Anda di halaman 1dari 38

Penentuan Kadar Kesadahan Air dengan Metode Titrasi

EDTA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semua makhluk hidup di bumi ini butuh air. Air
merupakan pelarut yang sangat baik, sehingga di
alam umumnya berada dalam keadaan tidak
murni. Air alam mengandung berbagai jenis zat,
baik yang larut maupun yang tidak larut serta
mengandung mikroorganisme. Jika kandungan
bahan-bahan dalam air tersebut tidak
mengganggu kesehatan, air dianggap bersih dan
layak untuk diminum, air dikatakan tercemar jika
terdapat gangguan terhadap kualitas air
sehingga air tersebut tidak dapat digunakan
untuk tujuan penggunaannya. Pencemaran air
dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup,
zat, dan energi terdalam air oleh kegiatan
manusia. Keadaan itu dapat menurunkan
kualitas air sampai ke tingkat tertentu dan
membuat air tidak berfungsi lagi sesuai dengan
tujuan penggunaannya.
Air adalah pelarut yang baik, sehingga dapat
melarutkan zat-zat dari batu-batuan yang
berkontak dengannya. Bahan-bahan mineral
yang dapat terkandung dalam air karena
kontaknya dengan batu-batuan tersebut antara
lain: CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl,
Na2SO4, SiO2 dan sebagainya. Dimana air yang
banyak mengandung ion-ion kalsium dan
magnesium dikenal sebagai air sadah. Air sadah
adalah air yang di dalamnya terlarut garam-
garam kalsium dan magnesium air sadah tidak
baik untuk mencuci karena ion-ion Ca2+ dan
Mg2+ akan berikatan dengan sisa asam
karbohidrat pada sabun dan membentuk
endapan sehingga sabun tidak berbuih.
Senyawa-senyawa kalsium dan magnesium ini
relatif sukar larut dalam air, sehingga senyawa-
senyawa ini cenderung untuk memisah dari
larutan dalam bentuk endapan
atau precipitation yang kemudian melekat pada
logam (wadah) dan menjadi keras sehingga
mengakibatkan timbulnya kerak (Bintoro, 2008).
Air sadah dibagi menjadi dua yaitu air sadah
sementara dan air sadah tetap. Air sadah
sementara yaitu air yang kesadahannya
disebabkan oleh kalsium dan magnesium dari
karbohidrat dan bikarbonat, sedangkan air sadah
permanen atau tetap disebutkan oleh garam
kalsium sulfat dan klorida. Manfaat penentuan
kesadahan sementara dan kesadahan permanen
yaitu untuk mengetahui tingkat kesadahan air
karena air sadah dapat menimbulkan kerak
sehingga dapat menyumbat pipa saluran air
panas seperti radiator yang digunakan dalam
mesin-mesin pertanian.
EDTA (ethylene diamine tetraacetic) merupakan
suatu kompleks kelat yang larut ketika
ditambahkan ke dalam suatu larutan yang
mengandung kation logam tertentu seperti
Ca2+dan Mg2+, di mana akan membentuk
kompleks dengan logam-logam tersebut. Ketika
ditambahkan suatu indikator EBT ke dalam
larutan yang mengandung kompleks tersebut
maka akan menghasilkan perbahan warna pada
pH tertentu, sehingga dengan prinsip ini nilai
kesadahan air dapat dianalisis.
1.2 Perumusan Masalah
1.Bagaimana pengertian kesadahan yang
sebenarnya?
2.Bagaimana metode yang dapat digunakan untuk
mengukur nilai kesadahan?
1.3 Tujuan
1.Mengetahui pengertian dari kesadahan
2.Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk
mengukur nilai kesadahan
1.4 Manfaat
Pembuatan makalah ini diharapkan dapat
memberikan informasi tentang kesadahan serta
cara yang dapat digunakan untuk mengukur nilai
kesadahan tersebut.
BAB II
ISI
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Pengertian Kesadahan
Pada awalnya, kesadahan air didefinisikan
sebagai kemampuan air untuk mengendapkan
sabun, sehingga keaktifan/ daya bersih sabun
menjadi berkurang atau hilang sama sekali.
Sabun adalah zat aktif permukaan yang
berfungsi menurunkan tegangan permukaan air,
sehingga air sabun dapat berbusa. Air sabun
akan membentuk emulsi atau sistem koloid
dengan zat pengotor yang melekat dalam benda
yang hendak dibersihkan.
Kesadahan terutama disebabkan oleh
keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan
magnesium (Mg2+) di dalam air. Keberadaannya
di dalam air mengakibatkan sabun akan
mengendap sebagai garam kalsium dan
magnesium, sehingga tidak dapat membentuk
emulsi secara efektif. Kation-kation polivalen
lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi
karena kation polivalen umumnya berada dalam
bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat
organik yang ada, maka peran kesadahannya
dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan
kesadahan hanya diarahkan pada penentuan
kadar Ca2+ dan Mg2+. Kesadahan total
didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek)
ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air (Anonim,
2008).
Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat
kimia yang dimiliki oleh air. Penyebab air
menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion
Ca2+, Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena
adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam
bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn
dalam bentuk garam sulfat, klorida dan
bikarbonat dalam jumlah kecil.
Air yang banyak mengandung mineral kalsium
dan magnesium dikenal sebagai “air sadah”, atau
air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa
kalsium dan magnesium bereaksi dengan sabun
membentuk endapan dan mencegah terjadinya
busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa
kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam
air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk
memisah dari larutan dalam bentuk endapan
atau presipitat yang akhirnya menjadi kerak.
Pengertian kesadahan air adalah kemampuan air
mengendapkan sabun, di mana sabun ini
diendapkan oleh ion-ion yang saya sebutkan
diatas. Karena penyebab dominan/utama
kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+, khususnya
Ca2+, maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai
sifat / karakteristik air yang menggambarkan
konsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan Mg2+, yang
dinyatakan sebagai CaCO3. Kesadahan ada dua
jenis, yaitu (Giwangkara, 2008) :
1.1. Kesadahan sementara
Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya
garam-garam bikarbonat, seperti Ca(HCO3)2,
Mg(HCO3)2. Kesadahan sementara ini dapat /
mudah dieliminir dengan pemanasan
(pendidihan), sehingga terbentuk encapan
CaCO3 atau MgCO3.
Reaksinya:
Ca(HCO3)2 → dipanaskan → CO2 (gas) + H2O
(cair) + CaCO3 (endapan)
Mg(HCO3)2 → dipanaskan → CO2 (gas) +
H2O (cair) + MgCO3 (endapan)
1.2. Kesadahan tetap
Adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya
garam-garam klorida, sulfat dan karbonat, misal
CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2. Kesadahan tetap
dapat dikurangi dengan penambahan larutan
soda – kapur (terdiri dari larutan natrium
karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga
terbentuk endapan kaslium karbonat
(padatan/endapan) dan magnesium hidroksida
(padatan/endapan) dalam air.
Reaksinya:
CaCl2 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan)
+ 2NaCl (larut)
CaSO4 + Na2CO3 → CaCO3 (padatan/endapan)
+ Na2SO4 (larut)
MgCl2 + Ca(OH)2 →
Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut)
MgSO4 + Ca(OH)2 →
Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut)
Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar
dibandingkan penjumlahan dari kadar alkali
karbonat dan bikarbonat, yang kadar
kesadahannya eqivalen dengan total kadar alkali
disebut “ kesadahan karbonat; apabila kadar
kesadahan lebih dari ini disebut “kesadahan non-
karbonat”. Ketika kesadahan kadarnya sama
atau kurang dari penjumlahan dari kadar alkali
karbonat dan bikarbonat, semua kesadahan
adalah kesadahan karbonat dan kesadahan
noncarbonate tidak ada. Kesadahan mungkin
terbentang dari nol ke ratusan miligram per liter,
bergantung kepada sumber dan perlakuan
dimana air telah subjeknya.
2.1.2 EDTA
EDTA adalah kependekan dari ethylene
diamin tetra acetic. EDTA berupa senyawa
kompleks khelat dengan rumus molekul
(HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Merupakan
suatu senyawa asam amino yang secara luas
dipergunakan untuk mengikat ion logam logam
bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam
melalui empat karboksilat dan dua gugus amina.
EDTA membentuk kompleks kuat terutama
dengan Mn (II), Cu (II), Fe (III), dan Co (III)
(Anonim, 2008).
Etilendiamintetrasetat atau yang dikenal dengan
EDTA, merupakan senyawa yang mudah larut
dalam air, serta dapat diperoleh dalam keadaan
murni. Tetapi dalam penggunaannya, karena
adanya sejumlah tidak tertentu dalam air,
sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.

