Anda di halaman 1dari 2

Jodoh yang DIA Sempurnakan

Ishania Nash

Bagi pasangan muda yang belum mengerti syariat islam sepenuhnya, mungkin pernikahan ibarat
satu fase tambahan kehidupan saja, tidak ada bayangan harus mendidik anak agar shaleh dan
shalehah atau mensurgakan pernikahan. Hanya fokus untuk menjalani biduk rumah tangga apa
adanya.

Begitupun dengan pasangan Ayah Bunda ini. Sang Bunda belum berhijab ketika itu. Ayah yang
diam-diam memperhatikan Bunda juga belum memahami dan mendalami ilmu agama. Hanya
tahu shalat lima waktu saja, selebihnya masih dalam masa pencarian. Setahun berlalu, belum
juga Ayah mampu mengumpulkan energi untuk mendekati, hanya diam dan memperhatikan.
Hingga tiba masa tour kantor yang mempertemukan mereka dalam satu kepanitiaan dan
menemukan celah untuk melamar. Maka tanpa proses pacaran, pasangan muda yang awam
syariat ini menikah.

Tiga bulan menikah, Bunda mengandung. Sebagai pasangan pengantin baru, tentu memiliki anak
pertama adalah kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar. Pengalaman pertama ini, tidak
ingin mereka sia-siakan. Ayah percaya bahwa anak adalah aset mereka di masa depan. Maka
dengan segala keterbatasan, pasangan suami isteri ini memperdalam ilmu agama dan
menghafalkan doa-doa anak shaleh.

Ada masa ketika Bunda ingin buah jambu yang terjatuh di pohon tetangga yang akrab disebut
pak haji. "Ayah, Ibu pengen jambu itu.." Kata Bunda pada Ayah. Tak lama Ayah beranjak
mengetuk pintu rumah pak Haji dan meminta izin untuk mengambil buah jambu yang terjatuh
lalu menyerahkannya pada Bunda. "Apa-apa yang masuk ke mulut kita akan mengalir menjadi
darah daging dan terus menetap dalam tubuh anak kita nanti. Jadi, pastikan dulu kalau itu
memang benar halal dan baik" Kata ayah sambil tersenyum. Sikap ini Ayah lakukan karena
belajar dari cara orang tua Imam Syafi’i mendidik beliau. Memastikan asupan paling halal dalam
tubuh keluarga.

Begitu seterusnya mereka menjalani rumah tangga yang penuh liku dan serba kecukupan. Terus
hijrah menjadi lebih baik. Mengikuti berbagai kegiatan sosial hingga mendirikan sebuah koperasi
yang bergerak dibidang simpan pinjam untuk modal pengusaha mikro. Ayah dan Bunda selalu
bertekad untuk mensejahterahkan rakyat kecil, maka tak salah jika jalan hidup yang mereka pilih
adalah kesederhanaan dan kesahajaan.

Suatu pagi, di sarapan yang tak terganti, sarapan bersama terakhir keluarga itu, Ayah dan Bunda
pamit pada putri sulungnya untuk menjenguk putra kedua mereka yang kuliah di Garut. "Ayah
pengen refreshing teh, momen aa sakit di sana kebetulan pas banget, biar sekalian silaturahmi
sekalian refreshing, tadabur alam." kata ayah sebelum pergi.

"Teh, maafkan Ibu ya…" Kata Bunda kepada putri sulungnya.


Pergilah mereka berdua ke Garut untuk silaturahmi mengunjungi anak ke-2 dan keluarga besar
Bunda. Kepergian mereka memang untuk refreshing menjalani kehidupan baru yang lebih indah
dan lebih baik, tetapi bukan ke Garut. Mereka tidak pergi ke Garut, mereka pergi manghadap
RabbNya.

Tepatnya di jalan Selarong Puncak, mereka kompak memenuhi panggilan Allah sebagai Syahid
dan Syahidah. Menunjukkan pada dunia, bahwa Jodoh Dunia Akhirat sungguh ada. Mereka
adalah buktinya.

Tepat setahun lalu, 21 Oktober 2017, truk diesel menyapa motor kebanggan Ayah dan
mengantarkan Ayah Bunda kesisiNya. Sebuah kecelakaan biasa yang menjadi cerita luar biasa
dengan berbagai bumbu hikmah didalamnya.

Setahun yang lalu, pada ahad pagi, satu hari setelah jenazah dikebumikan, utusan Jasa Raharja,
Pak Yuda namanya, dengan lengkap menggunakan seragam kantornya, datang menemui keluarga
itu untuk menyampaikan bela sungkawa dan menjamin pengurusan asuransi kecelakaan lalu
lintas, "Asuransi ini baiknya segera diurus, gak apa-apa biar kami bantu, pihak keluarga mohon
disiapkan KTP, Akta, dan KK saja selebihnya nanti kami yang selesaikan, dan jika ada yang
kurang dari nominal satu perak pun hak ahli waris, bisa langsung hubungi saya." Kata pak Yuda
dengan tegas namun tetap merendahkan suaranya. Benar saja, tiga hari setelah kedatangan pak
Yuda tersebut, dana asuransi dari Jasa Raharja sudah masuk dalam rekening anak sulung mereka
tanpa berkurang meski 1 rupiahpun. Bukan hanya sikap jasa raharja yang begitu hangat, banyak
kemudahan selama mengkebumikan mereka.

Hal menarik dari kesuksesan kedua orang tua ini, mereka memiliki tiga putra, anak pertama
adalah insinyur di perusahaan milik pemerintah, anak kedua adalah mahasiswa berprestasi
dikampusnya, sedangkan putri ketiga mereka adalah seorang hafidzah dan tidak satupun dari
mereka tertarik melirik banyaknya harta dan santunan yang menyapa. Bagi anak-anak ini, yang
penting kita semua berkumpul lagi di Surga. Maka doa-doa terbaik tidak hentinya dikirimkan
untuk kedua orang tua mereka. Bukankah anak-anak shaleh adalah aset sesungguhnya bagi para
orang tua? Gelar anak shaleh inilah yang mereka ingin berikan pada Ayah dan Bunda. Seperti
pertanyaan Nabi Ibrahim sebelum wafat, “apa yang kalian inginkan dariku setelah aku wafat?”
anak-anaknya menjawab, “cukuplah kau titipkan kami pada Allah”.