yang mengalami pigmentasi (areola Mammae)

Selama kehamilan mengandung kelenjar areolar Montgomery

Air Susu Ibu (ASI)


❖ Colostrum
Colostrum merupakan Cairan bewarna
kekuningan yang kaya akan protein, sel-sel
kekebalan tubuh (limfosit dan monosit),
laktalbumin, vitamin yang larut dalam lemak,
mineral dan Immunoglobulin A. Colostrum
mulai diproduksi pada beberapa hari pertama
setelah lahir.

❖ Susu
ASI mulai disekresi pada hari ke 3 atau 4. ASI
mengandung protein (Kasein, IgA,
Laktalbumin), lemak dan laktosa. ASI baru
akan disekresikan lewat reflex isap bayi atau
biasa dikenal milk ejection reflex. Cara
kerjanya, oksitosin akan merangsang
kontraksi sel-sel mioepitel dan akan memeras
susu keluar melalui ductus laktiferus untuk
kemudian keluar dari payudara

Gambar (a) menunjukkan kelenjar mammae


yang inaktif, alias ada pada wanita yang belum
hamil. Sedangkan gambar (b) menunjukkan
alveoli pada tahap persiapan pada wanita
hamil. Dan yang gambar (c) menunjukkan
alveoli yang sudah berdiferensiasi secara
sempurna, ketika proses laktasi sudah selesai,
kelenjar mammae akan siap untuk menyusui.

Gangguan sistem reproduksi wanita


• Gangguan menstruasi
• Kanker genitalia
– Kanker vagina
– Kanker serviks
– Kanker ovarium
• Endometriosis
• Infeksi vagina

17
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

SISTEM REPRODUKSI
(dr. Alfaina Wahyuni, M.Kes., SpOG)

Editor: Azizah & Dhimas


Layouter: Chacak

Anatomi sistem reproduksi berdasarkan jenisnya dibedakan menjadi dua yaitu:


• organa genitalia feminina
• organa genitalia masculina

A. ORGANA GENITALIA FEMININA


Berdasarkan letaknya, organa genitalia feminina dibagi menjadi dua, yaitu externa
(luar) dan interna (dalam).

1. Organa Genitalia Feminina Externa


a. Mons Pubis : peninggian membulat jaringan lemak didepan symphysis
pubis. Pada gadis dewasa ditumbuhi pubes (rambut kemaluan).
b. Labium Majus : terdapat sepasang (di kanan dan kiri), keduanya membatasi
celah rima pudendi.
c. Labium Minus : kearah depan kedua labium minus berhubungan dan
membentuk preputium clitoridis dan frenulum clitoridis.
d. Vestibulum Vaginae : ruangan yang sebelah lateral dibatasi oleh kedua
labium minus, dan terdapat lubang-lubang:
- Ostium urethrae externum
- Ostium vaginae
- Muara glandula vestibularis major
- Muara glandula vestibularis minor
- Muara glandula paraurethralis
e. Clitoris : homolog dengan organ penis pada pria, mengandung jaringan erektil.
f. Bulbus Vestibuli : jaringan erektil pada sisi ostium vagina, homolog
dengan bulbus penis pada pria.
g. Glandula Vestibularis Major (Glandula Bartholini) : terdapat dibelakang
bulbus vestibuli. Jika mengalami infeksi à Bartholinitis, contohnya asbes
bartholini dan kiste bartholini.Vaskularisasi:
- a. pudenda externa
- a. pudenda interna
- a. profundal clitoridis dan
a. dorsalis clitoridis
- a. vaginalis anterior
Aliran Limfe:
- menuju ke nnll. Inguinalis superficialis

18
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

2. Organa Genitalia Feminina Interna


a. Ovarium
- Jumlahnya sepasang dan homolog dengan testis pada pria
- Terletak di fossa ovarica dan posisinya bervariasi
- Pembungkus Ovarium : peritoneum viscerale (mesovarium)
- Penggantung :
Lig. suspensorium ovarii (menghubungkan ovarium dengan dinding pelvis,
berisi vasa ovarica dan saraf)
Lig. ovarii proprium (menghubungkan ovarium dengan uterus)
Mesovarium.
- Struktur Ovarium :
Cortex à kurang vaskuler, terdapat folikel dan corpus luetum, dilapisi
epitel germinativum dan tunica albuginea.
Medulla à lebih vaskuler
- Vaskularisasi : a. ovarica dan a.uterina
- Inervasi : plexus ovaricus (komponen: simpatis, parasimpatis, dan
serabut aferen autonomy)
- Perkembangan Folikel :
folikel primer à folikel sekunder à folikel vesicularis (Graaf) à ovulasi à
ovum à corpus haemorhagicum à corpus luteum à corpus albicans

19
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

Siklus Menstruasi

20
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

b. Tuba Uterina
- Terdiri dari empat bagian, yaitu :
Pars Intramuralis à berhubungan dengan uterus
Isthmus
Ampula à tempat fertilisasi
Infundibulum à berbentuk corong, mempunyai fimbria, berhubungan
dengan cavum peritonei
- Vaskularisasi : a. ovarica dan a. uterine
- Klinis :
- Pelvical peritonitis lebih banyak dialami oleh wanita karena infeksi orgam
genital interna menjalar ke peritoneum melalui ostium abdominale tubae.

- Transportasi Ovum
Ovulasi : ovarium à ovum à fimbria à tuba uterina à ampula
Konsepsi : ampula – tuba uterina – cavum uteri (absorbsi) – menstruasi
(nidasi)
Konsepsi + fertilisasi : ampula (bertemu dengan sperma) – tuba
uterina (5 hari) – cavum uteri – endometrium
- Konspesi terjadi di ampula karena :
Mukosa ampula convoluted dan mempunyai cilia bergerak à aliran
berlawanan à aliran turbulen.
Mukosa ampula vaskuler dan berfungsi untuk sekresi-absorbsi cairan
sekresi dengan progesteron.
- Kelainan : kehamilan ektopik
Kehamilan Normal

21
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

Kehamilan Ektopik

c. Uterus
• Bentuk : buah pir
• Posisi : antefleksi dan anteversi
• mencegah prolapsus uteri
• dipertahankan oleh lig. Teres uteri
• orang tua : pada umumnya retroversi
• terdapat 2 facies : fac. Intestinalis excavatio
rectouterine dan fac. Vesicalis excavatio
vesicouterina

• 3 bagian : cervix uteri à canalis cervicis uteri

Isthmus à bagian tersempit


corpus à cavum uteri, fundus uteri
• 3 lapisan dinding : endometrium (mucosa, kelenjar)àstr. Fungsionale
dan str. Basale

myometriumàstratum longitudinal externa, (otot


polos
stratum circular), dan stratum longitudinal interna
(mampu bertambah panjang pada wanita
hamil(gravid) mencapai 7-10x)
perimetrium (peritoneum)

22
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

• Penggantung Uterus :
- Lig cardinal
- Lig uterosacrale
- Lig vesicouterinum
- Lig latum
- Lig teres uteri / rotundum
- Lig rectovaginale

• Vascularisasi : anastomosis antara a.uterina & a.ovarica

d. Vagina

• Bangunan berupa tabung, sebelah proksimal berhubungan dengan ostium uteri


internum sedangkan disebelah distal berakhir sebagai ostium vaginae.
• Ostium vaginae, ditepinya ditutupi oleh hymen.
• Hymen : Hymen bisa robek karena coitus sehingga hanya tinggal
Sisanya disebut caruncula hymenalis.
• Rugae vaginae, yaitu lipatan-lipatan di dinding vagina.
• Fornix vaginae, yaitu vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis. Dapat
dibedakan fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateralis.

B. ORGANA GENITALIA MASCULINA

1. Organa genitalia masculina externa

A. Scrotum
• kantong di kaudal sympisis pubis
• isi: testis, epididymis, funiculus
spermaticus
• terdapat otot : m. dartos

B. Penis
• Penis, dibagi 2 bagian :
radix penisàdidalam & melekat pada
pelvis, terdiri darià2 crura penis & 1
bulbus penis.
pars liberaàdiluar & bisa bergerak
bebas, terdiri dariàcorpus penis &
glands penis (ditutupi oleh preputium),
di dalam preputium terdapat smegma
(kotoran bekas urine yang tidak
bersih), dan harus dibersihkan dengan
cara sircumsisi(sunat)

23
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

• Penis potongan melintang


Terdiri dari :
- 2 corpora cavernosa (lanjutan crura penis,dilalui ateri & saraf)
- 1 corpus spongiosum (lanjutan bulbus penis, dilalui urethra)
- dinding (dari luar kedalam)
§ fascia superfiscial
§ fascia profundal ( terdapat a,v,n dorsalis penis)
§ tunica albuginea

• Penggantung penis
- ligamentum fundiforme penis
- ligamentum suspensorium penis

2. Organa genitalia masculina interna

A. Testis
• bentuk : bulat panjang d idalam scrotum, nama
kelainannyaàAdesensus testiculorum
• terdiri dari : -tubulus seminiferous untuk memproduksi
spermatozoa
-sel leydig untuk memproduksi testosterone

Spermatogenesis: proses terbentuknya


spermatozoa
Didalam tubulus seminiferus testis
aliran spermatozoa:

•tubulus seminiferus rete testis ductus


efferentes testis ductus epididymis
ductus deferens

24
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

B. Epididymis
– melekat pada margo superior testis
– tempat pemasakan & penyimpanan
sperma
– terdiri dari : caput corpus, cauda &
berlanjut ke ductus deferens

• Ductus deferens:
– saluran mulai dari epididymis ( di
scrotum) melalui funiculus
spermaticus ke rongga pelvis
– dibelakang vesica urinaria melebar :
ampula ductus deferens

• Funiculus spermaticus
– saluran yang dilalui oleh bangunan yg
keluar / masuk ke testis
– terbentang dari cananalis inguinalis - testis
– isi: ductus deferens, a. testiscularus,
pleksus papminiformis, saraf & vasa
lymphatica

• vesicula seminalis
– kelenjar yg letaknya di atas ampula ductus
deferens
– terdiri dari pipa berkelok-kelok
– menghasilkan cairan semen yg kaya nutrisi

• Ductus ejaculatorius
– muara dari ductus deferens &
ductus excretorius vesicula
seminalis
– akan masuk ke colliculus
seminalis pada urethra pars
prostatica

• Glandula prostata
– kelenjar berbentuk conus di
kaudal vesica urinaria &
mengelilingi urethra pars
prostatica
– penghasil getah alkalis
– saluran : ductus prostaticus yg
bermuara di sinus prostaticus (di
urethra)

25
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

SIRKUMSISI

PROSES SPERMATOGENESIS

Spermatozoa

• Saat ejakulasi=orgasme
• 2-3 cc
• Jumlah 20 juta-100 juta/cc
• Warna putih kental
• Bau khas
• Kepala leher ekor
• Morfologi normal 60%
• Gerak normal 60%
• Dikeluarkan mulai pubertas sampai akhir hayat

26
Sistem Reproduksi MISC Pollux Blok 7

NOBODY CARES. KEEP STUDYING

27
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

FISIOLOGI  ORGANA  GENITALIA  FEMININA  


drh.  Zulkhah  Noor  
Layouter:  Sekar  C  
Editor  :  Ashfi,  Shofi  

Unit   reproduksi   dasar   =   folikel   ovarium   tunggal,   terdiri  


dari  satu  sel  germinal  (oosit),  dikelilingi  oleh  sel  endokrin  
 
A.  Organa  Genitalia  Feminina  Interna  
 
1.   Ovarium  :  gonad,  penghasil  ovum  
Oogonia  diproduksi  melalui  pembelahan  mitosis  
(kira-­‐kira  7  juta).    
Kemudian,  pada  8-­‐9  minggu  kehamilan,  profase  dari    
meiosis   pertama   dimulai   –   menjadi   oosit   primer.  
Terjadi  sempurna  sekitar  6  bulan  setelah  kelahiran  
Bayi   :   kira-­‐kira   ada   2   juta   ovum   dalam   kedua           ovariumnya    
Pubertas   :   300.000-­‐400.000   ovum   dalam   kedua   ovariumnya.    
Masa   Reproduksi   (15-­‐50)   tahun:   450   folikel   akan   berkembang   sisanya  
degenerasi/atresi.    
 
2.   Tuba  Uterina  /  Tuba  Falopii  :  Fimbriae  :  menerima  ovum  dari  ovarium  
Ampula  :  tempat  fertilisasi  dan  selanjutnya  ovum  disalurkan  menuju  uterus    
 
3.   Uterus    
Ada  tiga  lapis  :  
a.    Lapisan  serosa    
i.   Peritoneum:  memanjang  
membentuk  ligament  yang  
menjulur  dari  uterus  ke  
dinding  pelvis  à  peredam  
getaran  /goncangan    

28
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

ii.   Myometrium:  ada  tiga  lapis  otot  polos  yang  tersusun  secara  longitudinal,  
random  ke  semua  arah,  longitudinal  dan  spiral    
b.    Lapisan  membran  mukosa    
disebut  endometrium:  banyak  suplai  pembuluh  darah  dan  bintik  glandula.  terdiri  
dari   dua   lapis   yaitu   stratum   fungsionalis   dan   sratum   basalis.   Setiap   bulan,   oleh  
pengaruh  estrogen  tumbuh  stratum  fungsionalis  secara  proliferasi,  kemudian  oleh  
pengaruh  progesteron,  kelenjar  menjadi  aktif,  kaya  nutrisi,  akan  mampu  sekresi  
dan  siap  menerima  ovum  yang  telah  difertilisasi.    
Jika  ovum  tidak  dibuahi,  maka  terjadi  menstruasi.  Stratum  fungsionalis  inilah  yang  
gugur   bersama   dengan   pembuluh   darah   dan   kelenjar.   Stratum   basalis   adalah  
permanen.  Stratum  ini  yang  regenerasi  membentuk  stratum  fungsionalis  setelah  
3-­‐5  hari  menstruasi.    
Bagian  depan  uterus  yang  menyempit  disebut  cervix  uteri  (leher  rahim)    
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.   Vagina    
Alat   kelamin   dalam,   tempat   deposit   semen   dari   penis   pada   hubungan   seksual,  
saluran  keluarnya  darah  menstruasi  dan  kelahiran  bayi.  Dinding  vagina  terdiri  otot  
polos   dan   jaringan   fibroelastis   yang   membentuk   rugae   (lipatan)   yang   dalam  
keadaan   biasa   melipat/mengempis.   Akan   tetapi   vagina   dapat   melebar  
menyesuaikan  diri  sesuai  kebutuhan.    
 
 
 

29
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

B.  Organa  Genitalia  Feminina  Eksterna  


 
1.   Mons  pubis  
         Jaringan  lemak  yang  menutupi  simpisis  pubis.  Setelah  pubertas,  tumbuh  rambut  
pubis    
 
2.   Labia  majora    
         Lipatan  bagian  luar  vulva  terdiri  lemak,  otot  polos  jaringan  areolar,  gland.  sebacea,  
reseptor  sensoris,  dan  setetah  pubertas  akan  tumbuh  rambut.    
 
3.   Labio  minora  
         Lipatan   kecil   disamping   dalam   labia   majora,mengandung   gland.   sebacea,   banyak  
pembuluh   darah   tak   terdapat   rambut   dan   lemak,   banyak   akhiran   saraf   sensoris  
sehingga  sangat  peka.  Bagian  atas  labia  minora  bergabung  membentuk  prepuceum  
atau   clitoris    
 
4.   Hymen    
         Lipatan  kulit  dibagian  lebih  dalam  labia  minora,  merintangi  sebagian  jalan  masuk  ke  
vagina.  Hymen  akan  ruptur  pada  hubungan  seksual  pertama  atau  lebih  awal  karena  
aktifitas  fisik.    
 

PUBERTAS  
 
•   Terjadi  pertumbuhan  seks  sekunder    
•   Akhir  maturasi  gonad    
•   Hilangnya  penghambatan  pituitary  dan  mulai  disekresi  GnRH    
•   Hormon  penghambat  adalah  melatonin  dari  pars  intermedia  pituitary.    
•   Setelah   remaja,   melatonin   berhenti   diproduksi   oleh   pars   intermedia   pituitary  
selanjutnya  diproduksi  oleh  gland.  Pineal  dengan  kadar  rendah.    
•   Penurunan  drastis  sekresi  melatonin  (>  75%)  dapat  memicu  sekresi  steroid  seks  oleh  
kelenjar  adrenal  dan  testes.  Pada  wanita,  situasinya  mungkin  berbeda.  Ada  bukti  

30
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

bahwa   hormon   leptin   juga   terlibat.   Leptin   adalah   hormon   yang   dilepaskan   oleh  
jaringan   adiposa.   Tingkat   sirkulasi   leptin   mungkin   mencerminkan   total  
penyimpanan  lemak  tubuh  oleh  tubuh.  Pada  wanita,  kadar  lemak  total  minimum  
tertentu  diperlukan  untuk  pubertas  dan  untuk  pemeliharaan  siklus  menstruasi.    
 
A.   Faktor  penentu  usia  pubertas  :  
1.   Genetik    
2.   Nutrisi  
3.   Lokasi  geografi    
4.   Paparan  cahaya  
5.   Komposisi  tubuh  
6.   Deposit  lemak    
7.   Latihan  fisik  
 
B.   Hormon  –  Hormon  Gonadotropin    
1.   GnRH  (hipotalamus),  FSH  dan  LH  (hipofisis  anterior)    
2.   Pada  laki-­‐laki  disekresikan  secara  tonik  (kontinyu,  pada  perempuan  disekresikan  
secara  siklik  sehingga  ada  siklus  menstruasi.    
3.   Masing-­‐masing  adalah  glikoprotein  terdiri  dari  sub  unit  a  dan  ß    
Second  messenger  adalah  protein  kinase  respon  seluler    
4.  Fungsi  FSH  dan  LH    
o   FSH  :  merangsang  sel  sertoli  untuk  memproduksi  androgen-­‐binding  
protein  dan  spermatogenesis,  serta  pertumbuhan  awal  folikel  ovari  dan  
sekresi  estrogen    
o   LH   :   bersifat   tropik,   merangsang   sel-­‐sel   Leydig   tumbuh   dan   sekresi  
testosteron,  berperan  dalam  akhir  folikel  ovarium  dan  pematangan  sekresi  
estrogen  dari  folikel  berperan  dalam  ovulasi,  pembentukan  korpus  luteum,  
dan   sekresi   progesteron.    
 
Hormon-­‐lain  yang  berperan  dalam  pengaturan  fungsi  gonad  antara  lain  adalah  hCG,  
prolaktin,  GH,  hormon  seks  (testosteron,  estrogen,  progesteron,  inhibin)    
 

31
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

Fungsi  Estrogen:    
1.   Perkembangan   karakteristik   seks   sekunder   normal   pada   anak   perempuan  
menjadi   dewasa,   meliputi   genitalia   interna   (vagina,   uterus,   ovarium)   dan  
genitalia  eksterna.  Rambut,  kulit,  distribusi  lemak  tubuh  (akumulasi  di  pinggul  
dan  payudara)  sehingga  membentuk  kontur  tubuh  khas  perempuan.    
2.   Metabolisme  
-­‐    Antagonis  paratiroid  hormon    
-­‐    Menjaga  struktur  mormal  kulit  dan  pembuluh  darah    
-  Mengurangi  motilitas  saluran  cerna,    sehingga  meningkatkan  absorbsi    
-  Dihati  :  meningkatkan  sintesis  protein.    
3.   Faktor  pembeku  darah  :  meningkatkan  faktor  Il,  Vll,  IX,  X,  menurunkan  daya  
lekat  trombosit.    
4.   Meningkatkan  kadar  HDL,  menurunkan  LDL  dan  kolesterol    
5.   Menimbulkan  libido.    
 
 
Fungsi  progesteron    
1.  Perkembangan  gland.  mamae  dan  endometrium,  hingga  mampu  sekresi.    
2.  Sangat  penting  dalam  proses  kehamilan,  meliputi  peningkatan  metabolisme,    
       penurunan     potensial   istirahat   otot   terutama   miometrium,   otot   pembuluh  
darah,        
       mencegah   sekresi   prostaglandin,   menghambat   pembentukan   reseptor  
oksitosin    
3.   Mengatur   siklus   menstruasi.   Mencegah   sekresi   enzim   proteolitik   dan  
prostaglandin    
       uterus    
 
Androgen    
(Testosteron,  dihidrotestosteron)    
Efek  Umum  :  pertumbuhan  dan  pematangan  permatogenesis,  Anabolik  :  
peningkatan  sistesis  protein  (terutama  protein  kontraktil  otot,  penurunan  
pemecahan  protein    

32
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

Fetus  :  diferensiasi  dan  perkembangan  genitalia  internal  &  eksternal    


Pubertas  :perkembangan  karakteristik  seks  sekunder,  meliputi  genitalia  ekterna  
&  interna,  laring,  rambut,  muskuloskeletal,  kulit/gland.  sebacea,  mental.    
Dewasa  :  untuk  fungsi  reproduksi.    
Lain-­‐lain  :  merangsang  eritropoiesis.    
 