Gambar 2.1 Struktur EDTA


Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut
mengandung baik donor elektron dari atom
oksigen maupun donor dari atom nitrogen
sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin
sampai dengan enam secara serempak (Khopkar,
1990).
2.1.3 Metode Titrasi EDTA
Kesadahan total yaitu ion Ca2+ dan Mg2+ dapat
ditentukan melalui titrasi dengan EDTA sebagai
titran dan menggunakan indikator yang peka
terhadap semua kation tersebut. Kejadian total
tersebut dapat dianalisis secara terpisah
misalnya dengan metode AAS (Automic
Absorption Spectrophotometry) (Abert dan
Santika, 1984).
Asam Ethylenediaminetetraacetic dan garam
sodium ini (singkatan EDTA) bentuk satu
kompleks kelat yang dapat larut ketika
ditambahkan ke suatu larutan yang mengandung
kation logam tertentu. Jika sejumlah kecil
Eriochrome Hitam T atau Calmagite ditambahkan
ke suatu larutan mengandung kalsium dan ion-
ion magnesium pada satu pH dari 10,0 ± 0,1,
larutan menjadi berwarna merah muda. Jika
EDTA ditambahkan sebagai satu titran, kalsium
dan magnesium akan menjadi suatu kompleks,
dan ketika semua magnesium dan kalsium telah
manjadi kompleks, larutan akan berubah dari
berwarna merah muda menjadi berwarna biru
yang menandakan titik akhir dari titrasi. Ion
magnesium harus muncul untuk menghasilkan
suatu titik akhir dari titrasi. Untuk
mememastikankan ini, kompleks garam
magnesium netral dari EDTA ditambahkan ke
larutan buffer.
Penentuan Ca dan Mg dalam air sudah dilakukan
dengan titrasi EDTA. pH untuk titrasi adalah 10
dengan indikator Eriochrom Black T (EBT). Pada
pH lebih tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap,
sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh
Ca2+ dengan indikator murexide. Adanya
gangguan Cu bebas dari pipa-pipa saluran air
dapat di masking dengan H2S. EBT yang
dihaluskan bersama NaCl padat kadangkala juga
digunakan sebagai indikator untuk penentuan Ca
ataupun hidroksinaftol. Seharusnya Ca tidak ikut
terkopresitasi dengan Mg, oleh karena itu EDTA
direkomendasikan.
Kejelasan dari titik- akhir banyak dengan pH
peningkatan. Bagaimanapun, pH tidak dapat
ditingkat dengan tak terbatas karena akibat
bahaya dengan kalsium karbonat mengendap,
CaCO3, atau hidroksida magnesium, Mg(OH)2 ,
dan karena perubahan celup warnai di ketinggian
pH hargai. Ditetapkan pH dari 10,0 ± 0,1 adalah
satu berkompromi kepuasan. Satu pembatas dari
5 min disetel untuk jangka waktu titrasi untuk
memperkecil kecenderungan ke arah
CaCO3 pengendapan.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Peralatan yang digunakan adalah seperangkat
alat titrasi dan peralatan gelas yang biasa
digunakan dalam laboratorium kimia analitik.
3.1.2 Bahan
1.Larutan buffer:
1) Dilarutkan 16,9 g ammonium klorida
(NH4Cl) dalam 143 mL ammonium hidroksida
(NH4OH). Kemudian ditambahkan 1,25 g garam
magnesium dari EDTA (yang telah
distandardisasi) dan diencerkan ke dalam 250
mL aquades.
2) Jika garam magnesium dari EDTA tidak
ada, dilarutkan 1,179 g garam disodium dari
ethylenediaminetetraacetic aciddihydrate (reagen
analitis) dan 780 mg magnesium sulfat
(MgSO4 .7H2O) atau 644 mg magnesium chloride
(MgCl2 . 6H2O ) ke dalam 50 mL aquades.
Kemudian ditambahkan ke dalam campuran ini
16,9 g NH4Cl dan 143 mL NH4OH dengan
pengadukan dan diencerkan sampai 250 mL
dengan aquades.
Simpan larutan 1) atau 2) dalam suatu plastik
atau gelas borosilicate. Bagikan larutan buffer
menggunakan pipet. Hentikan penambahan
larutan buffer ketika 1 atau 2 mL ditambahkan
ke sampel tidak berhasil menghasilkan satu pH
dari 10,0 ± 0,1 pada titik akhir titrasi.
3) Preparasi salah satu buffer ini dengan
mencampurkan 55 mL HCl dengan aquades 400
mL dan kemudian, aduk dengan perlahan dan
tambahkan 300 mL 2-aminoethanol (bebas dari
alumunium dan logam lebih berat). Tambahkan 5
g garam magnesium dari EDTA dan encerkan
hingga 1 L dengan aquades.
1.Agen Complexing:
Adakalanya air mengandung ion yang
bertentangan memerlukan penambahan suatu
agen complexing yang sesuai untuk memberikan
satu titik akhir, yaitu perubahan warna yang
tajam pada titik-akhir. Berikut adalah agen
complexing tersebut:
1) Inhibitor I : Sesuaikan sampel asam ke pH
6 atau lebih tinggi dengan larutan buffer atau
0,1 N NaOH. Tambahkan 250 mg NaCN (bentuk
serbuk). Tambahkan buffer secukupnya untuk
menyesuaikan ke pH 10,0 ±0,1 (AWAS: NaCN
adalah sangat beracun).
2) Inhibitor II. : Larutkan 5 g sulfida sodium
nonahydrate (Na2S + 9 H2O) atau 3,7 g Na2S +
5H2O dalam 100 mL aquades.
3) MgCDTA : garam magnesium dari 1, 2-
cycclohexanediamine tetraacetic asam.
Tambahkan 250 mg per 100 mL sampel dan
larutkan sebelum menambahkan larutan buffer.
1.Indikator:
Banyak jenis dari larutan indikator telah diakui
dan mungkin dipergunakan kalau ahli analisa
mempertunjukkan bahwa mereka menghasilkan
nilai akurat. Kesulitan utama dengan larutan
indikator adalah kerusakan oleh waktu, dimana
berakibat memberikan titik akhir yang tidak
jelas. Sebagai contoh, larutan alkalin dari
Eriochrome Black T sensitif terhadap oksidasi dan
mengandung air atau larutan alkohol adalah
tidak stabil.
1) Eriochrome Black T (EBT): Garam sodium dari
asam 1-(1-hydroxy-2-naphthylazo)-5-Nitro-2-
naphthol-4-sulfonic. Larutkan 0,5 g pada 100 g
2,2’,2”-nitrilotriethanol (juga disebut
triethanolamine) atau 2- methoxymethanol (juga
disebut Ether ethylene glycol monomethyl).
Tambahkan 2 tetes per 50 mL larutan untuk di
titrasi.
2) Calmagite: Asam 1-(1-hydroxy-4-metil-2-
phenylazo)-2-naphthol-4-sulfonic. Senyawa ini
bersifat stabil di larutan air dan menghasilkan
perubahan warna yang sama seperti Eriochrome
Black T. Larutkan 0.10 g Calmagite pada 100 mL
aquades. Gunakan 1 mL per 50 mL larutan untuk
di titrasi. Sesuaikan volume kalau perlu.
3) Indikator 1 dan 2 dapat digunakan dalam
bentuk serbuk kering untuk menghindari
kelebihan indikator. Dipersiapkan campuran
kering dari indikator ini dan satu garam inert
tersedia secara komersial.
Jika warna titik akhir dari indikator ini tidak jelas
dan tajam, ini biasanya memaksudkan bahwa
satu agen complexing yang sesuai diperlukan.
Kalau inhibitor NaCN tidak menunjukan
ketajaman pada titik akhir, mungkin indikator
dalam keadaan tidak baik.
1.EDTA Titrant standar, 0,01 M :
Timbang 3.723 g disodium
ethylenediaminetetraacetate dihydrate, juga
disebut dengan etilendiamintetraasetat (EDTA),
larutkan di dalam aquades, dan diencerkan pada
1000 mL. Standarkan dengan larutan kalsium
standar (2e) sebagaimana diuraikan dalam pada
3b di bawah.
Karena titran mengekstrak kation dan
menghasilkan kesadahan dari wadah gelas
plastik, maka lebih baik simpan di polyethylene
