Anda di halaman 1dari 64

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Landasan Penyelenggaraan KPL


Landasan penyelenggaraan Kajian Praktek Lapangan (KPL)
meliputi Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun
2003, Undang-undang Guru dan Dosen, Permen PAN dan RB No.
16 tahun 2009 tentang Program Keprofesionalan Berkelanjutan
(PKB), dan Pedoman Akademik UM. Dalam UU Sisdiknas No 20
tahun 2003 dinyatakan bahwa sistem pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Sedangkan tujuan dari sistem pendidikan
nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Lebih jauh ditegaskan bahwa sistem pendidikan nasional
harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen
pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu
dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan
berkesinambungan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana pembelajaran yang kondusif sehingga
peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya.
Potensi diri yag dimaksud antara lain sikap spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia. Selain itu
mereka juga diharapkan menguasai keterampilan diperlukan
sebagai pribadi, anggota masyarakat, bangsa dan negara.

1
Pendidikan sebagai faktor utama yang menunjang perkembangan
peradaban di suatu bangsa.
Peradaban manusia berkembang dengan sangat cepat seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(IPTEKS). Untuk bisa bersaing dalam menghadapi tantangan
global dan perkembangan peradaban, diperlukan peningkatan
kualitas berpikir masyarakat. Peningkatan kualitas berpikir
masyarakat hanya bisa dilakukan melalui penyelenggaraan
pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, guru mempunyai
fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis untuk
menghadapi perkembangan peradaban global (UU Nomor 14 tahun
2005 tentang Guru dan Dosen).
Guru memegang peran sentral dalam upaya peningkatan
kualitas pendidikan di Indonesia. Guru sebagai agen pembelajaran
(learning agent) berperan antara lain sebagai fasilitator, motivator,
pemacu, perekayasa pembelajaran, dan inspirator belajar bagi
peserta didik, serta pembangkit belajar bagi siswa. Guru harus
menguasai kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan
sosial. Guru harus mampu (1) mengelola pembelajaran bagi peserta
didik, (2) menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam,
(3) menampilkan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif,
dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik, dan (4)
berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan
peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan
masyarakat dalam arti luas.
Tuntutan perkembangan pendidikan telah diikuti dengan
upaya peningkatan kualitas guru. Pemerintah melalui Permen PAN
dan RB nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan
angka kreditnya menjelaskan bahwa jenjang jabatan fungsional
guru ditata menjadi: guru pertama, guru muda, guru madya, dan
guru utama. Setiap tahun guru harus dinilai kinerjanya secara

2
teratur melalui Penilaian Kinerja Guru dan wajib mengikuti
Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). PKB telah
diterapkan mulai tahun 2013. Penerapan PKB ini mengharuskan
bahwa guru melakukan pengembangan diri sejak golongan IIIa.
Untuk naik pangkat dari golongan IIIb ke golongan IIIc guru wajib
melakukan publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa, banyak guru yang
kesulitan untuk menulis karya ilmiah. Salah satu kemungkinan
penyebab situasi ini adalah belum adanya pengalaman ketika
mereka kuliah. Dengan kata lain, ketika mereka kuliah tidak ada
keharusan untuk memublikasikan karya ilmiah. Karena itu dalam
sistem KPL mahasiswa S2 Pascasarjana UM ini, disamping
mengembangkan inovasi pembelajaran, mereka juga dituntut
menghasilkan artikel ilmiah yang layak dipublikasikan.

1.2.Praktik Lesson Study


Garfield (dalam Ibrohim, 2009) menjelaskan bahwa lesson
study merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan oleh guru-
guru di Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam
usaha meningkatkan hasil pembelajaran. Proses sistematis yang
dimaksud adalah langkah-langkah kerja guru-guru secara
kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat
pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana
pembelajan secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Walker
(2005) lesson study adalah suatu metode pengembangan
profesionalitas guru. Lewis (2002) menjelaskan bahwa ide yang
terkandung didalam lesson study sebenarnya singkat dan
sederhana, yakni jika seorang guru ingin meningkatkan kinerja dan
kualitas pembelajaran, salah satu cara yang paling mudah
dilakukan yakni dengan cara berkolaborasi dengan guru lain untuk

3
merancang, melaksanakan serta mengamati, dan melakukan
refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.
Secara lebih operasonal, Lesson study adalah suatu model
pembinaan dan upaya peningkatan profesi pendidik melalui peng-
kajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan
berlandaskan prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk
membangun komunitas belajar dalam rangka meningkatkan
profesionalitas guru serta meningkatkan kualitas pembelajaran
(Ibrohim, 2009).
Marsigit (2007) menjelaskan bahwa tujuan kegiatan lesson
study di Indonesia: (1) to develop instrument and equipment for
teaching learning process, (2) to develop teaching method and
model for teaching learning process, (3) to develop teaching
material for teaching learning process, and (4) to develop teaching
evaluation for teaching learning process. Selain mengembangkan
instrumen dan perangkat pembelajaran, lesson study juga
mengembangkan metode dan model pembelajaran;
mengembangkan bahan ajar; serta mengembangkan evaluasi.
Dengan demikian profesionalisme guru dapat terwujud secara
utuh.
Yoshida (1999) menyatakan bahwa kegiatan utama lesson study
dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama: (1) identifikasi
tema penelitian (research theme); (2) pelaksanakan sejumlah
research lesson yang akan mengeksplorasi research theme; dan (3)
refleksi proses pelaksanaan lesson study, termasuk pembuatan
laporan tertulis. Kegiatan pertama yakni kajian tema penelitian
pembelajaran (research theme). Langkah awal ini menghasilkan
rumusan tema penelitian pembelajaran. Tema ini menggambarkan
upaya inovatif yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan
kualitas proses dan hasil pembelajaran. Kajian tema penelitian
pembalajaran dalam lesson study biasanya disusun dengan terlebih

4
dulu mengidentifikasi kesenjangan antara harapan guru terhadap
pencapaian hasil belajar siswa. Hasil belajar tersebut
menginformasikan kemampuan belajar dan pemahaman siswa yang
secara riil dapat dicapai. Dalam konteks ini, hasil belajar siswa
(kognitif, afektif, psikomotorik) belum berkembang secara optimal.
Kajian pembelajaran secara mendalam mengungkapkan masalah-
masalah dapat dilakukan dengan memanfaatkan data-data praktik
pembelajaran dan melakukan refleksi terhadap keberhasilan dan
kelemahan rencana dan proses pembelajaran yang dilakukan.
Aktivitas ini dilakukan dengan melibatkan guru dalam diskusi
untuk menemukan penyebab masalah dan solusi terhadap masalah
yang dihadapi secara bersama. Dalam kegiatan ini, guru-guru
mengembangkan tema penelitian pembelajaran dan memanfa-
atkannya sebagai fokus upaya perbaikan dalam pelaksanaan
kegiatan lesson study. Research theme juga digunakan untuk
menentukan berhasil tidaknya suatu lesson study.
Kegiatan kedua yakni pengkajian atau penelitian pembelajaran
(research lesson). Pada kegiatan ini sekelompok guru secara
bersama-sama menyiapkan rencana pembelajaran. Kelompok ini
beranggotakan empat hingga enam orang. Untuk menyiapkan
suatu research lesson, kelompok atau tim guru mendiskusikan
berbagai masalah. Pertama, guru melihat pada pokok bahasan atau
kompetensi dasar yang mereka kaji atau diskusikan yang
mencakup ruang lingkup materi pembelajaran, paparan penyajian
materi pelajaran terkait pokok bahasan atau kompetensi dasar
tersebut dalam buku teks, bahan ajar lainnya menyajikan unit
tersebut dengan cara berbeda, relevansi antara jabaran unit
pelajaran dengan target dalam kurikulum, pengetahuan yang
sebelumnya sudah dipelajari siswa, dan pemahaman siswa terhadap
topik akan dipelajari, tujuan dan konsep yang penting pada unit
tersebut, kesesuaian research lesson dengan unit tersebut, dan

5
tujuan dari research lesson. Hasil kajian terhadap pokok bahasan
atau komptensi dasar ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai
dasar berpikir dalam menyusun rencana pembelajaran. rencana
pembelajaran tersebut. selanjutnya diimplementasikan dalam
pembelajaran di kelas.
Kegiatan ketiga yakni refleksi (reflection). Untuk membuat
ringkasan (summary) tentang kegiatan dan pencapaian kelompok
lesson study serta membuat rekaman/laporan agar dapat
dimanfaatkan di kemudian hari, sekolah mengumpulkan RPP yang
ditulis berdasarkan kajian pembelajaran (research lesson) yang
telah dibuat sepanjang tahun, data serta catatan hasil observasi,
sampel-sampel pekerjaan siswa, catatan hasil diskusi, dan refleksi
mengenai kegiatan lesson study untuk dijadikan sebagai laporan
akhir. Rekaman ini menjadi resources yang penting bagi para guru
untuk memperbaiki praktik pembelajaran mereka di kemudian hari.
Dalam perkembangannya, praktik lesson study dapat
dilakukan dalam beberapa variasi. Menurut Lewis (2002) ada
enam tahapan pelaksanaan lesson study di sekolah. Pertama,
membentuk kelompok lesson study, yang antara lain berupa
kegiatan merekrut anggota kelompok, menyusun komitmen waktu
khusus, menyusun jadwal pertemuan, dan menyetujui aturan
kelompok. Kedua, memfokuskan lesson study, dengan tiga
kegiatan utama, yakni: (a) menyepakati tema penelitian (research
theme) ; (b) memilih cakupan materi; (c) memilih unit
pembelajaran dan tujuan yang disepakati. Ketiga, membuat
rencana pembelajaran (research lesson), yang meliputi kegiatan
melakukan pengkajian pembelajaran yang telah ada,
mengembangkan petunjuk pembelajaran, meminta masukan dari
ahli dalam bidang studi dari luar (dosen atau guru lain yang
berpengalaman). Keempat, melaksanakan pembelajaran di kelas
oleh guru model dan anggota (guru) yang lain bertindak sebagai

6
pengamat (observer). Sesuai dengan tata cara mengamati,
observer (pengamat) tidak diperkenankan melakukan intervensi
terhadap jalannya pembelajaran. Kelima, mendiskusikan dan
menganalisis pembelajaran, yang telah dilaksanakan. Diskusi dan
analisis pembelajaran itu mencakup: refleksi oleh instruktur,
informasi latar belakang anggota kelompok, presentasi dan diskusi
data-data dari hasil observasi pembelajaran, diskusi umum,
komentar dari ahli luar, dan ucapan terima kasih. Keenam,
merefleksikan pembelajaran dan merencanakan tahap-tahap
selanjutnya. Pada tahap ini anggota kelompok diharapkan berpikir
tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, bagaimana caranya
supaya pembelajaran menjadi lebih baik, apakah akan mencobakan
di sekolah masing-masing, dan apakah pembelajaran yang
dilakukan sudah berhasil sesuai tujuan.
Robinson (2006) menjelaskan ada tujuh tahapan praktik
lesson study: (1) membentuk sebuah tim lesson study, (2)
memfokuskan lesson study, (3) membuat rencana pembelajaran, (4)
membuat persiapan untuk observasi, (5) melaksanakan
pembelajaran dan observasinya, (6) melaksanakan tanya-
jawab/diskusi pembelajaran, dan (7) melakukan refleksi dan meren-
canakan tahap selanjutnya.
Dalam pelaksanaannya di Indonesia, ketiga kegiatan lesson
study tersebut dinyatakan dalam bentuk: (1) PLAN
(merencanakan); (2) DO (melaksanakan); dan (3) SEE (refleksi).
Penyederhanaan menjadi tiga tahap saja dilakukan dengan
pertimbangan untuk memudahkan praktiknya dan menghilangkan
kesan bahwa lesson study sebagai suatu kegiatan yang rumit dan
sulit dilakukan (Ibrohim, 2009). Ketiga tahapan tersebut dilakukan
secara berulang dan terus-menerus (siklus). Kegiatan utama yang
dilakukan dalam masing-masing tahapan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 1.1 berikut ini.

