Anda di halaman 1dari 12

KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN NALEA KARYA SUNGGING RAGA:

TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Kajian Prosa Fiksi

Oleh:

1. Susi Harmiyati (1401040034)


2. Lilis Eka Oktiani (1401040036)
3. Citra Nugraheni (1401040039)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sastra selalu dinikmati oleh pembaca karena tidak pernah terlepas dari
sistem sosial kehidupan. Sastra merupakan tiruan dari kehidupan nyata
manusia yang dituangkan dalam sebuah karya oleh penciptanya baik itu
berupa sastra lisan ataupun sastra tulis. Pada hakikatnya, sastra merupakan
sebuah media untuk menuangkan ide, pikiran, perasaan, dan amanat atau
pesan pengarang. Sastra disampaikan dengan menggunakan bahasa sebagai
perantara yang ditujukan untuk khalayak agar dapat diambil hikmah sebagai
pembelajaran hidup. Selain itu karya sastra dipahami dengan cara yang
berbeda serta menggunakan perasaan yang mendalam.
Pengarang sebagai anggota masyarakat, dalam melakukan proses
kreatifnya sebagai penulis memiliki keterkaitan erat dengan latar sosio-
historisnya. Pengarang sebagai anggota masyarakat terlibat langsung dalam
segala masalah-masalah, peristiwa sekaligus mempengaruhi karya sastra.
Peran pengarang sebagai pengontrol jalannya sistem sosial memberikan
sumbangan berupa gambaran tersendiri dalam karyanya yang merujuk pada
sebuah kritik. Kritik terhadap kejadian-kejadian sosial disebut dengan kritik
sosial. Dalam karya sastra, kritik sosial dipahami sebagai upaya untuk
mengkritisi perihal yang terjadi di masyarakat dan digambarkan oleh
pengarang dalam karyanya.
Pada cerpen yang berjudul Nalea karya Sungging Raga mengungkap
sisi menarik terkait dengan kritik sosial. Dalam cerpen tersebut terdapat
kritik-kritik yang ditujukan untuk pemerintah maupun untuk masyarakat pada
umumnya. Kritik sosial tersebut diungkapkan oleh pengarang dengan cara
yang menarik terkait dengan jalan cerita sehingga kritikan yang ingin
disampaikan penulis dapat dengan mudah tersampaikan kepada pembaca.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana kritik sosial yang terdapat dalam cerpen Nalea karya
Sungging Raga melalui tinjauan Sosiologi Sastra?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kritik sosial yang
terdapat dalam cerpen yang berjudul Nalea karya Sungging Raga melalui
tinjauan Sosiologi Sastra.
BAB II
TEORI

Sastra memiliki hubungan yang khas dengan sistem sosial dan budaya
sebagai basis kehidupan pengarangnya, maka sastra selalu hidup dan dihidupi
oleh masyarakat, dan masyarakat sebagai objek kajian sosiologi menegaskan
adanya hubungan antara sastra sebagai disiplin ilmu dengan sosiologi sebagai
disiplin ilmu lainnya (Kurniawan, 2012: 3). Kondisi sosio-historis pengarang turut
memberikan kontribusi dalam tubuh karya fiksi yang dibuatnya. Pengarang
sebagai anggota masyarakat terlibat langsung dalam segala masalah-masalah,
peristiwa sekaligus mempengaruhi karya sastra.
Dalam karya sastra, kritik sosial dipahami sebagai upaya untuk mengkritisi
perihal yang terjadi di masyarakat dan digambarkan oleh pengarang dalam
karyanya. Ratna (2013: 11) menjelaskan bahwa karya sastra sebagai imajinasi dan
kreativitas, hakikat karya yang hanya dapat dipahami oleh intuisi dan perasaan,
memerlukan pemahaman yang sama sekali berbeda dengan ilmu sosial yang lain.
Menurut Nurgiyantoro (2010: 331) sastra yang mengandung pesan kritik biasanya
lahir di tengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam kehidupan
sosial dan masyarakat.
Kritik sosial merupakan sebuah komunikasi baik lisan maupun tulisan
berkenaan dengan masalah interpersonal yang mempengaruhi sistem
kemasyarakatan dan berfungsi sebagai alat pengontrol sistem sosial. Kritik sosial
diangkat ketika kehidupan dinilai tidak selaras dan tidak harmonis, ketika
masalah-masalah sosial tidak dapat diatasi dan perubahan sosial mengarah kepada
dampak-dampak disosiatif dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa kritik
sosial dalam karya sastra adalah kritik terhadap fenomena atau masalah-masalah
sosial yang terjadi di masyarakat dalam suatu karya sastra.
BAB III
PEMBAHASAN