C.   Siklus    
1.   Siklus  seksual  perempuan:  siklus  menstruasi  
                           diatur  oleh  gonadotropin,  hormon  gonad    
 
2.  Siklus  ovarium    
-­‐  Fase  folikuler  à  rata-­‐rata  15  hari  (bervariasi,  9-­‐23  hari)    
-­‐  Fase  ovulasi  à  1-­‐3  hari  =  mencapai  puncak  saat  ovulasi    
-­‐  Fase  luteal  à  13-­‐14  hari  =  kurang  bervariasi  daripada  folikuler    
 
3.  Siklus  endometrium    
       Menstruasi,  proliferasi  dan  fase  sekretorik    
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 

 
 

33
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

Fisiologi reproduksi feminina (part II)

Drh. Zulkhah Noor M.kes

A.  OOGENESIS
1.   Proses oogenesis dimulai saat Oogonia diproduksi melalui pembelahan
mitosis (maks = 7 juta),
2.   Kemudian, pada 8-9 minggu kehamilan, profase dari meiosis pertama dimulai
– menjadi oosit primer
3.   Dengan Jumlah oosit primer menurun selama masa anak – anak dari 1-2 juta
menjadi 400,000 sesaat sebelum pubertas
4.   Oosit dikelilingi oleh sel granulosa disebut folikel primordial terbentuk
sempurna sekitar 6 bulan setelah kelahiran
5.   Jadi proses oogenesis dimulai pada saat embrio
6.   Setiap bulan/siklus hanya satu ovum diovulasi bergantian kiri dan kanan
7.   Menopause: hanya ada beberapa ovum dan segera degenerasi.
8.   Ovum dikelilingi selapis sel granulosa disebut folikel primordia, sel theca
berada disisi luar
9.   Ovarium mensekresi hormon steroid : utamanya estrogen dan progesteron
10.  Berikut ini adalah skema hormonal reproduksi wanita

34
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

Jadi semua hormon tersebut pengaturanya dimulai dari SSP( hipotalamus )


melepaskan hormon gonadotropin (GnRH) yang nanti akan mengaktifkan
hipofisis anterior untuk menghasilkan hormon FSH dan LH yang nanti akan
berguna untuk perkembangan folikle, dan hormon FSH dan LH menghasilkan
hormon granulosa yang nanti aka mengaktifkan hormon esteogen yang
dihasilkan oleh ovarium. Serta esterogen berungsi sebagai umpan baik negatif
pada SSP agar tidak melepaskan hormon GnRH dan menstimulasi hipofisis
anterior untuk tidak menyekresikan hormon FSH dan LH.
•   Berikut ini adalah biosintesis Hormon Sistem Reproduksi wanita

•   Sintesis Hormon Androgen

35
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

B.   PERTUMBUHAN FOLIKEL

Jadi gais proses perkembangan folikel dimulai sebelum pubertas tapi


perkembanganya hanya sampai fase folikel sekunderius belum sampai ke folikel de
graf, dan saat pubertas folikel sekundarius tersebut berubah mejadi folikel de graf
(folikel yang dominan matang) kemudian mengalami ovulasi, dan setelah ovulasi
tersebut folikel de graf berubah menjadi corpus luteum yang memproduksi hormon
progesteron, pada saat ovum yang tidak mengalami fertilisasi corpus luteum akan
menjadi corpus albikan, dan tidak memproduksi hormon progesteron. Dan pada
akhirnya terjadi gejala yang disebut dengan menstruasi.

36
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

C.   MEKANISME KIMIAWI OVULASI


1.   Lonjakan LH prostaglandin endoperoksida sintase di sel granulosa
(mempersiapkan respon keradangan semu)
2.   FSH (beberapa LH) merangsang pelepasan aktivator plasminogen dari sel
granulosa (mengubah plasminogen menjadi plasmin) dan Plasmin mengaktifkan
colagenase
3.   Prostaglandin E dan F melepaskan enzim lisosom yang mencerna Dinding folikel
-- –belum sepenuhnya dipahami
4.   “Stigma” – terbentuk pada permukaan folikel, menggelembung, membentuk
vesikel dan pecah – oosit dikeluarkan, Proses difasilitasi oleh tekanan intrafolikul
dan kontraksi otot polos sel teka
5.   Bagan proses kimiawi ovulasi

1.   Pengaruh hormon dalam ovulasi

37
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

D.   PERBEDAAN SPERMATOGENESIS DENGAN OOGONIUM


1.   Pada perempuan, proliferasi mitosis oogonia terjadi sebelum lahir. Pada
laki-laki, proliferasi spermatogonia hanya setelah pubertas.
2.   Pada perempuan, pembelahan meiosis oosit menghasilkan hanya satu ovum
matang. Pada laki-laki, pembelahan meiosis spermatosit primer
menghasilkan 4 spermatozoa matang
3.   Pada perempuan, pembelahan meiosis kedua selesai hanya jika terjadi
fertilisasi. Pada laki-laki, produk meiosis (spermatid) mengalami diferensiasi
substansial pada proses pematangan.

E.   PROSES FERTILISASI DAN KEHAMILAN

38
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

Hormon Kontrol Kehamilan


Hormon plasenta: hCG ( human Chorionic Gonadotropin), estrogen
(estradiol, estriol), progesteron, hSC (human Chorionic
Somatomammotropin) / hPL (human Placental Lactogen), prolaktin,
relaksin, lain-lain (CRH / Corticotropin Releasing Hormone, β-endorfin,
α-MSH / melanocyte Stimulating Hormone, dinorfin, inhibin.

1.   PROGESTERON:
•   menjaga awal kehamilan (endometrium tetap eksis)
•   Mencegah kontraksi efektif:
–   Hiperpolarisasi miometrium
–   Penurunan amplitudo potensial aksi, sehingga mencegah kontraksi
efektif
–   Penurunan sintesis reseptor oksitosin dan reseptor estrogen
–   Berperan dalam penyimpanan prostaglandin
•   Peningkatan reseptor β-adrenergik sehingga miometrium lebih
relaksasi, dan terjadi vasodilatasi pembuluh darah mencegah hipertensi
meskipun terjadi peningkatan volume darah
•   Sekresi kelenjar pada uterus, dan genitalia.
•   Pertumbuhan alveola mamae.

39
FKIK  UMY  2018   MISC_BLOK  7   PSSK  

2.   ESTROGEN :
•  Awal kehamilan: Perkembangan proliferatif uterus, ductus mamae,
genitalia, dll.
•  Akhir Kehamilan:
–   Relaksasi ligamentum pelvis
–   Peningkatan reseptor oksitosin dan sekresi prostaglandin
–   Pembukaan serviks uterus
–   Kontraksi uterus.

3.   HCG :
•   Diproduksi oleh sinsisiotropoblas (8-9 hari setelah fertilisasi)
•   Mempertahankan korpus luteum melebihi masa hidup normal
•   Merangsang sintesis progesteron dan E2 oleh korpus luteum
•   Merangsang DHEA-S esensial di kelenjar adrenal fetus
•   Merangsang produksi testosteron di fetus laki – laki
•   Reseptor hCG terdapat di endometrium dan miometrium dan dapat
menghambat kontraksi akibat oksitosin
•   Imunosupresan

Editor : nabila shofia afifah

Layouter : Sekar C

40
KEHAMILAN MISC Pollux Blok 7

KEHAMILAN
dr. Ivanna Beru Brahmana, Sp.OG(K)

TERJADINYA KEHAMILAN
Untuk terjadi kehamilan diperlukan:

1. Spermatozoa
spermatozoa perlu diperhatikan. Satu kali ejakulasi minimal 2 ml sperma, yang
mengandung 20 juta sel/ml. Bentuk juga harus lengkap, yaitu ada bagian:
kaput/kepala, ekor, leher. Gerakan sperma harus aktif.
2. Ovum
Ovum berhenti di ampula menunggu sperma untuk dibuahi
3. Pembuahan ovum (konsepsi)
4. Nidasi (implantasi) hasil konsepsi

A. Spermatogenesis
 Spermatogonium dari sel primitif tubulus testis
 Spermatogonium tidak berubah sampai pubertas
 Saat pubertas, sprematogonium dalam pengaruh sel interstitial Leydig aktif
bermitosis
 Spermatogonium membelah 2 menjadi : spermatosit primer, lalu membelah 2
menjadi spermatosit sekunder membelah 2 dengan hasil 2 spermatid,
masing-masing memiliki jumlah kromosom setengah dari jumlah khasnya
tumbuh menjadi spermatozoa

B. Oogenesis
 Pertumbuhan embrional oogonium terjadi di genital ridge janin. Jika janin akan
menjadi janin perempuan, maka jumlah oogonium di dalam janin akan terus
bertambah sampai dengan usia kehamilan 6 bulan, nutrisi sangat berpengaruh
pada perkembangan janin termasuk untuk sistem reproduksinya hingga usia
remaja. Oogonium terus berkembang sejak saat dalam kandungan.
 Jumlah oogonium =
a. waktu lahir: 750.000 oogonium.
b. anak usia 6-15 th: 439.000 oogonium
c. usia 16-25 th: 34.000 oogonium
d. usia menopause: oogonium menghilang.

41
KEHAMILAN MISC Pollux Blok 7

 Sebelum janin dilahirkan, oogonium mengalami perubahan pada nukleusnya


terjadi migrasi kearah korteks ovarium, sehingga saat dilahirkan, korteks
ovarium terisi folikel ovarium primordial. Di sini kromosom telah berpasangan,
sehingga sel menjadi tetraploid pertumbuhan selanjutnya terhenti, barulah
dalam fase profase meiosis disebut oosit primer oleh karena rangsangan FSH,
meiosis terus berlangsung oosit sekunder, dengan prosespembelahan terjadi
sebelum ovulasi. (disebut: pematangan pertama ovum) pematangan kedua
ovum terjadi saat spermatozoa membuahi ovum.

C. Pembuahan
Bagian tuba dari lateral ke medial:
1. Fimbria (berbentuk seperti jonjot-jonjot) : menangkap ovum (diameter 0,1 mm)
dari ovarium, menggiring ovum menuju medial ke ampula. Nukleusnya dalam
metafase pada pembelahan pematangan kedua, terapung-apung dalam vitelus
(sitoplasma kekuning-kuningan, banyak zat karbohidrat & asam amino). Ovum
dilingkari zona pellusida yang diluarnya terdapat korona radiata, di dalamnya
terdapat ruang perivitelina menuju ke ampulla, korona radiata makin berkurang,
sehingga ovum hanya dilingkari zona pellusida. Zona pellusida dan korona radiata
akan berubah, yang satu kearah janin, yang satunya berkembang menjadi plasenta.

2. Ampulla : tempat terjadinya fertilisasi (penyatuan ovum berupa oosit sekunder


&spermatozoa). Fungsi tuba adalah paten (tidak buntu), agar dapat berlanjut
menjadi kehamilan. Dapat dilakukan pemeriksaan HSG (hystero salpingo graphy)
untuk mengetahui keadaan uterus tuba fallopi.

3. Isthmus

4. Interstitialis
spermatozoa ditumpahkan di forniks vagina saat koitus, hanya 1 spermatozoa yg
mampu kapasitasi untuk membuahi. Lalu terjadi ;

a. Fertilisasi:
 Kontak dengan zona pelusida
 Reaksi akrosom akrsom keluar ke zona pelusida dan enzim ini akan memakan
zona pelusida tersebut.
 Reaksi kortikal di kortika granula di dalam ovum mengeluarkan enzim yang
akan memakanzona pelusida bagian binding sehingga hanya aka nada 1 sperma
yang dapat membuahi ovum.
 Fusi spermatozoa dan ovum
 Fusi materi genetic

42
KEHAMILAN MISC Pollux Blok 7

NB :
 Manusia terdapat 46 kromosom = 44 kromosom otosom + 2 kromosom kelamin
 Ovum matang memiliki 22 kromosom otosom + 1 kromosom x
 Spermatozoa mempunyai 22 kromosom otosom + 1 kromosom X atau 22
kromosom otosom + 1 kromosom Y
 Zigot akan tumbuh menhadi janin perempuan dengan 44 kromosom otosom dan
kromosom xx sedangkan akan menjadi laki-laki jika 44 kromosom otosom +
kromosom xy
 Pada hari ke 3 setelah fertilisasi akan menjadi morula

b. Nidasi:
 Pada hari 4-6 morula akan berubah menjadi blastula yang disebut stadium
blastokista. Dibagian luar berupa trofonlas akan berkembang menjadi plasneta.
Pada bagian dalam disebut inner mass cell akan berkembang menjadi janin.
 Sejak trofoblas terbentuk, produksi hormone HCG dimulai (hormone yang
memastikan endomentrium menerima (reseptif) pada implantasi embrio)
 Kadar HCG akan meningkat sampai usia kehamilan 70 hari (ini puncaknya) lalu
dia akan turun.
 HCG juga berfungsi mempertahankan korpus luteum untuk tumbuh terus dan
tetap menghasilkan progesterone sampai plasenta dapat membuat
progesterone sendiri dengan jumlah yang cukup.
 Hormone HCG ini khas untuk mengetahui kehamilan secara dini.
 Saat nidasi, yaitu saat masuknya blastula kedalam endomentrium akan terjadi
pendarahan pada luka endomentrium bagian desidua (tempat melekatnya ini
disebut tanda HARTMAN)

NB :
 Sitotrofoblas = sisi bagian dalam
 Sinsiotrofoblas = sisi bagian luar
 Pertumbuhan embrio terdiri dari 3 unsur lapisan:
a. Sel ectoderm : epidermis, system saraf
b. Sel mesoderm : system pencernaan, system pernafasan
c. Sel endoderm : otot, tulang, dan jaringan ikat

c. Plasentasi
Plesentasi Adalah proses pembentukan struktur dan jenis plasenta. Berlangsung
sampai dengan 12-18 minggu setelah fertilisasi.

43
KEHAMILAN MISC Pollux Blok 7

 Desidua kapsularis: lapisan desidua yang meliputi hasil konsepsi ke arah kavum
uteri.
 Jika kurang mendapatkan makanan, karena hasil konsepsi bertumbuh kearah
kavum uteri, sehingga lambat laun menghilang. Disebut korion leave (korion
gundul)
 Desidua basalis terletak antara hasil konsepsi di dinding uterus, disini plasenta
akan terbentuk.
 Sel desidua yang tidak dapat dihancurkan oleh trofoblas, yang akhirnya
membentuk lapisan fibrinoid yang disebut lapisan NITABUCH.
 Saat proses persalinan, plasenta terlepas dari endomentrium pada lapisan
nitabuch ini.

Editor : Ashfi,Salsa
Layouter : Wahyu

44
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

Sistem Urinaria
By : Dr.Sagiran

A. Sistem urinara berperan penting karena berfungsi sebagai :


1. Membuang sisa metabolism, terutama senyawa nitrogen (urea, kreatinin), benda
asing , dan produk sisanya.
2. Mengatur keseimbangan air dan elektrolit.
3. Mengatur keseimbangan asam dan basa.
4. Menghasilkan renin yang berguna dalam mengatur tekanan darah.
5. Menghasilkan eritropoetin yang berguna untuk proses pembentukan eritrosit di sum
sum tulang belakang.
6. Produksi dan sekresi urin.

B. Organ Sistem Urinaria


 Sepasang ginjal
 Sepasang ureter
 Vesical urinaria
 Urethra

C. Organ Urinaria Masculina dan Feminima

45
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

D. Organ Ginjal
Berbentuk seperti kacang dengan
panjang 10-12 cm dan tebal 3,5 – 5 cm.
Terletak di ruang belakang selaput perut
tubuh (retroperitoneal) sebelah atas.
Ginjal kanan terletak lebih ke bawah
daripada ginjal kiri Karena hati menduduki
ruang diatas ginjal kanan. Ginjal juga
dibungkus oleh jaringan ikat fibrosa tipis
dan pada sisi medial terdapat hilus yaitu
tempat keluar masuknya vena renalis,
arteri renalis, dan pelvis renalis (yang
berlanjut menjadi ureter).

a. Pelvis Renalis
Bagian ureter atas yang melebar dan mengisi
hilus ginjal. Terbagi menjadi dua :
 Kaliks mayor (2 buah)
 Kaliks minor (8-12 buah)
Setiap kaliks minor meliputi tonjolan
jaringan ginjal berbentuk kerucut atau
papilla renalis (merupakan puncak
daerah pyramid yang meluas dari hilus
ke kapsula dan bermuara pada ductus
kolektivus (10-25 buah)

b. Histologi Ginjal
Bungkusnya merupakan kapsul jaringan lemak dan jaringan ikat kolagen. Terdiri dari
bagian korteks dan medulla yang tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus. Bangunan
di korteks ada korpus malphigi, tubulus proksimal, dan tubulus distal. Sedangkan
bangunan di medulla ada pars decendens dan ascendens ansa henle, segmen tipis ansa
henle, ductus kolektivus dan papillaris bellini

c. Kapsula Renalis
 Ca : Capsula
 Fb : fibroblast
 CN : Connective Network
 PT : Proximal Tube

46
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

d. Nefron
Setiap ginjal terdapat 1.000.000
nefron.. Nefron berguna untuk menyaring
darah sebanyak 170 liter per harinya. Nefron
merupakan unit terkecil pada ginjal yang
memproduksi urin

Nefron terfiri dari :


 Korpus malphigi / corpus renalis
 Tubulus proksimal
 Ansa Henle
 Tubulus Distal

e. Korpus malphigi (corpusculum renale)


Terdiri dari kapsula bowman dan
glomerulus. Merupakan pelebaran
ujung proksimal saluran keluar ginjal
(nefron) dibatasi oleh epitel yang
diinvaginasi oleh anyaman kapiler
(glomerulus) sehingga bentuknya
seperti cangkir berdinding dua yaitu :
 Lamina parietalis (luar)
 Lamina visceralis (dalam)
Ruang di antara dinding bowman
(spatium Urinarium) berisi ultrafiltrat
yang akan masuk ke tubulus
proksimal.
f. Glomerulus

Bangunan berbentuk khas, bundar


dengan warna lebih tua dari sekitarnya
karena sel-selnya tesusun lebih padat.
Merupakan anyaman pembuluh kapiler,
dikelilingi oleh epitel pars visceralis kapsula
bowman (podosit).

47
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

g. Sawar Ginjal
Bangunan yang memisahkan darah kapiler glomerulus dari filtrate dalam rongga
bowman. Sawar terdiri dari :
 Endotel kapiler fenestrate glomerulus
 Lamina basalis kapiler
 Pedikel podosit dihubungkan dengan celah filtrasi
Fungsinya untuk menyaring molekul yang boleh dilewati lapisan filtrasi dan
molekul yang dicegah agar tidak keluar dari pembuluh darah kapiler.
h. Filtration slits
 BS : bowman space
 P : podocyte
 MP : major process
 BL : basal lamine
 FS : filtration slits
 EN : endothel
 Pe : pedicels

i. Tubulus Proksimal

Terletak di korteks.
Dengan sel kuboid berinti bulat
demgan jarak antar inti sel yang
berjauhan, berwarna biru,
sitoplasma asidofil, permukaan
sel terdapat brush border.
Fungsi : mengurangi isi filtrate
glomerulus 80-85% dengan
mereabsorbsi via transport dan
pompa Na, Glukosa, asam amino,
protein, bikarbonat akan
direabsorbsi

48
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

j. Ansa Henle
Terletak di bagian medulla ginjal, terdiri dari 3 bagian yaitu :
 Bagian tebal turum (pars descendens)
Tubulus poksimal
 Bagian tipis
Pembuluh darah kapiler, tetapi sitoplasma lebih jelas terlihat (lebih tebal)
 Bagian tebal naik (pars ascendens)
Tubulus distal
Fungsi : memekatkan / mengencerkan urin
k. Tubulus Distal
Terletak di korteks renalis. Sel kuboid
dengan batas antar sel lebih jelas daripada
tubulus proksimal, inti bulat, berwarna
biru, jarak antar inti sel berdekata, dengan
sitoplasma bersifat basophil

Fungsi : Pemekatan urin

l. Tubulus Koligens
Terletak di bagian medulla renalis.
Gambaran tubulus distal, membrane sel epotel jauh
lebih jelas, selnya leih tinggi dan lebih pucat.
Fungsi : menyalurkan kemih dari nefron ke pelvis ureter
dengan sedikit absorbs air yang dipengaruhi oleh
hormone ADH. Ductus papillaris (beliini) merupakan
muara tubulus koligens di bagian apeks papilla.

49
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

m. Apparatus juksta glomerularis


Terbentuk dari sel juksta glomerularis bersama-sama sel macula densa.

Sel Juksta Glomerular


Sel-sel otot polos dinding vasa afferens di dekat lomerulus yang berubah sifatnya
menjadi sel epiteloid, sel tampak terang dan terdapat granula yang mengandung enzim
rennin dalam sitoplasmanya.
Renin: enzim untuk mengontrol telkanan darah mengubah angiotensinogen menjadi
angiotensin I. ACE mengubah Angiotensin I menjadi Angiotensin II. Angiotensin II
mempengaruhi korteks adrenal untuk melepaskan hormone aldosterone.

Hormon Aldosteron
Hormone ini meningkatkan reabsorbsi Na dan Cl dan juga air di tubulus ginjal
terutama di tubulus convolotus distalis sehingga volume plasma bertambah.
Angiotensin II:
Dapat bekerja langsung pada sel-sel tubulus ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi Na, Cl,
dan air. Bersifat vasokonstriktor untuk konstriksi pembuluh darah.

Macula Densa
Sel epitel dinding tubulus distal yang berhimpitam dengan kutub vaskukar sehingga
sel-sel tersebut tersusun lebih padat, macula densa sensitive terhadap perubahan
konsentrasi ion Na dalam cairan tubulus distal. Jika tekanan darah sistemik turun maka
produksi filtrate glomerulus turun lalu konsentrasi ion Na turun di tubulus distal sehingga
merangsang macula densa (osmoreseptor) memberikan sinyal pada juksta glomerular
dan makan mengeluarkan enzim renin.

50
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

n. Sel Mesangial
Ada 2 macam sel mesangial sesuai dengan lokasinya :
1) Sel mesangial Intraglomuler
Terletak di antara anyaman kapiler glomerular dan membungkus bagian
endotel kapiler yang tidak diliputi oleh podosit. Fungsi:
 Melengkapi support structural terhadap anyaman kapiler.
 Mensekresikan beberapa komponen matriks ekstraseluler,
 Memelihara membrane basalis glomerulus dengan fagositosis.
 Perisit (mempengaruhi aktin dan myosin) dan berperan dalam pengaturan
aliran darah glomerulus.
2) Sel mesangial ekstraglomeruler
Sel polkisen (bantalan) = sel lacis. Sel ini terletak d antara apparatus juksta
glomerulus (di kutub vaskuler) yang meruoakan kelompok sel kecil-kecil terang.
Fungsinya masih belum jelas, diduga berperan dalam mekanisme umpan balik
tubuloglomeruler. Perubahan konsentrasiion Na pada macula densa akan
memberikan sinyal secara langsung mengontrol aliran darah glomerular. SME
menghasilkan hormone eritropoetin.

E. Proses Pembentukan Urin


Dari sekitar 1200 ml darah yang melalu glomerulus/menit maka akan terbentuk
120-125 ml filtrate ( cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap hari terbentuk 150-
180 L filtrate tapi hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan
kemudian diserap kembali.
Terdiri dari 3 tahapan:
 Filtrasi (di Glomerolus)
→ penyaringan darah →bagian yg
tersaring adalah cairan darah
(glukosa, air, sodium klorida, sulfat,
karbonat, dll), kecuali protein → ke
tubulus ginjal.

 Reabsorbsi (di tubulus proksimal)


Penyerapan kembali sebagian besar
dari glukosa, sodium klorida, dan
beberaoa ion bikarbonat..

 Sekresi
Penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke papila → kaliks
minor → kaliks mayor → pelvis ginjal → ureter → vesika urinaria → uretra.

