Anda di halaman 1dari 15

TUGAS AKHIR M 5

 Pengertian konsep politik menurut pemahaman konsep akademik!

Pengertian Politik adalah suatu proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam
masyarakat dimana wujudnya adalah proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Definisi politik juga dapat diartikan sebagai seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan, baik
secara konstitusional maupun non-konstitusional.

 Pengertian dan dimensi-dimensi kekuasaan (Politik)!

6 bentuk dimensi, yaitu potensial dan aktual, positif dan negatif, konsensus dan paksaan,
jabatan dan pribadi, implisit dan eksplisit, langsung dan tidak langsung.

Potensial dan Aktual

Seorang dipandang mempunyai kekuasaan potensial apabila dia memiliki sumber-sumber


kekuasaan, seperti kekayaan, tanah, senjata, pengetahuan dan informasi, popularitas, status
sosial yang tinggi, masa yang terorganisasi dan jabatan. sebaliknya, seseorang dipandang
memiliki kekuasaan aktual apabila dia telah menggunakan sumber-sumber yang dimilikinya
ke dalam kegiatan politik secara efektif (mencapai tujuannya). Dengan ini seorang jutawan
sudah dipastikan memiliki kekuasaan yang potensial, tetapi dia hanya dapat disebut sebagai
memiliki kekuasaan aktual apabila dia telah menggunakan kekayaannya untuk
mempengaruhi para pembuat dan pelaksana keputusan politik secara efektif.

Konsensus dan Paksaan

Dalam menganalisis hubungan kekuasaan, seorang harus membedakan kekuasaan yang


berdasarkan paksaan dengan kekuasaan yang berdasarkan konsensus. Penganalisis politik
yang menekankan aspek paksaan dari kekuasaan dari kekuasaan akan cenderung memandang
politik sebagai perjuangan, pertentangan, dominasi dan konflik. Mereka melihat tujuan yang
ingin dicapai oleh elite politik tidak menyangkut masyarakat secara keseluruhan, melainkan
menyangkut kepentingan kelompok kecil masyarakat. Sebaliknya, penganalisis politik yang
menekankan pada aspek konsensus dari kekuasaan akan cenderung melihat elit politik
sebagai orang yang tengah berusaha menggunakan kekuasaan untuk mencapai tujuan
masyarakat secara keseluruhan.

Perbedaan antara dimensi kekuasaan paksaan dan kekuasaan konsensus ini menyangkut dua
hal, yaitu alasan penataan dan sarana kekuasaan yang digunakan. Pada umumnya, alasan
untuk menaati kekuasaan paksaan berupa rasa takut. Dalam hal ini, takut akan fisik dapat
berupa dipukul, ditangkap, dipenjarakan dan ancaman bunuh. selain itu, rasa takut nonfisik,
seperti kehilangan pekerjaan, dikucilkan dan diintimidasi. Sementara itu, alasan untuk
menaati kekuasaan konsensus pada umumnya berupa persetujuan secara sadar dari pihak
yang dipengaruhi.

Positif dan Negatif


Tujuan umum pemegang kekuasaan adalah untuk mendapatkan ketaatan atau penyesuaian
diri dari pihak yang dipengaruhi. Tujuan umum ini dikelompokkan menjadi dua aspek yang
berbeda, yaitu tujuan positif dan negatif. Yang dimaksud dengan kekuasaan positif adalah
penggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk mencapai tujuan yang dipandang penting dan
diharuskan, sedangkan kekuasaan negatif ialah penggunaan sumber-sumber kekuasaan untuk
mencegah pihak lain dalam mencapai tujuannya yang tidak hanya dipandang tidak perlu,
tetapi juga merugikan pihaknya.

Jabatan dan Pribadi

Dalam masyarakat yang sudah maju dan mapan, kekuasaan terkandung erat dalam jabatan-
jabatan, seperti presiden, perdana menteri, menteri-menteri dan senator. Contoh, tanpa
memandang kualitas pribadinya, seorang presiden di Amerika Serikat akan memiliki
kekuasaan formal yang besar. Namun, penggunaan kekuasaan yang terkandung dalam jabatan
itu secara efektif bergantung sekali pada kualitas pribadi yang dimiliki dan ditampilkan oleh
setiap pribadi yang memegang jabatan.

Oleh karena itu, pada masyarakat maju dan mapan baik jabatan maupun kualitas pribadi yang
menduduki jabatan merupakan sumber kekuasaan. Sebaliknya, pada masyarakat yang
sederhana dalam struktur kekuasaan kualitas pribadi lebih menonjol dari pada kekuasaan
yang terkandung dalam jabatan.

Implisit dan Eksplisit

Kekuasaan implisit adalah pengaruh yang tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan.
Sedangkan, kekuasaan eksplisit adalah pengaruh yang secara jelas terlihat dan dapat
dirasakan.

Langsung dan tidak langsung

Kekuasaan langsung ialah penggunaan sumber-sumber untuk mempengaruhi pembuat dan


pelaksana keputusan politik dengan melakukan hubungan secara langsung, tanpa melalui
perantara. Sedangkan kekuasaan tidak langsung ialah penggunaan sumber-sumber untuk
mempengaruhi pembuat dan pelaksana keputusan politik melalui perantaraan pihak lain yang
diperkirakan mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap pembuat dan pelaksana
keputusan politik.