Cerpen yang berjudul Nalea karya Sungging Raga diterbitkan dalam koran
Kompas pada hari Minggu tanggal 18 September 2016. Sungging Raga adalah
seorang pengarang baru di dunia cerpen yang sedang berusaha menjadi seorang
pengarang yang besar. Cerpennya yang berjudul Nalea memuat sisi yang menarik
terkait dengan kritik sosial yang dapat dikaji melalui tinjauan Sosiologi Sastra.
Kritik sosial yang terdapat dalam cerpen merupakan sindiran terhadap realitas
sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat saat ini. Kritik yang terkandung
dalam cerpen Nalea meliputi:

1. Kritik terhadap pemerintah mengenai ketidakmampuannya dalam


menyejahterakan rakyat
Seluruh kebutuhan masyarakat yang ada saat ini tidak semuanya
terpenuhi. Seperti yang terdapat dalam cerpen Nalea menceritakan tidak
mampunya pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya. Rakyat yang
membutuhkan kehidupan serta pekerjaan untuk dapat bertahan hidup, pada
kenyataannya dari pihak pemerintah tidak memperdulikan hal tersebut.
Padahal, tujuan dari negara Indonesia itu sendiri terdapat pada pembukaan
UUD 1945 alinea 4 yang berbunyi “Kemudian dari pada itu untuk
membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang
terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang
berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,
serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.”
Ketidakmampuan itu menimbulkan berbagai masalah sosial.
Khususnya dalam kehidupan PKL (Pedagang Kali Lima), anak jalanan,
gelandangan, dan sebagainya. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
Siang itu, Nalea sedang duduk di pinggiran taman kota. Seperti biasa, ia
berkumpul dengan bocah sebayanya yang berpakaian lusuh. Adakah yang
lebih menyenangkan melihat beberapa anak kecil tertawa riang, yang bahkan
giginya belum lengkap, tapi tetap bisa merasa bahagia meskipun kehidupan
ini sesungguhnya teramat keras? Namun begitulah kebahagiaan mereka
mendadak berhenti ketika mendengar suara keributan tak jauh di arah
belakang. Tampak beberapa petugas berseragam turun dari mobil. Rupanya
hari itu ada penertiban preman, pengamen, dan pedagang asongan.

Kutipan tersebut membuktikan bahwa tujuan pemerintah untuk dapat


menyejahterakan rakyatnya dalam bidang ekonomi dan pendidikan belum
tercapai. Tokoh Nalea yang merupakan anak kecil yang seharusnya
mendapatkan pendidikan, akan tetapi dia hanya menjadi pedagang asongan
untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia tidak seperti anak-anak pada
umumnya yang seusia dengannya. Tokoh Nalea dalam cerpen tersebut
merupakan gambaran dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial
(PMKS). Berdasarkan rri.co.id menginformasikan bahwa menurut data dari
Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemensos, tercatat pada 2012 jumlah
gelandangan 18.599 orang dan pengemis 178.262 orang. Semakin banyak
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ada di Indonesia,
semakin menandakan ketidakmampuan pemerintah dalam menyejahkterakan
rakyatnya.
Lahirnya kebijakan dipicu dengan adanya masalah atau fenomena
pada suatu masyarakat dalam suatu daerah. Sejak manusia mulai hidup
bermasyarakat, maka sejak saatu itu sebuah gelaja yang disebut masalah
sosial berkutat di dalamnya. Sebagaimana diketahui, dalam realitas sosial
memang tidak pernah dijumpai suatu kondisi masyarakat yang ideal. Dalam
pengertian tidak pernah dijumpai kondisi yang menggambarkan bahwa
seluruh kebutuhan setiap warga masyarakat terpenuhi, seluruh perilaku
kehidupan sosial sesuai harapan atau seluruh warga masyarakat dan
komponen sistem sosial mampu menyesuaikan dengan tuntuntan perubahan
yang terjadi.
Contoh kasus:

Sumber: m.solopos.com tanggal 11 Agustus 2013 diakses pada tanggal


14 Oktober 2016.

Seharunya pemerintah dalam menyikapi fenomena adanya


Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan juga dalam
pembuatan kebijakan (Perda) tentang penertiban PKMS harus lebih
mengutamakan penegakkan keadilan bagi rakyat kecil dan memperhatikan
hak masyarakat khususnya bagi PKMS untuk mendapatkan pekerjaan dan
penghidupan yang layak. Selain itu, penyediaan tempat-tempat khusus bagi
PKMS perlu dilakukan agar mereka bisa tetap menghidupi kehidupannya
tanpa harus mendapatkan penggusuran maupun penertiban.
2. Kritik terhadap tayangan televisi
Televisi tidak membatasi diri hanya untuk konsumsi kalangan tertentu
saja, namun telah menjangkau konsumen dari semua kalangan masyarakat tak
terkecuali remaja dan anak-anak. Banyaknya materi siaran televisi nasional
yang tidak mendidik selama ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan.
Dalam cerpen Nalea, kritikan juga ditujukan kepada tayangan televisi yang
semakin tidak mendidik. Hal tersebut dibuktikan dalam kutipan berikut.
Namun apakah yang bisa ditawarkan televisi kepada mereka? Selain acara
pernikahan selebiritis, televisi hanya menayangkan sosok inspiratif,
pengusaha muda yang sukses, keberhasilan penelitian, orang miskin yang
kuliah di luar negeri. Semua itu demi sebuah optimisme, tidak peduli bahwa
lebih banyak yang gagal dalam hidup ini. Sementara kemiskinan hanya
menjadi obyek dalam acara realita sosial. Sudah miskin, diuji pula apakah
jujur dengan kemiskinannya.

Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa televisi saat ini seakan


menjadi guru elektronik yang mengatur dan mengarahkan serta menciptakan
budaya massa baru. Tokoh Nalea yang disebutkan sebagai anak kecil dalam
cerpen tersebut, seharusnya dipertontonkan acara yang mendidik. Namun,
pada kenyataannya acara televisi banyak menyuguhkan acara yang tidak
sesuai dengan usianya. Tayangan program televisi seperti Reality Show,
Infotainment, sinetron, film, bahkan iklan sekalipun turut serta mengatur dan
mengubah life style di masyarakat. Informasi yang diberikan televisi seperti
program berita tentang politik, budaya, ekonomi, maupun sosial masyarakat
dari suatu negara layaknya hanya hiburan dan permainan publik belaka.
Contoh kasus:

Sumber: kompasiana.com tanggal 31 Januari 2015 diakses pada


tanggal 11 Oktober 2016.

Seharusnya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lebih menindaklanjuti


teguran yang lebih spesifik lagi, tidak hanya dalam bentuk teguran tertulis
saja. KPI harus dapat membuat jera pelanggar yang menyalahi aturan dengan
lebih berani untuk memberikan sanksi selain hanya teguran. KPI seharusnya
berani untuk membekukan sementara ataupun permanen hak siar dari pihak
penyiar yang melakukan hal tersebut. Dengan demikian, kewenangan KPI
akan berjalan dengan jelas dan kuat.
3. Kritik terhadap penelantaran anak
Kondisi ekonomi yang semakin rendah dan tayangan televisi yang
seolah menyajikan tayangan untuk ditiru, mengakibatkan masyarakat semakin
melakukan tindakan yang menyimpang misalnya tayangan yang
menyuguhkan masalah percintaan remaja. Hal tersebut akan berdampak pada
kehidupan nyata seperti halnya kenakalan remaja, seks bebas, hamil di luar
nikah, dan sebagainya yang berujung pada penelantaran anak.
Pada cerpen Nalea menceritakan mengenai tokoh Nalea yang
merupakan seorang anak pungut. Nalea ditemukan oleh ayah angkatnya di
bawah sudut jembatan layang. Hal tersebut dibuktikan pada kutipan berikut.
Nalea tersenyum. Sebenarnya, lelaki itu sudah lama ingin bercerita, bahwa ia
bukan ayahnya. Dahulu, ketika sedang memulung barang bekas, ia melihat
seorang wanita turun dari mobil, meletakkan kardus di bawah sudut
jembatan layang, kemudian kembali ke mobil dan pergi. Ketika didekati,
didapatinya di dalam kardus itu seorang bayi. Saat itulah, lelaki itu merasa
iba, lalu merawatnya. Ia memberi nama Nalea, nama yang ditemukannya
dalam sebuah cerita pendek di koran lama.