51
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

F. Ureter
Berupa saluran dengan dinding terdiri dari 3 lapis yaitu :
 Lapisan mukosa
 Lapisan muskularis
 Lapisan adventitia/serosa
Tunika mukosa dengan epitel transtitional, 4-5 lapis yang didukung oleh lamina
propria. Tunika muskularis terdiri dari sel otot polos longitudinal di bagian dalam
dan sirkuler di bagian luar. Tunika serosa terdiri dari lapisan jaringan ikat
fibroelastin.
Berfungsi dalam meneruskan urin yang diproduksi ginjal ke dalam kandung kemih.
Jika ada batu ureter yang menggesek lapisan mukosa dan merangsang reseptor saraf
sensoris maka akan timbuk rasa nyeri yang amat sangat, penderita batu ureter bergulung-
gulung : Kolik Ureter

G. Vesica Urinaria
Berupa kantung yang berfungsi untuk menampung urin yang akan dikeluarkan ke luar
melalui uretra dengan dinding terdiri dari 3 lapis
yaitu:
 Lapisan mukosa
Epitel transtitional lebih tebal 6-8 lapis didukung oleh
jaringan ikat longgan membentuk lamina propria

 Lapisan muskularis
Terdiri dari berkas sel otot polos tersusun
berlapis-lapis dengan arah tidak beraturan,
diantaranya terdapat jaringan ikat longgar.
 Lapisan adventitia/serosa
Terdiri dari lapisan jaringan ikat fibroelastik.

52
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

H. Uretra
Tunika mukosa dg epitel bervariasi dr transisional di uretra pars prostatika,
berubah mjd epitel berlapis silindris & akhirnya epitel pipih berlapis pd ujung uretra pars
kavernosa yg melebar di fosa navikularis, tdp sedikit sel goblet penghasil mukus, di bwh
epitel tdp lamina propria dg jaringan ikat fibro-elastis longgar.
Uretra pria berbeda dengan uretra perempuan. Panjang uretra pria 15-20 cm
terdiri dari 3 bagian yaitu:
 Pars prostatika : muara uretra – bag yg menembus prostat, bermuara 2 saluran,
duktus ejakulatorius & saluran keluar kelenjar prostat, panjang 3 cm
 Pars membranasea : bag yg berjalan dr puncak prostat di ant otot rangka pelvis
menembus membran perineal & berakhir pd bulbus korpus kavernosus uretra,
panj 2 cm
 Pars kavernosa/spongiosa : menembus korpus kavernosum & bermuara pd
glands penis, panj 15 cm

Sedangkan uretra perempuan lebih pendek, hanya 4 cm dan terdiri 2 bagian


yaitu:
 Tunika mukosa dg epitel bervariasi dr epitel transisional di dekat muara kandung
kemih, mjd berlapis kolumner sampai dengan epitel pipih berlapis di bagian
ujungnya.
 Tunika muskularis tdd 2 lapis tersusun serupa dg ureter.

53
SISTEM URINARIA MISC POLLUX BLOK 7

Editor : Atayo, Guru

Layouter : Chimmy

54
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

Sistem Urinaria
(bu Yuning)
A. Sistem urinara berperan penting karena berfungsi sebagai :
1. Membuang sisa metabolism, terutama senyawa nitrogen (urea, kreatinin), benda asing , dan
produk sisanya.
2. Mengatur keseimbangan air dan elektrolit.
3. Mengatur keseimbangan asam dan basa.
4. Menghasilkan renin yang berguna dalam mengatur tekanan darah.
5. Menghasilkan eritropoetin yang berguna untuk proses pembentukan eritrosit di sumsum
tulang belakang.
6. Produksi dan sekresi urin.

B. Organ Sistem Urinaria


• Sepasang ginjal
• Sepasang ureter
• Vesical urinaria
• Urethra

C. Organ Urinaria Masculina dan Feminima

D. Organ Ginjal
Berbentuk seperti kacang dengan
panjang 10-12 cm dan tebal 3,5 – 5
cm.Terletak di ruang belakang selaput perut
tubuh (retroperitoneal) sebelah atas. Ginjal
kanan terletak lebih ke bawah daripada ginjal
kiri Karena hati menduduki ruang diatas ginjal
kanan. Ginjal juga dibungkus oleh jaringan ikat
fibrosa tipis dan pada sisi medial terdapat
hilus yaitu tempat keluar masuknya vena
renalis, arteri renalis, dan pelvis renalis (yang
berlanjut menjadi ureter).

55
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

a. Pelvis Renalis
Bagian ureter atas yang melebar dan mengisi hilus
ginjal. Terbagi menjadi dua :
• Kaliks mayor (2 buah)
• Kaliks minor (8-12 buah)
Setiap kaliks minor meliputi tonjolan
jaringan ginjal berbentuk kerucut atau
papilla renalis (merupakan puncak daerah
pyramid yang meluas dari hilus ke kapsula
dan bermuara pada ductus kolektivus (10-
25 buah)

b. Histologi Ginjal
Bungkusnya merupakan kapsul jaringan lemak dan jaringan ikat kolagen. Terdiri dari bagian
korteks dan medulla yang tidak dibatasi oleh jaringan pembatas khusus. Bangunan di korteks
ada korpus malphigi, tubulus proksimal, dan tubulus distal. Sedangkan bangunan di medulla ada
pars decendens dan ascendens ansa henle, segmen tipis ansa henle, ductus kolektivus dan
papillaris bellini

c. Kapsula Renalis
• Ca : Capsula
• Fb : fibroblast
• CN : Connective Network
• PT : Proximal Tube

d.
d. Nefron
Setiap ginjal terdapat 1.000.000
nefron.. Nefron berguna untuk menyaring darah
sebanyak 170 liter per harinya. Nefron
merupakan unit terkecil pada ginjal yang
memproduksi urin.

Nefron terdiri dari :


Korpus malphigi / corpus renalis
Tubulus proksimal
Ansa Henle
Tubulus Distal

56
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

e. Korpus malphigi (corpusculum renale)


Terdiri dari kapsula bowman dan
glomerulus. Merupakan pelebaran ujung
proksimal saluran keluar ginjal (nefron)
dibatasi oleh epitel yang diinvaginasi oleh
anyaman kapiler (glomerulus) sehingga
bentuknya seperti cangkir berdinding dua
yaitu :
• Lamina parietalis (luar)
• Lamina visceralis (dalam)
Ruang di antara dinding bowman
(spatium Urinarium) berisi ultrafiltrat
yang akan masuk ke tubulus proksimal.

f. Glomerulus
Bangunan berbentuk khas, bundar
dengan warna lebih tua dari sekitarnya
karena sel-selnya tesusun lebih padat.
Merupakan anyaman pembuluh kapiler,
dikelilingi oleh epitel pars visceralis kapsula
bowman (podosit).

g. Sawar Ginjal
Bangunan yang memisahkan darah kapiler glomerulus dari filtrate dalam rongga
bowman. Sawar terdiri dari :
• Endotel kapiler fenestrate glomerulus
• Lamina basalis kapiler
• Pedikel podosit dihubungkan dengan celah filtrasi
Fungsinya untuk menyaring molekul yang boleh dilewati lapisan filtrasi dan
molekul yang dicegah agar tidak keluar dari pembuluh darah kapiler.
h. Filtration slits
BS : bowman space
P : podocyte
MP : major process
BL : basal lamine
FS : filtration slits
EN : endothel
Pe : pedicels

57
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

i. Tubulus Proksimal

Terletak di korteks. Dengan


sel kuboid berinti bulat demgan
jarak antar inti sel yang berjauhan,
berwarna biru, sitoplasma asidofil,
permukaan sel terdapat brush
border.
Fungsi : mengurangi isi filtrate
glomerulus 80-85% dengan
mereabsorbsi via transport dan
pompa Na, Glukosa, asam amino,
protein, bikarbonat akan
direabsorbsi

j. Ansa Henle
Terletak di bagian medulla ginjal, terdiri dari 3 bagian yaitu :
• Bagian tebal turum (pars descendens)
Tubulus poksimal
• Bagian tipis
Pembuluh darah kapiler, tetapi sitoplasma lebih jelas terlihat (lebih tebal)
• Bagian tebal naik (pars ascendens)
Tubulus distal
Fungsi : memekatkan / mengencerkan urin
k. Tubulus Distal
Terletak di korteks renalis. Sel kuboid dengan
batas antar sel lebih jelas daripada tubulus
proksimal, inti bulat, berwarna biru, jarak
antar inti sel berdekata, dengan sitoplasma
bersifat basophil

Fungsi : Pemekatan urin

58
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

l. Tubulus Koligens
Terletak di bagian medulla renalis.
Gambaran tubulus distal, membrane sel epotel jauh lebih
jelas, selnya leih tinggi dan lebih pucat.
Fungsi : menyalurkan kemih dari nefron ke pelvis ureter
dengan sedikit absorbs air yang dipengaruhi oleh hormone
ADH. Ductus papillaris (beliini) merupakan muara tubulus
koligens di bagian apeks papilla.

m. Apparatus juksta glomerularis


Terbentuk dari sel juksta glomerularis bersama-sama sel macula densa.

Sel Juksta Glomerular


Sel-sel otot polos dinding vasa afferens di dekat lomerulus yang berubah sifatnya menjadi
sel epiteloid, sel tampak terang dan terdapat granula yang mengandung enzim rennin dalam
sitoplasmanya.
Renin: enzim untuk mengontrol telkanan darah mengubah angiotensinogen menjadi
angiotensin I. ACE mengubah Angiotensin I menjadi Angiotensin II. Angiotensin II mempengaruhi
korteks adrenal untuk melepaskan hormone aldosterone.

Hormon Aldosteron
Hormone ini meningkatkan reabsorbsi Na dan Cl dan juga air di tubulus ginjal terutama di
tubulus convolotus distalis sehingga volume plasma bertambah.

59
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

Angiotensin II:
Dapat bekerja langsung pada sel-sel tubulus ginjal untuk meningkatkan reabsorbsi Na, Cl, dan
air. Bersifat vasokonstriktor untuk konstriksi pembuluh darah.

Macula Densa
Sel epitel dinding tubulus distal yang berhimpitam dengan kutub vaskukar sehingga sel-
sel tersebut tersusun lebih padat, macula densa sensitive terhadap perubahan konsentrasi ion
Na dalam cairan tubulus distal. Jika tekanan darah sistemik turun maka produksi filtrate
glomerulus turun lalu konsentrasi ion Na turun di tubulus distal sehingga merangsang macula
densa (osmoreseptor) memberikan sinyal pada juksta glomerular dan makan mengeluarkan
enzim renin.

n. Sel Mesangial
Ada 2 macam sel mesangial sesuai dengan lokasinya :
1) Sel mesangial Intraglomuler
Terletak di antara anyaman kapiler glomerular dan membungkus bagian endotel
kapiler yang tidak diliputi oleh podosit. Fungsi:
• Melengkapi support structural terhadap anyaman kapiler.
• Mensekresikan beberapa komponen matriks ekstraseluler,
• Memelihara membrane basalis glomerulus dengan fagositosis.
• Perisit (mempengaruhi aktin dan myosin) dan berperan dalam pengaturan
aliran darah glomerulus.
2) Sel mesangial ekstraglomeruler
Sel polkisen (bantalan) = sel lacis. Sel ini terletak d antara apparatus juksta
glomerulus (di kutub vaskuler) yang meruoakan kelompok sel kecil-kecil terang.
Fungsinya masih belum jelas, diduga berperan dalam mekanisme umpan balik
tubuloglomeruler. Perubahan konsentrasiion Na pada macula densa akan memberikan
sinyal secara langsung mengontrol aliran darah glomerular. SME menghasilkan
hormone eritropoetin.

E. Proses Pembentukan Urin


Dari sekitar 1200 ml darah yang melalu glomerulus/menit maka akan terbentuk 120-125
ml filtrate ( cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap hari terbentuk 150-180 L filtrate tapi
hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan kemudian diserap kembali.

60
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

Terdiri dari 3 tahapan:


• Filtrasi (di Glomerolus)
→ penyaringan darah →bagian yg tersaring adalah cairan darah (glukosa, air, sodium
klorida, sulfat, karbonat, dll), kecuali protein → ke tubulus ginjal.

• Reabsorbsi (di tubulus proksimal)


Penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium klorida, dan beberaoa ion
bikarbonat..

• Sekresi
Penyerapan kembali yang terjadi pada tubulus dan diteruskan ke papila → kaliks minor
→ kaliks mayor → pelvis ginjal → ureter → vesika urinaria → uretra.

F. Ureter
Berupa saluran dengan dinding terdiri dari 3 lapis yaitu :
• Lapisan mukosa
• Lapisan muskularis
• Lapisan adventitia/serosa
Tunika mukosa dengan epitel transtitional, 4-5 lapis yang didukung oleh lamina propria.
Tunika muskularis terdiri dari sel otot polos longitudinal di bagian dalam dan sirkuler di
bagian luar. Tunika serosa terdiri dari lapisan jaringan ikat fibroelastin.
Berfungsi dalam meneruskan urin yang diproduksi ginjal ke dalam kandung kemih. Jika
ada batu ureter yang menggesek lapisan mukosa dan merangsang reseptor saraf sensoris maka
akan timbuk rasa nyeri yang amat sangat, penderita batu ureter bergulung-gulung : Kolik Ureter

G. Vesica Urinaria
Berupa kantung yang berfungsi untuk menampung urin yang akan dikeluarkan ke luar melalui
uretra dengan dinding terdiri dari 3 lapis yaitu:
• Lapisan mukosa
Epitel transtitional lebih tebal 6-8 lapis didukung oleh jaringan ikat longgan membentuk
lamina propria
• Lapisan muskularis
Terdiri dari berkas sel otot polos tersusun berlapis-lapis dengan arah tidak beraturan,
diantaranya terdapat jaringan ikat longgar

61
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

• Lapisan adventitia/serosa
Terdiri dari lapisan jarinhan ikat fibroelastik

H. Uretra
Tunika mukosa dg epitel bervariasi dr transisional di uretra pars prostatika, berubah
menjadi epitel berlapis silindris & akhirnya epitel pipih berlapis pd ujung uretra pars kavernosa
yang melebar di fosa navikularis, terdapat sedikit sel goblet penghasil mukus, di bawah epitel
terdapat lamina propria dengan jaringan ikat fibro-elastis longgar.
Uretra pria berbeda dengan uretra perempuan. Panjang uretra pria 15-20 cm terdiri dari
3 bagian yaitu:
• Pars prostatika : muara uretra – bag yang menembus prostat, bermuara 2 saluran,
duktus ejakulatorius & saluran keluar kelenjar prostat, panjang 3 cm
• Pars membranasea : bag yang berjalan dari puncak prostat di antara otot rangka pelvis
menembus membran perineal & berakhir pada bulbus korpus kavernosus uretra,
panjang 2 cm
• Pars kavernosa/spongiosa : menembus korpus kavernosum & bermuara pada glands
penis, panjang 15 cm.

Sedangkan uretra perempuan lebih pendek, hanya 4 cm dan terdiri 2 bagian yaitu:
• Tunika mukosa dengan epitel bervariasi dari epitel transisional di dekat muara kandung
kemih, menjadi berlapis kolumner sampai dengan epitel pipih berlapis di bagian
ujungnya.
• Tunika muskularis terdiri 2 lapis tersusun serupa dg ureter.

62
Histology urinaria MISC POLLUX BLOK 7

EDITOR : DEL
LAYOUTER : FRDL

DALAM ILMU KEDOKTERAN PADA TUBUH MANUSIA TERDAPAT 360 SENDI, NAMUN ADA SATU SENDI
YANG SERING MENYAKITKAN, YAITU SENDIRIAN.

63
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

DASAR MANAJEMEN MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT


Dr.dr. Titiek Hidayati, M.Kes

Editor : Haidar & Icha Nusaibah


Layouter : Alifia F. A.

A. ANALISIS SITUASI
Kegiatan mengumpulkan dan memahami informasi tentang suatu situasi yang berguna untuk
menetapkan masalah. Tujuan analisis situasi adalah 1) memahami masalah kesehatan secara jelas
dan spesifik 2) mempermudah penentuan prioritas 3) mempermudah penentuan alternatif
pemecahan masalah.
Determinant of Health (HL. Blum, 1981) menyatakan bahwa status kesehatan dipengaruhi oleh 4
hal, yaitu Herediter, Pelayanan Kesehatan, Lingkungan, Kebiasaan.
 Analisis status kesehatan
Analisis status kesehatan akan menjelaskan masalah kesehatan apa yang akan dihadapi.
Analisis ini akan menghasilkan ukuran-ukuran status kesehatan secara kuantitatif,
penyebaran masalah menurut kelompok umur penduduk, menurut tempat, dan waktu.
Ukuran yang digunakan adalah angka kematian (mortalitas) dan kesakitan (mordibitas)
 Analisis herediter : analisis kependudukan
Meliputi jumlah penduduk, pertumbuhan penduduk, struktur umur, mobilitas penduduk,
dan pekerjaan. Manfaatnya adalah sebagai denominator atau penyebut ukuran masalah
kesehatan, sebagai prediksi beban upaya program kesehatan, dan sebagai prediksi masalah
kesehatan yang dihadapi.
Dalam mendapatkan data primer analisis herediter dapat menggunakan observasi
lingkungan dan wawancara langsung (kepada kepala rumah tangga atau anggota keluarga
lain). Sedangkan data sekunder dapat menggunakan informasi yang sudah ada seperti
laporan kegiatan program kesehatan, survailans epidemiologi penyebaran penyakit, atau
memanfaatkan data yang diperkirakan cukup untuk mewakili suatu daerah.
 Analisis pelayanan kesehatan
Pelayanan atau upaya kesehatan meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Analisis ini menghasilkan data tentang input, proses, output, dan dampak dari
pelayanan kesehatan. Tujuannya adalah mengetahui akses rumah tangga ke pelayanan
kesehatan (secara jarak maupun waktu) dan mengetahui pemanfaatannya.

64
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

 Analisis lingkungan
Analisis ini meliputi lingkungan fisik, lingkungan biologis, dan lingkungan sosial. Tujuan
analisis ini adalah memperoleh informasi tentang keadaan sanitasi lingkungan rumah
tangga serta memperoleh informasi akses masyarakat terhadap air dan penyehatan
lingkungan.
 Analisis perilaku kesehatan (kebiasaan)
Analisis ini memberikan gambaran tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat
sehubungan dengan kesehatan maupun upaya kesehatan. Dapat dilakukan dengan teori
health belief model atau teori lainnya (blok sebelumnya)

B. IDENTIFIKASI MASALAH
Kata masalah memiliki artian kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Contoh adalah
membandingkan data pencapaian kegiatan dengan target kegiatan atau data kesehatan suatu
tempat dengan angka di tempat lain yang dianggap lebih baik.

C. PRIORITAS MASALAH
Penentuan prioritas masalah untuk mengetahui sejauh mana masalah itu penting dan apakah
masalah tersebut dapat teratasi. Penentuan prioritas masalah dapat dilakukan secara kualitatif
dan kuantitatif. Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan oleh
sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menentukan urutan masalah
dari yang paling penting sampai yang kurang penting.
Hal yang penting untuk diketahui dalam prioritas masalah adalah :
 Masalah yang perlu diprioritaskan
 Siapa yang melakukan prioritas masalah
 Bagaimana metode untuk melakukan prioritas masalah
Dalam menetapkan prioritas masalah, ada beberapa hal yangg perlu menjadi pertimbangan
seperti besarnya masalah yang terjadi, pertimbangan politik, persepsi masyarakat, bisa tidaknya
masalah itu diselesaikan, cara pemilihan prioritas masalah.

Cara pemilihan prioritas masalah secara sederhana dibagi menjadi 2, yaitu


I. SCORING TECHNIQUE (METODE SKOR)
 Misal metode Delbeg, metode Hanlon, metode Delphi, metode USG , metode
pembobotan dan metode dengan rumus

65
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

 Pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score(nilai) untuk berbagai parameter


tertentu yang telah ditetapkan.
 Parameter yg dimaksud bisa:
a. Besarnya masalah
b. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan
c. Kenaikan prevalensi masalah
d. Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut
e. Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut terselesaikan.
f. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah
g. Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan untuk mengatasi masalah

Kriteria-kriteria diatas biasanya dituangkan dalam bentuk matriks

Keterangan :

 skor 1 = tidak penting


 skor 5 = sangat penting
 P = prevalensi
 S = severity (akibat)
 RI = rate of increase (kenaikan besarnya masalah)
 DU = degree of unmeet need (derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi)
 SC = social benefit (keuntungan)
 PB = public concern (keprihatinan masyarakat)
 PC = politic climate (suasana politik)

1) TEKNIK BRYANT

Cara ini telah dipergunakan di beberapa negara yaitu di Afrika dan Thailand. Cara ini
menggunakan 4 macam kriteria :
1. Community Concern, yakni sejauh mana masyarakat menganggap masalah tersebut
penting.
2. Prevalensi, yakni berapa banyak penduduk yang terkena penyakit tersebut.
3. Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut.
4. Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk mengatasinya.

66
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

2) TEKNIK EKONOMETRIK

Kriteria yang dipakai adalah :


1. Magnitude (M), yakni kriteria yang menunjukkan besarnya masalah.
2. Importance (I), yakni ditentukan oleh jenis kelompok penduduk yang terkena
masalah.
3. Vulnerability (V), yaitu ada tidaknya metode atau cara penanggulangan yang efektif.
4. Cost (C) , yaitu biaya yang diperlukan untuk penanggulangan masalah tersebut
• Masalah Kesehatan
• Besarnya Masalah / Magnitude (M)
• Derajat Keparahan /Importancy (pentingnya masalah
• Ketersediaan Teknologi /Cost/ besarnya biaya
• Kepedulian Masyrakat & Pejabat Vulnerability/kerentanannya terhadap cara
intervensi

Masalah Besarnya Derajat Keparahan/ Ketersediaan Kepedulian Masyrakat & Pejabat


Kesehatan Masalah / Importancy (pentingnya Teknologi / Cost/ Vulnerability/kerentanannya
Magnitude (M) masalah ) besarnya biaya terhadap cara intervensi

3) TEKNIK HANLON
Metode hanlon adalah metode yang lebih tepat jika daftar outcome dari tujuan yang ingin
dicapai tersedia dari daftar prioritas yang ada dengan data yang memadai dan system
penilaian. Metode hanlon lebih tepat digunakan untuk menentukan prioritas masalah
kesehatan dengan memperhatikan teknik responsive dimana tujuan yang dicapai dari
program jelas yang dituangkan dalam kriteria dan faktor-faktor lain yang memungkinkan

Kriteria besarnya masalah :


 Besarnya prosentase penduduk yang menderita langsung karena penyakit
tersebut
 Besarnya pengeluaran biaya yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut
 Besarnya kerugian lain yang diderita
Kriteria tingkat kegawatan masalah :
 Tingkat urgensinya
 Kecenderungannya
 Tingkat keganasannya
Kriteria penanggulangan masalah (Efektif intervensi yang diberikan)
Misal : Amat sulit(1) Sulit(2) Cukup sulit(3) Mudah(4) Sangat mudah(5)

67
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

Menentukan rangking urutan dengan kriteria spesifik

Menghitung prioritas dengan scoring

Rumus :
D = [A+(2xB)]x C
Keterangan :
 D : prioritas skor
 A : besaran rangking masalah kesehatan
 B : keseriusan masalah kesehatan
 C : potensial tindakan dapat dilakukan

II. NON SCORING TECHNIQUE


Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter, dilakukan bila
tersedia data yang lengkap. Bila tidak tersedia data, maka cara menetapkan prioritas masalah
yang lazim digunakan adalah :

68
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

-DELPHIN TECHNIQUE
Penetapan prioritas masalah tersebut dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang
sama keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan khusus. Setiap
peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan beberapa masalah pokok,
masalah yang paling banyak dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari.