7
PERENCANAAN PELAKSANAAN REFLEKSI
(PLAN) (DO) (SEE)
 Pelaksanaan
 Penggalian
Pembelajaran Refleksi dengan
akademik
 Pengamatan
 Perencanaan rekan sejawat
oleh rekan
pembelajaran
sejawat
 Penyiapan alat-
alat

Gambar 1.1: Bagan Daur Lesson study yang Terorientasi pada Praktik (Saito, 2005)

Dalam membuat perencanaan (PLAN) perlu mempertimbangkan


beberapa hal antara lain: (1) bagaimana kondisi pengetahauan dan
pemahaman awal siswa terhadap topik pembelajaran, (2) siswa
diharapkan memahami apa saja pada akhir pembelajaran terkait topik
pembelajaran, (3) rangkaian pertanyaan dan pengalaman apa yang akan
mendorong para siswa untuk berpindah dari pemahaman awal menuju
pemahaman yang diinginkan, (4) bagaimana para siswa akan menjawab
pertanyaan dan aktivitas apa yang dilakukan siswa pada pembelajaran
tersebut, (5) apakah terdapat masalah dan miskonsepsi yang akan muncul,
(6) bagaimana guru akan menggunakan ide dan miskonsepsi untuk
meningkatkan pembelajaran tersebut, (7) apa yang akan membuat
pembelajaran ini mampu memotivasi dan bermakna bagi siswa, (8) apa
bukti tentang belajar siswa, motivasi siswa, dan perilaku siswa yang perlu
dikumpulkan, yang akan didiskusikan dalam kegiatan refleksi.
Setelah selesai membuat perencanaan, salah satu dari sekelompok
guru menerapkan perencanaan yang telah dibuat bersama di kelas (DO),
dan guru-guru yang lain serta dan pakar bertindak sebagai pengamat
(observer). Dalam kegiatan ini dilakukan perekaman terhadap

8
pelaksanaan pembelajaran, yang nantinya digunakan sebagai bahan untuk
kegiatan refleksi. Kegiatan berikutnya adalah refleksi (SEE). Pada saat
refleksi dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) memberi
kesempatan kepada guru pelaksana pembelajaran untuk melakukan
refleksi, menyampaikan kesan dan pesannya selama pembelajaran
berlangsung, (2) memberi kesempatan kepada pengamat (observer) untuk
menyampaikan hasil pengamatannya selama pembelajaran, (3) tanggapan
guru (model) terhadap berbagai hal yang telah disampaikan oleh
pengamat, (4) presentasi dan diskusi tentang hasil pengolahan data dari
pengamat, dan (5) tanggapan dan saran dari ahli/pakar.

1.3. Pembelajaran Berbasis Project

Project based learning merupakan strategi pembelajaran yang


melibatkan aktivitas siswa yang kompleks, siswa tidak dapat langsung
menyelesaikan, dan melibatkan proses investigasi dan kolaborasi. Hal ini
ditegaskan oleh Lavy dan Sriki (2008) “PBL is a teaching-and-learning
strategy that involves students in complex activities, and enables them to
engage in exploring important and meaningful questions through a pro-
cess of investigation and collaboration.”
Pembelajaran Berbasis Proyek ada lah strategi pembelajaran yang
menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan
eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk mengha-
silkan berbagai bentuk hasil belajar. PBL merupakan strategi belajar yang
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam
beraktifitas secara nyata.
Lebih jauh ditegaskan oleh Krajcik, Czerniak, & Berger (1999)
bahwa
The PBL approach allows students to pose problems, ask
questions, make predictions and decisions, design investiga-
tions, collect and analyze data, use technology, share ideas,
build their own knowledge by active learning, and so on.
The approach is based on the idea that students should work

9
relatively autonomously over a long period of time and con-
clude their work with products or presentations.

Untuk memberi pengalaman kepada guru atau calon dalam melaksanakan


pembelajaran berbasis project, maka dalam melaksanakan praktik
pengalaman lapangan dilakukan dengan startegi project terintegrasi dalam
kegiatan lesson study.
Pelaksanaan kuliah praktik pengalaman lapangan di S2 Pendidikan
Matematika sangat sesuai menerapkan project lesson study, karena
mahasiswa S2 yang terbagi dalam guru dan non guru, masing-masing telah
memiliki pengalaman melaksanakan pembelajaran di kelas. Bagi mahasiswa
yang berasal dari guru, dalam kesehariannya sudah melaksanakan
pembelajaran. Bagi mahasiswa non guru juga sudah pernah melaksanakan
pembelajaran ketika di S1. Dengan demikian orientasi KPL bukan sekedar
mempraktikkan teori yang pernah diperoleh tetapi juga mengubah pola pikir
pembelajaran yang sudah biasa dilakukan secara konvensional menjadi
pembelajaran yang konstruktif. Guru atau calon guru diharapkan memiliki
kemampuan dalam merancang pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta
selalu merefleksikan hasil pembelajaran sedemikian hingga selalu ada
perkembangan pembelajaran dari hari ke hari.
Selain itu mahasiswa S2 dituntut dapat menulis karya ilmiah dari KPL
yang telah dilakukan. Hal ini sesuai dengan tuntutan Permen PAN dan RB
nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya.
Kebanyakan guru memiliki kelemahan dalam menulis karya ilmiah. Karena
itu dalam KPL berbasis project lesson study ini akan dikembangkan
kemampuan mahasiswa S2 untuk menulis karya ilmiah sebagai salah satu
luaran dari KPL. Mahasiswa merancang kegiatan secara kolaboratif,
melaksanakan peer teaching, melaksanakan praktik pembelajaran di kelas,
melaksanakan observasi, dan melakukan refleksi dan perbaikan. Kegiatan ini
dilakukan secara bersiklus dan selalu dilakukan perbaikan dalam proses
pembelajaran. Dua kemampuan esensial yang ingin dibidik dari kegiatan
KPL yaitu kemampuan: (1) mengembangkan inovasi dan kreasi
pembelajaran, (2) menulis karya ilmiah dari hasil praktik pembelajaran.

10
BAB II
PELAKSANAAN KPL BERBASIS PROJECT LESSON STUDY

Kajian Praktek Lapangan (KPL) merupakan suatu wahana


aktualisasi mahasiswa pascasarjana dalam mengimplementasikan teori
yang telah diperoleh dalam kegiatan akademik. KPL berbasis Project
Lesson Study tidak hanya memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
mendapatkan pengalaman sebagai seorang pengajar, melainkan juga
memberikan pengalaman langsung untuk mengkritisi permasalahan
dalam pembelajaran dan merancang upaya perbaikannya, serta
menuliskan hasil praktik pembelajaran menjadi karya ilmiah yang bisa
dipublikasikan. Pelaksanaan KPL yang dikemas dalam bentuk Lesson
Study akan memberikan hasil yang maksimal karena merupakan hasil
pemikiran bersama sekelompok mahasiswa anggota KPL, dosen/guru
pamong, serta dosen pembimbing.
KPL berbasis Project Lesson Study menawarkan beberapa manfaat
bagi berbagai pihak. Mahasiswa dapat mengaktualisasi diri untuk men-
diagnosis permasalahan pembelajaran di kelas, merencanakan upaya
perbaikan, hingga memberikan rekomendasi tindak lanjut kepada stake-
holder. Siswa maupun mahasiswa sasaran mendapatkan pengalaman
kegiatan pembelajaran yang lebih inovatif dari pelaksananaan KPL. Pihak
sekolah maupun prodi S1 mitra dapat memperoleh informasi mengenai
kondisi kelas maupun siswa yang menjadi object pelaksanaan KPL serta
saran konstruktif dari peserta KPL untuk memperbaiki kualitas pembe-
lajaran.
Mahasiswa S2 dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok
berdasarkan inputnya, yakni (1) input dari guru dan (2) input dari non
guru. Untuk input guru, KPL diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
profesional guru dalam praktik pembelajaran. Guru dituntut untuk
melakukan inovasi pembelajaran dan mampu menulis karya ilmiah sesuai
dengan tuntutan PerMeneg PAN dan RB nomor 16 tahun 2009. Untuk
input non-guru dipersiapkan menjadi pengajar di perguruan tinggi, guru,
calon kepala sekolah, pengawas atau supervisor di sekolah. Melihat
kebutuhan tersebut, KPL berbasis Project Lesson Study ini dilaksanakan

11
dalam dua tempat, yaitu di sekolah dan di kampus. Mahasiswa input guru
melaksanakan KPL di sekolah sedangkan mahasiswa input non-guru bisa
melaksanakan KPL di kampus berintegrasi dengan prodi lain, atau secara
khusus di sekolah-sekolah tempat yang bersangkutan bekerja. Khususnya
Praktikan dari prodi Manajemen Pendidikan, melaksanakan KPL
dengan fokus pada pengalaman dalam pelaksanaan supervisi klinis yang
dapat diterapkan di sekolah-sekolah.

2.1. Pelaksanaan KPL Mahasiswa S2 Input Guru (Prodi Bidang


Studi)
Mahasiswa input guru adalah mahasiswa S2 yang telah berprofesi
sebagai guru di suatu sekolah dengan status PNS atau Non-PNS. Prodi
bidang studi yang dimaksudkan adalah Prodi Matematika, Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan Pendidikan Dasar. Mahasiswa input
guru mendapat kesempatan untuk melaksanakan KPL di sekolah (boleh
juga di sekolah masing-masing). Dalam hal ini guru dipersiapkan untuk
mampu: membuat perencanaan secara kolaboratif, melaksanakan
pembelajaran (open class), memperbaiki pelaksanaan pembelajaran, dan
menuliskan praktik pembelajaran menjadi karya ilmiah yang bisa
dipublikasikan. Proses ini berlangsung secara terus menerus sehingga
membentuk perilaku guru profesional, kreatif, dan inovatif.
Alur pelaksanaan KPL mahasiswa input guru mulai dari tahap
registrasi hingga tahap pelaporan disajikan pada Gambar 2.1. Tahapan-
tahapan tersebut terbagi dalam tiga bagian utama, yaitu kegiatan pra-
KPL, pelaksanaan KPL, pelaporan, dan penulisan artikel ilmiah.
Kegiatan pra-KPL terdiri atas registrasi akademik, penentuan kelompok
Lesson Study, penentuan dosen pembimbing, hingga koordinasi dengan
pihak sekolah. Pelaksanaan KPL mencakup pelaksanaan observasi kelas,
perancangan pembelajaran (plan), pelaksanaan pembelajaran (do),
refleksi kegiatan pembelajaran (see), dan diakhiri dengan evaluasi
pembelajaran. Kegiatan pelaksanaan pembelajaran mengikuti tahapan
siklus lesson study. Kegiatan pelaporan pelaksanaan KPL dilakukan
dengan menyusun keterlaksanaan KPL dengan menggunakan format
yang sudah ditentukan. Kegiatan akhirnya adalah menulis artikel ilmiah

12
berdasarkan praktik lesson study yang sudah dilakukan. Secara lengkap
alur KPL S2 Pascasarjana UM disajikan sebagai berikut.

1. Kegiatan Pra-KPL
a. Pemprograman mata kuliah KPL
Mahasiswa memprogram matakuliah KPL di tingkat universitas
secara online melalui SIAKAD.