atau gelas botol borosilicate.
1.Larutan Kalsium standar :
Ditimbang 1,000 g serbuk CaCO3 anhidrat ke
dalam satu 500 mL Erlenmeyer. tambahkan
secara perlahan 1+1 HCL hingga semua
CaCO3 telah larut. Tambahkan 200 mL aquades
dan aduk untuk beberapa menit untuk mengusir
CO2 . Tambahkan beberapa tetes dari indikator
metil merah, dan tambahkan 3N NH4OH atau
1+1 HCL hingga larutan berwarna orange,
seperti yang diperlukan. Encerkan ke dalam 1000
mL dengan aquades; 1 mL = 1.00 mg CaCO3 .
f. Natrium hidroksida, NaOH, 0. 1 N.
3.2 Prosedur Kerja
1.a. Pembuatan air limbah dan air limbah sampel :
Digunakan asam nitrat-asam sulfat atau asam
nitrat- asam perchloric encer.
1.b. Titrasi dari sample :
Pilih satu volume sampel yaitu yang kurang dari
15 mL EDTA titrant dan dititrasi selama 5 menit,
diukur dari waktu dari penambahan buffer.
Encerkan 25.0 mL sampel ke dalam 50 mL
aquades didalam kaserol porselin atau wadah
lain yang sesuai. Tambahkan 1-2 mL larutan
buffer. Biasanya 1 mL akan cukup untuk
memberikan pH dari 10.0 ke 10.1. Munculnya
satu warna titik-akhir yang tajam didalam titrasi
biasanya diartikan bahwa satu inhibitor harus
ditambahkan dalam titik ini.
Tambahkan 1-2 tetes larutan indikator atau
formulasi indikator secukupnya. Tambahkan
standar EDTA Titrant perlahan-lahan, dengan
pengadukan, hingga warna kemerah-merahan
hilang. Tambahkan beberapa tetes indikator
pada rentang 3 sampai 5. Pada titik akhir secara
normal akan muncul warna biru. Cahaya
matahari dan cahaya dari lampu fluoresen sangat
dianjurkan karena cahaya-cahaya tersebut dapat
menunjukkan titik-titik berwarna merah pada
larutan yang berwarna biru pada saat titik akhir
titrasi.
Jika sampel cukup ada tersedia dan pengganggu
tidak ada, tingkatkan keakuratan dengan
meningkatkan ukuran sampel, sebagaimana
diuraikan pada poin c di bawah.
1.c. Sampel dengan kesadahan rendah :
Untuk air dengan kesadahan rendah (kurang dari
5 mg / L), ambil suatu sampel dalam jumlah
yang besar, 100-1000 mL, untuk dititrasi dan
ditambahkan dengan sejumlah besar inhibitor,
buffer, dan indikator. Tambahkan larutan standar
EDTA titrant perlahan-lahan dari satu microburet
dan dimulai dari blanko, gunakan air yang telah
di destilasi, didestilasi ulang atau air yang telah
diionisasi dari volume yang sama dengan
sampel, dimana sejumlah serupa dari larutan
buffer, inhibitor, dan indikator telah ditambahkan
sebelumnya. Ambil beberapa volume dari EDTA
untuk blanko dari volume dari EDTA yang
digunakan untuk sampel.
3.3 Perhitungan
Kesadahan (EDTA) seperti mg CaCO 3 /L = (A x B
X 1000)/ mL sampel
Dimana:
A = mL untuk sampel dan
B = mg CaCO 3 ekivalen dengan 1.00 mL EDTA
titrant.
BAB IV
PEMBAHASAN
Prosedur umum untuk awal percobaan ini dengan
satu contoh air mengandung mineral yang berisi
kalsium dan magnesium. Untuk
mengasuransikan bahwa semua kation tinggal di
dalam solusi dan itu pekerjaan indikator dengan
baik, satu penyangga biasanya menyesuaikan pH
ke 9.9 10.1. Setelah pH disesuaikan dan
indikator ditambahkan, EDTA Titrant
ditambahkan melalui satu buret.
EDTA adalah satu agen chelating itu dapat
mendonorkan elektron (Aturan Lewis) yang
kemudian akan membentuk satu kompleks
dengan ion logam (Asam Lewis). EDTA pertama
kali akan membentuk kompleks dengan Ca2+ dan
kemudian dengan Mg2+. Seperti pada titrasi
apapun kita akan perlu satu indikator untuk
menentukan ketika semua Ca2+ dan Mg2+telah
membentuk kompleks dengan EDTA (titik akhir
titrasi). Indikator yang dipergunakan di
percobaan ini adalah Eriochrome Hitam T. Di pH
10 indikator akan berada di dalam bentuk HInd2-
(Ind mewakili indikator), dan menghasilkan
kompleks berwarna biru. Selanjutnya pada saat
indicator bereaksi dengan Mg2+ akan
memberikan satu kompleks merah.
Pertama EDTA (H2Y2-) akan kompleks dengan ion
kalsium, membentuk satu kompleks merah:
1) H2In- + Ca2+ CaIn- + 2H+
Pada titik akhir, EDTA akan kompleks dengan
kalsium dan indikator menjadi lepas, yaitu
ditandai oleh warna merah berganti warna biru:
2) EDTA + CaIn- + 2H+  H2In- +
CaEDTA
(merah) (biru)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1.Kesadahan merupakan sifat kimia yang dimiliki
air dimana, terdapat ion-ion yang menyebabkan
sabun sulit menghasilkan busa terutama ion
Ca2+ dan Mg2+. Dimana Kesadahan total
didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek)
ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air.
2.Salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mengukur nilai kesadahan pada air adalah
dengan metode titrasi EDTA.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2008, Water Hardness: EDTA Titrimetric
Method, New York USA
Albert dan Santika, Sri Sumestri, 1984, Metode
Penelitian Air, ITS Press, Surabaya
http://ginoest.wordpress.com/2010/03/23/17/
Gravimetrihttp://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-
kesehatan/pemisahan-kimia-dan-analisis/gravimetri/
http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jnpp/article/download/11
39/561
http://say2as.lecture.ub.ac.id/files/2013/03/Materi-KA-4-
gravimetri.pdf
http://adimasaji.weebly.com/uploads/1/9/9/6/19966295/l
aporan_resmi_analisis_gravimetri.pdf
Kata Kunci: analisis kuantitatif, gravimetri
senyawa, pembentukan endapan
Ditulis oleh Zulfikar pada 31-12-2010
Dalam analisis kuantitatif selalu memfokuskan
pada jumlah atau kuantitas dari sebuah sampel,
pengukuran sampel dapat dilakukan dengan
menghitung berat zat, menghitung volume atau
menghitung konsentrasi. Gravimetri merupakan
penetapan kuantitas atau jumlah sampel melalui
penghitungan berat zat. Sehingga dalam
gravimetri produk harus selalu dalam bentuk
padatan (solid).
Alat utama dalam gravimetri adalah timbangan
dengan tingkat ketelitian yang baik. Umumnya
reaksi kimia tidak dalam ukuran besar seperti
kilogram, namun dalam satuan yang lebih kecil
seperti gram dan mili gram. Timbangan yang
dipergunakan memiliki ketelitian yang tinggi atau
kepekaan yang tinggi dan disebut dengan neraca
analitik atau analytical balance.
Dalam melakukan analisis dengan teknik
gravimetric, kemudahan atau kesukaran dari
suatu zat untuk membentuk endapan dapat
diketahui dengan melihat kelarutannya atau
melihat harga dari hasil kali kelarutan yaitu Ksp.
Jika harga Ksp suatu zat kecil maka kita dapat
mengetahui bahwa zat tersebut sangat mudah
membentuk endapan. Ingat definisi kelarutan;
kelarutan suatu zat dalam suatu pelarut adalah
jumlah zat tersebut sebanyak-banyaknya yang
dapat larut dalam pelarut pada suhu tertentu
sehingga larutan tepat jenuh. Untuk hal tersebut
perhatikan harga konstanta hasil kali kelarutan
atau Ksp pada Table 15.1.