-DELBECH TECHNIQUE
Penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang tidak
sama keahliannya. Sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan
pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Lalu diminta untuk
mengemukakan beberapa masalah.

Masalah yang banyak dikemukakan adalah prioritas


1. Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter, dilakukan bila
tersedia data yang lengkap
2. Bila tidak tersedia data, maka cara menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan

D. ALTERNATIVE PEMECAHAN MASALAH


Alternatif pemecahan masalah kesehatan dapat berupa fisik ataupun non fisik. Poin
alternatif pemecahan masalah untuk setiap masalah kesehatan di masyarakat baiknya
dirapatkan/diskusikan di tingkat desa/kelurahan beserta masyarakat. Menetapkan prioritas
jalan keluar melalui alternative jalan keluar.

Menetapkan prioritas jalan keluar:


• Alternatif Jalan keluar
• Memilih Prioritas Jalan keluar
• Melakukan uji lapangan
• Memperbaiki prioritas jalan keluar
• Menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar

69
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

E. PELAKSANAAN DAN PENGGERAKAN


Penyusunan POA
a. Pendahuluan
b. Analisa situasi
c. Tujuan dan masalah
d. Kebijaksanaan pelaksanaan dan pokok kegiatan
e. Organisasi dan penggerakan pelaksanaan
f. Sumber daya yang dimanfaatkan
g. Perkiraan faktor penunjang dan faktor penghambat
h. Pengawasan pengendalian dan peniaian
i. Penutup

F. MONITORING DAN EVALUASI


Monitoring merupakan kegiatan untuk memantau proses/jalannya suatu program/
kegiatan. Sedangkan, evaluasi adalah kegiatan untuk menilai hasil suatu program atau
kegiatan. Monitoring dilakukan sejalan dengan evaluasi agar kegiatan - kegiatan yg
dilakukan dalam rangka mencapai tujuan program sesuai perencanaan baik waktunya
maupun jenis kegiatannya.

Jenis evaluasi
a. Evaluasi Formatif : dilakukan pada proses program (program masih berjalan).
b. Evaluasi Sumatif : dilakukan pada waktu program telah selesai.

Langkah-langkah kegiatan evaluasi


a. Menetapkan tujuan evaluasi.
b. Menetapkan kriteria yang akan digunakan.
c. Menetapkan cara/metode evaluasi yg akan digunakan.
d. Melaksanakan evaluasi, mengolah, dan menganalisis data atau hasil pelaksanaan
evaluasi tersebut.
e. Menentukan keberhasilan program yg dievaluasi berdasarkan kriteria yg telah
ditetapkan.
f. Menyusun rekomendasi atau saran-saran.

70
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

KESIMPULAN
 Problem solving Cycle dimulai dengan analisis situasi, antara lain melalui pendektan HL
Blum
 Prioritas masalah : skoring dan non skoring
 Lakukan monitoring dan evaluasi untuk kegiatan penyelesaian masalah yang dilakukan

71
Dasar Manajemen Masalah Kesehatan Masyarakat MISC Pollux Blok 7

72
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

HISTOLOGI SISTEM GENITALIA MASCULINA


Dosen : Yuningtyaswari,S.Si.,M.Kes

A. KOMPONEN SISTEM GENITALIA MASKULINA

Pada sistem genitalia masculina ini dibagi menjadi tiga komponen. Ada organ genitalia
interna, organ genitalia eksterna, dan galndula penunjang yang masing-masingnya masih
terbagi menjadi beberapa bagian.

1. Organ genitalia interna


a. Testis
b. Ductus genitalis (ductus eferens, ductus epidydimisductus deferens, dan ductus
ejakulatorius)

2. Organ genitalia eksterna


a. Scrotum
b. Penis

3. Glandula penunjang
a. Vesicula seminalis
b. Glandula prostata
c. Glandula bulbouretralis (Cowper), kelenjar ini akan menghasilkan semen

[Type here]

73
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

B. ORGAN GENITALIA INTERNA

A. Testis
Testis memiliki bentuk oval dengan panjang 4 cm, lebar 2-3 cm, dan tebal 3 cm. Pada
masa embriogenesis, testis berkembang dalam rongga retroperitoneal pada dinding
psterior rongga abdomen.

Bungkus terluar bagian anterior merupakan kapsul padat yang terdiri dari Textus
Connectivus Compactus Collagenosus Irregulare  tunica albuginea. Di posterior Textus
Connectivus longgar dengan banyak pembuluh darah  tunica vasculosa  kapsul
vascular testis

Pada bagian posterior , tunica albuginea ada bagian yang menebal membentuk
mediastinum testis yang membentuk septum Textus Connectivus yang membagi ruang-
ruang testis. Septum Textus Connectivus membagi ruang testis menjadi 250 lobulus testis
(ruang berbentuk piramida yang saling terhubung). Lobulus berisi 1 - 4 tubulus
seminiferus yang berujung buntu, diliputi Textus Connectivus longgar dengan banyak
serat saraf dan pembuluh darah dari tunica vasculosa.

Di antara tubulus -tubulus ini terdapat Textus Connectivus intestitial dengan sel-sel
Leydig (sel interstitial) yang akan mensintesis testosteron yang memberikan peran testis
sebagai kelenjar endokrin. Spermatozoon pada testis dibentuk oleh epitel seminiferus.
Sementara tubulus seminiferus berbentuk panjang dan berkelok-kelok.

(sayatan memanjang TESTIS dan EPIDYDIMIS)

[Type here]

74
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

(Bagian testis dankeluarnya sperma)

Dari tubulus seminferus, sperma akan memasuki tubuli recti yang lurus dan
pendek. Tubulus ini menghubkan ujung tubulus seminferus dengan rete testis yang
berupa sistem labirin (berkelok-kelok) dalam mediastinum testis.

Spermatozoa meninggalkan rete testis melalui 10 - 20 tubulus pendek yaitu


ductus eferentes yg selanjutnya akan bermuara ke epidydimis. Dari epidydimis,
selanjutnya spermatozoa menuju ductus (vas) deferens yang akna menuju ke vesicula
seminalis.

Spermatozoa berenang dalam semen yang selain membawa nutrisi, juga sebagai
pembawa, pengangkut cair untuk mengantar ke saluran reproduksi wanita.

Vascularisasi testis

Suplai vascular testis berasal dari aorta abdominal sebagai arteri testicular yang
membentuk beberapa cabang sebelum menembus kapsul testis membentuk unsur
vascular dlm testis. Jaringan kapiler testis akan disalurkan ke beberapa vena yg
menyusun plexus pampiniformis yang meliputi arteri testicular.

Arteri, vena dan ductus deferens akan membentuk khorda spermatika yang
berjalan melalui canalis inguinalis, yaitu suatu jalur dari ruang abdomen ke scrotum.

[Type here]

75
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Pada testis terdapat sistem yang disebut sistem pendinginan nih.

Jadi darah pada vena plexus pampiniformis yang bersuhu lebih rendah dari
arteri testicular akan menurunkan suhu darah arteri dan terjadi sistem pertukaran arus
berlawanan arah (counter-current heat exchange system). Selanjutnya, suhu testis
dipertahankan beberapa derajad lbh rendah drpd suhu tubuh.

Pada suhu 35◦C (95◦F) spermatozoa berkembang dgn normal, testis akan
dipertahankan dalam suhu lebih sejuk dalam scrotum. Hal ini membantu efek
pendinginan oleh plexus pampiniformis.

1. Tubulus Seminiferus
Terdiri dari epitel seminiferus yang tebal serta dikelilingi Textus Connectivus tipis
 tunica/lamina propria.

Tubulus ini berupa tabung (tubulus) berlumen yang sangat berkelok2 dengan
panjang 30 - 70 cm, diameter 150 - 250μ, dan dikelilingi oleh jaringan-jaringan kapiler
yang luas.

Ada sekitar 1000 tubulus seminiferus terdapat dalam kedua testis. Jika ditotal,
panjangnya bisa mencapai 500 m. Subhanallah.

Dinding tubulus ini terdiri dari tunika propria (lapisan TC tipis) dan epitel
seminiferus yang tebal. Tunika dan epitelnya dipisahkan oleh lamina basalis  Textus
Connectivus dengan serabut kolagen I dan sel fibroblas. Pada hewan, terdapat sel mioid
yang kontractil.

[Type here]

76
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Bentuk epitel dari tubulus seminiferus yaitu epitel germinal. Mempunyai


ketebalam beberapa sel yang terdiri dari dua macam sel yaitu sel spermatogenik dan
sel sertoli.

2. Sel Spermatogenik dan Sel Sertoli

a. Sel Sertoli
Sel sertoli adalah sel silindris tinggi. Membran lateralnya membentuk lipatan yg
komplex  dengan MC cahaya tidak dapat terlihat batas lateralnya.

Membran apikal juga sangat berlipat dan menonjol ke arah lumen. Nukleus jernih,
oval, dengan nukleolus besar di tengah.

Sitoplasma dari sel sertoli ini mengandung inclusiones kristaloid Charcot Bottcher
.Sitolpasma dipenuhi RE halus dengan jumlah RE kasar terbatas. Banyak mitokondria,
Aparatus Golgi, dan vesikel-vesikel komplex endolisosom.

Membran lateral sel Sertoli yang berdampingan membentuk taut kedap (zonulae
okludentes) , yaitu lumen tubulus yang terbagi menjadi dua ruang konsentri yg terpisah
yaitu kompartemen basal dan adluminal.

Kompartemen basal lebih sempit, di basal dan melingkupi kompartemen


adluminal yang lebih luas.

[Type here]

77
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Taut kedap ini membentuk sawar darah testis yang mengisolasi ruang adluminal
dari pengaruh Textus Connectivus sehingga melindungi sel benih yang sedang dalam
perkembangan sistem imun.

Sel-sel benih yang baru terbentuk pada masa pubertas mempunyai kromosom
berbeda serta mengekspresikan molekul dan reseptor membran permukaan yang
berbeda yang akan dianggap sebagai ‘sel asing’ oleh sistem imun.

Jika tidak ada sawar pemisah antara sel benih dan TC-nya, akan terjadi respon
imun terhadap sel-sel tersebut.

Fungsi sel sertoli:


• Sebagai dukungan fisik dan nutrisi bagi sel benih yang sedang berkembang.
• Fagositosis sitoplasma yang dilepas selama spermiogenesis.
• Sawar darah testis dengan adanya taut kedap antara sel sertoli yang berdampingan.
• Sintesis dan pelepasan protein pengikat androgen (androgen-binding protein(ABP)),
yaitu molekul yang memfasilitasi peningkatan testosteron dalam tubulus
seminiferus dengan mengikatnya dan mencegahnya meninggalkan tubulus.
• Sintesis dan pelepasan (semasa embriogenesis) hormon antimullerian yang
menekan pembentukan ductus mulleri (prekursor SG female)  memastikan
perkembangan kejantanan.
• Sintesis dan sekresi inhibin, suatu hormon yang menghambat pelepasan hormon
penstimulasi FSH oleh hipofisis anterior.
• Sekresi medium yang banyak mengandung fruktosa untuk nutrisi dan memudahkan
transportasi spermatozoa ke ductus genital.
• Sintesis dan sekresi transferin testis, suatu apoprotein yang menerima Fe dari serum
transferin dan mengantarkannya ke sel benih yang sedang mengalami pematangan.

b. Sel Spermatogenik
Sebagian besar sel epitel seminferus adalah sel spermatogenik dalam berbagai
tahap pematangan. Spermatogonia terletak di ruang basal. Spermatosit primer,
sekunder, spermatid dan spermatozoa berada di ruang adluminal.
Spermatogonia (2n)  mitoosis : bh banyak spermatogonia dan spermatosit.

[Type here]

78
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Spermatosit bermigrasi menuju ruang adluminal sehingga terjadi pembelahan


meiosis I yang akan menghasilkan spermatosit sekunder (1n). Spermatosit sekunder
mengalami pembelahan meiosis II dan terbentuk spermatid. Selanjutnya
bertranformasi menjadi spermatozoa (pelepasan banyak sitoplasma, penataan
kembali organel dan pembentukan flagela).

(Sel spermatogenik dalam tubulus seminiferous convolutus)

[Type here]

79
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

3. Proses Spermatogenesis
Secara singkat adalah :
a. Sel Oenitr yang merupakan asal mula sel sperma adalah sel diplold (mengandung 46
kromosom, atau 23 pasang) dan disebut spermatogonium. Pembelahaan mitosis sel ini
menghasilkan satu sel benih baru dan satu sel yang akan bermiosis. Sel yang akan bermiosis
tersebut adalah spermatosit primer.
b. Pembelahan meiosis pertama berasal dari spermatosit primer diploid. Sel haploid (hanya
mengandung 23 kromosom) yang dihasilkan dari pembelahan meiosrs pertama disebut
spermatosit sekunder.
c. Pembelahan meiosis kedua berasal dari spermatosit sekunder dan menghasilkan spermatid.
d. Proses spermiogenesis bermula dengan spermatid dan menghasilkan perubahan-perubahan
morfologis yang diperlukan untuk membentuk sperma motil.

[Type here]

80
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Penjelasan lebih lanjut


I. Proses ini terdapat:
• Fase spermatositogenesis, yaitu diferensiasi spermatogonia menjadi spermatosit
primer.
• Meiosis, merupakan pembelahan reduksi yang menghasilkan spermatid haploid.
• Spermiogenesis, adalah transformasi spermatid menjadi sperma.

II. Diferensisasi Spermatogonia


Di sini, ada 3 kategori spermatogonia yaitu :
• Spermatogonia tipe A gelap :
Sel kecil berbentuk kubah dengan inti oval/pipih, banyak hererokromatin yang
berinti padat. Merupakan sel cadangan yang belum memasuki siklus sel. Setiap
mitosis, sel ini akan membentuk spermatogonia tipe A gelap tambahan dan
spermatogonia tipe A pucat.
• Spermatogonia tipe A pucat :
Identik dengan tipe A gelap, tapi intinya banyak eukromatin, pucat. Sedikit organel
(MK, Ap Golgi terbatas), RER, dan banyak ribosom bebas.
Sel ini dirangsan testosteron berproliferasi, mitosis : spermatogonia tipe A pucat
dan spermatogonia tipe B
• Spermatogonia tipe B :
Sama dengan tipe A tapi intinya berbentuk bulat. Membelah mitosis  spermatosit
primer

III. Pembelahan Meiosis Spermatosit


• Spermatosit primer yang terbentuk akan segera bermigrasi menuju ruang
adluminal.
• Spermatosit primer adalah terbesar ukurannya, inti besar, vesikuler, kromosom
dalam aneka tahap pemadatan.
• Spermatosit segera menduplikasi DNA menjadi 4n, tapi kromosom tetap 2n.
• Selama pembelahan meiosis I, DNA 2n dan kromosom 1n
• Selama pembelahan meiosis II, DNA 1n dan kromosom 1n

Pembelahan Meiosis spermatit terbagi menjadi profase, metafase, anafase,


telofase.

 Profase I :

[Type here]

81
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Terjadi selama 22 hari dan memiliki empat tahap yaitu :


1. Leptoten : krmosom memadat, membentuk lembaran
2. Zigoten : berpasangan dengan homolognya
3. Pakiten : pemadatan membentuk kromosom tebal  tetrad
4. Diakinesis : Pertukaran segmen (crossing over)  rekomnedasi genetik
 Metafase I (kromosom homolog berderet di equator)
 Anafase I (masing-masing anggota kromosom homolog memisah ke kutub
berkawanan)
Pada anafase kromosom X dan Y terpisah sehingga terdapat dua macam
spermatozoon yaitu andro dan gynospermium.
*Jika terjadi non-disjunction kromosom XY, bisa menimbulkan sindroma-
sindroma seperti sindroma
Klinefelter, dsb.
 Telofase I (terbentuk spermatosit sekunder)
• Spermatosit sekunder kecil, usianya singkat (karena segera berubah menjadi
spermatid). Spermatosit sekunder ini tidak mudah dilihat dalam epitel
seminiferus.
• Sel-sel ini mempunyai DNA 2n, tidak mereplikasikan DNAnya dan segera
memasuki meiosis II membentuk dua spermatid haploid DNA in.
4. Transformasi Spermatid (spermiogenesis)
Spermatid melepas banyak sitoplasma, menyusun kembali organelorganel dan
membentuk flagella untuk bertansformasi menjadi spermatozoa  spermiogenesis.
Empat fase spermiogenesis :
a. Fase golgi :
Enzim hidrolitik yang dihasilkan RE kasar, dimodifikasi pada Apparatus golgi
membentuk granula pra akrosom. Vesikel-vesikel kecil ini menyatu membentuk
vesikel (granula) akrosom yang kemudian akan menempel dan terikat pada
selubung inti membentuk kutub anterior spermatozoa .

Sentriol meninggalkan daerah inti dengan salah satunya ikut membentuk


aksonema flagella. Saat mulai pembentukan microtubulus, sentriol kembali ke
area inti untuk membantu pembentukan bagian penghubung struktur yang akan
melingkupi sentriol.

b. Fase tudung : Vesikel akromsom betambah besar, dan sebagian membrannya


melingkupi inti  mencapai ukuran maksimal  akrosom (tudung akrosom).

[Type here]

82
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

c. Fase akrosom : Terjadi perubahan pada bentuk spermatid inti yang memadat,
sel memanjang, MK pindah tempat.
d. Fase maturasi : L pelepasan sitoplasma spermatid  terbentuk spermatozoa
yang masih imotil motil dalam perjalanan di epidydimis. Baru dapat
membuahi setelah kapasitasi.

5. Sel Leydig
Sel ini tersebar di antara unsur TC tunica vasculosa, mensekresi testosteron.
Bentuk sel polihedral, diamter 15μ, berbentuk mono atau binuclear.

Merupakan sel steroid, MK dengan krista tubular, banyak SER, Apparatus Golgi
berkembang baik, mengandung beberapa RER, banyak tetes lemak.
Sel leydig tanpa vesikel sekretorik. Juga terdapat lisosom dan peroksisom.
Pigmennya lipokrom pada usia lanjut. Sitoplasma mengandung protein kristal Reinke
(ciri sel interstitial manusia).

SEL INTERSTITIEL LEYDIG

[Type here]

83
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

B. Ductus genitalis
Ductus genitalis dibedakan menjadi ductus intratesticular dan ekstratesticular.
Ductus intratesticular terdiri dari tubuli recti dan rete testis.
1. Ductus intratesticular
a. Tubuli recti :
• Saluran pendek, lurus, menghubungkan tubulus seminiferus dengan rete testis.
• Pada bagian proximal (dekat tubulus seminiferus) dilapisi sel Sertoli, bagian distal
epitel selapis kuboid dengan microvili pendek dan dengan flagellum.
b. Rete testis :
• Dilapisi epitel selapis kuboid, micovili pendek,dengan 1 flagellum.
• Terdiri dari ruang labirin.

Ductuli efferentes

Terdiri dari 10-20 ductus efferentes berupa saluran pendek, menyalurkan sperma
dari rete testis menembus tunica albuginea menuju ductuse epidydimis. Dilapisi epitel
selapis kuboid bercilia tanpa cilia berseling dengan kolumner bercilia yang berciri khas
bergelombang. Cilia membantu menggerakkan spermatozoa ke epidydimis

[Type here]

84
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Sel kuboid banyak mengandung lisosom, dengan plasmalema apikal banyak


invaginasi aktivitas endositosis. – menyerap sebagian besar cairan lumen yg dihasilkan
oleh sel Sertoli. Jaringan ikat dikelilingi otot polos tipis sirkular

Epidydimis

Epididimis merupakan Saluran tipis), sangat berkelok2 terlipat dalam ruang


sepanjang 7 cm pada posterior testis dengan panjang (4-6m). Epididimis terdiri dari
kepala, badan, dan ekor (kauda). Kepala tempat penyatuan 10-20 duct eferentes,
sangat berkelok. Bagian badannya juga sangat berkelok. Distal ekor kurang berkelok,
tempat menyimpan spermatozoa untuk sementara waktu, Dinding dilapisi epithelium
pseudostratificatum dengan sel 2 jenis :

- epitheliocytus basalis: rendah, di dasar epitel.

- epitheliocytus microvillosus: tinggi, permukaan bebas sel, dilengkapi dengan


microvillus, yang dikenal sebagai stereocilia. Sel ini mensekresi
glycerophosphocholine yang diduga menghambat kapasitasi memastikan agar
sperma baru akan mampu memfertilisasi ovum setelah tiba di saluran genital
wanita

[Type here]

85
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

2. Ductus intratesticular
a. DUCTUS DEFERENS (VAS DEFERENS) :
Merupakan tabung muscular dengan lumen kecil, yang menyalurkan sperma
dari cauda epidydimis ke ductus ejakulatorius.
• Tunica mucosa, melipat-lipat membentuk plicae mucosae, dengan - epithelium
pseudostratificatum; di ampula stereocilia sudah tidak tampak lagi.
- lamina propria mengandung serabut-serabut elastis.
• Tunica muscularis, kuat, mencolok sekali, mempunyai 3 lapisan :
- stratum longitudinale internum,
- stratum circulare, tebal dan
- stratum longitudinale externum.
• Tunica adventitia, jaringan ikat longgar, elastis, mengandung pembuluh darah,
lympha, syaraf, dan otot seran lintang (musculus cremaster).
Pada bagian ampulla :
- lumen melebar, tunica muscularis menipis, dan
- mucosa sangat melipat-lipat seperti pada vesicula seminalis.

b. Ductus Ejakulatorius :
Sebagai lanjutan dari penyatuan ampula dengan vesikula seminalis. Saluran
pendek lurus yg memasuki substansi glandula prostata. Berakhir setelah posterior

[Type here]

86
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

uretra praostatik pada kolikulus seminalis. Lumen dilapisi epitel kolumner selapis.
Tidak memiliki otot polos pada dindingnya

C. GLANDULA PENUNJANG

A. VESIKULA SEMINALIS :
Terletak dekat dinding posterior gland prostat. Mensekresi cairan viskous yg bnyk
mgd fruktosa yg penting utk memberi energi pd sperma.Tunica mucosa, melipatlipat
sehingga dapat meningkatkan luas permukaan. Yg mgd sel sekretorik dan dapat mekar
jika penuh sekret.mepithelium pseudostratificatum columnare .selsel kecil
memproduksi sekret
1. Tunica muscularis2 lapis :
a. stratum circulare di sebelah dalam.
b. stratum longitudinale di sebelah luar.
2. Tunica adventitia.