Gambar 2.1 Alur Pelaksanaan KPL


Keterangan:
Mi = minggu ke i

b. Pelaporan ke prodi

13
Mahasiswa mengisi formulir pendaftaran KPL yang telah
disediakan oleh pihak prodi S2 Pendidikan Matematika
dengan dilampiri oleh Kartu Rencana Study (KRS) yang
telah disahkan oleh Penasihat Akademik (PA). Data
registrasi ini akan menjadi acuan pembagian kelompok
KPL.
c. Pembentukan kelompok
Satu kelompok terdiri atas 3-4 mahasiswa dan pembagian
kelompok menjadi wewenang prodi.
d. Penentuan dosen pembimbing
Setiap kelompok KPL dibimbing seorang dosen
pembimbing yang penentuannya menjadi wewenang prodi.
e. Pengarahan umum pelaksanaan KPL
Pengarahan umum dilaksanakan oleh prodi sebagai bentuk
pembekalan mahasiswa sebelum melaksanakan KPL.
Pengarahan umum atau orientasi ini dilaksanakan pada
minggu pertama.
f. Koordinasi dengan dosen pembimbing
Koordinasi dengan pembimbing membahas penentuan
sekolah mitra, persiapan koordinasi dengan sekolah mitra,
dan pembekalan pelaksanaan KPL.
g. Penentuan sekolah mitra
Penentuan sekolah mitra dierahkan sepenuhnya kepada
kelompok KPL. Suatu sekolah dapat dipilih sebagai tempat
KPL oleh maksimal dua kelompok KPL pada suatu
semester tertentu. Segala bentuk perijinan serta administrasi
yang diperlukan disesuaikan dengan aturan yang telah
diatur oleh Bagian Administrasi Akademik Pascasarjana
Universitas Negeri Malang.
h. Koordinasi dengan pihak sekolah

14
Koordinasi dengan pihak sekolah menjadi wewenang
kelompok KPL dan dikonsultasikan dengan dosen
pembimbing. Koordinasi dengan pihak sekolah dapat
mencakup bahasan penentuan kelas, penetapan waktu
pelaksanaan, penentuan materi, dan lain-lain. Dalam
pelaksanaan KPL ini mahasiswa diharapkan secara mandiri
mampu menyelesaikan masalah pembelajaran. Karena itu,
mahasiswa tidak didampingi guru pamong saat
pelaksanaan pembelajaran.

2. Pelaksanaan KPL
a. Observasi kelas
Observasi kelas dilaksanakan untuk mengamati dari dekat
kondisi kelas sasaran dan mengidentifikasi permasalahan
yang muncul. Observasi dapat dilakukan dengan
pengamatan langsung maupun melaksanakan pretest atas ijin
guru kelas.
b. Perancangan pembelajaran (Plan)
Pembelajaran yang dirancang disesuaikan dengan hasil
observasi. Perancangan pembelajaran berpedoman kepada
hasil observasi kelas dan saran atau pertimbangan dosen
pembimbing sebagai ahli. Setiap kegiatan Plan direkam
dalam bentuk video dengan ketentuan pada pedoman
penyuntingan video pelaksanaan KPL.
c. Pelaksanaan pembelajaran (Do)
Pembelajaran dilaksanakan dengan setting open-class lesson
study yang melibatkan semua mahasiswa KPL. Setiap
kegiatan Do direkam dalam bentuk video dengan ketentuan
pada pedoman penyuntingan video pelaksanaan KPL.
d. Refleksi Pembelajaran (See)

15
Refleksi pembelajaran dilaksanakan pada akhir
pembelajaran dan diikuti oleh semua anggota kelompok
KPL. Setiap kegiatan See direkam dalam bentuk video
dengan ketentuan pada pedoman penyuntingan video
pelaksanaan KPL. Selain perekaman dalam bentuk video,
kegiatan refleksi ini juga didokumentasikan secara tertulis
oleh notulen. Catatan tertulis ini bertujuan untuk menggali
praktek-praktek terbaik (best practices) dalam usaha
peningkatan kualitas pembelajaran. Kegitan refleksi dapat
dilanjutkan dengan merancang pembelajaran (Plan) untuk
siklus berikutnya.
e. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dilaksanakan setelah selesai
dilaksanakannya pembelajaran satu Kompetensi Dasar yang
telah ditentukan. Pelaksanaan evaluasi ini bersifat opsional
bergantung kapada lingkup KD yang dibelajarkan. Jika
pembelajaran dilaksanakan terus menerus di kelas yang
sama sampai menuntaskan satu KD, maka KPL itu dapat
dilanjutkan dengan evaluasi.

3. Penyusunan Laporan dan Penulisan Artikel


Kegiatan akhir KPL adalah penyusunan laporan dan
penulisan artikel ilmiah. Laporan KPL dibuat secara individu
dengan 3 copy: satu eksemplar untuk prodi, satu eksemplar untuk
pasca, dan satu eksemplar untuk Sekolah. Laporan untuk prodi S2
pascasarjana berupa produk pelaksanaan KPL yang meliputi
perangkat pembelajaran, lembar observasi, dan video dokumentasi
KPL. Laporan mencakup diagnosis permasalahan kelas, upaya
perbaikan (implementasi lesson study), hasil yang diperoleh dari
upaya perbaikan masalah maupun hasil evaluasi pembelajaran, dan
rekomendasi konstruktif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran

16
di sekolah. Tahapan akhir peserta KPL wajib menyusun artikel
ilmiah secara mandiri dengan bahan dari hasil pelaksanaan KPL.
Laporan, produk, dan artikel ilmiah disusun sesuai dengan
pedoman yang telah ditentukan pada bab III.

2.2. Pelaksanaan KPL Mahasiswa S2 Input Non-guru (Prodi


Manajemen)
Mahasiswa input non-guru adalah mahasiswa S2 yang tidak
memiliki status sebagai guru. Mahasiswa input guru dapat
diikutsertakan sebagai peserta KPL mahasiswa input non-guru bila
memiliki kualifikasi tertentu sesuai dengan keputusan prodi.
Mahasiswa input non-guru mendapat kesempatan untuk
melaksanakan KPL di kampus. Kampus sebagai tempat KPL input
non-guru, karena mahasiswa yang tidak berstatus sebagai guru
memiliki kesempatan berkarir sebagai dosen, sehingga perlu
dibekali materi yang berorientasi pada perguruan tinggi dengan
praktik mengajar di kampus. Untuk itu, mahasiswa input non-guru
perlu mendapatkan pengalaman mengajar di kampus. Khusus
praktikan dari prodi Manajemen Pendidikan, melaksanakan
KPL dengan fokus pada pengalaman dalam pelaksanaan
supervisi klinis yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah,
secara lengkap disajikan di Bab IV.
Alur pelaksanaan KPL mahasiswa input non-guru disajikan
pada Gambar 2.2. Kegiatan dimulai dari tahap registrasi hingga
tahap pelaporan. Tahapan-tahapan tersebut terbagi dalam tiga
bagian utama, yaitu kegiatan pra-KPL, kegiatan peer teaching,
pelaksanaan KPL, kegiatan pelaporan dan penyusunan artikel
ilmiah. Kegiatan pra-KPL terdiri atas registrasi akademik,
penentuan kelompok Lesson Study, penentuan dosen pamong.
Kegiatan peer teaching mencakup persiapan (PLAN), pelaksanaan

17
peer teaching (DO), refleksi dan perbaikan perencanaan (SEE).
Kegiatan pelaksanaan KPL dilakukan dengan observasi kelas,
merancang pembelajaran (PLAN), melaksanakan pembelajaran (DO),
refleksi kegiatan pembelajaran, dan diakhiri dengan perbaikan rencana
pembelajaran (SEE). Kegiatan akhir berupa pelaporan pelaksanaan KPL
untuk pasca dan prodi, serta menyusun artikel ilmiah.

18
MEMPROGRAM
MATA KULIAH KPL

PEER TEACHING
MELAPORKAN KE PRODI

OBSERVASI KELAS
PEMBAGIAN KELOMPOK

MERANCANG
PENENTUAN PEMBELAJARAN (PLAN)
DOSEN PEMBIMBING

PELAKSANAAN
PENGARAHAN UMUM PEMBELAJARAN (DO)
PELAKSANAAN KPL

REFLEKSI
KOORDINASI DENGAN PEMBELAJARAN (SEE)
DOSEN PEMBIMBING

EVALUASI
PENENTUAN PEMBELAJARAN
DOSEN PAMONG

KOORDINASI DENGAN
DOSEN PAMONG

PRODI S2 PELAPORAN PRODI S1 MITRA


PEND. MATEMATIKA UM

 LAPORAN UNTUK  DIAGNOSIS


SEKOLAH MITRA PERMASALAHAN
 PRODUK LESSON STUDY KELAS
(PERANGKAT ARTIKEL ILMIAH  UPAYA PERBAIKAN
PEMBELAJARAN, (IMPLEMENTASI
LEMBAR OBSERVASI, LESSON STUDY)
DAN VIDEO  HASIL
DOKUMENTASI KPL.)  REKOMENDASI

Gambar 2.2 Diagram Alur Pelaksanaan KPL Mahasiswa Input Non-guru

19
Khusus untuk mahasiswa S2 Manajemen akan diatur tersendiri alur
KPLnya. Adapun alur pelaksanaan KPL mahasiswa input non-guru
dilakukan sebagai berikut.

1. Kegiatan Pra-KPL
a. Memprogram mata kuliah KPL
Mahasiswa memprogram matakuliah KPL di tingkat universitas
secara online melalui SIAKAD.
b. Melaporkan ke Prodi
Mahasiswa mengisi formulir pendaftaran KPL yang telah
disediakan oleh pihak prodi S2 Pendidikan Matematika dengan
dilampiri oleh Kartu Rencana Study (KRS) yang telah disahkan
oleh Penasihat Akademik (PA). Data registrasi ini akan menjadi
acuan pembagian kelompok KPL.
c. Pembagian kelompok
Kelompok terdiri atas 3-4 orang mahasiswa dan pembagian
kelompok menjadi wewenang prodi.
d. Penentuan dosen pembimbing
Setiap kelompok KPL memiliki satu orang dosen pembimbing
yang penentuannya menjadi wewenang prodi.
e. Pengarahan umum pelaksanaan KPL
Pengarahan umum dilaksanakan oleh prodi sebagai bentuk
pembekalan mahasiswa sebelum melaksanakan KPL
f. Koordinasi dengan dosen pembimbing
Koordinasi dengan pembimbing membahas persiapan koordinasi
dengan dosen pamong, koordinasi pelaksanaan peer teaching, dan
pembekalan pelaksanaan KPL.
g. Penentuan dosen pamong
Penentuan dosen pamong diatur oleh prodi. Setiap kelompok
mahasiswa KPL mendapatkan satu orang dosen pamong. Setiap
dosen yang ditunjuk sebagai dosen pamong membimbing
maksimal dua kelompok mahasiswa KPL pada mata kuliah yang
sama dan dapat menjadi dosen pamong pada mata kuliah yang lain
yang diampunya.

20
h. Koordinasi dengan dosen pamong
Kelompok mahasiswa KPL berkoordinasi dengan dosen pamong
untuk membahas materi mata kuliah yang akan diajarkan, waktu
pelaksanaan, evaluasi pembelajaran, dll.

2. Kegiatan Peer Teaching


a. Plan peer teaching
Plan peer teaching dilaksanakan oleh setiap kelompok KPL dan
dipandu oleh dosen pembimbing. Dalam menyusun Plan sangat
ditekankan kepada mahasiswa bahwa mereka harus menyiapkan
materi kuliah secara mendalam.
b. Do peer teaching
Setiap mahasiswa wajib melakukan peer teaching dihadapan
mahasiswa lain. Mahasiswa sebagai dosen model melakukan
pembelajaran dengan muridnya adalah mahasiswa temannya.
Dalam proses do peer teaching dilakukan perekaman dengan
video dan hasilnya harus dilampirkan dalam laporan KPL.
c. See peer teaching
Setelah selesai melaksanakan peer teaching, mahasiswa wajib
melalukan refleksi dan memperbaiki perencanaan untuk praktik
pembelajaran di kelas mahasiswa.