Struktur Politik (suprastruktur politik dan infrastruktur politik)

Suprastruktur politik
Suprastruktur politik ialah lembaga politik yang dibuat oleh negara guna melakukan tugas
(kekuasaan) negara. Suprastruktur politik yang dibentuk atas ajaran Trias Politika dibagi
menjadi tiga, yait

1. kekuasaan eksekutif ialah sebuah kekuasaan guna melaksanakan peraturan


perundang-undangan,
2. kekuasaan yudikatif ialah sebuah kekuasaan guna mempertahankan peraturan
perundang-undangan, da
3. kekuasaan legislatif ialah sebuah kekuasaan guna menyusun dan membentuk
peraturan perundang-undangan.
Suprastruktur politik (elit pemerintah) merupakan mesin politik resmi di suatu negara
sebagai penggerak politik formal. Kehidupan politik pemerintah bersifat kompleks karena
akan bersinggungan dengan lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi, dan
wewenang/kekuasaan antara lembaga yang satu dengan yang lainnya. Suasana ini pada
umumnya dapat diketahui didalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar dan peraturan
perundang-undangan suatu negara.

4.
Dalam perkembangan ketatanegaraan modern, pada umunya elit politik pemerintah dibagi
dalam kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang), legislative (pembuat undang-
undang), dan yudikatif (yang mengadili pelanggaran undang-undang), dengan sistem
pembagian kekuasaaan atau pemisahan kekuasaan.

Untuk terciptanya dan mantapnya kondisi politik negara, suprastruktur politik harus
memperoleh dukungan dari infrastruktur politik yang mantap pula. Rakyat, baik secara
berkelompok berupa partai politik atau organisasi kemasyarakatan, maupun secara
individual dapat ikut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya.

Suprastruktur politik di negara Indonesia sejak bergulirnya gerakan reformasi tahun 1998
sampai dengan tahun 2006 telah membawa perubahan besar di dalam sistem politik dan
ketatanegaraan Republik Indonesia. Era reformasi disebut juga sebagai “Era kebangkitan
Demokrasi”.

Infrastruktur politik
Infrastruktur politik adalah suatu lembaga politik yang ada di masyarakat. Infrastruktur
politik meliputi partai-partai politik, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), lembaga-
lembaga swadaya masyarakat (LSM),kelompok-kelompok penekan, media massa, tokoh-
tokoh politik, dan kelompok kepentingan. Infrastruktur politik memiliki peran (fungsi)
sebagai berikut.
1. Komunikasi politik, yaitu berfungsi untuk menghubungkan pikiran politik yang hidup
dalam masyarakat, baik asosiasi, institusi, atau pikiran intragolongan maupun sektor
kehidupan politik masyarakat dengan sektor pemerintahan.
2. Pendidikan politik, yaitu guna meningkatkan pengetahuan politik masyarakat agar
mereka juga dapat ikut berperan serta dengan maksimal dalam sistem politik. Hal ini
sesuai dengan paham demokrasi bahwa masyarakat (warga negara) harus mampu
untuk menjalankan partisipasi politik.
3. Melakukan seleksi kepemimpin, yaitu menyelenggarakan pemilihan pemimpin atau
calon pemimpin bagi masyarakat.
4. Agregasi kepentingan, merupakan penyertaan segala aspirasi dan pendapat
masyarakat kepada pemegang kekuasaan yang berwenang supaya tuntutan/ dukungan
menjadi perhatian dan menjadi bagian dari suatu keputusan politik.
5. Mempertemukan kepentingan ragam serta nyata-nyata hidup di dalam masyarakat.
Hal ini disebabkan oleh adanya pendapat, kepentingan, dan peran serta yang berbeda
dalam lingkungan dan kondisi pada masyarakat untuk dapat ditampung dalam suatu

Suprastruktur politik (elit pemerintah) merupakan mesin politik resmi di suatu negara sebagai
penggerak politik formal. Kehidupan politik pemerintah bersifat kompleks karena akan
bersinggungan dengan lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi, dan wewenang/kekuasaan
antara lembaga yang satu dengan yang lainnya. Suasana ini pada umumnya dapat diketahui
didalam konstitusi atau Undang-Undang Dasar dan peraturan perundang-undangan suatu
negara.

Dalam perkembangan ketatanegaraan modern, pada umunya elit politik pemerintah dibagi
dalam kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang), legislative (pembuat undang-
undang), dan yudikatif (yang mengadili pelanggaran undang-undang), dengan sistem
pembagian kekuasaaan atau pemisahan kekuasaan.

Untuk terciptanya dan mantapnya kondisi politik negara, suprastruktur politik harus
memperoleh dukungan dari infrastruktur politik yang mantap pula. Rakyat, baik secara
berkelompok berupa partai politik atau organisasi kemasyarakatan, maupun secara individual
dapat ikut berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya.

Suprastruktur politik di negara Indonesia sejak bergulirnya gerakan reformasi tahun 1998
sampai dengan tahun 2006 telah membawa perubahan besar di dalam sistem politik dan
ketatanegaraan Republik Indonesia. Era reformasi disebut juga sebagai “Era kebangkitan
Demokrasi”.

definisi perilaku politik ini adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap aktivitas perpolitik
dalam suatu negara. Karakteristik perilaku politik dari suatu masyarakat dapat dilihat dari
sejauh mana kadar kekentalan budaya politik pada suatu masyarkat. Artinya, budaya politik
itulah yang paling banyak berpengaruh terhadap perilaku seseorang dalam merespon politik.
Budaya politik ini pula yang mengikat perilaku politik.

Sumber perilaku politik yang paling utama adalah budaya politik, yaitu kesepakatan antara
pelaku politik tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.Kesepakatan
ini tidak selalu bersifat terbuka, dalam artian, tidak setiap kesepakatan dalam budaya politik
ditegaskan secara gamblang.