Tabel 15.1. Harga Ksp dari beberapa senyawa


Dalam reaksi pembentukan endapan, dimana
endapan merupakan sampel yang akan kita
analisis, maka dengan cermat kita dapat
memisahkan endapan dari dari zat-zat lain yang
juga turut mengendap. Proses ini cukup sulit
dilakukan, namun cara yang paling umum adalah
mengoksidasi beberapa zat yang mungkin
mengganggu sebelum reaksi pengendapan
dilakukan.
Pencucian endapan merupakan tahap
selanjutnya, proses pencucian umumnya
dilakukan dengan menyaring endapan, yang
dilanjutkan dengan membilasnya dengan air.
Tahap akhir dari proses ini adalah memurnikan
endapan, dengan cara menguapkan zat pelarut
atau air yang masih ada didalam sampel,
pemanasan atau mengeringkan dalam oven
lazim dilakukan. Akhirnya penimbangan sampel
dapat dilakukan dan hasil penimbangan adalah
kuantitas sampel yang dianalisis.
http://sitzkrieg-awan.blogspot.com/2009/05/kimia-makalah-
gravimetri.html
A. LATAR BELAKANG

Analisis Gravimetri merupakan salah materi matakuliah


kimia analitik yang sangat penting dan juga menjadi
bassic pada praktikum Kimia Analitik maupun cabang
ilmu kimia yang lain, dan juga merupakan materi wajib
dari kurikulum yang telah dtetapkan oleh Jurusan
Kimia Universitas Negeri Papua.