3. Pelaksanaan KPL
a. Observasi kelas
Observasi kelas dilaksanakan untuk melihat kondisi kelas sasaran
dan mendiagnosis permasalahan yang muncul. Kegiatan obser-
vasi dapat melalui pengamatan langsung maupun melaksanakan
pretest sesuai dengan ijin dosen pamong.
b. Merancang pembelajaran (Plan)
Pembelajaran yang dirancang disesuaikan dengan kondisi kelas
hasil observasi. Perancangan pembelajaran melibatkan dosen
pamong dan juga dapat melibatkan dosen pembimbing sebagai
ahli. Setiap kegiatan Plan direkam dalam bentuk video dengan
ketentuan pada pedoman penyuntingan video pelaksanaan KPL.

21
c. Melaksanakan pembelajaran (do)
Pembelajaran dilaksanakan dengan setting open-class lesson
study yang melibatkan semua anggota KPL dan dosen pamong.
Setiap kegiatan Do direkam dalam bentuk video dengan
ketentuan pada pedoman penyuntingan video pelaksanaan KPL.
d. Refleksi Pembelajaran (See)
Refleksi pembelajaran melibatkan dosen pamong dan juga dapat
melibatkan dosen pembimbing sebagai ahli. Setiap kegiatan See
direkam dalam bentuk video dengan ketentuan pada pedoman
penyuntingan video pelaksanaan KPL. Kegitan refleksi dapat
dilanjutkan dengan merancang pembelajaran (Plan) untuk siklus
berikutnya.
e. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dilaksankan setelah selesai dilaksanakan-
nya pembelajaran pada suatu bab/subbab yang telah ditentukan.

4. Pelaporan dan Penulisan Artikel Ilmiah


Kegiatan akhir KPL adalah penyusunan laporan dan penulisan
artikel ilmiah. Laporan KPL dibuat secara individu dengan 2 copy: satu
eksemplar untuk prodi dan satu eksemplar untuk pasca. Laporan untuk
prodi S2 Pendidikan Matematika berupa produk pelaksanaan KPL yang
meliputi perangkat pembelajaran, lembar observasi, dan video dokumen-
tasi peer teaching KPL. Laporan mencakup diagnosis permasalahan kelas,
upaya perbaikan (implementasi lesson study), hasil yang diperoleh dari
upaya perbaikan masalah maupun hasil evaluasi pembelajaran, dan reko-
mendasi konstruktif untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Tahapan
akhir peserta KPL wajib menyusun artikel ilmiah secara mandiri dengan
bahan dari hasil pelaksanaan KPL. Laporan, produk, dan artikel ilmiah
disusun sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan pada bab III.

22
BAB III
PEDOMAN DAN PRODUK KPL
BERBASIS PROJECT LESSON STUDY

3.1. Pedoman Observasi


Dalam kegiatan KPL, obervasi dipilah menjadi dua, yaitu
obervasi sekolah dan observasi lesson study. Observasi sekolah
dilaksanakan sebelum mahasiswa melaksanakan praktik. Observasi
sekolah dimaksudkan untuk mencari semua hal yang akan digunakan
merancang pembelajaran. Observasi lesson study dilaksanakan pada saat
mahasiswa tampil praktik di sekolah. Hasil observasi lesson study
digunakan sebagai bahan refleksi pembelajaran.

3.1.1 Pedoman Observasi Sekolah


Sebelum kegiatan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
dilaksanakan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah
melaksanakan observasi sekolah. Tujuan pelaksanaan observasi
sekolah adalah untuk mengenal sekolah sasaran dengan
mempelajari pelaksanaan administrasi sekolah dan pelaksanaan
proses pembelajaran.

Pelaksanaan Administrasi Sekolah


Hal-hal yang perlu diobservasi adalah sebagai berikut:
(1) Identitas sekolah (visi, misi)
(2) Jumlah rombel dalam setiap tingkatan kelas
(3) Jumlah siswa dalam setiap kelas
(4) Jam pembelajaran di sekolah (jam masuk, jam istirahat, dan jam
pulang)
(5) Tata tertib sekolah
(6) Kurikulum bidang studi (prota, promes, & model RPP)
(7) Karakteristik siswa kelas yang akan diajar

Pelaksanaan Proses Pembelajaram


Hal-hal yang perlu diobservasi adalah sebagai berikut:
(1) Jumlah siswa dalam kelas

23
(2) Kegiatan pembuka pembelajaran (pre-teaching)
(3) Kegiatan inti pembelajaran
- Strategi pembelajaran
- Langkah-langkah pembelajaran
- Interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran
- Asesmen pembelajaran
(4) Kegiatan penutup pembelajaran
(5) Materi pembelajaran (buku teks. LKS dan handout);
(6) Media pembelajaran

Lembar Observasi Pelaksanaan Administrasi Sekolah

Nama Sekolah: _____________________________


Alamat: ___________________________________

(1) Identitas sekolah (visi, misi)

Visi:
___________________________________________________

___________________________________________________
Misi:
___________________________________________________

___________________________________________________

(2) Jumlah rombel dalam setiap tingkatan kelas

Kelas 7: ______ Kelas 8: ______ Kelas 9: ______

(3) Jumlah siswa dalam setiap kelas: ______ - _______

24
(4) Jam pembelajaran di sekolah (jam masuk, jam istirahat, dan jam
pulang)

Jam masuk hari Senin:


Jam istirahat I: ______ - _____ Jam istirahat II: _____ - _____
Jam masuk hari Selasa--Sabtu:
Jam istirahat I: ______ - _____ Jam istirahat II: ____ - _____
Jam pulang hari Senin: _______
Jam pulang hari Selasa—Kamis: _______
Jam pulang hari Jumat: _______
Jam pulang hari Sabtu: _______

(5) Tata tertib sekolah (Tuliskan dua yang terpenting)

(a) ________________________________________________
(b) ________________________________________________
(6) Kurikulum bidang studi (prota, promes, & model RPP)

Prota: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada


Promes: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada
Model RPP: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada

(7) Karakteristik siswa kelas yang akan diajar:


‫ ۝‬Cenderung aktif
‫ ۝‬Cenderung pasif

Lembar Observasi Pelaksanaan Proses Pembelajaran

(1) Jumlah siswa dalam kelas ________


(2) Kegiatan pembuka pembelajaran (pre-teaching)
_____________________________________________________
_____________________________________________________

(3) Kegiatan inti pembelajaran


- Strategi pembelajaran

25
______________________________________________________

_____________________________________________________

- Langkah-langkah pembelajaran

______________________________________________________

______________________________________________________

______________________________________________________

______________________________________________________
- Interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran
‫ ۝‬Sangat Aktif ‫ ۝‬Aktif ‫ ۝‬Biasa saja ‫۝‬
Cenderung pasif

Model interaksi (bisa lebih dari satu):


‫ ۝‬Tanya jawab
‫ ۝‬Penugasan
‫ ۝‬Lainnya (Sebutkan):

- Asesmen pembelajaran

Jenis asesmen (Deskripsikan)

______________________________________________________

(4) Kegiatan penutup pembelajaran

_____________________________________________________

______________________________________________________

(5) Materi pembelajaran (buku teks. LKS dan handout);

26
Buku teks: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada
LKS: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada
Handout: ‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada

(6) Media pembelajaran‫ ۝‬Tidak Ada ‫ ۝‬Ada


(Sebutkan):

3.2.Pedoman Observasi Lesson Study


Kegiatan lesson study dilakukan dengan tiga tahapan: (1)
plan – perencanaan, (2) do – pelaksanaan pembelajaran (open
class), dan (3) refleksi. Perencanaan pembelajaran disusun secara
bersama oleh sekelompok guru yang memiliki komitmen sama
dalam pembelajaran. Hasil perencanaan pembelajaran merupakan
hasil atau milik bersama. Apabila ada kekurangan atau kelebihan
dalam praktiknya juga merupakan kekurangan atau kelebihan
bersama. Karena itu perencanaan harus dibuat dengan sedetail
mungkin, termasuk prediksi apa yang terjadi pada aktivitas siswa
dalam pembelajaran. Perencanaan yang sudah dibuat selanjutnya
dipraktikkan oleh guru model yang dimbil dari salah satu guru
perencana pembelajaran.
Kegiatan open class dilakukan di salah satu sekolah tempat
praktik, boleh di sekolah asal guru model (mungkin akan lebih
baik) atau boleh juga di sekolah yang lain. Open class dilakukan
dengan alokasi waktu sesuai perencanaan. Dalam open class juga
dilakukan observasi terhadap proses belajar siswa. Observer berasal
dari kelompok guru lesson study ditambah dengan guru lain yang

27
ingin jadi observer. Hal utama dalam observasi adalah mengamati
proses belajar siswa (BUKAN mengamati proses guru mengajar),
meskipun proses belajar siswa sebenarnya merupakan cerminan
proses pembelajaran. Hasil observasi akan dijadikan bahan untuk
perbaikan pembelajaran dan menulis artikel ilmiah. Karena itu
dalam melaksanakan observasi, observer harus menuliskan secara
detail apa yang terjadi pada belajar siswa. Untuk keperluan
tersebut, lembar observasi dirancang secara detail mulai dari
kesiapan siswa belajar, kegiatan pendahuluan (apersepsi/motivasi/
pemanasan berpikir/advance organizer), kegiatan inti (termasuk
interaksi berpikir siswa-siswa dan siswa-guru), kendala-kendala
siswa belajar dan hal-hal unik, sampai kegiatan penutup. Adapun
format lembar observasi kegiatan lesson study disajikan seperti
berikut.
IDENTITAS

LEMBAR OBSERVASI OPEN CLASS - LESSON STUDY

Nama Sekolah : .......................................................


Tanggal Pelaksanaan : ………............................…….......
Guru Model : ......................................................
Observer : 1. ..................................................
2. ..................................................
3. ..................................................
4. ..................................................

28
KEGIATAN PENDAHULUAN

A. Bagaimana kesiapan belajar siswa? (respon siswa ketika guru


mempersiapkan belajar siswa)
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
B. Bagaimana kondisi / respon siswa ketika guru menyampaikan
kegiatan apersepsi / motivasi / pemanasan berpikir / advance
organizer?
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………

KEGIATAN INTI

A. Bagaimana interaksi yang terjadi dalam pembelajaran: siswa dengan


siswa dan siswa dengan guru?
Siswa dengan siswa (kapan mulai dan sampai kapan terjadi)
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
………………………………………………………………………
Deskripsikan pemicu terjadinya interaksi siswa dengan siswa!
(apakah masalah yang diberikan oleh guru, tugas dalam LKS,
perbedaan pendapat, diskusi atau sebab lainnya). Sertakan bukti
pemicu terjadinya interaksi (masalahnya, pendapatnya atau yang
lain)
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
29
…………………………………………………………………
Siswa dengan guru (kapan mulai dan sampai kapan terjadi)
………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………..
Deskripsikan pemicu terjadinya interaksi siswa dengan guru!
(apakah karena pancingan pertanyaan dari guru, apakah siswa
bertanya, atau faktor lainnya). Sertakan bukti pemicu terjadinya
interaksi (masalahnya, pendapatnya atau yang lain)
………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………..
..............................................................................................................

B. Siswa mana yang tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik


(atau terganggu dalam belajar) pada hari ini? (harus didasarkan
pada fakta konkrit yang diamati dengan disertai nama siswa,
termasuk kapan terjadinya gangguan, berapa lama gangguan itu
terjadi)
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
Mengapa siswa tersebut tidak dapat belajar dengan baik
(terganggu dalam belajar) ? Menurut Anda apa penyebabnya?
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
Bagaimana upaya guru untuk mengatasi gangguan belajar
tersebut? Kapan gangguan belajar tersebut teratasi?
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
Menurut Anda, alternatif apa yang dapat dilakukan untuk
mengatasi siswa yang terganggu dalam belajar?
…………………………………………………………………… 30

……………………………………………………………………
C. Deskripsikan hal-hal unik yang terjadi pada saat pembelajaran
(misalnya siswa yang menghasilkan jawaban salah mengalami
proses belajar sedemikian hingga menjadi benar, kondisi unik
siswa ketika diberi media pembelajaran, atau yang lainnya)
…………………………………………………………………....
……………………………………………………………………
KEGIATAN PENUTUP
A. Bagaimana keterlibatan siswa dalam kegiatan penutup
(melakukan refleksi, merangkum, dan sebagainya)?