B. GLANDULA PROSTAT :
Gland pelengkap terbesar, ditembus oleh uretra dan ductus ejakulatorius,
Kapsula tipis, jaringan ikat padat kolagen irreguler, memiliki banyak pembuluh
darah, diselingi sel otot polos. Stroma dengan jaringan ikat diselingi sel otot polos.
Terdiri dari 30-50 gland tubuloalveolar kompleks yang tersusun dalam3 lapisan
konsentrik yg terpisah (mukosa, sub mukosa dan utama). Tiap gland mempunyai
saluran keluar tersendiri menyalurkan sekretnya ke dalam uretra prostatik . Gland
utama terbesar dan plg bnyk jumlahnya pd area perifer menyusun massa prostat.
Dibatasi epitel pipih-kuboid, kolumner, selapis –berlapis. Berperan untuk
mensekresi lipid, enzim proteolitik,asam fosfatase,fibrinolisin, dan asam sitrat
langsung ke uretra komponen semen. Lumen kdg berisi corpora amylacea :
glikoprotein terkalsifikasi. Pembentukan, sintesis, sekresi prostat diatur oleh
hormondihidrotestosteron.

C. GLANDULA BULBOURETRA
Kelenjar ini terletak pada pangkal penis. Ukuran kecil dengan diameter 35mm.
Septum berasal dari kapsula membagi gland menjadi beberapa lobulus dilapisi
epithelium cuboideum -kolumnare mensekresikan mucus /pelicin ke dalam urethra.
Tunica mucosa : epithelium simplex columnare. Sel columnare merendah
sebelum masuk urethra

[Type here]

87
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

D. ORGANA GENETALIA MASCULINA EXTERNA


A. PENIS
Penis terdiri atas corpus cavernosum penis (sepasang), dan corpus spongiosum.
penis (sebuah).
1. corpus cavernosum penis
Di sebelah dorsal, dibungkus oleh tunica albuginea; tebal ± 0,5 mm,pada
waktu ereksi ± tersusun oleh serabut kolagen sirkuler (sebelahdalam) dan
longitudinale (sebelah luar). Terdapat trabeculaetrabeculaeyang terdiri dari textus
connectivus elasticus, otot polos, pada sisi yang berbatasan dengan cavernae
dilapisi endothelium. Cavernae merupakan rongga-rongga (seperti bunga karang)
yang makin ke arah pusat makin longgar (besar-besar).
2. corpus spongiosum penis.
Di sebelah ventral, diameter lebih kecil, tunica albuginea yang membungkus
juga lebih tipis. Cavernae lebih padat, kecil-kecil. Di bagian pusat (tengah) ditembus
oleh urethra.

[Type here]

88
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

B. URETRA
1. pars prostatica, terdiri atas :
a. Tunica mucosa
• dilapisi epithelium transitionale, pseudostratificatum, stratificatum columnare
(bagian terbesar).
• lamina propria tersusun oleh jaringan ikat fibroelastis
b. Tunica muscularis
• stratum longitudinale
• stratum circulare
2. Pars membranacea :
Tunica mucosa dilapisi epithelium pseudostratificatum; lamina propria terdiri
atas otot polos dan seran lintang (musculus spincter erethrae).
3. Pars spongiosa/pars cavernosa :
Tunica mucosa terdiri atas epithelium pseudostratificatum dan columnare
stratificatum;
Lamina propria. Dekat ujung penis, lumen urethra melebar membentuk fossa
navicularis yang dilapisi epithelium squamosum stratificatum dengan sel piala;
berfungsi sebagai barier terhadap bakteri
(benda asing) .

[Type here]

89
HISTOLOGI MASKULINA MISC POLLUX BLOK 7

Editor : Yusi Era


Layouter : imam muttaqien

[Type here]

90
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

ORGAN REPRODUKSI LAKI-LAKI

Dr. Ikhlas

Organ seks laki-laki dan perempuan terdiri dari tiga kelompok struktur:

1. Gonad
2. Genitalia interna
3. Genitalia eksterna
GONAD

Organ yang menghasilkan gamet. Gamet adalah sel telur (perempuan) dan sperma (laki-
laki). Gonad pada laki-laki adalah testes (tunggal: testis), yang menghasilkan sperma
(spermatozoa). Gonad pada perempuan adalah ovarium, yang menghasilkan sel telur atau ova
(tunggal: ovum). Sel germinal (germ cells; sel benih) adalah undifferentiated cells pada gonad
yang dipersiapkan untuk menjadi sel sperma atau ovum

91
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

GENITALIA INTERNA

Terdiri dari kelenjar-kelenjar aksesorius dan duktus-duktus yang menghubungkan gonad


dengan lingkungan luar

GENITALIA EKSTERNA

Mencakup semua struktur reproduksi eksternal

Laki-laki perempuan
Gonad Testis ovarium
Gamet Spermatozoa ovum

• Sel telur dan sperma adalah sel


haploid masing-masing dengan 23
kromosom, yang terdiri dari:

– 22 autosom

– 1 kromosom seks.

• Ketika sel telur dan sperma


bersatu, terbentuk zigot (diploidi)
dengan 46 kromosom:

– 22 pasang autosom yang


cocok (homolog)

– 1 pasang kromosom seks


(XY atau XX).

92
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

• Autosom mengatur bentuk tubuh manusia dan serta beragam ciri seperti warna rambut
dan golongan darah

• Kromosom seks, yang dinyatakan sebagai X dan atau Y, mengandung gen yang
mengatur perkembangan alat kelamin dalam dan luar.

– Kromosom X berukuran lebih besar daripada kromosom Y dan mempunyai


banyak gen yang tidak ada dalam kromosom Y.

93
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

• Zigot membelah (tahap 2-sel, 4-sel, dst.) menjadi:

• embrio (perkembangan 0-8 minggu)

• fetus (umur kehamilan 8 minggu sampai kelahiran)

• Kromosom seks yang diturunkan kepada seseorang menentukan seks genetik


orang tersebut (genotip)

• Genetik laki-laki adalah XY

– Kromosom X dari ibu,


kromosom Y dari ayah

• Genetik perempuan adalah XX

– Kromosom X dari ibu,


kromosom X dari ayah

• Kromosom Y sangat penting dalam


perkembangan alat kelamin laki-laki.

• Ada tidaknya kromosom Y menentukan


perkembangan berjalan ke arah laki-laki atau
perempuan

94
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

o Kromosom Y mengarahkan embrio tersebut menjadi laki-laki meskipun zigotnya


memiliki banyak kromosom X. Misalnya zigot XXY, ia akan menjadi laki-laki

o Zigot yang hanya mendapat kromosom Y (YO) akan mati karena kromosom X
yang lebih besar mengandung gen-gen penting yang tidak ada dalam kromosom
Y

• Dengan tidak adanya kromosom Y, embrio akan berkembang menjadi perempuan.

 Zigot yang hanya mendapat satu kromosom X

(XO pada sindroma Turner) akan berkembang menjadi perempuan

• Diperlukan 2 kromosom X untuk fungsi reproduksi perempuan normal

95
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

• Perempuan dengan Sindroma Turner mempunyai ovarium yang tidak


berkembang dengan baik, genitalia intena dan eksterna tidak sesuai
dengan usianya.

• Segera setelah ovarium berkembang dalam fetus perempuan, salah satu kromosom X
dalam setiap sel tubuhnya akan menjadi tidak aktif dan berkondensasi menjadi
segumpal kromatin inti yang disebut Barrs body (badan Barr).

• Inaktivasi kromosom X berlangsung secara acak dan terjadi pada awal


perkembangan sebelum pembelahan sel selesai, sehingga dalam sebuah jaringan
seluruh selnya mempunyai kromosom X aktif yang sama: X maternal atau X
paternal.

• Jenis kelamin embrio masa dini sukar ditentukan karena struktur reproduktif belum
mulai berdiferensiasi (bipotensial).

• Gonad bipotensial

• Korteks di bagian luar (bakal ovarium)

• Medula di bagian dalam (bakal testis)

• Genitalia interna bipotensial

• Duktus Wolfii (duktus mesonefrik) -- > genitalia interna laki-laki

• Duktus Mulleri (duktus paramesonefrik) -- > g.interna perempuan

• Genitalia eksterna bipotensial

• Tuberkulum genitalis

• Lipatan uretra

• Alur uretra

96
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

• Tonjolan labioskrotal

• Penentuan jenis kelamin bergantung pada gen SRY pada kromosom Y

• Gen SRY menghasilkan suatu protein yang disebut faktor penentu testis atau testis
determinant factor (TDF).

• TDF sebagai faktor transkripsi akan berikatan dengan DNA, kemudian mengaktifkan gen-
gen tambahan (SOX9, WT1, SF1), yang selanjutnya akan menghasilkan protein-protein
yang diperlukan untuk perkembangan medula gonad menjadi testis

• Masa kritis perkembangan testis adalah usia kehamilan 9 minggu; apabila TDF
baru berfungsi setelah usia kehamilan 9 minggu maka gonad bipotensial tidak
akan berkembang menjadi testis melainkan menjadi ovarium.

• Perhatikan bahwa perkembangan testis tidak memerlukan hormon seks laki-laki


(testosteron, androgen).

• Embrio yang sedang berkembang tidak dapat mensekresi testosteron sebelum gonad
tersebut berdiferensiasi menjadi testis.

97
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

• Segera setelah testis berdiferensiasi, testis mulai mensekresi 3 hormon yang


mempengaruhi perkembangan genitalia eksterna dan interna laki-laki:

• Hormon anti-Muller (AMH) oleh sel Sertoli

• Testosteron dan turunannya: dihidrotestosteron (DHT) oleh sel Leydig

• Testosteron dan DHT berikatan dengan reseptor androgen (AR) yang sama tetapi
menghasilkan respon yang berbeda.

• AMH menyebabkan duktus Mulleri mengalami regresi.

• Testosteron mengubah duktus Wolfii menjadi struktur aksesorius laki-laki: epididimis,


vas deferens, dan vesikula seminalis, serta mengatur migrasi testis dari abdomen ke
dalam skrotum.

• DHT mempengaruhi diferensiasi genitalia eksterna dan kelenjar prostat.

• Enzim 5α-reduktase mengkatalisis perubahan testosteron --> DHT.

• Pada pasien hemafrodit, terjadi defek pada enzim 5α-reduktase, sehingga DHT tidak
terbentuk.

• Pasien hemafrodit mempunyai testis dan organ genitalia interna laki-laki akan tetapi
mempunyai organ genitalia perempuan. Kelenjar prostat gagal berkembang.

• Pada embrio perempuan, tanpa adanya gen SRY, kulit luar gonad bipotensial
berkembang menjadi jaringan ovarium.

• Tanpa AMH, duktus Mulleri berkembang menjadi vagina bagian atas, uterus, dan tuba
falopii (saluran telur).

• Tanpa testosteron, duktus Wolfii berdegenerasi.

• Tanpa DHT, genitalia eksterna menunjukkan ciri-ciri perempuan.

98
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

SPERMATOGENESIS

• Dalam perkembangan embrio, sel germinal primordial bermigrasi ke dalam testis dan
menjadi sel germinal imatur yang dikenal dengan nama spermatogonia.

• Spermatogonia terletak pada 2-3 lapisan permukaan dalam tubulus seminiferus.

• Sejak pubertas, spermatogonia akan memulai pembelahan mitosis dan secara


berkelanjutan berproliferasi dan berdiferensiasi melalui berbagai tahap perkembangan
untuk membentuk sperma

• Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus selama kehidupan seksual aktif


akibat rangsangan dari hormon gonadotropik dari kelenjar hipofisis anterior, dimulai
pada rerata usia 13 tahun dan berlanjut hampir sepanjang hidup meskipun demikian
ada penurunan yang bermakna pada usia senja.

TAHAP SPERMATOGENESIS

1. Proliferasi (mitosis) dan diferensiasi spermatogonia menjadi spermatosit primer


(duplikasi DNA 46-46), berlangsung pada kompartemen basal

2. Pembelahan meiosis I (spermatosit primer menjadi spermatosit sekunder; 23-23)

3. Pembelahan meiosis II (spermatosit sekunder menjadi spermatid; 23)

4. Diferensiasi spermatid menjadi spermatozoa (spermiogenesis)

Tahap 2-4 berlangsung pada kompartemen sentral.

99
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

100
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

Fungsi Sel Sertoli

• Membentuk sawar darah-Sertoli; membagi tubulus seminiferus menjadi 2 kompatemen:


1) kompartemen basal, 2) kompartemen sentral.

• Mensekresi cairan luminal, yang mengandung androgen-binding protein (ABP), yang


mengikat testosteron yang disekresi oleh sel Leydig setalah melintas sawar darah-Sertoli.
Ikatan testosteron-ABP menjamin tingginya konsentrasi testosteron di dalam cairan
luminal.

Struktur Spermatozoa

• Kepala

– Berisi nukleus (inti sel) yang berisi informasi genetik

– Sitoplasma sedikit dan lapisan membran sel tipis di luarnya

– Akrosom: tutup 2/3 anterior kepala, terbentuk dari aparatus Golgi, mengandung:

• Enzim hialuronidase (digesti proteoglikan)

• Enzim proteolitik (digesti protein)

• Ekor (flagellum)

– Aksonema: skeleton sentral mengandung mikrotubulus

• Gerakan bergeser longitudinal secara ritmis di antara mikrotubulus


anterior dan posterior menyebabkan gerakan maju mundur sperma yang
penting untuk motilitas sperma

– Membran sel yang tipis menutupi aksonema

– Sekumpulan mitokondria mengelilingi aksonema pada bagian proksimal ekor


(tubuh ekor)

101
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

102
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

Maturasi Sperma
o Sperma yang matur mempunyai kapasitas menjadi motil dan membuahi ovum. Nah
selama di dalam epididimis Sperma yang diambil dari tubulus seminiferus atau bagian
awal epididimis ternyata belum motil dan tidak dapat membuahi ovum. 18-24 jam,
barulah sperma mempunyai kemampuan untuk motil, namun masih dihambat oleh
faktor inhibisi dalam cairan epididimis.
o Sperma dapat bertahan di vas deferens (selain di epididimis) selama 1 bulan tanpa
kehilangan fertilitasnya.
o Baru setelah ejakulasi, sperma benar-benar motil (bergerak dengan kecepatan 1-4
mm/menit), dan juga dapat membuahi ovum (sperma telah matur).

Kapasitasi Sperma
o Setelah ejakulasi, sperma kan ada kontak tuh sama cairan dari traktus genitalia
perempuan dan selama selama 1-10 jam kemudian baru benar-benar motil dan dapat
membuahi ovum karena hilangnya faktor-faktor inhibisi yang disekresi epitel duktus
genitalia pria tadi melalui mekanisme kapasitasi seperti di bawah ini.
 Cairan dari uterus dan tuba fallopii menghanyutkan faktor-faktor inhibisi
sperma.
 Sperma menjauh dari vesikel yang mengandung kolesterol, sehingga
membran kepala sperma melunak.
 Peningkatan permeabilitas dan influks kalsium ke dalam sperma
 Pada ekor (flagelum) hal tsb dapat meningkatkan motilitas
 Pada kepala menyebabkan perubahan pada membran akrosom
memudahkan akrosom melepas enzim-enzim

103
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

Pembuahan Satu Sperma Membuahi Satu Ovum


Segera setelah satu sperma menembus zona pellucida, terjadi influks ion kalsium
melalui membran oosit. Setelah 1 sperma masuk, langsung terjadi eksositosis granula kortikal,
yang akan memperkuat zona pelusida sehingga tidak dapat ditembus oleh sperma yang lainnya.

Cairan Semen
o Mengandung cairan dan semen:
 10% dari epididimis
 30% dari kelenjar prostat
 60% dari vesikel seminalis
 Sebagian kecil dari kelenjar mukus (misalnya kelenjar bulbouretra)

o pH 7,5
 Untuk motilitas sperma yang optimal diperlukan pH lingkungan minimal 6,0-6,5
o Cairan dari kelenjar prostat memberikan efek alkali dan penampilan putih susu (milky
appearance) pada semen.
o Cairan dari vesikulus seminalis dan kelenjar mukus menyebabkan semen berkonsistensi
mukoid.
o Masa hidup sperma pada kondisi suhu tubuh = 24-48 jam.

104
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

Peran Traktus Genitalia & Glandula Aksesoria Genitalia Laki-Laki terhadap Isi Cairan Semen
Selain Spermatozoa dan Air

Traktus Genitalia atau Sekresi Manfaat


Glandula Aksesoria
Epididimis (dan sel Sertoli) Hormon (estrogen dan Maturasi sperma
testosteron), enzim & nutrisi
Vesikel seminalis Cairan mukoid yang asam: - Nutrisi sperma
- Fruktosa dan asam - Mukus serviks menjadi
sitrat reseptif untuk sperma
- Prostaglandin - Kontraksi retrograde
- Fibrinogen - Membentuk koagulum

Kelenjar prostat Cairan keputihan alkali  Menetralkan asiditas,


yang mengandung: optimalisasi motilitas
 calcium, ion sitrat, sperma
 enzim untuk koagulasi,  Kapasitasi sperma
 profibrinolisin  Membentuk koagulum
 Melisiskan koagulum

105
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

Sperma yang Fertil


o Jumlah sperma cukup
 Jumlah rerata > 100 juta/mm dalam 3,5 mm cairan ejakulat -- > jumlah total
sekitar 400 juta yang dideposisi dalam traktus genitalia perempuan
 Jumlah < 20 juta/mm infertil
o Bentuk sperma normal
 Jumlah dan bentuk kepala
 Jumlah dan bentuk ekor
o Motilitas sperma optimal
 pH alkali ( > 6,0-6,5 )

Sebab (Lain) Infertilitas Laki-Laki


o Degenerasi epitel tubulus seminiferus sejak lahir karena stiktura duktus genitalia interna
o Mumps, dapat menyebabkan bilateral orkhitis (radang atau inflamasi pada testis)
o Peningkatan suhu testis
 Kriptorkidismus , yaitu adesensus testis
 Operabel sebelum masa pubertas
 Inoperabel apabila terkait kelainan kongenital testis sehingga hormon
testosteron tidak terbentuk
Testosteron
o Testis mensekresikan hormon kelamin laki-laki, yang secara kolektif disebut hormon
androgen, seperti:
 Testosteron (T)
 Dihidrotestosteron (DHT)
 Androstenedion
o Paling banyak diproduksi testosteron, akan tetapi di jaringan perifer T dapat diubah
menjadi DHT.

106
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

o Testosteron dihasilkan oleh sel Leydig, yang meliputi 20% jaringan interstisial testis. Sel
Leydig hampir tidak ada pada anak-anak laki-laki, akan tetapi sel Leydig dijumpai pada:
 Bayi laki-laki baru lahir hingga beberapa bulan setelah lahir
 Remaja laki-laki (telah memasuki masa pubertas) dst.
o Pada tumor yang berasal dari sel Leydig, testosteron banyak disekresi. Paparan sinar X
atau suhu tinggi merusak sel germinal, tetapi tidak begitu merusak sel Leydig, sehingga
testosteron tetap dapat dihasilkan.
o Fungsi Testosteron
 Secara umum, testosteron memberikan efek maskulinisasi.
 Testis fetus dirangsang oleh hCG untuk menghasilkan testosteron.
 Testosteron dihasilkan oleh testis fetus selama masa kehidupan fetus hingga
sekurang-kurangnya 10 minggu masa kehidupan neonatus.
o Testosteron tidak dihasilkan oleh anak laki-laki hingga mencapai pubertas (usia 10 – 13
tahun). Pada saat pubertas, produksi testosteron meningkat secara cepat atas
rangsangan hormon gonadotropik yang dihasilkan hipofisis anterior. Pasca pubertas,
testosteron terus diproduksi. Pada saat mencapai usia 50 tahun, produksi testosteron
mulai menurun, hingga hanya mencapai 20-50% saja pada usia 80 tahun.
o Fungsi testosteron selama perkembangan fetus
 Testosteron mulai dihasilkan oleh testis fetus laki-laki pada usia 7 minggu.
 Salah satu perbedaan fungsional utama antara kromosom seks laki-laki dan
perempuan adalah bahwa kromosom seks laki-laki menyebabkan genital ridge
mensekresi testosteron, sedangkan kromosom seks perempuan menyebabkan
genital ridge mensekresi estrogen.
 Injeksi hormon seks laki-laki dalam kuantitas yang besar pada binatang coba
betina yang bunting menyebabkan pembentukan organ seksual jantan meskipun
fetus mempunyai kromosom seks betina. Sedangkan, pengambilan testis pada
masa kehidupan awal fetus hewan coba jantan menyebabkan timbulnya
perkembangan organ seksual betina.