Melihat kondisi perpustakaan di lingkungan Unipa, baik


Perpustakaan MIPA maupun Perpustakaan Umum Unipa,
sangat sedikit sekali referensi tentang Analisis
Gravimetri. Oleh karena itu, kiranya perlu ada suatu
makalah yang bisa membantu mahasiswa dalam
memahami materi tersebut.

B. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai


berikut :
Untuk melaksanakan tugas Kimia Analitik
Menjadi Pegangan bagi Mahasiswa Yang ingin
memahami konsep Analisis Gravimetri
Menjadi referensi tambahan yang menunjang
keberhasilan pembelajaran matakuliah kimia Analitik.

C. BATASAN MASALAH
Dalam Makalah ini kami memberi batasan pembahasan
yaitu hanya pada metode-metode yang digunakan pada
Analisis Gravimetri itu sendiri, yang terbagi atas
metode pengendapan, metode penguapan, metode
Elektrolisis.
Dalam metode pengendapan, kami mencoba
menjelaskan beberapa pelarut-pelarut yang biasanya
digunakan, dan juga kami paparkan bagaimana proses
pengendapan ion logam sebagai sulfida, serta
pemisahan logam sebagai hidroksida tertentu.
Untuk metode Penguapan cakupan materi yang kami
uraikan meliputi : cara ataupun penggunaaan dari
metode penguapan itu sendiri.
Dan terakhir mengenai metode Eloktrolisis yang juga
dijelaskan Hukum Faraday, hukum Ohm, tegangan
Peruraian, dan beberapa reaksi elektroda.
BAB II
PEMBAHASAN

A. ANALISIS GRAVIMETRI
Analisis Gravimetric adalah suatu bentuk analisis
kuantitatif yang berupa penambangan, yaitu suatu
proses pemisahan dan penimbangan suatu komponen
dalam suatu zat dengan jumlah tertentu dan dalam
keadaan sempurna mungkin.
Secara mendasar gravimetri digolongkan menjadi
empat bagian antara lain: gravimetri fisik,
thermogravimetri, analisis pengendapan gravimetri,
dan elektrodeposisi. Beberapa hal tentang gravimetri:
1.Waktu yang diperlukan untuk analisa gravimetri,
menguntungkan karena tidak memerlukan kalibrasi
atau standarisasi. Waktu yang diperlukan dibedakan
menjadi 2 macam yaitu: waktu total dan waktu kerja.
2.Kepekaan analisa gravimetri, lebih ditentukan oleh
kesulitan untuk memisahkan endapan yang hanya
sedikit dari larutan yang cukup besar volumenya.
3.Ketepatan analisa gravimetri, untuk bahan tunggal
dengan kadar lebih dari 100 % jarang dapat ditandingi
perolehannya.
4.Kekhususan cara gravimetri, pereaksi gravimetri yang
khas (spesifik) bahkan hampir semua selektif dalam arti
mengendapkan sekelompok ion.
Banyaknya komponen dari suatu analisis biasanya
ditentukan melalui hubungan massa atom, massa
molekul dan berat senyawa. Contoh : penentuan ion
besi dalam suatu cuplikan. Pemisahan ion besi
dilakukan dengan mereaksikan cuplikan de NH4OH
sehingga terbentuk endapan Fe(OH)3 apabila berat
cuplikan adalah A gram, berat senyawa Fe(OH) 3
adalah a gram, maka persen Fe dalam Cuplikan adalah

Terkadang senyawa yang ditimbang berbeda dengan


senyawa yang dipisahkan dalam hal rumusnya. Misal
rumus kimia dari senyawa yang dipisahkan MgNH4PO4
setelah dipijarkan dan didinginkan ditimbang sebagai
senyawa Mg2P2O7 kita misalkan berat cuplikan = B
gram. Berat senyawa yang ditimbang = b. Maka akan
diperoleh rumus :

Catatan : angka 0,5234 dan 0,2162 adalah faktor kimia


atau faktor Gravimetri.
Metode dalam Analisis Gravimetri adalah :
Metode Pengendapan
Metode Penguapan
Metode Elektrolisis
A.1. Metode Pengendapan
Pembentukan endapan dibedakan menjadi 2 macam
yaitu:
1.Endapan dibentuk dengan reaksi antar analit dengan
suatu pereaksi, biasanya berupa senyawa baik kation
maupun anion. Pengendapan dapat berupa anorganik
maupun organik
2.Endapan dibentuk cara elektrokimia (analit
dielektrolisa), sehingga terjadi logam sebagai endapan,
dengan sendiri kation diendapkan.
Keadaan optimum untuk pengendapan
Untuk memperoleh keadaan optimum harus mengikuti
aturan sbb:
a.Pengendapan harus dilakukan pada larutan encer,
yang bertujuan untuk memperkecil kesalahan akibat
koresipitasi.
b.Peraksi dicampur perlahan-lahan dan teratur dengan
pengadukan tetap.
c.Pengendapan dilakukan pada larutan panas bila
endapan yang terbentuk stabil pada temperatur tinggi.
d.Endapan kristal biasanya dibentuk dalam waktu yang
lama dengan menggunakan pemanas uap untuk
menghindari adanya koprespitasi.
e.Endapan harus dicuci dengan larutan encer.
f.Untuk menghindari postpresipitasi atau kopresipitasi
sebaiknya dilakukan pengendapan ulang
Syarat- syarat endapan gravitasi
1.Kesempurnaan pengendapan: Pada pembuatan
endapan harus diusahakan kesempurnaan pengendapan
tersebut dimana kelarutan endapan dibuat sekecil
mungkin.
2.Kemurnian endapan (kopresipitasi): Endapan murni
adalah endapan yang bersih, tidak mengandung,
molekul-molekul lain (zat-zat lain biasanya pengotor
atau kontaminan)
3.Endapan yang kasar: Yaitu endapan yang butir-
butirnya tidak keecil, halus melainkan
4.Endapan yang bulky: Endapan dengan volume atau
berat besar, tetapi berasal dari analit yang hanya
sedikit.
5.Endapan yang spesifik: Pereaksi yang digunakan
hanya dapat mengendapkan komponen yang dianalisa.