Ada juga budaya politik yang sifatnya tertutup tetapi tetap dipahami oleh kelompok
masyarakat. Misalnya saja, ketika akan dilangsungkan pemilihan umum, ada budaya politik
dalam masyarakat yang sering meminta sumbangan, atau amplop, atau materi lainnya dari
para calon, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi sikap politiknya.

 Konflik, proses politik, perilaku politik dan partisipasi politik


KONFLIK

Istilah konflik dalam ilmu politik sering kali dikaitkan dengan kekerasan, seperti kerusuhan,
kudeta, tetorisme, dan revolusi. Pada dasarnya konflik politik disebabkan oleh dua hal, yaitu
kemajemukan horisontal dan kemajemukan vertikal

Konflik terjadi antar kelompok yang memperebutukan hal yang sama, tetapi konflik akan
selalu menuju kearah kesepakatan ( konsensus). Selain itu, masyarakat tidak mungkin
terintegrasikan secara permanen denagan mengandalkan kekuasaan dari kelompok yang
dominan. Sebaliknya masyarakat yang terintegrasi atas dasar konsensus sekalipun, tak
mungkin bertahan secara permanen tanpa adanya kekuasaan paksaan. Jadi konflik konsesnsus
munurut Ramlan Surbakti gejala-gejala yang tak terrelakkan dalam masyarakat.
Istilah konflik dalam ilmu politik sering kali dikaitkan dengan kekerasan, seperti
kerusuhan, kudeta, terorisme, dan revolusi. Konflik mengandung pengertian “benturan”,
seperti perbedaan pendapat, persaingan, dan pertentangan antara individu dan individu,
kelompok dan kelompok, individu dan kelompok, dan antara individu atau kelompok dengan
pemerintah.]

partisipasi politik

mengarah pada tindakan mengambil bagian atau menceburkan diri dalam aktivitas politik.
Sejarah partisipasi politik sendiri bermula dari jaman Yunani dan berkembang beriringan
dengan tradisi pemikiran Barat. Aristoteles adalah salah satu tokoh pelopor kajian konsep
partisipasi politik yang telah membahas konteks partisipasi politik dalam kehidupan
masyarakat.

Menurut Aristoteles, ikatan antar manusia merupakan landasan utama dari pembentukan
suatu negara sehingga ia percaya bahwa partisipasi politik adalah tumpukan perhatian
dariprinsip “kekitaan”. Masyarakat dalam hal ini berhak untuk turut terlibat dalam berbagai
aktivitas terkait pemeliharaan negara dan komunitas, hukum serta penegakan keadilan.

Partisipasi politik ini erat kaitannya dengan kegiatan politik di negara demokrasi.
Keterlibatan rakyat dalam perpolitikan dianggap sebagai barometer utama dalam mengukur
tingkatan implementasi demokrasi dari suatu negara. Dalam sistem politik demokrasi,
masyarakat memiliki hak untuk ikut menentukan siapa wakil mereka untuk duduk dalam
jabatan penting kenegaraan.

Perilaku politik
Adalah perilaku yang dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan
kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh negara untuk
melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik adapun yang dimaksud
dengan perilaku politik contohnya adalah:

 Melakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat / pemimpin


 Mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang mengikuti suatu partai politik atau
parpol, mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau lsm lembaga swadaya
masyarakat
 Ikut serta dalam pesta politik
 Ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik yang berotoritas
 Berhak untuk menjadi pimpinan politik
 Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna
melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh undang-undang dasar dan
perundangan hukum yang berlaku
Proses politik

suatu interaksi atau saling pengaruh-mempengaruhi diantara lembaga dalam masyarakat yang keseluruhann
struktur politik yang masing-masing melaksanakan fungsi input dan output.

Pendekatan Analisis Sistem Politik menurut David Easton.

Easton memandang sistem politik sebagai tahapan pembuatan keputusan yang memiliki
batasan (misal, semua sistem politik mempunyai batas yang jelas) dan sangat luwes (berubah
sesuai kebutuhan). Model sistem politik terdiri dari fungsi input, berupa tuntutan dan
dukungan; fungsi pengolahan (conversion); dan fungsi output sebagai hasil dari proses sistem
politik, lebih jelasnya seperti berikut ini:

Tahap 1: di dalam sistem politik akan terdapat “tuntutan” untuk “output” tertentu (misal:
kebijakan), dan adanya orang atau kelompok mendukung tuntutan tersebut.

Tahap 2: Tuntutan-tuntutan dan kelompok akan berkompetisi (“diproses dalam sistem”),


memberikan jalan untuk pengambilan keputusan itu sendiri.

Tahap 3: Setiap keputusan yang dibuat (misal: kebijakan tertentu), akan berinteraksi dengan
lingkungannya.

Tahap 4: ketika kebijakan baru berinteraksi dengan lingkungannya, akan menghasilkan


tuntutan baru dan kelompok dalam mendukung atau menolak kebijakan tersebut
(“feedback”).

Tahap 5, kembali ke tahap 1.