……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
B. Bagaimana respon siswa, ketika guru menyampaikan tindak lanjut
pembelajaran (seperti memberikan arahan, memberi tugas
sebagai bagian dari remidi)?

……………………………………………………………………
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………

HIKMAH PEMBELAJARAN

Pelajaran berharga apa yang dapat Anda petik dari pengamatan


pembelajaran hari ini?
……………………………………………………………….......
……………………………………………………………………
……………………………………………………………………

31
…………., ………………20......
Observer
3.3. Pedoman Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran perlu
mempertimbangkan prinsip-prinsip: (1) perbedaan individu peserta
didik, (2) mendorong partisipasi aktif peserta didik, (3) pengem-
bangan budaya membaca dan menulis, (4) pemberian umpan balik
dan tindak lanjut, (5) keterkaitan dan keterpaduan, (6) penerapan
teknologi informasi dan komunikasi, (7) pembiasaan berpikir pada
tingkat yang lebih tinggi (HOT). Pada prinsip pertama, RPP
disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin,
kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar,
bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan
khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai,
dan/atau lingkungan peserta didik. Prinsip kedua menjelaskan
bahwa proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada
peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas,
inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar. Prinsip
ketiga, proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan
kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan
berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan. Menurut prinsip
keempat, RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik
positif, penguatan, pengayaan dan remedi. Prinsip kelima, RPP
disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara
KD, indikator pencapaian kompetensi, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu
keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan menga-
komodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata
pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya. Dan prinsip
keenam, RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan
teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis,
dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

32
Dalam rancangan RPP harus memuat minimal tiga kegiatan,
yaitu: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Kegiatan pendahuluan diarahkan, antara lain untuk memberikan:
(1) pemanasan berpikir, (2) apersepsi, dan (3) motivasi. Pemanasan
berpikir digunakan untuk menumbuhkan terjadinya disequlibrasi,
sedemikian hingga proses adaptasi (asimilasi dan akomodasi)
mudah berlangsung. Dengan pemanasan berpikir juga dapat
meningkatkan kesiapan siswa untuk belajar. Beberapa kegiatan
pemanasan berpikir, antara lain: memberikan pertanyaan
menantang yang terkait dengan pelajaran yang akan berlangsung.
Pertanyaan menantang tidak harus langsung dijawab di awal,
jawaban bisa diberikan ketika kegiatan inti akan selesai.
Apersepsi digunakan untuk mendorong terjadinya proses
pembelajaran bermakna. Dalam hal ini, pembelajaran akan menjadi
bermakna apabila materi yang akan dipelajari “terkait” dengan
pengetahuan yang sudah dimiliki oleh anak. Sehingga terjadi
kesinambungan yang kuat dalam proses berpikir. Sebaliknya,
apabila materi yang diberikan dalam proses pembelajaran “lepas”
(tidak terkait dengan struktur pengetahuan yang diberikan), maka
konstruksi pengetahuan yang terjadi akan sangat lemah. Karena itu
apersepsi sangat penting dalam proses pembelajaran. Kegiatan
apersepsi diarahkan untuk mengetahui “struktur pengetahuan” yang
sudah dimiliki oleh anak. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi-
kan beberapa pertanyaan yang mengarah pada penguasaan materi
prasyarat. Dengan mengetahui struktur pengetahuan awal siswa,
maka dapat ditentukan kesiapan siswa, sehingga guru dapat
menentukan “harus dimulai dari materi apa”.
Memberikan motivasi kepada siswa merupakan bagian
penting dalam proses pembelajaran. Dengan adanya motivasi,
siswa akan cenderung semangat mengikuti kegiatan pembelajaran.
Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam memberi motivasi

33
adalah menjelaskan kegunaan materi yang akan dipelajari untuk
kehidupan. Dalam RPP, kegiatan pendahuluan (pemanasan
berpikir, apersepsi, dan motivasi) harus dinyatakan secara eksplisit.
Misalkan kegiatan pendahuluan dilakukan dengan memberikan
pertanyaan, maka pertanyaan tersebut juga harus dituliskan.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam
kegiatan KPL berbasis lesson study ini disengaja berbeda
dengan RPP untuk pembelajaran yang sudah biasa dilakukan.
Kajian Pengalaman Lapangan (KPL) ini bercirikan penerapan
Lesson Study. Karena itu pelaksanaan pembelajaran merupakan
realisasi dari tahap DO dari rencana pembelajaran (RPP) yang telah
disepakati bersama oleh tim pada tahap PLAN. Dengan demikian,
RPP yang dikembangkan dalam KPL ini bukan RPP sebagaimana
biasa di sekolah, melainkan RPP yang lebih memungkinkan
terjadinya refleksi yang optimal yang dilakukan pada tahap SEE
sehingga pembelajaran yang inovatif dimungkinkan diwujudkan
keberadaannya.
RPP yang dikembangkan dalam KPL ini adalah RPP yang
sengaja dirancang untuk mencapai tujuan bersama dari semua
anggota tim. RPP tersebut bukanlah hasil kerja dari satu orang,
tetapi hasil kerja seluruh anggota tim. RPP tersebut tidak
diselesaikan di rumah, melainkan di tempat menyusun rencana
bersama. Format penulisan RPP selebihnya, misalnya tentang
identitas, lay out dll, menyesuaikan diri dengan format yang
berlaku di sekolah tempat praktik. Guru boleh menggunakan format
RPP untuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), atau
Kurikulum 2013.
Namun demikian, untuk membantu terwujudnya
pelaksanaan Lesson Study yang baik, RPP yang digunakan dalam
kegiatan KPL ini hendaknya disusun secara mendetil, tidak
memerlukan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). RPP ini juga bias

34
digunakan sekaligus sebagai bahan atau alat untuk melakukan
pengamatan. Karena itu, RPP di dalam kegiatan KPL ini
diwajibkan memuat 5 kolom, yang terdiri dari hal-hal sebagai
berikut. Kolom (1) berisi tindakan guru, secara detil. Kolom (2)
berisi tujuan dilakukannya tindakan tersebut. Kolom (3) berisi
dugaan reaksi siswa terkait dengan tindakan guru tersebut. Kolom
(4) berisi rencana respon guru terhadap reaksi siswa. Kolom (5)
berisi deskripsi evaluasi ketercapaian tujuan tindakan guru.

Panduan Pengisian Kolom-kolom dalam RPP


Misalkan tujuan yang ingin dicapai oleh tim adalah
mendorong anak untuk mau berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Mengetahui tujuannya seperti itu, apa yang harus
diisikan dalam setiap kolomnya.

35
Contoh 1. Mata Pelajaran Matematika

Kolom (1).
Misalkan kita ingin membelajarkan siswa tentang sifat-sifat
bilangan. Kalau kita ingin mendorong anak berpartisipasi aktif,
menurut teori, kita harus menyajikan masalah yang bersifat
kontekstual (yang dekat dengan anak), dan bersifat menarik serta
menantang. Oleh karena itu, salah satu langkah pertama yang
mungkin dilakukan guru adalah meminta anak mendengarkan cerita
berikut dan memberikan tugas tertentu.
Anak-anak. Hari ini, pak Rahman memiliki rejeki
berlimpah. Pak Rahman ingin berbagi dengan kalian. Ada
uang sebesar Rp500.000 yang akan saya bagikan kepada
kalian saat ini juga (sambal memperlihatkan dan
menempelkan lima lembar uang Rp100.000 di papan)
kepada kalian yang mampu menjawab permasalahan yang
Bapak berikan.
Ceritanya begini. Seorang pengusaha restoran
memberikan kupon kepada setiap pembeli yang berbelanja
di restoran itu minimal sebesar Rp100.000. Kupon-kupon
itu diberi nomor, dan nomor-nomor yang ada pada kupon
itu adalah 12, 81, 72, 36, 54, 18, 66, 39, 51, 9, 75, 84, 96,
3, dan 15. Tidak ada lagi nomor kupon selain itu.
Si pengusaha tersebut mengatakan bahwa dia akan
memberikan hadiah sebuah sepeda motor baru senilai
Rp15.000.000 kepada siapapun yang bisa menghasilkan
kumpulan kupon dengan jumlah nomornya sama dengan
100.
Tugas kalian adalah, temukan kombinasi bilangan dari
kupon-kupon tersebut sehingga jumlahnya 100. Anda
boleh gunakan dua kupon, tiga kupon, empat kupon dan
lima kupon. Yang penting, jumlahnya harus 100.

36
Cerita dan tugas inilah yang perlu dituliskan dalam Kolom (1),
tidak dalam LKS.

Ketika atau setelah mereka selesai mengerjakan tugas pertama ini,


guru bisa melanjutkan meminta siswa mengerjakan tugas-tugas
yang berikutnya. Semua tugas tersebut perlu ditambahkan juga di
kolom (1) ini.

Kolom (2)
Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang guru harus
memiliki tujuan sehingga setelah diakumulasi, tujuan dari semua
tindakan tersebut adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang
ingin dicapai oleh tim.
Mari kita kembali kepada tindakan pertama di atas. Apa
tujuan yang ingin dicapai dengan memberikan ilustrasi tentang
kegiatan pengusaha restoran tersebut? Mungkin, guru ingin para
siswanya terfokus perhatiannya, dan mencoba mengotak-atik
bilangan-bilangan tersebut sehingga menghasilkan bilangan 100.
Kalau itu yang memang diinginkan oleh guru, maka di
dalam kolom (2) yang harus dituliskan adalah:
Siswa, secara sendiri-sendiri atau
berpasangan, mengotak-atik beberapa
bilangan dari nomor-nomor yang
disediakan oleh pgnusaha restoran
tersebut untuk menghasilkan jumlah sama
dengan 100

Kolom (3)
Tidak semua siswa akan aktif mengotak-atik bilangan-
bilangan tersebut. Reaksi mereka bisa bermacam-macam, antara
lain:

37
 Ada siswa yang acuh tak acuh, dan diam saja
 Ada siswa yang bercanda dengan teman sebelahnya,
 Ada siswa yang mencoba-coba dan mengklaim menemukan
kombinasi bilangan yang bisa menghasilkan jumlah 100, dan
 Ada siswa yang menyatakan tidak menemukan kombinasi yang
mungkin, tetapi tidak mampu memberikan alasan
 Ada siswa yang menemukan sifat-sifat dari bilangan-bilangan
yang ada pada nomor kupon tersebut.

Macam-macam reaksi siswa itulah yang perlu dituliskan


dalam Kolom (3).

Kolom (4)
Respon guru terhadap reaksi siswa akan sangat menentukan
bagaimana tindakan siswa berikutnya. Karena itu, semua reaksi
siswa perlu direspons dengan baik dan tepat agar mereka bisa
mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu berpartisipasi aktif.
Guru harus merancang tindakan yang akan dilakukannya
ketika ada siswa yang acuh tak acuh terhadap cerita yang diberikan.
Guru harus merancang tindakan yang akan dilakukannya ketika ada
siswa yang bercanda dengan temannya. Guru harus merancang
tindakan yang akan dilakukannya ketika ada siswa yang
mengklaim menemukan kombinasi bilangan dengan jumlah
100. Guru harus merancang tindakan yang akan dilakukannya
ketika siswa menyatakan tidak ada kombinasi dari bilangan
tersebut yang jumlahnya 100 tetapi tidak menemukan alasan
tentang sifat-sifatnya. Guru juga harus merancang tindakan yang
akan dilakukannya ketika ada siswa yang menemukan sifat-sifat
dari bilangan tersebut.
Semua rancangan tindakan ini perlu dituliskan di dalam
Kolom (4).