107
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

 Berarti testosteron yang disekresi oleh genital ridges, oleh testis fetus
mengarahkan perkembangan ciri tubuh laki-laki, termasuk pembentukan penis
dan skrotum daripada klitoris dan vagina.
 Testosteron menyebabkan perkembangan kelenjar prostat, vesikulus seminalis
dan duktus genitalia laki-laki dan mecegah pembentukan organ genitalia
perempuan.
o Pengaruh testosteron terhadap desensus testis
 Testis biasanya turun ke dalam skrotum (desensus testis) dalam 2-3 bulan
terakhir kehamilan ketika testis mulai mensekresi testosteron dalam jumlah yang
cukup.
 Apabila seorang anak laki-laki lahir mempunyai testis akan tetapi mengalami
undesensus testis, pemberian testosteron dapat menyebabkan testis turun ke
dalam kantung skrotum melalui canalis inguinalis.
 Pemberian hormon gonadotropin merangsang sel Leydig pada testis neonatus
laki-laki untuk menghasilkan testosteron, sekaligus menyebabkan desensus testis.
 Jadi, testosteron merangsang turunnya testis , yang sekali lagi menunjukkan
bahwa testosteron merupakan hormon yang penting untuk perkembangan
seksual laki-laki pada masa kehidupan fetus.
o Pengaruh testosteron pada perkembangan ciri seksual primer dan sekunder subyek
dewasa
 Setelah pubertas, peningkatan kadar testosteron menyebabkan pembesaran
organ seksual laki-laki: penis, skrotum, dan testis.
 Testosteron menyebabkan perkembangan ciri seksual sekunder laki-laki, dimulai
saat pubertas dan berakhir saat sudah dewasa (matur). Testosteron
menyebabkan suburnya pertumbuhan rambut pada tubuh, terutama pada pubis,
linea alba abdomen, wajah, dada .
 Akan tetapi, testosteron menghambat pertumbuhan rambut pada kepala (bagian
depan) -- > kebotakan. Seorang laki-laki yang testisnya tidak berfungsi tidak

108
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

mengalami kebotakan. Meskipun demikian, tidak semua laki-laki normal


mengalami kebotakan karena kebotakan dipengaruhi berbagai faktor, seperti:
genetik dan hormon androgen.
 Perempuan yang menderita tumor androgenik akan mengalami kebotakan
sebagaimana laki-laki.
 Testosteron menyebabkan hipertrofi mukosa laring dan pelebaran laring. Hal ini
menyebabkan suara menjadi pecah kemudian terbentuk tipikal suara maskulin.
 Testosteron menyebabkan kulit menebal dan jaringan subkutan menjadi lebih
kuat.
 Testosteron meningkatkan laju sekresi glandula sebasea (kelenjar minyak),
termasuk pada wajah, yang dapat menyebabkan acne (jerawat). Acne adalah
salah satu tanda bahwa anak laki-laki mulai terpapar testosteron.
 Testosteron meningkatkan pembentukan protein.
 Testosteron memicu perkembangan otot rangka. Pada laki-laki terdapat
peningkatan muskulatur setelah pubertas. Massa otot rangka laki-laki 50% lebih
tinggi daripada perempuan.
 Peningkatan muskulatur, perubahan pada kulit dan suara terkait dengan deposisi
protein.
 Testosteron menyebabkan tulang tumbuh lebih tebal dan menyimpan sejumlah
besar garam kalsium. Testosteron meningkatkan kuantitas matriks tulang dan
menyebabkan retensi natrium; hal ini masih terkait dengan peningkatan sintesis
dan deposisi protein. Testosteron meningkatkan ukuran dan kekuatan tulang dan
berpotensi mengatasi osteoporosis.
 Testosteron menyebabkan laju pertumbuhan tulang meningkat tajam dan
percepatan pertumbuhan (spurt) tinggi badan. Akan tetapi, testosteron
menyebabkan epifisis tulang panjang menyatu lebih awal dengan batang tulang -
- > mencegah pertumbuhan tinggi badan. Tinggi badan laki-laki dengan testis
normal sedikit lebih rendah daripada laki-laki yang mengalami kastrasi.

109
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

 Testosteron menyebabkan pelvis menyempit, memanjang, membentuk corong


(funnel-like shape), dan meningkat kekuatannya untuk membawa beban. Tanpa
testosteron, pelvis laki-laki berkembang seperti pelvis perempuan.
 Injeksi testosteron meningkatkan laju metabolisme (basal) sebesar 5-15%-->
terkait peningkatan sintesis protein (enzim-enzim).
 Testosteron meningkatkan jumlah sel darah merah (eritrosit) 150-20%, sehingga
hitung eritrosit pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada perempuan.
 Testosteron, sebagai mana hormon steroid lainnya, meningkatkan reabsorbsi
sodium pada tubulus distal nefron ginjal -- > efek testosteron ini jauh lebih kecil
dibandingkan dengan efek mineralokortikoid.
 Pasca pubertas prosentase volume darah dan cairan ekstraselular laki-laki
meningkat 5-10%.

ANDROGEN
 Androgen adalah hormon steroid yang mempunyai efek maskulinisasi
 Organ lain selain testis yang mensekresi testosteron adalah:
 Kelenjar adrenal (pada laki-laki dan perempuan)
 Ovarium (pada perempuan)
 Biasanya androgen yang disekresi oleh kelenjar adrenal tidak memberikan
pengaruh maskulinisasi yang signifikan (sebesar 5%).
 Pada perempuan, hormon androgen yang dihasilkan kelenjar adrenal TIDAK
menyebabkan maskulinisasi kecuali merangsang pertumbuhan rambut pubis dan
aksila. Akan tetapi, apabila seorang perempuan mengalami tumor adrenal maka
hormon androgen yang disekresi oleh kelenjar adrenal meningkat pesat,
menyebabkan munculnya tanda seksual sekunder laki-laki pada perempuan
tersebut.
 Androgen yang berlebihan juga disekresi oleh tumor embrional pada ovarium,
yang disebut arrhenoblastoma.

110
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

 Semua androgen adalah steroid. Baik di testis maupun adrenal, androgen dapat
disintesis dari kolesterol atau asetil koenzim A.
 Di dalam sirkulasi darah, 97% testosteron terikat dengan albumin atau globulin
beta yang disebut sex-hormone binding globulin (SHBG). Ikatan dengan protein
plasma akan memperlambat eliminasi androgen.
 Masa edar androgen dalam sirkulasi darah adalah 30 menit – beberapa jam.
o Di jaringan, kelenjar prostat laki-laki dewasa dan genitalia eksterna fetus laki-laki,
testosteron diubah menjadi DHT
o Testosteron yang tidak digunakan oleh jaringan akan segera diubah menjadi
androsterone dan dehidroepiandrosterone di hepar dan secara simultan mengalami
konjugasi dengan glukoronida dan sulfat. Hasil konjugasi diekskresi dalam cairan
empedu atau melalui urin.

Estrogen
o Laki-laki juga menghasilkan estrogen, sebesar 20% dari estrogen yang dihasilkan
perempuan yang tidak hamil. Hormon estrogen pada laki-laki dapat dideteksi dalam urin.
o Sumber estrogen pada laki-laki:
 Sel Sertoli
 Jaringan, terutama hepar, sebagai hasil konversi testosteron dan androstanediol
(80% total estrogen pada laki-laki)

Regulasi Fungsi Seksual Laki-Laki


o Regulasi Biosintesis Testosteron
 Melibatkan peran hormon LH :
 Mengubah sel interstisial testis yang menyerupai fibroblas menjadi sel
Leydig
 Merangsang sel Leydig untuk menghasilkan testosteron

111
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

 Kuantitas testosteron yang disekresi oleh testis sebanding dengan


banyaknya LH yang tersedia
 Sel Leydig yang matang sudah dijumpai pada bayi baru lahir, akan tetapi
kemudian menghilang dan baru muncul kembali dalam testis setelah anak laki-
laki berusia 10 tahun
 Testosteron akan memberikan umpan balik negatif, yaitu menghambat sekresi
LH. Efek inhibisi tersebut terutama dihasilkan dari pengaruh langsung
testosteron pada hipotalamus, yang menurunkan sekresi GnRH. GnRH yang
menurun akan berimbas pada penurunan sekresi LH dan FSH dari kelenjar
hipofisis anterior.
o Regulasi Spermatogenesis
 FSH berikatan dengan reseptor FSH pada sel Sertoli di tubulus seminiferus,
sehingga sel Sertoli akan tumbuh dan menghasilkan substansi yang diperlukan
untuk spermatogenesis.
 Secara bersamaan, testosteron (dan DHT) berdifusi ke dalam tubulus seminiferus
dari sel Leydig yang ada di ruang interstisial -- > efek tropik pada
spermatogenesis. Dengan demikian, diperlukan FSH dan testosteron untuk
memulai spermatogenesis.
 Spermatogenesis sendiri akan mempengaruhi sekresi FSH. Apabila
spermatogenesis berjalan cepat maka FSH akan turun. Sebaliknya, apabila
spermatogenesis berjalan lambat maka FSH akan meninggkat. Hal ini
dimungkinkan karena sel Sertoli menghasilkan hormon inhibin.
 Inhibin yang dihasilkan oleh sel Sertoli memberikan umpan balik negatif kuat
pada sekresi FSH dari kelenjar hipofisis anterior dan umpan balik negatif lemah
pada sekresi GnRH dari hipotalamus.

112
Organ Reproduksi Laki-Laki MISC POLLUX BLOK 7

PERAN hCG TERHADAP SINTESIS TESTOSTERON


Dalam kehamilan, human chorionic gonadotropin (hCG) yang disekresi plasenta dan
beredar pada sistem sirkulasi ibu dan fetus, mempunyai pengaruh sebagaimana LH. Apabila
fetus berkelamin laki-laki, hCG menyebabkan testis fettus mensekresi testosteron. Testosteron
fetus ini penting untuk pembentukan organ seksual laki-laki.

113
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

GANGGUAN ASAM-BASA
dr. Ardi Pramono

pH merupakan logaritma ion H+ (Henderson-Hasselbach). Asam itu donor proton atau donor ion H+,
sedangkan kalau basa itu akseptor proton atau akseptor ion H+. pH plasma yaitu 7,36-7,44. Asam basa
dalam tubuh diperankan oleh ion [HCO3-] dan pCO2 [H+]. Pengaturan dari asam basa dibagi menjadi 2,
yaitu :

 Respiratorik : terjadi di paru-paru (CO2)


 Metabolic : terjadi di ginjal (HCO3-, pembuangan asam tertentu, pembentukan ammonia atau
NH4+)

KESEIMBANGAN ASAM-BASA
Aktivitas metabolic itu memerlukan pH normal, nah kalo ga normal maka ada 2 kemungkinan, yaitu
asidosis dan alkalosis. Apa itu asidosis dan alkalosis? Apa hayoo?? Kepo ya?? Hiya hiya hiya

 Asidosis
pH darah arteri <7.35
 Alkalosis
pH darah arteri >7.45

Ion H+ terbanyak dari proses metabolic yang diatur oleh :


 Buffers kimia → cepat
 Pernapasan → dalam menit
 Renal → jam sampai hari

114
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

Jadi guys, kalo ada pertanyaan ”organ manakah yang paling cepat dalam menetralkan adanya
asam basa di dalam tubuh?” jawabnya itu PARU-PARU ya guys, baru GINJAL.

BUFFER SYSTEMS IN BODY FLUIDS

1. Buffer bikarbonat dan karbonat


System buffer ini merupakan buffer utama yang bekerja di cairan tubuh atau cairan
ekstraseluler (CES) dan bekerja efektif sampai pH 7,4. Sangat baik pada penambahan asam.
Buffer ini dihasilkan di ginjal. NaHCO3 itu basa lemah, kalo H2CO3 itu asam lemah.

115
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

2. Buffer fosfat (HPO42-/H2PO4)


System buffer ini banyak di cairan intraseluler (CIS) serta bekerja efektif pada penambahan asam,
sama seperti buffer bikarbonat dan karbonat. Konsentrasi buffer ini relative rendah. Ekskresi
hydrogen terjadi dalam tubuli ginjal/urin.

3. Buffer protein
Buffer ini terdapat pada sel-sel, darah dan plasma namun kurang berperan dalam regulasi asam-
basa
Asam lemah : asam glutamate, asam aspartate
Basa lemah : lysine, arginine, histidin

4. Buffer haemoglobin
Buffer ini berperan dalam mengatur keseimbangan kadar O2 dan CO2, jika tubuh kelebihan CO2
maka kondisi ini disebut asidosis dan sebaliknya jika terlalu banyak O2 maka disebut alkalosis.
Selain itu Hb juga dapat mengikat H+ dan membentuk HHb yang dapat mereduksi asam dalam
tubuh. Bentuk haemoglobin yang berperan membentuk system buffer yaitu oksihemoglobin
(HHbO2) dan deoksihemoglobin (HHb).
5. Buffer ammonium

116
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

Buffer ini bekerja ketika tubuh kelebihan asam dengan kadar ion H+ yang tinggi. Setelah
kelebihan asam, ammonia (NH3) dihasilkan oleh sel tubulus ginjal dan berikatan dengan
hydrogen (H+) dalam tubulus ginjal untuk membentuk ammonium (NH4+).

KENDALA DALAM SISTEM BUFFER


 Hanya bersifat sementara saat terjadi ketidakseimbangan pH
 Tidak membuang ion H+
 Persediaan buffer terbatas

GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM-BASA


Gangguan keseimbangan asam-basa terbagi menjadi 2 yaitu gangguan respiratorik dan metabolic

 Gangguan respiratorik
 Asidosis respiratorik (pH↓, pCO2↑)
Penekanan system saraf pusat (contoh : overdosis obat)
Chest bellows dysfunction (contoh : Guillain-Barre syndrome, myasthenia gravis)
Disease of lungs and/or upper airway (e.g., chronic obstructive lung disease, severe
asthma attack, severe pulmonary edema)

 Alkalosis respiratorik (pH↑, pCO2↓)


CO2 cepat hilang → hiperventilasi
Hypoxemia (includes altitude)
Anxiety
Sepsis
Any acute pulmonary insult, e.g., pneumonia, mild asthma attack, early pulmonary
edema, pulmonary embolism

 Gangguan metabolic
 Asidosis metabolic (pH↓, HCO3-↓)
 Increased anion gap
lactic acidosis; ketoacidosis; drug poisonings (e.g., aspirin, ethyelene glycol,
methanol)
 Normal anion gap
diarrhea; some kidney problems, e.g., renal tubular acidosis, intersititial
nephritis

117
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

Penghitungan AG → AG = Na+ - (Cl- + CO2)

 Alkalosis metabolic (pH↑, HCO3-↑)


 Chloride responsive (responds to NaCl or KCl therapy): contraction alkalosis,
diuretics; corticosteroids; gastric suctioning; vomiting
 Chloride resistant: any hyperaldosterone state, e.g., Cushings’s syndrome;
Bartter’s syndrome; severe K+ depletion

KOMPENSASI RESPIRASI PADA ION H+


 CO2 hasil metabolisme tubuh akan masuk ke eritrosit dalam bentuk ion bikarbnat (HCO3-) untuk
diedarkan dalam plasma. Dalam keadaan normal, CO2 akan dilepaskan paru-paru dan pada saat
yang bersamaan sel akan melakukan metabolisme lain yang menghasilkan CO2.
 Jika terjadi hypercapnia (peningkatan kadar pCO2), pH darah akan turun (menjadi asam) maka
akan mengaktifkan pusat respiratori batang otak sehingga meningkatkan laju ventilasi dan
kedalaman bernapas.
 Sebaliknya, jika terjadi hypocapnia (penurunan kadar pCO2), pH darah akan naik (menjadi basa)
maka pusat respiratori akan ditekan, dan membiarkan CO2 meningkat di dalam darah dan
menyebabkan penurunan pH

KOMPENSASI METABOLIK PADA GINJAL


Ginjal memerankan perannya dalam menjaga keseimbangan asam-basa dengan cara menambah atau
mengurangi reabsorpsi karbonat di tubulus ginjal agar kadar HCO3- : H2CO3- tetap yaitu 1 : 20

ANALISIS GAS DARAH


 Dipakai darah arteri:
Hasil dipengaruhi suhu tubuh, dan konsentrasi oksigen yang dihirup
 Parameter yang diukur:
pH
pCO2
PO2
[HCO3]
Base excess
AaDO2
SO2

NILAI NORMAL

118
GANGGUAN ASAM BASA MISC POLLUX BLOK 7

 pH 7.35-7.45
 PaCO2 35-45 mm Hg
 PaO2 70-100 mm Hg**
 SaO2 93-98%
 HCO3- 22-26 mEq/L
 Base excess -2.0 to 2.0 mEq/L

PERSAMAAN PaCO2

Condition State of

PaCO2 in blood alveolar ventilation

>45 mm Hg Hypercapnia Hypoventilation

35 - 45 mm Hg Eucapnia Normal ventilation

<35 mm Hg Hypocapnia Hyperventilation

note : mon map guys otakku tidak sanggup mengartikan bagian inggris hehe

EDITOR : PRILLY LATUCONSINA ^^

119
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

FISIOLOGI CAIRAN BADAN


dr. Tri Pitara

Editor: Diah

Layouter: Chacak

A. Cairan Tubuh
o Air (H2O) adalah komponen utama tubuh manusia yang paling banyak, yaitu 60% dari
berat badan.
o Komposisi Air dalam tubuh :
✔ Plasma : >90% tersusun oleh air
✔ Kulit-Otot-organ internal : 70-80% air. Jika dehidrasi, proses penuaan
akan meningkat (tekanan turgor rendah, sel jadi layu dan keriput)
✔ Tulang : 22% air
✔ Lemak : 10% air
o Faktor presentase air tubuh adalah jenis kelamin dan usia individu. Pada
perempuan, presentase air lebih rendah drpd laki-laki, karena dipengaruhi oleh
adanya hormon estrogen yang meningkatkan deposit lemak di bagian payudara,
gluteus, dll. Adanya komponen lemak mengakibatkan volume air tubuh
berkurang, sehingga dapat meningkatkan resiko dehidrasi. Presentase air juga
menurun drastis secara progresif karena pertambahan usia.

B. Klasifikasi Cairan Tubuh

120
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

C. Keseimbangan Air Harian (total input=total output 2600)

(*)Berlaku pada suhu ruang. Kalo di lingkungan yg suhunya lebih rendah (misal di ruangan
berAC), pengeluaran cairan lebih besar melalui urin drpd keringat. Nah, reseptor
tubuh menyampaikan informasi bahwa dingin AC tu air. Sehingga, orang yang berada
di lingkungan berAC berpotensi mengalami dehidrasi tanpa merasa haus. Dehidrasi
adalah total input lebih rendah drpd total output yap.

D. Pengertian Dan Macam Cairan Tubuh


o Cairan tubuh adalah air beserta unsur-unsur di dalamnya yang diperlukan untuk
kesehatan sel
o Macamnya :
✔ Cairan Intraseluler (CIS) :
❖ Letaknya di dalam sel, totalnya 50% dari berat tubuh
❖ Mengandung elektrolit, kalium, fosfat, dan bahan makanan
(glukosa, asam amino)
❖ Dalam proses kerjanya dibantu oleh enzim yang memecah dan
membangun kembali sel demi mempertahankan keseimbangan
cairan.
✔ Cairan Ekstraseluler (CES)
❖ Disebut juga cairan interstisiil
❖ Membentuk 30% berat tubuh atau setara dg kurang lebih 12 liter
❖ Jadi CES tu adalah medium di tengah sel hidup yg apabila sel
menerima makanan, oksigen, dan garam, nantinya akan
dikeluarkan menuju ke cairan ini.
✔ Plasma Darah
❖ Meliputi 5% berat tubuh atau sekitar 3 liter.
❖ Merupakan sistem transpor yg melayani semua sel melalui medium
cairan ekstraseluler

121
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

E. Pertukaran Cairan Dalam Jaringan


o Cairan di dalam plasma tu di bawah tekanan hidrostatik yg lebih besar drpd
tekanan interstisial, sehingga cairan plasma cenderung terdorong keluar dari
kapiler.
o Tapi, di dalam plasma ada protein, sedangkan di interstisial ga ada, protein plasma
itu mengeluarkan tekanan osmotik yang nantinya akan menghisap cairan agar
masuk ke dalam kapiler
o Pertukaran antara CES dan CIS juga bergantung pada tekanan osmotik, karena
membran sel kan punya sifat selektif permeabel yg memperbolehkan dilaluinya
beberapa bahan, seperti oksigen, CO2, dan urea secara bebas, sehingga
memompa bahan lain masuk/keluar untuk mempertahankan perbedaan
konsentrasi dalam cairan intra dan ekstraseluler. Misalnya kalium dikonsentrasika
ke dalam CIS, sedangkan Na di pompa keluar secara transpor aktif.

F. Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit


o Dalam keadaan normal, cairan yang masuk sama banyaknya dengan yang dibuang.
o Air dan elektrolit masuk ke tubuh dalam bentuk airminum, cairan, dan makanan
lainnya.
o Nah, pembuangan air itu bisa melalui beberapa organ berikut ini.
✔ Ginjal : dibuang dalam bentuk urin
✔ Kulit : keringat
✔ Saluran pencernaan : kotoran
✔ Paru-paru : CO2 dan air
o Elektrolit juga ikut keluar melalui urin, keringat, dan kotoran.
o Kemampuan tubuh untuk emmpertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
ini diatur dikendalian oleh ginjal.

G. Pengaturan Keseimbangan Cairan Oleh Ginjal


o Pada pemeliharaan keseimbangan, ginjal berfungsi sebagai
✔ Mengontrol volume CES : dg mempertahankan keseimbangan garam
untuk membantu mempertahankan keseimbangan tekanan darah dalam
pengaturan jangka panjang volume CES
✔ Mengontrol osmolaritas CES : dg mempertahankan keseimbangan air, hal
ini harus diatur ketat untuk mencegah pembengkakan ataupun penciutan
sel.

Pemasukan Garam Pengeluaran Garam


Jalan Jumlah Jalan Jumlah
Ingesti 10,5 Kehilangan obligatorik 0,5
melalui keringat dan
feses
Ekskresi terkontrol 10
melalui urin

122
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

Total Input 10,5 Total Output 10,5

H. Pengaturan Keseimbangan Asam Basa oleh Ginjal dan Paru


o Ginjal berperan dengan menyesuaikan pengeluaran ion hidrogen (asam) dan ion
bikarbonat (basa) melalui urin sesuai kebutuhan. Hal itu juga nyambung dengan
peran ginjal sebagai pengatur pH.
o Di dalam tubuh, CO2 terdapat dalam plasma darah. Nah, banyak sedikitnya co2
akan menentukan apakah itu asam atau basa. Kalo PCO2 tinggi karena CO2 tidak
ikut keluar bersama urin, maka menyebabkan kondisi asam tinggi. Kondisi
tersebut bisa disebut asidosis metabolik. Sebaliknya, kalo CO2 rendah
mengakibatkan kondisi alkalosis metabolik.
o Paru dapat menyesuaikan kecepatan ekskresi CO2 penghasil ion hidrogen dan
sistem penyangga kimiawi di cairan tubuh
o Ketika ginjal bermasalah, semua pengeluaran terjadi di paru-paru. Hal itu
membuat paru bekerja lebih ekstra dari biasanya. Ekskresi CO2 yang tinggi
menyebabkan frekensi ventilasi berubah dan mengakibatkan sesak nafas.