Easton mengidentifikasi empat atribut yang perlu diperhatikan dalam setiap kajian sistem
politik, yang terdiri atas

1. Unit-unit dan batasan-batasan suatu sistem politik

Serupa dengan paradigma fungsionalisme, dalam kerangka kerja sistem politik pun terdapat
unit-unit yang satu sama lain saling berkaitan dan saling bekerja sama untuk mengerakkan
roda kerja sistem politik. Unit-unit ini adalah lembaga-lembaga yang sifatnya otoritatif
untuk menjalankan sistem politik seperti legislatif, eksekutif, yudikatif, partai politik,
lembaga masyarakat sipil, dan sejenisnya. Unit-unit ini bekerja di dalam batasan sistem
politik, misalnya dalam cakupan wilayah negara atau hukum, wilayah tugas, dan
sejenisnya.
2. Input-output

Input merupakan masukan dari masyarakat ke dalam sistem politik. Input yang masuk dari
masyarakat ke dalam sistem politik dapat berupa tuntutan dan dukungan.Tuntutan secara
sederhana dapat disebut seperangkat kepentingan yang alokasinya belum merata atas ejumlah
unit masyarakat dalam sistem politik. Dukungan secara sederhana adalah upaya masyarakat
untuk mendukung keberadaan sistem politik agar terus berjalan. Output adalah hasil kerja
sistem politik yang berasal baik dari tuntutan maupun dukungan masyarakat. Output terbagi
duayaitu keputusan dan tindakanyang biasanya dilakukan oleh pemerintah. Keputusan adalah
pemilihan satu atau beberapa pilihan tindakan sesuai tuntutan atau dukungan yang masuk.
Sementara itu,tindakan adalah implementasi konkrit pemerintah atas keputusan yang dibuat.

3. Diferensiasi dalam sistem

Sistem yang baik harus memiliki diferensiasi (pembedaan dan pemisahan) kerja. Di
masyarakat modern yang rumit tidak mungkin satu lembaga dapat menyelesaikan seluruh
masalah. Misalkan saja dalam proses penyusunan Undang-undang Pemilu, tidak bisa
hanya mengandalkan DPR sebagai penyusun utama, melainkan pula harus melibatkan
Komisi Pemilihan Umum, lembaga-lembaga pemantau kegiatan pemilu, kepresidenan,
ataupun kepentingan-kepentingan partai politik, serta lembaga-lembaga swadaya
masyarakat. Sehingga dalam konteks undang-undang pemilu ini, terdapat sejumlah
struktur (aktor) yang masing-masing memiliki fungsi sendiri-sendiri.

4. Integrasi dalam sistem

Integrasi adalah keterpaduan kerja antar unit yang berbeda untuk mencapai tujuan bersama.
Undang-undang Pemilihan Umum tidak akan diputuskan serta ditindaklanjuti jika
tidak ada kerja yang terintegrasi antara DPR, Kepresidenan, KPU, Bawaslu, Partai
Politik, dan media massa.

Pendekatan Struktural Fungsional menurut Gabriel Almond

Berangkat dari teori Struktural Fungsional (Gabriel Almond) apabila pendekatan tersebut
dijadikan pisau analisa terhadap sistem di Indonesia, kita harus berangkat dari komponen inti
yang membentuk sistem politik ataupun sosial dalam Negara kita. Bangsa Indonesia adalah
suatu sistem sosial besar yang terbentuk karena adanya konsensus nilai-nilai yang disepakati
oleh seluruh komponen sistem. Meskipun komponen-komponen yang membentuk sistem
sosial tersebut mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, mereka telah membangun
struktur ketergantungan satu sama lain. Akibat adanya saling ketergantungan itulah terbentuk
keseimbangan yang membuat bertahannya sistem kebangsaan Indonesia. Dari konsep ini
maka struktur dan fungsi sistem politik Indonesia tidak dapat dipisahkan oleh komponen
sosial kebangsaan sebagai variable yang berada di dalam struktur institusi sehingga fungsi-
fungsi lembaga juga terkait dengan variable yang menggerakkan institusi tersebut.

Ditambah dengan perubahan di struktur dalam konteks kewenangan atas lembaga legislative
yang sekarang memiliki legitimasi kekuasaan cenderung lebih kuat dibanding eksekutif,
sistem pemerintahan Indonesia yang awalnya dikategorikan presidensil (kekuasaan eksekutif
lebih dominan) jika dibandingkan dengan realita politik yang ada berbanding terbalik, contoh
konkritnya ialah perumusan dan pengesahan RUU Pilkada, dalam input, output dan policies
yang dirumuskan menunjukkan adanya kekuatan besar di wilayah legislative dan jika
merujuk kepada sistem pemerintahan hal ini menggolongkan sistem pemerintahan kita
sebagai bentuk sistem parlementer, yang sebelumnya telah diperkuat dengan adanya
legitimasi koalisi partai dalam DPR tahun ini. Kompleksitas campuran sistem dalam produk
proses politik ini ini adalah akar yang menyebabkan timbulnya kriris basis legitimasi.

Bila ditarik kesimpulan dari beberapa pengalaman historis yang dialami oleh Indonesia,
apabila merujuk kepada historical background Indonesia, bagi para pendiri bangsa kita yang
merancang UUD 1945 melihat bahwa pendekatan struktural fungsional merupakan suatu
sistem yang ideal. Kesulitan yang dihadapi ialah banyak terjadi pergantian rejim dan
perubahan sistem pemerintahan serta akor-aktor yang terlibat langsung di dalam struktur
politik tersebut, pertentangan yang tajam dalam variable-variable komponen tersebut
merintangi pembentukan kesatuan sistem dan menjadi faktor krisis dalam membangun
sebuah demokrasi yang stabil.

Uraikan pendapat Anda tentang implementasi hubungan pemerintah pusat dan daerah!

1. Dalam bidang keuangan


.
Dalam rangka mema jukan kehidupan bangsa dan mendorong peningkatan kesejahteraan
secara merata di seluruh daerah, anggaran negara sebesar mungkin harus ditujukan untuk
menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak dasar rakyat terutama di wilayah yang
relatif tertinggal.