Macam-macam endapan
1. Endapan koloid
AgNO3(aq) + NaCl(aq) AgCl(s) + NaNO3(AQ)
NaCl akan mengendapkan reagent:
AgCl pembentukan endapan koloid (amorf)
2. Endapan kristal: Endapan tipe ini lebih mudah
dikerjakan karen mudah disaring dan dibersihkan.
4. Endapan yang dibawa oleh pengotor (Co
precipitation). Sumber-sumber Co prepicitation:1)
absorbi permukaan, 2) pembentukan campuran kistal,
30 mekanika.
5. Napan homogen (homogenous precipitatoin):
Endapan homogen adalah cara pembentukan endapan
dengan menambahkan bahan pengandap tidak dalam
bentuk jadi melainkan sebagai suatu senyawa yang
dapat menghasilkan pengendap tersebut. Contoh:
homogenos prepicitation tidak digunakan etil oksalat
(C2H5O)C2O yang tidak dapat mengion menjadi C2O42-
tetapi harus terhidrolisa sbb:

(C2H5O)2C2O4 + 2H2O 2C2H5OH + H2C2O4


Pengotoran endapan
Macam-macam pengotor yang dibedakan menjadi dua
yaitu:
1.Pengotoran karena pengendapan sesungguhnya
adalah:
a.Pengendapan bersama (simultaneous precipitation).
Kotoran mengendap bersama waktu dengan endapan
analit. Contoh: Al(OH) sebagai pengotor Fe(OH)3.
b.Pengendapan susulan (post precipitation).
2.Pengotoran karena terbawa (Co-precipitation).
Pengotoran ini tidak mengendap melainkan hanya
terbawa ole endapan analat.
a.Kotoran isomorf dan dapat campur dengan inang ini
dapat terjadi bila bahan pengotoran dan endapan
mempunyai kesamaan tipe rumus molekul maupun
bentuk molekul.
b.Kotoran larut dalam inang dimana zat sendiri larut
dalam zat padat lalu ikut terbawa sebagai kotoran.
Contohnya Ba(NO3)2 dan KNO3 yang larut dalam BaSO4
pada kedua jenis pengotoran diatas kotoran tersebar
diseluruh kristal.
c.Kotoran teradsorpsi pada permukaan endapan.
Terjadi karena gaya tarik menarik antara ion yang
teradsorpsi dan ion-ion lawannya pada permukaan
endapan
d.Kotoran teroklusi oleh inang (terkurung). Dapat
terjadi apabila kristal tumbuh terlalu cepat dari butirn
kecil menjadi besa dalam hal ini ion tidak sempat
dilepaskan, tetapi sudah tertutup dalam kristal.
Usaha mengurangi pengotor
1.Sebelum membentuk endapan dengan jalan
menyingkirkan bahan-bahan yang akan mengotori
2.Selama membentuk endapan. Endapan hanya
terbentuk bila larutan yang bersangkutan lewat jenuh
terhadap endapan tersebut yaitu larutan mengandung
zat itu melebihi konsentrasi larutan jenuh, dengan
tahap-tahap sebagai berikut:
Tahap I: Pada pengembangan ialah nukleai dalam hal
ini ion-ion dari molekul yang akan diendapkan mulai
terbentuk inti yaitu pasangan beberapa ion menjadi
butir-butir miniskus (sangat kecil).
Tahap II: Pertumbuhan kristal yaitu inti tersebut
menarik molekul lain sehingg dari kumpulan hanya
beberapa molekul tumbuh menjadi butiran lebih besar

Tahap tahap dari Metode Pengendapan


1.Tambahkan pereaksi pada cuplikan
2. Pisahkan komponen yang akan dianalisis dengan
pengendapan
3. Ditapis
4. Cuci dengan Elektrolit yang mengandung ion sejenis
untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada permukaan
dan juga mencegah peptisasi.
5. Untuk mengetahui kadar kotoran setelah pencucian
bisa dicari dengan rumus

keterangan: Cn = konsentrasi kotoran setelah dicuci


sebanyak n kali
Co = konsentrasi kotoran sebelum dicuci
U = Volume sisa stelah endapan dikeringkan
V = Volume Cairan yang digunakan setiap pencucian
6. Panaskan

Alat yang biasanya digunakan sebagi penapis dalam


analisis gravimetri adalah : kertas Saring, Gelas Sinter,
krus gooch. Alat pemanasnya adalah Oven listrik dan
tungku. Selain alat-alat diatas ada pula alat yang
disebut Eksikator dengan fungsi untuk menyimpan
suatu bahan agar memiliki kadar air yang tetap.
Pereaksi yang digunakan dibagi dua: A.1.1. Pereaksi
Organik
A.1.2 Pereaksi Anorganik
A.1.1. Pereaksi Organik
Prinsipnya dengan ion logam tertentu dapat
membentuk senyawa komplek organik dengan massa
molekul relatif tinggi, sehingga dengan ion logam yang
sedikit didapat endapan logam yang banyak. Adapun
beberapa pereaksi organik yang biasa digunakan yaitu :
dimetilglioksin, α-benzeinoksin, Kupferron, 8-
hidroksikuinolin, Asam antranilat,
natriumdietilditiokarbonat.
A.1.2. Pereaksi Anorganik
Senyawa Anorganik yang digunakan dalam proses
pengendapan adalah :
Asam Klorida à untuk pengendapan ion logam golongan
I
Hidrogen Sulfida (dalam HCl encer) à untuk
mengendapkan ion logam golongan II
H2S dalam keadaan Buffer Amoniak à untuk
pengendapan ion logam golongan III B
Buffer Amoniak à untuk pengendapan ion logam
golongan III A
Garam Amonium Karbonat (NH4) 2CO3 (dalam Buffer
Amoniak) à untuk pengendapan ion logam golongan IV
Natrium Fosfat ( dalam buffer Amoniak) à untuk
mengendapkan Ion Mg+ dari Magnesium Amonium
Fossfat MgNH4PO4.6H2O
Garam Uranil Magnesium Asetat à mengendapkan ion
Na+ endapan kuning dari garam NaMg(UO2)3(C2H3O2)9
Natrium kokaanitritekbaltat (III) à ntuk mengendapkan
Ion K+ dari K2NaCe(NO2)6.
A.1.3 Pemisahan Ion Logam Dalam Proses
Pengendapan.
Pemisahan ion logam pada pengendapan bertingkat
yang lebih penting yaitu :
a.pengendapan sebagai garam sulfida
b.pengendapan sebagai ion Hidroksida pada pH
tertentu
a. Pengendapan Sebagai Sulfida
Misalkan larutan jenuh H2S (Ka1 = 9,1 x 10-8 ; Ka2 =
1,2 x 10-15 pada suhu 250C dan tekanan 1 atm
mempunyai konsentrasi 0,1 M. apabila [H+] = [HS-] dan
konsentrasi H2S = 0,1 M maka:
[H+] = [HS-] =
[S2-] = 1,2 x 10-15 M = Ka2
Menurut proses ionisasi
H2S 2 H+ + S2-