38
Kolom (5)
Mengingat tujuan besar yang ditetapkan adalah akumulasi
dari pencapaian tujuan dari setiap tindakan yang ada, guru juga
perlu melakukan evaluasi apakah tujuan dari setiap tindakannya
sudah tercapai. Guru perlu mendeskripsikan seberapa jauh tujuan
itu tercapai. Tentunya, evaluasi ini didasarkan kepada indikator
ketercapaian yang disepakai bersama oleh tim.
Karena itu, di Kolom (5) guru perlu menuliskan dua
alternative tulisan. Pertama, tujuan tindakan telah tercapai. Kedua,
tujuan tindakan belum tercapai. Masing-masing tulisan ini nantinya
dilengkapi dengan deskripsi yang lebih mendetail tentang deskripsi
ketercapaian atau ketidaktercapaiannya.

Contoh 2: Mata Pelajaran Bahasa Indonesia


Kolom (1)
Seorang guru bahasa Indonesia (GBI) akan membelajarkan
tentang tentang ciri isi dan ciri bahasa dalam teks cerita sejarah.
Agar pembelajaran itu menarik, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,
guru dapat memulainya dengan beberapa cara. Misalnya,
ditampilkan gambar-gambar tokoh sejarah yang populer dan
dikenal oleh siswa, misalnya di bidang olah raga, seni, musik,
bahkan tokoh-tokoh hebat di bidang kuliner. Siswa dapat
berkelompok sesuai dengan gambar tokoh yang diminati.
Kemudian guru memancing dengan formula pertanyaan 5 W 1 H.
Setiap kelompok mengajukan pertanyaan sesuai dengan gambar-
gambar terpilih.

39
Kolom (2)
Siswa secara berkelompok merespon gambar dengan
mengajukan sejumlah pertanyaan dan menjawabnya dalam tulisan
atau teks. Misalnya, siapa nama atau identitas tokoh dalam gambar
itu, kapan tokoh itu hidup, di mana ia dilahirkan, apa saja
prestasinya, bagaimana perjalan hidupnya, apa pesan moralnya dsb.
Sebagian siswa mengajukan pertanyaan dan sebagian lagi
menjawab. Siswa berkelompok mengajukan pertanyaan dan
sebagian lagi menjawabnya dalam tulisan atau teks. Diharapkan
setiap kelompok menghasilkan sebuah teks cerita sejarah sesuai
dengan pertanyaan yang diberikan oleh sekolompok siswa penanya.
Setelah teks tersusun, siswa mencermati ciri penggunaan bahasa
dari isi teks cerita sejarah yang dihasilkan.

Kolom (3)
Kemungkinan reaksi siswa bermacam-macam ada siswa yang acuh
tak acuh, dan diam saja atau asyik dengan kegiatan sendiri bahkan
mungkin ada yang mencoba menemukan sendiri.
Kolom (4)
Rencana respon guru terhadap reaksi siswa akan sangat
menentukan bagaimana tindakan siswa berikutnya. Siswa atau
sekelompok siswa yang masih kebingungan perlu dituntun dan
diarahkan dengan contoh-contoh, siswa yang sudah mulai mengerti
cukup dibimbing dan didampingi sesekali oleh guru. Siswa atau
sekelompok siswa yang telah terampil dileluasakan dengan
bereksperimen dengan cara mereka sendiri.

Kolom (5)
Evaluasi yang diberikan berupa deskripsi capaian
pembelajaran, misalnya dikelompokkan (a) siswa yang mampu
mengidentifikasi isi teks cerita sejarah tetapi belum utuh, (b) siswa

40
yang mampu mengidentifikasi isi teks cerita sejarah secara utuh,
(c) siswa belum mampu mengidentifikasi isi teks cerita sejarah
secara utuh.

Contoh 3. Mata Pelajaran IPA

Kolom (1) : Tindakan Guru


Seorang guru IPA di SMP hendak membelajarkan materi rangkaian
seri dan paralel dalam rangkaian listrik. Guru harus paham
karakteristik dan aplikasi materi kelistrikan tersebut sehingga pada
saat menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dapat
mengarahkan kegiatan siswa pada kegiatan yang kontekstual,
menantang, dan lebih mudah dipahami siswa. Langkah pertama
pada kegiatan awal yang dapat dilakukan guru menyiapkan media
rumah-rumahan yang dilengkapi rangkaian listrik untuk
demonstrasi.
Guru menyajikan sebuah fenomena dengan menyajikan
sebuah rumah-rumahan yang terbuat dari kertas dus atau
triplek dan pada rumah-rumahan tersebut tersedian
rangkaian listrik dengan dua sakelar dengan beberapa
lampu. Guru melakukan demonstrasi nyala dan matinya
lampu dengan menggunakan sakelas sehingga siswa bisa
melihat ada dua lampu yang dapat menyala atau mati
bersamaan, dan dua lampu yang dapat menyala atau mati
secara sendiri-sendiri.
Selanjutnya guru mengajukan masalah mengapa yang
menyebabkan lampu-lampu tersebut dapat menyala atau mati
bersamaan atau secara sendiri-sendiri? Atau guru
memancing siswa untuk mengajukan pertanyaan berdasarkan

41
fenomena yang diberikan sehingga dapat dirumuskan sebuah
hipotesis.

Kegiatan ini ditulis pada kolom (1) secara spesifik dan rinci
sehingga jelas kegiatannya, siapa yang dilibatkan, materi ajar yang
akan dibahas, dan target kegiatan yang akan dicapai. Kegiatan guru
pada tahap berikutnya (kegiatan inti dan penutup sesuai sintaks
pembelajaran yang digunakan) selalu ditulis secara spesifik materi,
media, dan kegiatannya pada kolom (1)

Kolom (2) : Tujuan Tindakan


Pada kolom (2) dicantumkan tujuan tindakan atau kegiatan
guru. Setiap tindakan yang dilakukan oleh seorang guru harus
memiliki tujuan sehingga setelah diakumulasi, tujuan dari semua
tindakan tersebut adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang
ingin dicapai oleh tim.
Mari kita kembali kepada tindakan guru pada kolom (1).
Apa tujuan yang ingin dicapai dengan memberikan demonstrasi
tentang nyala lampu pada rumah-rumahan? Mungkin, guru ingin
para siswanya terfokus perhatiannya pada materi yang dibahas pada
pertemuan tersebut, dan mencoba melakukan pengamatan terhadap
hal-hal yang ada pada media rumah-rumahan dan mencoba
langsung menggerakkan sakelar yang disediakan.
Kalau itu yang memang diinginkan oleh guru, maka di
dalam kolom (2) yang harus dituliskan adalah:
Siswa secara bergantian mengamati dan
mencoba melakukan tindakan pada media
rumah-rumahan yang disediakan untuk
memperoleh jawaban mengapa hal
tersebut terjadi.

42
Kolom (3) : Kemungkinan Reaksi Siswa
Tindakan yang dilakukan guru pada kolom (1) akan
menimbulkan reaksi yang berbeda-beda pada siswa. Guru harus
dapat memperkirakan kemungkinan reaksi yang diberikan siswa.
Reaksi siswa bisa macam-macam. Berikut beberapa contoh reaksi
yang mungkin terjadi pada siswa setelah diberikan kegiatan pada
kolom (1).

 Ada siswa yang acuh tak acuh, dan diam saja


 Ada siswa yang bercanda dengan teman sebelahnya dan tidak
memperhatikan kegiatan guru
 Ada siswa yang ingin tahu isi atau rangkaian yang ada pada
rumah-rumahan,
 Ada siswa yang ingin mencoba melakukan kegiatan
demonstrasi yang disajikan guru
 Ada siswa yang langsung memberikan jawaban permasalahan
tanpa memperhatikan kegiatan demonstrasi
 Ada siswa yang dapat menjawab permasalahan yang diberikan
berdasarkan buku atau pengalaman yang dimilikinya
 Ada siswa yang dapat menjawab permasalahan yang diberikan
setelah mencoba langsung kegiatan demonstrasi.

Kemungkinan reaksi siswa tersebut dituliskan pada kolom (3). Hal


ini dilakukan untuk semua kegiatan dan tindakan yang diberikan
guru pada kolom (1).

Kolom (4) : Rencana Respon Guru terhadap Reaksi Siswa


Respon guru terhadap reaksi siswa akan sangat menentukan
bagaimana tindakan siswa berikutnya. Karena itu, semua reaksi
siswa perlu direspons dengan baik dan tepat agar mereka bisa
mencapai tujuan yang diinginkan, yaitu berpartisipasi aktif.

43
Guru harus merancang tindakan yang akan dilakukannya
terhadap semua kemungkinan reaksi yang akan terjadi. Guru harus
merancang tindakan ketika ada siswa yang acuh tak acuh terhadap
cerita yang diberikan. Guru harus merancang tindakan yang akan
dilakukannya ketika ada siswa yang bercanda dengan temannya
dan tidak memperhatikan kegiatan guru. Guru harus merancang
tindakan yang akan dilakukannya ketika ada siswa yang ingin
mencoba melakukan kegiatan demonstrasi yang disajikan guru.
Guru harus merancang tindakan yang akan dilakukannya ketika ada
siswa yang langsung memberikan jawaban permasalahan tanpa
memperhatikan kegiatan demonstrasi. Guru harus merancang
tindakan yang akan dilakukannya ketika ada siswa yang dapat
menjawab permasalahan yang diberikan berdasarkan buku atau
pengalaman yang dimilikinya. Guru harus merancang tindakan
yang akan dilakukannya ketika ada siswa yang dapat menjawab
permasalahan yang diberikan setelah mencoba langsung kegiatan
demonstrasi.
Setiap respons guru terhadap reaksi siswa yang mungkin
terjadi ditulis pada kolom (4). Respons guru ini disusun
berdasarkan kemungkinan reaksi siswa. Hal ini menunjukkan
kesiapan guru terhadap pembelajaran yang dirancangnya.

Kolom (5) : Evaluasi


Setiap tindakan guru dalam pembelajaran perlu dievaluasi
untuk mengetahui ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Hal
ini dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan atau kolega yang
mengamati pembelajaran. Guru perlu mendeskripsikan seberapa
jauh tujuan yang telah ditetapkan tercapai. Evaluasi ini didasarkan
kepada indikator ketercapaian yang disepakai bersama oleh tim.
Pada kolom (5) guru atau pengamat pembelajaran perlu
menuliskan dua alternatif pilihan. Pertama, tujuan tindakan telah

44
tercapai. Kedua, tujuan tindakan belum tercapai. Pada masing-
masing alternatif tersebut dilengkapi dengan deskripsi yang lebih
detail tentang kualitas ketercapaian atau ketidaktercapaiannya.