Kutipan di atas menerangkan bahwa Nalea bukan anak kandung


ayahnya, melainkan dia hanya seorang anak pungut yang ditemukan di sudut
jembatan layang. Nalea adalah anak yang dibuang oleh ibunya. Dalam
kehidupan saat ini, banyak kasus yang serupa dengan kasus pada cerpen
tersebut. Berdasarkan liputan6.com telah ditemukan sosok bayi perempuan di
teras masjid Al Falah di Sadang, Purwakarta, Jawa Barat pada tanggal 10
Oktober 2016. Hal tersebut menandakan bahwa kaitan antara cerpen yang
berjudul Nalea dengan realitas kehidupan memang benar adanya.
Dalam kehidupan saat ini banyak ditemukan bayi yang dibuang oleh
orang tuanya. Bayi yang merupakan seorang anak seharusnya dirawat karena
itu merupakan anugerah yang terindah yang diberikan Tuhan untuk manusia.
Akan tetapi, pada kenyataannya pergaulan yang semakin bebas menyebabkan
tingkat pembuangan bayi meningkat karena mereka beranggapan bahwa bayi
itu tidak diinginkan kehadirannya oleh mereka.
Contoh kasus:

Sumber: liputan6.com tanggal 10 Oktober 2016 diakses pada tanggal


15 Oktober 2016.

Terkait dengan peran pemerintah dan siaran televisi dapat ditarik


kesimpulan untuk mengurangi angka pembuangan bayi melalui cara,
pemerintah dan KPI harus bekerja sama menertibkan semua sarana seperti
media baik siaran televisi, situs internet, media cetak yang memberi peluang
atau mendukung kemaksiatan.
BAB IV
PENUTUP

Kritik sosial yang ditemukan dalam cerpen Nalea karya Sungging Raga
meliputi:
1. Kritik terhadap pemerintah mengenai ketidakmampuannya dalam
menyejahterakan rakyat yang dalam cerpen digambarkan dengan tokoh Nalea
dan ayahnya yang mewakili rakyat sebagai Penyandang Masalah
Kesejahteraan Sosial (PMKS).
2. Kritik terhadap tayangan televisi yang dalam cerpen dijelaskan bahwa acara
televisi saat ini banyak mengandung hal yang tidak mendidik dan hanya
sebuah pencitraan saja.
3. Kritik terhadap penelantaran anak yang dalam cerpen disebutkan bahwa
Nalea merupakan anak pungut yang ditemukan ayahnya di sudut jembatan
layang.
DAFTAR PUSTAKA

Abramena. 2015. Bayi Perempuan Terbungkus Kresek Hitam Dibuang di Teras


Masjid. Googleweblight.com/?lite_url=http://m.liputan6.com/regional/read/
2622605=id/html diakses pada tanggal 15 Oktober 2016.

Faruk. 2013. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kurniawan, Heru. 2012. Teori, Metode, dan Aplikasi Sosiologi Sastra.


Yogyakarta: Graha Ilmu.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada


University Press.

Raga, Sungging. 2016. Nalea. https://lakonhidup.wordpress.com/ diakses pada


tanggal 4 Oktober 2016.

Ratna, Nyoman Kutha. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Yusuf, Icha Thahara. 2014. Jumlah Pengemis dan Gelandangan di Indonesia


Masih Tinggi. http://www.rri.co.id/post/berita/90709/nasional/html diakses
pada tanggal 13 Oktober 2016.