Ternyata besarnya konsentrasi sulfida bergantung pada


besarnya ion hidrogen dalam larutan, sehingga
konsentrasi sulfida bisa diatur dengan merubah
konsentrasi hidrogen.
Pengendapan ion logam [Mn+] sebagai garam sulfidanya
[M2Sn] apabila hasil kali kelarutan ion-ion logamnya
dengan ion sulfidanya lebih besar dari harga
Ksp garam sulfidanya. Dan besarnya ion logam yang
tertinggal dalam larutan bisa dihitung : [Mn+]=
b. Pengendapan Ion Logam sebagai Hidroksida pada pH
tertentu
Tergantung pada Ksp ion Hidroksida dan konsentrasi ion
OH- dari pereaksinya dan juga tergantung dari pH
larutannya. Besar pH suatu larutan bisa diatur dengan
menambahkan garamnya.
Campuran buffer amoniak dapat digunakan untuk
menahan pengendapan Mg2+ sebagai Mg(OH)2 yang
harga Ksp-nya 1,5x10-11
Misalnya : pengendapan ion Mg2+ sebagai Mg(OH)2 dari
larutan yang mengandung Mg2+ dengan konsentrasi 0,1
M. maka besarnya OH- yang diperlukan adalah :
[OH-] <
Jadi besarnya pOH harus dibawah –log 1,225x10-5
Jika konsentrasi tersebut berasal dari NH4OH maka
garam NH4Cl yang dibutuhkan adalah

A.2. Metode Penguapan


Digunakan untuk menetapkan komponen-komponen
dari suatu senyawa yang relatif mudah menguap. Yaitu
dengan cara:
Pemanasan dalam udara atau gas tertentu
Penambahan pereaksi sehingga mudah menguap
Penambahan pereaksi sehingga tidak mudah menguap
Zat-zat yang relatif mudah menguap bisa diabsorpsi
dengan suatu absorben yang sesuai dan telah diketahui
berat tetapnya.
Untuk penentuan kadar air suatu kristal dalam senyawa
hidrat, dapat dilakukan dengan memanaskan senyawa
dimaksud pada suhu 110O- 130O C. Berkurangnya berat
sebelum pemanasan menjadi berat sesudah pemanasan
merupakan berat air kristalnya. Asal senyawa tidak
terurai oleh pemanasan. Atau bisa juga menggunakan
zat pengering seperti : CaCl2, Mg(ClO4)2.
Penentuan CO2 dalam senyawa karbonat dapat
dilakukan dengan penambahan HCl berlebih, kemudian
dipanaskan.gas CO2 yang sudah terjadi dialirkan dalam
larutan alkali yaitu KOH (25-30%) atau larutan CaOH2
yang telah diketahui beratnya.
Penentuan NH3 dalam garam Amonium, yaitu garam
ditambahkan larutan alkali kuat berlebih dan
dipanaskan. Gas NH3 yang terjadi dialirkan dalam
larutan standar asam berlebih kemudian kelebihannya
dititrir dengan larutan standar basa.
Penentuan Nitrogen dalam protein, mula-mula senyawa
didestruksi dengan H2SO4 pekat. Hasilnya ditambahkan
basa berlebih dan dipanaskan. Selanjutnya kelebihan
asam dititrir dengan larutan standar basa.
Penentuan unsur Natrium atau Kalium, yaitu larutan itu
diuapkan dengan H2SO4 sampai kering. Kemudian
sisanya berupa garam sulfat ditimbang. Dan segitulah
berat unsur yang dicari. Unsur-unsur lain yang
mengganggu seperti Si, dapat ditentukan dengan
memanaskan cuplikan bersama H2SO4 dan HF dalam
krus platina. Dimana Si berubah menjadi SiF4 yang
menguap, sesuai persamaan
SiO2 + 6HF à H2SiF6 + 2H2O
H2SiF6 à SiF4 + 2HF
.
A.3. Metode Elektrolisis
Prinsipnya senyawa ion yang akan diendapkan
dipisahkan secara elektrolisis pada elektrode-elektrode
yang sesuai. Sehingga jika elektrolisisnya cermat dapat
terhindar dari peristiwa kopresipitasi dan post-
presipitasi.
A.3.1 Hukum Dasar dalam Elektrolisis
Hukum dasar yang digunakan dalam metode ini adalah
: Hukum Faraday dan Hukum Ohm.

Hukum Faraday I
Menyatakan hubungan antara banyaknya zat yang
terendap atau terbebas pada elektroda dengan
banyaknya listrik yang diperlukan pada proses tersebut.
W = e x Q/F W = Jumlah zat terendap/terbebaskan (gr)
Q = Jumlah listrik yang dibutuhkan (Colloumb)
e = berat ekivalen Elektrokimia
Berat Ekivalen elektrkimia adalah bilangan yang
menyatakan banyaknya zat yang terendap atau oleh
listrik sebanyak 1 colloumb.
Contoh : arus 0,2 colloumb dialirkan pada dua keping
tembaga (Cu) yang telah ditentukan massa tetapnya.
Dan dicelupkan dalam garam Kuprisulfat (CuSO4)
selama t detik. Kemudian dicuci dan dikeringkan serta
ditimbang, ternyata beratnya lebih berat dari pada
sebelum dielektrolisis. Karena adanya logam Cu yang
terendapkan pada elektroda. Dimana banyaknya logam
Cu yang terendapkan bertambah setiap penambahan
arus maupun waktu. Adapun listrik yang dibutuhkan
adalah : Q = i x t dengan i = arus, t = waktu dan Q =
listrik yang dibutuhkan.
Hukum Faraday II
Menyatakan Hubungan antara banyaknya zat terendap
atau terbebaskan pada elektrolisis bertahap dalam seri
larutan.
Bunyi hukumnya : ”banyaknya zat terendap atau
terpisahkan dari masing-masing elektroda yang
disebabkan oleh listrik yang sama banyaknya dan
mengalir dalam seri larutan adalah sebanding dengan
berat ekivalen kimianya”
Misalnya : arus 1 amper dialirkan dalam suatu seri
larutan : kupri sulfat (CuSO4) dan perak nitrat (AgNO3)
dalam waktu t, banyaknya logam Cu dan Ag yang
terendapkan pada masing-masing elektroda =
Hukum Ohm
Menyatakan hubungan antar tiga besaran listrik yaitu :
tegangan (E), arus (I) dan tahanan (R) yang memenuhi
persamaan