I. Difusi dan Osmosis


o Difusi adalah proses dimana suatu gas/bahan dalam larutan mengembang karena
pergerakan partikel-partikelnya untuk mengisi semua volume yang tersedia.
o Osmosis ialah difusi molekul pelarut ke daerah yang konsentrasi terlarutnya lebih
tinggi dengan membran tidak permeabel terhadapnya (intinya dari encer ke
pekat).
J. Filtrasi
o Adalah proses cairan didorong melalui suatu membran/sawar karena adanya
perbedaan tekanan di ekdua sisi
o Jumlah cairan yg difiltrasi dlm suatu interval tertentu setara dengan perbedaan
tekanan, luas permukaan membran, dan permeabilitas membran.
o Misalnya dinding kapiler yg memisahkan plasma dari cairan interstisium beda dg
membran sel yang memisahkan cairan interstisium dan cairan intrasel, karena
perbedaan tekanan di antara kedua sisi dinding tsb menyebabkan filtrasi.
K. Keseimbangan Asam Basa
o Mengacu pada pengaturan ketat konsentrasi ion hidrogen (H+) bebas di dalam
cairan tubuh.
o Untuk mempertahankan konsentrasi H+, maka pemasukan H+ melalui
pembentukan asam oleh reaksi metabolisme di dalam tubuh harus terus menerus
diseimbangkan dengan pengeluaran melalui urin dan CO2 (penghasil H+) melalui
sistem respirasi.
o Konsentrasi ion hidrogen dinyatakan dengan Ph. Ph normal plasma adalah 7,4 yg
mana sedikit lebih alkalis drpd air netral dg pH 7,0.
o pH di bawah normal mengindikasikan adanya asidosis, lebih dari normal alkalosis.

123
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

o Asam
✔ Adalah sekelompok zat yg mengandung hidrogen yg mengalami
disosiasi/terurai apabila berada dalam larutan untuk menghasilkan H+ bebas
dan anion (ion bermuatan negatif)
✔ Asam kuat punya kecenderungan yg lebih besar untuk mengalami disosiasi di
dalam larutan daripada asam lemah. Misalnya HCl yg terurai akan menjadi H+
bebas dan CL- apabila dilarutkan dalam air (H2O)
o Basa
✔ Adalah bahan yg dapat berikatan dg H+ bebas dan menarik ion tersebut dari
larutan
✔ Basa kuat lebih mudah berikatan dg H+ drpd basa lemah.
L. Kontrol Kesembangan Asam Basa
✔ Tantangan utamanya adalah pemeliharaan alkanitas plasma normal
menghadapi penambahan terus menerus H+ ke plasma dari aktivitas
metabolisme yang berlangsung kontinyu.
✔ Tiga lini pertahanan yang menahan perubahan [H+] adalah :
❖ Sistem penyangga kimiawi
❖ Kontrol pH oleh sistem respirasi
❖ Kontrol pH oleh ginjal

o Sistem Penyangga Kimiawi sebagai Pengontrol Keseimbangan Asam Basa


✔ Merupakan lini pertahanan pertama yang masing masing terdiri dari sepasang
zat kimia yang terlibat dalam suatu reaksi reversible (bolak-balik) yang salah
satunya dapat membebaskan H+ sedangkan yang lain mengikat H+
o Sistem Respirasi sebagai Pengontrol Keseimbangan Asam Basa
✔ Lini pertahanan kedua
✔ Secara normal mengeliminasi CO2 hasil metabolisme, shg tidak terjadi
penimbunan H2CO3 dalam cairan tubuh
✔ Sistem ini akan mengubah kecepatan pengeluaran CO2-nya, karena
peningkatan H+ yang berasal dari asam-asam non karbonat merangsang
pernafasan, shg lebih banyak CO2 (penghasil H2CO3) yg dihembuskan keluar
untuk mengkompensasi asidosis dg mengurangi produksi H+ dari H2CO3
o Ginjal sebagai pengontrol Keseimbangan Asam Basa
✔ Lini pertahanan yang paling kuat
✔ Kemampuannya adalah mengeliminasi jumlah normal ion hidrogen yang
dihasilkan olehsumber-sumber non- H2CO3 dan dapat mengubah kecepatan
pengeluaran H+ sebagai respons thd perubahan baik asam H2CO3 maupun
non- H2CO3

124
Fisiologi Cairan Badan MISC Pollux Blok 7

M. Edema
o Adalah pembengakkan jaringan akibat kelebihan cairan interstisium dan karena
terdapat salah satu gaya fisik yang bekerja pada dinding kapiler menjadi abnormal
karena suatu sebab, yaitu
✔ Penurunan konsentrasi protein plasma
✔ Peningkatan permeabilitas dinding kapiler
✔ Peningkatan tekanan vena
✔ Penyumbatan pembuluh limfe

N. Penurunan Konsentrasi Protein Plasma


o Meneybabkan penurunan tekanan osmotik koloid plasma ke arah dalam, shg
terjadi filtrasi cairan berlebihan keluar dari pembuluh sementara jumlah cairan
yang direabsorbsi kurang dari normal, dg demikian terdapat cairan tambaha yang
tertinggal di ruang-ruang interstisium.
o Dapat terjadi pada keadaan pengeluaran berlebihan protein plasma di urin akibat
penyakit gagal ginjal, penurunan sintesis protein plasma akibat penyakit hati,
makanan kurang mengandung protein, pengeluaran protein karena luka bakar.
O. Peningkatan Permeabilitas Dinding Kapiler
o Menyebabkan lebih banyak pengeluaran protein plasma dari kapiler ke cairan
interstisium
o Misal : pelebaran pori-pori kapiler yg dicetuskan oleh histamin
pada cedera jaringan atau reaksi alergi, dimana terjadi kelebihan protein di cairan
interstisium shg terjadi peningkatan tekanan ke arah luar.

P. Peningkatan Tekanan Vena


o Misal : ketika darah terbendung di vena maka akan disertai
peningkatan tekanan darah kapiler, karena kapiler mengalirkan isinya ke dalam
vena, shg terjadi peningkatan tekanan ke arah luar dinding kapiler, maka terjadilah
edema
Q. Penyumbatan Pembuluh Limfe
o Dapat menimbulkan edema karena
kelebihan cairan yang difiltrasi keluar
tertahan di cairan interstisium dan tidak
dapat dikembalikan ke darah melalui
sistem limfe
o Misal : pada penyakit
elefantiasis dimana ekstremitas
bawah/kaki dan skrotum bengkak yg
disebabkan oleh cacing filaria yang
berasal dari nyamuk di daerah tropis.

125
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

METABOLISME AIR DAN ELEKTROLIT


dr. Ika Setyawati

A. AIR
Suatu zat penting dalam sistem kehidupan. Bukan biomolekul organik. Merupakan
komponen sel hidup, pada manusia 50-70% dari berat badan tubuh. Air terdistribusi merata
diantara dua kompartemen utama yaitu 2/3 di dalam intraseluler dan 1/3 di ekstraseluler.
Fungsi Air :
 Sebagai media dalam berbagai reaksi biokimia
 Sebagai pengangkut zat-zat melintasi membran
 Mempertahankan struktur molekul
 Membantu mengatur suhu tubuh
 Membantu mengatur keseimbangan pH
 Menghasilkan cairan pencernaan
 Melarutkan produk limbah metabolisme untuk di eliminasi dari tubuh

Kekurangan air (dehidrasi) sebesar 1% dari berat badan, dpt menimbulkan :


 gangguan fisiologis dan penurunan kerja
 Mempengaruhi fungsi kardiovaskuler
 Mempengaruhi respon termoregulasi tubuh

Kelebihan/peningkatan kadar air di dalam sel maupun jaringan dapat merubah aktivitas
protein, dan memicu gangguan fungsi sel yang dapat berakibat kematian.

KESETIMBANGAN AIR
Keseimbangan antara jumla asupan dan pengeluaran cairan merupakan hal penting dalam
metabolisme.

PENGATURAN KESEIMBANGAN AIR


 Tergantung pd mekanisme hipotalamus dalam mengendalikan rasa haus, hormon
antidiuretik, dan retensi atau ekskresi air oleh ginjal dan kehilangan cairan.

 Ginjal memelihara ketetapan volume CES dan osmolalitas dengan menyeimbanagkan masukan
dan ekskresi Na2+ dan air.
 Ginjal mencapai ketetapan konsentrasi K+ ekstraseluler dan pH darah serta sel dengan
mengatur ekskresi H+ dan HCO3- terhadap masukan ion H+ dan HCO3- serta proses respirasi
dan metabolisme.

STRUKTUR DAN SIFAT FISIK AIR

126
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

Senyawa anorganik terdiri dari 2 atom hidrogen yang terikat pada satu atom oksigen (H2O).

 Titik leleh 0○C


 Titik didih 100 ○C
 Panas vaporasi 540 kal/g
 Terdapat kekuatan antar molekulyg kuat dalam cairan air yg ditentukan oleh sifat dipolar nya
 Daerah sekitar atom oksigen mjd daerah negatif parsial
 Daerah sekitar atom hidrogen mjd daerah positif parsial
 Terjadi ikatan hidrogen

Molekul dipolar: molekul dengan muatan listrik yg tersebar asimetris mengelilingi


strukturnya. Sifat polar memungkinkan terjadinya tarikan elektrostatik antara molekul-
molekulnya

KEPENTINGAN BIOLOGIS AIR

 Air mempertahankan suhu: suhu internal perlu dipertahankan tetap



Karena sifat air Tingginya panas vaporasi (jumlah kalori yg diabsorbsi jika 1 gram cairan di
uapkan) dan tingginya kemampuan panas spesifik (jumlah kalori yg diperlukan utk
meningkatkan suhu 1 gram zat 1○C) organisme mampu menyerap atau kehilangan panas
tanpa perubahan suhu yang tinggi.
 Sumber panas tubuh dihasilkan melalui reaksi pembentukan energi dari KH, Lemak, Protein.
Air sebagai pelarut:
 Sebagai pelarut senyawa ion (garam) ataupun bukan ion (gula, senyawa alkohol)
 Dalam tubuh: melarutkan zat gizi berupa monosakarida, asam amino, vitamin dan mineral,
hormon, oksigen
 Membawa produk sisa metabolisme spt karbondioksida, ureum utk di ekskresikan
melalui ginjal, kulit dan paru-paru

DISSOSIASI AIR:
Air terionisasi menjadi ion hidrogen (H+) dan ion hidroksil (OH-). Dapat bekerja sebagai suatu
asam atau basa.
pH air murni= 7= netral
Jika pH < 7 =asam
Jika pH > 7 =basa

KOMPARTEMEN CAIRAN
► Seluruh cairan tubuh didistribusikan diantara dua kompartemen utama, yaitu :
1. Cairan intraselular (CIS)
2. Cairan ekstra selular (CES)

127
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

Pada orang dewasa 60% dari berat badan adalah air (cairan dan elektrolit).

CAIRAN TUBUH

Cairan tubuh adalah air, larutan pelarut, dan zat terlarut.


Zat Terlarut:
Dua jenis substansi terlarut (zat terlarut): elektrolit dan non-elektrolit.
 Elektrolit: Substansi yang berdiasosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan
arus listrik.
Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama
adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K+).
Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama
adalah klorida ( Clˉ ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO4-).
 Non-elektrolit : Substansi seperti glukusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan. Non-
elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin.

FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT



1. Usia air tubuh menurun dengan peningkatan usia.

128
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7


2. Jenis kelamin wanita mempunyai air tubuh lebih sedikit drpd laki-laki, karena lebih banyak
mengandung lemak tubuh.

3. Sel-sel lemak mengandung sedikit air.
4. Sakit
5. Stres
6. Temperatur lingkungan
7. Diet

ELECTROLYTE COMPOSITION OF BODY FLUID


Electolyte Plasma(mEq/L) Interstetiel Intracelluler
(mEq/KgH2o) (mEq/KgH2o)

Cation:

Na+ 142 145 10


K+ 4 4 159

Ca2+ 5 3 1

Mg2+ 2 2 40
Total 153 154 210

Anion:

Cl- 103 117 3


HCO3- 25 28 7
Protein 17 - 45

Others 8 9 155
Total 153 154 210

B. ELEKTROLIT

1. NATRIUM Terbanyak di
Extra sel Normal: 135-
148 mEq/lt

Pengaturan Natrium (Na)


Ion natrium terlibat dalam mempertahankan keseimbangan air, mentransmisi impuls saraf,
dan kontraksi otot. Nilai laboratorium normal untuk natrium serum adalah 135 sampai 145
mEq/L.
Natrium diatur oleh asupan garam, aldosteron, dan keluaran urin. Sumber utama natrium
adalah garam dapur, daging olahan, makanan ringan, dan makanan kaleng.
Individu yang memiliki fungsi renal yang normal, dapat meningkatkan ekskresi natrium

a. Hiponatremia
Penyebab :

129
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

 Pemberian deuritik yang lama


 Hilangnya sekresi gastrointestinal yang abnormal (diare, muntah) tanpa cairan
pengganti
 Minum yang berlebihan
 Pemberian cairan bebas natrium dalam jumlah yang berlebihan secara parenteral
 Penyakit ginjal
 Insufisiensi adrenal
 Pengeluaran keringat meningkat
 Asidosis metabolik
 Gangguan pompa natrium-kalium disertai penurunan kalium sel dan natrium serum

Tanda dan gejala Hiponatremia:


 Kejang perut, mual, diare, muntah
 Hipotensi postural
 Cemas, takut, bingung,
 Kasus berat ; nadi cepat dan lemah, tekanan darah turun, kulit dingin dan lembab,
konvulsi, koma
 Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar natrium <135 meq/L,
osmolalitas serum <280 mOsm/kg dan Bj urine <1,010.

b. Hipernatremia
Penyebab :
 Penurunan masukan cairan karena koma lama
 Pemberian cairan intravena yang berlebihan yang mengandung kadar natrium tinggi
 Dialisa peritoneal yang menggunakan cairan glukosa hipertonik.
 Sekresi aldosteron yang berlebihan

Tanda dan gejala hipernatremia:


 Rasa haus yang berlebihan
 Membran mukosa kering
 Turgor jaringan yang jelek
 Lidah kasar dan berwarna merah
 Kulit kemerahan dan bengkak
 Konvulsi
 Peningkatan suhu
 Oliguria atau anuria
 Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar natrium >145 meq/L,
osmolalitas serum >295 mOsm/kg dan BJ urine >1,015

2. KALIUM
Kalium merupakan kation intrasel utama, yang mengatur eksitabilitas (rangsangan)
neuromuskuler dan kontraksi otot.
Sumber kalium terdapat pada gandum utuh, daging, polong-polongan, buah-buahan, dan
sayur-mayur.
Kalium dibutuhkan untuk pembentukan glikogen, sintesis protein, dan upaya memperbaiki
asam-basa.
Nilai laboratorium normal kalium serum adalah 3,5 sampai 5,3 mEq/L.

130
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

a. Hipokalemia
Penyebab :
 Kehilangan cairan gastro intestinal (diare, muntah)
 Pemberian diuretik.
 Penggunaan cairan intravena yang tidak mengandung kalium secara berlebihan
 Poliuria
 Pengeluaran keringat berlebihan

Tanda dan gejala Hipokalemia :


 Nadi lemah dan tak teratur
 Nafas dangkal
 Tekanan darah turun
 Anoreksia, nousea, vomitus, kembung
 Otot lemah, kelemahan, keletihan
 Aritmia
 Bising usus turun
 Apneu, kegagalan pernafasan jika kadar kalium 2,0 mEq/L.
 Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kalium <3,5 meq/L.
b. Hiperkalemia
Penyebab :
 Penyakit ginjal
 Luka bakar
 Pemberian kalium yang berlebihan
 Trauma jaringan massif (kalium dikeluarkan langsung dari sel)
 Pemberian diuretik hemat kalium
 Insufisiensi adrenal

Tanda dan gejala Hiperkalemia:


 Mual
 Hiperaktifitas system cerna
 Ansietas
 Disritmia jantung
 Badan terasa lemas
 Paraestesia
 Denyut nadi tidak teratur dan lambat
 Hipotensi
 Kelemahan
 Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kalium >5,3 mEq/L.

3. KALSIUM
Tubuh membutuhkan kalsium untuk integritas dan struktur membran sel, konduksi jantung
yang adekuat, koagulasi (pembekuan) darah, pertumbuhan dan pembentukan tulang, dan
relaksasi otot.

Tubuh orang dewasa mengandung: 1200 gram kalsium.

Nilai laboratorium normal kalsium serum: 4 sampai 5 mEq/L.

131
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

Kalsium di dalam cairan ekstrasel diatur oleh hormon paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid
mengontrol keseimbangan kalsium tulang, absorbsi kalsium di gastrointestinal, dan ekskresi
kalsium di ginjal. Tirokalsitonin dari kelenjar tiroid juga memiliki peranan dalam menentukan
kadar kalsium dalam serum, yakni dengan menghambat pelepasan kalsium dari tulang.

a. Hipokalsemia
Penyebab:
1) Hipoparatiroid
2) Pemberian darah berlebihan yang mengandung sitrat
3) Pemberian cairan intravena yang tidak mengandung kalsium
4) Alkalosis metabolik
5) Peritonitis
6) Nutrisi yang masuk secara parenteral total
7) Penyakit-penyakit pankreas
8) Hipoalbumin
9) Defisiensi vitamin D
10) Penyakit neoplastik

Tanda dan gejala hipokalsemia:


1) Penurunan sensasi
2) Parestesia, baal dan kesemutan pada daerah jari-jari dan sirkumoral
3) Refleks hiperaktif
4) Tanda Chvostek’s : terjadinya kontraksi otot wajah sebagai respons terhadap
ketukan di daerah yang dipersarafi oleh saraf fasial.
5) Tulang-tulang yang berpori-pori dan berongga tampak pada foto sinar X.
6) Hipokalsemia kronik ; Tetani, kram otot, fraktur patologis.
7) Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kalsium <4,3 mEq/L.

b. Hiperkalsemia
Penyebab:
1) Hiperparatiroidisme
2) Metastasis kanker luas
3) Fraktur multiple
4) Mieloma multiple
5) Immobilisasi lama
6) Osteoporosis

Tanda dan gejala hiperkalsemia:


1) Penurunan tonus otot
2) Anoreksia, mual dan muntah
3) Kelemahan
4) Letargi
5) Penurunan kesadaran
6) Henti jantung
7) Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar kalsium >5 mEq/L, sinar X
menunjukkan adanya osteoporosis yang menyeluruh, peningkatan BUN >25
mg/100 ml, peningkatan kreatinin >1,5 mg/100 ml.

132
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

4. MAGNESIUM
Magnesium merupakan kation terpenting kedua dalam cairan intrasel dan sangat penting
untuk aktifitas enzim, neurokimia, dan eksitabilitas otot.

Nilai normal laboratorium magnesium serum: 1,5 sampai 2,5 mEq/L.

Magnesium berperan dalam metabolisme karbohidrat dan protein, dan juga penting untuk
konduksi syaraf. Magnesium terutama diekskresi melalui mekanisme ginjal. Perubahan kadar
magnesium sering dihubungkan dengan penyakit serius dan menghasilkan gejala-gejala yang
mencerminkan adanya perubahan fungsi neuromuskuler dan kardiovaskuler.

a. Hipomagnesemia
Penyebab:
1) Asupan yang tidak adekuat ; malnutrisi dan alkoholisme
2) Absorbsi yang tidak adekuat ; diare, muntah, drainase nasogastrik, fistula,
diet kalsium yang berlebihan, penyakit usus kecil
3) Hipoparatiroidisme
4) Kehilangan magnesium yang berlebihan akibat penggunaan diuretic
5) Kelebihan aldosteron
6) Poliuria

Tanda dan gejala hipomagnesemia:


1) Gangguan susunan syaraf pusat, tremor, kejang
2) Hipertensi
3) Kebingungan
4) Disorientasi
5) Takikardia
6) Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar magnesium <1,5 mEq/L.

b. Hipermagnesemia
Penyebab:
1) Gagal ginjal
2) Pemberian magnesium parenteral yang berlebihan
3) Hiperparatiroidisme
4) Penyakit Addison

Tanda dan gejala:


1) Refleks tendon hipoaktif
2) Pernafasan dan frekuensi denyut jantung dangkal dan lambat
3) Hipotensi
4) Rasa mengantuk
5) Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar magnesium >2,5 mEq/L.

5. KLORIDA
Klorida terdapat di dalam cairan ekstrasel dan intrasel. Keseimbangan klorida
dipertahankan melalui asupan makanan dan ekskresi serta reabsorbsi renal.

Nilai laboratorium normal klorida serum adalah 100 sampai 106 mEq/L.

133
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

Jumlah yang diekskresikan berhubungan dengan asupan makanan. Klorida diasorbsi di usus
halus dan disekresikan di dalam keringat, cairan lambung dan empedu. Klorida di angkut di
dalam darah dan limfe akibat kerja jantung dan otot rangka.

a. Hipokloremia
Penyebab:
1) Biasanya berkaitan dengan meningkatnya kada bikarbonat yang ditemukan
pada alkalosis
2) Dapat terjadi sesudah muntah kronis
3) Berhubungan dengan pemberian asam etakrinat, furosemid atau diuretic tiazid

Tanda dan gejala:


1) Banyak berkeringan tanpa diikuti dengan masukan cairan yang cukup
2) Diare
3) Otot hipertonus, tetani
4) Depresi pernafasan
5) Hasil laboratorum : kadar klorida serum < 100 mEq/L.

b. Hiperkloremia
Penyebab:
1) Meningkatnya pemberian cairan intravena yang hipertonik
2) Masukan garam yang berlebihan selama terapi intravena atau selama
pemberian nutrisi secara parenteral
3) Kegagalan ginjal akut
4) Diabetes insipidus
5) Akibat pemakaian obat-obat seperti ammonium klorida atau fenibutazon

Tanda dan gejala:


1) Edema
2) Pernafasan cepat dan dalam
3) Peningkatan volume darah
4) Kegagalan jantung kongestif
5) Stupor - tidak sadar
6) Hasil laboratorium kadar klorida serum > 106 mEq/L.

6. BIKARBONAT
Bikarbonat adalah buffer dasar kimia yang utama di dalam tubuh. Ion bikarbonat terdapat
dalam cairan ekstrasel dan intrasel. Nilai laboratorium normal bikarbonat arteri adalah 22
sampai 26 mEq/L. di dalam darah vena, bikarbonat diukur melalui kandungan karbon
dioksida dan nilai bikarbonat normal untuk orang dewasa adalah 24 sampai 30 mEq/L.