Terkait dengan kebijakan penggunaan anggaran tersebut, dana transfer ke daerah merupakan
salah satu instrumen anggaran yang harus digunakan untuk mempercepat peningkatan
kesejahteraan rakyat, peningkatan produktivitas dan penguatan daya saing daerah, percepatan
pembangunan daerah, serta men dorong pemerataan pemba ngunan di seluruh wilayah.

Dengan adanya Otonomi daerah seharusnya memberikan keleluasaan bagi daerah untuk
mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, termasuk dalam bidang keuangan. Tetapi
dalam praktiknya hubungan pemerintah pusat dan daerah dalam bidang keuangan belum
sepenuhnya mencerminkan prinsip otonomi seluas-seluasnya.

Kontrol keuangan daerah sepenuhnya masih menjadi kewenangan pemerintah pusat, terutama
terkait alokasi dana perimbangan. Akibatnya, sejumlah daerah penghasil atau daerah kaya
sumber daya alam seperti Provinsi Riau belum bisa menikmati secara maksimal hasil alam
yang ada di daerahnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Besarnya alokasi dana perimbangan yang diterima daerah penghasil cenderung tidak
sebanding dengan kekayaan alam yang telah dieksploitasi. Di sisilain beban dan tanggung
jawab daerah semakin besar dengan adanya otonomi daerah dan desentralisasi.
Sehingga di Indonesia masih banyak ditemui daerah yang kaya sumber daya alam,akan tetapi
infrastruktur masih terbatas,angka kemiskinan masih tinggi sehingga kesejangan sosial dan
ekonomi yang semakin lebar. Banyak daerah penghasil sumber daya alam merasa tidak
diperlakukan secara adil oleh pemerintah pusat, sehingga situasi ini sering memicu
munculnya konflik di tengah-tengah masyarakat yang pada akhirnya dapat mengancam
keutuhan bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu persoalan tersebut harus ditenggarai agar keutuhan negara Indonesia tetap
terjaga dan terciptanya suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat (daerah) Indonesia, bukan
keadilan yang terkonsentrasi pada elit penguasa dan keadilan yang mensejahterakan beberapa
golongan belaka. Karena salah satu tujuan utama dilaksanakannya otonomi daerah di
Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hubungan Pembinaan dan pengawasan antara pemerintah pusat dan daerah

Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam bidang kewenangan mengalami
banyak perubahan sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tidak
sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan penyelenggaraan
pemerintahan daerah.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, klasifikasi urusan pemerintahan terdiri dari 3
urusan yakni urusan pemerintahan absolut, urusan pemerintahan konkuren, dan urusan
pemerintahan umum. Urusan pemerintahan absolut adalah urusan pemerintahan yang
sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. Urusan pemerintahan konkuren adalah
urusan pemerintahan yang dibagi antara pemerintah pusat dan daerah provinsi serta daerah
kabupaten/kota.

Urusan pemerintahan umum adalah urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan


Presiden sebagai kepala pemerintahan. Adanya pembagian 3 urusan ini menimbulkan
hubungan yang baru antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, apalagi dalam
pelaksanannya ada skala prioritas urusan pemerintahan yang harus dilaksanakan.

Pembagian urusan kewenangan tersebut dikontrol oleh pemerintah pusat dengan menerapkan
norma, standar, prosedur dan kriteria dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan
dan pemerintah pusat melaksanakan pembinaan serta pengawasan terhadap penyelenggaraan
urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Dasar dari lahirnya Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 ini adalah mengoreksi permasalahan yang terjadi dalam
penyelengaraan pemerintahan daerah sebagaimana diatur dalam undangundang sebelumya.
Berbagai permasalahan tersebut sering kali multi tafsir antar pemangku kepentingan sehingga
menjadi salah satu sumber konflik dalam struktural pemerintahan.

Otonomi luas yang diwujudkan dalam 31 urusan menimbulkan keterbatasan pembiayaan


yang menyebabkan banyak daerah mengalami kesulitan. Keadaan tersebut semakin rumit
dengan adanya tendensi daerah membuat struktur organisasi yang gemuk akibat tekanan
birokrasi melalui tambahan jabatan yang memicu meningkatnya kebutuhan pegawai serta
meningkatnya biaya aparatur. Sementara, pengalaman menunjukkan hampir semua daerah
persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) relatif kecil. Meski demikian, apabila mencerna
substansi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, hal yang paling mendasar adalah
hilangnya prinsip otonomi yang menyebabkan daerah otonom kehilangan dasar pandangan
hukum. Kehadiran undang-undang ini justru mengabaikan kehendak otonomi daerah dan
lebih mengedepankan semangat efisiensi dan efekvitas penyelenggaraan pemerintahan
daerah, dengan lebih memperhakan aspek-aspek hubungan antara pusat-daerah dan antar
daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan persaingan global
dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Selain itu, pengaturan hubungan pusat
dengan daerah sebagian besar mereduksi kewenangan bupati atau walikota untuk
membangun daerah dan melayani rakyatnya. Kewenangan tersebut ditarik dan diberikan
kepada gubernur, bahkan untuk beberapa kewenangan dikembalikan kepada pemerintah
pusat. Hal ini memiliki tendensi upaya resentralisasi kewenangan penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang sangat berlawanan dengan semangat amendemen Pasal 18 UUD
1945.

Hubungan dalam bentuk pembinaan dan pengawasan antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah!