A.3.2 Tegangan Peruraian


Misalnya tegangan 0,5 Volt digunakan pada 2 buah
elektroda platina halus yang masing-masing dicelupkan
dalam larutan H2SO4 1M, maka amperemeter akan
menunjukan adanya arus yang mengalir pada larutan.
Jika tegangan diperbesar maka aruspun bertambah.
Sehingga pada tegangan tertentu arus akan naik secara
cepat. Pada saat ini timbul gelembung-gelembung pada
elektroda.
Tegangan peruraian adalah besarnya tegangan luar
minimum yang harus diberikan agar terjadi proses
elektrolisis yang kontinyu.
Jika Arus diputus, tegangan pada voltmeter tidak
berubah, tetapi semakin lama arus makin lemah dan
pada akhirnya nol. Pada saat itu sel E berfungsi sebagai
sumber arus dan tegangannya disebut tegangan
Polarisasi. Dilihat dari besarnya tegangan peruraian
larutan asam dan basa dapat disimpulkan bahwa pada
proses elektrolisis larutan asam dan basa relatif sama,
yaitu terjadinya proses pembebasan gas.
A.3.3. Reaksi Elektroda
Elektroda Pt dan C
Pada katoda terjadi proses Reduksi dan pada Anoda
terjadi proses Oksidasi.
a.Proses Reduksi pada Katoda
Jika Larutan mengandung
a.1. Ion logam alkali, alkali tanah, Al3+,Mn2+, didalam
larutan ion-ion tersebut tidak dapat tereduksi.
Sehingga palrtlah yang akan mengalami reduksi.
2 H2O + 2 e- à 2 OH- + H2
a.2. Asam, ion H+ dari asam tersebut akan tereduksi
menjadi gas H2
2 H+ + 2 e- à H2
a.3. ion logam lain selain poin a.1, dimana ion tersebut
akan tereduksi menjadi logam bebasnya.
Zn++ + 2e- + à Zn
Ag+ + e- à Ag

b.Proses Oksidasi pada Anoda


Apabila larutan mengandung :
b.1. ion halida, akan tereduksi menjadi halogen
2 Hal- à Hal2 + 2 e-
b.2. ion OH- dari suatu basa, teroksidasi menjadi
okisigen.
4 OH- à 2 H2O + O2 + 4 e-
b.3. Anion lain selain halogen dan OH-, ion tersebut
tidak teroksidasi sehingga pelarutnya yang teroksidasi.
Elektroda selain Pt dan C
Logam lainnya yang biasa digunakan sebagai elektroda
adalah : Cu, Zn, Fe, Au dan lain-lain. Perbedaan
dengan elektroda Pt dan Cu yaitu hanya pada reaksi
Anodanya sedang katodanya relatif sama. Dimana
anodanya teroksidasi menjadi ionnya. Contoh:
elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Zn.
Reaksi anodanya : Zn à Zn2+ + 2 e-
Contoh menentukan tegangan peruraian
K dalam larutan molar ZnBr2, dicelupkan elektroda Pt
yang halus.dan diberikan beda potensial sehingga
terjadi proses elektrolisis. Dimana pada katoda
berlangsung proses : Zn2+ + 2 e- à Zn dan pada anoda :
2 Br- Br2 + 2 e-
Potensial pada katoda (25OC) adalah

Potensial pada Anoda (25OC) adalah

A.3.4. Tegangan Kelebihan


Pada kenyataannya besarnya tegangan peruraian
tergantung pada jenis elektroda yang digunakan dan
biasanya ebih tinggi dari yang dihitung dengan rumus
diatas. Perbedaan besarnya tegangan tersebut yang
disebut tegangan kelebihan. Dengan adanya tegngan
tersebut maka tegangan peruraian menjadi :

dengan Eekat = tegangan kelebihan pada katoda, dan


Eeand = tegangan kelebihan pada anoda.
Besarnya tegangan kelebihan baik pada katoda mapun
anoda merupakan fungsi dari :
Jenis dan sifat fisik logam dari elektroda
Sifat fisik zat yang terendap atau terbebas, jika logam
tegangan kelebihannya kecil dan jika gas relatif lebih
besar
Kerapatan arus yang digunakan
Perubahan konsentrasi larutan
A.3.5. Pengendapan Sempurna
Perubahan tegangan pada pada katoda selama proses
elektrolisis, terutama pada proses pengendapan,
besarnya potensial katoda dinyatakan dengan
persamaan nernst
.
Besarnya potensial ini tidak bergantung pada besarnya
konsentrasi ion logamnya tetapi tergantung dari biloks
ion logam dalam larutan. Jika ion logam selama proses
telah tereduksi 10-4 Kali proses semula, maka untuk
ion logam:
Univalent potensial katodanya akan berubah sebesar 4
x 0,591 Volt.
Bivalen perubahannya adalah
Trivalent perubahannya adalah
Begitu seterusnya penyebutnya bertambah satu.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dengan memperhatikan materi-materi yang telah
dipaparkan bisa diambil beberapa kesimpulan :
Analisis gravimetric merupakan salah satu bentuk
analisis kuantitatif yang dilakukan dengan proses
penimbangan.
Dalam analisis Gravimetri terdapat tiga metode yang
digunakan yaitu : metode pengendapan, metode
penguapan, dan metode elektrolisis
Untuk metode pengandapan prinsip kerjanya yaitu
senyawa yang akan dianalisis diendapkan dengan
menambahkan pereaksi yang sesuai dan selanjutnya
dipisahkan endapannya dengan cara ditapis.
Untuk metode Penguapan prinsipnya yaitu zat yang
mudah menguap diadsorpsi dengan adsorben yang
sesuai, dimana sebelumnya bisa ditambahkan pereaksi
untuk membuat suatu zat menjadi lebih mudah
menguap atau lebih sulit menguap.
Untuk metode Elektrolisis prinsipnya senyawa ion yang
akan diendapkan dipisahkan secara elektrolisis pada
elektrode-elektrode yang sesuai. Sehingga jika
elektrolisisnya cermat dapat terhindar dari peristiwa
kopresipitasi dan post-presipitasi.