Bikarbonat diatur oleh ginjal. Apabila tubuh memerlukan lebih banyak basa, ginjal akan
merabsorsi bikarbonat dalam jumlah yang lebih besar dan dikembalikan ke ekstrasel. Ion
bikarbonat merupakan komponen paling penting dalam system buffer asam karbonat-
bikarbonat yang penting berperan dalam keseimbangan asam-basa.

134
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

7. FOSFAT
Fosfat merupakan anion buffer dalam cairan intrasel dan ekstrasel. Fosfat dan kalsium
membantu mengembangkan dan memelihara tulang dan gigi. Fosfat juga meningkatkan
kerja neuromuskuler normal, berpartisipasi dalam metabolisme karbohidrat, dan membantu
pengaturan asam-basa.

Nilai laboratorium normal fosfat serum adalah 2,5 sampai 4,5 mg/100 ml.

Konsentrasi fosfat serum diatur oleh ginjal, hormon paratiroid, dan vitamin D teraktivasi.
Fosfat secara normal diabsorbsi melalui saluran gastrointestinal. Kalsium dan fosfat
berbanding terbalik secara proporsional. Jika salah satunya meningkat, maka yang lainnya
akan turun.

C. PROSES TRANSPORT AIR


1. Difusi
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi difusi :

a. Suhu berbanding lurus

b. Konsentrasi partikel berbanding lurus

c. Ukuran molekul berbanding terbalik

d. Berat molekul dari partikel berbanding terbalik

e. Area permukaan yang tersedia untuk difusi (luas permukaan membran) berbanding lurus

f. Jarak lintas dimana massa partikel harus berdifusi berbanding terbalik
2. Osmosis
Gerakan air melewati membran semipermeabel dari area dengan konsentrasi zat terlarut
rendah ke area dengan konsentrasi zat terlarut tinggi
Kecepatan osmosis dipengaruhi oleh:
a. Konsentrasi solut di dalam larutan.
b. Suhu larutan,
c. Muatan listrik solut,
d. Perbedaan antara tekanan osmosis yang dikeluarkan oleh larutan.
Macam-macam sifat larutan:

1. Isotonik adalah suatu larutan yang osmolalitasnya sama dengan plasma darah.
Pemberian larutan isonik melalui intravena akan mencegah perpindahan cairan dan
elektrolit dari kompartemen intrasel.

2. Hipotonik adalah suatu larutan yang memiliki konsentrasi solut lebih rendah dari plasma,
sehingga akan membuat air berpindah ke dalam sel.

3. Hipertonik adalah suatu larutan yang memiliki konsentrasi solut lebih lebih besar dari
plasma, sehingga akan membuat air keluar dari dalam sel.

3. Transport Aktif
Difusi sederhana tidak akan terjadi jika tak ada listrik atau gradien konsentrasi yang
dibutuhkan. Energi diperlukan agar substansi dapat pindah dari area sederhana tidak akan
terjadi jika tak ada listrik atau gradien konsentrasi yang dibutuhkan. Energi diperlukan agar

135
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

substansi dapat pindah dari area berkonsentrasi lebih rendah atau sama ke area dengan
konsentrasi sama atau lebih besar

4. Filtrasi
Gerakan air dan zat terlarut dari area tekanan hidrostatik tinggi ke area tekanan hidrostatik
rendah. Proses ini bersifat aktif di dalam bantalan kapiler, tempat perbedaan tekanan
hidrostastik atau gradien yang menentukan perpindahan air, elektrolit dan substansi terlarut
lain yang berada diantara cairan kapiler dan cairan interstitial.

D. MASALAH KESEIMBANGAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


1. Hipovolemia
Hipovolemia adalah suatu kondisi akibat kekurangan volume cairan ekstraseluler (CES),
a. Hipovolemia Ringan
- Anoreksia
- Keletihan
- Kelemahan
b. Hipovolemia Sedang
- Hipotensi ortostatik
- Takikardia
- Penurunan CVP
- Penurunan haluaran urine
c. Hipovolemia Berat
- Hipotensi berbaring
- Nadi cepat dan lemah
- Dingin, kulit kusam
- Oliguria
- Kacau mental, stupor, koma
Riwayat dan faktor-faktor resiko hipovolemia:
▪ Kehilangan cairan GI abnormal: muntah, penghisapan NG, diare, drainase intestinal
▪ Kehilangan kulit abnormal: diaforesis berlebihan sekunder terhadap demam atau
latihan, luka bakar, fibrosis sistik
▪ Kehilangan ginjal abnormal: terapi diuretik, diabetes insipidus, diuresis osmotik
(bentuk poliurik), insufisiensi adrenal, diuresis osmotik (DM takterkontrol, pasca
penggunaan zat kontras
▪ Spasium ketiga atau perpindahan cairan plasma ke interstisial: peritonitis, obtruksi
usus, luka bakar, acites
▪ Hemorragia
▪ Perubahan masukan: koma, kekurangan cairan.

2. Hipervolemia
Hipervolemia adalah penambahan / kelebihan volume (CES)
Penyebab
1. Stimulus kronis pada ginjal untuk menahan natrium dan air
2. Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium & air
3. Kelebihan pemberian cairan intra vena
4. Perpindahan cairan interstisial ke plasma

136
Metabolisme Air dan Elektrolit MISC Pollux Blok 7

Tanda-gejala Klinis Hipervolemia: sesak nafas, ortopnea,


oedema Penyebab edema extraselular
1. peningkatan tekanan kapiler
▪ kelebihan retensi ginjal
▪ tekanan vena yang tinggi
▪ penurunan resistensi arteriol
2. penurunan protein plasma
▪ hilangnya protein melalui hidung
▪ hilangnya protein melalui kulit yang lepas
▪ kagagalan roduksi protein
3. Peningkatan permeabilitas kapiler
▪ reaksi imun
▪ toksin
▪ infeksi bakteri
4. Blockage of lymph return
▪ Cancer
▪ Pembuluh limphatik yang abnormal atau kelainan kongenital

Riwayat Dan Faktor-Faktor Resiko Hipervolemia


a. Retensi natrium dan air: gagal jantung, sirosis, sindrom nefrotik, kelebihan
pemberian glukokortikosteroid
b. Fungsi ginjal abnormal: gagal ginjal akut atau kronis dengan oliguria
c. Kelebihan pemberian cairan intravena (IV)
d. Perpindahan cairan intertisial ke plasma: remobilisasi cairan setelah pengobatan
luka bakar, kelebihan pemberian larutan hipertonik (mis; manitol, salin hipertonik)
atau larutan onkotik kolid (mis; albumin)

Editor : Romahurmuzy ft Faldo Maldini


Layouter : Ivana Devi

137
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

FISIOLOGI GINJAL
Part I
Dr. Ratna indriawati M. Kes

I. Anatomi Dan Fisiologi Ginjal

• Organ retroperitoneal
• berat : 150 gram, P : 13 cm, l : 6 cm
• 1 juta nefron yang befungsi untuk kemampuan membentuk urin.
Yang terdiri dari : glomerulus dan tubulus renalis
• Minimal 20.000 nefron untuk dapat bertahan hidup □ tranplantasi tanpa
membahayakan kehidupan

II. Teori Dasar Fungsi Nefron


• Membersihkan plasma : urea, kreatinin, asam urat, sulfat, phenol, ion-ion Na, K, Cl.
• Mekanisme :
a) Terjadi filtrasi plasma (1/5 nya) melalui membran glomerulus masuk ke tubulus

138
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

b) Sewaktu filtrasi zat-zat yang diperlukan direabsorpsi yang tidak berguna


dibiarkan tetap untuk dijadikan urin

Bagian bagian nefron ginjal :


1. Glomelurus
 Filtrasi plasma darah (di kapiler glomerulus) menghasilkan ultra filtrat
(di kapsula Bowmani )
 Terdapat di Korteks ginjal
 Komposisi ultra filtrat ; ultrafiltrat adalah hasil dari penyaringan pembuluh
darah arteri pada bagian glomerulus atau yang sering kita sebut dengan urin
primer.
 Tidak mengandung eritrosit
 Elektrolit dan kristaloid spt cairan intertisial
 Ion Cl dan HCO3 5% > daripada plasma
 Kation 5% < dari plasma
 Urea, kreatinin, glukosa + 4%
 Protein < 0,03% atau < 1/200 protein plasma
Ultra filtrat komposisinya sama dengan komposisi plasma tetapi tidak
mengandung protein

2. Tubulus
• Tubulus kontortus proksimalis
1. Pars konvulata
2. Pars rekta
• Ansa Henle
 Pars descenden : masuk ke bagian medulla
 Pars ascenden : meninggalkan medulla menuju korteks lagi, sel berbentuk
pipih
• Tubulus kontortus distalis
- tubulus kolektivus

139
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

3. Pembuluh Darah
• Aliran pembuluh darah dalam ren adalah Arteriola afferens → arteriola efferens
→kapiler peritubular → vena interlobularis
• Luas permukaan total kapiler ginjal kira-kira sama dengan luas permukaan total
tubulus (+ 12 m2)
• Volume darah di dalam kapiler ginjal : 30-40 ml
• Banyak pembuluh limfe → ductus thoracicus → sirkulasi vena di dalam thoraks
• Ginjal dilalui + 1200 ml darah/menit (20-25% curah jantung)

4. Kapsula Renalis
 Capsula renalis bersifat tipis, tetapi kuat
 Ginjal edematosa merupakan suatu gejala dimana capsula yang membatasi
pembengkakan dan tekanan intertisial ginjal meningkat dan mengakibatkan laju
filtrasi glomerulus menurun pada akhirnya meningkatkan dan memperpanjang
anuria pada gagal ginjal akut.

III. Persarafan Pembuluh Darah Renalis


 Nervus renalis banyak mengandung serabut eferen simpatis dan beberapa
serabut aferen.
 Persarafan kolinergik melalui nervus vagus.
 Serabut simpatis pada arteriola afferens dan efferens
 Fungsi nervus renalis :
a. vasokonstriksi renalis
b. meningkatkan seresi renin dari sel jukstaglomerulus
c. meningkatkan reabsorpsi Na+ dan air di dalam pembulu darah

IV. Vasokonstriksi Renalis


 Katekolamin
 Angiotensin II → vasokonstriktor selktifarteriol efferens
 Prostaglandin → meningkatkan aliran darah di cortex renalis dan menurunkan
aliran darah di medula renalis
 Asetilkolin → vasodilatasi
 Rangsangan nervus renalis , rangsangan daerah vasomotor di medulla oblongata,
bagian batang otak, corteks cerebri

140
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

V. AutoRegulasi Aliran Darah Ginjal


 Pada tekanan perfusi rendah : angiotensin II→vasokonstriksi arteriola efferens →
mempertahankan laju filtrasi glomerulus
 Pada tekanan perfusi sedang : tahanan vaskular renalis bervariasi sesuai tekanan →
aliran darah renalis relatif tetap

VI. Konsumsi Oksigen Pada Ginjal


 + 18 ml/menit
 Perbedaan O2 arteriovenosa : 14 ml/l darah
 Fungsi ginjal yang berkorelasi terbalik dengan konsumsi O2 : kecepatan transport
aktif Na+

VII. Fungsi Ginjal


a. Pengaturan keseimbangan air dan elektrlit
 Ekskresi = asupan
 Ditentukan oleh kebiasan makan dan minum
 Asupan natrium dapat ditingkatkan 1500 mEq/hari (> 10 kali normal) atau
diturunkan hingga 1/10 mEq/hari (<1/10 normal)
b. Ekskresi hasil buangan metabolik dan bahan kimia
Organ utama ekskresi :
 urea (dari metabolisme asam amino)
 kreatinin ( dari kreatinin otot)
 asam urat ( dari asam nukleat)
 produk akhir pemecahan Hb
 metablit dari berbagai hormon
 toksin dan zat asing lainnya
c. Pengaturan tekanan Arteri
 Pengaturan tekanan arteri jangka panjang dengan mengekskresi sejumlah
natrium dan air
 Pengaturan tekanan arteri jangka pendek dengan menyekresi faktor atau zat
vasoaktif, seperti renin
 Bila CES >> → peningkatan tekanan arteri → ginjal mengekskresi CES >>
→mengembalikan tekanan ke nilai normal
Note : CES = cairan ekstra selular

141
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

Sistem renin angiotensin

RENIN + ANGIOTENSINOGEN

Angiotensin I

Angiotensin II

Vasokonstriksi Perifer Sekresi Aldosteron

Retensi Na+ dan Air

Peningkatan Vol. Plasma

Peningkatan Tekanan Darah

Jadi gais renin dan angiotensin itu bekerja sama nanti akan menghasilkan
Angiotensin I dan berubah menjadi Angiotensin II, angiotensing yang dihasilkan
tersebut mengakibatkan vasokonstriksi pembulu darah perifer dan sekresib
aldosteron dan retensi ion natrium yang bertujuan untuk peningkatan plasma,
pada akhirnya efek dari vasokonstriksi pan peningkatan volume plasma tersebut
menjadikan tekanan darah naik.

d. Pengaturan keseimbangan Aam Basa


 Bersama dengan sistem dapar paru dan cairan tubuh → mengekskresi asam dan
mengatur penyimpanan dapar cairan tubuh
 Ginjal merupakan satu-satunya organ unutk membuang tipe-tipe asam tertentu
hasil metabolisme protein, seperti asam sulfonat atau fosfat

e. Pengaturan Produksi Eritrosit

 Eritropoetin merangsang pembentukan eritrosit ( sebagai respond terhadap


hipoksia)

 90% eritropoetin dibentuk di ginjal, sisanya terutama di bentuk di hati.

142
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

Sel-sel stem hemopoetik

Eritropoetin

Proeritroblas

Menurun

Eritrosit

Oksigenasi jaringan

f. Pengaturan produksi 1,25-dihidroksi vitamin D3


 Ginjal menghasilkan bentuk aktif vitamin D
 Vitamin D berperan penting dalam pengaturan kalsium dan fosfat
g. Sintesis Glukosa
 Glukoneogenesis selama masa puasa yang panjang

SOAL
1. Mengapa pukulan yang keras pada iga XII berbahaya bagi ginjal ?
2. Jelaskan bagaimana sel-sel jukta glomerulus dan sel-sel makula densa dapat
membantu mengontrol tekanan darah
3. Jumlah nefron minimal yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidup :
a. 2 juta
b. 1 juta
c. 200.000
d. 20.000
4. Zat yang langsung menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer dan
meningkatkan sekresi aldosteron adalah :
a. Angiotensinogen
b. Renin
c. Angiotensin II
d. angiotensin I

143
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

FISIOLOGI GINJAL
Part II

A. SIRKULASI GINJAL
- RBF (Renal Blood Flow) = aliran darah ginjal

Diukur secara langsung : Flowmeter

Diukur secara tidak langsung : Metode Klirens(Clearance) Inulin, P.A.H dan Kreatinin

- RPF (Renal Plasma Flow)

Rumus : Jumlah zat ekresi ginjal/menit

beda kadar zat di arteri dan vena renalis

- RBF : RPF

1-Hematokrit

- Syarat RPF dapat dihitung :

- tidak dimetabolisme tubuh

- tidak disekresi dan direabsorbsi tubuh

- tidak diserap ginjal

- tidak meracuni

- difiltrasi sempurna oleh ginjal

- mudah dianalisa

B. 3 PROSES PEMBENTUKAN URIN


1. Filtrasi oleh Glomerulus

2. Reabsorbsi oleh Tubulus ( terbesar di tubulus proximal)

3. Sekresi oleh Tubulus

144
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

C. PEMBENTUKAN URIN
 Kecepatan ekskresi urin = laju filtrasi - laju reabsorpsi + laju sekresi

 Zat difiltrasi bebas

Misal : kreatinin

 Zat difiltrasi bebas tetapi sebagian direabsorpsi

Misal : elektrolit.

 Zat difiltrasi bebas, tidak diekskresi, semua direabsorpsi

Mis : AA, glukosa

 Zat difiltrasi bebas , tidak di Reabsorpsi, zat cepat dibersihkan dari darah dan

diekskresi dalam jumlah besar di urin.

D. Filtrasi oleh Glomerulus


GFR = Kp ( (Pb. Pc) – a )

Kp = konstante

Pb = tekanan hidrostatik kapiler

Pc = tekanan hidrostatik kapsula Bowmani

a = tekanan koloid osmotik plasma

145
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

Kapiler glomeruli ≠ kapiler lain

• Tekanan hidrostatik dipertahankan tetap

• Permeabilitas tinggi (50x kapiler otot)

• Luas permukaan glomerulus sangat luas

 Filtrasi terjadi bila tekanan darah kapiler glomerulus > jumlah tekanan osmotik

plasma dan tekanan kapsula Bowmani.

 Jika tekanan darah aorta turun 40-50 mmHg urin tidak terbentuk.

 BM < 70.000 dapat difiltrasi glomerulus

 Klirens (Clearance) : jumlah plasma darah yang dibersihkan dari suatu zat oleh ginjal

dalam satuan waktu

Cx = Ux . V

Px

146
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

E. SEKRESI DAN REABSORPSI TUBULUS


• Reabsorpsi tubulus :

– Tidak adanya zat tertentu dalam urin

– Sedikitnya volume urin dibandingkan banyaknya filtrat glomerulus

• Mekanisme Reabsorpsi dan sekresi tubulus :

– Pinositosis : protein, Asam amino

– Transport pasif : air

– Transport aktif

• Reasorbsi Gula

- Transport aktif

- Normal kadar glukosa plasma : 80-120 mg%

- Terjadi di permulaan tubulus proksimalis

147
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

- Nilai ambang glukosa terhadap ginjal = 300 mg%

- Transport glukosa dalam tubulus tidak dipengaruhi insulin

- Hampir semua reabsorpsi partikel larutan di tubulus proksimal, kecuali reabsorpsi


Na pada semua tubulus renalis kecuali pada pars ascendens ansa Henle.

• Ekskresi Air

- Filtrasi glomerulus : 180 liter/hari

- Urin yang terbentuk : 1 liter/hari

- Urin pekat : air ditimbun melebihi larutan (garam).

- Urin encer : air dilepaskan dari tubulus melebihi larutan garamnya

- Reabsorpsi aktif di bagian permulaan tubulus proksimalis : larutan isotonis

- Pars ascendes ansa Henle impermeabel terhadap air, Na aktif dipompa keluar dari
filtrat : larutan hipertonis

- Filtrat di tubulus distalis : hipotonis.

- Osmolalitas dan volume filtrat di tubulus distali tergantung pada vasopresin


(menaikkan permeabilitas sel tubulus distalis, duktus kolektivus terhadap air urin sedikit dan
pekat)

F. Mekanisme “COUNTER-CURRENT”
Mekanisme pemekatan urin ≈ perbedaan kenaikkan osmolalitas aktivitas ansa henle sebagai

“counter-current multiplier dan vasa rekta sebagai “counter-current exchanger” proses pasif
tergantung pada difusi air dan Na

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi urin


● Diuresis air -> kenaikkan tekanan osmotik efektif plasma memacu ekskresi

vasopresin (ADH).

● Intoksikasi air -> diuresis maksimal (aliran urin 16 ml/menit) -> minum >> lama ->
plasma hipotonis -> intoksikasiair

● Ekskresi ureum -> pemekatan urin thd zat non urea lbh baik bila tdk ada

ureum.

148
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

● GFR: GFR menurun -> urin lebih pekat

H. Ekskresi Na dan Cl serta pengaturannya


● Na difiltrasi dalam jumlah besar oleh glomerulus, direabsorpsi di seluruh tubulus
renalis kecuali di pars ascenden ansa Henle. Normalnya 90-99% filtrat Na direabsorpsi
kembali.

● Ekskresi Na sangat dipengaruhi GFR, juga oleh mineralokortikoid, Angiotensin II,


Oksitosin, N. renalis

● Sebagian besar ion Na direabsorpsi bersama dengan Cl, sebagian lagi direabssorpsi
dgn cara : 1 ion Na ditukar dg 1 ion K atau ion H

I. Ekskresi ion K
● Sebagian besar ion K yg difiltrasi, direabsorpsi kembali di tubulus proksimal, diekskresi
oleh tubulus distalis.

● Ekskresi ion K menurun jika ;

• Jumlah ion K dalam tubulus distalis menurun

• Sekresi ion H naik

J. Sekresi ion H
● Ion H dibentuk dari disosiasi , dicurahkan ke dalam lumen tubulus untuk ditukarkan
dg ion Na

● Sel tubulus mengandung karbonik anhidrase yg mempercepat pemecahan

H2CO3 -> H+ + HCO3-

● pH batas dimana dapat terjadi sekresi ion H secara transport aktif adalah 5,5

K. REFLEKS BERKEMIH
● Refleks berkemih adalah refleks medula spnalis yang seluruhnya bersifat autonomik,
tetapi dapat dihambat atau dirangsang oleh pusat dalam otak.

● Pusat-pusat ini antara lain : pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang
otak, terutama terletak di pons, dan beberapa pusat yang terletak di korteks serebral yang
terutama bekerja sebagai penghambat tetapi dapat menjadi perangsang

149
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

● Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat yang
lebih tinggi normalnya memegang peranan sebagai pengendali sebagai berikut :

- Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan refleks berkemih
kecuali jika peristiwa berkemih dikehendaki.

- Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahakan jika refleks berkemih
muncul, dengan membuat kontsraksi tonik terus menerus pada sfingter eksternus kandung
kemih samapi mendapatkan waktu yang baik untuk berkemih.

- Jika tiba waktu berkemih, pusat kortikal dapat merangsang pusat berkemih sakral
untuk membantu mencetuskan refleks berkemih dan dalam waktu bersamaan menghambat
refleks sfingter eksternus kandung kemih sehingga peristiwa berkemih dapat terjadi.

● Berkemih di bawah keinginan tercetus dengan cara sebagai

berikut :

Seseorang secara sadar mengkonstraksikan otot-otot abdomennya, yang meningkatkan


tekanan dalam kandung kemih dan mengakibatkan urin ekstra memasuki leher kandung
kemih dan uretra posterior di bawah tekanan, sehingga meregangkan dindingnya. Hal ini
menstimulasi

reseptor regang, yang merangsang refleks berkemih dan menghambat sfingter eksternus
uretra secara simultan. Biasanya seluruh urin akan keluar, terkadang lebih dari 5 –10 mL
urin tertinggal di kandung kemih.

SOAL

Zat-zat yang normal difiltrasi oleh glomerulus mencakup semua hal dibawah ini, kecuali :

A. Elektrolit

B. Air

C. Non elektrolit

D. Sel-sel darah

150
Fisiologi Ginjal MISC Pollux Blok 7

Editor : Nabila Shofi ft Morenda unch

Layouter : Anisa Zuhanna

151