Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hidup sehat, memiliki usia yang relatif panjang dan terbebas dari
berbagai penyakit yang mematikan merupakan impian semua orang. Selain
itu, dengan meningkatnya derajat kesehatan di suatu negara, maka angka usia
harapan hidup (UHH) akan meningkat pula, dan UHH ini merupakan salah
satu indikator untuk menilai kemajuan suatu negara di bidang kesehatan.
Akan tetapi pada prakteknya masih banyak terdapat orang-orang yang tidak
dapat menghindar dari berbagai penyakit, salah satunya penyakit-penyakit
infeksi.
Menurut Said, dkk (2010), infeksi adalah invasi tubuh oleh
mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit. Fasilitas-fasilitas
kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, klinik dan lain sebagainya
merupakan tempat yang paling berisiko meningkatkan angka penyebaran
infeksi yang sering disebut infeksi Nosokomial. Infeksi Nosokomial
merupakan persoalan serius karena dapat menjadi penyebab langsung
maupun tidak langsung kematian pasien. Kalaupun tak berakibat
kematian, pasien dirawat lebih lama sehingga pasien harus membayar biaya
pengobatan yang lebih banyak.
Menurut Darmadi (2008), infeksi nosokomial adalah penyakit
infeksi yang pertama muncul (penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien
itu sendiri) dalam waktu antara 48 jam dan empat hari setelah pasien masuk
rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan lainnya, atau dalam waktu 30
hari setelah pasien keluar dari rumah sakit. Dalam hal ini termasuk infeksi
yang didapat dari rumah sakit tetapi muncul setelah pulang dan infeksi akibat
kerja terhadap pekerja di fasilitas pelayanan kesehatan. Pasien, petugas
kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang
berisiko tertular infeksi nosokolial. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan
dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada
pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Dengan

1
2

demikian akan menyebabkan peningkatan angka morbiditas, mortalitas,


peningkatan lama hari rawat dan peningkatan biaya rumah sakit.
Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa
sekitar 8,7% dari 55 Rumah Sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa,
Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi
nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0% (Harry, 2006). Di negara
maju pun, infeksi yang didapat dalam Rumah Sakit terjadi dengan angka yang
cukup tinggi. Infeksi nosokomial menyebabkan 20.000 kematian setiap tahun
di AS, 10% pasien rawat inap di Rumah Sakit mengalami infeksi yang baru
selama dirawat sampai 1,4 juta infeksi setiap tahun di seluruh dunia.
Data penelitian Sumaryono (2005), di negara-negara berkembang
termasuk Indonesia, kejadian infeksi nosokomial jauh lebih tinggi. Menurut
penelitian yang dilakukan di dua kota besar Indonesia didapatkan angka
kejadian infeksi nosokomial sekitar 39%-60%. Di Negara-negara berkembang
terjadinya infeksi nosokomial tinggi karena kurangnya pengawasan, praktek
pencegahan yang buruk, pemakaian sumber terbatas yang tidak tepat dan
rumah sakit yang penuh sesak oleh pasien.
Di Indonesia kejadian infeksi nosokomial pada jenis/tipe rumah sakit
sangat beragam. Penelitian yang dilakukan oleh Depkes RI pada tahun 2004
diperoleh data proporsi kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit
pemerintah dengan jumlah pasien 1.527 orang dari jumlah pasien beresiko
160.417 (55,1%), di rumah sakit swasta dengan jumlah pasien 991 pasien dari
jumlah pasien beresiko 130.047 (35,7%), dan di rumah sakit ABRI dengan
jumlah pasien 254 pasien dari jumlah pasien beresiko 1.672 (9,1%).
Nurmatono (2005) mengatakan bahwa sampai saat ini infeksi
nosokomial masih merupakan problem serius yang dihadapi oleh rumah sakit
di seluruh dunia terutama di negara berkembang, salah satunya
Indonesia.Resiko infeksi nosokomial selain dapat terjadi pada pasien yang
dirawat di rumah sakit, dapat juga terjadi pada para petugas kesehatan.
Berbagai prosedur penanganan pasien memungkinkan petugas terpapar
dengan kuman yang berasal dari pasien. Infeksi yang berasal dari petugas
3