Dalam hal pengawasan Pemerintah Pusat terhadap setiap penyelenggaraan Pemerintahan


Daerah, diatur dalam BAB XII pasal 218 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004. Maksud
pengawasaan ini ialah menjaga pelaksanaan otonomi oleh daerah-daerah agar
diselenggarakan dan tidak bertindak melebihi wewenangnya sehingga daerah dengan
wewenangnya yang luas, nyata dan bertanggung jawab ini menyelenggarakan pemerintahan
tanpa memperhatikan keutuhan NKRI.Fungsi pengawasan ini dalam rangka menjamin
terlaksananya kebijaksanaan pemerintah dan rencana pembangunan pada umumnya.

Pengawasan Pemerintah Pusat atas penyelenggaraan pemerintah daerah ini mengalami


pergeseran sejak adanya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, dikenal dengan adanya pengawasan umum,
pengawasan preventif, dan pengawasan represif.

1. Pengawasan Umum

Menurut Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, pengawasan umum ialah pengawasan


Pemerintah Pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan tugas dan wewenang yang telah
diberikan oleh Pemerintah Pusat terhadap keseluruhan pelaksanaan tugas dan wewenang
yang telah diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah. Pengawasan umum
ini meliputi bidang pemerintahan, kepegawaian, keuangan dan peralatan, pembangunan,
perumahan daerah, serta bidang yayasan dan lain-lain yang ditetapkan oleh Menteri Dalam
Negeri.

2. Pengawasan Preventif
Pengawasan preventif mengharuskan setiap peraturan daerah dan keputusan kepala daerah
mengenai pokok tertentu berlaku sesudah mendapatkan pengesahan dari Menteri Dalam
Negeri bagi peraturan daerah dan keputusan kepala daerah tingkat II.

3. Pengawasan Represif

Pengawasan represif adalah menyangkut penangguhan atau pembatalan Peraturan Daerah


yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundangan yang tingkatnya
lebih tinggi. Pengawasan represif dapat dilakukan oleh pejabat yang berwenang terhadap
semua peraturan daerah dan keputusan kepala daerah.

Salah satu permasalahan otonomi daerah di Indonesia adalah terkait pembinaan dan
pengawasan yang dilakukan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Efektifitas dari
pembinaan dan pengawasan menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan otonomi
daerah. Fakta yang tampak justru masing-masing daerah seolah berjalan sendiri-sendiri.
Tidak sedikit daerah yang memunculkan “raja-raja kecil” dan praktik politik dinasti atau
kekerabatan politik. Hal ini menunjukkan bahwa otonomi daerah yang mengacu pada
konstitusi dan NKRI cenderung dimaknai secara berbeda oleh daerah-daerah. Karena itu,
pembinaan dan pengawasan perlu dilakukan dengan cermat dan efektif, sebagai upaya untuk
menjamin terlaksananya pembangunan daerah yang terintegrasi, merata, dan sinergis dalam
bingkai negara kesatuan

Untukmengoptimalkan fungsi pembinaan dan pengawasan, pemerintah memberi penghargaan


pada pemerintah daerah, kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah, anggota DPRD,
perangkat daerah, pegawai negeri sipil daerah, perangkat desa, anggota badan
permusyawaratan desa berdasarkan hasil penilaian terhadap pelaksanaan urusan
pemerintahan daerah yang menunjukan prestasi tertentu. Sebaliknya, pemerintah juga
memberikan sanksi apabila ditemukan adanyan pemyimpangan dan pelanggaran.

Sebagai pemegang tanggung jawab akhir pemerintahan, pemerintah pusat memegang kendali
sebagai pembuat norma, standar dan prosedur. Persoalannya, meskipun pemerintah daerah
merupakan bagian dari pemerintah pusat, sejauh ini, pembinaan dan pengawasan antar
jenjang pemerintahan yang mengedepankan reward and punishment belum berjalan
sebagaimana mestinya.

Karena itu, pembinaan dan pengawasan perlu dilakukan dengan cermat dan efektif, sebagai
upaya untuk menjamin terlaksananya pembangunan daerah yang terintegrasi, merata, dan
sinergis dalam bingkai negara kesatuan. Pembinaan yang dilakukan oleh pusat terhadap
daerah dapat mencakup aspek politik, administratif, fiskal, ekonomi dan sosial budaya. Pada
aspek politik, pembinaan dapat difokuskan pada penguatan lembaga perwakilan rakyat
daerah bersamaan dengan lembaga pemberdayaan masyarakat.

Pada aspek administratif, pembinaan dapat difokuskan pada penegasan pembagian urusan
pemerintahan, serta kewenangan pengelolaannya, terutama berkaitan dengan perencanaan
dan penganggaran. Pada aspek fiskal, pembinaan dapat berfokus pada peningkatan
pendapatan asli daerah seiring dengan pelaksanaan kebijakan transfer dan pinjaman yang
ditetapkan oleh pemerintah pusat.

Pada aspek ekonomi, pembinaan dapat berfokus pada pembangunan ekonomi daerah, yang
dapat menjamin kemungkinan berlangsungnya privatisasi dalam pelaksanaan urusan
pemerintahan daerah. Termasuk dalam kegiatan ini adalah pembinaan dunia usaha dan
koperasi. Sedangkan pada aspek sosial budaya, pembinaan dimaksudkan untuk mendorong
kemampuan pemerintahan daerah dalam membangun kehidupan masyarakat dengan
kesadaran berkewarganegaraan yang tinggi. Sedangkan pengawasan bertujuan untuk
menjamin agar kegiatan pelaksanaan rencana sesuai dengan spefisikasi yang telah ditentukan,
baik yang bersifat substansial maupun prosedural. Dengan pengawasan diharapkan tujuan
yang tercapai benar-benar dapat membangun kondisi yang diinginkan secara efisien dan
efektif. Dalam konteks keberadaan daerah otonom, pengawasan berperan sebagai penjamin
terbangunnya daerah yang maju, terciptanya keadilan regional, dan terwujudnya masyarakat
yang sejahtera dalam bingkai sistem dan kepentingan nasional.