45
Contoh 4: Mata Pelajaran Bahasa Inggris
Kolom (1): tindakan guru
Misalkan kita ingin membelajarkan siswa tentang
Teks Deskriptif. Kalau kita ingin mendorong anak berpartisipasi
aktif, menurut teori, kita harus menyajikan masalah yang bersifat
kontekstual (yang dekat dengan anak), dan bersifat menarik serta
menantang. Oleh karena itu, salah satu langkah pertama yang
mungkin dilakukan guru adalah meminta anak mendengarkan
uraian berikut dan memberikan tugas tertentu.
(Guru menunjukkan gambar Museum Angkut)
Okay students, I have a picture of a famous tourism resort
in Batu, East Java. Please look at the picture, and take notes of any
interesting things that you see in the picture. You may note down
their shape, colour, size, or anything you like. Do you know the
place? Have you ever been there? If you have, then you must
remember all the interesting things that you saw when you went
there. Now, work with the student sitting next to you, and compare
your notes. Please speak in English, for example: “I see a beautiful
building”

Kolom (2): tujuan dilakukannya tindakan tersebut


Siswa, secara berpasangan, membandingkan catatan
tentang hal-hal menarik yang mereka amati dari gambar yang
ditunjukkan guru. Tujuannya adalah agar siswa dapat membuat
kalimat sederhana dalam bahasa Inggris, untuk mendeskripsikan
sesuatu yang mereka lihat.
Kolom (3): dugaan reaksi siswa
Tidak semua siswa yang duduk sebangku akan dengan aktif
membandingkan catatan mereka. Reaksi mereka bisa beragam,
antara lain:

46
 Akan ada siswa yang belum menuliskan apa-apa, dan
mencontoh saja dari catatan teman sebangkunya
 Ada juga yang enggan untuk membandingkan dengan
teman sebangku, mungkin malah akan berdiskusi
dengan teman di bangku lain yang dia merasa lebih
akrab
 Ada siswa yang enggan berdiskusi dan menunggu saja
kegiatan berikut dari guru
 Ada siswa yang asik bercanda dan tidak memperhatikan
perintah guru

Kolom (4): rancangan respon guru atas reaksi siswa

Dalam kolom ini guru harus secara cermat merespon segala


tindakan dan reaksi siswa atas kegiatan yang ditugaskannya,
dengan tujuan agar siswa menjadi aktif. Jadi guru harus merespon
semua tindakan siswa; dari yang belum menuliskan apa-apa, yang
tidak berdiskusi dengan teman sebangku, yang tidak melakukan
apa-apa, yang asyik bercanda, sampai yang memang melakukan
tugas dari guru dengan bersungguh-sungguh. Semua rancangan
tindakan inilah yang harus dituliskan di kolom 4

Kolom (5): rancangan evaluasi kegiatan


Berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan bersama anggota
tim, guru harus mengevaluasi apakah tujuan tersebut telah tercapai,
berdasarkan indikator yang telah ditetapkan. Guru juga sebaiknya
mengevaluasi sejauh mana tujuan telah tercapai.
Karena itu, di Kolom (5) guru perlu menuliskan dua
alternative tulisan. Pertama, tujuan tindakan telah tercapai. Kedua,
tujuan tindakan belum tercapai. Masing-masing tulisan ini nantinya

47
dilengkapi dengan deskripsi yang lebih mendetail tentang deskripsi
ketercapaian atau ketidaktercapaiannya.

3.4.Panduan Penyuntingan Video Plan, Do, See

Pelaksanaan KPL termasuk Peer Teaching (untuk


mahasiswa input non-guru) didokumentasikan dalam bentuk video.
Pendokumentasian ini untuk keperluan penilaian-monitoring dan
penilaian-arsiparis pelaksanaan KPL. Untuk keperluan penilaian-
monitoring, kelompok mahasiswa peserta KPL menyerahkan
semua video Pelaksanaan KPL kepada dosen pembimbing. Untuk
keperluan penilaian-arsiparis, video disunting dan diserahkan ke
prodi S2 Pendidikan Matematika. Penyuntingan video dokumentasi
pelaksanaan KPL secara berkelompok (kelompok KPL) dan
mengikuti aturan sebagai berikut:
1. Video yang disunting adalah bagian-bagian salah satu
rangkaian aktivitas Plan, Do, See pelaksanaan KPL dan
aktivitas Plan, Do, See pelaksanaan peer teaching (untuk
mahasiswa input non-guru) yang paling penting, inovatif,
dan menarik;
2. Video disunting dalam durasi 45-70 menit dan dikemas
dalam satu keping Compact Disk (CD);
3. Penyunting diperkenankan untuk membubuhi keterangan
tambahan pada tampilan scene video;
4. CD dokumentasi KPL dilengkapi dengan identitas yang
terdiri atas anggota kelompok KPL, dosen pembimbing, dan
tahun akademik pelaksanaan KPL.

48
3.5. Pedoman Penyusunan Laporan KPL

Laporan Akhir pelakasanaan KPL berbasis project Lesson


Study ini disusun secara berkelompok dengan ketentuan sebagai
berikut:
1. Format Laporan KPL input Guru:
Judul
Lembar pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Lampiran
Bab I: Pendahuluan
- Latar Belakang
- Fokus Masalah
- Tujuan
Bab II: Perangkat dan Praktik Pembelajaran Tahap I
- Perangkat Pembelajaran Tahap I (RPP, LKS, dsb) –
Tonjolkan inovasi yang dibidik
- Praktik Pembelajaran Tahap I – Uraikan
keterlaksanaan inovasi yang dirancang
Bab III: Perangkat dan Praktik Pembelajaran Tahap II
- Perangkat Pembelajaran Tahap II (RPP, LKS, dsb) –
Tonjolkan inovasi yang dibidik
- Praktik Pembelajaran Tahap II – Uraikan
keterlaksanaan inovasi yang dirancang
Bab IV: Analisis Perbaikan dari Tahap I ke Tahap II
- Refleksi tahap I – Uraikan kekurangan (termasuk
penyebabnya) dan perbaikannya dalam Rancangan
Pembelajaran Berikutnya

49
- Refleksi tahap II – Uraikan kekurangan (termasuk
penyebabnya) dan perbaikannya dalam Rancangan
Pembelajaran Berikutnya
Lampiran:
1. Beberapa foto kegiatan
2. Artikel hasil pembelajaran dalam KPL

2. Format Laporan KPL input non Guru:


Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Lampiran
Bab I: Pendahuluan
- Latar Belakang
- Fokus Masalah
- Tujuan
Bab II: Perangkat Perkuliahan dan Pelaksanaan Plan
- Perangkat Perkuliahan (RPP, uraian materi, LKS,
dsb)
- Pelaksanaan
Bab III: Pelaksanaan Perkuliahan (DO) dan Refleksi
- Pelaksanaan Perkuliahan – Uraikan keterlaksanaan
perencanaan dan perbaikannya
- Refleksi dan Perbaikan perencanaan perkuliahan
Bab IV: Analisis Pelaksanaan Lesson Study
Lampiran:
1. Beberapa foto kegiatan
2. Artikel hasil perkuliahan dalam KPL
3. Laporan diketik dengan jarak satu setengah spasi dengan font
Times New Roman 12 (kecuali pada perangkat pembelajaran

50
mengikuti desain penyusun) pada kertas HVS A4 dan dijilid
dengan sampul warna biru.
4. Laporan dibuat rangkap tiga, masing-masing untuk
sekolah/prodi tempat KPL, prodi S2 Pendidikan Matematika
Universitas Negeri Malang, dan kelompok mahasiswa KPL
yang bersangkutan, diserahkan paling lambat 2 minggu setelah
berakhirnya kegiatan KPL.

3.6.Pedoman Penyusunan Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah hasil pelaksanaan KPL disusun secara


individu dan penulisannya mengikuti ketentuan sebagai berikut:
1. Naskah diketik dengan jarak satu setengah spasi pada kertas A4,
12 font Times New Roman, 12—20 halaman, dan diserahkan
dalam bentuk cetakan sebanyak 2 eksemplar dan atau dalam
bentuk soft file.
2. Naskah yang ditulis berbentuk esai, disertai judul subbab
(heading) masing-masing bagian, kecuali bagian pendahuluan
yang disajikan tanpa judul subbab. Peringkat judul subbab
dinyatakan dengan huruf yang berbeda. Judul dan subjudul
dicetak tebal (bold) dan bukan dengan angka, seperti ketentuan
berikut:
Peringkat 1 (huruf kapital rata dengan tepi kiri)
Peringkat 2 (huruf kapital-kecil rata dengan tepi kiri)
Peringkat 3 (huruf kapital-kecil, cetak miring, rata dengan tepi
kiri).
3. Artikel hasil pelaksanaan KPL terdiri atas (a) judul (maksimal
15 kata), (b) nama penulis (tanpa gelar akademik) disertai
dengan alamat surel (e-mail), nama dan alamat institusi, (c)
abstrak (50—75 kata), (d) kata kunci (3—5 kata), (e)

51
pendahuluan (tanpa judul subbab) yang berisi latar belakang
dan tujuan penelitian, (e) metode penelitian, (f) hasil dan
pembahasan didukung rujukan yang relevan dan mutakhir, (g)
penutup (simpulan dan saran), (h) daftar rujukan.
5. Tatacara penyajian kutipan rujukan, tabel, gambar, dan
penulisan daftar rujukan mengikuti ketentuan Pedoman
Penulisan Karya Ilmiah UM (Universitas Negeri Malang,
2010). Naskah diketik dengan memperhatikan aturan
penggunaan tanda baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
(Depdikbud, 2009).

52
BAB IV
KPL Prodi Manajemen Pendidikan

4.1. Pengantar
KPL Manajemen Pendidikan adalah salah satu mata kuliah yang
merupakan kegiatan intrakurikuler KPL non-keguruan yang dilaksanakan
di dalam dan luar kampus agar para mahasiswa memperoleh pengalaman
praktis sesuai dengan latar belakang disiplin ilmu yang dimilikinya di
bawah bimbingan Dosen Pembimbing di lapangan. Khusus untuk
praktikan dari Prodi S2 Manajemen Pendidikan difokuskan pada
penghalaman pelaksanaan supervisi klinis. Praktikan dalam hal ini
melakukan kegiatan belajar sambil bekerja (learning by doing) dengan
mengerjakan berbagai tugas di bidang supervisi akademik menggunakan
pendekatan klinik (clinical supervision).

4.2. Arti & tujuan praktek supervisi klinis

Supervisi klinis adalah pendekatan pembinaan guru atau dalam


hal ini adalah calon guru, yang dilakukan melalui kontak langsung (face
to face) antara guru dengan supervisor dengan tujuan membantu para
guru atau calon dalam meningkatkan pertumbuhan profesional. Secara
spesifik supervisi klinis dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sesuai
dengan permasalahan pelaksanaan pembelajaran yang dihadapi para guru
atau calon di kelas, dan dipandang perlu untuk ditingkatkan secara
kolaboratif oleh para praktikan. Peran sebagai supervisor di sini
dilaksanakan secara bergantian oleh anggota kelompok praktikan, atau
bisa juga diserahkan kepada peserta praktikan lain yang sedang
melakukan peer teaching di sekolah sasaran.

53
4.3. Tujuan KPL bidang supervisi klinis

Secara umum KPL dalam bidang supervisi ini adalah untuk


memberikan pengalaman langsung pelaksanaan supervisi pendidikan,
khususnya melalui teknik supervisi klinis. Adapun secara khusus,
meliputi:
1. Peningkatan kemampuan manajerial pelaksanaan supervisi klinis
meliputi penyusunan rencana/program, pelaksanaan, dan evaluasi
program supervisi akademik menggunakan pendekatan klinik.
2. Peningkatan pelaksanaan substansi-substansi supervisi klinis
meliputi: pre-conference, observation, post-conference, dan self
evaluation.

4.4. Sasaran

KPL Prodi S2 Manajemen Pendidikan dilaksanakan di


lingkungan lembaga pendidikan di tingkat Sekolah Dasar, tempat para
praktikan bekerja sebagai tenaga pendidik. Di sekolah sasaran tersebut
para praktikan melaksanakan program KPL secara kelompok dengan
fokus pada tahap-tahap pengalaman dalam kegiatan supervisi klinis.
Untuk itu, kelompok praktikan perlu membagi tugas/peran sebagai siswa,
guru, dan supervisor.

4.5. Siklus supervisi klinis

Teknis supervisi klinis dalam program KPL ini dilaksanakan


secara sistematis sesuai siklus lengkap sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 4.1.

54
Membangun hubungan
baik antara supervisor
dan guru/calon guru

Menyusun rencana
supervisi Menyusun rancangan
berikutnya pembelajaran bersama
guru

Pertemuan guru dan Merencanakaqn


supervisor strategi observasi

Merencanakan
Melaksanakan
strategi
observasi
pembelajaran
Menganalisis
proses
pembelajaran

Gambar 4.1. Sikus lengkap supervise klinis

Langkah-langkah sebagaimana dalam gambar dapat disederhanakan ke


dalam 4 tahap pokok sebagai berikut:

1. Pre-conference
2. Observation
3. Post-conference
4. Self-evaluation

55
Tahap pre-conference

Pada tahap ini, maksud, tujuan , dan teknik observasi kelas


ditetapkan secara kolaboratif antara praktikan dan anggota peer teacher
yang bertindak sebagai supervisor. Dilanjutkan dengan mendiskusikan
rencana pembelajaran yang telah disusun (lesson plan). Scaea detail juga
perlu ditentukan bersama tentang apa yang akan disampaikan di kelas,
kelompok siswa yang akan dilibatkan di kelas, metode pembelajaran, dan
bagaimana teknik penilaian partisipasi dan hasil pembelajaran siswa.
Yang terakhir, pada tahap pre-conference ini para praktikan bersama
anggota peer supervisor lain menentukan waktu pelaksanaan observasi.