juga berpengaruh pada mutu pelayanan suatu fasilitas kesehatan. Kondisi ini
menunjukkan penurunan mutu pelayanan kesehatan. Tak dipungkiri lagi
untuk masa yang akan datang dapat timbul tuntutan hukum bagi sarana
pelayanan kesehatan, sehingga kejadian infeksi di pelayanan kesehatan harus
menjadi perhatian bagi Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya, dan salah
cara untuk menurunkan angka kejadian infeksi nosokomial tersebut adalah
dengan program pencegahan infeksi (Kasmad, 2007).
Program pencegahan infeksi penting bagi kesehatan pasien dan
keselamatan petugas, pengunjung dan lain-lain, sehingga pada tahun 1976
Joint Commission on Accreditation of Health Care Organizations (JCAHO)
memasukkan kegiatan pengawasan, pelaporan, evaluasi perawatan, organisasi
yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial
menjadi syarat untuk akreditasi rumah sakit yang merupakan ukuran kualitas
dari pelayanan kesehatan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya
(Schekler dalam Molina 2012).
Upaya yang dilakukan untuk mengurangi infeksi nosokomial adalah
dengan melaksanakan tindakan kewaspadaan universal (universal
precaution). Kewaspadaan universal adalah pedoman yang ditetapkan
Centers for Disease Control (CDC) untuk mencegah penyebaran berbagai
penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan rumah sakit atau sarana
kesehatan lainnya, dimana konsep yang dianut adalah bahwa semua darah dan
cairan tubuh harus dikelola sebagai sumber yang dapat menularkan HIV,
Hepatitis B dan berbagai penyakit lainnya (Saifuddin dkk, 2006).
Kewaspadaan universal ini sering disebut juga sebagai Pencegahan infeksi
(PI).
Pencegahan Infeksi (PI) adalah suatu usaha yang dilakukan untuk
mencegah terjadinya risiko penularan mikroorganisme.Petugas kesehatan
maupun pasien dapat terpapar penyakit menular berbahaya melalui percikan
darah atau cairan tubuh pada mata, hidung, mulut atau melalui diskontinuitas
permukaan kulit (misalnya luka atau lecet yang kecil) dan luka tusuk yang
disebabkan oleh jarum yang sudah terkontaminasi atau peralatan tajam
4

lainnya, baik pada saat prosedur dilakukan atau pun pada saat proses
peralatan.
Namun penularan infeksi ini dapat dicegah pada tenaga kesehatan bila
tenaga kesehatan dapat melakukan pencegahan infeksi yang benar yaitu
melalui pengetahuan dan keterampilan yang kemudian diterapkan sehingga
mampu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bersih serta
mencegah terjadinya komplikasi pada pasien (Jaringan Nasional Pelatihan
Klinik, 2008). Mengingat bahwa infeksi dapat ditularkan melalui darah,
sekret vagina, air mani, cairan amnion dan cairan tubuh lainnya maka setiap
petugas yang bekerja di lingkungan yang mungkin terpapar hal-hal tersebut
mempunyai resiko untuk tertular bila tidak mengindahkan prosedur
pencegahan infeksi (Saifuddin, 2006).
Menurut Kemenkes (2012), beberapa prinsip dalam pencegahan
infeksi adalah mencuci tangan, pemakaian sarung tangan sesuai kebutuhan,
penggunaan Alat Pelindung Diri, penggunaan cairan antiseptik, pemrosesan
alat bekas pakai, sampai dengan pengelolaan sampah medis, di mana
kesemuanya itu harus benar dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.Oleh
karena itu perlu adanya pengetahuan yang baik dan benar agar petugas
kesehatan dapat melaksanakan pencegahan infeksi tersebut dengan baik.
Menurut Notoadmodjo dalam Wawan (2011), pengetahuan adalah
merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu.Pengetahuan sendiri dipengaruhi
oleh banyak faktor, seperti faktor pendidikan dan lingkungan.
Pernyataan tersebut didukung oleh Mandasari (2010) dalam
penelitiannya yang berjudul “Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang
Infeksi Nosokomial Dengan Pencegahan Infeksi Nosokomial Pasien Pasca
BedahPria di Ruang Teratai RSUD Kabupaten Kebumen, didapatkan hasil
bahwa ada hubungan antara pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial
dengan pencegahan infeksi nosokomial pasien paska bedah. Hal ini
menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan faktor penting dalam upaya
5