Uraikan evaluasi anda tentang dinamika perkembangan sistem politik dan demokrasi
di Indonesia berdasarkan indikator dari para pakar!

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia sudah berlangsung sejak negara ini merdeka. Pada
awalnya, Indonesia menganut Demokrasi Parlementer lalu berubah menjadi Demokrasi
Terpimpin. Karena dirasa kurang cocok dengan ideologi negara, maka diputuskanlah
demokrasi yang digunakan di Indonesia adalah Demokrasi Pancasila dengan alasannya agar
pelaksanaan demokrasi di Indonesia tidak bertentangan dengan falsafah Bangsa Indonesia,
yaitu Pancasila.

Sudah 19 tahun era reformasi berlangsung, namun pelaksanaan Demokrasi Pancasila masih
belum baik. Contohnya pada aspek Demokrasi dengan Hak Asasi Manusia. Seperti yang
kita ketahui, setiap manusia mempunyai suatu hak asasi yang tidak dapat dipisahkan dari
orang tersebut, misalnya saja hak untuk hidup. Pada kenyataannya, masih banyak kasus
pembunuhan yang terjadi. Selain itu juga masih marak kasus penyiksaan terhadap anak yang
berujung pada kematian. Oknum-oknum tersebut seakan tidak menghargai hak hidup orang
lain dan ini tentu saja melanggar HAM dan tidak sesuai dengan poin Demokrasi dengan Hak
Asasi Manusia.

Contoh lainnya ada pada poin Demokrasi dengan Kemakmuran dan Demokrasi yang
Berkeadilan Sosial. Pada kenyataannya, rakyat belum sepenuhnya makmur dan
sejahtera. Mari kita lihat masyarakat-masyarakat miskin yang masih hidup serba kekurangan,
masyarakat perbatasan yang belum sepenuhnya diperhatikan oleh pemerintah, anak-anak
yang terancam putus sekolah karena tidak adanya biaya, sarana belajar-mengajar yang jauh
dari kata layak, akses ke daerah terpencil yang masih susah, belum mencerminkan kehidupan
yang makmur dan sejahtera.
Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk menjadikan Demokrasi Pancasila dapat berjalan
dengan semestinya? Tentu saja kita harus mengamalkan nilai Pancasila pada kehidupan
sehari-hari kita. Selain itu ada baiknya jika kita tidak mengikuti suatu kegiatan yang
menyimpang dari Pancasila.

Uraikan evaluasi Anda tentang dinamika perkembangan demokrasi di Indonesia


dengan menggunakan indikator implementasi nilai-nilai demokrasi di Indonesia,
menurut Samuel Huntington!

Menurut Samuel Huntington (1991: 44) demokratisasi pada tingkatan sederhana


memasukkan beberapa aspek dalam cakupannya seperti berakhirnya sebuah rezim otoriter,
dibangunnya sebuah rezim demokrasi, serta terjadinya konsolidasi. Sederhananya,
demokratisasi dapat diartikan sebagai sebuah proses perubahan rezim otoritarian atau
hegemon tertutup yang umumnya tidak memberikan kesempatan pada terjadinya partisipasi
dan liberalisasi menuju sistem poliarki yang lebih memberikan kesempatan partisipasi dan
liberalisasi pada setiap orang.

Demokrasi di Indonesia berkaitan erat dengan rezim yang terdapat di Indonesia. Pada paska
kemerdekaan, setiap presiden yang terpilih cenderung memiliki tipe kepemimpinan yang
berbeda-beda. Selain didasarkan pada kepribadian dan pola pikir presiden, eksperimen
demokratisasi di Indonesia merupakan bentuk jawaban atas kondisi internasional yang terjadi
pada saat itu. Dengan kata lain, demokratisasi yang terjadi di Indonesia tumbuh pesat
terutama di era awal kemerdekaan Indonesia karena kondisi pencarian jati diri yang memicu
negara ini untuk dapat menyesuaikan diri dan menentukan posisi di dunia internasional.

Sejak awal kemerdekaan, telah tampak unsur demokrasi yang terdapat dalam sistem
pemerintahan Indonesia. Setelah mengalami periode demokrasi singkat pada tahun
1950an, selama kurang lebih empat puluh tahun, Indonesia dipimpin oleh dua otokrat yaitu
Soekarno dan Soeharto. Kita melihat terdapat tahapan-tahapan dalam perkembangan
demokrasi di Indonesia berdasarkan periode kepemimpinan presiden.

Pada masa kepemimpinan Soekarno misalnya, Indonesia berada di awal-awal pembentukan


dan pembenahan besar-besaran. Dengan konsep berdikarinya, Soekarno berusaha membawa
nama Indonesia sebagai salah satu negara yang dapat menyesuaikan diri dengan baik setelah
mendeklarasikan kemerdekaannya. Demokrasi pada saat ini dikenal dengan nama demokrasi
parlementer, sebuah demokrasi yang menonjolkan sistem parlemen dan partai politik.

Pelaksanaan demokrasi parlementer berkaitan erat dengan tidak stabilnya pemerintahan pada
saat itu sebagai salah satu akibat dari tahap awal pembentukan negara baru. Perkembangan
demokrasi kemudian mengarah pada demokrasi terpimpin, sebuah bentuk demokrasi yang
menonjolkan aspek demokrasi rakyat dan dominasi dari presiden. Dominasi presiden ini,
diiringi dengan Ketetapan MPRS No. III Tahun 1963 yang berisi keputusan untuk
mengangkat presiden seumur hidup dinilai sebagai salah satu peluang terjadinya
penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Periode ini merupakan tahap awal terjadinya
demokratisasi di Indonesia ditandai dengan mulai munculnya kemungkinan otoritarianisme.