Yang terpenting dalam tahap pre-conference ini adalah bahwa


supervisor dapat mengajukan tiga buah pertanyaan yang perlu dijawab
oleh praktikan:
 Apakah ada hal-hal khusus yang perlu dijadikan fokus dalam kegiatan
observasi?
 Teknik observasi apakah yang dipandang benar-benar dapat menjaring
data sesuai dengan fokus observasi tersebut?
 Bagaimanakah teknik sharing data antara praktikan dan peer-
supervisor yang dapat dilaksanakan bersama?

Tahap Observasi
Pada tahap ini, calon guru bersama anggota peer teacher
menentukan apakah proses observasi kelas dilakukan secara terjadwal
atau tidak. Kalau terjadwal, maka durasi kegiatan observasi perlu
ditetapkan sebelumnya. Di samping itu, kegiatan observasi ini juga dapat
dilakukan oleh praktikan berdasarkan kebutuhan secara fleksibel (sesuai
kesepakatan antara praktikan dan anggota peer-supervisor yang bertindak
sebagai supervisor). Alat-alat apakah yang diperlukan ketika observasi
kelas, juga perlu ditentukan bersama. Yang terakhir dalam tahap
observasi ini, para praktikan bersama supervisor (anggota peer-

56
supervisor) berusaha menentukan bentuk dan teknik sharing data dalam
rangka menindaklanjuti hasil observasi yang telah dilaksanakan.

Post-conference

Pada tahap post conference, praktikan bersama para anggota


peer-supervisor yang bertindak sebagai supervisor melihat kembali
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dibuat. Yang perlu
didiskusikan kembali (sharing data) adalah aspek-aspek apakah yang
telah direncanakan dalam RPP tersebut. Sejaumaha langkah-langkah
kegiatan telah dilaksanakan, dan bagaimanakah partrisipasi, interaksi,
dan hasil pembelajaran atau tingkat penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran yang telah disampaikan oleh praktikan. Anggota peer-
supervisor menyampaikan masukan-masukan mengenai hasil pengamatan
terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Akhir post-
conference dapat dilakukan dengan mengajukan usulan-usulan perbaikan
untuk kegiatan pembelajaran yang akan datang, dan dapat di-follow-up
menyusun rancangan pembelajaran baru dengan berusaha melakukan
penyesuaian-penyesuaian teknis pembelajaran yang lebih inovatif.

Self-conference

Pada tahap ini, praktikan melakukan evaluasi secara mandiri atau


refleksi tentang kinerja pembelajaran yang telah dilakukan berdasarkan
komponen-kompoenen kompetensi seorang guru. Dilanjutkan dengan
sharing data dengan anggota praktikan lainnya. Beberapa pertanyaan
yang perlu dijawab oleh praktikan pada tahap ini meliputi: (1)
sejauhmana data feedback yang diberikan oleh peer supervisor dapat
membantu meingkatkan pertumbuhan sebagai tenaga pendidik? (2)
unsur-unsur masukan mana yang dinilai relevan untuk peningkatan
profesi sebagai calon guru? Dan (3) tindakan-tindakan apakah yang perlu
diambil guna mem-follow-up masukan-masukan tersebut?

57
4.6. Mekanisme dan waktu Pelaksanan KPL Manajemen Pendidikan

1. Persiapan

Dalam tahap ini para praktikan melakukan beberapa tindakan


meliputi: persiapan internal (koordinasi antar praktikan di bawah
koordinasi dosen pembimbing/pengampu matakuliah dan Ketua Prodi).
Aspek yang dikoordinasikan meliputi: penentuan tempat,
pengelompokkan anggota praktikan (sebagai supervisee/supervisor),
penentuan pilihan model KPL, dan jadwal KPL. Praktikan Manajemen
Pendidikan dapat bekerjasama dengan praktikan dari Prodi lain yang akan
atau sedang melaksanakan KPL, dapat juga melakukan secara mandiri
dengan peer supervisor model, atau melakukannya di sekolah masing-
masing. Kesemuanya itu tergambarkan dalam rancangan program KPL
masing-masing praktikan secara sistemik. Rancangan tersebut harus
memperhatikan peraturan lembaga dan disusun secara rasional disertai
indicator-indikator keberhasilan.

2. Pelaksanaan

Dalam tahap ini praktikan melaksanakan apa yang sudah


direncanakan. Kegiatan utamanya meliputi: praktikan menampilkan peran
masing-masing sesuai dengan rencana. Salah satu praktikan harus ada
yang menjadi Pengawas/Kepala sekolahatau berperan sebagai supervisor,
praktikan lain ada yang berperan sebagai guru dan harus melakukan
pembelajaran, dan kelompok praktikan lainnya berperan sebagai siswa.
Hal yang perlu dilaksanakan dalam tahap ini adalah melakukan kegiatan-
kegiatan koordinasi dan perekaman dan pengobservasian peran masing-
masing dalam proses supervise klinis. Kesuksesan pelaksanaan KPL akan

58
tercapai jika didukung dengan tim yang solid, persiapan praktikan yang
matang, koordinasi antar anggota yang baik, komunikasi yang baik dan
lancar, menunjukkan disiplin dan komitmen yang tinggi.

3. Pelaporan hasil KPL

Hasil-hasil perekaman dan pengobservasian selama melakukan


proses supervise klinis hendaknya segera disimpan dan ditindaklanjuti
dengan penyiapan pembuatan laporan. Wujud laporan ada dua yaitu:
laporan supervisiklinis dalam bentuk video dan laporan pelaksanaan
kegiatan dalam bentuk hard copy. Kedua laporan tersebut dijadikan dasar
oloeh Pembimbing/Pembina mata kuliah dalam pemberian nilai
matakuliah KPL.

4. Evaluasi KPL Prodi Manaqjemen Pendidikan

Evaluasi hasil KPL difokuskan pada dua aspek yaitu aspek proses
dan hasil. Evaluasi proses dilihat dari aktivitas praktikan selama
mengikuti KPL. Pijakan utamanya didasarkan pada laporan video dan
laporan tertulis. Melalui video dan dokumen laporan tersebut dapat
diketahui tingkat kualitas sikap, pengetahuan, dan keterampilan praktikan
dalam KPL supervisi klinis. Evaluasi akhir dilakukan dengan melakukan
pendalaman tentang aspek-aspek pengalaman yang telah
dilaksanakan/dilaporkan melalui ujian akhir.

Hasil evaluasi tersebut dituangkan ke dalam format evaluasi


sebagaimana dapat dilihat pada Tabel …

59
Tabel 4.1. Format Penilaian untuk Dosen Pembimbing KPL
Prodi S2 Manajemen Pendidikan Pascasarjana UM
NAMA : ………………………….
NIM : …………………………..
PEMBIMBING : …………………………..
TEMPAT PRAKTIK : ….………………………...
NILAI
KOM- SUB SKALA NILAI
VARIABEL SUB VARIABEL BOBOT
PONEN KOMPONEN 0-100 SXB
S B
A. Profe- Perencanaan 1. KPL I 1. Kehadiran
sional
2. Penguasaan materi X1
3. Keaktifan/
partisipasi.

Nilai Rata-Rata (X 1)
2. Penyusunan 1. Latar Belakang
rancangan
program
supervisi klinis
2. Tujuan

a. Isi 3. Manfaat X1
b. Sistematika 4. Bentuk kegiatan
supervisi klinis.
c. Bahasa 5. Sasaran
6. Jadwal Kegiatan
Nilai Rata-Rata (X 2)
Pelaksanaan 1. Kegiatan KPL di 1. Kehadiran
bidang supervisi
akademik melalui
pendekatan
supervisi klinis
2. Sistematik
melaksanakan tugas
mulai dari pre-
conference s.d. self
evaluation
3. Kepemimpinan dan X4
penampilan yang
diamati melalui
rekaman video.
4. Kerjasama
5. Kesanggupan
memecahkan
Masalah.
6. Ketelian, ketekunan &
keaktifan
7. Partisipasi dalam
kegiatan.
Nilai Rata-Rata (X 3)

60
NILAI
KOM- SUB SKALA NILAI
VARIABEL BOBOT
PONEN KOMPONEN SUB VARIABEL 0-100 SX B
S B
Evaluasi/ 1.Proses penulisan 1. Keaktifan konsultasi
laporan
Pelaporan 2. Materi konsultasi

2. Hasil laporan KPL 1. Isi laporan baik dari hasil X4


rekaman video maupun
laporan tertulis.
2. Sistematika laporan
3. Cakupan pengalaman
yang dilaporkan
4. Kualitas analisis dalam
laporan
Nilai Rata-Rata (X4)

61
B. Sifat-sifat Kepribadian selama 1. Kejujuran
Personal melaksa-
Pribadi nakan tugas-tugas 2. Penerimaan anggota X2
KPL
3. Kedisiplinan
4. Penampilan diri
Nilai Rata-Rata (X5)
C. Sosial Kemampuan Berkomunikasi selama 1. Kepedulian terhadap
berkomuni- kegiatasn pembekalan orang lain/anggota
kasi (KPL 1) dan
pelaksanaan
2. Penerimaan anggota X2

3. Keakraban
4. Penyesuaian diri
Nilai Rata-Rata (X6)

(X1x1)+(X2x1)+(X3x4)+(X4x4)+(X5x2)+(X6x2)

N = --------------------------------- =
16

Malang,......................
Pembimbing/Penilai,

………………………
NIP

62
BAB V
PENILAIAN KPL

5.1. Pedoman Penilaian

Kompetensi yang diukur dalam KPL berbasis lesson study dan


atau berbasis pendekatan supervisi klinis ini meliputi penguasaan
mahasiswa dalam melaporkan studi pendahuluan berdasarkan
observasi dan catatan lapangan, pengembangan perangkat
pembelajaran, pelaksanaan LS dan pembuatan video pembelajaran,
dan resume analisis video pembelajaran yang berturut-turut
berbobot 10%, 30%, 50%, dan 10%. Atau dengan kata lain, tingkat
penguasaan mahasiswa peserta KPL dapat dirumuskan:

𝑶 + 𝟑𝑷 + 𝟓𝑳𝑺 + 𝑹
𝑻𝑷 = %
𝟏𝟎
Keterangan:
TP : Tingkat Penguasaan Mahasiswa KPL (%)
O : Studi Pendahuluan berdasarkan Observasi dan
Catatan Lapangan (skor 0-100)
P : Pengembangan Perangkat Pembelajaran (skor 0-100)
LS : Pelaksanaan LS dan Pembuatan Video Pembelajaran
(skor 0-100)
R : Resume Analisis Video Pembelajaran

63
5.2. Kriteria Kelulusan

Mahasiswa peserta KPL dinyatakan lulus bila mencapai


tingkat penguasaan minimal 65 % atau dengan kata lain bernilai
huruf minimal B-. Adapun detail kriteria penguasaan mahasiswa
KPL disajikan dalam tabel berikut:

Tingkat
Nilai Huruf Angka
Penguasaan
85 % - 100 % A 4,00
80 % - 84 % A– 3,70
75 % - 79 % B+ 3,30
70 % - 74 % B 3,00
65 % - 69 % B– 2,70
60 % - 64 % C+ 2,30
55 % - 59 % C 2,00
40 % - 54 % D 1,00
0 % - 40 % E 0,00

64