pencegahan infeksi di lingkungan sarana pelayanan kesehatan, dimana salah


satunya adalah Puskesmas.
Puskesmas Jagoi Babang adalah satu- satunya puskesmas rawat inap
di Kabupaten Bengkayang yang terletak di wilayah perbatasan Indonesia –
Malaysia.Puskesmas Jagoi Babang memiliki tenaga kesehatan dengan jumlah
perawat sebanyak 16 orang dan bidan sebanyak 15 orang.
Berdasarkan hasil survey pendahuluan, terjadi peningkatan jumlah
pasien yang dirawat maupun yang bersalin pada tahun 2016 dibandingkan
tahun 2015. Bahkan dari pasien yang berada di wilayah di luar Kecamatan
Jagoi Babang juga berobat dan bersalin di Puskesmas Jagoi Babang,
sehingga risiko untuk penularan infeksi nosokomial sangat mungkin terjadi,
khususnya untuk penyakit menular seksual berbahaya seperti HIV/AIDS.
Selain itu, petugas kesehatan yang memberikan pelayanan medis seringkali
mengabaikan atau tidak menerapkan prinsip-prinsip pencegahan infeksi saat
melakukan pelayanan medis, seperti memasang infus tidak menggunakan
sarung tangan, menolong persalinan tanpa alat bantu diri yang lengkap,
mencuci tangan hanya sesudah melakukan tindakan saja, bahkan terkadang
ada yang tidak mencuci tangan sama sekali, instrument yang habis pakai
terkadang tidak didekontaminasi terlebih dahulu, tetapi langsung dicuci bilas,
serta menyuntik pasien tidak dengan one hand teknik.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas, maka peneliti tertarik
untuk meneliti “Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Tenaga Kesehatan
Dalam Penatalaksanaan Pencegahan Infeksi Di Puskesmas Jagoi Babang
Tahun 2017.”

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada hubungan perilaku
petugas kesehatan dengan kejadian infeksi nosokomial di Puskesmas Jagoi
Babang Tahun 2017 ?”
6

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku
petugas kesehatan dalam penatalaksanaan Pencegahan Infeksi .
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat pengetahuan petugas kesehatan tentang
pencegahan infeksi di Puskesmas Jagoi babang
b. Mengetahui perilaku petugas kesehatan dalam penatalaksanaan
pencegahan infeksi di Puskesmas Jagoi Babang.
c. Menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan perilaku petugas
kesehatan dalam penatalaksanaan pencegahan infeksi di Puskesmas
Jagoi babang.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan masukan
dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya dalam
upaya pencegahan infeksi.
2. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan masukan
dalam upaya meningkatkan dan mengoptimalkan penerapan pelayanan
kesehatan dalam penatalaksanaan pencegahan infeksi.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
kajian dalam pengajaran, khususnya yang berkaitan dengan pencegahan
infeksi.
4. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman dan
wawasan penelitian, khususnya mengenai penatalaksanaan pencegahan
infeksi.
7

E. Keaslian Penelitian
1. Muslih (2006) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi
nosokomial pada pasien pasca operasi bersih di bangsal bedah RSUD
Brebes. Jenis penelitian adalah survei, dengan rancangan penelitian Cross
sectional dan uji statistik chi-square dengan sampel 107 orang.
2. Habni (2009) Perilaku perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial di
Ruang Rindu A, Rindu B, ICU, IGD, Rawat jalan Di Rumah SakitUmum
Pusat Haji Adam Malik Medan. Desain penelitian adalah deskriptif.
Metode sampling yang digunakan adalah cluster sampling.
3. Wulandari (2010) Hubungan antara tingkat pengetahuan perawat tentang
pencegahan infeksi nosokomial dengan perilaku cuci tangan di RSUD
Dr. Moewardi Surakarta. Penelitian analitik observasional, rancangan
cross sectional dan tehnik sampel random sampling serta teknik analisis
menggunakan uji korelasi Kendall Tau.
4. Mandasari (2010) Hubungan pengetahuan perawat tentang infeksi
nosokomial dengan pencegahan infeksi nosokomial Pasien Pasca
BedahPria di Ruang Teratai RSUD Kabupaten Kebumen. Penelitian non
experimental dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian dilakukan
pada 30 responden dengan sampel Purposive Sampling.
5. Setiyawati (2006) Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku
kepatuhan perawat dalam pencegahan infeksi luka operasi di ruang
rawatinap RSUD.Dr. Moewardi Surakarta. Jenis Penelitian kuantitatif
non eksperimental dengan desain penelitian yang digunakan yaitu
corelational.