Melewati masa Orde Lama dengan Soekarno sebagai pemimpinnya, Indonesia berjalan ke
arah Orde Baru. Soeharto kemudian menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Kedua.
Di era Orde Baru, Soeharto yang merupakan mantan Jenderal Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia menggunakan ABRI sebagai kekuatan politik di dalam rezimnya (Liddle, 1999:
97). Dominasi dari ABRI dalam politik Indonesia membawa Indonesia pada era melemahnya
demokrasi.

Era kepemimpinan Soeharto juga dikenal sebagai era demokrasi Pancasila, sebuah tahapan
perkembangan demokrasi yang mengacu nilai-nilai Pancasila. Pancasila dijadikan sebagai
landasan ideal dan UUD 1945 digunakan sebagai landasan format yang digunakan untuk
meluruskan penyimpangan demokrasi sebelumnya. Kalau kita lihat demokrasi di era Orde
Baru sebagai sebuah demokrasi semu yang memicu tumbuhnya otoritarianisme dan maraknya
korupsi, kolusi, dan nepotisme di kalangan birokrat. Peran militer yang dominan
mengakibatkan munculnya dwi fungsi ABRI, kebebasan mengeluarkan pendapat yang
dibatasi, partai politik yang disetir pemerintah, media massa yang dikendalikan pemerintah,
serta sentralisasi pembuatan keputusan.

Setelah mengalami masa demokrasi semu yang amat panjang, terjadi masa transisi pada
demokratisasi Indonesia yang mulai menerapkan konsep demokrasi secara murni seperti
keterbukaan sistem politik, kebebasan pers, mekanisme check and balances yang semakin
terlihat, penghapusan KKN, kepemimpinan politik yang berlandaskan kerakyatan, serta
menjunjung tinggi norma hukum.

Demokrasi ini terjadi di era Reformasi, sebuah era yang menjunjung tinggi nilai partisipasi.
Joko Susanto (2013: 68) berpendapat bahwa demokratisasi tidak saja membuka peluang bagi
tumbuh kembang identifikasi melalui perluasan partisipasi tetapi juga menyiapkan landasan
bagi kembalinya konsepsi keindonesiaan yang inklusif. Salah satu prinsipel yang diusung
demokratisasi di era Reformasi adalah pandangan Tocquevillean yang percaya bahwa
patriotisme atau kebangsaan dapat tumbuh lebih baik lewat partisipasi aktif kemajemukan.
Salah satu perubahan yang berlangsung pada awal reformasi adalah pergeseran dari sistem
kepartaian asas tunggal menjadi sistem multipartai (Susanto, 2013: 69).

Meskipun kehadiran sistem multipartai tidak serta merta membawa keindonesiaan yang
inklusif, namun hal ini menjadi awal dari penghapusan diskriminasi dan perluasan partisipasi
yang ada di Indonesia. Aspek positif dari transisi demokrasi yang berlangsung sat ini adalah
munculnya gerakan yang berbasis kepentingan dan ideologi, bertambahnya jumlah partai dan
organisasi, bersamaan dengan gerakan masa yang mengkampanyekan kebenaran, keadikan,
dan penulisan ulang sejarah yang dinilai keliru, serta mempromosikan edukasi yang layak
bagi masyarakat Indonesia (Ghosal, 2004: 525). Hal ini menandai semakin terjaminnya
demokrasi di Indonesia berupa kebebasan berpendapat, hak asasi manusia yang semakin
diperhatikan, serta kebebasan pers.
Berdasarkan pemaparan mengenai demokrasi di Indonesia yang telah diuraikan sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa demokrasi merupakan sebuah proses transisi dari periode
pemerintahan otoritarian menuju era pemerintahan yang lebih mengedepankan aspek
partisipasi dan liberalisasi rakyat di dalamnya.

Demokrasi dapat diartikan sebagai sistem pemerintahan yang berlandaskan semangat rakyat
atau pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Terdapat empat periode
perkembangan demokratisasi di Indonesia yang berawal dari demokrasi parlementer di tahun
1945 sampai tahun 1959, demokrasi terpimpin di tahun 1959 sampai 1965, demokrasi
Pancasila di tahun 1965 hingga 1998, dan transisi demokrasi di era Reformasi yang berawal
dari 1998 hingga saat ini.

Periodisasi ini menunjukkan bagaimana pembatasan partisipasi di era Orde Baru yang
semakin bergeser setelah lahirnya era Reformasi yang menjunjung nilai-nilai kebebasan
berpendapat dan partisipasi publik. Di era Orde Baru, demokrasi dan Pancasila mengalami
mistifikasi sehingga membawa Indonesia ke periode demokrasi semu. Proses demokratisasi
di Indonesia membawa Indonesia pada masa transisi yang membawa Indonesia ke arah yang
lebih baik seperti mulai diperhatikannya kebebasan pers, kebebasan berpendapat, hak asasi
manusia yang semakin mendapatkan perhatian, transparansi politik dan ekonomi negara,
pemberantasan KKN, dan masih banyak lagi. Selain itu, semakin bertambahnya jumlah
gerakan masyarakat yang mengkampanyekan keadilan, kelompok masyarakat, dan partai
politik menambah peran masyarakat sebagai pengawas pemerintahan sehingga memicu
partisipasi publik yang semakin meningkat.

..